kehidupan Budaya Betawi

Sejarah

Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi sebenarnya berasal dari kata “Batavia,” yaitu nama kuno Jakarta yang diberikan oleh Belanda.

Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta.

Deskripsi Lokasi

DKI Jakarta merupakan ibu kota Indonesia dengan Betawi sebagai salah satu penduduk aslinya.
Orang Betawi yang hidup di daerah kota dipanggil “Betawi Kota”, mereka menyebut dirinya sebagai penduduk asli kota Jakarta. Orang Betawi yang ada di pinggiran kota Jakarta dinamakan ‘Betawi Ora’.
“Betawi Ora” adalah yang seharusnya sebagai “penduduk asli” kota Jakarta karena mereka secara ketat dan konsisten menyandang tradisi Betawi, sementara orang Betawi Kota amat dipengaruhi oleh tradisi luar sehingga cara hidup mereka berbeda dari “Betawi Ora”.

• Lokasi persebaran kelompok Betawi dapat dibedakan sebagai berikut
• – Betawi Tengah
• – Betawi Udik
• – Betawi Pinggir

Namun seiring perkembangan jaman, penduduk maupun budaya Betawi sendiri semakin terkikis dan terpinggirkan. Padahal seperti kita tahu, penduduk inti Jakarta adalah masyarakat Betawi. Untuk mencegah semakin lunturnya budaya ini, para sesepuh Betawi dan orang-orang yang perduli akan hal tersebut membicarakan permasalahan ini pada Pemda DKI. Agar nantinya generasi penerus atau putra-putri Betawi masih bisa mengenal dan mengetahui budaya nenek moyangnya. Pemda DKI Jakarta pun memberikan perhatian khusus terhadap persoalan ini. Maka dirintislah sebuah tempat sebagai wadah pelestarian dan pengembangan budaya Betawi secara berkesinambungan. Bernama Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan,disana terletak sebuah perkampungan budaya Betawi dimana seluruh bangunan dan jajanannya bergaya Betawi.

Perkampungan ini terletak di samping sebuat danau yang cukup besar di daerah srengseng sawah lenteng agung,kecamatan Jagakarsa,Jakarta Selatan.
Srengseng Sawah tidak dipilih secara langsung untuk menjadi tempat pelestarian budaya ini. Semua melalui berbagai proses musyawarah dan setelah dikumpulkan berbagai pilihan dari berbagai wilayah di DKI seperti Rorotan, Kemayoran Srengseng Jakarta Barat, dan Condet. Akhirnya lewat sarasehan, seminar dan lokakarya maka dipilihlah Srengseng Sawah lewat SK Gubernur No. 9 tahun 2000.

Unsur Budaya

Kebudayaan Betawi tidak bisa dilepaskan dari subyek pendukung kebudayaan tersebut, yaitu orang Betawi. Bagi orang Betawi, sebutan “asli”tidaklah berlaku. Sulit mengidentifikasikan keaslian suku Betawi. Mereka merupakan hasil percampuran darah atau proses asimilasi antara penduduk pribumi daerah Jakarta dan suku-suku bangsa pendatang. Kemudian, terjadi juga proses asimilasi antara penduduk pribumi dengan pendatang dari bangsa asing seperti bangsa Cina, Arab, India, Belanda, dan Portugis.

Masyarakat Betawi secara turun-temurun mengembangkan ‘folklor’ yang kemudian secara fisiologis merupkan budaya Betawi. Ada 3 jenis folklor yang dimiliki masyarakat Betawi, yaitu folklor lisan, setengah lisan, dan tidak lisan.

(1) Folklor lisan, misalnya: bahasa rakyat Betawi, yang meliputi logat, julukan, dan sindiran; ungkapan tradisional Betawi, meliputi pribahasa dan pepatah;puisi rakyat Betawi, meliputi pantun dan syair; nyanyian rakyat Betawi, misalnya Jali-jali, Lenggang Kangkung, dan Surilang; cerita rakyat prosa Betawi, meliputi mite, legenda, dan dongeng. Misalnya, cerita prosa rakyat Nyai Dasima, Si Pitung, Mat Item, dan Si Jampang. Cerita prosa juga meliputi cerita asal mula nama tempat, seperti asal mula nama “Rawa Bangke”,”Matraman”, “Tanjung Priok”, “Pasar Rumput”, “Marunda” , dan lain sebagainya.

(2) Folklor setengah lisan, meliputi kepercayaan rakyat Betawi, permainan rakyat, dan hiburan rakyat Betawi, tari Betawi, adat kebiasaan rakyat Betawi, upacara-upacara tradisional Betawi, serta pesta-pesta rakyat Betawi. Drama rakyat Betawi misalnya lenong, tokek, dan tari cokek.

(3) Folklor tidak lisan Betawi, meliputi arsitektur rakyat Betawi, seni kerajinan Betawi, pakaian serat perhisan rakyat Betawi, makanan dan minuman rakyat Betawi, alat-alat musik Betawiperalatan dan senjata orang Betawi, seta mainan Betawi.

Nilai Budaya

Kebanyakan orang memandang masyarakat Betawi jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan dan teknologi. Akan tetapi nyatanya tidak sedikit orang Betawi yang berhasil.

Ada beberapa hal yang positif dari Betawi, antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun terkadang terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama (Islam), menghargai pluralisme, dan menghormati budaya yang mereka warisi.

Pada saat ini, dengan bertambahnya laju penduduk dan semakin sempitnya lahan karena dijadikan pemukiman, mata pencaharian penduduk betawi adalah menjadi pedagang, buruh, tukang dan sebagainya. Yang bermukim di daerah Utara umumnya menjadi nelayan.

Masyarakat Betawi menganut sistem kekerabatan bilineal. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Betawi menarik garis keturunan mereka pada garis keturunan ayah dan ibu. Namun adat Betawi tidak membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 7.2/10 (6 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 2 votes)
kehidupan Budaya Betawi, 7.2 out of 10 based on 6 ratings
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image