Mempengaruhi Perilaku
Faktor Genetik atau Faktor Endogen
Faktor genetik atau keturunan merupakan konsepsi dasar atau modal untuk kelanjutan perkembangan perilaku makhluk hidup itu. Faktor genetik berasal dari dalam diri individu (endogen), antara lain:
a. Jenis Ras
Setiap ras di dunia memiliki perilaku yang spesifik saling berbeda satu dengan yang lainnya.
Tiga kelompok ras terbesar, yaitu:
(1). Ras kulit putih atau ras Kaukasia.
Ciri-ciri fisik : Warna kulit putih, bermata biru, berambut pirang.
Perilaku yang dominan : Terbuka, senang akan kemajuan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
(2).Ras kulit hitam atau ras Negroid.
Ciri-ciri fisik : Berkulit hitam, berambut keriting, dan bermata hitam.
Perilaku yang dominan : Keramah tamahan, suka gotong royong, tertutup, dan senang dengan upacara ritual.
b. Jenis Kelamin
Perbedaan perilaku pria dan wanita dapat dilihat dari cara berpakaian dan melakukan pekerjaan sehari-hari, pria berperilaku atas dasar pertimbangan rasional atau akal, sedangkan wanita atas dasar pertimbangan emosional atau perasaan. Perilaku pada pria di sebut maskulin sedangkan perilaku wanita di sebut feminim.
c. Sifat Fisik
Kalau kita amati perilaku individu berbeda-beda karena sifat fisiknya, misalnya perilaku individu yang pendek dan gemuk berbeda dengan individu yang memiliki fisik tinggi kurus.
d. Sifat Kepribadian
Salah satu pengertian kepribadian yang dikemukakan oleh Maramis (1999) adalah : “keseluruhan pola pikiran, perasaan dan perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terus menerus terhadap hidupnya”
e. Bakat Pembawaan
Bakat menurut Notoatmodjo (1997) yang mengutip pendapat William B. Micheel (1960) adalah : “kemampuan individu untuk melakukan sesuatu yang sedikit sekali bergantung pada latihan mengenal hal tersebut”. Bakat merupakan interaksi dari faktor genetik dan lingkungan serta bergantung pada adanya kesempatan untuk pengembangan.
f. Intelegensi
Menurut Terman intelegensi adalah : “kemampuan untuk berfikir abstrak” (Sukardi, 1997). Sedangkan Ebbieghous mendefenisikan intelegensi adalah : “kemampuan untuk membuat kombinasi” (Notoatmodjo, 1997). Dari batasan terebut dapat dikatakan bahwa intelegensi sangat berpengaruh terhadap perilaku individu. Oleh karena itu, kita kenal ada individu yang intelegen, yaitu individu yang dalam mengambil keputusan dapat bertindak tepat, cepat dan mudah. Sebaliknya bagi individu yang memiliki intelegensi rendah dalam mengambil keputusan akan bertindak lambat.
Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan pendidikan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan yang lainnya. Banyak teori tentang perubahan perilaku ini, antara lain akan diuraikan dibawah.
1. Teori Stimulus-Organisme-Respons (SOR)
Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (sources) misalnya kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat.
Hosland, et al (1953) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari :
a. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.
b. Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.
c. Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).
d. Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).
Selanjutnya teori ini mengatakan bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus (rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula. Stimulus yang dapat melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan harus dapat meyakinkan organisme. Dalam meyakinkan organisme ini, faktor reinforcement memegang peranan penting.
Proses perubahan perilaku berdasarkan teori SOR ini dapat digambarkan seperti dibawah (lihat bagan).
2. Teori Festinger (Dissonance Theory)
Finger (1957) ini telah banyak pengaruhnya dalam psikologi sosial. Teori ini sebenarnya sama dengan konsep imbalance (tidak seimbang). Hal ini berarti bahwa keadaan cognitive dissonance merupakan keadaan ketidakseimbangan psikologis yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali. Apabila terjadi keseimbangan dalam diri individu maka berarti sudah tidak terjadi ketegangan diri lagi dan keadaan ini disebut consonance (keseimbangan).
Dissonance (ketidakseimbangan) terjadi karena dalam diri individu terdapat 2 elemen kognisi yang saling bertentangan. Yang dimaksud elemen kognisi adalah pengetahuan, pendapat, atau keyakinan. Apabila individu menghadapi suatu stimulus atau objek dan stimulus tersebut menimbulkan pendapat atau keyakinan yang berbeda / bertentangan didalam diri individu sendiri maka terjadilah dissonance.
Sherwood dan Borrou merumuskan dissonance itu sebagai berikut :
Pentingnya stimulus x jumlah kognitif dissonance
Dissonance = ——————————————————–
Pentingnya stimulus x jumlah kognitif consonance
Rumus ini menjelaskan bahwa ketidakseimbangan dalam diri seseorang yang akan menyebabkan perubahan perilaku terjadi disebabkan karena adanya perbedaan jumlah elemen kognitif yang seimbang dengan jumlah elemen kognitif yang tidak seimbang serta sama-sama pentingnya. Hal ini akan menimbulkan konflik pada diri individu tersebut.
Contoh : Seorang ibu rumah tangga yang bekerja di kantor. Di satu pihak, dengan bekerja ia dapat tambahan pendapatan bagi keluarganya yang akhirnya dapat memenuhi kebutuhan bagi keluarga dan anak-anaknya, termasuk kebutuhan makanan yang bergizi. Apabila ia tidak bekerja, jelas tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Di pihak yang lain, apabila ia bekerja, ia kuatir terhadap perawatan terhadap anak-anaknya akan menimbulkan masalah. Kedua elemen (argumentasi) ini sama-sama pentingnya, yakni rasa tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga yang baik.
Titik berat dari penyelesaian konflik ini adalah penyesuaian diri secara kognitif. Dengan penyesuaian diri ini maka akan terjadi keseimbangan kembali. Keberhasilan tercapainya keseimbangan kembali ini menunjukkan adanya perubahan sikap dan akhirnya akan terjadi perubahan perilaku.
3. Teori Fungsi
Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu itu tergantung kepada kebutuhan. Hal ini berarti bahwa stimulus yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku seseorang apabila stimulus tersebut dapat dimengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut. Menurut Katz (1960) perilaku dilatarbelakangi oleh kebutuhan individu yang bersangkutan. Katz berasumsi bahwa :
a. Perilaku itu memiliki fungsi instrumental, artinya dapat berfungsi dan memberikan pelayanan terhadap kebutuhan. Seseorang dapat bertindak (berperilaku) positif terhadap objek demi pemenuhan kebutuhannya. Sebaliknya bila objek tidak dapat memenuhi memenuhi kebutuhannya maka ia akan berperilaku negatif. Misalnya orang mau membuat jamban apabila jamban tersebut benar-benar menjadi kebutuhannya.
b. Perilaku dapat berfungsi sebagai defence mecanism atau sebagai pertahanan diri dalam menghadapi lingkungannya. Artinya dengan perilakunya, dengan tindakan-tindakannya, manusia dapat melindungi ancaman-ancaman yang datang dari luar. Misalnya orang dapat menghindari penyakit demam berdarah karena penyakit tersebut merupakan ancaman bagi dirinya.
c. Perilaku berfungsi sebagai penerima objek dan memberikan arti. Dalam peranannya dengan tindakannya itu, seseorang senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dengan tindakan sehari-hari tersebut seseorang telah melakukan keputusan-keputusan sehubungan dengan objek atau stimulus yang dihadapi.
Pengambilan keputusan yang mengakibatkan tindakan-tindakan tersebut dilakukan secara spontan dan dalam waktu yang singkat. Misalnya bila seseorang merasa sakit kepala maka secara cepat tanpa berpikir lama ia akan bertindak untuk mengatasi rasa sakit tersebut dengan membeli obat di warung dan meminumnya, atau tindakan-tindakan lain.
d. Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dari diri seseorang dalam menjawab suatu situasi. Nilai ekspresif ini berasal dari konsep diri seseorang dan merupakan pencerminan dari hati sanubari. Oleh sebab itu perilaku itu dapat merupakan “layar” dimana segala ungkapan diri orang dapat dilihat. Misalnya orang yang sedang marah, senang, gusar, dan sebagainya dapat dilihat dari perilaku atau tindakannya.
Teori ini berkeyakinan bahwa perilaku itu mempunyai fungsi untuk menghadapi dunia luar individu dan senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya menurut kebutuhannya. Oleh sebab itu didalam kehidupan manusia, perilaku itu tampak terus-menerus dan berubah secara relatif.
4. Teori Kurt Lewin
Kurt Lewin (1970) berpendapat bahwa perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan-kekuatan penahan (restrining forces). Perilaku ini dapat berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut didalam diri seseorang.
Sehingga ada 3 kemungkinan terjadinya perubahan perilaku pada diri seseorang itu, yakni :
a. Kekuatan-kekuatan pendorong meningkat. Hal ini terjadi karena adanya stimulus-stimulus yang mendorong untuk terjadinya perubahan-perubahan perilaku. Stimulus ini berupa penyuluhan-penyuluhan atau informasi-informasi sehubungan dengan perilaku yang bersangkutan. Misalnya seseorang yang belum ikut KB (ada keseimbangan antara pentingnya anak sedikit dengan kepercayaan banyak anak banyak rezeki) dapat berubah perilakunya (ikut KB) kalau kekuatan pendorong yakni pentingnya ber-KB dinaikkan dengan penyuluhan-penyuluhan atau usaha-usaha lain.
Kekuatan Pendorong – Meningkat
Perilaku Semula —————————————–> Perilaku Baru
Kekuatan Penahan
b. Kekuatan-kekuatan penahan menurun. Hal ini akan terjadi karena adanya stimulus-stimulus yang memperlemah kekuatan penahan tersebut. Misalnya contoh tersebubt diatas, dengan memberikan pengertian kepada orang tersebut bahwa anak banyak rezeki, banyak adalah kepercayaan yang salah maka kekuatan penahan tersebut melemah dan akan terjadi perubahan perilaku pada orang tersebut.
Kekuatan Pendorong
Perilaku Semula —————————————–> Perilaku Baru
Kekuatan Penahan – Menurun
c. Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan penahan menurun. Dengan keadaan semacam ini jelas juga akan terjadi perubahan perilaku. Seperti contoh diatas, penyuluhan KB yang berisikan memberikan pengertian terhadap orang tersebut tentang pentingnya ber-KB dan tidak benarnya kepercayaan anak banyak, rezeki banyak, akan meningkatkan kekuatan pendorong dan sekaligus menurunkan kekuatan penahan.
Kekuatan Pendorong – Meningkat
Perilaku Semula —————————————–> Perilaku Baru
Kekuatan Penahan – Menurun
Manajemen hanya merupakan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Manajemen yang baik akan memudahkan terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Dengan manajemen, daya guna dan hasil guna unsure-unsur manajemen dapat ditingkatkan.
Unsure-unsur manajemen terdiri dari 6 M (man, money, methode, machines, materials, and market)
Definisi Manajemen
Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur. Dalam hal ini muncul pertanyaan:
1. Apa yang diatur? ? semua unsur manajemen 6 M
2. Tujuannya apa? ? agar 6 M lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mewujudkan tujuan.
3. Mengapa harus diatur? ? agar 6 M bermanfaat optimal, terkoordinasi dan terintegrasi dengan baik dalam menunjang terwujudnya tujuan organisasi.
4. Siapa yang mengatur? ? pimpinan dengan kepemimpinannya yaitu pimpinan puncak, manajer madya dan supervisi.
5. Bagaimana mengaturnya? ? dengan melakukan kegiatan urut-urutan fungsi manajemen tersebut.
Manajemen ? proses pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan dan kerjasama organisasi-organisasi lain.
? proses untuk mencapai tujuan dan bekerjasama dengan orang-orang dalam organisasi.
Definisi Manajemen Menurut Para Ahli
George R. Terry
? Pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui kegiatan-kegiatan organisasi lain.
Harold Koontz & Ceryill O’ Donell
? Penyelesaian pekerjaan melalui organisasi lain.
John M. Pfiffner
? Berhubungan dengan pengarahan organisasi dan fungsi- fungsi lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Howard M. Carlisle
? Proses pengintegrasian, pengkoordinasian dan atau pemanfaatan elemen-elemen suatu kelompok untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Key Words
? Pencapaian Tujuan
? Organisasi
Dasar-dasar Manajemen
1. Adanya kerja sama di antara sekelompok orang dalam ikatan formal.
2. Adanya tujuan bersama serta kepentingan yang sama yang akan dicapai.
3. Adanya pembagian kerja, tugas, dan tanggung jawab yang teratur.
4. Adanya hubungan formal dan ikatan tata tertib yang baik.
5. Adanya sekelompok orang dan pekerjaan yang akan dikerjakan.
6. Adanya human organizations.
Fungsi Manajemen
1. Planning meliputi penentuan sasaran organisasi, penetapan strategi keseluruhan untuk mencapai sasaran itu dan pengembangan hirarki rencana menyeluruh untuk memadukan dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan. Pada fungsi perencanaan ini manajemen melakukan kegiatan pemikiran dan penentuan prioritas yang harus dilakukan secara rasional sebelum melakukan tindakan yang sebenarnya dalam rangka mencapai tujuan.
Perencanaan meliputi kegiatan:
a. mengadakan survey tentang lingkungan
b. menentukan sasaran
c. meramalkan kondisi yang akan dating
d. menentukan sumber yang diperlukan
e. memperbaiki dan menyelesaikan rencana karena adanya perubahan kondisi
2. Organizing mencakup penetapan tugas-tugas apa yang harus dilakukan, siapa yang harus melakukan, bagaimana tugas itu dikelompokkan, siapa melapor kepada siapa, dan dimana keputusan harus diambil. Dalam hal ini manajemen menyusun struktur organisasi sesuai tujuannya, sumbernya dan lingkungannya.
Kegiatan-kegiatannya antara lain:
a. mengidentifikasi pekerjaan yang akan dilakukan
b. membagi pekerjaan ke dalam tugas-tugas tertentu
c. mengelompokkan tugas-tugas ke dalam jabatan-jabatan
d. menentukan jabatan yang diperlukan
e. menentukan tugas yang harus dilaksanakan
f. mengatur personil, fasilitas dan sumber-sumber lain
3. Staffing merupakan bagian dari pengorganisasian dan meliputi pembinaan pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Dalam hal ini manajer memutuskan tipe atau jenis orang yang akan dipekerjakan, merekrut calon karyawan, mengevaluasi kinerja, menyuluh karyawan, melatih dan mengembangkan karyawan. Tujuannya adalah mengusahakan tersedianya pegawai yang terbaik untuk organisasi.
4. Motivating yaitu proses kegiatan yang harus dilakukan untuk membina dan mendorong semangat kerja dan kerelaan para pegawai demi tercapainya tujuan organisasi.
Kegiatannya antara lain:
a. mengkomunikasikan dan menjelaskan tujuan organisasi kepada para bawahan
b. menentukan standar pelaksanaan
c. memberi bimbingan kepada bawahan
d. memberikan penghargaan kepada bawahan yang berprestasi
5. Controlling berkaitan dengan pemantauan yang dilakukan oleh para manajer berkaitan dengan kinerja dari para karyawannya. Jika terjadi penyimpangan yang signifikan, sudah menjadi tugas dari para manajer untuk mengembalikan organisasi ke jalurnya.
Kegiatannya antara lain:
a. monitoring (memantau) hasil dan membandingkan dengan standar
b. menentukan penyebab penyimpangan
c. memperbaiki penyimpangan
Peranan Manajemen
1. Peran Interpersonal
a. Peran seremonial dan simbolik contohnya seorang rektor PT menyerahkan ijazah pada hari wisuda atau seorang penyelia pabrik memandu sekelompok siswa sekolah menengah atas meninjau pabrik.
b. Peran kepemimpinan meliputi perekrutan, pelatihan, pemberian motivasi dan pendisiplinan karyawan.
c. Peran penghubung berkaitan dengan peran/tugas menghubungi pihak luar yang memberikan informasi kepada manajer. Pihak luar yang dimaksudkan disini dapat berupa individu atau kelompok di dalam dan di luar organisasi.
2. Peran Informasional
a. Peran pemantau mencakup berbagai upaya dari para manajer untuk mendapatkan informasi dari organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga di luar lembaga mereka.
b. Peran penyebar berkaitan dengan usaha dari para manajer untuk menyampaikan berbagai informasi kepada para anggotanya.
c. Juru bicara saat para manajer mewakili organisasinya dihadapan pihak luar.
3. Peran Pengambilan Keputusan
a. Peran kewirausahaan, para manajer memprakarsai dan mengawasi proyek-proyek baru yang akan memperbaiki kinerja mereka.
b. Penyelesaian masalah, para manajer menjalankan tindakan korektif untuk menyikapi masalah-masalah yang tidak diduga.
c. Pengalokasi sumber daya, para manajer bertanggung jawab mengalokasikan sumber daya manusia, fisik dan moneter.
d. Peran perunding, yang didalamnya membahas berbagai isu dan melakukan tawar-menawar dengan unit lain demi keuntungan unitnya.
Keterampilan Manajemen
1. Keterampilan Teknis, meliputi kemampuan menerapkan pengetahuan atau keahlian khusus. Sebagai contoh ketika kita membayangkan keterampilan yang dimiliki dokter bedah mulut, kita cenderung memusatkan perhatian pada keterampilan teknis yang dimilikinya.
2. Keterampilan Personal, mencakup kemampuan bekerja sama, memahami dan memotivasi orang lain baik perorangan atau kelompok.
3. Keterampilan Konseptual, menuntut para manajer harus mempunyai kemampuan mental untuk menganalisis dan mendiagnosa situasi yang rumit. Sebagai contoh pengambilan keputusan menuntut para manajer menandai masalah, mengidentifikasikan alternatif-alternatif yang dapat mengoreksi masalah itu, mengevaluasi alternatif-alternatif tersebut dan memilih alternatif terbaik.
Sumber atau Sarana Manajemen
1. Manusia
2. Uang
3. SDA
4. Metode
5. Alat-alat/Mesin
6. Pasar
Hambatan dalam Proses Manajemen
Hambatan-hambatan yang terjadi dalam proses manajemen disebut masalah manajemen yang dapat terjadi karena ketidaksesuaian atau kesenjangan atau penyimpangan antara yang seharusnya terjadi dengan fakta yang ada. Hal ini jika tidak segera diatasai dapat menyebabkan munculnya masalah baru yang jauh lebih buruk dari yang telah terjadi. Oleh sebab itu seorang manajer diharapkan dapat segera mengambil keputusan terkait dengan masalah yang terjadi untuk memecahkan masalah, kesenjangan, atau penyimpangan yang terjadi sehingga hasil yang dicapai baik bersifat rasional, maupun emosional dapat tercapai secara efisien (tepat waktu), efektif (tepat guna), ekonomis (tepat biaya), etis (tepat sikap, tepat tingkah laku), dan produktif (tepat jumlah, tepat prosedur) sesuai dengan standar (ukuran baku) yang telah ditetapkan.
Ruang Lingkup Hambatan dalam Proses Manajemen
Masalah-masalah atau hambatan atau persoalan atau penyimpangan dapat terjadi pada:
1. Kemampuan yang dimiliki oleh manajer (ilmunya kurang)
2. Tujuan yang telah ditetapkan (tidak realistis dan kurang rasional)
3. Orang lain yang bekerjasama (kemampuannya kurang)
4. Kegiatan yang harus dilakukan (prosedur kegiatannya tidak jelas, belum ada rincian kerjanya)
5. Sumber manajemen (dana kurang, bahan baku kurang atau mutunya tidak bagus, metode tidak jelas, peralatannya kurang canggih, penentuan pemasarannya kurang jelas, waktu pelaksanaannya tidak terstruktur)
6. Fungsi manajemen (perencanaan atau pengorganisasian kurang tepat)
7. Standarnya (penentuannya kurang tepat, standar waktu, mutunya, jumlahnya)
Kegiatan Manajemen
• Manajer tradisional, berkaitan dengan lima fungsi manajemen.
• Komunikasi, berkaitan dengan pertukaran informasi yang ada dalam organisasi.
• Manajemen sumber daya manusia berkaitan dengan pemberian motivasi kepada karyawan oleh para manajer, pendisiplinan, pelatihan, pengalokasian staf dan pepengelolaan konflik.
• Pembangunan jaringan meliputi kemampuan bersosialisasi, berpolitik, dan berinteraksi dengan orang luar.
ORGANISASI
§ Definisi Organisasi
o Organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal dari dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
§ Definisi Organisasi Menurut Para Ahli
o Ralp Currier Davis
Organisasi sebagai suatu kelompok orang yang sedang bekerja ke arah tujuan bersama di bawah kepemimpinan.
o Jusuf Udaya
Kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan.
o Wexley and Yukl
Suatu paduan hubungan diantara orang-orang yang terlibat dan saling tergantung dalam aktifitas untuk mencapai tujuan.
o Schein
Sekelompok orang yang merupakan koordinasi kegiatan manusia yang direncanakan untuk mencapai suatu maksud atau tujuan bersama melalui serangkaian wewenang dan tanggung jawab.
Peran atau Peranan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu pemain sandiwara (film); tukang lawak pada permainan makyong; perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat.
Tentu definisi yang kita maksudkan adalah yang terakhir tersebut. Disitu disebutkan orang yang berkedudukan. Semakin tinggi kedudukan seseorang tentu harapan masyarakat juga semakin tinggi. Begitu juga peranannya bagi organisasi untuk mencapai tujuannya dalam memberikan pelayanan masyarakat.
Kenapa bukan lembaganya? Definisi ini lebih ditekankan pada sumber daya manusia, untuk itu dibutuhkan aparatur yang mumpuni disetiap instansi pemerintah yang memiliki integritas dan berkemampuan yang membawa nama lembaga menjadi lembaga yang memiliki peranan penting dalam pelayanan kepada masyarakat tersebut.
Wewenang dalam kamus yang sama didefinisikan sebagai kekuasaan membuat keputusan, memerintah, dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain; fungsi yang boleh tidak dilaksanakan. Kewenangan atau wewenang dalam literatur berbahasa Inggris disebut authority atau competence, sedang dalam bahasa Belanda disebut gezag atau bevoegdheid. Wewenang adalah kemampuan untuk melakukan suatu tindakan hukum publik atau kemampuan bertindak yang diberikan oleh undang-undang yang berlaku untuk melakukan hubungan-hubungan hukum.
Kekuasaan secara sosiologis adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain agar mengikuti kehendak pemegang kekuasaan, baik dengan sukarela maupun dengan terpaksa. Sedangkan, kewenangan adalah kekuasaan yang diformalkan (secara hukum) baik terhadap segolongan orang tertentu maupun terhadap suatu bidang pemerintahan tertentu. Dalam negara yang menganut sistem negara hukum, kekuasaan sering bersumber dari wewenang formal (formal authority) yang memberikan kekuasaan atau wewenang kepada seseorang dalam suatu bidang tertentu.
Terlihat bahwa antara kekuasaan dan wewenang memiliki hubungan yang erat dan terkadang sulit untuk membedakannya. Oleh karena itu kekuasaan bisa dilekatkan ke definisi wewenang dalam kontek pembahasan ini yaitu mendahulukan perang dari pada wewenang atau kekuasaaan.
Implementasi
Mendahulukan peran dari wewenang jelas merupakan mindset birokrasi yang diharapkan dapat lebih memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Semakin besar nilai tambah yang dirasakan masyarakat, semakin tinggi pula pengakuan eksistensi suatu birokrasi ditengah masyarakat.
Betapa besarnya kewenangan yang dimiliki oleh suatu instansi namun karena mindsetting aparatur di dalamnya adalah lebih mengedepankan perannya kepada masyarakat. Maka eksistensi dapat dipertahankan.
Namun juga jangan dilupakan, bahwa kewenangan sangat diperlukan, sesuai dengan mindsetting yang sudah diuraikan di atas, maka kewenangan yang dimaksud memberikan koridor berupa ruang lingkup yang jelas dan terhindar dari tumpang tindih antara satu instansi dengan instansi lainnya.
Beberapa Quotes yg bisa dibaca, misalnya:
- Civis pacem parabellum (””If you want peace, prepare for war. …”).
- Menurut mantan US Secr. Of Defense Donald Rumsfeld, terdapat kalimat yang menarik, “You go to war with the Army you have, not the Army you might want or wish later time..”
Oleh karena itu untuk mengedepankan peran, aparatur negara harus paham betul kewenangan yang dimilikinya, sehingga tercipta suatu sinergi peranan aparatur negara pada seluruh instansi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat bangsa dan negara.
Simpulan
- Aparatur negara harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya akan adanya Reformasi Birokrasi ini.
Perubahan mind-setting aparatur negara. - Memahami aturan yang ada dalam paket Perundang-undangan di Bidang Reformasi Birokrasi.
- Memulai berkinerja sebaik-baiknya dengan ukuran kinerja yang kelas mulai dari yang kecil, dari diri sendiri dan dari sekarang juga.
- Mensukseskan Reformasi Birokrasi.
Popularity: 2% [?]


