Sejarah Internet Indonesia

Pra-Internet

* Pra-Sejarah Internet 1970-1993
* Amatir Radio, Radio Paket, BBS
* Telepon BBS
* Komunitas Komputer
* Orang Indonesia di Luar Negeri

1990-1995

* Awal Internet Indonesia
* Jaringan IntraNet Awal
* Mailing List Indonesia
* Open Source Software
* WARNET

1996-1998

* Jaringan Pendidikan AI3 Indonesia

PRA INTERNET

*Pra-Sejarah Internet di Indonesia (1970-1993)

Internet merupakan media komunikasi yang populer di Indonesia sejak akhir tahun 1990. Perkembangan jaringan internet di Indonesia dimulai pertengahan era 1990, namun sejarah perkembangannya dapat diikuti sejak era 1970-an.

Pada awal perkembangannya, internet dimulai dari kegiatan-kegiatan yang bersifat non-komersial, seperti kegiatan-kegiatan berbasis hobby dan dalam perkembangan selanjutnya kebanyakan diprakarsai oleh kelompok akademis / mahasiswa dan ilmuwan yang sebagian (pernah) terlibat dengan kegiatan berbasis hobby tersebut, melalui upaya membangun infrastruktur telekomunikasi internet.

Peranan Pemerintah Indonesia dalam perkembangan jaringan internet di Indonesia memang tidak banyak, namun juga tidak dapat dikesampingkan, walaupun peranan mereka tidak terlalu signifikan. Dalam bab ini, kita akan melihat, bagaimana pra-sejarah internet di Indonesia, serta actor-aktor yang berperan didalamnya.

*Hobby Amatir Radio

Sejarah internet Indonesia dapat ditelusuri dari berbagai kegiatan sejumlah masyarakat, khususnya dalam bidang telekomunikasi. Kegiatan-kegiatan tersebut lebih merupakan kegiatan berbasis hobby atau yang bersifat amatir, tanpa ada tujuan komersil. Kegiatan-kegiatan tersebut berhubungan dengan penggunaan radio telekomunikasi yang kemudian memunculkan suatu komunitas penggemar komunikasi radio, dikenal sebagai Amatir Radio yang tergabung di Organisasi Radio Amatir Indonesia (ORARI_. Komunitas ini tidak hanya sekedar menggunakan radio sebagai alat komunikasi saja tapi juga pada upaya meningkatkan kemampuan teknis dalam membuat alat komunikasi / radio panggil. Booming radio amatir ini dimulai era tahun 1970-an, dengan penggemar dari berbagai tingkatan usia, namun terutama di kalangan remaja dan orang dewasa (usia 15-30 tahun).

Dari komunitas ini pula kemudian dikenal komunikasi radio antar penduduk menggunakan frekuensi Citizen Band (CB). CB sebenarnya tidak terkait langsung dengan perkembangan infrasturktur telekomunikasi, karena lebih merupakan pengembangan hobby berkomunikasi dengan sesama orang yang menggemari komunikasi antar-radio yang dilakukan sebagian anggota masyarakat, sebagai alternative penggunaan telepon.

Pada masa itu, telepon sudah merupakan alat komunikasi yang umum, namun keharusan untuk membayar biaya sambungan telepon merupakan hal yang cukup berat, terutama bagi remaja/dewasa muda yang belum memiliki penghasilan tetap. Kemudian, mulailah mereka menggunakan radio panggil / CB, yang bisa dipakai mengobrol berjam-jam tanpa khawatir biaya telepon membengkak. Biaya yang diperlukan untuk ‘membangun’ radio panggil dan pemancarnya pun relative tidak terlalu mahal.

Komunikasi dengan radio panggil pada saat itu masih menggunakan teknologi Analog dengan frekuensi AM, dan masih dilakukan dengan sesama pengguna/penggemar radio amatir yang berada dalam range/jarak tertentu yang mampu dicapai gelombang radio. Secara bertahap, sejumlah orang dengan hobby radio panggil ini mulai mengutik-utik radio mereka sehingga dapat mencapai range frekuensi yang lebih jauh, sehingga mereka bisa terhubung dengan sesama pengguna radio panggil yang ada di tempat yang lebih jauh. Ketika kemudian pengguna radio panggil mulai banyak, mereka akhirnya membentuk komunitas yang dikenal dengan ORARI

Radio Paket (Packet Radio) pertama diperkenalkan oleh seorang anggota senior ORARI, Robby Soebiakto YB1BG, pada tahun 1987. Dengan menggabungkan teknologi paket radio dengan computer, pemakai computer dapat mengirimkan data teks menggunakan gelombang radio. Dengan menggunakan dua stasiun radio amatir milik ORARI di Jakarta, pengguna radio amatir mendirikan BBS radio paket amatir. Cara ini membantu mengembangkan komunikasi data dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua arah. Kemudian pada awal tahun 1990-an, teknologi paket radio amatir mulai mempergunakan modem telepon, dan dalam perkembangan selanjutnya membentuk jaringan Radio Paket Amatir yang dikenal sebagai AMPRNet (Amateur Packet Radio Network), yang pada akhirnya mengarahkan komunitas penggunanya pada internet. Salah satunya dengan upaya yang dilakukan kelompok akademisi dan mahasiswa ITB, Amatir Radio Club (ARC) ITB dan Computer Network Research Group (CNRG) ITB, dengan mensosialisasikan penggunaan radio paket sebagai sarana sambungan dengan internet yang terhitung murah, khususnya bagi lembaga-lembaga (pendidikan).

Dari orang-orang inilah muncul sejumlah tokoh yang kemudian memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi telekomunikasi, hingga munculnya Internet di Indonesia.

*Telepon BBS

Selain Radio Amatir dan Radio Paket Amatir, ada pula teknologi yang dikenal dengan BBS, yaitu Buletin Board System. Teknologi ini pertama kali dibawa ke Indonesia awal tahun 1980-an oleh Jim Filgo.

BBS merupakan jaringan e-mail store and forward yang mengaitkan banyak ’server’ BBS amatir radio di seluruh dunia agar e-mail dapat dikirim dan terima dengan lancar. BBS hanya menyediakan data dalam bentuk gambar-gambar atau informasi tertulis. Untuk perangkat keras/hardware-nya sendiri, BBS merupakan perangkat computer yang dilengkapi dengan modem dan sambungan kabel telepon. Jika ada beberapa BBS yang saling terhubung, maka kita sudah dapat mengakses komputer (BBS) lain. Sambungan antar BBS dilakukan melalui saluran telepon, dan karenanya pengguna BBS umumnya merupakan kaum ‘elit’ / ekonomi menengah-atas karena sambungan melalui saluran telepon terhitung mahal. (Lim, 2005)

Jim Filgo yang saat itu menjadi konsultan bagi Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) berteman dengan C C Yan, seorang pengusaha lokal di Jakarta, dan keduanya kemudian memperkenalkan teknologi BBS kepada komunitas peminat komputer di Jakarta. Salah satu ‘anggota’ komunitas tersebut adalah Michael Sunggiardi, partner C C Yan di sebuah toko komputer, Computeria di Ratu Plaza Jakarta, yang memiliki minat besar terhadap komputer dan bahkan memiliki usaha komputer di Bogor. Michael Sunggiardi kemudian membawa dan memperkenalkan teknologi tersebut ke Bogor.

*Komunitas Penggemar Komputer

Bogor

Akhir tahun 1981, Michael Sunggiardi memulai bisnis computernya di Bogor. Awalnya ia hanya menjalankan bisnisnya tanpa niat yang serius. Dimulai dari hobby mengutak-atik barang elektronik, ia kemudian mempelajari teknik audio, televise, videotape recorder (yang pada era 80-an merupakan alat hiburan yang cukup popular) hingga Compact Disc Player (CD Player), sehingga ia memiliki keterampilan teknis dalam bidang elektronika, dan kemudian mulai mengajar di sejumlah kursus computer dan kursus elektronik di Jakarta, sambil menyambi bisnis dan kuliahnya.

Ketika mulai merasa jenuh dengan kegiatannya tersebut, ia mulai beralih pada computer, karena ia merasa bahwa teknis elektronika computer memiliki lebih banyak tantangan. Ketika itu ia mulai membantu beberapa gerai computer di Harco, Glodok Plaza Jakarta. Masa itu belum banyak orang paham apa itu computer atau bagaimana mengoperasikannya. Ia mempelajari teknis computer dan kemudian menularkan ilmunya itu kepada beberapa rekanan sesama pedagang di harco dan juga pada kursus-kursus computer. Ia bahkan sempat mengajari beberapa orang yang sekarang ini menjadi icon-nya bisnis computer di Indonesia di kursus-kursus, antara lain di Columbia Computer, CPU Computer, UPS Pascal. Mulai dari aplikasi program Lotus, Wordstar, yang menurutnya akan terpakai bagi orang-orang bisnis. Peserta kursusnya ketika itu tidak terbatas pada anak-anak muda saja, namun sebagian justru orang-orang yang sudah berusia 40-an.

Tahun 1982 Michael mendirikan perusahaan PT Batutulis Graha Komputronika bersama 3 orang temannya di Jakarta dan Bogor. Mula-mula ia meletakkan komputer di toko buku milik ayahnya di Bogor, dan hal itu ternyata menarik perhatian sejumlah pelanggan. Karena para karyawan tidak paham mengenai computer, mereka mengundang penanya-penanya tadi untuk kembali hari sabtu dan mendapatkan penjelasan dari Michael mengenai computer dan cara pengoperasiannya. Hal ini berlanjut sampai tahun 1984-1985, ketika ia mulai memiliki staff yang membantunya menerangkan dan mengajari tentang computer.

Bisnis komputer ini berkembang setelah ia memiliki klien ekspatriat asal Australia yang bekerja di Balai Penelitian Veterinary di Tapos, dekat Ciawi. Selanjutnya ia mulai memiliki banyak klien ekspatriat, antara lain dari Amerika dan Jepang, yang bekerja di perusahaan di sekitar Bogor dan Jakarta. Pada awalnya mereka datang untuk membeli computer, tapi kemudian mereka banyak bertanya tentang pengoperasian dan software computer, dan Michael pun mengajak para ekspatriat tersebut untuk mempelajari komputer dan mengajarkan sejumlah program dan software, antara lain Graphic Design dengan Desktop Publishing, Ventura Publisher. Ketika itu ia masih memanfaatkan toko buku milik ayahnya di Suryakencana, daerah Chinatown di Bogor, dimulai dari satu bagian toko buku hingga akhirnya ia menggunakan lantai 2 untuk bagian penjualan dan pelayanan computer.

Tahun 1984, Michael membuka rental komputer pertama di Bogor, terletak di Jl. Gunung Gede 24 (sekarang Jl. Raya Pajajaran) dengan menyediakan tiga komputer IBM PC XT 8086 untuk dipakai oleh mahasiswa IPB membuat skripsi atau laporan, lengkap dengan printer daisy wheel yang pada saat itu harganya masih sekitar 4 juta-an.

Tahun 1986-an, Michael berangkat ke Amerika dan kemudian memperoleh sertifikasi di Ventura Publisher users di Santa Barbara sehingga dikenal sebagai one of the first Asian yang memiliki sertifikasi. Pada tahun yang sama, Michael mendirikan computer club/klub komputer Pangkalan PC yang ketika itu anggotanya mencapai 2.000 orang. Salah satunya adalah Izak Jeni, orang Indonesia yang membuat VoIP Free World Dial Up bersama Jeff Parvour di New York. Antara tahun 1995-1997 Izak mengubah program untuk soundcard menjadi VoIP (Voice over Internet Protocol), sehingga ia bisa berbicara (langsung) di komputer dengan ayahnya, almarhum Aldi Jeni di Jepang.

Ketika itu klub komputer yang didirikan Michael sering berkumpul di gedung Gramedia di Jakarta, karena saat itu Michael cukup aktif membantu kawan dekatnya Kosasih Iskandarsyah yang bekerja di Elexmedia, dan di Gramedia Pustaka Utama, divisi penerbitan Gramedia, Michael memberikan training sehingga staff Gramedia tidak hanya menggunakan komputer untuk sekedar mengetik saja, tapi juga untuk men-set-up desain dan layout media cetaknya dengan Ventura Publisher. Ia terus bekerja membantu Gramedia hingga tahun 1990-an.

Kegiatannya di Computer Club sendiri dilakukan dengan resources yang terbatas, namun ia cukup banyak melakukan inovasi, misalnya dengan membeli software original di Amerika, kemudian ia mengutak-atik crack-nya sehingga software tersebut bisa dicopy, dan kemudian dijadikan bahan presentasi di Klub dan di distribusikan ke seluruh toko komputer di Indonesia, bekerja sama dengan prosuden disket SKC dari Korea.

“Jadi every meeting kita punya topik gitu. Ada software ini, saya ngomong. Software ini gunanya ini. Kalau mau copy, silahkan. Sediain copynya. Itu kan masih 5 ¼ inches. Masih bisa gitu. Terus sampai akhirnya ada buku, fotokopi… fotokopi ngebajak… jadi kayak Robinhood hahaha, one for all, all for one.”(Sunggiardi, 2005)

Kegiatan klub tersebut berjalan sampai tahun 1990. Saat yang bersamaan, pada tahun 1987, Michael juga membuka Klub yang sama di Bogor, sebagai cabang klub di Jakarta sekaligus untuk menopang bisnis komputernya disana. Menurutnya, klub tersebut bisa membantu edukasi dan market bisnisnya, karena dengan awareness klien, penggunaan komputer akan jauh lebih besar dan luas.

Berbagai upaya tersebut telah melahirkan suatu jaringan computer di Bogor, dengan memperkenalkan teknologi computer dan aplikasinya. Walaupun pada awalnya perkembangan itu dilakukan melalui upaya bisnis computer, namun ia menambahkan unsur edukasi dan pengenalan computer melalui kegiatannya mengajar kursus computer dan mendirikan klub computer di Jakarta dan Bogor.

*Orang Indonesia di Luar Negeri

Perkembangan infrastruktur internet pertama di Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh aktifitas mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri pada era tahun 80-an. Ketika itu, salah satu fasilitas komunikasi yang dapat diakses mahasiswa di sejumlah universitas di luar negeri adalah koneksi internet. Mereka memanfaatkan fasilitas tersebut untuk dapat saling terhubung satu sama lain, dimulai dengan membentuk suatu komunitas mahasiswa Indonesia yang belajar di universitas

Pada era Orde Baru ketika rezim Soeharto berkuasa, banyak isu/topic pembicaraan bernuansa social-politik yang dianggap “tabu”, terlarang untuk dibicarakan, terutama bila menyangkut masalah politik dan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan). Mahasiswa sebagai salah satu kaum intelektual sempat mengalami berbagai bentuk pencekalan terhadap kegiatan-kegiatan maupun wacana yang berhubungan dengan isu/topic yang “tabu” itu. Keingintahuan mereka mengenai kondisi di Indonesia ternyata terpenuhi dengan dibentuknya sejumlah mailing list oleh mahasiswa Indonesia di luar negeri. Memang, pada mulanya mailing list tersebut tidak dibuat sebagai ajang diskusi urusan social-politik Indonesia, namun lebih sebagai sarana berkomunikasi antar mahasiswa ‘perantauan’, untuk saling bertukar informasi seputar kegiatan mereka di masing-masing sekolah/universitas dan mengenai berbagai kabar dari tanah air. Namun kemudian, permasalahan social-politik Indonesia pun tidak luput dari topic pembicaraan/diskusi mereka. Mereka merasa lebih ‘aman’ untuk membicarakan suatu permasalahan yang menyangkut urusan social-politik nasional, karena pada saat itu mereka hanya saling terhubung satu-sama lain dengan mahasiswa Indonesia yang juga kuliah di luar negeri, sehingga tidak ada ‘pengawasan’ dari pemerintah.

Pada akhirnya, terbentuklah komunitas-komunitas mahasiswa Indonesia di luar negeri. Dimulai dengan dibentuknya mailing list Janus Garuda Indonesia (Janus) dengan alamat e-mail indonesians@janus.berkeley.edu pada tahun 1987, oleh Eka Ginting, yang ketika itu sedang kuliah di University of Seattle, Amerika Serikat. Ginting memanfaatkan server yang ada di University of California ~ Berkeley. (Lim, 2005)

Diskusi yang dilakukan dalam milis ini mula-mula bersifat saling tukar informasi dan kemudian baru menyangkut berbagai isu seputar masalah social-politik yang terjadi di tanah air. Diskusi kemudian mulai membahas seputar isu SARA sehingga terjadi perpecahan diantara peserta milis, khususnya kelompok-kelompok mahasiswa Indonesia yang beragama Islam dan Kristen. Perpecahan ini kemudian berujung pada terbentuknya sejumlah mailing list kecil berbasis agama (Islam dan Kristen), seperti is-lam@isnet.org, dialog@isnet.org (berisi diskusi tentang Islam, muslim dan non-muslim) dan paroki@paroki.org (untuk umat Katolik Indonesia), iccn@dbs.informatik.uni-muenchen.de (Indonesian Christian Computer Network).

Hingga tahun 1989, belum ada lagi mailing list yang dibentuk mahasiswa Indonesia, dan barulah kemudian, pada tahun 1989 dibentuklah UK-NET oleh mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Inggris, disusul dengan INDOZNET – Indonesia-Australia-Network, yang dibentuk mahasiswa Indonesia di Australia, dan kemudian terbentuk pula Isnet (the Islamic Network), milis yang ditujukan terutama bagi mahasiswa Musim Indonesia yang berkuliah di Amerika Serikat. (Lim, 2005)

Ketika kemudian mereka kembali ke Indonesia, mereka tetap merasakan perlunya koneksi internet untuk membantu komunikasi dan pertukaran informasi / data, namun kala itu perguruan tinggi di Indonesia belum memiliki infrastruktur yang memadai bagi akses internet. Baru beberapa perguruan tinggi yang mencoba membangun jaringan komunikasi / network local kampus, dan itupun masih menggunakan radio paket link, dengan kecepatan akses yang sangat lambat. Diantara perguruan-perguruan tinggi tersebut adalah ITB, UI, dan UGM.

Maka kemudian, sejumlah mahasiswa/akademisi yang baru kembali dari studi di luar negeri tersebut mulai melakukan berbagai penelitian dan kemudian berupaya membangun jaringan komunikasi (data), mula-mula di kampus mereka masing-masing, dan pada akhirnya, mereka akan mencoba menyambungkan jaringan local kampus tersebut dengan kampus lain, lembaga-lembaga pemerintah, dan pada akhirnya dengan jaringan internet global. Perkembangan tersebut akan diceritakan di bagian lain dari tulisan ini.

1990-1995

Awal Internet Indonesia

Sejarah internet Indonesia bermula pada awal tahun 1990-an, saat itu jaringan internet di Indonesia lebih dikenal sebagai paguyuban network, dimana semangat kerjasama, kekeluargaan & gotong royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya. Agak berbeda dengan suasana Internet Indonesia pada perkembangannya yang terasa lebih komersial dan individual di sebagian aktifitasnya terutama yang melibatkan perdagangan Internet.

LinkRahmat M. Samik-Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto, Onno W. Purbo merupakan beberapa nama-nama legendaris di awal pembangunan Internet Indonesia di tahun 1992 hingga 1994. Masing-masing personal telah mengkontribusikan keahlian dan dedikasinya dalam membangun cuplikan-cuplikan sejarah jaringan komputer dan Internet di Indonesia.

Tulisan-tulisan tentang keberadaan jaringan Internet di Indonesia dapat di lihat di beberapa artikel di media cetak seperti KOMPAS berjudul “Jaringan komputer biaya murah menggunakan radio” di akhir tahun 1990 awal 1991. Juga beberapa artikel pendek di Majalah Elektron Himpunan Mahsiswa Elektro ITB di tahun 1989.

Inspirasi tulisan-tulisan awal Internet Indonesia datangnya dari kegiatan di amatir radio khususnya di Amatir Radio Club (ARC) ITB di tahun 1986. Bermodal pesawat Transceiver HF SSB Kenwood TS430 milik Harya Sudirapratama (YC1HCE) dengan komputer Apple II milik Onno W. Purbo (YC1DAV) sekitar belasan anak muda ITB seperti Harya Sudirapratama (YC1HCE), J. Tjandra Pramudito (YB3NR), Suryono Adisoemarta (N5SNN) bersama Onno W. Purbo (YC1DAV), berguru pada para senior amatir radio seperti Robby Soebiakto (YB1BG), Achmad Zaini (YB1HR), Yos (YB2SV), di band 40m (7MHz).

Robby Soebiakto YB1BG yang waktu itu bekerja di PT. USI IBM Jakarta merupakan pakar diantara para amatir radio di Indonesia khususnya untuk komunikasi data radio paket yang kemudian mendorong ke arah TCP/IP. Teknologi radio paket TCP/IP yang kemudian di adopsi oleh rekan-rekan BPPT, LAPAN, UI, dan ITB yang kemudian menjadi tumpuan PaguyubanNet di tahun 1992-1994.

Di tahun 1988, dalam surat pribadi Robby Soebiakto YB1BG mendorong Onno W. Purbo YC1DAV/VE3 yang berada di Hamilton, Ontario, Kanada untuk mendalami TCP/IP. Robby Soebiakto YB1BG meyakinkan Onno W. Purbo YC1DAV/VE3 bahwa masa depan teknologi jaringan komputer akan berbasis pada protokol TCP/IP.

Robby Soebiakto (YB1BG) menjadi koordinator IP pertama dari AMPR-net (Amatir Packet Radio Network) yang di Internet dikenal dengan domain AMPR.ORG dan IP 44.132. Sejak tahun 2000 AMPR-net Indonesia di koordinir oleh Onno W. Purbo (YC0MLC). Koordinasi dan aktifitas-nya mengharuskan seseorang untuk menjadi anggota ORARI dan di koordinasi melalui mailing list ORARI, seperti, orari-news@yahoogroups.com.

Di tahun 1986-1987 awal perkembangan jaringan paket radio di Indonesia, Robby Soebiakto (YB1BG) merupakan pionir dikalangan pelaku amatir radio Indonesia yang mengkaitkan jaringan amatir Bulletin Board System (BBS) yang merupakan jaringan e-mail store and forward yang mengkaitkan banyak “server” BBS amatir radio seluruh dunia agar e-mail dapat berjalan dengan lancar.

Di awal tahun 1990 komunikasi antara Onno W. Purbo (YC1DAV/VE3) yang waktu itu berada di Kanada dengan panggilan YC1DAV/VE3 dengan rekan-rekan amatir radio di Indonesia dilakukan melalui jaringan amatir radio ini. Dengan peralatan PC/XT dan walkie talkie 2 meteran, komunikasi antara Indonesia-Kanada terus dilakukan dengan lancar melalui jaringan amatir radio.

Robby Soebiakto YB1BG berhasil membangun gateway amatir satelit di rumahnya di Cinere melalui satelit-satelit OSCAR milik amatir radio kemudian melakukan komunikasi lebih lanjut yang lebih cepat antara Indonesia-Kanada. Pengetahuan secara perlahan ditransfer dan berkembang melalui jaringan amatir radio ini.

Tahun 1992-1993, Muhammad Ihsan masih staff peneliti di LAPAN Ranca Bungur tidak jauh dari Bogor yang di awal tahun 1990-an di dukung oleh pimpinannya Ibu Adrianti dalam kerjasama dengan DLR (NASA-nya Jerman) mencoba mengembangkan jaringan komputer menggunakan teknologi packet radio pada band 70cm & 2m.

Jaringan LAPAN dikenal sebagai JASIPAKTA dengan dukungan DLR Jerman. Protokol TCP/IP di operasikan di atas protokol AX.25 pada infrastruktur packet radio. Muhammad Ihsan mengoperasikan relay penghubung antara ITB di Bandung dengan gateway Internet yang ada di BPPT di tahun 1993-1998.

Firman Siregar merupakan salah seorang motor di BPPT yang mengoperasikan gateway radio paket bekerja pada band 70cm di tahun 1993-1998-an. PC 386 sederhana menjalankan program NOS di atas sistem operasi DOS digunakan sebagai gateway packet radio TCP/IP. IPTEKNET masih berada di tahapan sangat awal perkembangannya saluran komunikasi ke internet masih menggunakan protokol X.25 melalui jaringan Sistem Komunikasi Data Paket (SKDP) terkait pada gateway di DLR Jerman.

Putu sebuah nama yang melekat dengan perkembangan PUSDATA DEPRIN waktu masa kepemimpinan Bapak Menteri Perindustrian Tungki Ariwibowo menjalankan BBS pusdata.dprin.go.id. Di masa awal perkembangannya BBS Pak Putu sangat berjasa dalam membangun pengguna e-mail khususnya di jakarta Pak Putu sangat beruntung mempunyai menteri Pak Tungki yang “maniak” IT dan yang mengesankan dari Pak Tungki beliau akan menjawab e-mail sendiri. Barangkali Pak Tungki adalah menteri pertama Indonesia yang menjawab e-mail sendiri.

Suryono Adisoemarta N5SNN di akhir 1992 kembali ke Indonesia, kesempatan tersebut tidak dilewatkan oleh anggota Amatir Radio Club (ARC) ITB seperti Basuki Suhardiman, Aulia K. Arief, Arman Hazairin di dukung oleh Adi Indrayanto untuk mencoba mengembangkan gateway radio paket di ITB. Berawal semangat & bermodalkan PC 286 bekas barangkali ITB merupakan lembaga yang paling miskin yang nekad untuk berkiprah di jaringan PaguyubanNet. Rekan lainnya seperti UI, BPPT, LAPAN, PUSDATA DEPRIN merupakan lembaga yang lebih dahulu terkait ke jaringan di tahun 1990-an mereka mempunyai fasilitas yang jauh lebih baik daripada ITB. Di ITB modem radio paket berupa Terminal Node Controller (TNC) merupakan peralatan pinjaman dari Muhammad Ihsan dari LAPAN.

Suryono Adisoemarta N5SNN sendiri ketika masih menempuh kuliah S2nya di University of Texas di Austin, Texas, menyambungkan TCP/IP Amatir Austin ke gateway Internet untuk pertama kalinya, di gedung Chemical and Petroleum Engineering University of Texas, Ameria Serikat, sehingga komunitas Amatir Radio TCP/IP Austin bisa tersambung dengan jaringan TCP/IP seluruh dunia dan bahkan memungkinkan akses langsung ke internet dengan mengunakan radio amatir (Lim, 2005). Pengetahuan inilah yang kemudian Ia terapkan dalam pengembangan radio paket di ITB.

Berawal dari teknologi radio paket 1200bps, ITB kemudian berkembang di tahun 1995-an memperoleh sambungan leased line 14.4Kbps ke RISTI Telkom sebagai bagian dari IPTEKNET akses Internet tetap diberikan secara cuma-cuma
kepada rekan-rekan yang lainnya khususnya di PaguyubanNet.

September 1996 merupakan tahun peralihan bagi ITB, karena keterkaitan ITB dengan jaringan penelitian Asia Internet Interconnection Initiatives (AI3) sehingga memperoleh bandwidth 1.5Mbps ke Jepang yang terus ditambah dengan sambungan ke TelkomNet & IIX sebesar 2Mbps. ITB akhirnya menjadi salah satu bagian terpenting dalam jaringan pendidikan di Indonesia yang menamakan dirinya AI3 Indonesia yang mengkaitkan 25+ lembaga pendidikan di Indonesia di tahun 1997-1998-an.

Jaringan pendidikan ini bukan hanya monopoly ITB saja, jaringan pendidikan lain yang lebih besar lagi adalah jaringan SMK yang dibawahi DIKMENJUR (dikmenjur@egroups.com). Di tahun 2006, praktis ada lebih dari 4000 sekolah di Indonesia yang tersambung ke Internet sebagian besar adalah SMK.

Mailing List Indonesia

Di tahun 1989-1990-an, teman-teman mahasiswa Indonesia di luar negeri mulai membangun tempat diskusi di Internet, salah satu tempat diskusi Indonesia di Internet yang pertama berada di indonesians@janus.berkeley.edu.

Berawal dari mailing list pertama di Janus diskusi-diskusi antar teman-teman mahasiswa Indonesia diluar negeri pemikiran alternatif berserta kesadaran masyarakat ditumbuhkan. Pola mailing list ini ternyata terus berkembang dari sebuah mailing list legendaris di janus, akhirnya menjadi sangat banyak sekali mailing list Indonesia terutama di host oleh server di ITB & egroups.com. Mailing list ini akhirnya menjadi salah satu sarana yang sangat strategis dalam pembangunan komunitas di Internet Indonesia.

Internet Service Provider Indonesia

ISP yang pertama kali di Indonesia ialah Ipteknet linkhttp://www.iptek.net.id/ yang beroperasi penuh menjelang awal 1994.

Di tahun 1994-an mulai beroperasi P.T. IndoInternet linkhttp://www.indo.net.id/ atau IndoNet yang dipimpin secara part-time oleh Sanjaya. IndoNet merupakan ISP komersial pertama Indonesia yang pada awalnya memanfaatkan lisensi dari P.T. Lintas Arta.

Pada waktu itu pihak POSTEL belum mengetahui tentang celah-celah bisnis Internet & masih sedikit sekali pengguna Internet di Indonesia. Sambungan awal ke Internet dilakukan menggunakan dial-up oleh IndoNet, sebuah langkah yang cukup nekad barangkali. Lokasi awal IndoNet di daerah Rawamangun di kompleks dosen UI kebetulan ayah Sanjaya adalah dosen UI. ISP yang tidak lama menyusul IndoNETialah RadNet linkhttp://www.rad.net.id/.

Jaringan IntraNet di kampus-kampus merupakan kunci awal perkembangan Internet di Indonesia. Sebelum ada sambungan ke internet sudah ada jaringan komputer di lingkungan terbatas yang dikenal sebagai Local Area Network (LAN) di sejumlah lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah di Indonesia.

Pada era 1980 sampai menjelang pertengahan tahun 1990an, di kalangan pendidikan tinggi (universitas) dengan para stake holders yang terdiri dari para akademisi, mahasiswa, dan ilmuwan telah timbul inisiatif untuk mengembangkan berbagai kegiatan seputar teknologi computer dan radio yang semula hanya merupakan hobby, kegiatan amatir, maupun bagian dari proses pendidikan mereka di perguruan tinggi menjadi suatu media telekomunikasi yang akan memudahkan pertukaran data dan informasi, tidak hanya dalam lingkungan kampus/lembaga-nya saja, namun mereka pun telah memiliki imajinasi bahkan keinginan untuk mengembangkan suatu jaringan/network antar kampus dan bahkan antar negara.

Hal tersebut dimulai dengan berbagai penelitian di lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah dengan bidang kerja yang berhubungan dengan teknologi, telekomunikasi khususnya komputer dan networkingnya, ditambah dengan adanya transfer of technology dari sejumlah akademisi selepas studi ataupun penelitian mereka di luar negeri, dimana teknologi jaringan computer sudah mulai berkembang.

*Awal Mailing List di Indonesia

Mailing List Server Pertama di Indonesia

Di tahun 1995-1997 pada saat egroups.com atau sekarang yahoogroups.com belum aktif digunakan seperti saat ini, ITB telah memberikan fasilitas forum diskusi gratis bagi masyarakat Internet di Indonesia. Pada hari ini, infrastruktur tersebut masih di gunakan akan tetapi lebih banyak untuk keperluan internal di ITB. Keberadaan mailing list sangat membantu bagi proses pendidikan di ITB & Indonesia khususnya untuk membuka wawasan para mahasiswa tentang dunia nyata diluar kampus.

Pada tahun 1995-1997-an, ITB memberikan servis sekitar 200-an mailing list gratis dengan anggota ribuan orang yang berinteraksi setiap hari. Secara fisik, aktifitas ini di layani oleh dua (2) buah komputer Pentium II yang bekerja berdampingan. Salah satu komputer tersebut adalah sumbangan alumni ITB Mujaya Hertadi. Pada komputer tersebut di aktifkan program majordomo yang berfungsi sebagai kontrol untuk mailing list.

Bayangkan bagaimana bentuk infrastruktur yang harus di siapkan untuk melayani lebih dari 40.000 komunitas maya Indonesia dengan jumlah massa ratusan ribu manusia. Pada hari ini, sebagian besar komunitas maya Indonesia yang ada di linkhttp://groups.yahoo.com atau lebih dikenal sebagai yahoogroups.com. Gilanya, semua fasilitas dapat di akses secara gratis, tanpa membayar sepeserpun.

Sejarah Mailing List Indonesia

Berawal sekitar tahun 1987-1988, pada waktu itu Internet masih belum terbentuk seperti sekarang ini, sekelompok kecil mahasiswa Indonesia di Berkeley, Amerika Serikat membentuk mailing list indonesia yang pertama dengan alamat e-mail indonesians@janus.berkeley.edu. Persatuan komunitas pelajar dan mahasiswa Indonesia di luar negeri terbentuk dengan adanya fasilitas diskusi maya ini. Awal diskusi sangat membangun dan berjiwa nasionalis.

Seperti hal-nya kejadian di Ambon pada hari ini, pada tahun 1989-an terjadi diskusi SARA yang lumayan hebat dan terjadi awal perpecahan di Indonesians@janus.berkeley.edu menjadi kelompok-kelompok diskusi yang lebih kecil. Pihak Islam banyak di motori oleh rekan-rekan di isnet (Islamic Network) dengan berbagai mailing list-nya, seperti,

* is-lam@isnet.org – diskusi tentang Islam.
* dialog@isnet.org – diskusi tentang muslim dan non-muslim.
* hikmah@isnet.org – pertanyaan & jawaban tentang kristen oleh ISNET.

tentunya rekan-rekan Kristen tidak ketinggalan dengan kelompoknya, seperti,

* paroki@paroki.org – untuk umat Katolik Indonesia.
* paroki_asia@wave.ec.t.kanazawa-u.ac.jp – untuk umat Katolik Indonesia yang berada di wilayah asia pasifik.
* iccn@dbs.informatik.uni-muenchen.de – Indonesian Christian Computer Network.

Di samping kelompok keagamaan, juga banyak terbentuk mailing list Indonesia yang sifatnya keilmuan seperti,

* pau-mikro@ee.umanitoba.ca – kemudian hari menjadi mailing list para hacker Indonesia.
* ids@listserv.syr.edu – jaringan kajian pembangunan Indonesia,

Dengan adanya Internet di Indonesia berawal pada tahun 1993-1994-an dan kepulangan para mahasiswa yang belajar di luar negeri ke Indonesia, mailing list Indonesia secara bertahap terbentuk di Indonesia. Pada tahun 1995-1997, dua (2) buah Pentium II di ITB yang merupakan sumbangan Alumni ITB telah menyumbangkan banyak jasanya untuk pembentukan awal komunitas maya Indonesia sehingga mencapai jumlah ratusan mailing list.

Keberadaan dan arsip banyak mailing list Indoensia di masa lalu, dulu dapat dilihat di linkhttp://www.umanitoba.ca/indonesian/milis.html atau linkhttp://www.airland.com/id/komputer/milis.html. Semoga pada hari ini sebagian masih dapat terselamatkan di berbagai mesin pencari (search engine), seperti, linkhttp://www.yahoo.com atau linkhttp://www.google.com.

Sebagian besar mailing list di atas telah menjadi sejarah. Pada hari ini, forum komunitas maya Indonesia lebih banyak bertumpu pada fasilitas gratis yang di berikan oleh yahoogroups.com yang dapat di akses pada linkhttp://groups.yahoo.com.

Usaha cukup keras tampaknya sedang dilakukan oleh Telkom khususnya Divisi Multimedia yang membawahi TelkomNet. Rekan-rekan di TelkomNet telah membangun sebuah server yang cukup besar untuk menampung forum-forum diskusi maya di Indonesia yang bisa digunakan secara gratis. Fasilitas ini berlokasi di linkhttp://www.plasagroups.com atau linkhttp://groups.plasa.com. Memang pada saat ini, fasilitas yang di sediakan masuk belum sebanyak dan belum sepopuler yahoogroups.com. Tapi lumayan untuk menjadi alternatif penghematan trafik ke luar negeri.

groups.or.id

Usaha mengembangkan mailing list server di Indonesia menjadi sangat penting karena ternyata salah satu aplikasi yang menarik bagi pengguna Internet di Indonesia adalah mailing list. Sialnya, sebagian besar pengguna banyak yang menggunakan jasa yahoogroups.com untuk mailing list. Konsekuensinya, banyak bandwidth internasional tersedot karena menggunakan mailing list server di yahoogroups.com di Amerika Serikat. Solusinya, jika saja kita dapat memindahkan servis sekelas yahoogroups.com ke Indonesia akan sangat membantu mengurangi traffik internasional. Di tahun 2004-an groups.or.id mulai di operasikan untuk keperluan mailing list lokal di Indonesia.

*Open Source Software

Open Source Software merupakan kunci utama keberhasilan implementasi Internet di Indonesia.

1990 Network Operating System (NOS)

Di tahun 90-96-an implementasi jaringan Internet di Indonesia menggunakan teknologi radio paket, sistem operasi jaringan yang digunakan sangat di dominasi oleh software Network Operating System (NOS) yang di kembangkan pertama kali oleh Phill Karn KA9Q di amerika serikat. Phill KA9Q melepaskan source code NOS yang mendukung protokol TCP/IP dan membagikannya gratis untuk keperluan amatir radio.

Yang menarik dari NOS, dapat di operasikan di atas Disk Operating System (DOS) pada sebuah komputer PC/XT atau 286. Sehingga kita dapat membangun jaringan dengan peralatan yang amat sangat sederhana.

1994 FreeBSD

Mulai tahun 1994-1995, server-server di ITB mulai menggunakan FreeBSD sebagai sistem operasinya. FreeBSD merupakan sistem operasi open source dan tangguh untuk keamanan jaringan maupun server. Tidak heran jika sampai hari ini, semua server di ITB masih di dominasi oleh FreeBSD.

Pada hari ini, para administrator jaringan di Computer Network Research Group (CNRG) ITB lebih menyukai laptop Mac dengan sistem operasi Mac OS X yang berbasis BSD daripada sistem operasi lain.

1997 Linux

Linux adalah sistem operasi open source yang paling banyak digunakan di Indonesia pada hari ini. Beberapa situs di Indonesia melakukan mirroring iso dari Linux, sehingga pengguna Indonesia dapat memperoleh-nya secara lokal. Mirror tersebut antara lain,

* linkhttp://fedora.cbn.net.id
* linkhttp://kambing.vlsm.org

Walaupun linux mulai berkembang di tahun 1990-1992-an, pengguna Linux di Indonesia baru mulai berkembang di tahun 1997-1998-an. Perkembangan Linux mulai pesat sekitar tahun 2001-2002-an. Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) dan berbagai Linux User Group di berbagai kota menjamur. Mailing list tanya-jawab@linux.or.di di bantu Web linkhttp://www.linux.or.id sangat memberdayakan proses sosialisasi Linux di Indonesia. I Made Wiryana merupakan salah satu tokoh yang mendorong berkembangkanya Linux di Indonesia.

InfoLinux linkhttp://www.infolinux.co.id barangkali merupakan salah satu majalah autoritif tentang Linux di Indonesia. Pimpinan Redaksi InfoLinux Rusmanto banyak berkontribusi untuk mensosialisasikan dan mendorong penggunaan Linux di masyarakat.

Tahun 2000-an, berkembang Gudang Linux linkhttp://www.gudanglinux.com yang dulunya linkhttp://www.gudanglinux.co.id merupakan salah satu bentuk usaha sosialisasi open source di Indonesia dengan menjual CD Linux kepada masyarakat melalui Web. Hal ini sangat memudahkan bagi mereka yang tidak mempunyai banyak bandwidth untuk mendownload dari Internet.

Dengan semakin berkembangnya Linux, banyak server di jaringan Internet di Indonesia menggunakan Linux. Terutama mengoperasikan Content Management System (CMS) dengan di dukung Apache, MySQL dan PHP.

30 Juni 2004 dideklarasikan penggunaan dan pengembangan Open Source Software yang ditandatangani oleh : Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional.

IGOS adalah gerakan yang dicanangkan oleh pemerintah, oleh 5 kementerian, yang merupakan sebuah ajakan untuk mengadopsi Open Source dilingkungan pemerintah.

2003 Java

Java yang pertama kali di kembangkan oleh Sun Microsystem, mulai menampakan giginya tanggal 12 April 2003 dengan terbentuknya mailing list jug-indonesia@yahoogroups.com. JUG Indonesia merupakan mailing list pengguna Java terbesar di Indonesia yang pada pertengahan 2006 mempunyai anggota 1984 orang.

Mailing list JUGIndonesia ini didirikan oleh seorang Java Evangelist dan tokoh yang kontroversial bernama Frans Thamura.

Di mailing list JUGIndonesia komunitas banyak mendiskusikan Java dan mempopulerkan Java, baik itu yang commercial seperti Websphere, Weblogic maupun yang Open Source, seperti JBoss, Tomcat, Struts, Hibernate.

*Warung Internet (WARNET)

Istilah WARNET

Warung Internet adalah sebuah kata yang berkembang diantara para aktifis Internet Indonesia di tahun 1997-1998 untuk sebuah kios yang memiliki banyak komputer untuk di sewakan bagi pengakses Internet. Pada masa itu, secara tidak sadar terjadi perebutan singkatan dari Warung Internet antara WARIN dan WARNET. Seharusnya jika kita konsisten dengan proses menyingkat kata, seperti WARTEG (Warung Tegal) dan WARTEL (Warung Telekomunikasi), maka yang seharusnya di pilih adalah WARIN.

Karena Internet, .NET, menjadi akhiran yang sangat menarik dalam jaringan Internet, maka kebanyakan rekan-rekan di masa itu lebih memilih istilah WARNET daripada WARIN. Oleh karena itu tidak heran hingga saat ini WARNET diadopsi oleh masyarakat Indonesia.

Warnet-Warnet Pertama Indonesia

1 Juli 1995 WARNET PERTAMA Indonesia

1 Juli 1995, di bentuk PT BoNet Utama yang merupakan adalah ISP swasta kedua setelah Indonet Jakarta. Kantor pertama BoNet terletak di Cafe Botanicus tengah Kebun Raya Bogor, yang secara naluriah langsung membuat warnet yang dikhususkan untuk turis-turis yang sedang berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Oleh karena itu, cukup sepadan jika kita mengatakan bahwa WARNET di Bogor dan juga di Indonesia adalah BoNet yang waktu itu terletak di tengah Kebun Raya Bogor.

Beberapa WARNET awal Indonesia lainnya antara lain adalah,

BONET
CCF Surabaya
Cyber Corner Jkt
Toko Gunung Agung Jkt
Maga Yogya
GAMA Net Yogya
Pujayo Cafe Net Yogya
Pointer

Aktifitas pembuatan WARNET cukup marak di 1996-1998, beberapa pemain yang dominan antara lain adalah Wasantara dari PT. POS Indonesia, BONET dan POINTER adalah segelintir WARNET awal Indonesia.

Mailing List asosiasi-warnet@yahoogroups.com

Awalnya, semua aktifitas dilakukan di mailing list asosiasi-warnet@itb.ac.id di server ITB. Dengan pertimbangan bandwidth ITB yang terbatas ke Internet, pada tanggal 14 April 2000, diskusi rekan-rekan WARNET pindah ke asosiasi-warnet@egroups.com yang kemudian menjadi asosiasi-warnet@yahoogroups.com.

Asosiasi WARNET Indonesia

Pada tanggal 25 Mei 2000 merupakan hari bersejarah bagi rekan-rekan WARNET – karena telah lahir Asosiasi Warnet Indonesia yang ada secara fisik dalam pertemuan di kantor DIKMENJUR. Dalam sebuah rapat untuk melihat kemungkinan kerjasama antara rekan-rekan WARNET dengan SMK, yang di pimpin oleh DR. Gatot HP Direktur Menengah Kejuruan DIKNAS pada saat itu. Asosiasi WARNET Indonesia kemudian di kenal sebagai AWARI.

Ketua Asosiasi Warnet pertama adalah rekan Rudy Rusdiah, Bendahara rekan Adlinsyah dan Sekretaris Abdullah Koro. Tampaknya aktifias ketua AWARI waktu itu dirasakan tidak terlalu transparan kepada teman-teman WARNET. Di akhir 2001, di lakukan pertemuan rekan-rekan aktifis WARNET yang berakhir dengan di gantinya pengurus lama dengan presidium AWARI yang dipimpin oleh Judith MS, Michael Sunggiardi dan Abdullah Koro.

Sweeping WARNET

Operasional WARNET di Indonesia bukannya tanpa perjuangan dan tetesan darah para operator-nya. Cukup banyak cerita horor yang terjadi pada dunia WARNET di Indonesia, beberapa cerita yang cukup mengerikan, antara lain,

* Januari 2006, Malang, LinkSweeping dan penyitaan komputer WARNET karena pornografi.
* Juli 2005, Semarang,Link WARNET Pointer di sweeping walaupun menggunakan OS Legal.
* Juni 2005, Jogja, LinkSweeping 80 WARNET dan 4 Institusi masalah software bajakan, dan di sita komputer.
* Mei 2005, Depok,Link Sweeping dan penyitaan komputer WARNET karena software bajakan.
* Mei 2005, Bandung,Link Sweeping dan penyitaan komputer WARNET karena software bajakan.
* Maret 2005, Cilacap,Link WARNET diciduk karena software bajakan dan LinkJudith MS di tahan di POLRES Cilacap.
* September 2004, JogjaLink Sweeping WARNET dan RT/RW-net di anggap ISP gelap Link.

1996-1998

Jaringan Pendidikan AI3 Indonesia

Sambungan internet dari jaringan di ITB ke jaringan luar negeri mulai dilakukan setelah ITB mendapat penawaran dari pihak WIDE Project di Jepang, Pada masa itu, jika seorang user ingin menggunakan internet, connection harus dilakukan dengan saluran telepon ke UI Jakarta. Biayanya mahal, karena menggunakan line telepon dengan perhitungan pulsa interlokal, apalagi karena kebanyakan koneksi dilakukan siang hari.

Di tahun 1995-1996, sejumlah akademisi ITB yang tergabung dalam Computer Network Research Group (CNRG) berusaha untuk membangun jaringan internet dengan menggunakan Radio Paket, dan kala itu mereka berhasil menyambungkan jaringan dengan IPTEKNET/BPPT melalui Lapan, dan tahun 1995, sambungan tersebut ditingkatkan menjadi sambungan dengan Leased Line 14.4Kbps melalui RISTI Telkom di Bandung yang merupakan bagian dari negosiasi Dewan Riset Nasional (DRN) yang dipimpin Samaun Samadikun.

1996 Negosiasi dengan WIDE Project Jepang

Awal tahun 1996, ada penawaran dari WIDE Project di Jepang kepada sejumlah institusi pendidikan di Negara-negara Asia untuk bergabung sebagai patner dengan Asian Internet Interconnection Initiative atau AI3, sebuah jaringan yang bertujuan mengembangkan teknologi infrastruktur internet network untuk wilayah Asia-Pasifik. AI3 ini merupakan suatu Konsorsium sejumlah lembaga penelitian dan Universitas tergabung di WIDE Project Jepang yang bekerjasama dengan perusahaan satelit JCSat Jepang, Japan Satelllite Corporation.

Sejumlah lembaga pendidikan di Indonesia, seperti BPPT, ITS dan UI juga memperoleh kabar mengenai penawaran partnership tersebut dan sangat berminat untuk bergabung dengan AI3, karena hal tersebut akan sangat membantu perkembangan infrastruktur jaringan internet, terutama di lembaga yang bersangkutan, karena partner akan memdapatkan akses internet gratis dengan kecepatan 2 Megabyte per second.

ITB kemudian mengirimkan surat menyatakan minatnya untuk menjadi partner AI3, dan kemudian Pihak Jepang mengirimkan balasan, mengatakan bahwa mereka akan menilai masing-masing peminat, karena ada sejumlah lembaga lain yang juga telah menyatakan keinginannya untuk begabung dengan AI3, seperti ITS Surabaya, BPPT, dan beberapa pihak lain. Perjuangan dilakukan dengan proses negosiasi melalui e-mail yang memakan waktu beberapa hari antara Onno W. Purbo (ITB) dan Suguru Yamaguchi (AI3 WIDE Project). Onno W. Purbo pada saat itu hampir tidak tidur untuk menyiapkan jawaban, dan argumentasi-argumentasi, paper untuk dikirimkan pihak AI3 WIDE Project.

Untuk menseleksi peminat, AI3 kemudian mengadakan berbagai seminar dan korespondensi, diantaranya di Singapura, dimana Onno W. Purbo dan Sugiharjo Soegidjoko yang dikirim kesana oleh ITB melakukan presentasi bahwa ITB sebenarnya sudah memiliki track record dalam bidang penelitian dan pengembangan internet dengan berbagai teknologi yang memungkinkan saat itu, dengan keterbatasan infrastruktur mulai dari yang paling sederhana sampai yang terakhir, dengan sambungan leased line dan Yellow Cable Network. Kemudian, dengan berbagai usaha selanjutnya sambil terus berkorespondensi dengan pihak AI3, akhirnya ITB dipilih menjadi mitra AI3 untuk Indonesia, bersama dengan Hong Kong University of Science and Technology di Hongkong, serta Asian Institute of Technology di Thailand.

Membangun Jaringan Pendidikan AI3 Indonesia

Selanjutnya, ITB menyambungkan jaringan AI3 tersebut dengan sejumlah perguruan tinggi / universitas se-Indonesia, sebagai salah satu upaya membentuk jaringan antar universitas di Indonesia. Sehingga universitas-universitas yang ada di Indonesia akan bisa saling terhubung satu sama lain dan bertukar informasi serta pegetahuan. Untuk wilayah Bandung sendiri, Universitas Parahyangan (Unpar), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Islam bandung (Unisba), Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP; sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia / UPI), terhubung dengan ITB. Dari luar daerah, diantaranya Universitas Syiah Kuala Aceh, Universitas Lampung, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Muhammadyah Malang (UMM) dan sejumlah universitas lainnya. Sambungan dilakukan dengan menggunakan satelit, dengan bandwidth yang disewa dari Elektrindo.

http://martabahrull.wordpress.com/2008/01/04/sejarah-internet-indonesia/

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +2 (from 2 votes)
Sejarah Internet Indonesia, 10.0 out of 10 based on 1 rating
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image