“MANAJEMEN MUTU”

TUGAS PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI

“MANAJEMEN MUTU”

Disusun Oleh :

Anggit Setiyadi

DOSEN: RATIH WULANDARI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

UNIVERSITAS GUNADARMA

BEKASI

2009

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan

Perkembangan teknologi yang semakin pesat membawa kemajuan dalam segala aspek, terutama perkembangan dalam dunia industri. Industri semakin mampu menghasilkan berbagai macam produk kebutuhan manusia, akan terus ada pengembangan produk baru, perubahan permintaan konsumen, serta persaingan antar industri, sehingga target mutu seharusnya selalu meningkat dan tidak statis. Adanya variasi produk dengan fungsi yang sama membuat konsumen semakin selektif dalam memilih produk yang akan dikonsumsinya. Konsumen selalu menuntut dan mengharapkan produk yang dibelinya dalam keadaan baik. Bila suatu produk dirasakan oleh konsumen kurang baik, konsumen akan berpindah ke produk sejenis yang lain. Dan hal ini akan menyebabkan penurunan laba atau kerugian bagi perusahan, bahkan bila berlanjut terus dapat menyebabkan penghentian produksi karena konsumen tidak menginginkan produk itu lagi.

Dari uraian diatas sangat jelas bahwa pengendalian kualitas memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan suatu perusahan. Untuk dapat memhami pengendalian kualitas, perlu dipahami terlebih dahulu pengertian proses produksi dan pengertian pengendalian kualitas.

1.2 Identifikasi masalah

Permasalahan yang ingin dibahas dalam tulisan ini adalah:

  • Apa pengertian manajemen mutu?
  • Apa yang dimaksud definisi,  tujuan pengendalian,  dan faktor-faktor yang menentukan kualitas?
  • Apa yang dimaksud dengan biaya kualitas?
  • Bagaimanakah manajemen mutu itu menurut ISO 9000:2000?
  • Mengapa Total Quality Management (TQM) diperlukan dalam perusahaan?
  • Apa yang dimaksud 14 Poin Deming dan 6 konsep program TQM?
  • Apa saja yang termasuk dalam alat-alat TQM?

1.3 Ruang lingkup

Tulisan ini mencakup pembahasan teori manajemen mutu, kualitas ,  manajemen mutu menurut ISO, serta hal-hal yang terkait dengan Total Quality Management (TQM).

1.4 Tujuan penulisan

  • Menjelaskan pengertian manajemen mutu.
  • Menjelaskan apa yang dimaksud definisi,  tujuan pengendalian,  dan faktor-faktor yang menentukan kualitas.
  • Mengidentifikasikan biaya kualitas.
  • Mengetahui manajemen mutu smenurut ISO 9000:2000.
  • Mengetahui mengapa Total Quality Management (TQM) diperlukan dalam perusahaan.
  • Menjelaskan 14 Poin Deming dan 6 konsep program TQM.
  • Menjelaskan alat-alat TQM.

BAB 2

Manajemen Mutu

2.1 Manajemen Mutu

Manajemen mutu merupakan sebuah filsafat dan budaya organisasi yang menekankan kepada upaya menciptakan mutu yang konstan melalui setiap aspek dalam kegiatan organisasi. Manajemen mutu membutuhkan pemahaman mengenai sifat mutu dan sifat sistem mutu serta komitmen manajemen untuk bekerja dalm berbagai cara. Manajemen mutu sangat memerlukan figure pemimpin yang mampu memotivasi agar seluruh anggota dalam organisai dapat memberikan konstribusi semaksimal mungkin kepada organisasi. Hal tersebut dapat dibangkitkan melalui pemahaman dan penjiwaan secara sadar bahwa mutu suatu produk atau jasa tidak hanya menjadi tanggung jawab pimpinan, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh anggota dalam organisasi.

2.2     Kualitas

2.2.1  Pengertian Kualitas

Persepsi salah tentang MUTU

  • Bermutu adalah standar tinggi yang sulit dicapai
  • Mutu hanya dapat dilihat dari hasil kerja
  • Mutu hanya menjadi tanggungjawab bagian tertentu
  • Mutu terbatas pada produk barang atau produk fisik
  • Bermutu berarti “mahal”

Sebenarnya ada beberapa definisi yang berhubungan dengan kualitas, tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa kualitas atau mutu adalah karakteristik dari suatu produk atau jasa yang ditentukan oleh pemakai atau customer dan diperoleh melalui pengukuran proses serta melalui perbaikan yang berkelanjutan (Continuous Improvement).

Beberapa definisi tentang kualitas antara lain:

• Deming (1986) menyatakan: The difficulty in defining quality is to translate future needs of the user into measurable characteristics, so that a product can be designed and turned out to give satisfaction at a price that will user pay.

Kesulitan dalam pendefinisian kualitas adalah mentranslate atau mengubah kebutuhan yang akan datang dari user atau pengguna kedalam suatu karakteristik yang dapat diperlakukan , supaya sebuah produk dapat didisain dan diubah untuk memberikan kepuasan dengan harga yang akan dibayar oleh user atau pemakai.

• Crosby (1979) menyatakan: Quality is conformance to requirements or specification.

Kualitas adalah kesesuaian dari permintaan atau spesifikasi.

• Juran (1974) menyatakan: Quality is fitness for use.

Kualitas adalah kelayakan atau kecocokan penggunaan.

• Hence menyatakan: The quality of a product or service is the fitness of that product or service for meeting its intended used as required by the customer.

Kualitas dari suatu produk atau jasa adalah kelayakan atau kecocokan dari produk arau jasa tersebut untuk memenuhi kegunaannya sehingga sesuai dengan yang diinginkan oleh customer.

2.2.2 Tujuan Pengendalian Kualitas

Pengendalian kualitas merupakan alat bagi manajemen untuk memperbaiki kualitas produk bila diperlakukan mempertahankan kualitas yang sudah tinggi dan mengurangi jumlah produk yang rusak. Segala sesuatu yang berhubungan dengan proses produksi telah direncanakan dengan rapi dan dilaksanakan dengan baik, tetapi kemungkinan hasil produksi tidak sesuai dengan standart dapat saja terjadi. Sehingga pengendalian kualitas dimaksudkan untuk :

a.   pengendalian    kualitas    terhadap    suatu    bahan / produk    sehingga  bahan / produk  yang tersedia memenuhi spesifikasi.

b.   agar dapat memberikan kepuasan kepada konsumen.

c.   mengetahui  apakah  segala  sesuatu  berjalan  sesuai  dengan  rencana  melalui   instruksi-instruksi serta prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.

d.   mengetahui  apakah  kelemahan  dan  kesulitan  serta  menjaga  jangan sampai    terjadi kesalahan lagi.

e.   mengetahui  apakah  segala  sesuatunya  berjalan  dengan  efisien  dan  apakah  mungkin dapat diadakan perbaikkan.

2.2.3 Faktor-faktor Yang Menentukan Kualitas
Faktor-faktor Yang Menentukan Kualitas

Menurut Feigenbaum, ada 9 faktor yang menentukan kualitas yang dikenal dengan 9 M, yaitu :

1. Market (pasar)

2. Money (uang)

3. Management (manajemen)

4. Man (manusia)

5. Motivation (motivasi)

6. Materials (bahan)

7. Machines and mechanization (mesin dan mekanisme)

8. Modern Information Method (metode informasi modern)

9. Mounting Product Requirements (persyaratan proses produksi)

Kualitas baik produk maupun jasa secara langsung dipengaruhi sembilan bidang dasar (9 M) yang dalam setiap bidangnya industri sekarang ini bergantung pada sejumlah besar kondisi yang membebani produksi melalui suatu cara yang tidak pernah dialami dalam periode sebelumnya. Bila dikaji lebih dalam lagi keseluruhan faktor diatas bisa dibagi kedalam 2 faktor besar, yaitu :

a. Faktor Utama

1. Bahan baku

2. Peralatan dan Teknologi

3. Sarana Fisik

4. Manusia Yang Mengerjakannya

b. Faktor pendukung

1. Persaingan Pasar

2. Tujuan Organisasi

3. Pengujian Produk dan Desain Produk

4. Proses Produksi

5. Kualitas Input

6. Perawatan Peralatan

2.3 Biaya Kualitas

Adalah biaya yang dikaitkan dengan kualitas, yaitu:

  1. Biaya pencegahan – biaya yang terkait dengan pengurangan komponen atau jasa yang rusak contoh: pelatihan program, training, system kualitas, perencanaan kualitas).
  2. biaya kegagalan internal: akibat barang rusak ke pelanggan. Contoh: scrat rework, downtime, pemborosan proses, inspeksi ulang.
  3. biaya kegagalan external: akibat barang rusak setelah pengiriman. Contoh: repair dan service, pengembalian produk, claim, kehilangangood will.
  4. biaya penilaian: biaya yang dikaitkan dengan proses evaluasi produk, poroses komponen dan jasa. Contoh: biaya percobaan, lab dan penguji.

biaya yang pertama diatas dapat diperkirakan akan tetapi biaya eksternal sangat sulit dihitung.Disaat GE harus menarik mesin pencuci piringnya sejumlah 3,1 juta ditahun 1999 (karena ada saklar cacat yang didakwa telah menimbulkan tujuh kali kebakaran ) biaya perbaikan melebihi nilai mesin keseluruhan. Hal ini mendorong keyakinan banyak pakar, bahwa biaya karena kualitas yang rendah tidak dapat dipandang remeh.

Pengamat manajemen kualitas, termasuk Philip Crosby dan genichi taguchi percaya bahwa secara seimbang, biaya produk berkualitas hanyalah sebagian dari keuntungan. Mereka berpendapat bahwa yang kalah adalah organisasi yang gagal dalam bekerja secara agresif dibidang kualitas. Apa yang dibebani dengan biaya adalah barang2 yang tidak berkualitas semua tindakan yang tidak dikerjakan secara benar dari awal.

2.4 ISO 9000:2000

2.4.1 Pengertian MUTU (ISO 9000:2000)

“Derajat yang dicapai oleh karakteristik yang inheren dalam memenuhi persyaratan”*

v  Derajat : Kategori / peringkat yang diberikan pada persyaratan mutu, yang dapat berbeda pada suatu produk / proses / sistem yang memiliki kegunaan fungsional yang sama.

v  Karakteristik : bisa diberikan pada produk/ proses / sistem dalam wujud kualitatif atau kuantitatif.

v  Inheren : sesuatu yang diberikan atau ditambahkan sesuai persyaratan.

v  Persyaratan : kebutuhan atau harapan yang dinyatakan.

2.4.2  Manajemen Mutu

Pengertian Manajemen Mutu menurut konsep ISO 9001:2000 adalah “sistem manajemen untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi dalam hal mutu”.

Sistem Manajemen Mutu juga berarti:

v  Suatu tatanan yang menjamin tercapainya tujuan dan sasaran-sasaran mutu yang direncanakan.

v  Sistem manajemen mutu, tatanan yang menjamin kualitas output dan proses pelayanan/produksi.

2.4.3  Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000

“Persyaratan standar yang digunakan untuk mengakses kemampuan organisasi dalam memenuhi persyaratan pelanggan dan peraturan yang sesuai”

Fokus ada pada proses, bukan produk

Berdasar pola Plan-Do-Check-Action (PDCA)

v  Pendekatan PROSES

v  Fokus pada PELANGGAN

v  Peningkatan BERKESINAMBUNGAN

Gambar 1 upaya manajemen untuk

mencapai mutu dengan pola PDCA

Gambar 2 pola

sistem manajemen

mutu

2.4.4 Apa itu “ISO 9000”?

ISO 9000 adalah suatu standar sistem manajemen mutu yang dikeluarkan oleh organisasi internasional THE INTERNATIONAL ORGANSIZATION FOR STANDARDIZATION. ISO diambil dari kata “isos” (bhs Yunani) yang artinya sama atau sepadan. Oleh karena itu disebut juga standar.

2.4.5 Apa itu “ISO 9001”?

ISO yang mempersyaratkan instansi yang memiliki sistem manajemen yang terdokumentasi.  Terdokumentasi maksudnya tertulis dalam media kertas atau komputer yang memenuhi persyaratan ISO 9001.

Dokumen Mutu:

v  Kebijakan Mutu & Sasaran Mutu

v  Pedoman Mutu

v  Prosedur Mutu

v  Petunjuk Kerja

v  Dokumen Pendukung

v  Rencana Mutu

2.4.6 Persyaratan SMM (Standar Manajemen Mutu)

Sistem Manajemen Mutu:

v  Tanggungjawab Manajemen

v  Manajemen Sumber Daya

v  Realisasi Produk

v  Pengukuran, Analisis, Perbaikan

2.4.7  8 Prinsip Manajemen Mutu

Gambar 3 delapan prinsip manajemen mutu

2.5 Total Quality Management (TQM)

Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan kualitas, maka banyak perusahaan menerapkan konsep yang dikenal dengan TQM (Total Quality Management) yaitu strategi manajemen yang ditujukan untuk menanamkan kesadaran kualitas pada semua proses dalam organisasi. Sesuai dengan definisi dari ISO, TQM adalah “suatu pendekatan manajemen untuk suatu organisasi yang terpusat pada kualitas, berdasarkan partisipasi semua anggotanya dan bertujuan untuk kesuksesan jangka panjang melalui kepuasan pelanggan serta memberi keuntungan untuk semua anggota dalam organisasi TQM penting karena keputusan kualitas mempengaruhi setiap keputusan utama dalam manajemen operasional yang dibuat. Adapun konsep ini sebetulnya mengacu pada 14 prinsip dari W. Edwards Deming yang kemudian dikembangkan menjadi enam konsep program TQM yang efektif

2.5.1 14 Poin Deming

1. Membuat tujuan yang konsisten

2. Memimpin dalam mempromosikan prubhan.

3. Membangun kualitas pda produk, menghentikan ketergantungan pada inspeksi untuk menangkap permasalahan.

4. Membangun hubungan jangka panjangberdasarkan kinerja bukan pada harga.

5. Meningkatkan produk, kualitas, dan jasa secara terus menerus.

6. Memulai pelatihan.

7. Menekankan kepemimpinan.

8. Membuang rasa takut.

9. Mendobrak batasan antar departemen.

10. Menghentikan pidato panjang lebar pada pekerja.

11. Mendukung, membantu, memperbaiki.

12. Mendobrak penghalang untuk bangga atar kinerja masing-masing.

13. Mendidikan program pendidikan yang kuat dan perbaikan mandiri.

14. Menempatkan orang di perusahaan untuk bekerja pada suatu transformasi.

2.5.2 Enam konsep program TQM yang efektif

1. Perbaikan terus menerus, menggunakan model diantaranya:
a. PDCA (Plan Do Check Act)

PDCA, singkatan bahasa Inggris dari “Plan, Do, Check, Act” (“Rencanakan, Kerjakan, Cek, Tindak lanjuti”), adalah suatu proses pemecahan masalah empat langkah iteratif yang umum digunakan dalam pengendalian kualitas. Metode ini dipopulerkan oleh W. Edwards Deming, yang sering dianggap sebagai bapak pengendalian kualitas modern sehingga sering juga disebut dengan siklus Deming. Deming sendiri selalu merujuk metode ini sebagai siklus Shewhart, dari nama Walter A. Shewhart, yang sering dianggap sebagai bapak pengendalian kualitas statistis. Belakangan, Deming memodifikasi PDCA menjadi PDSA (“Plan, Do, Study, Act“) untuk lebih menggambarkan rekomendasinya.

b. Six Sigma

Six Sigma adalah usaha yang terus menerus untuk mengurangi pemborosan, menurunkan variansi dan mencegah cacat. Six sigma merupakan sebuah konsep bisnis yang berusaha untuk menjawab permintaan pelanggan terhadap kualitas yang terbaik dan proses bisnis yang tanpa cacat. Kepuasan pelanggan dan peningkatannya menjadi prioritas tertinggi, dan Six sigma berusaha menghilangkan ketidakpastian pencapaian tujuan bisnis.

Untuk lebih mudahnya, Six sigma dapat dijelaskan dalam dua perspektif, yaitu perspektif statistik dan perspektif metodologi.

v  Perspektif Statistik

sigma dalam statistik dikenal sebagai standar deviasi yang menyatakan nilai simpangan terhadap nilai tengah. Suatu proses dikatakan baik apabila berjalan pada suatu rentang yang disepakati. rentang tersebut memiliki batas, batas atas atau USL (Upper Specification Limit) dan batas bawah atau LSL (Lower Specification Limit) proses yang terjadi diluar rentang disebut cacat (defect). Proses Six Sigma adalah proses yang hanya menghasilkan 3.4 DPMO (defect permillion opportunity).

Yield
(probabilitas tanpa cacat)

DPMO
(defect permillion opportunity)

Sigma

30.9 %

690.000

1

69.2 %

308.000

2

93.3 %

66.800

3

99.4 %

6.210

4

99.98 %

320

5

99.9997

3.4

6

v  Perspektif Metodologi

Six Sigma merupakan pendekatan menyeluruh untuk menyelesaikan masalah dan peningkatan proses melalui fase DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). DMAIC merupakan jantung analisis six sigma yang menjamin voice of costumer berjalan dalam keseluruhan proses sehingga produk yang dihasilkan memuaskan pelanggan.

  • Define adalah fase menentukan masalah, menetapkan persyaratan-persyaratan pelanggan, mengetahui CTQ (Critical to Quality).
  • Measure adalah fase mengukur tingkat kecacatan pelanggan (Y).
  • Analyze adalah fase menganalisis faktor-faktor penyebab masalah Improve adalah fase meningkatkan proses (X) dan menghilangkan faktor-faktor penyebab cacat.
  • Control adalah fase mengontrol kinerja proses (X) dan menjamin cacat tidak muncul.

c. Zero defect

yaitu proses produk tanpa cacat yang juga digunakan untuk menjelaskan usaha perbaikan yang terus menerus. Konsep ini banyak diterapkan di Amerika Serikat.

Prinsip-prinsip Zero Defects:

1. Kualitas adalah kesesuaian dengan persyaratan

2. pencegahan Cacat adalah lebih baik daripada pemeriksaan mutu dan koreksi

3. Zero Defects adalah standar kualitas

4. Kualitas diukur dalam satuan moneter – Price of Nonconformance (PONC)

2. Pemberdayaan Karyawan
Adalah memperluas pekerjaan karyawan sehingga tanggung jawab dan kewenangan tambahan dipindahkan sedapat mungkin pada tingkat terendah dalam organisasi.
Teknik yang digunakan termasuk:
a. membangun jaringan komunikasi yang melibatkan karyawan.
b. Membentuk penyelia yang terbuka dan mendukung.
c. Memindahkan tanggung jawab dari manajer dan staf pada karyawan di bagian operasi.
d. Membangun organisasi yang memiliki moral yang tinggi.
e. Menciptakan struktur organisasi formal sebagai tim dan lingkaran kualitas.

3. Benchmarking
adalah proses membandingkan kinerja proses bisnis dan metrik termasuk biaya, siklus waktu, produktivitas, atau kualitas yang lain secara luas dianggap sebagai tolok ukur standar industri atau praktik terbaik.

4. Just in Time (JIT)
JIT berkaitan dengan tiga hal yaitu:
a. JIT memangkas biaya kualitas
b. JIT meningkatkan kualitas
c. Kualitas yang lebih baik berarti persediaan yang lebih sedikit, serta system JIT yang lebih baik dan mudah digunakan.

5. Konsep Taguchi
Dalam konsep ini disediakan tiga hal yang bertujuan memperbaikai kualitas produk dan proses yaitu:
a. Ketangguhan kualitas (quality robustness)
b. Fungsi kerugian kualitas (quality loss function-QLF)
c. Kualitas berorientasi target (target oriented quality)

6. Pengetahuan mengenai Alat-alat TQM ,

yang paling umum ada tujuh macam yaitu:
a. Lembar Pengecekan (Check Sheet)

Yang disebut dengan Check Sheet adalah suatu lembar/formulir yang mana item-item yang akan diperiksa telah dicetak dalam formulir tersebut dengan maksud agar data dapat dikumpulkan secara mudah dan ringkas.

Sehingga Check Sheet adalah suatu tool yang paling mudah untuk menghitung seberapa sering sesuatu terjadi atau Check Sheet adalah tool yang sederhana tetapi teratur untuk pengumpulan dan pencatatan data.

Dalam penyusunan Check Sheet perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:

• Bentuk lajur-lajur untuk mencatat data harus jelas.

• Data yang hendak dikumpulkan dan dicatat harus jelas tujuannya.

• Kapan data dikumpulkan harus dicantumkan.

• Data harus dikumpulkan secara jujur.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pemakaian Check Sheet adalah (Vincent Gaspersz, 2001):

• Memudahkan proses pengumpulan data terutama untuk mengetahui bagaimana sesuatu masalah sering terjadi. Tujuan utama dari penggunaan Check Sheet adalah membantu mentabulasikan banyaknya kejadian dari suatu masalah tertentu dan penyebab tertentu.

• Mengumpulkan data tentang jenis masalah yang sedang terjadi. Dalam kaitan ini, Check Sheet (Lembar Periksa) akan membantu memilah-milah data kedalam kategori yang berbeda seperti penyebab-penyebab, masalah-masalah dan lainnya.

• Menyusun data secara otomatis sehingga data itu dapat dipergunakan dengan mudah.

• Memisahkan antara opini dan fakta. Kita sering berfikir bahwa kita mengetahui suatu masalah atau menganggap suatu penyebab itu merupakan hal yang paling penting. Dalam hal ini Check Sheet akan membuktikan opini kita apakah benar atau tidak.

b. Diagram Sebar (Scatter Diagram)
Scatter Diagram adalah jenis diagram matematika menggunakan koordinat. Data akan ditampilkan sebagai kumpulan titik-titik, masing-masing memiliki nilai satu variabel menentukan posisi pada sumbu horizontal dan nilai dari variabel lain yang menentukan posisi pada sumbu vertikal.

c. Diagram Sebab Akibat (Cause and Effect Diagram) atau diagram ishikawa (diagram tulang ikan)/(Fish Bone Diagram)
Adalah teknik skematis yang digunakan untuk menemukan lokasi yang mungkin pada permasalahan kualitas.

General Format for an Ishikawa Diagram
(Jerry Banks, Principles of Quality Control, 1989)

Cause and Effect Diagram digunakan untuk menganalisis persoalan dan faktor-faktor atau sebab-sebab yang menimbulkan persoalan tersebut. Dengan demikian diagram tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan sebab-sebab suatu persoalan yang ada. Diagram ini ditemukan oleh Dr. Kaoru Ishikawa. Sebab-sebab atau faktor-faktor yang menimbulkan akibat atau effect yang mempengaruhi karakteristik kualitas itu antara lain dapat digolongkan sebagai berikut :

• Manpower (Men)
• Materials
• Methods
• Machines
• Others

Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab dari suatu masalah yang sedang dikaji dapat dikembangkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut (Vincent Gaspersz, 2001):

• Apa penyebab itu ?

• Mengapa kondisi atau penyebab itu terjadi ?

• Bertanya “Mengapa“/ “Why “ beberapa kali (Konsep Five Whys) sampai ditemukan penyebab yang cukup spesifik untuk diambil tindakan peningkatan. Penyebab-penyebab spesifik itu yang dimasukkan atau dicatat kedalam Fishbone Diagram/Diagram Sebab-Akibat.

Pada dasarnya Fishbone Diagram/Diagram Sebab-Akibat berfungsi untuk:

• Membantu mengidentifikasi Akar Penyebab dari suatu masalah.

• Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah.

• Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut.

d. Diagram Pareto (Pareto Chart)
Adalah sebuah cara menggunakan diagram untuk mengidentifikasi masalah yang sedikit tetapi kritis tertentu dibandingkan dengan masalah yang banyak tetapi tidak penting.

Sebuah bagan Pareto, jenis tabel yang berisi garis bar dan grafik. Bar menampilkan nilai-nilai dalam urutan, dan garis grafik menunjukkan total kumulatif dari setiap kategori, kiri ke kanan.

Kiri sumbu vertikal adalah frekuensi kejadian, tapi alternatifnya bisa mewakili biaya atau unit penting lainnya diukur. Sumbu vertikal kanan  adalah persentase kumulatif dari jumlah kejadian, total biaya, atau total dari satuan ukuran tertentu. Tujuan dari bagan Pareto adalah untuk menyoroti yang paling penting di antara yang (biasanya besar) set factor. Dalam pengendalian mutu, sering kali merupakan sumber yang paling umum cacat, tertinggi terjadi jenis cacat, atau alasan yang paling sering untuk keluhan pelanggan, dan sebagainya

Pareto hipotesis menggunakan data yang menunjukkan frekuensi relatif alasan untuk datang terlambat di tempat kerja

e. Diagram Alir (Flow Chart)

Alat atau tool yang sangat berguna untuk memahami suatu Alir Proses adalah Flow Process Chart. Flow Process Chart merupakan gambaran skematik/diagram yang menunjukkan seluruh langkah dalam suatu proses dan menunjukkan bagaimana langkah itu saling mengadakan interaksi satu sama lain. Setiap orang yang bertanggung jawab untuk memperbaiki suatu proses haruslah mengetahui seluruh langkah dalam proses tersebut. Ada beberapa cara untuk menggambarkan Flow Process Chart dengan berbagai simbol yang digunakannya.

Flow Process Chart yang menunjukkan langkah-langkah secara garis besar disebut Macro Flow Process Chart sedangkan yang menunjukkan secara lebih rinci disebut Mini Flow Process Chart dan yang paling rinci disebut Micro Flow Process Chart yang lazim digunakan oleh tingkat pelaksana bawahan.

Simbol-simbol yang digunakan untuk Flow Process chart seperti yang tampak pada gambar dibawah:

Gambar
ASME Flow Process Symbols
(David Straker, A Toolbook for Quality Improvement
and Problem Solving, 1995)

Tujuan dari Flow Process Chart adalah sebagai berikut (David Straker, 1995) dan (William J. Kolarik, 1995):
• Memberikan pengertian tentang jalannya proses..
• Membandingkan proses ideal dengan proses yang sebenarnya terjadi.

• Untuk mengetahui langkah-langkah yang duplikatif dan langkah-langkah yang tidak perlu

• Mengetahui dimana pengukuran dapat dilakukan.

• Menggambarkan sistem total.

f. Histogram
Menunjukkan cakupan nilai sebuah perhitungan dan frekuensi dari setiap nilai yang terjadi.

g.Statistical Process Control (SPC)

Adalah sebuah proses yang digunakan untuk mengawasi standar, membuat pengukuran dan mengambil tindakan perbaikan selagi sebuah produk atau jasa sedang diproduksi.Walter A. Shewhart:

“A phenomenon will be said to be controlled when, through the use of past experience, we can predict, at least within limits, how the phenomenon may be expected to vary in the future. Here it is understood that prediction within limits means that we can state, at least approximately, the probability that the observed phenomenon will fall within the given limits.”

Dari batasan yang dibuat oleh Shewhart ini, tampak bahwa ide menemukan SPC adalah untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dan bisa digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi sehingga tindakan yang dipandang perlu bisa segera dilakukan. Disamping itu bagan SPC tersebut juga memunculkan gambaran mengenai proses yang diluar kendali atau out of control.

BAB 3

STUDI KASUS PADA INDUSTRI BAHAN BAKU MAKANAN

Studi kasus dilaksanakan pada industri bahan baku makanan sebuah perusahaan bahan-bahan makanan dan minuman yang sangat memperhatikan kualitas produknya. Sebagian besar dari bahan dasarnya merupakan produk-produk import. Pihak perusahaan menyadari pentingnya penampilan fisik dan ketahanan produk dalam jangka waktu masa simpan (expiry date) sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam menentukan pilihan. Perusahaan berusaha untuk melakukan peningkatan kualitas dalam hal penampilan fisik dan ketahanan produk melalui penyempurnaan pada formula produk sehingga dihasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Sejauh ini, perusahaan belum pernah melakukan perhitungan detail dari biaya-biaya yang ada, khususnya penerapan biaya kualitas. Perhitungan terhadap biaya kualitas dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengeluaran perusahaan untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik, sehingga perusahaan dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan keuntungan. Keuntungan dapat meningkat tanpa peningkatan sales, tetapi melalui penghematan pada komponen biaya kualitas, khususnya biaya kegagalan internal (Sugiarto, 2003).

Penelitian dilakukan pada produk “A” yang berfungsi sebagai pengembang dan pelembut roti. Berikut ini adalah elemen-elemen biaya kualitas pada industri bahan baku makanan setelah dikelompokkan dengan metode PAF.

Biaya pencegahan terdiri dari biaya perencanaan mutu, biaya pengendalian mutu, dan biaya pemeliharaan peralatan, biaya pelatihan mutu, biaya pengembangan produk, biaya kalibrasi, dan biaya konsultasi. Biaya penilaian terdiri dari biaya pemeriksaan dan pengujian bahan baku yang dibeli, biaya pemeriksaan kualitas pada saat proses produksi, biaya pemeriksaan dan pengujian kualitas produk jadi.

Biaya kegagalan internal terdiri dari: biaya rework dan biaya downgrading.

Selanjutnya, biaya kegagalan eksternal terdiri dari biaya pelanggan. Dari penelitian diketahui bahwa selama satu tahun terakhir tidak ada klaim dari konsumen. Industri bahan baku makanan tersebut memberikan perhatian yang sangat besar pada biaya pencegahan, hal ini dapat dilihat melalui elemen-elemen biaya pencegahan yang lebih beragam. Selain itu dari Tabel 1, Gambar 1, dan Gambar 2 dapat diketahui bahwa persentase biaya pencegahan mendominasi komposisi biaya kualitas mereka hingga 90% dari total biaya kualitas. Internal failure hanya berkisar 8%.

Kondisi 1 adalah keadaan awal penelitian dimana masih ditemukan biaya kegagalan internal sebesar 8% pada produk yang diamati. Pada periode tersebut perusahaan sedang berusaha mengembangkan komposisi dari produk mereka guna mengatasi kecacatan dari produk “A” tersebut. Hal ini dapat diamati melalui total biaya pengembangan produk yang sangat tinggi. Elemen biaya kegagalan internal di perusahaan yang lebih besar berasal dari rework terhadap produk cacat.

Setelah komposisi optimal dari produk “A” dapat dicapai, maka biaya kegagalan internal turun menjadi 0% sedangkan biaya pencegahan naik menjadi 98%. Kondisi akhir ini tidak menyebabkan rata-rata total biaya kualitas perusahaan menjadi naik, tetapi justru kebalikannya terjadi penurunan sebesar 9.66%.

KESIMPULAN

Hasil dari studi kasus di industri bahan baku makanan menunjukkan bahwa elemen biaya kualitas mereka memiliki porsi yang sangat besar untuk biaya pencegahan. Hal ini dikarenakan kegagalan sekecil apapun apabila sampai ke tangan konsumen dapat berdampak fatal, oleh sebab itu akan lebih baik apabila dicegah sejak awal. Kondisi seperti ini mungkin tidak akan ditemukan di industri yang lain karena setiap industry memiliki karakter dan penyebaran biaya kualitas yang berbeda-beda.

Elemen biaya kualitas yang besar tidak selalu harus ditekan atau dihilangkan begitu saja. Perlu dicari penyebab dan hubungan dengan elemen biaya yang lain. Unruk kasus di industri bahan baku makanan biaya pencegahan yang besar dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kegagalan pada produk “A”. Setelah komposisi yang optimal berhasil ditemukan dapat dilihat biaya kegagalan menjadi 0% dan rata-rata total biaya kualitas per bulan justru berkurang sebesar 9.66%. Perusahaan dapat meningkatkan daya saingnya di pasar ketika biaya kualitas produk dapat berkurang.

BAB 4

KESIMPULAN

Inilah persepsi kebanyakan orang, jika ingin memperoleh produk yang berkualitas, bayarlah lebih mahal. Makin mahal suatu produk, makin berkualitas produk tersebut. Padahal manajemen kualitas intinya justru menekan biaya, melalui pengurangan biaya masukan, biaya per unit yang lebih rendah, yang berarti pula meningkatkan laba dan menaikkan kembalian. Pertanyaan menggelitik lain yang dilontarkan adalah beberapa perusahaan yang menerapkan manajemen kualitas, ternyata jeblok dari sisi perolehan laba. Inilah salah satu contoh jika kualitas dipahami secara parsial.

Terdapat sederet alasan yang menyertai mengapa manajemen kualitas harus diterapkan yaitu untuk lebih dapat memenuhi kebutuhan pelanggan, agar menang dalam kompetisi dan survive dalam bisnis, serta dalam rangka memperoleh margin yang lebih tinggi. Manajemen kualitas juga diharapkan agar keseluruhan proses selalu terkendali, menekan cacat produk, dan pengelolaan sumber daya yang lebih baik.

Dalam pendekatan manajemen kualitas terdapat evolusi yang setidaknya melewati empat tahapan. Pertama bertumpu pada pengembangan produktivitas dan penurunan biaya dengan menyodorkan studi gerak waktu dan analisa statistik sederhana. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan kualitas berkesinambungan yang mengandalkan just in time, quality control circle, dan beberapa inisiatif lainnya seperti, IQI, SPC, dan SS yang berfokus kepada efisiensi biaya. Berikutnya adalah Total Quality Management dengan sederet inisiatif seperti TBW, AMP, PDCA, EOS, dan lain-lain. Fokus yang dipilih adalah pengembangan proses dan kesinambungan. Dan terakhir yang banyak dibicarakan adalah Six Sigma dengan inisiatifnya green belt, black belt, master black belt, dan DMA/C. Fokusnya sangat jelas : making money

Terdapat keterkaitan antara kualitas dengan visi, misi, tata nilai, dan kebijakan. Misalnya visi sebuah perusahaan adalah ingin dikenal sebagai world class company yang mempunyai komitmen excellence. Kemudian dijabarkan menjadi misi, misalnya menciptakan dan memberikan nilai tambah yang menguntungkan para stakeholders. Diperlukan pula tata nilai (values) yang mendukung. Katakanlah nilai-nilai itu adalah manusia, etika, kualitas dan integritas. Berikutnya dirumuskan menjadi kebijakan yaitu kebijakan kualitas. Kesemuanya tertuang dalam budaya kualitas.

Tak pelak lagi dalam konteks pembudayaan kualitas terdapat sejumlah keuntungan dari budaya yang kuat yaitu : sebagai energi untuk mencapai kinerja prima, sebagai pemicu motivasi. Juga berfungsi sebagai performance driver, pembentuk kerjasama yang solid, organisasi yang responsif serta fokus.

Dalam manajmen kualitas berlaku pemeo : Anda tidak akan dapat mengelola atau mengembangkannya jika tidak dapat mengukurnya. Konskuensinya dibutuhkan pengukuran terhadap kualitas. Langkah-langkahnya adalah menerjemahkan strategi ke dalam operasi yang nyata, kemudian memantau kemajuan dan kemungkinan timbulnya masalah terhadap implementasi manajemen kualitas. Perlu juga menunjukkan pencapaian yang merepresentasikan value delivery aktivitas bisnis, serta menyiapkan sistem peringatan dini.

Kantor kami menawarkan manajemen kualitas dengan pendekatan yang komprehensif, yang dilandasi perubahan paradigma dalam memandang manajemen kualitas. Paradigma lama berorientasi pada produk dan jasa, menekankan perubahan operasional, cenderung memaki gaya pemadam kebakaran (ada masalah baru bertindak), bersiafat parsial, dan bertumpu kepada kualitas produk dan layanan. Pada paradigma yang baru orientasinya berubah menjadi kepada pelanggan, perubahan-perubahannya dilakukan secra mendalam sampai kepada tingkat perubahan budaya, menekankan pengembangan berkelanjutan, bertumpu kepada sistem, dan berorientasi kepada laba.

Sehingga comprehensive quality management sangat mengandalkan pemahaman terhadap beragam pendekatan manajemen kualitas. Berbekal pemahaman ini setiap pendekatan dimanfaatkan dengan mempertimabngkan strategi korporat. Tujuannya untuk mengembangkan budaya kualitas yang diinginkan serta memberi dampak bagi bisnis dalam rangaka mencapai stakeholders triumph.

Tujuan comprehensive quality management adalah AIM (awareness, initiative, movement for implementation) yang diperoleh dengan mengembangkan budaya kualitas yang kuat, serta benar-benar memberi dampak bisnis yang signifikan dalam rangka mencapai stakeholders triumph.

Pertanyaannya, mengapa harus dilakukan pendekatan komprehensif dalam menerapkan manajemen kualitas ? Karena terdapat kecenderungan terjadinya gambaran yang terfragmentasi, ketiadaan pemahaman yang memadai terhadap masing-masing pendekatan, yang menimbulkan pemanfaatan pendekatan yang tidak tepat, serta diperoleh hasil yang mengecewakan.

Tentu saja dalam penerapannya diperlukan perangkat quality awareness, misalnya 5S, QCC, dan Seri ISO 9000. Dan yang tak ketinggalan adalah Six Sigma yang bertindak sebagai akselelator kinerja yang berfokus pada breakthrough change, yang bertujuan utama making

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)
“MANAJEMEN MUTU”, 9.0 out of 10 based on 1 rating
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image