bisnis dan lingkungannya

Bisnis dan Lingkungannya Bisnis adalah suatu organisasi yang menyediakan barang atau jasa untuk mendapatkan profit.

1. Titik permulaan dalam manajemen yang efektif adalah menentukan tujuan. 2. Lingkungan bisnis dibedakan atas 2, yakni lingkungan internal dan eksternal.

3. Lingkungan internal terdiri atas karya manajemen, pemegang saham, modal dan peralatan fisik, serta informasi.

4. Lingkungan eksternal terdiri dari dua komponen, yakni lingkungan khusus dan umum.

5. Lingkungan khusus, meliputi konsumen, pemasok, pesaing, dan kelompok kepentingan (pressure group).

6. Lingkungan umum, meliputi berbagai faktor, antara lain kondisi ekonomi, politik dan hukum, sosial budaya, demografi, serta teknologi dan kondisi global.

Bisnis dan Sistem Ekonomi Bisnis adalah suatu organisasi yang menyediakan barang atau jasa untuk mendapatkan profit. Di mana yang dimaksud dengan profit adalah perbedaan antara pendapatan suatu bisnis dan beban-bebannya.

Sistem ekonomi adalah sistem suatu negara untuk mengalokasikan sumber dayanya di antara warga negaranya baik individu maupun organisasi. Faktor-faktor produksi adalah sumber daya yang digunakan dalam produksi barang dan jasa, yaitu sumber daya alami, tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan.

Ada 3 jenis sistem ekonomi, yakni planned economy, market economy dan mixed economy.

Ada 4 tingkat kompetisi di dalam ekonomi pasar, yaitu pure competition (kompetisi murni), kompetisi monopolistik, oligopoli, dan monopoli.

Etika Bisnis :

1. Etika adalah kepercayaan tentang apa yang benar dan salah atau baik dan buruk dalam tindakan yang mempengaruhi yang lain.

2. Perilaku etis adalah tingkah laku yang disesuaikan terhadap norma sosial yang diterima secara umum berkenaan dengan tindakan yang berguna dan berbahaya.

3. Ada model 3 langkah sederhana untuk melakukan penilaian etika untuk situasi yang muncul selama aktivitas bisnis, yakni: a. mengumpulkan informasi relevan yang sesungguhnya; b. menganalisis fakta-fakta untuk menetapkan nilai moral yang paling sesuai; c. membuat keputusan etik berdasarkan pada kebenaran atau kesalahan dari kebijakan atau aktivitas yang dimaksudkan.

4. Empat norma etik tersebut adalah kegunaan (utility), hak (rights), keadilan (justice), dan kepedulian (caring).

5. Tanggung jawab sosial perusahaan terhadap stakeholder, yakni meliputi tanggung jawab kepada konsumen, karyawan, investor, pemasok, dan komunitas lokal di mana bisnis berada.

6. Empat area tanggung jawab organisasi, yakni tanggung jawab ke depan terhadap lingkungannya, konsumennya, karyawannya, dan investornya.

7. Empat macam pendekatan tanggung jawab sosial adalah Obstructionist stance, Defensive stance, Accommodative stance, dan Proactive stance .

BENTUK-BENTUK BADAN USAHA, PROSES MANAJEMEN, DAN KEWIRAUSAHAAN

Bentuk Organisasi dan Kerja Sama Bisnis:

1. Bentuk-bentuk badan usaha dapat dibedakan menjadi berikut ini.

a. Perusahaan perseorangan. Perusahaan yang dimiliki satu individu. Akan tetapi, dalam praktiknya badan usaha ini kerap kali merupakan perusahaan keluarga, yaitu perusahaan yang menggunakan seluruh atau sebagian anggota keluarga untuk menjalankannya.

b. Perusahaan Perkongsian. Perusahaan yang merupakan penggabungan dari beberapa orang. Ukurannya kecil dan relatif dapat dijalankan oleh para pemiliknya. Salah satu dorongan penting untuk mengembangkan perkongsian adalah untuk menggabungkan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing pendirinya dan atau untuk melakukan usaha di bidang yang diminati bersama.

c. Perusahaan Perseroan Terbatas. Perusahaan yang digolongkan kepada Perseroan Terbatas adalah suatu unit kegiatan usaha yang didirikan sebagai suatu institusi badan hukum yang pendiriannya dilakukan melalui akte notaris, di mana suatu dokumen dikemukakan yang pada dasarnya mencantumkan tujuan pendirian, saham yang dikeluarkan, dan nama-nama pimpinan yang akan menjalankan usaha. Pemegang saham pada Perseroan Terbatas dianggap sebagai pemilik perusahaan, tetapi tidak ikut campur dalam menjalankan kegiatan usaha. d. Badan Usaha Milik Negara. Beberapa bentuk Badan Usaha Milik Negara, antara lain

(1) Perusahaan Jawatan atau Perjan;

(2) Perusahaan Umum atau Perum; serta

(3) Perusahaan Perseroan Terbatas Milik Negara.

e. Koperasi. Koperasi merupakan badan usaha yang tujuan utamanya bukan sekadar untuk mencari keuntungan, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya.

f. Badan Usaha yang bukan mencari keuntungan (Non Profit Organization/Non Government Organization/Nirlaba). Terdapat juga badan-badan usaha yang tidak bertujuan untuk mencari keuntungan. Umumnya usaha seperti ini bergerak di bidang pendidikan dan rumah sakit. 2. Aspek lain dari organisasi perusahaan sebagai bentuk kerja sama bisnis, antara lain berikut ini.

a. Perusahaan multinasional atau Multi National Corporation (MNC) adalah perusahaan besar yang mengembangkan anak perusahaannya di berbagai negara lain.

b. Joint Venture merupakan dua atau beberapa perusahaan, yang sepakat untuk mendirikan suatu perusahaan baru dengan kepemilikan bersama sebagai perusahaan patungan.

c. Akuisisi/pengambilalihan. Pengambilalihan adalah suatu tindakan perusahaan yang membeli perusahaan lain dengan cara membeli saham perusahaan itu. Dengan memiliki sebagian besar saham dalam perusahaan lain tersebut maka kita dapat menguasai perusahan tersebut.

d. Employee Stock Ownership Plan. Kesepakatan di mana perusaaan menyediakan bagian dari sahamnya untuk didistribusikan kepada karyawannya.

e. Privatisasi merupakan langkah sebaliknya dari nasionalisasi. Di mana pemerintah menjual perusahaan-perusahaan milik negara kepada pihak swasta. Kebalikan dari privatisasi, nasionalisasi, yaitu tindakan pemerintah suatu Negara untuk mengambil alih beberapa perusahaan milik swasta.

f. Investasi Langsung merupakan tindakan membeli atau mendirikan aset yang berwujud (tangible assets) di negara lain.

g. Franchising, yaitu tindakan memberikan hak kepada seseorang atau suatu perusahaan untuk beroperasi dan melakukan kegiatan seperti yang dilakukan oleh perusahaan yang mengeluarkan franchise ini. h. Licensing, yaitu penggunaan suatu brand/merek produk yang telah terkenal dengan cara membeli hak penggunaan merek dari organisasi atau individu yang memilikinya.

Mengelola Bisnis melalui Manajemen yang Efektif:

1. Langkah awal dari suatu proses manajemen adalah penetapan tujuan yang ingin dicapai dan rencana strategis untuk mencapai tujuan tersebut.

2. Penetapan tujuan bisnis dan strategi untuk mencapai tujuan akan sangat menentukan keberhasilan bisnis. Penetapan tujuan bisnis memiliki manfaat utama memberi arah dan pedoman bagi semua karyawan mengenai apa yang harus mereka lakukan. Penentuan tujuan akan membantu perusahaan untuk mengalokasikan sumber daya yang dimiliki, membantu perusahaan untuk menentukan budaya dan etos kerja di perusahaan, dan membantu manajer/ pengelola bisnis untuk memberikan performa yang lebih baik dan mendapatkan penghargaan yang sesuai dengan hasil yang dicapai.

3. Umumnya tujuan dibagi menjadi tujuan jangka panjang, menengah, dan tujuan jangka pendek.

4. Untuk mengatasi ketidakpastian, perusahaan biasanya menggunakan contingency planning dan crisis management.

5. Langkah penyusunan strategi perusahaan meliputi penetapan tujuan stratejik, melakukan analisis terhadap kondisi lingkungan eksternal dan kekuatan internal perusahaan, melakukan analisis terhadap kondisi internal perusahaan, dan memadukan kondisi lingkungan dengan organisasi untuk memperoleh strategi terbaik. Proses memadukan dan mendapatkan strategi ini merupakan langkah terpenting.

6. Proses manajemen meliputi tahapan planning, organizing, directing, dan controlling.

7. Ada tiga level dasar manajer, yaitu top manager, middle manager, serta first line manager.

8. Bidang manajemen yang harus ditangani manajer meliputi antara lain manajer sumber daya manusia, manajer operasi, manajer pemasaran, manajer informasi dan teknologi/IT, manajer keuangan, dan bidang manajemen lain.

Kewirausahaan:

1. Kewirausahaan, yaitu perilaku yang mencakup perilaku berinisiatif (initiative taking), perilaku mengorganisasi dan mereorganisasi mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya atau situasi praktis, serta perilaku menerima risiko atau kegagalan. Istilah tersebut diperkenalkan pertama kali oleh Richard Antillon pada tahun 1755. Istilah ini semakin populer setelah digunakan oleh pakar ekonomi J.B. Say untuk menggambarkan para pengusaha yang mampu memindahkan sumber-sumber daya ekonomis dari tingkat produktivitas rendah ke tingkat produktivitas yang lebih tinggi dan menghasilkan lebih banyak lagi.

2. Joseph C. Shumpeter mengatakan bahwa wirausaha adalah pelaku utama dalam pembangunan ekonomi dan fungsinya adalah untuk melakukan inovasi atau menciptakan kombinasi-kombinasi baru. Wirausaha melakukan suatu proses yang disebut dengan creative destruction terhadap keseimbangan pasar. Inovasi yang diciptakan oleh wirausaha akan menghancurkan keseimbangan yang terdapat pada pasar untuk kemudian mencapai keseimbangan baru dengan keuntungan-keuntungan atas inovasi tersebut.

3. Seorang wirausaha adalah orang yang kreatif dan inovatif serta mampu mewujudkannya untuk peningkatan kesejahteraan diri, masyarakat, dan lingkungannya.

4. Terdapat tiga aspek dasar yang ditekankan ketika Anda ingin menjadi seorang entrepreneur: melibatkan proses kreasi, pengorbanan waktu dan usaha, serta reward (hasil).

5. Terdapat sembilan karakteristik tingkah laku seorang wirausaha, antara lain sifat instrumental, prestatif, keluwesan bergaul, kerja keras, keyakinan diri, pengambilan risiko, swakendali, inovatif, serta kemandirian.

6. McClelland mengatakan bahwa wirausaha adalah orang-orang yang memiliki dorongan berprestasi yang kuat. Hal ini terlihat dari tingkah laku wirausaha, di antaranya kebutuhan berprestasi, rasa tanggung jawab yang tinggi, pemilihan risiko yang moderat, adanya persepsi terhadap keyakinan sukses, menghadapkan umpan balik sebagai dorongan, energik, berorientasi masa depan, memiliki keahlian organisasi, serta orientasi uang sebagai simbol keberhasilan.

7. Steade, et.al. mengatakan bahwa terdapat 5 tingkah laku berkualitas dari wirausaha, purposeful, persuasive, persisten, persumptuous, dan perceptive.

8. Terdapat faktor-faktor khusus dalam pembentukan sifat seorang wirausaha. Faktor tersebut adalah nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga kepada seorang anak.

9. Intrepreneur merupakan wirausaha yang ada di dalam lingkungan perusahaan.

10. Integritas merupakan persoalan krusial bagi keberhasilan pribadi dan bisnis. Banyak orang cenderung melihat faktor-faktor di luar diri mereka sebagai penyebab penyimpangan karakter. Padahal pengembangan integritas sebenarnya menjadi tugas dalam diri setiap orang.

11. Tiga hal penting mengenai integritas yang berbeda dari pandangan umum, antara lain integritas tidak ditentukan oleh lingkungan, tidak berdasarkan kedudukan, dan tidak disamakan dengan reputasi.

12. Pada umumnya wirausaha memiliki lima karakteristik, yaitu mereka sangat bersemangat dalam melihat atau mencari peluang-peluang baru dengan tetap selalu waspada, mengejar peluang dengan disiplin yang ketat, hanya mengejar peluang yang sangat baik dan menghindari mengejar peluang lain yang melelahkan diri dan organisasi mereka, fokus pada pelaksanaan khususnya yang bersifat adaptif, serta mengikutsertakan energi setiap orang yang berada dalam jangkauan mereka.

13. Terdapat beberapa faktor yang memotivasi seseorang menjadi wirausaha, antara lain foreign refugee, corporate refugee, paternal refugee, feminist refugee, housewife refugee, society refugee, serta educational refugee.

14. Usaha kecil adalah suatu bentuk usaha yang tidak bergantung pada pemilik dan manajemennya, serta tidak mendominasi pasar di mana ia berada (Lupiyoadi, 2004).

15. Tiga aspek yang penting dalam menjelaskan kontribusi bisnis skala kecil ini bagi suatu negara, antara lain penciptaan lapangan kerja, inovasi, serta pengaruh bagi bisnis besar. 16. Bentuk-bentuk usaha kecil yang populer, antara lain jasa, retailing, grosir/distribusi, agribisnis, serta produksi atau manufaktur.

17. Beberapa alasan keberhasilan seorang wirausaha, antara lain kerja keras, kekuatan tekad, dedikasi, berhasil memenuhi permintaan pasar, juga mempunyai kemampuan manajemen.

18. Beberapa alasan gagalnya usaha kecil, antara lain kurangnya pengalaman dan kemampuan dalam mengelola bisnis, lemahnya sistem kontrol, serta kurang modal.

19. Usaha yang sedang berkembang pesat dengan pertumbuhan jumlah personel dan operasi pasarnya, perlu memformalkan perencanaannya karena beberapa hal, antara lain derajat ketidakpastian, tingkat persaingan, serta jumlah dan jenis pengalaman wirausaha (kurangnya pengalaman baik dalam teknologi maupun bisnis).

20. Terdapat 5 langkah yang harus diikuti dalam perencanaan strategis, antara lain menguji/menganalisis lingkungan internal perusahaan dan lingkungan eksternal (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman), memformulasikan strategi perusahaan jangka panjang dan pendek (misi, tujuan, strategi, dan kebijakan), menerapkan rencana strategi (program, anggaran, prosedur), mengevaluasi kinerja strategi, melakukan follow up (menindaklanjuti) umpan balik atau feedback yang berkesinambungan.

21. Terdapat 5 faktor pendorong kegiatan manajemen strategis suatu perusahaan yang sedang berkembang, antara lain permintaan akan waktu manajemen strategis, kecepatan pengambilan keputusan, problem politis internal, ketidakpastian lingkungan, serta visi wirausaha.

22. Terdapat beberapa alasan yang menjadi penyebab perencanaan kurang baik, antara lain keterbatasan waktu, kurangnya pengetahuan, kurangnya keahlian atau keterampilan, kurangnya kepercayaan dan keterbukaan, adanya persepsi bahwa perencanaan itu berbiaya tinggi sehingga cenderung menghindari perencanaan.

23. Michael E. Porter telah mencatat lima kesalahan fatal para wirausaha pada tahap pengimplementasiannya, antara lain salah memahami daya tarik suatu industri, tidak ada keunggulan kompetitif yang nyata, mengejar posisi kompetitif yang tidak terjangkau, mengompromikan strategi pertumbuhan, kegagalan dalam mengkomunikasikan strategi perusahaan secara terbuka kepada karyawannya.

PENGELOLAAN ORGANISASI DAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM BISNIS

Organisasi Bisnis

1. Organisasi merupakan sebuah entitas sosial; entitas sosial yang diarahkan oleh tujuan; entitas sosial yang dirancang (secara sengaja) untuk memiliki struktur dan sistem aktivitas yang terkoordinasi; serta entitas sosial yang terhubung dengan lingkungan eksternal atau lingkungan luar.

2. Terdapat berbagai jenis organisasi tergantung hal mendasar yang dijadikan sebagai patokan jenis-jenis organisasi tersebut, antara lain berdasarkan ukuran jumlah pegawai, berdasarkan tujuan organisasi (profit atau nirlaba), serta produk yang dihasilkan (barang dan jasa).

3. Keberadaan organisasi menjadi penting karena beberapa alasan, antara lain untuk menyatukan sumber daya demi mencapai tujuan dan memberikan hasil, memproduksi barang dan jasa secara efisien, memfasilitasi inovasi, menggunakan teknologi manufaktur dan informasi modern, beradaptasi terhadap dan mempengaruhi perubahan lingkungan, menciptakan nilai bagi pemilik, pelanggan, dan pegawai, mengakomodasi tantangan, meliputi keberagaman, etika, serta motivasi, dan koordinasi pegawai.

4. Terdapat dua jenis perspektif terhadap organisasi, yaitu sebagai sistem terbuka (open system) yang tergantung pada lingkungan, serta kerangka konfigurasi organisasi yang menjelaskan 5 bentuk dasar organisasi (manajemen puncak, manajemen menengah, pegawai pendukung teknis, pegawai pendukung administratif, serta technical core).

5. Pada dasarnya terdapat 2 dimensi yang harus diperhatikan dalam memahami organisasi dan ingin merancang struktur organisasi, yaitu dimensi struktural (formalization, work specialization, Hierarchy of Authority termasuk span of control/rentang kendali, sentralisasi dan desentralisasi, profesionalisme, serta rasio personel juga departmentalization/departementalisasi dan chain of command/ rantai komando) dan dimensi kontekstual yang menunjukkan karakteristik organisasi secara keseluruhan (goal dan strategi perusahaan, lingkungan, ukuran, teknologi, dan budaya organisasi). Bagan khusus dari hubungan antara kegiatan usaha dan sumber daya yang ada di dalam organisasi-disertai tugas-tugas yang mereka jalankan, dinamakan struktur organisasi. Dalam menentukan struktur organisasi, terlebih dahulu kita harus menentukan sifat organisasi itu sendiri, antara lain dari sisi formalitasnya, yaitu formal ataukah informal. Pada dasarnya, terdapat 3 komponen inti dalam suatu struktur organisasi, yaitu

(1) Formal reporting relationship,

(2) Grouping together task,

dan (3) Design of system. Komponen 1 dan 2 lebih menekankan pada pembahasan mengenai organisasi vertikal, sedangkan komponen yang ketiga lebih menekankan pada organisasi horizontal.

6. Pada umumnya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu struktur umum yang terdiri dari struktur organisasi sederhana (simple structure, misalnya fungsional), birokratis (atau vertical, misalnya divisional), serta matriks. Jenis struktur kontemporer, antara lain struktur tim (team structure atau dikenal pula sebagai horizontal structure), virtual organization (modular/network), sampai hybrid (gabungan vertical dan horizontal, disebut juga boundaryless organization). Perubahan-perubahan struktur organisasi dapat berimplikasi pada semangat kerja karyawan, dapat berarti positif ataupun negatif. Hasil dari perubahan dapat membuat para pekerja kehilangan jabatan, menghilangkan rekan kerja dalam sebuah tim yang solid atau kehilangan pekerjaan. Akan tetapi, perubahan ini mempunyai harapan yang lebih baik pada perkembangan organisasi. Bagaimana manajemen dapat menjembatani persoalan ini sehingga perubahan organisasi dapat diterima semua pihak dan tidak menimbulkan kepanikan merupakan tantangan yang perlu dihadapi setiap perusahaan.

7. Terdapat dua jenis model rancangan organisasi yang saling bertolak belakang, yaitu model mekanistik dan organik. Kedua model tersebut dijadikan dasar untuk menjawab perbedaan yang ada pada setiap struktur organisasi. Beberapa hal yang menjadi determinan perbedaan struktur organisasi antara lain perbedaan strategi (inovasi, minimisasi biaya, dan imitasi), ukuran, teknologi, serta lingkungannya (seperti yang terdapat dalam dimensi kontekstual organisasi). Konsep dan Fungsi Manajemen SDM 1. Sumber daya manusia (SDM) adalah orang-orang yang ada dalam organisasi yang memberikan sumbangan pemikiran dan melakukan berbagai jenis pekerjaan dalam mencapai tujuan organisasi.

2. Manajemen sumber daya manusia dapat didefinisikan sebagai suatu proses serta upaya untuk merekrut, mengembangkan, memotivasi serta mengevaluasi seluruh sumber daya manusia yang diperlukan perusahaan dalam pencapaian tujuannya.

3. Fungsi sumber daya manusia atau bagian SDM adalah mengelola berbagai aspek dari masalah sumber daya manusia dalam perusahaan, seperti merencanakan kegiatan perekrutan dan mengusahakan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang digunakan oleh perusahaan. Bagian SDM ini pun menyusun kebijakan-kebijakan yang menyangkut peraturan tenaga kerja, kualifikasi perekrutan, pengembangan karir dan mulai pengiriman tenaga kerja untuk mengikuti pelatihan-pelatihan hingga melanjutkan studi, program insentif maupun bonus bagi tenaga kerja.

4. Proses manajemen sumber daya manusia adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan upaya yang dilakukan mulai dari perencanaan sumber daya manusia, perekrutan, penandatanganan kontrak kerja, penempatan tenaga kerja hingga pembinaan dan pengembangan tenaga kerja guna menempatkan dan tetap memelihara tenaga kerja pada posisi dan kualifikasi tertentu serta mengusahakan agar mereka bertanggung jawab sesuai dengan persyaratan yang diberikan kepada tenaga kerja tersebut. Proses manajemen SDM melibatkan kegiatan, antara lain perencanaan, perekrutan, seleksi, orientasi, pelatihan dan pengembangan, kompensasi dan insentif, serta evaluasi kinerja tenaga kerja.

5. Saat ini, tugas penting SDM adalah mencari orang yang sesuai untuk digunakan dalam perusahaan serta memberikan ganjaran dan motivasi yang sesuai agar dapat menjalankan tugasnya dengan efektif dan dedikasi yang tinggi. Semua kegiatan manajemen selalu diawali dengan perencanaan, begitu pula dengan kegiatan bagian SDM. Merencanakan perekrutan dan penempatan karyawan yang sesuai merupakan strategi dalam usaha menemukan kebutuhan pekerja dalam jangka pendek dan panjang, pada sebuah organisasi. Untuk memudahkan proses perencanaan, ada beberapa langkah yang diikuti, yaitu perencanaan yang dibuat tetap mengacu pada perencanaan strategis organisasi; menentukan tugas yang akan diemban oleh tenaga kerja melalui Analisis pekerjaan (job analysis), deskripsi pekerja (job description), serta spesifikasi pekerjaan (job specification); menganalisis ketersediaan sumber daya manusia dalam kebutuhan jangka panjang; melakukan tindakan penyesuaian; serta evaluasi dan modifikasi tindakan.

6. Secara ringkas proses mendapatkan SDM sesuai dengan kebutuhan perusahaan harus melalui 3 tahapan, yaitu rekrutmen, pelatihan atau perkuliahan dan penilaian kinerja. Rekrutmen adalah proses menarik orang-orang yang memenuhi persyaratan untuk mengajukan lamaran atas pekerjaan yang belum terisi, terbagi atas rekrutmen internal dan eksternal.

7. Setelah melakukan rekrutmen, perusahaan perlu memberikan pelatihan dan pengembangan agar organisasi dapat berjalan secara efisien dan efektif. Terdapat beberapa teknik pelatihan, antara lain orientasi karyawan baru, program atas dasar pekerjaan (on the job training), program secara perkuliahan (classroom training),video teleconferencing, video interaktif, serta pelatihan berdasarkan kelompok.

8. Penilaian kinerja pegawai dalam menjalankan tugas merupakan evaluasi yang dilakukan secara spesifik dan formal untuk menentukan tingkat keefektifan pelaksanaan pekerjaan seorang karyawan terdapat beberapa metode pengukuran kinerja, antara lain Written Essays, merupakan metode yang paling sederhana dalam mengevaluasi kinerja pegawai. Dibuat dalam bentuk narasi mengenai kekuatan, kelemahan pegawai, kinerja masa lalu, kinerja potensial, serta saran perbaikan bagi pegawai. Metode Pengurutan (Rangking) yang mengurutkan dari atas ke bawah atau yang terbaik ke yang terburuk atas setiap pekerja atau kelompok kerja atau divisi tertentu; Metode Peringkatan, yang terdiri dari pertanyaan atau pertanyaan sederhana mengenai beberapa aspek kinerja pekerjaan seseorang. Metode yang populer adalah skala pemeringkat grafis yang mudah untuk dikembangkan, Critical Incident Method/Metode Kejadian Kritis yang merupakan contoh yang sangat baik atau sangat buruk dalam diri karyawan, dalam hal ini Manajer berusaha menjabarkan apa yang para pekerja tersebut lakukan atau tidak sehingga berakibat pada keberhasilan atau kegagalan. Teknik ini memberikan informasi umpan balik dan menentukan kinerja dengan cara yang cukup adil. 360-Degree Evaluations merupakan pendekatan terbaru yang menyediakan umpan balik dari mereka yang sehari-harinya berhubungan dengan pegawai, baik internal customer, seperti manajemen puncak, manajer, bawahan, rekan kerja atau anggota tim, serta perwakilan departemen lain, serta external customer, seperti supplier dan klien.

9. Kompensasi untuk para pekerja. Upah, gaji dan semua fasilitas lainnya yang merupakan ganjaran atau pembayaran kepada para pekerja untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dikatakan sebagai kompensasi. Pada dasarnya kompensasi terdiri dari 2 jenis, yaitu financial dan nonfinansial. Kompensasi finansial terdiri dari pembayaran langsung atau insentif (bonus, bagi hasil atau pembayaran jasa bagi nonmanajemen) serta pembayaran tak langsung berupa tunjangan tambahan, yang umumnya dibayarkan kepada para pekerja berupa bantuan dana pensiun, asuransi dan liburan. Sementara itu, kompensasi nonfinansial, meliputi situasi kerja di mana para pekerja menemukan kepuasan kerja dan motivasi kerja, terdiri dari beberapa bentuk, antara lain memberikan fasilitas kendaraan dan perumahan, biaya dokter, pemberian pinjaman dengan bunga rendah untuk mencicil rumah/motor/mobil, cuti yang dibayar perusahaan, cuti sakit tanpa dipotong gaji, bebas makan siang di kantor, mengikuti kursus-kursus.

MOTIVASI, KEPEMIMPINAN, DAN HUBUNGAN INDUSTRIAL Motivasi dan Kepemimpinan

1. Motivasi merupakan kekuatan psikologis yang menentukan arah, intensitas atau tingkat usaha dan tingkat ketekunan seorang individu (pegawai) dalam mencapai tujuannya sehingga melahirkan perilaku tertentu.

2. Pada umumnya motivasi dapat dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu motivasi ekstrinsik, seperti motivasi yang datang dari luar diri para pekerja, dapat berupa imbalan ataupun hukuman (reward and punishment), sedangkan motivasi intrinsik, seperti motivasi yang datang dari dalam diri pekerja.

3. Terdapat beberapa teori, antara lain teori motivasi klasik (Frederick Taylor) yang menitikberatkan pada anggapan bahwa hanya uang yang bisa memotivasi karyawan; serta teori perilaku (Hawthorne), yang menyatakan bahwa kecenderungan meningkatnya produktivitas adalah ketika karyawan merasa yakin bahwa mereka akan menerima perhatian khusus dari manajemen (atasan).

4. Teori hierarki kebutuhan (Maslow).

Teori ini menggambarkan adanya 5 tingkatan kebutuhan manusia yang mendorong seseorang untuk bertindak tertentu. Teori ini juga menyatakan bahwa kebutuhan dasar harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang berusaha untuk mencapai kebutuhan pada tingkatan yang lebih tinggi. Adapun jenis-jenis kebutuhan tersebut menurut Maslow terdiri dari physiological needs, safety needs, belongingness needs, esteem needs, serta self actualization needs.

5. Teori X dan Y (Douglas McGregor). McGregor menyatakan bahwa terdapat dua kepercayaan/keyakinan (cara pandang) manajer yang sangat berbeda (bertolak belakang) tentang bagaimana cara menggunakan sumber daya manusia untuk perusahaan. Teori X adalah teori motivasi yang beranggapan bahwa pada dasarnya manusia adalah tidak bertanggung jawab dan tidak dapat bekerja sama, sedangkan Teori Y menyatakan sebaliknya, teori ini menganggap bahwa pada dasarnya manusia bertanggung jawab, berorientasi pada pertumbuhan, dapat memotivasi diri (self-motivated), dan terdorong untuk produktif.

6. Teori Two-Factor (Hezberg). Teori ini mengemukakan bahwa kepuasan kerja tergantung pada 2 faktor, yaitu faktor motivasi (penghargaan kerja) yang bersifat intrinsik dan faktor hygiene (kondisi kerja)yang bersifat ekstrinsik. Dengan memenuhi faktor ekstrinsik maka kondisi dissatisfaction dapat diobati menjadi kondisi no dissatisfaction, tetapi tidak berarti memotivasi karyawan.

7. Clayton Alderfer memodifikasi teori Maslow untuk memudahkan penelitian empiris. Revisi teori hierarki kebutuhan yang dilakukannya disebut sebagai ERG Theory, yang menggambar tiga jenis kebutuhan manusia yang menjadi sumber motivasi, yaitu Existence Needs, Relatedness Needs, serta Growth Needs. Kontras dengan Maslow, Teori ERG menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki lebih dari satu level kebutuhan secara bersamaan dan apabila kebutuhan yang levelnya lebih tinggi sulit dipenuhi, keinginan untuk memenuhi kebutuhan yang levelnya lebih rendah akan meningkat.

8. McClelland’s Achievement Motivation Theory atau teori motivasi prestasi oleh David McClelland, yang menyatakan bahwa karyawan memiliki cadangan energi potensial, bagaimana energi itu dilepaskan dan digunakan tergantung pada kekuatan dorongan motivasi dan situasi dan peluang yang tersedia. Energi ini akan dimanfaatkan oleh karyawan karena didorong oleh (a) kekuatan motif dan kekuatan dasar yang terlibat; (b) harapan keberhasilannya; dan (c) nilai intensif yang melekat pada tujuan.

9. Equity theory, menyatakan bahwa seseorang akan mengevaluasi yang mereka lakukan dan peroleh pada perusahaan tempat bekerja dengan membandingkan perlakuan di tempat lain.

10. Goal setting theory menggunakan pendekatan kognitif yang menyatakan bahwa penetapan goal (tujuan) secara spesifik yang memberikan tantangan dan disertai dengan respons balik terhadap setiap usaha pencapaian tujuan akan lebih memotivasi karyawan dan meningkatkan kinerja.

11. Terdapat beberapa strategi peningkatan kepuasan dan motivasi kerja karyawan, antara lain dengan Teori Penguatan/Modifikasi Perilaku (Reinforcement/Behavior Modification Theory) menyatakan bahwa perilaku dapat dikembangkan atau tidak melalui pemberian imbalan atau penerapan hukuman; manajemen partisipatif dan pemberian wewenang (Empowerment), yaitu karyawan diberi kebebasan bersuara dan mengeluarkan pendapat tentang bagaimana cara mereka melakukan pekerjaan dan bagaimana pengelolaan dari perusahaan. Management by Objective (MBO), yaitu sebuah sistem kolaborasi dalam penetapan tujuan yang mencakup semua bagian organisasi baik dari level atas hingga level bawah, merupakan teknik untuk mengelola proses perencanaan yang berfokus dalam membantu manajer mengimplementasikan dan melaksanakan rencana mereka. Manajemen partisipasif dan pemberian wewenang dapat dicapai melalui

(a) Team Management, yaitu karyawan diberi tanggung jawab dalam mengambil Keputusan pada aktivitas tertentu, seperti kapan waktu istirahat makan siang atau bagaimana cara membagi tugas antar-rekan kerja. Pada level yang lebih tinggi, karyawan juga dikonsultasikan dalam beberapa Keputusan seperti penjadwalan produksi, prosedur dan jadwal kerja, dan pengangkatan karyawan baru;

(b) pengayaan pekerjaan (Job Enrichment atau job redesign) yang dirancang untuk menambah satu atau lebih faktor motivasi terhadap aktivitas kerja atau pendesainan ulang pekerjaan yaitu dengan mengombinasikan tugas, membentuk kelompok kerja, serta membangun hubungan dengan klien; serta memodifikasi jadwal kerja.

12. Kepemimpinan adalah suatu proses memotivasi pihak lain untuk bekerja sesuai tujuan tertentu. Hal ini menyangkut kemampuan dalam mempengaruhi perilaku orang lain untuk bertindak sesuai yang diharapkan.

13. Teori awal tentang kepemimpinan mencoba mengidentifikasi karakter khusus yang dilekatkan pada seorang pemimpin, misalnya penampilan fisik, kecerdasan, dan kemampuan bicara di depan umum.

14. Pendekatan selanjutnya melalui gaya manajerial (managerial style) merupakan pola perilaku yang dilakukan manajer dalam berhubungan dengan bawahan, yang diklasifikasikan menjadi Gaya Otokratis, Demokratis, dan Free-rein.

15. Ada pula pendekatan kontinjensi kepemimpinan (the contigency approach) manajer cenderung meyakini bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan mengikuti cara sebelumnya, artinya penyelesaian masalah dapat diperkirakan penyelesaiannya

16. Perubahan yang terjadi pada abad XXI semakin cepat dan mencakup berbagai aspek dari kehidupan umat manusia. Salah satu aspek yang mengalami perubahan besar adalah pola motivasi kerja dan pola kepemimpinan. Hubungan Industrial

1. Hubungan Industrial atau Ketenagakerjaan mencakup semua aspek hubungan antara pekerja dengan pemberi kerja dalam lingkungan kerja. Fokus dari hubungan industrial adalah untuk menciptakan hubungan efektif antara seorang pekerja dengan pekerja lainnya dan antara kelompok pekerja dengan pengusaha.

2. Secara sederhana Hubungan Industrial dapat diartikan sebagai suatu corak atau sistem pergaulan atau sikap dan perilaku yang terbentuk di antara pelaku proses produksi barang dan jasa, yaitu pekerja, pengusaha, pemerintah, dan masyarakat.

3. Hubungan Industrial di Indonesia tidak terlepas dari praktik hubungan industrial di tingkat internasional. Pada saat itu berkembang dua jenis hubungan industrial, yaitu yang berdasarkan Marxisme dan Komunisme, dengan penekanan pada politik daripada sosial ekonomi karena memiliki visi perjuangan kemerdekaan.

4. Hubungan Industrial setelah kemerdekaan mulai terpolarisasi dengan sistem serikat pekerja yang pluralistis sehingga hubungan industrial baik berdasarkan Marxisme maupun Komunisme berkembang pesat.

5. Pada era Demokrasi Terpimpin partai komunis semakin memegang peranan penting dan Hubungan Industrial berdasarkan Marxisme juga berkembang pesat. Praktik-praktik Hubungan Industrial yang bersifat antagonis dan konfrontatif semakin menonjol.

6. Hubungan Industrial Pancasila adalah Hubungan yang terbentuk antara para pelaku proses produksi barang dan jasa, yaitu Pekerja, Pengusaha dan Pemerintah yang didasarkan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang tumbuh dan berkembang di atas budaya dan kepribadian Indonesia.

7. Trilogi Undang-Undang yang mengatur ketenagakerjaan di Indonesia, yaitu UU No. 21/2000 tentang SP/SB (Serikat Pekerja/Serikat Buruh), UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, serta UU No. 2/2004 tentang PPHI (Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial). Ketiga undang-undang tersebut turut dipengaruhi oleh konvensi internasional antara lain dengan adanya ratifikasi 8 Konvensi dasar International Labour Organisation-Core Convention (ILO) oleh pemerintah Indonesia, terdiri atas 4 kelompok, yaitu Kebebasan Berserikat (KILO 87 dan 98), Diskriminasi (Konvensi ILO atau KILO 100 dan 111), Kerja Paksa (KILO 29 dan 105), serta Perlindungan Pekerja Anak (KILO 138 dan 182).

8. Seiring kemajuan zaman, gejolak hubungan industrial semakin meningkat, antara lain dari segi jumlah pekerja, pendidikan yang semakin baik, demokratisasi, serta reformasi.

9. Globalisasi sendiri memberikan banyak perubahan dalam Hubungan Industrial di dunia termasuk Indonesia, antara lain dengan adanya standar dalam HAM (Hak Asasi Manusia), lingkungan, dan perburuhan (Hak-hak Dasar Pekerja). Globalisasi juga mempengaruhi cara bertindak, antara lain dalam hal mogok atau demonstrasi.

10. Menurut Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 103 (kemudian dijabarkan ke dalam pasal 104 136), terdapat beberapa sarana Hubungan Industrial, yaitu Serikat Pekerja (SP), Organisasi Pengusaha, Lembaga Kerja sama Bipartit, Lembaga Kerja sama Tripartit, Peraturan Perusahaan (PP), Perjanjian Kerja Bersama (PKB), Peraturan Perundang-undangan Ketenagakerjaan, serta Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.

11. Secara umum, terdapat 3 cara di mana serikat pekerja mendapat nilai tambah bagi pegawai: menjaga perdamaian dan membangun hubungan yang baik agar negara tersebut menjadi tempat melakukan bisnis yang baik, meningkatkan keahlian dan produktivitas para pekerja dengan melanjutkan pendidikan, serta membantu perusahaan dalam mempertajam kompetensinya dengan meningkatkan produktivitas dan service quality.

12. Beberapa alasan seorang pekerja bergabung atau membentuk serikat pekerja biasanya untuk memperoleh jaminan kerja (job security), kondisi kerja yang aman dan sehat, jalur (sarana) komunikasi kepada pihak manajemen, serta kompensasi yang adil.

13. Perkembangan serikat pekerja di Indonesia dibagi ke dalam 5 periode, yaitu sebelum kemerdekaan, sesudah kemerdekaan, demokrasi terpimpin, ORBA, serta Era Reformasi.

14. Secara internasional, terdapat 4 faktor pendorong terjadinya perubahan dalam kondisi serikat pekerja di Asia

(a) pergeseran tenaga kerja dari pertanian dan industri (manufacturing) menuju ekonomi berbasis jasa, pengetahuan dan informasi,

(b) meningkatnya persaingan dalam pasar global,

(c) melambatnya atau berkurangnya kebutuhan dari para pekerja yang bukan anggota serikat kerja dalam membentuk perwakilan buruh, serta

(d) meningkatnya jumlah pekerja yang bersatu dalam serikat pekerja dan meningkatnya jumlah pekerja asing (ekspatriat).

15. Adanya perbedaan kepentingan antara pengusaha dan pekerja berpotensi untuk menimbulkan konflik atau perselisihan. Ketika hal tersebut terjadi, biasanya dilakukan pertemuan antara pengusaha dengan wakil organisasi pekerja dinamakan collective bargaining. Faktor yang mempengaruhi Proses Tawar-Menawar terdiri dari faktor ekonomi, tujuan pihak yang berunding, sentimen publik, tema diskusi, peraturan ketenagakerjaan dan kondisi pendahulu.

16. Proses Tawar-Menawar itu sendiri terbagi menjadi 3, antara lain tawar-menawar distributif, integratif, serta konsesi.

17. Beberapa tahapan yang berlangsung dalam tawar-menawar kolektif mencakup (a) pra-negosiasi, (b) memilih negosiator, (c) menetapkan strategi tawar-menawar, (d) menggunakan taktik terbaik, (e) mencapai kesepakatan kontrak formal, serta (f) mengesahkan kontrak.

18. Ketika kesepakatan tidak berhasil dicapai maka terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh kedua belah pihak. Cara (strategi) yang dapat dilakukan serikat pekerja, antara lain mogok, boikot, serta mempublikasikan tuntutan, sedangkan cara (strategi) yang dapat dilakukan manajemen, mencakup lockouts (larangan bekerja), penggantian permanen, serta intervensi pihak ketiga. Adapun intervensi pihak ketiga, terdiri dari mediasi, Fact Finding, serta Arbitrase. Di Indonesia dikenal pula konsoliasi dan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI).

PENGELOLAAN PRODUKSI/OPERASI DALAM BISNIS

Produksi Barang dan Jasa

1. Utilitas merupakan kemampuan suatu produk untuk memuaskan keinginan manusia, terdiri dari 4 jenis, yaitu utilitas waktu, tempat, kepemilikan, dan bentuk.

2. Manajemen operasi adalah sebuah proses sistematis yang mentransformasikan atau mengubah sumber daya input menjadi barang jadi atau jasa. Sumber daya input, terdiri dari material, tenaga kerja, energi, teknologi, mesin dan informasi. Output merupakan produk yang dihasilkan terdiri dari barang atau jasa.

3. Tipe-tipe sistem produksi terdiri 2 jenis, yaitu process focused dan product focused. Untuk produksi barang terbagi menjadi proses analitik dan sintetik, sedangkan untuk produksi/operasi jasa terbagi menjadi low contact process dan high contact process.

4. Perbedaan karakteristik jasa dengan barang, yaitu jasa tidak berwujud, konsumsi jasa tidak dapat dipisahkan dari produksinya, jasa tidak dapat disimpan, jasa bervariasi tidak terstandarisasi.

5. Klasifikasi sistem jasa, yaitu stagnant personal, substitute personal, progressive, dan explosive.

6. Perbedaan operasi dan jasa dengan barang, yakni jasa terfokus pada kinerja, sedangkan barang terfokus pada output, jasa terfokus pada proses, dan barang terfokus pada hasil akhir produk. Perencanaan Operasi: Prediksi Output

1. Tahapan dalam perencanaan manajemen operasi meliputi perencanaan bisnis dan prediksi masa depan, perencanaan operasi jangka panjang, penjadwalan operasi, pengawasan operasi, dan output bagi pelanggan.

2. Dalam melakukan perencanaan produksi, kita perlu melakukan prediksi atas output yang kita hasilkan. Hal ini sangat perlu untuk perencanaan kapasitas, penempatan lokasi pabrik dan penentuan layout mesin, serta memilih metode produksinya. 3. Metode forecasting, yakni analisis time series (runtut waktu), regresi (causal-effect relationship) serta metode kualitatif

4. Tiga time frame dalam forecast, yakni short range, medium range, dan long range.

5. Forecast akan mengikuti pola-pola, seperti tren, siklus, dan pola musiman serta pola random.

6. Macam-macam metode time series, yakni moving average, weighted moving average, simple exponential smoothing, serta adjusted exponential smoothing.

7. Ada berbagai metode untuk mengukur forecast error, yakni Mean Absolute Deviation (MAD), Mean

Absolute Percentage Deviation (MAPD), Cumulative Error (E), serta Average Error atau Bias ( ). Perencanaan Operasi: Kapasitas, Lokasi, Layout, Kualitas, dan Metode

1. Perencanaan operasi jangka panjang meliputi: perencanaan kapasitas, lokasi, layout, kualitas, dan metode

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan perencanaan jangka panjang, yaitu perkiraan permintaan, biaya, perilaku pesaing, strategi bisnis, dan pengaruh internasional. 3. Perencanaan kapasitas (jumlah produk yang dapat diproduksi pada kondisi normal). Pada produksi barang kapasitas melebihi sedikit dari permintaan, sedangkan pada jasa low contact berdasarkan rata-rata permintaan, high contact berdasarkan permintaan puncak. 4. Perencanaan lokasi, untuk produksi barang berdasarkan pertimbangan-pertimbangan: bahan baku, pasar, tenaga kerja, dan biaya transportasi, sedangkan untuk operasi jasa low contact berdasarkan pertimbangan tenaga kerja, pasar atau biaya transportasi, operasi jasa high contact lokasi harus diletakkan dekat dengan pelanggan.

5. Alternatif layout untuk produksi barang adalah process layout, cellular layout, dan product layout. Layout untuk operasi jasa low contact disusun untuk meningkatkan kualitas jasa dan operasi jasa high contact disusun untuk memenuhi keinginan dan harapan pelanggan.

6. Produk yang dihasilkan baik barang maupun jasa harus memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.

7. Operasi barang maupun jasa membutuhkan metode perbaikan yang berkelanjutan, untuk produksi barang menggunakan process flow chart, sedangkan untuk operasi jasa menggunakan service flow chart.

Penjadwalan dan Pengawasan Operasi:

1. Lima faktor penting dalam manajemen material adalah transportasi, gudang, pembelian, pemilihan suplier, dan pengendalian persediaan.

2. Beberapa alat analisis yang digunakan dalam production process control adalah worker training, Just in Time, Material Requirement Planning, dan Quality Control.

3. Pengawasan operasi terdiri dari material management dan production process control.

4. Penjadwalan untuk operasi jasa, meliputi jadwal kerja dan pekerja.

5. Penjadwalan operasi terkait dengan penempatan waktu perolehan dan penggunaan sumber daya input untuk produksi 6. Penjadwalan untuk produksi barang dalam jangka panjang disusun menjadi master production schedule terkait dengan produk apa yang akan diproduksi, kapan produksi akan dilakukan, dan sumber daya apa yang akan digunakan dalam. Manajemen Kualitas dan Produktivitas

1. Produktivitas adalah pengukuran kinerja perekonomian, yaitu dengan membandingkan jumlah yang kita produksi dengan sumber daya yang kita gunakan untuk memproduksinya.

2. Dalam sudut pandang konsumen, kualitas adalah kecukupan produk dalam memenuhi kegunaannya, sedangkan dari sudut pandang perusahaan (sebagai produsen), kualitas adalah menyakinkan produk yang dibuat sesuai dengan desainnya (disebut sebagai quality of conformance).

3. Statistical process control (SPC) merupakan prosedur statistik yang menggunakan control charts dalam pengecekan proses produksi untuk melihat apakah ada bagian di dalamnya yang tidak berfungsi secara benar, yang mana dapat menyebabkan kualitas yang buruk.

4. Control charts dapat digunakan baik untuk atribut maupun variabel, dan dalam masing-masing kategori terdapat beberapa tipe control charts, 4 control charts yang umum digunakan (dua untuk masing-masing kategori), yakni mean ( ) control charts dan range (R) control charts untuk variabel, p-charts control dan c-charts control untuk atribut.

5. Pendekatan manajemen kualitas melalui keseluruhan sistem produksi dan organisasi produksi dikenal dengan istilah Total Quality Management (TQM). TQM menekankan peranan dominasi manajemen puncak untuk mengarahkan usaha-usaha yang berkualitas (total quality effort), yakni semua karyawan pada semua level harus fokus dan bertanggung jawab atasnya, melakukan peningkatan kualitas secara terus-menerus, dan menyakinkan bahwa kualitas adalah poin utama dari semua fungsi organisasi.

sumber :

http://ngoogle.wordpress.com/2009/05/10/pengantar-bisnis/

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image