KOMUNIKASI (Ardhi Pratama Putra;10507023;3PA04)

TUGAS PSIKOLOGI MANAJEMEN

“KOMUNIKASI”

DISUSUN OLEH :

Ardhi Pratama Putra

3 PA 04

10507023

UNIVERSITAS GUNADARMA

2007

LEMBAR PENGESAHAN

PSIKOLOGI MANAJEMEN

“KOMUNIKASI”

NAMA  : Ardhi Pratama Putra

NPM     : 10507023

KELAS : 3 PA 04

Dosen Mata Kuliah

Eko Djuniarto

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan      ………………………….    2

Daftar Isi                        ………………………….    3

Kata Pengantar             …………………………..    4

Komunikasi                    ………………………….    5

Daftar Pustaka              ………………………….    12

KATA PENGANTAR

Segala puji saya  panjatkan ke hadirat ALLAH, Tuhan semesta alam. Hanya karena perkenan-Nyalah saya dapat menyelesaikan penyusunan tugas ini, pembahasan tentang “ KOMUNIKASI”

Sesuai dengan materi yang ada maka saya memilih untuk membahas tentang materi “Komunikasi”. Karena dalam psikologi manajemen terdapat materi tentang komunikasi maka saya membuat pembahasan tentang komunikasi tersebut yang berisikan tentang pengertian dan proses komunikasi.

Pembahasan ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu saya sangat menerima kritik dan saran yang diberikan. Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.Amin.

KOMUNIKASI

Manajemen sering mempunyai masalah tidak efektifnya komunikasi. Padahal komunikasi yang efektif merupakan hal penting bagi para manajer, paling tidak untuk dua alas an. Pertama, komunikasi adalah proses melalui mana fungsi-fungsi manajemen perancanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dapat dicapai. Kedua, komunikasi adalah kegiatan untuk mana para manajer mencurahkan sebagian proporsi waktu mereka.

Proses komunikasi memungkinkan manajer untuk melaksanakan tugas-tugas mereka. Informasi harus dikomunikasikan kepada para manajer agar mereka mempunyai dasar perencanaan, rencana – rencana harus dikomunikasikan kepada pihak lain agar dilaksanakan. Pengorganisasian memerlukan komunikasi dengan bawahan tentang penguasaan jabatan mereka. Pengarahan mengharuskan manajer untuk berkomunikasi dengan bawahannya agar tujuan kelompok dapat dicapai. Komunikasi tertulis dan lisan adalah bagian esensi pengawasan. Jadi, manajer dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajemen mereka hanya melalui interaksi dan komunikasi pihak lain.

PENGERTIAN KOMUNIKASI

Istilah manajemen komunikasi relative baru. Komunikasi itu sendiri bukan merupakan bagian penting dari perbendaraan kata manajemen sampai akhir tahun 1940-an dan permulaan 1950-an. Tapi seiring berjalannya waktu komunikasi dijadikan sebegai peralatan manajemen yang dirancang untuk mencapai tujuan dan tidak dinilai atas dasar hasil akhir dalam komunikasi itu sendiri.

Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan atau informasi dari seseorang ke orang lain. Perpindahan pengertian tersebut melibatkan dari sekedar kata-kata yang digunakan dalam percakapan, tetapi juga ekspresi wajah, intonasi, titik putus vocal dan sebagainya. Dan perpindahan yang efektif memerlukan tidak hanya transmisi data, tetapi bahwa seseorang mengirimkan berita dan menerimanya sangat tergantung pada keterampilan – keterampilan tertentu untuk membuat sukses pertukaran tersebut. Konsep komunikasi : 1) suatu kegiatan untuk membuat seseorang mengerti, 2) suatu sarana pengaliran informasi dan 3) suatu system bagi terjalinnya komunikasi di antara individu-individu. Komunikasi tidak hanya terjadi antara dua individu tetapi juga  mencakup komunikasi dengan kelompok.

PROSES KOMUNIKASI

Model Komunikasi Antar Pribadi

Model proses komunikasi yang paling sederhana adalah sebagai berikut

Pengirim à Berita à Penerima

Model ini menunjukan 3 unsur esensi komunikasi. Bila salah satu unsure hilang, komunikasi tidak dapat berlangsung. Sebagai contoh, seseorang dapat mengirimkan berita, tetapi bila tidak ada yang menerima atau mendengar maka komunikasi tidak terjadi.

Unsur – unsur penting yang ada dalam komunikasi antara para anggota organisasi :

- Sumber ( source )

Sumber atau pengirim berita memainkan langkah pertama dalam proses komunikasi. Sumber mengendalikan macam berita yang dikirim, susuna yang digunakan, dan sering saluran melalui mana berita dikirimkan. Dalam organisasi, sumber merupakan pihak yang mempunyai kebutuhan dan keinginan untuk mengkomunikasikan sesuatu gagasan, pemikiran, informasi, dan sebagainya, kepada pihak lain.

- Pengubahan berita ke dalam sandi/kode ( encoding )

Langkah kedua ini mengubah berita ke dalam berbagai benetuk simbol-simbol verbal dan non verbal yang mampu memindahkan pengertian, seperti kata-kata percakapan atau tulisan, angka, gerakan, ataupun kegiatan.

- Pengiriman berita

Langkah ketiga mencerminkan pilihan komunikator terhadap media atau saluran distribusi.

- Penerimaan berita

Langkah keempat adalah penerimaan berita oleh pihak penerima. Pada dasarnya, orang – orang menerima berita melalui kelima pancaindera mereka. Pengiriman berita belum lengkap bila suatu pihak belum menerima berita. Banyak komunikasi penting gagal karena seseorang tidak pernah menerima berita.

- Pengartian atau penterjemahan kembali berita (decoding)

Langkah kelima proses komunikasi adalah decoding. Hal ini menyangkut pengartian simbol-simbol oleh penerima.

- Umpan balik ( feedback )

Setelah berita diterima dan diterjemahkan, penerima mungkin menyampaikan berita balasan yang dituukan kepada pengirim mula-mula atau orang lain. Jadi komunikasi adalah proses yang berkesinambungan dan tak pernah berakhir. Seseorang berkomunikasi, penerima menanggapinya melalui komunikasi selanjutnya dengan pengirim atau orang lain, dan seterusnya. Tanggapan ini disebut umpan balik.

HAMBATAN-HAMBATAN TERHADAP KOMUNIKASI EFEKTIF

Komunikasi adalah vital, tetapi komunikasi sering tidak efektif dengan adanya kekuatan-kekuatan dari luar yang menghambatnya. Berikut ini akan dibahas hambatan – hambatan terhadap komunikasi yang efektif tersebut, dengan dikelompokan sebagai 1) hambatan-hambatan organisasioanl, dan 2) hambatan-hambatan antar pribadi.

Hambatan-hambatan Organisasional

Ada tiga hambatan organisasional, yaitu 1) tingkatan hirarki, 2) wewenang manjerial, dan 3) spesialisasi

1). Tingkatan Hirarki

Bila suatu organisasi tumbuh, strukturnya berkembang, akan menimbulkan berbagai masalah komunikasi. Karena berita harus melalui tingkatan tambahan, yang memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai tempat tujuan dan cenderung menjadi berkurang ketepatannya. Berita yang mengalir keatas atau kebawah tingkatan-tingkatan organisasi akan melalui beberapa “filter”, dengan persepsi, motif, kebutuhan dan hubungannya sendiri. Setiap tingkatan dalam rantai komunikasi dapat menambah, mengurangi, merubah atau sama sekali berbeda dengan berita aslinya.

2) Wewenang manjerial

Tanpa wewenang untuk membuat keputusan tidak mungkin manajer dapat mencapai tujuan dengan efektif. Tetapi dilain pihak, pada kenyataannya bahwa seseorang yang mengendalikan orang lain juga menimbulkan hambatan-hambatan terhadap komunikasi. Banyak atasan merasa bahwa mereka tidak dapat sepenuhnya menerima berbagai masalah, kondisi, atau hasil yang dapat membuat mereka tampak lemah. Sebaliknya, banyak bawahan menghindari situasi dimana mereka harus mengungkapkan informasi yang dapat membuat mereka dalam kedudukan yang tidak menguntungkan, sebahai hasilnya ada kesenjangan antara atasan dan bawahan.

3) Spesialisasi

Meskipun spesialisasi adalah prinsip dasar organisasi, tetapi juga menciptakan masalah-masalah komunikasi, dimana hal ini cenderung memisahkan orang-orang, bahkan bila mereka bekerja saling berdekatan. Perbedaan fungsi, kepentingan dan istilah-istilah pekerjaan dapat membuat orang-orang  merasa bahwa mereka hidup dalam dunia yang berbeda. Akibatnya dapat menghalangi perasaan memasyarakat, membuat sulit memahami, dan mendorong terjadinya kesalahan-kesalahan.

Hambatan-hambatan Antar Pribadi

Banyak kesalahan komunikasi disebabkan bukan oleh faktor-faktor organisasi, tetapi oleh masalah-masalah ketidak sempurnaan manusia dan bahasa. Manajer perlu memperhatikan hambatan-hambatn antar pribadi sepert 1) persepsi selektif, 2) status atau kedudukan komunikator, 3) keadaan membela diri, 4) pendengaran lemah, dan 5) ketidak tepatan penggunaan bahasa.

- Persepsi selektif

Persepi adalah suatu proses yang menyeluruh dengan mana seseorang menseleksi, mengorganisasikan, dan mengartikan segala sesuatu dilingkungannya.

Manajer perlu memperhatikan tiga aspek berikut sehubungan dengan persepsi selektif:

  1. Penerima akan mengintepretasikan berita berdasarkan pengalaman diri dan bagaimana mereka telah “belajar” untuk menanggapi sesuatu
  2. Penerima akan mengintepretasikan berita dengan cara menolak setiap perubahan dalam struktur kepribadian yang kuat. Berita yang bertentangan dengan keyakina seseorang cenderung untuk ditolak
  3. Penerima akan cenderung mengelompokan dan menyimpan karakteristik-karakteristik pengalaman mereka sehingga mereka dapat membuat pola-pola menyeluruh

- Status Komunikator

Hambatan utama komunikasi lainnya adalah kecenderungan untuk menilai, mempertimbangkan dan membentuk pendapat atas dasar karakteristik-karakteristik pengirim (sumber), terutama kredibilitasnya. Kredibilitas didasarkan “ keahlian “ seseorang dalam bidang yang sedang dikomunikasikan dan tingkat kepercayaan seseorang bahwa orang tersebut akan mengkomunikasikan kebenaran.

Manajer harus dipandang bawahan mereka sebagai orang yang terpercaya dan dapat dipercaya, kalau tidak, usaha untuk memotivasi, mempengaruhi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan bawahan akan sangat terhambat dari permulaan.

- Keadaan membela diri

Perasaan pembelaan diri pada pengirim, penerima berita atau keduanya juga menimbulkan hambatan-hambatan komunikasi. Keadaan membela diri seseorang mengakibatkan ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan pembicaraan tertentu, dan sebaliknya meningkatkan tingkat pembelaan dipihak lain. Jadi, akan timbul reaksi rantai defensive. Keadaan ini membuat pendengar lebih berkonsentrasi pada apa yang akan dikatakan dan bukan pada apa yang didengar. Sebagai contoh, bila seseorang karyawan terancam akan kehilangan kedudukannya, maka dapat kehilangan kemampuan untuk mengartikan berita secara tepat dengan memberi reaksi defesnsif atau agresif.

- Pendegaran lemah

Manajer perlu belajar untuk mendengar secara efektif agar mampu mengatasi hambatan ini. Berbagai kebiasaan hubungan dengan pendengaran lemah meliputi : 1) mendengar hanya permukaanny saja, dengan sedikit perhatian pada apa yang dikatakan; 2) memberikan pengaruh, melalui baik perkataan atau tanda-tanda:3) menunjukan tanda-tanda kejengkelan atau kebosanan terhadap bahan pembicaran dan 4) mendengar dengan tidak aktif

- Ketidak tepatan penggunaan bahasa

Salah satu kesalahan terbesar yang dibuat dalam komunikasi adalah anggapan bahwa pengertian terletak dalam kata-kata yang digunakan. Selain itu bahasa-bahasa non verbal yang tidak konsisten, seperti nada suara, ekspresi wajah, dan sebagainya dapat menghambat komunikasi.

Pedoman Komunikasi yang Baik

Amrican Management Assiciations (AMA) telah menyusun sejumlah prinsip-prinsip komunikasi yang disebut “the Ten Commandments off Good Communication” (sepuluh pedoman komunikasi yang baik). Pedoman ini disusun untuk meningkatkan efektifitas komunikasi organisasi, yang secara ringkas adalah sebagai berikut :

  1. Cari kejelasan gagasan-gagasan terlebih dahulu sebelum dikomunikasikan
  2. Teliti tujuan sebenarnya setiap komunikasi
  3. Pertimbangkan keadaan phisik dan manusia keseluruhan kapan saja komunikasi akan dilakukan
  4. konsultasikan, dengan pihak-pihak lain, bila perlu, dalam perencanaan komunikasi
  5. Perhatikan tekanan nada dan ekspresi lainnya sesuai isi dasar berita selama berkomunikasi
  6. Ambil kesempatan, bila tibul, untuk mendapatkan segala sesuatu yang membantu atau umpan balik
  7. Ikuti lebih lanjut komunikasi yang telah dilakukan
  8. Perjatikan konsistensi komunikasi
  9. Tindakan atau perbuatan harus mendorong komunikasi
  10. Jadilah pendengar yang baik, berkomunikasi tidak hanya untuk dimengerti tetapi untuk mengerti

Prinsip – prinsip komunikasi AMA ini memberikan kepada para manajer pedoman unutk meningkatkan efektifitas komunikasi.

________________________________

Daftar Pustaka

T. Hani Handoko, MANAJEMEN, edisi kedua, BPFE – Yogyakarta,1986.

T. Hani Handoko, Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi, BPFE – Yogyakarta, 1984.

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image