Keluarga Dapat Memberikan Motivasi untuk Bekerja
Ada seorang ayah yang bekerja sangan giat untuk menafkahi keluarganya. Dia juga adalah karyawan yang baik dan berprestasi di kantornya. Dia pula sangat mencintai keluarganya yang sehingga membuat dia lebih giat dalam bekerja agar keluarganya dapat penghidupan yang layak. Dia sangat profesional dalam bekerja karena dia tidak pernah mencampuradukkan masalah pribadi dan masalah pekerjaan. Namun, di suatu ketika hubungan dia dengan istrinya merenggang karena istrinya menganggap bahwa suaminya tidak dapat memberikan segalanya yang ia inginkan padahal suaminya selalu berusaha yang terbaik untuk keluarganya, tetapi istrinya tidak pernah bersyukur akan hal itu. Setelah hal itu terjadi dan akhirnya dia dan istrinya bercerai serta dua anaknya pun dibawa oleh istrinya, dia terpuruk dan pekerjaannya pun menjadi berantakan.
Sang ayah sangat giat dalam bekerja karena adanya motivasi. Ada pula faktor internal dan eksternal dalam memotivasi seseorang.
Termasuk pada faktor internal adalah :
(a) persepsis seseorang mengenai diiri sendiri
(b) harga diri
(c) harapan pribadi
(d) kebutuhaan
(e) keinginan
(f) kepuasank erja
(g) prestasi kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah :
(a)jenis dan sifat pekerjaan
(b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung
(c) organisasi tempat bekerja
(d) situasi lingkungan pada umumnya
(e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.
Apabila motivasi itu sudah tidak ada maka terkadang pekerjaan itu menjadi berantakan dan tidak teratur lagi.
Ada juga kaitan antara motivasi kerja dengan unjuk kerja, yaitu:
1. Bila motivasi kerjanya rendah maka unjuk kerjanya akan rendah pula meskipun kemampuannya ada dan baik serta peluangnya pun tersedia.
2. Bila motivasi kerjanya besar namun peluang-peluang untuk menggunakan kemampuan-kemampuannya tidak ada atau tidak diberikan, unjuk kerjanya juga akan rendah.
3. Bila motivasi kerja tinggi, peluang ada, namun karena keahliannya atau kemampuannya tidak
ditingkatkan, maka unjuk kerjanya tidak akan tinggi (rendah).
Teori harapan menurut Vroom:
a. harapan (expectancy) adalah suatu kesempatan yang diberikan terjadi karena perilaku. Harapan
mempunyai nilai yang berkisar dari nol yang menunjukkan tidak ada kemungkinan bahwa suatu
hasil akan muncul sesudah prilaku atau tindakan tertentu, sampai angka positif satu yang
menunjukkan kepastian bahwa ada hasil tertentu akan mengikuti suatu tindakan atau perilaku. Harapan
dinyatakan dalam probabilitas (kemungkinan)
b. nilai (valence) adalah akibat dari perilaku tertentu mempunyai nilai/martabat tertentu (daya atau nilai
memotivasi) bagi setiap individu tertentu.
c. pertautan (instrumentality) adalah persepsi dari individu bahwa hasil tingkat pertama akan
dihubungkan dengan hasil tingkat kedua.
Fokus dari teori harapan adalah adanya tia hubungan, yaitu
1. hubungan upaya-kinerja
Probabilitas yang dipersepsikan oleh individu yang mengeluarkan sejumlah upaya akan
meningkatkan kinerja.
2. Hubungan kinerja-ganjaran
Derajat sejauh mana individu meyakini bahwa berkinerja pada suatu tingkat tertentu akan
mendorong tercapainya suatu keluaran yang diinginkan.
3. Hubungan ganjaran-tujuan pribadi
Derajat sejauh mana ganjaran-ganjaran organisasional memenuhi tujuan-tujuan atau kebutuhan pribadi seorang individu dan daya tarik ganjaran-ganjaran potensial tersebut untuk individu itu.
Popularity: unranked [?]


