PENDAKIAN GUNUNG SEMERU

PENDAKIAN GUNUNG SEMERU

Setelah lebaran idul fitri kemarin tepatnya tanggal 24 September 2009 saya melakukan perjalanan untuk mendaki gunung semeru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Saya melakukan perjalanan panjang itu bersama teman-teman dan senior-senior saya di pencinta alam (11 orang yang terdiri dari 3 orang perempuan termasuk saya dan 8 orang laki-laki). Sesuai dengan prosedur perjalanan, kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum hari keberangkatan, dari agenda perjalanan, peralatan, logistic, P3K, dana dan sebagainya.

Rencana perjalanan ini tercetuskan setelah kami membaca sebuah novel yang berjudul “5 cm” yang berceritakan tentang persahabatan dan pendakian gunung Semeru. Hanya dengan membaca kita dapat berimajinasi dan berhayal dapat menjejakkan kaki disana. Alhasil kami pun merencanakan pendakian ini kurang lebih 10 bulan sebelumnya. Tetapi sebenarnya tidak ada keseriusan yang berarti dari kami, kami hanya berguyon setelah lebaran akan kesana. Yang terjadi seminggu sebelum lebaran kami baru menentukan jadwal perjalanannya. Tanpa latihan fisik yang berarti, semua hanya bermodal uang, do’a, mental yang kuat untuk menghadapi segala macam kondisi, motivasi, semangat dan satu tujuan yaitu gunung Semeru dan pastinya puncak Mahameru, puncaknya para dewa.

Kami menggunakan kereta sebagai alat transportasi utama untuk sampai di kota Malang., kereta yang digunakan adalah kereta ekonomi, kami lebih memilih kereta ekonomi karena harga tiketnya jauh lebih murah dibanding kereta bisnis. Karena saya belum pernah naik kereta untuk perjalanan jauh dan panjang seperti ke Malang, saya sangat menikmati perjalanan itu. Pastinya kondisi mental dan fisik saya sangat mendukung dan sudah saya persiapkan untuk perjalanan ini.

Setibanya di Malang pada tanggal 25 September 2009 kami langsung bergegas menuju Tumpang dengan menyewa sebuah angkot. Setibanya di Tumpang kami makan siang, belanja sayur mayur dan menyewa mobil jip untuk bisa sampai di Ranu Pane (pos pertama pendakian gunung Semeru). Sambil menuju ke Ranu Pane kami melakukan registrasi di kantor TNBTN (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru). Setibanya di Ranu Pane, kami mencari lokasi untuk bermalam. Kami menemukan sebuah pondok di dekat Ranu Regulo. Akhrinya kami bermalam disana tanpa mendirikan tenda.

Malam itu sebagai waktu aklimatisasi kami atau waktunya untuk beradaptasi dengan suhu udara yang baru, karena Ranu Pane sudah berada di ketinggian kurang lebih 2.100 mdpl. Keesokan harinya tanggal 26 September 2009 kami mulai bergegas untuk memulai pendakian hingga Ranu Kumbolo. Sebelumnya kami melakukan registrasi ulang.

Dalam perjalanan menuju Ranu Kumbolo terasa sangat berat, mungkin karena sudah setahun lebih saya tidak mendaki, jadi masih terasa kaget dengan medan yang seperti itu. Walaupun jalurnya tidak terlalu curam, tetapi kekuatan fisik dan mental sangat diperlukan untuk melakukan pendakian. Setibanya di Ranu Kumbolo yang sudah berada di ketinggian 2.400 mdpl, kami membangun tenda untuk bermalam dan menyiapkan makanan untuk mengganti energi yang sudah terkuras dalam perjalanan.

Keesokan harinya tanggal 27 September 2009 kami bergegas untuk menuju Kalimati. Untuk mengakhiri perjalanan di Ranu Kumbolo, kami harus melewati tanjakan cinta, yang kalau dilihat biasa saja, tetapi setelah dilewati tanjakan itu benar-benar curam dan terasa sangat berat. Kaget juga setelah melintasi tanjakan cinta, fisik disini sangat-sangat di uji.

Setelah melakukan perjalanan yang jauh, akhirnya sampai juga di Kalimati. Dari tempat ini sudah terlihat puncak gunung Semeru, puncaknya para dewa, yang sebagian jalur pendakian menuju puncaknya adalah jalur berpasir yang biasa disebut tanjakan 52 (naik 5 langkah, turun 2 langkah). Setelah mendirikan tenda dan makan, kami pun langsung istirahat untuk mempersiapkan kondisi fisik dan mental untuk pendakian menuju puncak Semeru.

Kami start pukul 23.30 dari Kalimati untuk melakukan pendakian hingga puncak Semeru. Jalur yang ditempuh sangat-sangat lebih menantang, jalur dngan tanjakan yang lebih berat dan jalur-jalur yang longsor. Banyak pula ditemukan nisan-nisan para pendaki yang meninggal di gunung Semeru. Walaupun sudah mengetahui sedikit tentang cerita gunung Semeru, tetapi tetap saja merasa kaget dan bulu kuduk terasa merinding ketika melihat nisan-nisan itu.

Setelah melewati cemoro tunggal, dimulailah jalur pendakian yang sangat menguras fisik dan mental karena sudah berada di ketinggian lebih dari 2.900 mdpl. Tanjakan 52 sedang dilalui, tetapi menurut saya ini bukan tanjakan 52 tetapi tanjakan 25 (naik 2 langkah, turun 5 langkah). Terasa sangat melelahkan dan tidak sampai-sampai, rasanya ingin pingsan karena kadar oksigen juga sudah menipis, rasa dingin yang teramat sangat pun sudah menyerang, fisik dan mental sudah tak karuan, hanya bisa mengeluh dan berdoa agar kuat dan dapat menjejakkan kaki di puncak gunung Semeru. Hingga matahari muncul saya dan beberapa rekan saya belum sampai di puncak Mahameru, yang ada hanya rasa lelah yang teramat sangat, rasa malas pun melanda. Benar-benar butuh dukungan dan semangat, dan pada akhirnya saling mendukung dan menyemangati agar lebih termotivasi untuk cepat sampai di puncak Mahameru, karena gunung Semeru masih aktif jadi sebelum pukul 09.00 para pendaki harus meninggalkan puncak Mahameru karena diatas pukul 09.00 akan mengeluarkan letusan-letusan yang dapat membahayakan para pendaki. Pukul 06.30 pada tanggal 28 September 2009 kami berhasil menjejakkan kaki di puncak Mahameru puncaknya para dewa. Dengan rasa lelah, haru, sedih, senang, bangga kami berpelukan satu dengan yang lainnya dan mengucapkan syukur kepada Allah swt yang telah menciptakan alam semesta yang sangat indah, yang dapat dinikmati oleh umatnya. Akhirnya semua rasa itu terbalaskan dengan keindahan alam yang luar biasa, walaupun saat itu puncak Mahameru berkabut dan kami tidak dapat melihat kawah yang dapat mengeluarkan letusan-letusan yang dikenal dengan jonggring salaka.

Ternyata perjalanan turun juga sangat melelahkan, saat melewati jalur berpasir, kami sudah seperti orang luar negeri yang suka bermain sky hanya bedanya disini jalurnya berpasir bukan salju. Barulah terlihat jelas jalur-jalur pendakian kami pada saat malam hari seperti apa karena terangnya bulan telah tergantikan oleh matahari. Setibanya di Kalimati, kami istirahat, makan dan sore harinya bergegas turun untuk bermalam di Ranu Kumbolo lagi.

Setibanya di Ranu Kumbolo, kami langsung mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam, kemudian istirahat. Keesokan paginya tanggal 29 September 2009, kami melakukan harmoni alam bersama, karena hari ini kami akan kembali keperadaban dan logistic masih lumayan banyak, alhasil kami melakukan harmoni alam dengan mengkreasikan segala macam bahan makanan yang masih ada. Setelah puas dan kenyang, kami bergegas turun, setibanya di Ranu Pane, kami langsung bersih-bersih, mandi, poop dan sebagainya.

Karena waktu sudah malam, kami tidak mungkin langsung menuju stasiun karena jadwal keberangkatan kereta tujuan Jakarta adalah pukul 14.00, dengan menyewa jip dari Ranu Pane menuju Tumpang perjalanan terasa sangat jauh mungkin karena kondisi jalan yang sangat gelap. Setinya di Tumpang kami mencari penginapan untuk kami bermalam. Alhamdulillah senior saya yang juga MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) memiliki kenalan anak MAPALA dari UNM (Universitas Negeri Malang). Dan akhirnya kami bermalam disana.

Keesokan harinya tanggal 30 September 2009 kami bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta, sebelumnya kami membeli tiket dan jadwal keberangkatan kereta ke Jakarta pukul 15.00, karena takut kehabisan tempat duduk, pukul 13.30 kami sudah tiba di stasiun Malang. Kami langsung menuju kereta matarmaja tujuan Jakarta, dan ternyata benar kami kehabisan tempat duduk karena sudah banyak di tempati calo. Dari pada kami harus berdiri seharian, lebih baik kami menunggu kereta tambahan ekstra lebaran yang berangkat puku 17.00.

Perjalanan pulang ketika di kereta sangat melelahkan, badan terasa remuk, kedua kaki bengkak, bibir pecah-pecah, kulit kering. Tidak banyak hal yang kami lakukan selain tidur, makan, tidur lagi, makan lagi. Mungkin karena merasa lelah, perjalanan pulang ini pun terasa sangat panjang. Tetapi berbeda dengan suasana di pagi hari ketika matahari mulai menampakkan sinarnya, semua terasa sejuk, badan terasa sedikit lebih segar, dan berbanding terbalik ketika siang hari, terik mataharinya sangat-sangat menyiksa kami.

Kami tiba di stasiun Senen pukul 13.00 tanggal 01 Oktober 2009, dengan penampilan kami yang masih tersisa aroma-aroma anak gunungnya, kami dengan percaya dirinya menuju Plaza Atrium untuk membayar hayalan-hayalan kami selama dikereta karena ingin makan di Macdonald. Dengan masih membawa cariel kami berjalan kaki dari stasiun Senen menuju Atrium, tidak sedikit orang yang melihat dan memandangi kami dengan tatapan yang sangat heran. Ketika sudah berada di depan Macdonald, kami merasa malu sendiri, dan sebelum masuk akhirnya bertanya dahulu kepada petugasnya, boleh masuk atau tidak dengan membawa cariel yang besar-besar seperti yang kami bawa. Ketika kami masuk, tatapan-tatapan heran mulai tertuju kepada kami, dengan rasa cuek dan percaya diri kami langsung duduk dan memesan makanan. Setelah terbayar lunas hayalan kami, kamipun langsung bergegas menuju halte bis untuk bisa sampai di rumah masing-masing.

Ketika sampai dirumah, saya langsung mandi kemudian merendam kedua kaki saya dengan air hangat yang di campur garam. Banyak pelajaran an pengalaman berharga yang dapat saya ambil setelah melakukan perjalanan dan pedakian itu. Kita harus benar-benar mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapai medan , jalur dan cuaca yang sewaktu-waktu bisa berubah tanpa kita ketahui. Kesehatan jasmani dan rohani pun harus benar-benar sehat, jasmani yang sehat akan mendukung fisik yang kuat, dan rohani yang sehat dapat menjauhkan kita dari pikiran-pikiran negative tentang dunia lain yang berbeda dengan dunia kita, karena jika kita berpikiran negative tentang itu, kita akan terus di hantui rasa takut, walaupun saya percaya dengan adanya dunia lain dan makhluk lain selain kita. Oleh karena itu kita harus mematuhi dan menghormati adat istiadat setempat dimana pun kita berada.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)
PENDAKIAN GUNUNG SEMERU, 5.0 out of 10 based on 1 rating
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image