“Strategi Persaingan Yang Digunakan PT.Sepatu Bata ”

Makalah Pengantar Bisnis
“Strategi Persaingan Yang Digunakan PT.Sepatu Bata ”

Disusun Oleh : Ayu Suliestya
NPM : 22209105
Kelas : 1EB09

Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma
Jakarta 2009

DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan……………………………………………………..3
Kata Pengantar…………………………………………………4
Latar Belakang………………………………………………5
Kumpulan Data ……………………………………………..8
Pemecahan Masalah………………………………………..11
Kesimpulan dan Saran……………………………………..21

Lembar Pengesahan

Makalah ini saya susun agar Bapak/Ibu dapat mempertimbangkan hasil kerja saya dalam membuat suatu makalah yang berkaitan dengan yang diajarkan. Saya berharap Bapak/Ibu dapat memberikan nilai yang sebanding dengan hasil makalah ini.
Dan semoga makalah ini dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi kita semua tentang perkembangan usaha produksi sepatu di Indonesia.

Dosen Mata Kuliah Dosen Pengampun
Pengantar Bisnis Pengantar Bisnis

(Bpk. Thamrin) (Ibu. Widyawati)

BAB I
Kata Pengantar

PT Sepatu Bata adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri alas kaki yang didirikan di Indonesia pada tanggal 15 Oktober 1931 dengan akte notaris Adrian Hendrick Van Ophuisjen No. 64, dengan nama Nederlandsch-Indische Schoenhandel Maatschappij Bata, kemudian tanggal 29 Desembar 1931 berubah namanya menjadi PT Sepatu Bata. Perusahaan ini berkantor pusat di Jalan TMP Kalibata, Jakarta dan sekaligus sebagai lokasi pabrik bergerak di bidang industri alas kaki. Pada tahun 1995 pabrik baru di buka di Purwakarta Jawa Barat. Sampai saat ini perusahaan ini adalah pelopor perusahaan alas kaki di Indonesia. Agar tetap dapat bersaing di pasar global, maka semua upaya dilakukan seperti perbaikan teknologi dan efisiensi produksi agar tetap dapat bersaing. Salah satu yang tetap harus dipertahankan adalah kinerja keuangan perusahaan. Kondisi keuangan harus selalu berada dalam standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan juga mengacu kepada standar industri sejenis.
Makalah ini saya susun agar Bapak/Ibu dapat mempertimbangkan hasil kerja saya dalam membuat suatu makalah yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Saya berharap Bapak/Ibu dapat memberikan nilai yang sebanding dengan hasil makalah ini.
Dan semoga makalah ini dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi kita semua tentang perkembangan usaha produksi sepatu di Indonesia.

BAB II
Latar Belakang

Bisnis alas kaki di Indonesia memiliki pangsa pasar yang potensial di masa yang akan datang. Namun ancaman yang dihadapi juga cukup besar. Persaingan antar produk membuktikan bahwa kebutuhan masyarakat akan alas kaki masih sangat besar.
Disini kita dapat lihat persaingan produk sepatu semakin kuat. Salah satu produk sepatu yang terkenal dari dulu sampai sekarang yaitu sepatu Bata. Tetapi Bata sekarang sudah mulai kalah saingan. Banyak Produk sepatu yang semakin disenangi oleh masyarakat. Contohnya: Adidas, Nike, All star,homy ped, dan lain-lain. Banyak Faktor-faktor yang membuat Bata mulai tiidak disenangi lagi. Kebanyakan Orang tidak menyukai sepatu Bata karena model Sepatu yang ketinggalan Zaman. Dan harganya yang relatif mahal.

Corporate initiatives

Menjadikan Bata sebagai lembaga internasional yang memiliki gagasan dan kreativitas yang tinggi serta menciptakan kondisi yang merangsang untuk berfikir secara internasional.

Bata Culture menciptakan kesempatan yang sama bagi semua karyawan untuk mendapatkan promosi atau pelatihan dan pendidikan. Dengan mendapatkan training tersebut, diharapkan karyawan memperoleh keahlian yang pada akhirnya bisa mendapatkan promosi untuk level internasional.

Culture

Perusahaan Bata Memiliki tradisi untuk menjadi perusahaan yang berkontribusi untuk kesejahteraan masyarakat disekitar kegiatan usaha perusahaan.
Bata Bekerja keras untuk membangun hubungan jangka panjang dengan suplier dan distributornya.
kegiatan Usaha Bata di seluruh dunia, dipastikan dilaksanakan secara etis.

Sejarah perkembangan perusahaan ini di Indonesia adalah sebagai berikut :
• 1931 memulai usahanya sebagai pengimpor sepatu
• 1940 mendirikan pabrik di kalibata jakarta selatan
• 1982 didaftarkan di Bursa Efek Jakarta
• 1994 mendirikan pabrik di purwakarta
• 2004 memperoleh lisensi sebagai distributor dan General Importing.

Bata tidak hanya menjual produksi sepatu bata di Toko Bata, ada juga produk yang lain.
Brand (merek) yang di jual di toko bata:
1. Bubblegummer  adalah merek terkemuka di amerika latin dan telah berekspansi ke seluruh asia dan eropa. Merek ini ditujukan bagi anak sampai umur 10 tahun dengan karakter lucu dan warna yang menarik
2. Power  merek ini ditujukan untuk olah raga antara lain bola basket, sepakbola ataupun olah raga lainnya.
3. Marie Claire  merupakan merek dagang yang ditujukan bagi wanita yang mementingkan fashion sebagai gaya hidupnya.
4. North Start  dikhususkan untuk produk sepatu canvas yang casual untuk penggunaan diwaktu santai.
5. Weinbrenner  khusus produk sepatu kulit ataupun sendal gunung, dan sepatu boot yang ditujukan untuk pria
6. Comfit  dengan motto “ Get Comfertable today” produk ini ditujukan untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya.
7. B First  Ditujukan bagi anak-anak sekolah, yang menjadikan “collection of School Shoes” sebagai motto penjualannya.

Walaupun merek barang produksi lain diJual di Toko Bata, tetapi tetap saja Bata masih sepi dikunjungi oleh pembeli.

BAB III
Kumpulan Data

Laporan Keuangan Sepatu Bata

In Millions of Rupiah
(except for per share items) 2008
2008-12-31 2007
2007-12-31
Reclassified
2008-12-31 2006
2006-12-31 2005
2005-12-31 2004
2004-12-31
Restated
2005-12-31
Cash – – – 241.1 90.6
Cash & Equivalents 5,218.9 50,239.9 4,619.2 4,742.8 3,265.7
Short Term Investments – – – – –
Cash and Short Term Investments 5,218.9 50,239.9 4,619.2 4,983.9 3,356.3
Accounts Receivable – Trade, Net 13,752.3 18,326.2 15,796.7 24,536.4 24,576.9
Notes Receivable – Short Term – – – – –
Receivables – Other 3,313.3 3,309.1 2,772.4 5,015.0 4,908.0
Total Receivables, Net 17,065.6 21,635.3 18,569.1 29,551.4 29,484.9
Total Inventory 169,324.3 134,153.2 119,441.4 128,666.6 105,049.8
Prepaid Expenses 52,209.4 45,620.9 42,522.6 50,439.8 41,832.3
Other Current Assets, Total – – – – –
Total Current Assets 243,818.3 251,649.3 185,152.3 213,641.8 179,723.3
Property/Plant/Equipment, Total – Gross 199,252.2 134,367.2 147,329.3 142,423.9 128,482.0
Accumulated Depreciation, Total (60,231.0) (68,104.8) (79,107.7) (73,977.8) (71,502.2)
Property/Plant/Equipment, Total – Net 139,021.2 66,262.4 68,221.5 68,446.1 56,979.8
Goodwill, Net – – – – –
Intangibles, Net – – – – –
Long Term Investments – – – – –
Note Receivable – Long Term 95.8 65.1 107.0 98.4 227.8
Other Long Term Assets, Total 18,965.3 14,103.4 17,979.9 23,592.7 23,803.7
Other Assets, Total – – – – –
Total Assets 401,900.6 332,080.2 271,460.7 305,778.9 260,734.7
Accounts Payable 43,646.3 35,992.1 32,167.8 42,392.5 26,209.6
Payable/Accrued – – – – –
Accrued Expenses 14,851.2 43,545.3 9,764.9 5,618.5 3,585.7
Notes Payable/Short Term Debt 0.0 0.0 4,000.0 48,000.0 27,500.0
Current Port. of LT Debt/Capital Leases – – – – –
Other Current liabilities, Total 51,931.3 30,129.8 17,918.4 14,419.3 14,667.7

Total Current Liabilities 110,428.8 109,667.2 63,851.1 110,430.3 71,963.1
Long Term Debt – – – – –
Capital Lease Obligations – – – – –
Total Long Term Debt 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
Total Debt 0.0 0.0 4,000.0 48,000.0 27,500.0
Deferred Income Tax 7,231.1 7,803.2 9,387.3 10,625.2 9,686.0
Minority Interest – – – – –
Other Liabilities, Total 11,122.4 6,910.2 8,135.4 8,427.3 8,375.6
Total Liabilities 128,782.3 124,380.7 81,373.8 129,482.8 90,024.6
Redeemable Preferred Stock, Total – – – – –
Preferred Stock – Non Redeemable, Net – – – – –
Common Stock, Total 13,000.0 13,000.0 13,000.0 13,000.0 13,000.0
Additional Paid-In Capital – – – – –
Retained Earnings (Accumulated Deficit) 260,117.2 192,439.6 174,827.0 161,036.2 155,450.1
Treasury Stock – Common – – – – –
ESOP Debt Guarantee – – – – –
Unrealized Gain (Loss) – – – – –
Other Equity, Total 1.0 2,259.9 2,259.9 2,259.9 2,259.9
Total Equity 273,118.2 207,699.6 190,086.9 176,296.1 170,710.1
Total Liabilities & Shareholders’ Equity 401,900.6 332,080.2 271,460.7 305,778.9 260,734.7
Shares Outs – Common Stock Primary Issue 13.00 13.00 13.00 13.00 13.00
Shares Outstanding – Common Issue 2 – – – – –
Shares Outstanding – Common Issue 3 – – – – –
Shares Outstanding – Common Issue 4 – – – – –
Total Common Shares Outstanding 13.00 13.00 13.00 13.00 13.00
Total Preferred Shares Outstanding – – – – –

PT Sepatu Bata yang saat ini menanggung utang kepada HSBCIndonesia sebesar Rp 30 miliar, akhirnya menunjuk HSBC Global Payments and Cash Management Indonesia untuk mengelola kebutuhan cash management Sepatu Bata lewat program HSBC Net.
HSBC Group hingga 30 Juni 2009 memiliki aset mencapai 2,422 miliar dolar AS. Sementara laporan keuangan semester I 2009 PT Sepatu Bata Tbk menunjukkan bahwa perseroan tersebut mencetak laba bersih sebesar Rp 12,319 miliar. Dengan jumlah penjualan bersih sebesar Rp267,645 miliar.
Namun PT Sepatu Bata memiliki utang perseroan sebesar Rp 60 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak Rp 50 miliar di antaranya merupakan fasilitas pinjaman dari BNI sebesar Rp 20 miliar yang didapat akhir tahun 2008 dan fasilitas pinjaman sebesar Rp 30 miliar dari HSBC per kuartal III 2008.
Utang tersebut, menurut Fadzillah, digunakan untuk merelokasi pabrik sepatu Bata dari Kalibata ke Purwakarta yang membutuhkan dana sebesar Rp 60 miliar. Saat ini pabrik baru Sepatu Bata sudah beroperasi sepenuhnya.
Menurut utang dari BNI sudah lunas semua. Sedangkan utang yang belum dibayar adalah pinjaman dari HSBC atau 50 persen dari total pinjaman sebesar Rp 30 miliar.
Oleh Karena itu Produsen sepatu dan sendal PT Sepatu Bata Tbk berambisi dapat meningkatkan kapasitas produksi sebesar 13,25 juta pasang per tahun dalam tiga tahun ke depan. Saat ini, kapasitas produksi perusahaan ini baru mencapai enam juta pasang per tahun. Target peningkatan produksi diharapkan bisa tercapai setelah perseroan merelokasi pabrik dari Kalibata, JakartaSelatan,kePurwakarta,JawaBarat.

BAB IV
Pemecahan Masalah

*Solusi*
Agar Bata bisa memenangkan persaingan, hal-hal yang perlu dilakukan adalah :
*Mempelajari strategi yang dilakukan oleh pesaing, agar dapat melakukan antisipasi terhadap dampak yang timbul bagi perusahaan.
Strategi yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan Strategi Generik Porter.
STRATEGI GENERIK PORTER
Dalam analisanya tentang strategi bersaing (competitive strategy atau disebut juga Porter’s Five Forces) suatu perusahaan, Michael A. Porter mengintrodusir 3 jenis strategi generik, yaitu: Keunggulan Biaya (Cost Leadership), Pembedaan Produk (Differentiation), dan Focus. (Lihat Gambar 1).

1. Strategi Biaya Rendah (cost leadership)
Strategi Biaya Rendah (cost leadership) menekankan pada upaya memproduksi produk standar (sama dalam segala aspek) dengan biaya per unit yang sangat rendah. Produk ini (barang maupun jasa) biasanya ditujukan kepada konsumen yang relatif mudah terpengaruh oleh pergeseran harga (price sensitive) atau menggunakan harga sebagai faktor penentu keputusan. Dari sisi perilaku pelanggan, strategi jenis ini amat sesuai dengan kebutuhan pelanggan yang termasuk dalam kategori perilaku low-involvement, ketika konsumen tidak (terlalu) peduli terhadap perbedaan merek, (relatif) tidak membutuhkan pembedaan produk, atau jika terdapat sejumlah besar konsumen memiliki kekuatan tawar-menawar yang signifikan.
Terutama dalam pasar komoditi, strategi ini tidak hanya membuat perusahaan mampu bertahan terhadap persaingan harga yang terjadi tetapi juga dapat menjadi pemimpin pasar (market leader) dalam menentukan harga dan memastikan tingkat keuntungan pasar yang tinggi (di atas rata-rata) dan stabil melalui cara-cara yang agresif dalam efisiensi dan kefektifan biaya. Sumber dari keefektifan biaya (cost effectiveness) ini bervariasi. Termasuk di dalamnya adalah pemanfaatan skala ekonomi (economies of scale), investasi dalam teknologi yang terbaik, sharing biaya dan pengetahuan dalam internal organisasi, dampak kurva pembelajaran dan pengalaman (learning and experience curve), optimasi kapasitas utilitas, dan akses yang baik terhadap bahan baku atau saluran distribusi. Pada prinsipnya, alasan utama pelaksanaan strategi integrasi ke hulu (backward integration), ke hilir (forward integration), maupun ke samping (horizontal integration) adalah untuk memperoleh berbagai keuntungan dari strategi biaya rendah ini. Biasanya strategi ini dijalankan beriringan dengan strategi diferensiasi. (Lihat David, 1998; Fournier dan Deighton, 1997; Pass dan Lowes, 1997; Porter, 1980 dan 1985).
Untuk dapat menjalankan strategi biaya rendah, sebuah perusahaan harus mampu memenuhi persyaratan di dua bidang, yaitu: sumber daya (resources) dan organisasi. Strategi ini hanya mungkin dijalankan jika dimiliki beberapa keunggulan di bidang sumber daya perusahaan, yaitu: kuat akan modal, trampil pada rekayasa proses (process engineering), pengawasan yang ketat, mudah diproduksi, serta biaya distribusi dan promosi rendah. Sedangkan dari bidang organisasi, perusahaan harus memiliki: kemampuan mengendalikan biaya dengan ketat, informasi pengendalian yang baik, insentif berdasarkan target (alokasi insentif berbasis hasil). (Umar, 1999).

2. Strategi Pembedaan Produk (differentiation)
Strategi Pembedaan Produk (differentiation), mendorong perusahaan untuk sanggup menemukan keunikan tersendiri dalam pasar yang jadi sasarannya. Keunikan produk (barang atau jasa) yang dikedepankan ini memungkinkan suatu perusahaan untuk menarik minat sebesar-besarnya dari konsumen potensialnya. Cara pembedaan produk bervariasi dari pasar ke pasar, tetapi berkaitan dengan sifat dan atribut fisik suatu produk atau pengalaman kepuasan (secara nyata maupun psikologis) yang didapat oleh konsumen dari produk tersebut. Berbagai kemudahan pemeliharaan, features tambahan, fleksibilitas, kenyamanan dan berbagai hal lainnya yang sulit ditiru lawan merupakan sedikit contoh dari diferensiasi. Strategi jenis ini biasa ditujukan kepada para konsumen potensial yang relatif tidak mengutamakan harga dalam pengambilan keputusannya (price insensitive).
Perlu diperhatikan bahwa terdapat berbagai tingkatan diferensiasi. Diferensiasi tidak memberikan jaminan terhadap keunggulan kompetitif, terutama jika produk-produk standar yang beredar telah (relatif) memenuhi kebutuhan konsumen atau jika kompetitor/pesaing dapat melakukan peniruan dengan cepat. Contoh penggunaan strategi ini secara tepat adalah pada produk barang yang bersifat tahan lama (durable) dan sulit ditiru oleh pesaing.
Resiko lainnya dari strategi ini adalah jika perbedaan atau keunikan yang ditawarkan produk tersebut ternyata tidak dihargai (dianggap biasa) oleh konsumen. Jika hal ini terjadi, maka pesaing yang menawarkan produk standar dengan strategi biaya rendah akan sangat mudah merebut pasar. Oleh karenanya, dalam strategi jenis ini, kekuatan departemen Penelitian dan Pengembangan sangatlah berperan.
Pada umumnya strategi biaya rendah dan pembedaan produk diterapkan perusahaan dalam rangka mencapai keunggulan bersaing (competitive advantage) terhadap para pesaingnya pada semua pasar. (Lihat David, 1998; Fournier dan Deighton, 1997; Pass dan Lowes, 1997; Porter, 1980 dan 1985).
Secara umum, terdapat dua bidang syarat yang harus dipenuhi ketika perusahaan memutuskan untuk memanfaatkan strategi ini, yaitu: bidang sumber daya (resources) dan bidang organisasi. Dari sisi sumber daya perusahaan, maka untuk menerapkan strategi ini dibutuhkan kekuatan-kekuatan yang tinggi dalam hal: pemasaran produk, kreativitas dan bakat, perekayasaan produk (product engineering), riset pasar, reputasi perusahaan, distribusi, dan ketrampilan kerja. Sedangkan dari sisi organisasi, perusahaan harus kuat dan mampu untuk melakukan: koordinasi antar fungsi manajemen yang terkait, merekrut tenaga yang berkemampuan tinggi, dan mengukur insentif yang subyektif di samping yang obyektif. (Umar, 1999)
3. Strategi Fokus (focus)
Strategi fokus digunakan untuk membangun keunggulan bersaing dalam suatu segmen pasar yang lebih sempit. Strategi jenis ini ditujukan untuk melayani kebutuhan konsumen yang jumlahnya relatif kecil dan dalam pengambilan keputusannya untuk membeli relatif tidak dipengaruhi oleh harga. Dalam pelaksanaannya – terutama pada perusahaan skala menengah dan besar –, strategi fokus diintegrasikan dengan salah satu dari dua strategi generik lainnya: strategi biaya rendah atau strategi pembedaan karakteristik produk. Strategi ini biasa digunakan oleh pemasok “niche market” (segmen khusus/khas dalam suatu pasar tertentu; disebut pula sebagai ceruk pasar) untuk memenuhi kebutuhan suatu produk — barang dan jasa — khusus.

Syarat bagi penerapan strategi ini adalah adanya besaran pasar yang cukup (market size), terdapat potensi pertumbuhan yang baik, dan tidak terlalu diperhatikan oleh pesaing dalam rangka mencapai keberhasilannya (pesaing tidak tertarik untuk bergerak pada ceruk tersebut). Strategi ini akan menjadi lebih efektif jika konsumen membutuhkan suatu kekhasan tertentu yang tidak diminati oleh perusahaan pesaing. Biasanya perusahaan yang bergerak dengan strategi ini lebih berkonsentrasi pada suatu kelompok pasar tertentu (niche market), wilayah geografis tertentu, atau produk — barang atau jasa — tertentu dengan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen secara baik, excellent delivery. (Lihat David, 1998; Fournier dan Deighton, 1997; Pass dan Lowes, 1997; Porter, 1980 dan 1985)

*Menentukan Segmentasi yang akan dijadikan Target Market secara jelas.
Segmentasi memiliki peran penting dalam sebuah perusahaan. Segmentasi tersebut memiliki peran penting karena beberapa alasan;
a) segmentasi memungkin perusahaan untuk lebih fokus dalam mengalokasikan sumber daya. Dengan membagi pasar menjadi segmen-segmen akan memberikan gambaran bagi perusahaan untuk menetapkan segmen mana yang akan dilayani. Selain itu segmentasi memungkin perusahaan mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai peta kompetisi serta menentukan posisi pasar perusahaan.

b) segmentasi merupakan dasar untuk menentukan komponen-komponen strategi. Segmentasi yang disertai dengan pemilihan target market akan memberikan acuan dalam penentuan positioning.
c) segmentasi merupakan faktor kunci untuk mengalahkan pesaing, dengan memandang pasar dari sudut yang unik dan cara yang berbeda dari yang dilakukan pesaing.

Prosedur Dan Proses Segmentasi Pasar
Ada tiga tahap yang harus dilakukan dalam segmentasi pasar yaitu:

1.Survey Stage
Survey Stage merupakan tahap melakukan eksplorasi baik melalui focus group discussion atau dengan wawancara terhadap beberapa kelompok konsumen untuk memperoleh keterangan mengenai motivasi, sikap dan perilaku. Dengan adanya gambaran awal tentang preferensi konsumen peneliti dapat menggali lebih lanjut dengan menggunakan kuesioner.

2. Analysis Stage
Analysis Stage merupakan tahap analisis terhadap informasi yang telah diperoleh melalui survey. Analisis dapat dilakukan dengan menerapkan analisis faktor untuk menelaah variabel-variabel mana yang berkolerasi tinggi kemudian menerapkan analisis cluster untuk menciptakan atau mengetahui kelompok-kelompok pasar yang secara signifikan memiliki perbedaan karakteristik.

3. Profiling Stage
Profiling Stage merupakan tahap untuk mengidentifikasi profil masing-masing cluster yang terbentuk. Dengan ini akan teridentifikasi perbedaan masing-masing cluster berdasarkan sikap dan perilaku, demografi, psikografi, manfaat atau value yang diharapkan dari, kemudian masing-masing cluster diberi nama berdasarkan karakteristik yang menonjol.

SEGMENTASI PASAR
Dasar-dasar untuk membuat segmentasi pasar konsumen:
1. Segmentasi Geografi
Membagi pasar untuk beberapa unit secara geografik seperti negara, regional, negara
bagian, kota atau kompleks perumahan.
2. Segmentasi Demografi
Membagi pasar menjadi kelompok berdasarkan pada variabel seperti umur, jenis kelamin,
ukuran keluarga, daur kehidupan keluarga, pendapatan, pekerjaan, pendidikan,
agama, ras dan kebangsaan.
3. Segmentasi Psikografi
Membagi pembeli menjadi kelompok berbeda berdasarkan pada karakteristik kelas sosial,
gaya hidup atau kepribadian.
4. Segmentasi Tingkah Laku
Mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau
reaksi terhadap suatu produk.

*Melakukan Preomosi kepada konsumen tentang kelebihan yang dimiliki Bata dari segi Kualitas.
Dalam hal ini seorang penjual harus meyakini konsumen bahwa produk bata memiliki kualitas yang bagus. Dengan cara ini konsumen dapat yakin dan akan percaya dengan kualiatsnya.
* MerePositioning produk Bata dari sepatu murah dan Awet, menjadi sepatu High Quality dan Fashionable.
* Melakukan promosi yang berkesinambungan, dengan konsep jangka panjang, misalnya
o Untuk produk power dengan menampilkan ikon Sepatu bata yang digunakan untuk event-event olahraga yang banyak diminati oleh pelanggan. Misalnya (Basketball, Badminton atau volleyball).
o Untuk brand yang lainnya bisa dilakukan Repositioning Brand sesuai advantage yang dimiliki oleh masing-masing Brand
* Melakukan edukasi kepada konsumen tentang sepatu yang berkualitas, dan menjelaskan bahwa kualitas yang dimiliki oleh sepatu bata adalah diatas merek yang lain.
*Untuk mendapatkan hasil yang lebih tepat, perlu dilakukan marketing research tentang 3 C ( Company, Competitor, Customer) yang lebih mendalam, selain itu juga harus dikaji ulang 4 P (Product, Price, Place, dan Promotion), terutama Promotion.

BAB V
Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan:
Produk sepatu bata saat ini mengalami tingkat persaingan yang tinggi dengan sepatu merek lain.
Hal ini disebabkan karena PT.Sepatu Bata memiliki kelemahan yakni:

a) Bata Mempositiningkan produknya sebagai produk murah dan Awet, sedangkan kondisi pasar saat ini memiliki kecenderungan ke arah lifestyle dan fashionable produk.

b) Konsep murah tersebut tidak sesuai dengan kenyataannya, harga produk Bata relatif mahal.

c) Konsep Awet yang menjadi Positioning Bata, berubah menjadi tradisional, ketinggalan zaman (jadul)

d) Promosi kurang, hanya bersifat jangka pendek dan menyambut even-even tertentu saja, misalnya Bata Back to School, atau Lebaran, natal dan tahun Baru, (Over communicated

e) Inovasi produk/ model kurang, padahal dari sisi perusahaan, bata merasa telah melakukan usaha yang maksimal untuk mengembangkan produk, yang dilakukan oleh SIC ( Shoe Inovation Centre), yang telah berusaha untuk mencari design, material dan teknologi untuk memperoleh produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan. SIC ini juga dilengkapi dengan fasilitas modern, menggunakan komputer seperti CAD/CAM ataupun Corel Draw dalam pengembangan designnya.
f) Segmentasi  tidak jelas
g) Bata tidak mengikuti life style yang sedang berkembang
h) Pesaingnya adalah Adidas, Rebook, Nike, Kasogi, Carvil dll.
i) Bata tidak mengikuti perubahan lifestyle yang ada di Indonesia, dimana pada masa sebelumnya sepatu dilihat hanya sebagai manfaatnya sebagai alas kaki, menjadi sepatu sebagai gaya hidup dan penampilan yang trendy.
Saran:
Saran saya kepada Pihak Produksi Sepatu Bata yaitu untuk melakukan:
• Promosi yang berkesinambungan
• Harganya diturunkan
• Model sepatu ditingkatkan sesuai perkembangan zaman/mengikuti lifestyle
• Saluran distibusi Bata harus sampai keplosok desa
• Tingkatkan Kualitasnya.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image