Kaleng, Tongkat & Kacamata
Kaleng, tongkat, dan kacamata
Desiran angin di pagi hari itu, seakan menembus kulit dan tulang rusuk si Bapak renta yang tertidur di pojokkan toko . Terbangun ia, sambil bergugam : “Hmmmm, pagi yang indah”, sembari tersenyum menatap ujung-ujung langit yang masih membuta. Bergegas ia, merapikan alas tidur yang terbuat dari kardus buangan toko-toko, tempat ia biasa menghabiskan malam. Seakan semua toko adalah jejeran rumah cluster yang bisa ia hinggapi setiap malamnya. ”Aku harus cepat”, pikir ia. Semua pun tertata kembali seperti semula di dalam tas buntelan kotor dan bau, yang ia selalu bawa kemana ia berjejak. Tergegas langkah seribu ia lakukan,ketika si bapak renta mengadah ke langit, matahari pun menyambutnya, untuk mengigatkan bahwa hari ini, hari yang panjang untuk menapaki kaki demi sesuap nasi. Ia pun memulai langkahnya : “Semoga hari ini lebih beruntung dari hari kemarin. Kilometer demi kilometer, ia telusuri mencari tempat dimana ia bisa berpijak dan meminta belas kasih tiap orang yang melintasi ia. Tiba di tempat pertama, ia berpikir : ”Akh, tidak mungkin, sudah terlalu banyak disini”. Tempat kedua, ia berpikir lagi : ”Disini sedikit yang melintas”. Tempat ketiga : ”Terlalu panas disini, bisa-bisa kulitku yang sudah keriput habis ditelan matahari”. Tempat keempat :” Mungkin ini lumayan, untuk mengisi kalengku” dengan nada ragu terlintas di pikirannya. Tempat kelima : ” aku yakin, ini tempat yang tepat untuk si kaleng, tongkat, dan kacamata bekerja”. Ia pun langsung menggelar kardus setianya, dan meyiapkan posisi memelas untuk sebuah belas kasih orang yang melintas. Kaleng kutaruh didepan, kacamata kupasang untuk menggelabui orang, dan tongkat kupengang seakan kedua kakiku tak berdaya. ”Siap”, batinku menjawab dengan suara yakin.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan, kaleng belum terisi satu koin pun dari belas kasih orang. ”Luar biasa”, pikirku menatap kaleng dari samarnya kacamata hitamku. ”Harus bergaya seperti apa ini, supaya kalengku berbunyi?”, tambahnya berpikir. Posisi pun sudah dirubah dari duduk hingga berdiri, dari berdiri hingga duduk, dan begitu seterusnya tetapi tak satu pun rupiah masuk ke dalam kaleng itu. Resah pun timbul dari cucuran keringat akan sebuah ketidaksabaran. Akh, bagaimana siang ini, sepertinya perutku tak terisi lagi seperti pagi tadi?”jawab ia memelas. Dari kacamata pun terus meliahat jejak langkah kaki orang berlalu lalang yang melintas.Sungguh banyak, karena merupakan pusat perbelanjaan, tapi tak ada yang mempunyai cinta, kemanusian,dan persahabatan. Aneh, sekali orang-orang kota ini : ”pikirnya”.Tak ada rasa, tak ada hati. Dengan tongkat pun, ia mencoba meraba disekililingnya dengan harapan : ”Mungkin saja, ada koin rupiah jatuh yang bisa kumasukkan ke dalam kaleng”pikirnya. Tapi ternyata tidak juga. ”Dahsyat sekali orang-orang kota ini”, pikirnya dengan kesal. Tak terasa waktu terus berlalu, matahari pun sudah berada tepat diatas kepala. Dengan lemasnya, ia menyenderkan dirinya yang renta di pagar pemabatas pusat perbelanjaan.”Ukh, aku lelah, lapar, dan haus”, katanya dengan nada kekecewaan. Lalu angin pun menidurkan ia, dengan keadaannya seperti itu. Kaleng, kacamata, dan tongkat yang tergeletak didepannya seakan berbicara dan menggumam. Kata kaleng : ”Hi,kacamata, dan tongkat, kasihan sekali bapak renta ini, suara cacing dalam perutnya saja sudah terdengar”. Jawab kacamata : Betul, kaleng!.Mungkin sudah ribuan cacing yang mengamuk. Imbuh tongkat : Tidak ribuan, pasti jutaan!. Ketiga benda tersebut tertawa tebahak-bahak : ”Hahahhahahhah,hahhahahahha,hahhahah”. Terbangun bapak renta itu dari tidurnya, ia mendengar halusinasi mimpi yang aneh dari ketiga benda pencahariaannya, ”ternyata tadi semua adalah mimpi ”pikirnya. Dan ia pun berpikir lagi : seandainya, ketiga benda ini bisa berbicara, pasti mereka akan menertawaiku, karena sudah berebelas tahun hidupku dengan mereka, tapi tak satupun dari mereka bisa tergantikan dengan benda yang baru. ”Itu semua karena penghasilanku yang hanya cukup sesekali mengisi perut kosong ini”, rintihnya dalam hati. Sambil ia termenung, memikirkan nasib, ternyata ada orang melintas yang memberikan rasa cinta, kemanusiaan, dan persahabatan. Orang itu melempar dua koin rupiah ke dalam kaleng itu. Jawabnya dalam hati : ”Akhirnya, kalengku berbunyi lagi”. Ingin segera ia melihat dengan dekat berapa nominal rupiah yang dilempar orang itu, tapi semua ditahan untuk menyakinkan orang tadi bahwa matanya tidak melihat!” Orang tadi pun sudah menjauh, langsung dibuka kacamatanya, dan memelas ia berkata :”Yah, 2 koin 500 rupiah, kudapat hanya seribu rupiah”. Tapi lumayan dech”, kata terucap untuk menyemangatinya.
Menunggu ketidakpastian dari hiruk pikuknya masyarakat kota, ia pun kembali tertidur pulas, tepat pukul tiga sore. Sambil berpikir: ”uih, matahari sudah menyingkir, lumayan angin ini datang untuk menghilangkan lapar dan hausku”. Kembali ketiga benda pencahariannya berkata : ”Tongkat seakan berbicara : Bapak renta, ini hidup dengan kebohongan, memang ia sudah tua renta dan hidup sendirian, tapi dulunya ia seorang pemalas!” Jawab kacamata : ”Betul itu!Belasan tahun kita bersamanya, tapi tetap saja ia hanya menjadi peminta-minta. Bosan aku melihatnya!” Imbuh kaleng : Waktu dulu, saat badannya kekar, ia hanya bermalas-malasan dan mengharapkan belas kasih orang lain.Dasar pemalas!”. Sekarang usia sudah menggerogotinya, apa daya penderitaan menghadapinya setiap hari. Dengan gelisah, ia kembali terbangun sambil berkata : ”Ukh, sepertinya ketiga benda pencahariaanku kembali mengejek, bosan aku mendengar perbincangan mereka yang terus menyindir hidupku. Dengan resah, ia berbicara dalam hatinya : ”Mengapa hidupku dari dulu seperti ini”.Aku tidak punya keluarga yang bisa memberikan cinta kepadaku. Aku mempunyai empat anak, tapi semua seperti hilang ditelan bumi. Seakan tidak mengenal dan mengakui diriku sebagai seorang ayah. Semenjak istriku meninggalkan ku dari dunia ini, belasan tahun yang lalu. Hidupku sebatang kara. Cintaku hilang dan tak dapat kembali dari keempat anakku. Mereka hidup dengan kehidupannya. Tak seorang anakku yang mengetahui, seperti apa dan bagaimana kehidupanku sekarang”. Katanya kepada ketiga benda pencaharian itu. Seakan benda-benda itu adalah sahabat bagi Bapak renta ini. Sahabat yang setia menemani dalam keadaan sulit di sepanjang hidupnya. Imbuhnya lagi : Dan hanya rasa kemanusiaan dari orang lain berupa belas kasih pemberian uang rupiah baik koin maupun kertas, yang selalu kuharapkan untuk melanjutkan hidup ini.
Sekarang sudah menunjukkan pukul lima sore. Rintihnya : ”Ya Tuhan, perih sekali perut ku ini”. Ia pun langsung menengok kepada si kaleng kusam itu : ”Tiga ribu rupiah, sudah terkumpul dari pagi sampai sore ini”. Cukupkah untuk membeli sebungkus nasi?” pintanya dalam hati. Seakan si kaleng memberi keyakinan kepada Bapak renta ini, bahwa sebentar lagi akan banyak orang melintas yang memberikan rupiah kepadanya. Lalu ia pun menelan ludahnya yang kering untuk menyakinkan dirinya bahwa sebentar lagi akan ada sebungkus nasi dan seplastik air. Ia pun dengan sabar menanti semua itu, dilihatnya orang berlalu-lalang dari kacamata hitamnya. Satu per satu koin rupiah masuk ke dalam kaleng dan ada pula yang terlempar jauh dari kaleng itu. Bergegas ia hampiri koin-koin itu dengan tongkatnya. Perutpun terus meronta, ”sakit sekali rasanya”, rintihnya saat itu. ”Kicauan burung sudah menghilang dari peradaban, seakan menandakan mereka pulang ke tempatnya untuk makan” , pikir bapak renta itu sambil mengadah ke langit yang gelap. Benar saja, waktu sudah menunjukkan jam 8 malam, bapak renta itu melihat ke arah jam dinding besar yang ada di jalanan ibu kota. Segera ia mengitung hasil jerih payahnya malam ini , delapan ribu rupiah sudah terkumpul. Langsung ia bangkit dari duduknya, dan mencari warung makan di sekitar itu. Dengan tersenyum dalam hatinya : ”Terimakasih Tuhan, akhirnya aku bisa merasakan makan dan minum malam hari ini. Aku juga berterimakasih kepada orang-orang yang masih memberikan belas kasihnya kepadaku karena mereka memberikan cinta dan menunjukkan kemanusiaannya kepadaku yang hina dina ini. Terlebih kepada ketiga benda pencaharianku, kaleng, kacamata, dan tongkat yang setia menjadi sahabatku dalam hidup belasan tahun bersama diriku. Mereka memberikan persahabatan yang luar biasa kepada diriku. Mereka tak punya hati, tapi mereka merasakan arti dari persahabatan itu sendiri.
Setelah awan tertutupi oleh malam, ia pun kemabali bergegas untuk mencari lahan tempat ia bisa bermimpi indah tentang hidup ini. Lorong demi lorong jalan, ia tengok, tapi tak ada satupun tempat kosong yang bisa ia tiduri, semua penuh oleh puluhan penghuni keliling seperti dirinya. Katanya :”Akh, bagaimana ini, badanku amat letih sehari ini bekerja, dan waktu pun sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan aku pun disini belum mendapatkan tempat”. Tanpa menyerah ia terus tapaki jalan dengan alas kak yang sudah tipis, dan masih terus berharap ada lahan untuk tempat ia bermimpi pada malam hari ini. Tiba-tiba ia berhenti sejenak di trotoar jalan, ia luruskan kaki keriputnya yang sudah pegal. Katanya : Tuhan, susah sekali hidupku ini, hanya untuk bermimpi indah saja aku sulit mendapatkannya, apalagi kenyataan hidup yang indah, pasti tidak mungkin kudapatkan. Dalam lamunannya, ia pun sejenak tertidur, dan seakan ketiga benda pencaharian berbicara dari dalam tas buntelan. Kaleng : Kasihan, Bapak renta ini, aku berjanji akan selalu menjadi sahabat setianya dengan mengabdikan diriku kepadanya secara utuh dan dengan cinta yang tulus.Sahut Tongkat : ”Betul, aku tidak akan mengejeknya!. Imbuh Kacamata : ”kita akan selalu menjadi cinta, kemanusiaan, dan persahabatan kemarin, sekarang, dan selama-lamanya. Dan bapak renta itupun terbangun sejenak, dan berkata dalam hati sambil memandang ketiga benda pencahariannya itu : ”Emm, mereka memang sahabat bagi hidupku”.Aku cinta mereka sangat dalam. Semoga persahabatan kami abadi hingga ajal menjemputku.
Popularity: 1% [?]


