Kesejahteraan Subjektif (Subjective Well-Being)

Oleh WangMuba pada 17.May, 2009, dalam ARTIKEL, Psikologi Positif

Studi kontemporer yang menelusuri penyebab, prediktor dan akibat dari kebahagiaan dan kepuasan hidup disebut studi mengenai kesejahteraan subjektif. Para peneliti di bidang psikologi cenderung menyusun kesejahteraan subjektif berdasarkan nilai pada dua variabel utama, yaitu: kebahagiaan dan kepuasan hidup. Ketika peneliti bertanya pada orang tentang kebahagiaan mereka, peneliti tersebut meminta mereka menceritakan keadaan emosi mereka dan bagaimana perasaan mereka tentang dunia mereka dan diri mereka sendiri. Sebagai tambahan, faktor ketiga (neurotisme yang rendah) terkadang ditambahkan sebagai bentuk dasar dari kesejahteraan subjektif. Kepuasan hidup ini dapat diketahui dalam bentuk laporan diri atau self report.

Pengukuran Kesejahteraan Subjektif

Salah satu masalah yang menghalangi penelitian tentang kebahagiaan adalah bagaimana cara mengukurnya. Masalah utama dengan pengukuran kesejahteraan subjektif adalah siapa yang akan mendefinisikannya. Pada masa Plato dan Aristoteles, banyak orang berpikir bahwa para ahli filosofi atau kaum intelektual yang seharusnya mendefinisikannya. Kemudian, para pemimpin agama Kristen percaya bahwa merekalah yang seharusnya mendefinisikan kebahagiaan bagi semua orang. Jadi, jika para filosofi, pemimpin religius ataupun psikolog tidak dapat mendefinisikannya, lalu siapa yang dapat mendefinisikannya?

Salah satu solusi dari masalah tersebut yaitu dengan menggunakan pendekatan yang sangat langsung. Para peneliti mulai mengijinkan partisipan penelitian untuk mendefinisikan sendiri tentang istilah tersebut. Dengan cara ini, penilai yang sebenarnya tentang seberapa bahagia seseorang adalah “siapapun yang berada dalam kulit seseorang” (Myers & Diener, 1995 hal. 11). Peneliti beralasan bahwa karena evaluasi tentang kebahagiaan merupakan fenomena subjektif, maka harus diukur secara subjektif pula. Maka dari itu, peneliti hanya akan bertanya “Apakah anda bahagia?” atau “Seberapa bahagiakah anda?” dan kemudian menggunakan jawaban mereka sebagai data yang valid dalam studi mereka. Studi tentang kesejahteraan subjektif menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki penilaian yang lebih tinggi tentang kebahagiaan dan kepuasan hidup cenderung bersikap sepertinya mereka lebih bahagia dan lebih puas. Sebagai tambahan, orang lain juga merasa orang-orang itu lebih bahagia dan lebih puas. Maka dari itu, adalah dapat diterima untuk bertanya pada seseorang tentang perasaan bahagia dan kepuasan hidup mereka dan kemudian memberikan kepercayaan untuk jawaban yang telah mereka berikan.

Penilaian Pribadi tentang Kesejahteraan Subjektif.

Sejumlah alat pengukuran direncanakan untuk penelitian yang memerlukan usaha keras ini. Sebagian besar dari mereka mengasumsikan bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup dapat disusun secara kontinyu dari “sangat bahagia” sampai “sangat tidak bahagia”. Skala pengukuran yang benar dapat mengukur persepsi pribadi tentang kebahagiaan (lihat Fordyce, 1988). Skala tersebut mungkin meminta seseorang untuk membandingkan diri mereka dengan kerabatnya (Lyubomirsky & Leeper, 1999) atau mungkin meminta seseorang merespon sebuah pernyataan seperti “Dalam banyak hal hidup saya adalah ideal” (Diener, Emmons, Larsen & Griffin, 1985). Atau skala tersebut dapat menyediakan sebuah seri dari gambar wajah kartun yang bervariasi dari wajah dengan senyum yang lebar sampai muka yang sangat cemberut dan meminta orang untuk memilih ekspresi mana yang sesuai dengan apa yang mereka rasakan tentang hidup mereka. (Andrews & Withey, 1976).

Kestabilan Kesejahteraan Subjektif

Untungnya, penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup seseorang adalah relatif stabil (Costa & McCrae, 1984, 1988; Diener, 1994). Bahkan, beberapa studi juga telah menemukan bahwa hasil penilaian pribadi kepuasan hidup dan kebahagiaan adalah cukup stabil sampai enam tahun setelah tes dilakukan (korelasi 0,40 sampai 0,50 bervariasi antara waktu 1 dan waktu 2) (Diener & Lucas, 1999). Yang lebih menarik yaitu studi mengenai sifat personal yang berhubungan dengan kesejahteraan subjektif telah menunjukkan bahwa kestabilan yang dapat dipahami dari sifat-sifat tersebut dapat bertahan sampai tiga puluh tahun (Costa & McCrae, 1986). Dalam studi kreatif yang berhubungan dengan kestabilan kebahagiaan, LeeAnn Harker dan Dacher Keltner (2001) baru-baru ini menemukan bahwa jumlah emosi positif yang diekspresikan oleh para gadis dalam foto di buku tahunan sekolah menengah atas mereka – diukur berdasarkan senyum mereka – secara bermakna berhubungan dengan kebahagiaan subjektif mereka tiga puluh tahun setelahnya.

Kejadian dalam hidup, mood dan fluktuasi setiap hari memiliki pengaruh terhadap bagaimana orang tersebut mengevaluasi kesejahteraan subjektifnya dari hari ke hari. Meskipun pengukuran berdasarkan penilaian pribadi adalah sangat umum dan meminta orang untuk menilai hidupnya secara lebih global, cara pengukuran ini masih dapat memberikan titik awal yang dapat diterima oleh penelitian ilmiah.

Diener (1984) mencatat bahwa pada tahun 1967 artikel penelitian yang dipublikasikan yang berhubungan dengan kebahagiaan adalah relatif sedikit. Lima belas tahun kemudian, jumlah itu telah meningkat secara drastis menjadi lebih dari 700. Saat ini, ada sebuah database online mengenai penelitian tentang kebahagiaan yang memuat lebih dari 5000 artikel (Veenhoven, 1999). Sekarang, penelusuran tentang kesejahteraan subjektif merupakan area penelitian yang dikenal dalam psikologi dan hasil dari studi tersebut nampak dalam banyak jurnal profesional. Beberapa di antaranya, seperti Journal of Happiness Studies (Jurnal tentang Studi-studi Kebahagiaan), sepenuhnya didedikasikan untuk penelitian tentang kebahagiaan dan kesejahteraan subjektif.

Kebanyakan Orang Bahagia atau Tidak?

Secara mengejutkan, studi kesejahteraan subjektif di banyak negara-negara industri Barat secara rutin menemukan bahwa sebagian besar orang menilai hidup mereka “di atas rata-rata”. David Myers (2000) melaporkan sebuah survei yang dilakukan Pusat Penelitian Opini Nasional, yang telah menemukan bahwa 60 persen warga Amerika Serikat mendeskripsikan diri mereka sendiri sebagai “agak bahagia” dan 30 persen lainnya berkata bahwa mereka “sangat bahagia”. Hanya 10 persen yang berkata bahwa mereka “tidak terlalu bahagia”. Laporan kesejahteraan subjektif pada lebih dari sejuta orang di 45 negara menunjukkan bahwa rata-rata penilaian pribadi secara global atas kesejahteraan subjektif adalah mengesankan yaitu 6,75 dalam skala 10 angka (lihat Myers & Diener, 1995; Myers, 2000). Oleh sebab itu, ketika mempelajari tentang penyebab dan korelasi mengenai kebahagiaan, tidaklah terlalu penting untuk mencari tahu individu-individu mana yang benar-benar merasa bahagia.

Teori Top-Down dan Bottom-Up

Ketika mempelajari tentang topik kepuasan dalam hidup, ada dua pendekatan umum untuk mempertanyakan tentang apa yang penting dari kebahagiaan. Pendekatan yang pertama yaitu bahwa kebahagiaan dan kepuasan tergantung pada jumlah kesenangan dan momen-momen bahagia (Diener, 1984). Dalam perspektif ini, yang dikenal sebagai teori bottom-up, kesejahteraan adalah penjumlahan pengalaman-pengalaman positif dalam kehidupan seseorang. Teori tersebut mengasumsikan bahwa orang menciptakan penilaian pribadi tentang kesejahteraan subjektif dengan cara menjumlahkan bebagai macam keadaan eksternal dan kemudian membuat penilaian. Semakin banyak peristiwa yang menyenangkan yang dialami, seseorang akan semakin merasa bahagia. Perhatikan bahwa jika perspektif bottom-up adalah benar, maka usaha untuk meningkatkan kesejahteraan harus difokuskan pada pengubahan lingkungan dan untuk meningkatkan kebahagiaan harus difokuskan pada pengubahan persepsi seseorang, kepercayaan atau sifat-sifat personal.

Teori top-down didukung oleh studi-studi yang menemukan bahwa sifat personal tertentu, perilaku dan persepsi pribadi sangat berhubungan dengan penilaian pribadi seseorang tentang kesejahteraan hidup (lihat DeNeve & Cooper, 1998; Diener & Lucas 1999). Ketika Diener dan Larson (1984) membandingkan antara pendekatan top-down dan bottom-up, mereka menemukan bahwa 52 persen dari variasi nilai kebahagiaan merupakan hasil dari kepribadian dan hanya 23 persen yang diakibatkan penjumlahan peristiwa-peristiwa menyenangkan. Pada studi yang serupa, peneliti lain menemukan bahwa lebih sedikit lagi efek dari variabel peristiwa yaitu 8-15 persen (Diener, Suh, Lucas & Smith 1999; Lyubomirsky, 2001).

Lebih banyak lagi studi yang dilakukan belakangan ini menemukan bahwa keadaan hidup yang objektif dan sifat-sifat personal dapat berinteraksi dalam berbagai cara tergantung pada pengukuran kesejahteraan yang dipergunakan dan pada tipe penilaian yang dilakukan pada seseorang. (Headey, Veenhoven & Wearing, 1991; Leonardi, Spazzafumo, Marcellini & Gagliardi, 1999). Misalnya, penghasilan, mahasiswa atau pensiunan, pekerjaan, pernikahan.

Prediktor Kesejahteraan Subjektif

Oleh WangMuba pada 17.May, 2009, dalam ARTIKEL, Psikologi Positif

Jika tidak ada kesulitan menemukan orang-orang yang cukup bahagia (paling tidak di banyak negara industri Barat), maka apa yang mungkin memprediksikan kesejahteraan subjektif? Penelusuran kebahagiaan dan kepuasan hidup telah memunculkan sejumlah variabel yang dapat dipercaya mengenai kebahagiaan dan kepuasan hidup. Berbagai review dari literatur telah lengkap dan konsensus umum telah berkembang tentang prediktor yang paling kuat dalam kesejahteraan subjektif. Keenam variabel inti yang paling tepat memprediksikan kebahagiaan dan kepuasan hidup – paling tidak di budaya industri Barat (Argyle, 1987; Myers, 1992; Diener et al., 1999) adalah :

Harga Diri

Campbell (1981) menemukan bahwa harga diri merupakan prediktor yang paling penting untuk kesejahteraan subjektif. Harga diri yang tinggi membuat seseorang memiliki beberapa kelebihan termasuk pemahaman mengenai arti dan nilai hidup. Hal itu merupakan pedoman yang berharga dalam hubungan interpersonal dan merupakan hasil alamiah dari pertumbuhan seseorang yang sehat (Ryan & Deci, 2000).

Menariknya, hubungan yang kuat antara harga diri dan kebahagiaan tidak ditemukan secara konsisten di beberapa negara. Khususnya, di negara-negara dengan sistem kolektif seperti China, dimana otonomi dan tuntutan pribadi dikesampingkan setelah kesatuan keluarga dan sosial, harga diri merupakan prediktor yang kurang penting dalam kesejahteraan (Diener & Suh, 2000). Terakhir, juga mungkin bagi seseorang untuk mempunyai harga diri yang terlalu tinggi. Rasa harga diri yang terlalu tinggi terdiri dari evaluasi pribadi yang positif tetapi sekaligus juga bersifat rapuh (fragil). Kerapuhan bersumber dari evaluasi pribadi yang positif yang didasarkan pada pengenalan diri yang tidak realistis atau rapuh terhadap celaan atau tuduhan dari diri sendiri.

Rasa tentang Pengendalian yang Dapat Diterima

Perasaan untuk memiliki pengendalian personal dapat diartikan sebagai kepercayaan bahwa seseorang memiliki beberapa tolok ukur pengendalian atas kejadian-kejadian dalam hidup yang penting bagi dirinya. Sebagai tambahan, tanpa rasa ini, hidup akan dipenuhi oleh kejadian-kejadian yang kacau balau, dimana sebagian besar orang akan menjadi tertekan karenanya. Kebutuhan akan pengendalian yang dapat diterima mungkin menjadi kebutuhan sejak dini (Ryan & Deci, 2000). Meskipun begitu, hal ini tidak berarti seseorang harus mengendalikan sepenuhnya seluruh peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Seseorang dengan tempat pengendalian internal yang kuat cenderung menganggap hasil sebagai akibat dari usaha sendiri daripada akibat faktor-faktor luar maupun kesempatan.

Banyak peneliti saat ini melihat faktor ini sebagai pengendalian personal. Peterson (1999) mendefinisikan pengendalian personal sebagai “anggapan seseorang bahwa dirinya dapat bersikap dengan cara memaksimalkan hasil yang baik dan meminimalkan hasil yang buruk” (hal. 288). Lebih jauh lagi, rasa tentang pengendalian personal “menguatkan emosi, motivasi, kebiasaan dan kekuatan psikologis sesuai dengan kebutuhan” (Peterson & Stunkard, 1989, hal. 290). Salah satu kontradiksi yang timbul mengenai pengendalian sebagai sebuah faktor dalam kesejahteraan subjektif datang dari agama. Orang yang religius percaya bahwa Tuhan memiliki kendali utama dalam hidup mereka. Slogan dari Perang Dunia ke-2 adalah “Tuhan adalah co-pilot saya” dan para santo menyatakan “Bukan kehendakku melainkan kehendak-Mu” adalah contoh dari tempat pengendalian eksternal yang menuju kepada kesejahteraan yang lebih baik. Meskipun begitu, hal ini mungkin yang disebut oleh Rothbaum, Weisz dan Snyder (1982) sebagai pengendalian sekunder. Dengan pengendalian sekunder, orang dapat memperoleh rasa tentang pengendalian dengan menghubungkan dirinya dengan seseorang, ahli filosofi atau sistem yang mereka lihat lebih berkuasa dibandingkan dirinya sendiri.

Sifat Ekstrovert (Terbuka)

Beberapa studi bahkan melaporkan korelasi 0,80 antara sifat ekstrovert dan kebahagiaan yang dinilai oleh diri sendiri (Fujita, 1991). Juga, sifat ekstrovert telah dipergunakan untuk memprediksi tingkat kebahagiaan sampai tiga puluh tahun setelah tes awal dilakukan (Costa & McCrae, 1986). Sementara variabel ini secara konsisten dihubungkan dengan kesejahteraan subjektif, tidak berarti bahwa seseorang dengan sifat introvert selalu merasakan depresi dan bosan. Misalnya, ketika Larsen dan Kasimatis (1990) meminta para mahasiswa untuk mencatat mood harian mereka selama seminggu, mahasiswa berkepribadian ekstrovert melaporkan tingkat rata-rata 2,0 pada skala dimana nol adalah “netral” dah 3,0 adalah “bahagia”. Para mahasiswa introvert melaporkan tingkat rata-rata sedikit di atas 1,0 selama seminggu. Sehingga meskipun orang ekstrovert menilai diri mereka sendiri lebih bahagia daripada orang introvert selama satu minggu itu, kedua kelompok melaporkan tingkat kebahagiaan di atas titik netral. Yang menarik, Larsen dan Kasimatis juga menemukan bahwa tingkat mood positif mulai naik setelah hari Rabu (tengah minggu) dan turun lagi setelah hari Minggu. Hal ini penting untuk menegaskan fakta bahwa orang introvert juga rata-rata berada di atas titik netral karena sifat ekstrovert merupakan sifat yang diwariskan.

Studi-studi yang dilakukan belakangan ini juga melihat bagaimana sifat ekstrovert berpengaruh pada kesejahteraan. Para peneliti pada awalnya berpendapat bahwa komponen sosial sifat ekstrovert adalah hal yang paling berhubungan dengan kesejahteraan (Bradburn, 1969). Para peneliti percaya, karena orang yang lebih banyak bergaul memiliki kesempatan yang lebih besar untuk sebuah hubungan yang positif dengan orang lain dan lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan umpan balik positif mengenai dirinya dari orang lain, ini diartikan sebagai kesejahteraan yang lebih baik.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa orang ekstrovert cenderung berada pada tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi karena mereka mempunyai kepekaan yang lebih besar terhadap imbalan yang positif (Rusting & Larsen, 1998) atau mungkin mereka mempunyai reaksi yang lebih kuat terhadap peristiwa yang menyenangkan (Larsen & Ketelaar, 1991). Penemuan ini mendukung teori pengaruh genetik pada sifat ekstrovert. Anda juga mengetahui bahwa prediktor kesejahteraan subjektif yang lain – neurotisme – juga memiliki komponen genetik yang bermakna.

Optimisme

Pada umumnya, orang yang lebih optimis tentang masa depannya dilaporkan merasa lebih bahagia dan puas atas hidupnya (lihat Diener et al., 1999). Sebagai keterangan mengenai variabel-variabel lain yang telah dibahas, hal ini membuat semuanya menjadi masuk akal. Orang yang mengevaluasi dirinya secara positif beranggapan bahwa dia dapat mengendalikan aspek-aspek penting dalam hidupnya dan orang yang berhasil dalam berinteraksi tampaknya akan memandang masa depan dengan penuh harapan dan ekspektasi positif.

Seperti pengendalian personal, konsep optimisme dapat dilihat dari berbagai sudut pandang (Peterson, 2000). Optimisme dapat dipandang sebagai optimisme disposisional atau ekspektasi global dimana sesuatu akan menjadi lebih baik di masa depan (Scheier & Carver, 1987, 1992). Optimisme juga dapat dilihat sebagai harapan atau anggapan bahwa tindakan seseorang dan ketekunan akan membuat tujuan dapat tercapai (Snyder, 1994, lihat Bab 2). Terakhir, optimisme dapat dilihat sebagai cara penjelasan atau sebuah cara dimana orang menerangkan penyebab peristiwa untuk dirinya sendiri. Misalnya Seligman (1990), mengemukakan bahwa orang dapat belajar untuk menjadi lebih optimis dengan cara memperhatikan bagaimana mereka menjelaskan pada diri mereka sendiri peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Seligman menyebut proses ini sebagai optimisme yang dipelajari (learned optimism).

Sandra Schneider (2001) mengemukakan bahwa ada sebuah alternatif lain yang disebut optimisme realistik. Menurut Schneider, optimisme realistik adalah pikiran optimis yang tidak lari dari kenyataan : “Optimisme realistik didasarkan pada pengujian realitas secara teratur untuk meng-update penilaian pertumbuhan, pemahaman seseorang dengan baik terhadap peluang yang potensial, memperbaiki model sebab-akibat dari kondisi-kondisi yang ada dan mengevaluasi ulang langkah-langkah yang sudah direncanakan. Ini termasuk perhatian kepada umpan balik yang berasal dari lingkungan maupun sosial tentang apakah anggapan tersebut secara masuk akal masih mungkin untuk terjadi” (hal. 257).

Tetapi, karena optimisme adalah sebuah kepercayaan, optimisme bisa menjadi sebuah kepercayaan yang keliru. Contohnya, banyak orang percaya bahwa risiko mereka terserang kanker, sakit jantung ataupun bercerai adalah lebih rendah daripada risiko mereka untuk mengalami kejadian tersebut secara statistik (Weinstein, 1980). Tipe optimisme yang tidak realistik ini menciptakan perasaan yang keliru tentang keamanan dan bias dalam persepsi terhadap risiko yang pada kasus-kasus tertentu dapat berakibat fatal. Secara umum, optimisme harus realistik agar dapat membantu membantu perkembangan kesejahteraan dalam jangka panjang (Schneider, 2001).

Hubungan yang Positif

Hubungan yang positif antara kesejahteraan subjektif yang tinggi dan kepuasan terhadap keluarga serta teman adalah salah satu dari sedikit hubungan yang ditemukan secara universal dalam berbagai studi lintas budaya mengenai kesejahteraan (Diener, Oishi & Lucas, 2003). Pada umumnya, ada dua aspek yang berkaitan dengan hubungan sosial yang positif, yaitu : dukungan sosial dan keintiman emosional. Beberapa studi (lihat Sarason & Pierce, 1990) telah mencatat pengaruh positif pada kesejahteraan yang dapat ditimbulkan oleh dukungan sosial yang baik Anggapan bahwa seseorang berada dalam hubungan sosial yang mendukung dikaitkan dengan harga diri yang lebih tinggi, keberhasilan mengatasi stres, kesehatan yang lebih baik dan lebih sedikit masalah psikologis yang timbul. Seperti yang akan kita lihat dalam Bab 6, dukungan sosial juga memiliki pengaruh yang positif pada status kesehatan fisik. Yang menarik, salah satu studi menemukan bahwa ada peningkatan efek pada kesejahteraan subjektif untuk harga diri yang positif, optimisme dan pengendalian perasaan (Aspinwall & Taylor, 1992).

Keintiman Emosional

Prediktor ini lebih kuat dari prediktor lain seperti kesejahteraan secara materi, kesehatan dan kesenangan. Ed Diener dan Martin Seligman (2002) memutuskan untuk mencari 10 persen dari mahasiswa yang paling bahagia sebagai sampel untuk menemukan faktor yang membedakan antara mereka dengan mahasiswa lain yang merasa tidak bahagia ataupun hanya merasa bahagia dalam tingkat sedang. Salah satu faktor yang menonjol adalah bahwa kelompok yang paling bahagia memiliki kehidupan sosial yang luas. Pada studi tentang persahabatan, Parlee (1979) menemukan bahwa pengalaman yang paling sering dilaporkan (90 persen) oleh kelompok pertemanan perempuan adalah memiliki percakapan yang intim. Meskipun ada asumsi budaya tertentu tentang laki-laki dan keintiman emosi, mempunyai percakapan yang intim adalah hal kedua yang paling sering dilaporkan (80 persen) dalam pengalaman pertemanan kaum laki-laki.

Kontak Sosial

Seseorang mungkin bertanya-tanya apakah orang lebih suka bersama-sama dengan orang lain ketika mereka merasa bahagia atau ketika mereka merasa sedih. Salah satu studi bertanya kepada orang dalam situasi apa mereka memilih untuk berada sendirian atau bersama orang lain (Middlebrook, 1980) dan menemukan bahwa kebanyakan orang lebih ingin bersama orang lain ketika mereka merasa bahagia. Karena kontak sosial yang positif tampaknya juga dapat meningkatkan kesejahteraan, hubungan antara kesejahteraan subjektif dan hubungan sosial yang positif dapat bersifat timbal balik.

Pemahaman tentang Arti dan Tujuan

Sejumlah studi telah menemukan bahwa orang-orang dengan iman terhadap agama yang lebih kuat, yang lebih memandang penting agama dalam hidupnya dan yang lebih sering mengikuti ibadah keagamaan dilaporkan memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Tentu saja, salah satu alasan dari penemuan ini adalah karena agama memberikan arti pada orang-orang. Jelaslah bahwa agama juga dapat menghilangkan kecemasan yang ada dan rasa takut akan kematian. Meskipun begitu, perhatikan bahwa pemahaman tentang arti dan tujuan hidup tidak harus selalu dikaitkan dengan kepercayaan yang religius (lihat McGregor & Little, 1998; Compton, 2000).

Penyelesaian Konflik dalam Diri atau Neurotisme yang Rendah

Mari kita mengingat kembali bahwa komponen mayor ketiga dari kesejahteraan subjektif adalah hubungan yang berbanding terbalik dengan emosi negatif dan neurotisme : semakin rendah neurotisme, semakin tinggi tingkat kesejahteraan subjektif. Dalam banyak hal, prediktor ini merepresentasikan hubungan tersebut. Para peneliti telah menemukan bahwa semakin sedikit kepingan diri atau integrasi yang lebih baik dan kesesuaian antara berbagai aspek dalam satu pribadi, maka semakin tinggi kesejahteraan subjektif seseorang (Donahue, Robins, Roberts & John, 1993). Maka dari itu, integrasi personal mungkin menjadi deskripsi yang lebih baik tentang apa yang dimaksud oleh prediktor kesejahteraan subjektif ini. Integrasi personal menyebabkan koordinasi yang lebih baik antara aspek diri sendiri, bersama-sama dengan toleransi yang lebih besar untuk membedakan aspek personal seseorang. Sebagai peringatan, penemuan ini mungkin hanya dapat diaplikasikan pada budaya individualis atau pada orang-orang yang memiliki nilai otonomi dan individualisme (Suh, 1999).

Faktor-Faktor yang Meningkatkan Kesejahteraan Subjektif

Oleh WangMuba pada 17.May, 2009, dalam ARTIKEL, Psikologi Positif

Lebih jauh, fakta menunjukkan bahwa beberapa prediktor dari diri seseorang dapat menyebabkan seseorang merasa lebih bahagia dan puas atas hidupnya. Hal ini terutama menyangkut sifat ekstrovert, hubungan yang positif, pemahaman tentang arti dan tujuan hidup dan rendahnya neurotisme (Argyle, 1999; Diener & Lucas, 1999). Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana faktor-faktor kepribadian ini dapat berpengaruh pada kesejahteraan subjektif? Bagaimana variabel-variabel ini dapat mempengaruhi hidup kita secara konsisten dan akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan subjektif kita?

Apakah Anda Seharusnya Merasakan Emosi secara Lebih Intens atau Lebih Sering?

Penelitian tentang kesejahteraan subjektif membantu untuk menegaskan sejumlah poin penting tentang emosi positif dan kebahagiaan. Yang pertama, studi telah meneliti apakah frekuensi atau intensitas dari perasaan positif dapat menimbulkan kebahagiaan. Apakah seseorang merasa lebih bahagia jika merasakan hal-hal positif sedikit demi sedikit setiap harinya atau merasa sangat bahagia hanya sekali dalam sebulan? Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi dan intensitas adalah kontribusi terhadap kesejahteraan subjektif yang berdiri sendiri-sendiri (Diener, Larsen, Levine & Emmons, 1985). Bagaimanapun juga, perasaan yang konsisten tentang kesejahteraan secara umum memiliki efek menguntungkan yang lebih banyak daripada perasaan gembira berlebihan yang hanya kadang-kadang saja dialami. Ini dapat terjadi karena pengalaman emosional yang intens cukup jarang terjadi dan bukan merupakan penyebab kesejahteraan sehari-hari. Novel dan film mengenai romantisme yang singkat tapi menggairahkan atau seorang atlit yang berjuang dan menderita seringkali membakar imajinasi populer. Kenyataannya, sejumlah kecil perasaan positif tiap hari lebih memberikan hasil dalam jangka panjang daripada sejumlah besar emosi positif yang tidak teratur.

Penelitian juga menunjukkan bahwa intensitas emosi positif dan negatif adalah berhubungan (Diener, Larsen, Levine & Emmons, 1985). Dengan kata lain, seseorang yang cenderung untuk merasakan kegembiraan berlebihan juga akan cenderung merasakan kesedihan yang berlebihan. Hal ini juga dipengaruhi oleh usia seseorang. Jelasnya, orang muda cenderung merasakan emosi yang lebih dalam daripada orang yang lebih tua, tetapi orang tua cenderung lebih puas dengan hidupnya (lihat Argyle, 1999). Gender juga dapat menjadi faktor dimana kaum perempuan dilaporkan merasakan emosi lebih dalam daripada kaum laki-laki.

Kognisi : Apakah Gelas itu “Setengah Penuh atau Setengah Kosong?”

Teori kognitif tentang kesejahteraan subjektif menyatakan bahwa tingkat kesejahteraan subjektif yang lebih tinggi merupakan hasil dari bagaimana seseorang mengolah informasi mengenai diri mereka sendiri, orang lain dan lingkungan sekitarnya. Peristiwa dalam hidup yang menyebabkan kebahagiaan atau ketidakbahagiaan tidaklah penting. Yang penting adalah bagaimana kita menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tersebut yang dapat benar-benar membuat kita memiliki perasaan yang lebih positif dan optimis. Hamlet, karya Shakespeare, mengekspresikan gagasan ini ketika dia berkata “Tidak ada hal yang baik ataupun buruk, tetapi pikiran kita membuat hal-hal tersebut terjadi”. Bahkan sebelumnya, Epicetus, seorang Romawi yang hidup di abad pertama Masehi, berkata “Orang tidak terganggu oleh hal-hal, tetapi oleh pandangan mereka terhadap hal-hal tersebut”.

Bagaimana Kognisi menciptakan Harga Diri yang Positif

Salah satu aspek yang menarik dari harga diri adalah bahwa harga diri merupakan penilaian yang kita buat tentang diri kita sendiri. Karakteristik ini disebut self-reflexivity yang artinya kita dapat membuat diri kita sendiri menjadi objek kesadaran dan mengevaluasinya dari sudut pandang yang berbeda. Ketika kita mulai mengevaluasi diri kita sendiri, kita menyadari perlunya sebuah pembanding atau standar untuk mengetahui nilai diri kita sendiri. Penelitian mengenai diri sendiri menunjukkan bahwa apa yang kita pilih untuk dibandingkan dengan diri kita berhubungan erat dengan harga diri kita, seperti juga dengan ingatan masa lampau dan ekspektasi kita untuk masa depan.

Proses Pembandingan Sosial dan Kesejahteraan

Jika perasaan kita tentang harga diri berkaitan erat dengan penilaian terhadap diri kita sendiri, maka standar apa yang kita gunakan untuk membuat pembandingan tersebut? Greenberg, Pyszcynski dan Solomon (1986) mengemukakan bahwa standar perilaku sosial dan budaya yang membentuk konteks perbandingan dan standar nyata yang kita gunakan untuk menilai diri kita sendiri. Hasilnya menentukan persepsi kita tentang nilai dan harga diri.

Salah satunya adalah dengan cara membuat standar internal mutlak tentang seperti apa kita seharusnya kemudian mengukur seberapa dekat kita dari standar tersebut. Banyak dari penelitian mengenai proses pembandingan ini melihat perbedaan antara diri kita sebenarnya (hal-hal yang kita miliki sekarang) dengan diri kita yang ideal (hal-hal yang seharusnya kita miliki). Studi telah menemukan bahwa semakin sedikit perbedaan antara diri kita sebenarnya dengan diri kita secara ideal maka semakin tinggi harga diri kita dan kita semakin merasa sejahtera.

Cara yang kedua adalah dengan membandingkan diri kita dengan orang lain. Jenis proses pembandingan sosial ini adalah salah satu jenis yang paling sering kita gunakan untuk mengevaluasi diri kita sendiri. Ketika kita membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain, kita dapat memilih orang lain yang mirip dengan kita (pembandingan sosial tipe lateral), orang yang dipandang lebih baik dari kita dalam beberapa hal (pembandingan sosial tipe upward) atau orang yang kita anggap kurang beruntung dibandingkan diri kita (pembandingan sosial tipe downward).

Studi telah menemukan bahwa orang yang dilaporkan lebih bahagia cenderung lebih sering menggunakan pembandingan sosial tipe downward daripada tipe upward (Lyubomirsky & Ross, 1997). Misalnya, kita tahu bahwa bintang film pada umumnya tampil lebih menarik dibandingkan kita sebagai orang biasa, tapi orang yang dilaporkan memiliki tingkat kebahagiaan lebih tinggi kemungkinan tidak menggunakan bintang film atau peragawan-peragawati sebagai standar pembanding. Bahkan, tingkat kesejahteraan yang dimiliki orang-orang yang bahagia akan naik seiring dengan kenaikan jumlah pembandingan sosial tipe downward.

Bagaimana Harga Diri Dipertahankan

Proses mempertahankan harga diri meliputi sejumlah tujuan antara lain penilaian dan evaluasi, seperti juga peningkatan rasa harga diri pada diri kita. Salah satu tujuan adalah mencari evaluasi diri yang menyenangkan atau proses peningkatan diri. Studi telah menunjukkan bahwa orang yang dilaporkan memiliki harga diri yang tinggi biasanya menggunakan lebih banyak proses peningkatan diri (Sedikides, 1993). Ketika mereka mengevaluasi diri mereka, biasanya mereka menyukai informasi yang akan meningkatkan harga diri positif yang sudah mereka punyai. Seperti yang akan dibicarakan secara singkat, informasi ini belum tentu benar, bahkan sesekali hanyalah sebuah pujian. Yang menarik, kecenderungan terhadap bias dalam persepsi diri ini tidak secara konsisten ditemukan pada budaya Asia atau juga dapat ditemukan walau hanya dalam tingkat yang lemah (lihat Diener, Oishi & Lucas 2003). Hal ini merefleksikan kecenderungan yang lebih besar bahwa dalam budaya Asia dijunjung nilai kerendahan hati dan harmoni dalam kehidupan sosial sementara melihat seseorang “lebih baik” dibanding yang lain ditempatkan secara lebih rendah.

Ilusi Positif: Apakah Kita Memerlukan Gelas Berwarna Merah?

Pada abad keempat SM, ahli filosofi Yunani, Demosthenes mengatakan bahwa “Tidak ada yang lebih mudah selain membohongi apa yang kita harapkan dan apa yang benar-benar kita percayai”. Beberapa penelitian provokatif mengemukakan bahwa kebahagiaan, seperti juga harga diri, biasanya tidak dihubungkan dengan persepsi akurat tentang kenyataan (Taylor & Brown, 1988). Kesimpulan ini mengejutkan banyak orang. Mereka melihat dirinya dan masa depannya “melalui gelas berwarna merah (sebagai sesuatu yang indah-indah saja)”. Para peneliti yang setuju dengan kesimpulan ini menganjurkan bahwa memiliki bias positif antara dirinya dan masa depannya adalah hal yang lebih baik untuk kesehatan mental dibandingkan evaluasi yang valid dan akurat. Dalam bidang psikologi, fenomena ini disebut memiliki ilustrasi positif tentang diri sendiri. Taylor dan koleganya juga menemukan bahwa ilusi yang positif dapat dikaitkan dengan hasil kesehatan fisik yang lebih baik dan kemampuan mengatasi penderitaan yang lebih baik (Taylor, Kemeny, Reed, Bower & Gruenewald, 2000). Meskipun begitu, penelitian Taylor dan Brown telah memunculkan suatu perdebatan dalam bidang psikologi.

Dalam kenyataannya, studi-studi belakangan ini menemukan bahwa ilusi positif mungkin dapat membantu pada waktu-waktu tertentu, tetapi seharusnya tidak direkomendasikan sebagai strategi universal untuk meningkatkan kesejahteraan. Pertama, dampak dari ilusi positif pada kesehatan mental bergantung pada bagaimana ilusi positif diukur (Kwan, John, Robins, Bond & kenny; 2000; Paulhus, Heine & Lehman, 2000). Contohnya, orang-orang narsis memiliki kecenderungan untuk melihat dirinya melalui sudut pandang yang sangat posisif. Meskipun begitu, orang-orang narsis juga dihubungkan dengan evaluasi yang kurang positif dari orang lain selama ini (Campbell, Reeder, Sedikes & Elliot, 2000).

Apakah seseorang seharusnya menggunakan ilusi positif atau tidak juga tergantung pada penilaian spesifik yang dibuat. Contohnya, kegunaan ilusi positif tampak lebih jelas ketika motivasi untuk menipu diri sendiri adalah tinggi atau ketika seseorang diminta untuk mengevaluasi dirinya dengan standar yang tinggi (Asendorf & Ostendorf, 1998; Robinson & Ryff, 1999).

Kebutuhan atas Pengetahuan yang Akurat tentang Diri Sendiri dan Orang Lain

Baumeister (1989) menunjukkan bahwa mungkin ada “batas optimal untuk ilusi”. Kita mampu untuk kehilangan beberapa keobjektifan jika itu berarti kita mendapatkan lebih banyak optimisme tentang masa depan yang tidak dapat kita prediksi sebelumnya. Jika pilihannya antara melihat gelas “setengah penuh” atau “setengah kosong” dan kita tidak memiliki pengetahuan untuk membuat sebuah keputusan, maka sudut pandang optimis biasanya akan menjadi sebuah penolong. Di sisi lain, kemampuan kita untuk melihat diri kita secara lebih akurat mungkin berhubungan dengan tingkat mula-mula kesehatan jiwa kita. Tingkat kesehatan jiwa yang lebih tinggi dapat dihubungkan dengan persepsi yang akurat tentang kenyataan; ilusi positif tidak sepenuhnya diperlukan bagi kesehatan jiwa yang baik (Compton, 1992; Shedler, Mayman & Manis, 1993).

Pengejaran Tujuan-tujuan

W. Wilson (1967), salah satu pionir penelitian kesejahteraan subjektif, melihat kebahagiaan dan kepuasan hidup sebagai pencapaian tujuan-tujuan kita. Dia menemukan bahwa semakin sedikit jarak antara keinginan dan pencapaian maka semakin tinggi tingkat kebahagiaan. Sedikit ketidaksesuaian ini menunjuk pada seseorang yang kepribadian dan pencapaiannya dalam kenyataan lebih dekat dengan seperti apa mereka seharusnya atau apa yang seharusnya telah mereka capai. Meskipun jelas bahwa seseorang menjadi lebih bahagia ketika mereka dapat mencapai tujuan yang mereka anggap penting, hubungan antara tujuan dan kebahagiaan mencakup area yang lebih luas daripada sekedar mendapatkan apa yang kita inginkan.

Teori Evaluasi

Diener dan Lucas (2000) mengajukan sesuatu yang mereka sebut teori evaluasi sebagai cara untuk mengintegrasikan sejumlah perspektif tentang penyebab kesejahteraan subjektif. Mereka berpendapat bahwa kesejahteraan subjektif ditentukan oleh bagaimana kita mengevaluasi informasi yang datang secara terus-menerus. Kesejahteraan tergantung pada proses kognitif yang sangat aktif yang menentukan dengan cara bagaimana informasi dikelola. Semua hal ini “mempunyai tujuan yang sama, yaitu : mengarahkan seseorang dan memotivasi dirinya kepada tindakan yang adaptif di masa depan”. Diener dan Lucas mengemukakan bahwa, dalam kebanyakan situasi, proses evaluasi yang paling penting adalah yang berhubungan dengan kemajuan kita menuju kepada tujuan yang penting. Bagaimana cara kita mengevaluasi kemajuan kita tergantung pada watak, standar pembanding yang kita pakai untuk mengukur “kemajuan”, mood kita, situasi di sekitar kita dan budaya kita. Titik pusat dari proses ini adalah evaluasi tentang seberapa jauh tujuan penting kita telah tercapai sekarang dan seberapa jauh tujuan itu akan tercapai di masa depan.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image