Cerpen kemanusiaan


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS 明朝”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;} @font-face {font-family:”Century Schoolbook”; panose-1:2 4 6 4 5 5 5 2 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”DejaVu Sans Mono”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-436206849 1342208507 32 0 159 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-fareast-language:JA;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:85.05pt 113.4pt 85.05pt 113.4pt; mso-header-margin:35.45pt; mso-footer-margin:35.45pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Sias yang ingin sekolah

Dibuat Oleh : Nia Mutiara

Tema : kemanusiaan

Namanya Sias,gadis kecil berumur sekitar tujuh tahunan. Sias berasal dari desa pesisir daerah Jawa Barat. Suatu ketika, bibinya dating dari Jakarta. Wah, betapa senangnya sias. Sebab, menurut sias, bibinya itu orang baik. Suka memberi hadiah pakaian bagus bila dating dari Jakarta.

Satu minggu bibi sias menginap. Ketika bibinya hendak kembali ke Jakarta, sias merengek minta ikut. Orangtua sias tidak keberatan, meskipun sebenarnya tidak tahu pekerjaan sang adik. Menurut orangtua sias, kehidupan anaknya dikota akan lebih baik. Syukur-syukur bisa sekolah. Sebab, penghasilan mereka sebagai pelayan amat tidak menentu. Sekadar cukup untuk makan. Itu pun kalau hasil melautnya lumayan.

Perjalanan dari Indramayu sungguh melelahkan sampai ke Jakarta, hari sudah malam. Sias lelah dan ngantuk sekali. Begitu tiba dirumah sang bibi, ia langsung terlelap. Tak begitu memperhatikan, banyak anak sebayanya yang lelap keletihan. Suara azan subuh berkumandang dari langgar dekat rumah. Sudah kebiasaan sias bangun saat subuh, mandi dan langsung sholat.

Usai mandi sias menuju rak baju sederhana untuk mengganti. Rak baju itu terdiri dari dua bagian. Yang atas berisi baju-baju yang masih lumayan bagus. Sedangkan yang bawah, pakaian lusuh yang sobek disana-sini.

Ah, kupakai yang ini saja. Sayang ‘kan mengenakan baju yang masih bagus”, gumam sias sambil mengambil baju di rak bagian bawah.

Tak lama kemudian, bibinya masuk.

Sias sudah siap? Yuk, kita berangkat”, kata bibinya sambil mengusap rambut sias yang sudah disisir rapi. Dan, dicorengnya sedikit wajah sias dengan arang. Sang bibi sejenak terdiam, memperhatikan penampilan sias yang kini seperti pengemis.

Sias sebenarnya anak yang manis dan pintar. Sayang, nasib tidak manis kepadanya. Mudah-mudahan, besar nanti tidak sepertiku ….”, gumam bibinya dalam hati.

Ayo cepat, jangan terlalu lama, teman-teman sudah menunggu”. Sias sungguh tidak menyangka. Didepan telah menunggu lebih dari selusin anak sebayanya. Dan, mereka berpakaian layaknya sebagai pengemis.

Tapi bukan seperti ini cara yang diajarkan Bapak dan Ibu? “, protes Sias.

Apa boleh buat, hari ini sias mendapat pengalaman pertamanya menjadi pengemis. Berjalan tanpa alas kaki di siang terik. Meskipun demikian, mereka sama seperti anak-anak lainnya. Ceria dan penuh canda. Lambat laun, sias ikut larut dalam kceriaan. Sampai di pusat perbelanjaan, ternyata bukan hanya rombongan sias saja yang punya tujuan sama : mengemis. Sias melihat ada beberapa rombongan lain. Masing-masing rombongan wajib menyetor hasil mengemis pada penguasa pengemis diwilayah itu. Sungguh hidup yang berat untuk anak seusia sias.

Dekat WC umum, sias melepas lelah. Dihitungya hasil mengemis hari ini. “Lumayan sudah dapat tiga ribu sembilan ratus rupiah. Mudah-mudahan, sore nanti bisa dapat sepuluh ribu” gumamnya.

Setelah lelahnya hilang. Sias melanjutkan langkah. Kali ini menuju tangga bagian atas menuju pintu masuk restoran ayam goreng luar negeri. Belum sampai sias keatas, seorang ibu keluar dari restoran tersebut. Sias langsung bersiap memasang muka memelas, yang diajarkan teman-teman barunya di Jakarta.

Bu… sedekahnya, Bu…

Namun, ibu setengah tua yang masih terlihat cantik itu malah bertanya.

Siapa nama kamu? Orangtua dimana?

Saya sias, Bu, baru kemarin ke Jakarta ikut bibi. Orangtua saya di desa”, tutur sias yang malu. “Sebenarnya, saya ke Jakarta dengan harapan bisa kesekolah, buka meminta-minta seperti ini”, lanjutnya jujur.

Sekolah? Mau ikut Ibu?

Ada sedikit keraguan dihati sias. Masak, sih, ada orang sebaik ibu itu? Katanya, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing?.

Ayo, antarkan Ibu menemui Bibimu. Ibu juga akan minta izi pada orangtua didesa untuk mengangkatmu jadi anak asuh”, ujar sang ibu menbuyarkan lamunan Sias.

Terbayang dibenak sias, suasana sekolah yang menyenangkan. Hal yang selama ini hanya jadian impian. Ingin sekolah yang rajin supaya Bapak dan Ibunya tidak kekurang modal lagi untuk melaut mencari ikan. Impian yang sederhana.

Teimakasih, Tuhan, telah mengabulkan do’a ku….”, bisik sias yang menatap anak-anak pengemis yang sebayanya.

Kapan mereka bisa seberuntung aku?”, gumamnya.

Sias…. Kamu menangis?” tegur ibu yang sedari tadi menungunya. Sias tidak menjawab, namun langsung memeluk ibu berhati mulia yang telah memberinya harapan untuk bisa sekolah.

VN:D [1.9.22_1171]
Rating: 7.3/10 (12 votes cast)
VN:D [1.9.22_1171]
Rating: +2 (from 4 votes)
Cerpen kemanusiaan, 7.3 out of 10 based on 12 ratings
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image