Aceh, Serambi Mekah Indonesia yang perlu dilestarikan

Pada artikel pertama saya ini,, selain untuk mengerjakan tugas yang diwajibkan dari salah satu mata kuliah.. Ini juga ajang bagi saya untuk belajar membuat artikel-artikel lain nantinya..

Aceh atau sekarang Nanggroe Aceh Darussalam,,

Merupakan provinsi paling utara dari Pulau Sumatera dan merupakan provinsi paling barat dari Indonesia yang ber-ibukota di Kota Banda Aceh.. Provinsi Aceh berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara,, Samudera Hindia di sebelah barat,, Selat Malaka di sebelah timur,, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan..

Mata Pencaharian

Mata pencaharian pokok orang Aceh adalah bertani di sawah dan ladang,, dengan tanaman pokok berupa padi,, cengkeh,, lada,, pala,, kelapa,, dan lain-lain.. Sedangkan masyarakat yang bermukim di sepanjang pantai pada umumnya menjadi nelayan..

Suku Bangsa

Terdapat 10 suku asli dari provinsi Aceh,, yaitu Suku Aceh,, Suku Gayo,, Suku Alas,, Suku Aneuk Jamee,, Suku Melayu Tamiang,, Suku Kluet,, Suku Devayan,, Suku Sigulai,, Suku Haloban suku Pakpak dan Boang,, dan Suku Julu..

Biarpun provinsi ini terdiri dari cukup banyak suku bangsa,, tetapi didalam pergaulan antarsuku bangsa,, mereka jarang sekali menyebut diri mereka sebagai orang Gayo,, Alas,, Tamiang,, dan seterusnya.. Mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai “Orang Aceh”,, sehingga Aceh patut dipandang sebagai suatu sukubangsa besar yang didukung oleh sejumlah sub-suku bangsa dengan identitas masing-masing.. Ciri-ciri ini pula yang mengukuhkan provinsi Aceh sebagai Daerah Istimewa..

Sistem Kepercayaan

Provinsi Aceh termasuk salah satu daerah yang paling awal menerima agama Islam.. Hal itu disebabkan karena letak Aceh yang strategis sehingga menjadi jalur perdagangan.. Nah dari situlah Kebudayaan-kebudayaan Timur Tengah masuk ke daerah Aceh..(termasuk agama Islam yang dibawa oleh para ulama-ulama dan para penjual dari Timur Tengah)..

Oleh sebab itu provinsi Aceh ini dikenal dengan sebutan “Serambi Mekah”,, maksudnya “pintu gerbang” yang paling dekat antara Indonesia dengan tempat dari mana agama tersebut berasal.. Meskipun demikian kebudayaan asli Aceh tidak hilang begitu saja,, sebaliknya beberapa unsur kebudayaan setempat mendapat pengaruh dan berbaur dengan kebudayaan Islam.. Dengan demikian kebudayaan hasil akulturasi tersebut melahirkan corak kebudayaan Islam-Aceh yang khas..

Rumah Adat

Arsitektur bangunan termasuk bentuk rumah adatnya mendapat pengaruh signifikan dari sistem kepercayaan dari masyarakat Aceh itu sendiri.. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Rumoh Aceh..

Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat,, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di barat.. Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka‘bah yang berada di Mekkah.. Selain itu,, pengaruh keyakinan dapat juga dilihat pada penggunaan tiang-tiang penyangganya yang selalu berjumlah genap,, jumlah ruangannya yang selalu ganjil,, dan anak tangganya yang berjumlah ganjil..

Selain dikarenakan pengaruh dari keyakinan masyarakat dan adaptasi terhadap lingkungannya,, keberadaan Rumoh Aceh juga untuk menunjukan status sosial penghuninya.. Semakin banyak hiasan pada Rumoh Aceh,, maka pastilah penghuninya semakin kaya.. Bagi keluarga yang tidak mempunyai kekayaan berlebih,, maka cukup dengan hiasan yang relatif sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali..

Seiring perkembangan zaman yang menuntut semua hal dikerjakan secara efektif dan efisien,, dan semakin mahalnya biaya pembuatan dan perawatan Rumoh Aceh, maka lambat laun semakin sedikit orang Aceh yang membangun rumah tradisional ini.. Akibatnya,, jumlah Rumoh Aceh semakin hari semakin sedikit.. Masyarakat lebih memilih untuk membangun rumah modern berbahan beton yang pembuatan dan pengadaan bahannya lebih mudah daripada Rumoh Aceh yang pembuatannya lebih rumit,, pengadaan bahannya lebih sulit,, dan biaya perawatannya lebih mahal.. Namun,, ada juga orang-orang yang karena kecintaannya terhadap arsitektur warisan nenek moyang mereka ini membuat Rumoh Aceh yang ditempelkan pada rumah beton mereka..

Keberadaan Rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai yang hidup dan dijalankan oleh masyarakat Aceh.. Oleh karena itu,, melestarikan Rumoh Aceh berarti juga melestarikan eksistensi masyarakat Aceh itu sendiri.. Ide pelestarian Rumoh Aceh akan semakin menemukan momentum pasca tsunami yang menimpa Aceh pada taggal 26 Desember 2004.. Pasca tragedi bencana alam tersebut,, beragam orang dari berbagai bangsa datang tidak hanya membawa bantuan tetapi juga membawa tradisi yang belum tentu cocok dengan nilai-nilai yang berkembang di Aceh..

Jadi tentunya kita sebagai bangsa Indonesia wajib melestarikan eksistensi kebudayaan asli Indonesia,, kita ambil salah satu contohnya adalah daerah Aceh yang hampir kehilangan salah satu kebudayaannya(Rumoh Aceh) yang dikarenakan perkembangan zaman..

Sekian..^^

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image