Anjungan : Keindahan Khas Daerah
Untuk artikel pertama mungkin ngambil yang gak terlalu sulit aja ya, soalnya saya masih newbie disini. Artikel ini dikhususkan untuk memenuhi tugas softskill dari kampus yang berupa tugas pembuatan artikel dengan tema bebas dan isi yang berbeda dari yang lainnya seperti yang diumumkan “Harap diperhatikan bahwa tugas yang anda masukkan adalah tugas anda sendiri, kami tidak mentolerir tindakan PLAGIARISME!!!”, semoga aja gak ada yang sama dengan artikel ini disitu.
Saya akan menceritakan salah satu bagian dari tempat wisata dengan keindahan yang dimilikinya serta keindahan dari masing-masing daerah adat yang dimiliki tempat wisata ini. Tempat wisata ini terletak di Jakarta Timur dengan koordinat 6°18′6.8″LS,106°53′47.2″BT. Mungkin sudah bisa ditebak tempat wisata apa yang terdapat disana, yaitu Taman Mini Indonesia Indah.
Pertama sekilas untuk Taman Mini. Taman Mini ini dibangun mulai tahun 1972 dan selesai serta diresmikan pada tahun 1975 oleh Pak Soeharto dengan tujuan utamanya agar dapat membangkitkan rasa bangga dan rasa cinta tanah air pada seluruh bangsa Indonesia. Taman Mini ini biasa ramai pada hari-hari libur atau hari besar, hari libur sekolah, dan hari sabtu dan minggu. Pada hari tersebut pengunjung bisa mancapai 10000-15000 orang, sedangkan pada hari biasa hanya sekitar 5000-6000 orang saja. Info ini saya dapat dari salah satu pegawai Taman Mini bagian anjungan Rumah Adat Kalimantan Timur yang sudah bekerja disana sekitar 5 sampai 6 tahun lamanya.
Disini saya tidak menceritakan Taman Mini secara keseluruhan melainkan hanya membahas bagian anjungannya saja secara umum karena kalau dbahas 1-1 bisa jadi akan panjang sekali ceritanya.
Anjungan? Bukannya anjungan itu ruang komando kapal dimana ditempatkan roda kemudi kapal, peralatan navigasi untuk menentukan posisi kapal berada dan biasanya terdapat kamar nahkoda dan kamar radio? Mungkin itu yang langsung kalian pikirkan ketika mendengar kata tersebut. Namun anjungan disini adalah bagian dari Taman Mini yang digunakan untuk menampilkan bangunan-bangunan rumah adat dan aksesoris atau pakaian yang memiliki ciri khas tradisional dari daerah masing-masing.
Di Taman Mini terdapat kurang lebih sekitar 27 anjungan untuk masing-masing
daerah di Indonesia. Pada tiap anjungan ditampilkan sekitar 2 sampai 4 rumah adat khas dari daerah masing-masing. Bentuknya dibuat sesuai dengan ukuran dan penampilan dari bangunan aslinya. Mulai dari bentuk atap, ragam hias, susunan ruangan, bentuk jendela, tangga, dan detail lainnya. Dan menurut manajemen Taman Mini sendiri ada yang langsung dipindahkan dari daerahnya yaitu rumoh Aceh Cut Meutia yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam.
Selanjutnya dalam tiap-tiap rumah adat tersebut biasa dipamerkan beberapa benda sejarah yang berasal dari daerah masing-masing tersebut seperti pakaian adat, peralatan kesenian, hasil kerajinan tangan, peralatan bercocoktanam, dan benda-benda lain yang merupakan warisan budaya bangsa yang tak ternilai harganya. Tidak hanya untuk dilihat, pengunjung juga bisa memegang beberapa benda yang dipamerkan (tapi tidak untuk dimainkan atau dibawa pulang) dan memperoleh informasi yang diinginkan dan informasi tambahan lainnya seputar benda-benda tersebut.
Benda-benda tersebut didatangkan langsung dari daerah masing-masing sesuai dengan propinsinya. Namun, terkadang beberapa benda tidak dapat dibawa langsung karena beberapa sebab, seperti pembuatan pahatan didinding rumah, sehingga yang didatangkan adalah pengrajinnya itu sendiri dan pengrajin tersebut langsung membuat pahatan tersebut pada rumah dianjungannya masing-masing.
Bila pengunjung ingin membawa pulang aksesoris atau pernak-pernik yang menarik dari propinsi yang berada pada anjungan tersebut, biasanya terdapat penjual aksesoris atau pernak-pernik tersebut yang berada pada standnya yang siap menyediakannya untuk pengunjung. Meskipun penjual tersebut bukan bagian dari anjungan melainkan tamu dari daerah yang diundang oleh anjungan untuk membantu penjualan aksesoris atau pernak-pernik tetapi keberadaannya sangat membantu sekali bagi para pengunjung.
Pada setiap anjungan pasti ada beberapa kerusakan yang diderita baik itu karena cuaca atau ulah iseng dari pengunjung yang nakal. Untuk memperbaikinya dalam hal ini kerusakan kecil biasanya terdapat biaya yang berasal dari Taman Mini itu sendiri tiap tahunnya. Namun untuk renovasi dan biaya renovasi tiap anjungan tersebut biasanya tergantung dari Pemda masing-masing karena tiap anjungan yang ada dikelola oleh Pemda dari propinsi pemilik anjungan tersebut. Perhatian tersebut biasa datang langsung dari Pemda yang terkait atau dari pemberitahuan pengurus anjungan kepada Pemda tersebut.
Hmmm…
Kayaknya cukup sekian dlu aja artikel ini saya tulisnya, berhubung bahan yang ada udah abis. Namun perhatian kita terhadap kebudayaan kita jangan ikutan berhenti disini. Harus terus kita perhatikan kebudayaan yang kita miliki, meskipun bukan dari daerah atau ras atau suku sendiri. Mulai dengan mengunjungi atau mempelajari kebudayaan dari daerah atau ras atau suku sendiri lalu dilanjutkan dengan daerah tetangga kita sampai yang keujung-ujung. Akhir kata dengan mempelajari budaya sendiri, kita sudah dapat mencintai Tanah Air kita tercinta ini.
^^…
Popularity: 1% [?]









