cerpen

Nggak Cuma Kewajiban

“Lin, kapan mau mulai bersihin kamar mandinya?” tanya Ibu dari ambang pintu. Sedikit kesal melihat putri bungsunya masih asyik membaca komik favoritnya sejak bangun tidur tadi.
“Sebentar lagi, Bu.. Tanggung nih,” ujar Lindy tanpa merasa perlu untuk bergegas-gegas di hari Minggu yang cerah ini.
Sampai jam dinding menunjukkan pukul 12.00 Lindy masih asyik di kamarnya sendiri. Dari baca komik, ia beralih ke chatting di internet. Rupanya Lindy mulai melupakan tugas mingguannya untuk membersihkan kamar mandi.
Saat makan siang, ibu masih mengingatkan Lindy pada kewajibannya itu. Lindy hanya mengangguk-angguk saja. Ibu hanya mengangkat bahu dan tidak mengingatkannya lagi. Karena selalu menunda-nunda, akhirnya Lindy lupa mengerjakannya.
Keesokan harinya di sekolah, Lindy bertemu dengan tiga sahabatnya, Arla, Menik dan Diva. Ternyata mereka sedang membahas sesuatu.
“Lagi ngobrolin apa sih?” tegur Lindy kepada mereka.
“Ibunya Didit kemarin masuk rumah sakit dan sampai sekarang masih koma. Kamu nggak dikabarin Didit?” cerita Diva.
“Ah, yang bener? Ibunya Didit yang baik benget dan suka bikinin brownies itu?” mata Lindy membesar tidak percaya.
“Beneran Lin. Kakakku yang kebetulan teman dekatnya Didit yang bilang. Kasihan ya Didit, ayahnya baru saja meninggal sekarang ibunya masuk rumah sakit!” ujar Menik prihatin.
“Emang kenapa sih ibunya Didit bisa sampai koma?” tanya Lindy masih penasaran.
“Katanya sih Beliau terjatuh di kamar mandi dan kepalanya membentur ujung bak mandi.” Jawab Menik lagi.
“Aduh, kok seram banget ya?” ujar Lindy sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya di pipi. Tiba-tiba Ia teringat akan kewajibannya di rumah yang tidak sempat ia kerjakan kemarin gara-gara asyik mengerjakan hal lain. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Sepanjang hari itu ia sulit berkonsentrasi dan ingin segera pulang untuk mengerjakan tugasnya yang ia tunda.
“Buuuu… Lindy pulaaaaang…!” teriak Lindy sesampainya di rumah sambil mencari ibunya.
“Lin… ada apa sih teriak-teriak?”
“Maafin Lindy ya, Bu. Kemarin Lindy cuek dan tidak mendengar perintah Ibu untuk membersihkan kamar mandi. Aku bersihkan sekarang ya, Bu.”
Ibu yang masih sedikit lega karena anaknya masih ingat pada tugasnya itu sempat merasa heran. Tapi setelah itu, Ibu melihat Lindy benar-benar melakukan apa yang dijanjikan.
Sambil menggosok lantai dan dinding kamar mandi, Lindy bersyukur tidak ada anggota keluarganya yang terluka karena kecuekannya itu yang berakibatkan lantainya menjadi licin seperti yang dialami oleh Didit dan ibunya. Sekarang membersihkan kamar mandi bukan lagi kewajiban untuknya, tapi juga bukti perhatiannya kepada keluarga yang sangat dicintai. Tidak pernah ada kata terlambat, bukan?

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image