CERPEN

Namaku Bintang

Namaku Bintang betapa aku beruntung aku bila turut memberi warna malam.

Bandung, 20.00 WIB

Ogie mendengus kesal. Materi momen yang tengah ditekuninya buyar seketika. Sementara Ratu yang acuh tak acuh terus men-debble bola basketnya.

“Heh cowok jelek! Berisik ! Main basket, kan, bisa besok – besok,” teriak Ratu dengan suara dibuat – buat. Tangan kirinyamasih sibuk memainkan bola. Tapi…. ups! Sempat meleset membentur dinding garasi dan justru menimbulkan suara yang lebih keras.

“Ogiiiiik!” lengking Ratu kejam. “sudah malam! Tetanggakan mau istirahat!”

Bah! Dasar Ratu ! Seketika Ogik melirik ke arah Om Win. Papa Ratu tengah melotot ke arahnya dengan kesal. Ia selalu menjadi kambing hitam kesalahan Ratu.

“Aku pulang!” seru Ogik setengah marah sambil membereskan buku – bukunya.

“Selesaikan dulu, belajarmu!” tegas Om Win yang tahu – tahu sudah di belakangnya. Ratu kecekikikan, merasa menang. Ogik hanya diam. Memang, sejak papanya meninggal, mama membuka usaha jahitan di rumah. Dan itu yang memaksa Ogik beralih tempat belajar di rumah Om Win. Menghindari kebisingan. Tapi nyatanya? Ratu membuatnya bising.

“Gik, surat jelek itu datang lagi,” Ratu memecah keheningan.

Ogik melirik sekilas, dan kembali ke soal – soalnya.

“Konyol! Bilang suka, bilang cinta….. Gombal! Pengecut! Beraninya kirim surat tanpa nama,” sungut Ratu tiba – tiba. Ogik terkekeh.

“Apa?” bentak Ratu. “Kamu pikir, aneh kalau ada orang yang menyukaiku ?”

ogik tertawa makin keras. Ditatapnya Ratu lekat – lekat, “ha-ha-ha……”

sosok cewek bulat berambut cepak, kekar, galak, energik yang sepupunya ini…. cowok banget!

“Saya tahu mengapa beliau menyukai anda,” canda Ogik dengan nada formal. Ratu mendongak penasaran.

“Nih, teorinya dibuku ini. Dengar, letak titik tangkap akan lebih dekat ke gaya yang lebih besar.”

“Jadi?”

Ogik kembali tertawa tertahan.

“Ngaca dong, Non. Orang bakal lebih suka, deket sama orang gendut!” ejek Ogik polos.

Brakkkkk! Ratu tidak bersuara, tapi tangannya dengan kasar meraih korek api di atas meja. Dibakarnya surat itu sedikit demi sedikit tanpa bicara.

“Tega kamu,” protes Ogik pelan. Batinnya mendidih. Dirapihkan alat tulisnya segera, lalu Ogik bergegas pulang tanpa pamit. Kertas di tangan Ratu masih separuh. Separuhnya lagi sudah hangus. Ia sendiri bingung, mengantar kepergian Ogik dengan tatapan heran. Mengapa justru Ogik yang marah?

Di luar, Ogik berhenti menikmati malam. Ia duduk di teras rumahnya menatapi bintang seolah mengadukesedihannya. Ratu, jika papaku bukan abang kandung mamamu, tentu surat itu tidak akan ada. Aku akan menyampaikan langsung bahwa aku mencintaimu tanpa mengingat kita adalah saudara sepupu!

Yah, boys will be boys.ada kalanya ia begitu putus asa.

Jakarta, 21.45 WIB

Aktivitas dilokasi Rehabilitasi Sosial Bina Grahita itu sudah lenggang. Dari ujung kamar terdengar nyanyian patah – patah.

“Satu – satu…. aku sayng ibu….. dua – dua… juga sayang ayah…. tiga – tiga…”Ya…Namanya Tyas. Pandangannya terhenti menatap foto dirinya bersama keluarga yang entah sudah berapa tahun ia tinggal.

“Tyas, besog ibumu akan menjemputmu jam delapan.”Terngiang kabar yang di bawa Ibu Kepala tadi pagi. Artinya dia bisa pulang! Masih teringat jelas susah payahnya di akhir minggu ini. Ia musti bisa membaca, harus mau menyanyi, menyelesaikan tugas keterampilan, dan menjaga teman – temannya yang menyeberang jalan. Tapi yang terpenting, dia besok pulang!

Banyak yang menggelitik pikirannya ketika Ibu Kepala memintanya bercerita dua hari yang lalu. Ia menyebut namanya Tyas seperti saat pertama ia datang dulu. Tetapi sampai sekarang ia heran, angka umur dalam bukunya selalu di ubah – ubah oleh ibu – ibu pengasuhnya. Mengapa ia tidak boleh menyebut umurnya 8 tahun seperti saat pertama kali ia datang ? Tyas semakin heran setiap kali ia mendapat tulisan lengkap, “RSBG jalan Kartini Nomor 1 Jakarta,” di saku bajunya. Semua itu untuk apa? Tyas belum kuat menemukan jawabannya. Tapi ia percaya, besok pasti ia pulang!

Mendadak Tyas ingin menemui teman – temannya satu persatu. Namun yang ada, mereka tergelak kelelahan. Di benahi satu persatu selimut mereka, sebagai mana yang biasa di lakukan para pengasuh terhadapnya. Tyas begitu rapuh dalam bayangan pergi dan pulang. Dibukanya tirai jendela pelan, sejenak ia beradu pandang dengan bintang – bintang. Tyas terduduk lama, menangis, antara sedih dan senang. Kembali suaranya kecil terdengar. “Satu – satu….. Aku Sayang Ibu…..”

Malang, 22:37 WIB

Tujuh soal lagi dari sepuluh soal yang di tekuninya. Budi menghela napas panjang, menunggu datangnya ilham. Malam ini harus selesai!

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu.”

Suara cempreng Ade, teman mangkalnya di Bangurasih, membuyarkan konsentrasi Budi.

“Aku tidak boleh mengecewakan Pak Heri,” bisik Budi setengah kesel. Kantuknya sudah tidak bisa lagi ditahan, tetapi pekerjaan rumahnya sudah menunggu untuk di selesaikan.

Sudah satu tahun ini, Pak Heri kepal aagen koran tempat ia bekerja menyekolahkannya. Beliau tidak peduli Budi akan tidur dimana setiap malam tetapu Budi harus sekolH. Itu prinsipnya.

“Si Budi sibk ngapalin buku. Tugas dari sekoh selesai setengah. Sanggupkah si Budi diam didua sisi.”Kembali suara Ade seadanya menyuarakan tembanng lama milik Iwan Fals.

Remang – remang lampu terminal semakin semakin membutakan cahaya pikiran Budi, sementara nyanyian Ade semakin nyaring. Bukan salah Iwan sang pencipta lagu, bukan salah Budi kalau bernama sama dan bukan salah Ade yang mendendangkannya. Namun bayangan kemerdekaan bagi anak – anak seusianya menjadikan Budi kalap karena bernasib tak sama.

Tiba – tiba,” diaaaaaaaaaaaammmmmmmmmmmmm!!!!” teriak Budi tanpa kendali. Tangannya sibuk merobek – robek buku lusuh mengoyak garapannya sendiri yang suah payah ia kerjakan.

Sesaat manusia – manusia terminal menatapnya takjub namun kemudian kembali dalam kesibukannya masing – masing. Budi anak 14 tahun itu menengadah memandang bintang. Kemudian tertunduk frustasi. Malam kelihatan menyala menatap pisau lipat yang biasa di gunakan untuk memotong tali rafia, pengikat satu bagian koran yang musti ia jajakan. Nafas panjangnya turun naik ragu – ragu. Tak sampai semenit nafas itu hilang. Mungkin beritanya akan tercantum pada koran yang seharusnya ia jajakan esok hari.

Namaku Bintang. Malam ini berjuta rasa bercampur menjadi satu menyaksikan episode kehidupan penuh haru biru, menabjubkan, menyedihkan, sekalius mennggelikan.

Namaku Bintang. Kadang mata ku lelah memandang sibuknya manusia memikirkan nasib sendiri – sendiri. Kadang otakku tidak sampai menyimpan memori problematika hidup yang demikian ironis dengan kesenjangan yang beragam. Namun kadang aku bangga karena begitu banyak orang mengagumiku dan ingin menggapaiku.

Rasanya manusia perlu berdoa dalam posisiku untuk turut menyaksikan ragam babak cerita Ogik, Tyas, Budi atau mungkin Budu -Budi yang lain agar mereka tegar, bersyukur, dan peduli. Malam ini sinar ku hanya mampu redup. Namun aku bangga, namaku Bintang .

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image