KREASI PARODI “Dasar Si Bapak”

“Dasar Si Bapak..”

Suatu cerita di sebuah desa kecil yang sedang demam wayang golek, ada seorang laki-laki separuh baya yang ingin mengikuti trend desa nya. Hampir seluruh laki-laki dewasa begadang untuk menonton wayang golek yang ditampilkan tiap tiga hari dalam seminggu yang selalu dimulai tengah malam sampai menjelang Subuh. Laki-laki separuh baya ini sudah punya anak,yang mana ketiga anaknya sebentar lagi lulus sekolah menengah pertama. Si Bapak selalu diomelin istrinya karena hampir tiap malam kerjaannya begadang dan menonton wayang golek sampai subuh.

Sampai suatu hari kondisi Bapak ini kurang fit karena tiap pagi harus pergi ke kebun dan mengirim hasil kebunnya ke koperasi desa. Tapi seperti biasanya, si Bapak ini tetap menonton wayang golek, setelah salat Isha berjamaah di mesjid bersama warga, dan pulang sejenak hanya untuk makan malam, si Bapak langsung menuju tempat wayang golek yang akan ditampilkan.

Sambil menunggu wayang golek mulai, si Bapak minum kopi dan main catur bersama bapak-bapak yang lainnya. Bapak ini sangat aktif, sampai tak sadar kalau sebenarnya si Bapak sudah berumur kepala lima, yang mana kondisinya sudah tak se-fit dulu. Setengah jam sebelum wayang golek mulai, si Bapak sudah menguap dan terlihat sangat letih. Tapi dia tetap tak mau pulang, dia merasa malu, dia takut dibilang tua. Tengah malam tiba, akhirnya wayang golek dimulai, baru setengah jam mulai si Bapak terlihat menguap lagi, akhirnya dia bersandar sedikit ke tiang tenda yang ada disamping kanannya.

Sudah hampir satu jam dia menahan kantuk, tapi matahari belum juga mau datang. Sesekali si Bapak hampir tertidur, tapi bapak-bapak yang lain terus membangunkan, “ah, Bapak payah nih, katanya masih muda, baru mulai udah terkantuk-kantuk begitu..”, kata salah satu bapak yang tidak jauh duduk disampingnya. “kalau nonton wayang golek ga sampai tuntas ,pamali.. pulangnya suka ditemani hantu loh Pak..hahaha”, terdengar sautan dari samping bapak yang tadi bicara dan disusul tawa bapak-bapak yang lain.

Mau tidak mau si Bapak ini pun menahan kantuknya. Karena lelah yang sangat, akhirnya pelan-pelan si Bapak bergeser duduknya ke belakang, saat semua penonton asik melihat wayang golek, si Bapak langsung pergi dan segera pulang. Tempat pewayangannya memang cukup jauh dari rumah, si Bapak harus melewati jembatan dan dua kali turun bukit. Baru sampai di jembatan, si Bapak melihat perempuan memakai kerudung merah dan baju putih nan seksi. Namanya juga laki-laki kalau sudah liat perempuan seksi langsung segar, yang matanya tadi lima watt setelah melihat perempuan cantik langsung jadi seratus watt, terang benderang.

Dengan gayanya yang genit, si Bapak langsung menyapa si perempuan seksi itu, kemudian mengajaknya pulang bareng, baru saja tiga langkah perempuan ini bertanya “mau nemenin saya, Bang?”, sambil menengok ke si bapak itu, dan ternyata muka perempuan itu rata, si bapak terkejut dan langsung lari terbirit-birit sambil berteriak “hantuuuu..haaaa…huwaaa” si bapak lari sekencang-kencangnya, kira-kira sudah agak jauh akhirmya bapak berhenti sejanak dan jalan kembali meneruskan pulangnya. Tidak jauh dari pertigaan jalan si bapak melihat tukang sate, “wah syukur ada orang di sana, tukang sate, sepertinya enak makan sate capek-capek gini” katanya berbisik.

“Tumben ada tukang sate mangkal di sini, boleh deh satu porsi, Pak..” dengan sigap si tukang sate membakar sate daging yang dijualnya itu. Sambil menunggu matangnya sate, si Bapak bercerita kejadian tadi kepada si tukang sate “Pak, tau ga? Tadi saya ketemu cewek seksi, eh ga taunya pas nengok mukanya rata.. waah saya langsung aja lari” si tukang sate yang sedang membakar sate sambil menunduk ini langsung menenggak dan terlihatlah wajahnya yang sejak awal tertutup oleh topi tani yang dia pakai lalu berkata “kaya gini ya, Bang?” . “Waaah….hantu yang tadiiii…” si Bapak langsung terbirit-birit lari lagi. Tidak jauh dari tempat tadi ada delman sedang mangkal, tanpa peduli apapun si Bapak langsung naik delman itu, “ayo pak buruan jalan.. di sana ada hantu muka rata..” kata si bapak sambil terengah-engah. “kaya gini ya, Bang?” kata kusir sambil nengok ke si bapak itu.

“huwaaaa..ampuuuun..” si bapak langsung loncat dan lari ke pesawahan, kemudian lari lagi masuk ke ladang dan sampai di empang, “byuuur….” ”haaaa,,,tolong..tolong…saya tenggelam..toloooong..”. “Pak..Pak…Pak Tisna..Pak..Bangun Pak! ..wayang goleknya sudah habis, bentar lagi juga adzan Subuh..bangun Pak” kata salah satu bapak yang telah menonton wayang golek sambil menyipratkan air ke si Bapak ini karena sulit dibangunkan. “hah…di mana ini?! Mana hantu nya? Mana?? ..” kata si bapak sambil celingak-celinguk. “Hantu apa?” Kata bapak tadi. “Hantu muka rata..” kata si bapak setengah teriak. “Ya ampuun..Bapak bermimpi, Bapak kan semalam tertidur” kata salah satu bapak yang sejak tadi memegangi gelas yang berisi air yang digunakan untuk menyipratkan ke si Bapak itu. “Hahaha…hahhaha…” semua bapak-bapak yang masih di sana tertawa terbahak-bahak. Dengan muka merah si Bapak langsung bergegas pulang, tanpa menghiraukan lagi perkataan bapak-bapak yang terus tertawa.

“Pak, tunggu..” kata bapak yang sejak mulai menonton duduk disamping si Bapak. Si Bapak pun langsung berhenti dan menengok, lalu berkata dengan nada agak kesal tapi malu “apa?”, “ini..kainnya ga dibawa? Udah penuh loh sama pulau-pulau..,hahahaha” kata bapak tadi yang kemudian diikuti tawa bapak yang lainnya. “pulau?!” tanya si bapak yang sering dipanggil Pak Tisna ini. ”Hahahha… Dasar si Bapak” semua hanya tertawa. Semenjak itu si Bapak tidak pernah ikutan lagi menonton wayang, dia malu karena selalu mengantuk, dan istrinya bersyukur akhirnya si Bapak betah di rumah.

Shely Rizkia M (10609047)

1sa02 / Bahasa Indonesia

Oktober 2009

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image