Melihat Lebih Dekat Islam Jahula di Jombang (4)

Melihat Lebih Dekat Islam Jahula di Jombang (4)


Kerap Disangka Aliran Sesat atau Teroris

Alih-alih mengamalkan sunnah Nabi dalam segala hal kehidupan, jamaah tabligh atau yang biasa dikenal islam Jahula ini berpenampilan layaknya orang Arab. Ciri khas mereka adalah memakai sorban dikepala, memelihara jenggot serta berbaju Gamis panjang. Penampilan luar yang beda inilah yang kerap menimbulkan prasangka buruk.

TIDAK hanya penampilan saja yang selalu menimbulkan kecurigaan, kebiasaan khuruj ke berbagai tempat, kerap kali mengundang prasangka buruk masyarakat. Sebagian besar beranggapan Jamaah ini menyebarkan paham sesat serta satu bentuk aliran Islam garis keras yang notabene tidak lepas dari teroris yang belakangan terus mengancam ketentraman sejumlah negara-negara di dunia.
Kecurigaan ini memang beralasan salah satunya adalah kewajiban khuruj yang mesti rela meninggalkan sanak keluarga dan harta benda untuk berdakwah menyebarkan agama Islam ke berbagai belahan dunia. Sebagaimana yang kerap terlihat dipelosok-pelosok Jombang yang lebih dikenal sebagai kota santri. Kendati memiliki seribu pesantren, namun jamaah tabligh juga banyak dijumpai selain di pondok pesantren Midanuttaklim, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto.
Kiai Muhammad Minhaj atau Gus Mad, yang juga Imam Jamaah Tabligh Jawa Timur ini menganggap wajar jika khalayak menganggap Jamaah Tabligh ini sebagai aliran sesat maupun dicurigai sebagai gembong teroris. Karena rata-rata penampilan mereka dianggap aneh. Namun untuk melihat sesuatu, lanjutnya, tidak harus dari kondisi dari luarnya melainkan perlu pendalaman lebih lanjut.
Kiai Mad menegaskan, Jamaah Tabligh bukan aliran sesat dan juga bukan bagian dari gembong teroris. Akan tetapi jamaah yang ingin kembali dan mengembalikan kehidupan manusia untuk kembali menjalani dan menteladani sikap dan kehidupan Rasulallah. Jamaah ini tidak membedakan latar belakang jamaah. Mereka yang ikut jamaah ini ada yang dari NU, Muhammadiyah, LDII bahkan aliran-aliran Islam lainnya.
“Yang penting, siapapun orangnya yang merasa peduli kepada agama Islam boleh ikut,” tukasnya seraya menegaskan jamaah ini tidak mempermasalahkan paham-paham dalam aliran itu.
Pengakuan Gus Mad tentang keanehan para jamaah tabligh dimata umum ini diakui juga oleh Sukirman, salah seorang takmir masjid Al-Amal, Desa Wonokerto, Kecamatan Wonosalam mengaku sempat curiga ketika masjid ditempatnya didatangi oleh puluhan orang berpenampilan layaknya orang Arab. Kejadian itu sekitar tahun 2004 pasca peledakan bom Bali I. Kala itu, menjelang salat Ashar, ada tiga orang berpenampilan aneh itu bertamu ke rumahnya. Mereka meminta ijin untuk ikut menginap dimasjid tersebut selama tiga hari. Karena saat itu lagi santer-santer-nya pemberitaan terkait teroris maka jamaah ini diantarkan untuk bertemu dengan kepala desa dan minta ijin dan kebetulan kepala desa pun mengijinkan. “Kemudian mereka kami antar ke masjid dan di halaman masjid sudah ada rekannya yang menunggu,” cerita Sukirman.
Setelah mendapat ijin dari kepala desa mereka langsung masuk masjid. Dia juga sempat heran melihat barang bawaan para jamaah ini. Selain beberapa pakaian, mereka juga membawa beberapa perlengkapan masak, mulai dari kompor hingga panci. Untuk kegiatan di masjid ini mereka tidak jauh beda dengan warga pada umumnya. Termasuk dalam menjalankan szlat. Hanya saja, Jamaah ini selain manjalankan ibadah mahdhoh (wajib), juga menjalankan ibadah ghoiru mahdhoh (sunnah) yakni, iktikaf, salat sunah, salat malam. Selain itu, setiap selesai salat wajib mereka mengadakan pengajian yang intinya mengajak warga harus bisa meniru sikap perbuatan Rasulallah dalam kehidupan sehari-hari.
“Selain itu, jamaah ini nampak sopan, hal ini terlihat saat meminta ijin tinggal di masjid serta kebiasaan menolong terhadap tetangga, termasuk dalam pemberian materi pengajian,” kenang Sukirman yang sehari-hari berprofesi sebagai petani. Meski tertarik dengan gaya hidup para jamaah ini namun Sukirman lebih memilih berpikir dua kali untuk mengikuti pola hidup islam Jahula apalagi mesti meninggalkan keluarga.(bersambung)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image