Naskah Drama

Judul : Luka Mentari

Pemain : Bude, Marsha, Fani, Bapak, Mas Bimo, Mbak Wina, Jodi, Biru, Laki-laki 1, laki-laki 2, anak kecil 1, Perawat,.

Awan hitam masih menggantung. Hujan semakin deras, berjatuhan ke bumi. Air selokan meluap membanjiri jalanan berlubang. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Marsha mempercepat langkahnya dan melompat kecil melewati parit sebelum sampai di sebuah toko yang penuh dengan orang bereteduh. Marsha mendekap erat map yang dibawanya, berharap berkas laporan jurnal praktikum yang baru saja dikerjakannya bersama Fani tidak rusak terkena air.

Laki-laki 1 : Sepertinya hujan akan berlangsung lama.(menjulurkan tangannya merasakan tetesan air hujan).

Marsha mengangguk sopan, ujung matanya melirik gadis kecil yang berdiri resah di samping bapak itu.

Anak kecil : Kasihan bunda menunggu kita di rumah sendirian, kita harus cepat pulang, yah ! (sambil menarik ujung kemeja ayahnya)

.

Laki-laki 1 : Bunda akan mengerti kenapa kita pulang terlambat. Bersabarlah!

Marsha tersenyum kecil. Wajah anak itu terlihat sangat cemas. Seseskali jari kecilnya memainkan tali baju hangatnya. Ayahnya melingkarkan tangannya di bahu anaknya dan menepuk-nepuk sayang.

Marsha teringat pada is isms yang diterimanya beberapa hari yang lalu yang mengabarkan bahwa ayahnya sedang sakit dan dia ditunngu secepatnya di Jakarta.

Hujan mulai berhenti. Bapak dan anak kecil yang menarik perhatiannya berlalu. Marsha menyetop becak dan segera pulang . Di rumahnya dia hanya tinggal bersama Budenya.

Bude : Dari mana (sambil memotong seledri).

Marsha : Rumah Fani, mengerjakan laporan praktikum. (mencomot perkedel di a tas meja).

Bude masih memotong-motong daun bawang dan seledri, lalu memasukannya kedalam panci. Marsha membantu Budenya, melamun.

Bude : Ada apa, nak?

Marsha : Ngg… tidak apa-apa, Bude (tergagap)

Bude : Wajahmu pucat sekali, kepalamu terasa sakit lagi?

Marsha : Hanya sedikit pusing kok. (berbohong). Mungkin karena akhir-akhir ini Marsha terlalu sibuk mengurus keperluan kuliah lapangan. Gedung dekan yang baru letaknya jauh dari gedung kimia, jadi Marsha harus bolak-balik naik tangga. Lumayan Bude, bikin kaki pegal. (sambil mengusap-usap kakinya).

Bude : Hati-hati! Dokter sudah berpesan agar tidak terlalu capek. Sempatkan untuk beristirahat. Biar temanmu saja yang bergantian mengurusi perijinan itu.

Marsha : Marha kan koordinatornya, Bude. Mana mungkin Marsha lepas tangan begitu saja?.

Bude : Bude mengerti, tapi menjaga kesehatan jauh lebih penting. (dengan nada lembut).

Marsha mengangguk seraya tersenyum. Dalam benaknya dia merasa malu

karena tidak mengatakan yang sebenarnya. Tapi keberanian yang tadi tumbuh di

hatinya menyusut cepat karena tidak yakin budenya akan setuju dengan apa

yang akan di sampaikannya.

Marsha : Bude masih perlu bantuan? (mengalihkan pembicaraan).

Bude : Tidak. Sebentar lagi selesai. Lebih baik kamu pergi ke atas dan mandi den gan air hangat. Nanti Bude sediakan segelas susu cokelat. (kembali memasak)

Marsha beranjak menaiki tangga.

Langit kembali biru, hujan sudah reda. Marsha membuka jendela dan menghirup

udara senja yang terasa segar. Terdebgar bunyi handphone, ada sms dari Fani

yang memintanya untuk meneleponnya.

Marsha : Teleponnya masih diblokir ya? (berbicara di telepon).

Fani : Sori deh. Gara-gara tagihan bulan lalu yang gede banget. Papa sengaja menunda pembayaran telepon. (jawabnya dari seberang telepon)

Marha : Dasar!

Fani : eh, gimana, sha, udah bilang Bude?

Marsha : Mmm.. Belum. Nanti aja deh. Kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat.

Fani : Terus mau kapan? Bude harus tau secepatnya. Ini masalah serius.

Marsha : Tapi apa yang harus aku katakana pada Bude? (berbisik)

Fani : Katakan sejujurnya tentang sms itu. Bude takan keberatan. Bahkan aku rasa beliau akan senag kau mau menemui ayahmu lagi.

Marsha : Entahlah. (Lalu terdiam)

Aku masih sulit untuk melupakan perlakuan bapak Fan, aku selalu i9ngat saat bapak menikahi wanita itu. Ibu seorang istri yang lemah, tak mampu berbuat apa-apa. Setelah bapak meninggalkan kami, kehidupan aku dan ibu semakin terpuruk sampai akhirnya ibu meninggal. Untung saja ada Bude yang mau mengasuh dan menyayangiku. Aku …. Aku… tak tahu… maksudku… (Lalu terdiam lagi, mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak). Aku tidak tahu apakah bisa benar-benar memaafkan bapak.

Fani : Aku mengerti. Hanya saja kamu harus ingat Allah menyukai oerang yang

Pemaaf. Berbakti pada orang tua adalah kewajiban kita, meski orang ua itu zalim. Kepahitan yang kita rasakan akan terendam manakala hati kita lapang dan mengubahnya menjadi kebahagiaan. Aku yakin kamu bisa mengatasinya.

Marsha : Aku harap begitu.

Fani : Bapak satu-satunya orang tuamu yang masih hidup. Pergunakan sebaik-

Baiknya karena keridhoan Allah berada dalam keridhoan orang tua.

Marsha terdiam lantas tertawa kecil.

Marsha : Ominganmu jadi mirip ustad Yusuf sih?

Fani : Marsha, aku serius. (menjerit gemas)

Marsha : Iya! Aku tahu. Makasih, Fan. Kamu selalu membantu dan

Menyemangatiku.

Fani : He he he.. That’s what a friend for!

Marsha : Doakan aku, ya?

Fani : Tentu, aku tunggu ceritamu besok

Marsha menutup telepon. Dia sudah siap mengatakan kepada Bude esok hari.

Keesokan harinya, Marsha menemui Bude yang sedang duduk santai sambil membaca Koran.

Marsha : Bude, kalau boleh Marsha mau ke Jakarta hari sabtu ini. (Berbicara pelan,

nyaris menyerupai bisikan).

Bude : (Memandang Marsha, keningnnya sedikit berkerut. Koran yang dibacanya

diturunkan perlahan). Begitu?

Marsha : (Mengangguk ragu)

Bude : Bude tahu. Dua hari lalu Savitri, ibu tirimu telepon dan minta Bude

membujukmu agar bersedia pergi. (Dengan tenang).

Marsha : Bude… sudah… tahu?

Bude : (Mengangguk)

Marsha : Maaf, Marsha.. Marsha. (tersendat-sendat tak kuasa menahan tangis).

Sehaarusnya dari dulu Marsha mengatakan semua pada Bude…

Bude : Sudahlah Bude mengerti perasaanmu. Tentunya sulit bagimu untuk pergi.

Bude mengerti.

Marsha : Benarkah? (mengusap pipinya lalu tersenyum)

Bude : Tapi seharusnya Marsha tek perlu ijin Bude. (mengelus bahu Marsha).

Marsha : (menangis kembali). Haruskah Marsha pergi kesana? Bapak membenci

Marsha. Bukankah dulu Bapak telah melupakan Marsha? (terisak-isak).

Bude : Jangan berpikir begitu. Tidak ada orang tua yang membenci anaknya.

Marsha : Tapi Bapak selalu menolak bila Marsha ingin menemuinya.

Bude : (terdiam beberapa saat). Mengertilah, Bapakmu seorang manusia yang

tak luput dari kekhilafan. Melihatmu, berarti memandangi kembali monumen kesalahan yang pernah dilakukannya. Bude kira tak semua orang bisa menerima itu dengan lapang dada.

Marsha : Apa Bapak mau menerima Marsha kembali? (lalu melepaskan pelukan

Dari tubuh Bude dan mencari jawaban dari mata Budenya).

Bude : Bude yakin Bapak mengharapkanmu mendampinginya. Hati manusia

selalu berubah-ubah. Hanya Allah yang mampu mengubah hati manusia

sekeras apapun itu. Berdoalah selalu. Allah memberi cobaan agar kita

semakin dekat deengan-Nya. (lalu mengecup kening Marsha dan

menghapus linangan air mata di pipinya dengan penuh kasih sayang).

Marsha : (mengangguk lemah. Kebimbangan dan ketakutannya berkurang).

Bude : Hardoyo pasti merindukanmu. (membelai Marsha). Kau anak baik dan

pintar, selalu membuat Bude bangga. Sarapan dulu. Bude akan

menelepon kakakmu, Bimo, agar mengantarkanmu ke Jakarta, besok.

Hari masih pagi saat Marsha berjalan melintasi lorong putih menuju kamar Bapak yang tinggal satu belokan. Vinka melangkah pelan di belakng Mas Bimo dan istrinya. Marsha menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Wajahnya tampak cemas dan tangannya berkeringat.

Mba Wina : Marsha, sudah sampai.. (memberi tanda agar Marsha mendekat). Ayo!

Kakak iparnya menggandengnya, sementara Mas Bimo masuk dan mengucapkan salam. Dua bangku panjang berderet di depan ruang bertirai hijau. Seorang lelaki bergegas menghampiri mereka.

Jodi : Bapak sudah menunggu kakak di dalam.

Setelah mereka bersalaman. Beberapa orang yang memandan ingin tahu.

Jodi : (memperkenalkna pada mereka). Ini Kak Marsha, putrid Bapak yang

paling besar.

Laki-laki 2 : Pantas saja mirip Biru. Tapi matanya mirip kamu, Jodi. (sambil tersenyum

Ramah kepada Marsha)

Marsha : (mengangguk sopan, lalu menerima baju khusus yang diberikan Jodi

Sebelum masuk ke ruangan Bapaknya).

Marsha masuk ke dalam ruangan Bapak sementara Mas Bimo dan Mbak Wina menunggunya di luar. Seorang perawat memberi tanda agar ia tidak berlama-lama.

Bapak berada di dipan paling ujung. Berbagai jenis kabel menempel di tubuhnya yang kurus dan ringkih. Matanya tertutup, dadanya naik turun tak teratur. Marsha duduk di satu-satunya kursi dan mencoba tidak menangis. Ia memandangi tubuh yang terbaring itu.

Marsha : Pak, ini Marsha. (menggenggam tangan Bapak yang lemah tak bertenaga)

Bapak : (bergerak samara, matanya sedikit terbuka). Mar.. Mar.. M a r s h a.

Marsha : (tenggorokannya tersekat. Air matanya hampir tumpah). Iya, Pak. Ini

Marsha. Marsha sudah datang.(menggigit bibirnya dengan pilu).

Bapak : Te.. ri…ma..ka…sih, Nak. Ba…pak.. (kata-katanya terputus. Matanya

kembali terpejam. Tubuhnya mengejang hebat. Wajahnya yang pucat

semakin bertambah pucat)

Marsha bergegas memanggil perawat. Beberapa perawat berlari mendatanginya. Marsha menangis pelan saat mereka menyuruhnya keluar.

Marsha mendatangi sekawanan burung bangau yang sedang asyik mematuki ikan. Suasana kebun binatang tidak ramai karena saat itu bukan hari libur. Seorang anak kecil menangis di ujung jalan. Marsha melambaikan tangan ke arah gadis kecil.

Marsha : Lihat anak kancil itu, lucu sekali. (sambil menunjuk ke arahnya).

Biru : Seperti kancil dalam dongeng ya, Kak?

Marsha mengangguk lalu menggendong Biru agar bisa melihat lebih jelas. Jodi mengambil kamera dan mengarahkannya pada Biru dan Marsha yang tertawa lebar.

Bapak : Marsha! Bapak dan Ibu tunggu di sana saja, ya? Kaki Bapak pegal.

(berjalan timpang sambil menunjuk-nunjuk kakinya.)

Marsha : Biar Marsha dan Jodi saja yang mengantar Biru keliling. (lalu memapah

Laki-laki itu menuju bangku terdekat). Seharusnya Bapak istirahat saja di

Rumah. Biru pasti tidak mau kalau kita hanya sebentar di sini.

Bapak : Sudahlah, ini kali pertama Bapak jalan-jalan denganmu. Bapak tidak apa-

Apa. Kalian pergi saja duluan. Bapak dan Ibu menyusul nanti.

(Ibu mengangguk).

Marsha : Baiklah! Tapi Bapak harus janji akan beritahu kalau kakinya sakit lagi.

Bapak tersenyum. Tangannya mengelus Marsha. Marsha membalas dengan senyum dan berbalik menuju kedua adiknya dengan langkah ringan. Gumpalan-gumpalan di dada sudah tidak ada lagi. Marsha menengadah memandang langit yang terlihat begitu indah. Lukanya telah sembuh. Hatinya kini terasa hangat dan bersinar seperti mentari di angkasa sana.

Nama : Nurul Anisha

NPM : 13609492

Kelas : 1 SA 02

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image