Obati Gangguan Depresi, Cegah Bunuh Diri

KASUS bunuh diri yang terjadi baru-baru ini di dua mal besar di Jakarta kembali menghentak kita. Betapa orang dengan mudah mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat tragis. Orang kemudian bertanya apa kiranya yang ada di benak pelaku bunuh diri sehingga nekat melakukan hal tersebut. Tentunya bukan jawaban yang mudah, walau pada banyak penelitian dikatakan bahwa kebanyakan dari pelaku adalah orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Beberapa tahun lalu pada Oktober saat kita memperingati Hari Kesehatan Jiwa Internasional yang jatuh setiap tanggal 10, tema yang diambil adalah “Building Awareness, Reducing Risk: Mental Illness and Suicide”. Terfokus pada salah satu bagian dari tema, yaitu upaya dalam mengurangi risiko bunuh diri, tentunya tema ini berhubungan dengan kasus bunuh diri yang secara global selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Banyak orang mengira para pelaku bunuh diri adalah orang yang tidak beriman. Mereka mengambil jalan pintas untuk mendapatkan kebebasan dari tekanan yang menghimpit. Hendaknya kita tidak bersikap demikian. Apa yang terjadi pada pelaku bunuh diri, terkadang sulit dipahami oleh kita yang sedang dalam kondisi yang baik. Ada baiknya kita berempati dengan mereka dan keluarga yang ditinggalkan.

Depresi Penyebab Bunuh Diri

Gangguan depresi sering disebut-sebut sebagai salah satu penyebab orang nekat melakukan bunuh diri. Pada manual diagnosis gangguan jiwa Amerika (DSMIV) dikatakan bahwa salah satu gejala dari pasien depresi berat adalah adanya ide-ide bunuh diri dan rasa tidak berguna lagi. Pasien depresi berat juga sering mengeluh tidak lagi mempunyai harapan hidup sehingga sering kali merasa tidak ada artinya lagi hidup ini.

Selain itu, terdapat suatu gangguan depresi dengan ciri psikotik. Gejala psikotik yang biasanya muncul biasanya berhubungan dengan suasana hatinya saat ini. Pasien depresi berat dengan ciri psikotik sering mengatakan perasaan bersalah yang sangat, adanya suara-suara yang menyuruh agar pasien mati saja, dan hinaan serta celaan yang merendahkan tak kunjung reda terdengar di telinga pasien, walaupun sumbernya tidak ada.

Tidak mengherankan pada beberapa pasien depresi dengan ciri psikotik sering melakukan perbuatan impulsif yang mengarah pada perbuatan menyakiti diri sendiri atau melakukan upaya bunuh diri yang tiba-tiba. Walaupun demikian, bukan berarti pasien depresi berat tanpa ciri psikotik tidak akan melakukan perbuatan demikian, hanya kemungkinannya lebih kecil.

Pengobatan Pasien Depresi
Individu dengan gangguan depresi berat haruslah diobati. Gejala-gejala suasana perasaan yang menurun, wajah yang menampakkan kesedihan, sering kali ada beberapa yang menjadi mudah marah, aktivitas yang menjadi berkurang, merasa lelah terus-menerus dan tidak dapat tidur merupakan gejala-gejala yang sering dikeluhkan individu yang mengalami depresi. Individu juga sering kali mengeluhkan adanya kondisi fisik yang lemah, sering merasa badan tidak nyaman dan beberapa keluhan fisik seperti jantung berdebar, sesak napas, dan perasaan tidak nyaman di perut.

Kondisi ini harus segera diobati. Depresi muncul karena berbagai kontribusi dari faktor biologis, psikologis, maupun sosial. Secara biologis, memang ada penelitian yang mengatakan bahwa kondisi depresi pada seseorang bisa juga terjadi pada keluarga lain dan kerentanan itu memang terbukti ada. Pasien yang mengalami depresi juga mengalami perubahan keseimbangan dalam kondisi neurotransmitter di otak, suatu zat yang penting dalam memberikan sinyal-sinyal penghubung di seluruh otak.

Pola daya tahan dan adaptasi seseorang yang berkurang dan melemah terhadap tekanan hidup juga merupakan faktor psikologis yang berpengaruh terhadap timbulnya gangguan depresi. Tidak lepas adalah kondisi sosial lingkungan yang terkadang sangat menekan dan sulit diadaptasi si individu, sehingga menjadi faktor kontribusi yang kuat bagi terjadinya depresi.

Faktor-faktor itu harus diperbaiki satu persatu secara menyeluruh. Tidak heran jika seorang psikiater akan memberikan obat pada pasien depresi agar keseimbangan zat-zat di dalam otaknya menjadi baik kembali. Hal ini biasanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu, karena perbaikan di otak memerlukan waktu yang cukup.

Selain itu, maka keseimbangan itu juga tetap perlu dijaga dengan meningkatkan daya adaptasi individu terhadap stres. Lingkungan sosial juga perlu dimodifikasi, jika tidak memungkinkan maka individu itulah yang perlu meningkatkan daya adaptasinya terhadap kondisi lingkungan yang tidak nyaman tersebut.

Jangan takut dan malu untuk meminta bantuan kepada profesional jika memang memerlukan. Kondisi depresi yang dibiarkan terus-menerus akan merusak otak, mengganggu fungsi daya pikir dan menurunkan kualitas hidup individu yang menderitanya. Belum lagi kejadian bunuh diri akan terus mengintai pasien depresi yang tidak diobati. Penanganan segera dan secara menyeluruh adalah sangat penting karena depresi dapat diobati.

Sumber: dr Andri SpKJ
Klinik Psikosomatik RS Omni Internasional Alam Sutera

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image