Jejaring Sosial Mengubah Cara Berbisnis
Facebook, siapa pengguna internet rutin yang tidak mengenal situs jejaring sosial tersebut? Tidak hanya sesama mahasiswa, bahkan kebanyakan dosen Universitas Gunadarma menggunakan Facebook ini. Tidak jarang teman-teman mahasiswa menceritakan kalau dia baru saja menemukan akun milik dosen di Facebook, entah itu yang memang iseng mencari atau tidak sengaja menemukan (biasanya karena kemampuan Facebook untuk merekomendasi teman yang kemungkinan besar akan mau kita Add Friend). Disebut situs jejaring sosial (Social Networking Site), dikarenakan memang penggunanya bisa membangun relasi dengan banyak orang, membangun kehidupan sosial melalui jaringan relasi yang mereka miliki. Dewasa ini, saya seringkali melihat bahwa banyak ‘relasi’ saya, yang mulai berbisnis melalui situs jejaring sosial ini. Bahkan, dalam salah satu artikel di Kompas Female dikatakan bahwashopping online menjadi salah satu manfaat dari jejaring sosial. Hal ini membuat saya tergelitik untuk mencari tahu lebih dalam mengenai dampak situs jejaring sosial dari suatu bisnis yang bisa memanfaatkan teknologi informasi untuk melakukan proses bisnisnya tersebut.
Mari kita lihat dulu bagaimana suatu bisnis menggunakan teknologi “online” sehingga biasa disebut dengan bisnis online. Sebelum adanya situs jejaring sosial, maka bisnis online diidentikkan dengan para pebisnis memajang produknya di sebuah situs. Tentu saja masih banyak strategi yang perlu diterapkan setelah memajang produk di situs. Mulai dari update harga dan ketersediaan produk, interaktifitas dengan calon customer, penggunaan Search Engine Optimization, hingga masalah follow-up ke calon customer yang potensial. Saya tidak perlu bicarakan satu per satu mengenai hal di atas. Tetapi pada intinya, semua strategi tersebut digunakan untuk meningkatkan Conversion Rate (untuk mengetahui apakah conversion rate itu, silahkan baca artikel mengenai conversion rate tersebut di salah satu blog post milik rekan saya disini).
Setelah strategi-strategi tersebut “mentok” pengembangannya, maka mulailah dilirik “cara lama dengan teknologi baru”. Cara lama yang saya maksudkan di sini adalah dengan menggunakan Viral Marketing, atau dengan bahasa sederhananya “pemasaran dari mulut ke mulut”. Dan teknologi baru yang digunakan adalah Social Media (dimana Social Networking Site termasuk di dalamnya). Menurut Bapak Nukman Luthfie – seorang pakar online (online strategist) – pada artikelnya di sini, Blog menjadi sumber informasi rekomendasi produk yang bisa dipercaya. Blog bisa menjadi sumber informasi produk yang terpercaya dikarenakan adanya review langsung dari penggunanya yang tidak dibuat-buat karena bukan dengan tujuan untuk mengiklankan. Menurut Annas Ahmad di artikelnya pada RumahDot.com di sini, Social Media menjadi sumber viral yang paling bagus. Jadi, menurut saya, dampak sosial dari pertemanan atau relasi dari situs Social Media, membuat bisnis online berubah arah dengan memanfaatkan viral marketing melalui situs Social Media tersebut, termasuk situs jejaring sosial. Sesama ‘relasi’ lebih mudah menaruh kepercayaan kepada orang lain mengenai rekomendasi suatu produk meskipun mungkin tidak pernah bertemu secara langsung dengan orang tersebut.
Dalam suatu makalah berjudul “The Business Impact of Social Networking” yang diterbitkan oleh AT&T dan diunggah Erik Jonker ke Scribd (saya tidak tahu apakah makalah tersebut adalah tulisan beliau atau bukan) yang bisa dilihat di sini, disebutkan bahwa Perusahaan Korporat akan mengubah cara mereka berkomunikasi dengan konsumen. Hal ini disebabkan karena adanya hal-hal yang merupakan karakteristik dari permintaan konsumen pada situs Social Media, yang menyebabkan Social Media ini menjadi alat untuk bisnis online yang baik. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut :
- Otentisitas : Tidak dibuat-buat. Hal inilah yang menjadikan Viral Marketing pada Social Media begitu bagus.
- Transparency : Transparan. Tidak ada informasi yang ditutup-tutupi. Biasanya, dalam merekomendasikan suatu produk (bukan iklan), seorang ‘relasi’ pada Social Media tidak menyembunyikan kekurangan produk tersebut. Kalau memang merasa ada kekurangan, biasanya akan disebutkan secara ‘blak-blakan’. Tidak seperti iklan yang hanya mengedepankan keunggulan saja, yang bahkan mungkin bagi beberapa orang bukanlah keunggulan.
- Attentiveness : Informasi yang diberikan biasanya bersifat spontan, dan dua arah. Perusahaan Korporat perlu mendengarkan dari calon customer-nya langsung.
- Worth : Informasi yang diberikan berharga, karena diberikan langsung oleh customer yang sudah menggunakan produk tersebut. Bukan oleh perusahaan korporat yang tentunya hanya menginginkan produknya laku dijual.
- Ethical : Tidak egois, lebih perhatian terhadap kebutuhan dan keinginan calon customer.
Jika semua itu diterapkan dalam cara bisnis berkomunikasi dengan customer di masa yang akan datang, maka revolusi cara pemasaran bisa dikatakan berakar dari Social Media.
Catatan : Post di artikel blog wartawarga ini juga saya muat di blog milik saya pribadi di sini. Sumber-sumber artikel terkait telah saya cantumkan sebagai link pada tulisan di atas. Jika ada tulisan yang bukan berasal dari saya, maka telah saya cantumkan pula sumbernya. Selain itu, merupakan asli pemikiran dan pengalaman pribadi saya sendiri.
Popularity: 1% [?]


