Krisis global membuat perdagangan bebas 2010 ditunda Ekonomi & Bisnis – Bisnis

Krisis global ternyata memberikan dampak menggembirakan bagi pelaku usaha lokal. Kegembiraan itu dikarenakan perdagangan bebas yang sejatinya diterapkan pada tahun 2010 menjadi mundur akibat krisis.

“Krisis ini membuat pembahassan putaran Doha menjadi molor hingga 2010 sehingga kita bisa menyiapkan diri menghadapi perdagangan bebas,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Rachmat Gobel

Masalah pembenahan industri, kata dia, sangat penting karena pada masa krisis Asia tahun 1998 tidak sedikit industri lokal yang mengalami kesulitan, bahkan banyak yang mati dan kolaps. Sehingga kondisi saat ini waktu yang sangat tepat untuk membenahi industri dalam negeri dalam rangka persiapan persaingan global di masa yang akan datang.”Jadi Kadin mengupayakan revitalisasi untuk mendorong industri,” jelasnya.

Untuk itu dalam roadmap Kadin tahun 2030, Kadin tetap berkomitmen membangun industri, sebagai kekuatan utama ekonomi, karena Indonesia negara besar yang memiliki kekayaan alam yang berpeluang untuk ditingkatkan nilai tambahnya dan didukung oleh sumber daya manusia yang besar.

“Sayang kalau kita hanya ekspor bahan baku,” ucapnya.

Seperti diketahui putaran Doha telah dirundingkan sejak tahun 2005 lalu, yang intinya mencari format kesepakatan liberalisasi perdagangan khususnya untuk produk pertanian dan non-pertanian bagi anggota negara-negara WTO termasuk berkembang dan negara maju.

WTO semula memperkirakan pertumbuhan perdagangan dunia akan makin memburuk seiring maraknya kebijakan sejumlah negara yang mengarah ke proteksionisme. WTO merevisi perkiraan pertumbuhan perdagangan dunia dari semula minus 9% menjadi minus 10%.

Volume perdagangan di negara-negara berkembang yang semula diperkirakan hanya akan minus 2-3% kini diproyeksi bakal terpuruk hingga minus 7%. Kondisi di negara maju bahkan lebih parah karena semula diperkirakan hanya anjlok 10%, kini diprediksi akan terperosok lebih dalam menjadi minus 14%.

Berdasarkan laporan WTO, revisi proyeksi ini dilakukan berdasarkan kondisi 3 bulan terakhir di mana banyak negara yang mulai memperlihatkan gejala-gejala proteksionisme.”Dalam 3 bulan terakhir, ada kecenderungan yang makin besar ke arah kebijakan yang mengetatkan perdagangan dan mendistorsi,” demikian laporan WTO baru-baru ini.

WTO juga mengakui saat ini memang banyak kendala dalam perdagangan liberal. Faktor itu antara lain berpengaruh pada anjloknya pertumbuhan perdagangan adalah program stimulus yang gencar dikucurkan sejumlah negara. Sayangnya, karena keterbatasan akses, WTO tidak bisa mengukur sejauh mana program stimulus ini berpengaruh terhadap distorsi pasar dan kompetisi.

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image