Pluralisme sebagai dasar Kerukunan Antar Umat Beragama

Pluralisme sebagai dasar Kerukunan Antar Umat Beragama
Dalam sejarah kekristenan di dunia ini, ternyata tidak mudah bagi para pemeluk agama Kristen sejak dari perkembangannya untuk menghayati hidup rukun di tengah kemajemukan umat beragama di dunia ini. Butuh waktu yang lama dan panjang untuk bisa memahami bahwa kemajemukan itu tidak dapat dihilangkan sekalipun seluruh dunia mengetahui siapa Yesus Kristus itu. Sejarah membuktikan bahwa kekristenan yang disebarkan dari Timur Tengah ke Eropa bahkan ke seluruh dunia, tidak menjamin semua orang Kristen di dunia ini benar-benar telah meninggalkan kemajemukannya. Orang Kristen di Afrika jelas tidak bisa disamakan seluruhnya dengan orang Kristen di Amerika, bahkan orang Kristen di Asia juga tidak bisa disamakan begitu saja dengan orang Kristen di Australia sekalipun jaraknya dekat. Sehingga dapat dirumuskan bahwa kemajemukan itu adalah fakta yang tidak dapat dihilangkan.

Fakta inilah yang oleh para ahli agama Kristen di dunia ini, perlu mendapat perhatian. Karena jika hanya menggunakan satu sudut pandang saja dalam mengabarkan Injil, tentu yang terjadi justru kekristenan tidak dapat menjadi berkat bagi semua orang. Para ahli tersebut antara lain Alan Race, Ken Gnanakan, Gavin D’Costa, Paul F. Knitter, Hans Küng, dan yang lainnya. Sekalipun tidak semua orang Kristen di dunia ini mengenal mereka dan menyetujui tulisan mereka, namun sebagian besar umat Katolik dan Protestan di dunia ini mulai dengan serius mempraktekkan hasil studi para ahli tersebut. Apa yang diajarkan mereka ?

Secara sederhana dapat disampaikan bahwa tidak dapat dipungkiri adanya kelemahan manusia dalam menafsirkan ajaran Yesus Kristus oleh para pemeluknya, sehingga menimbulkan tiga pengelompokan cara pandang orang Kristen terhadap kemajemukan agama di dunia ini, yakni kelompok Ekslusif, Inklusif dan Pluralis.

Yang pertama disebut adalah kelompok Eksklusif. Kelompok ini menganggap bahwa di luar Yesus Kristus tidak ada keselamatan lain, artinya orang yang tidak memilih Yesus Kristus itu sebagai Juruselamatnya tidak selamat baik di dunia ini maupun setelah mati. Sehingga mereka wajib mengabarkan Injil (Berita Sukacita) Yesus Kristus kepada orang-orang tersebut, sampai orang-orang itu mengimani Yesus sebagai Juruselamatnya, apapun resikonya.

Berikutnya adalah kelompok Inklusif. Kelompok orang Kristen ini menganggap bahwa di luar Yesus Kristus tetap ada jalan keselamatan lain, tetapi bagi dirinya jalan keselamatan yang paling benar adalah dalam Yesus Kristus. Sebenarnya dalam kelompok inipun masih dapat dibagi dua kelompok lagi, yakni kelompok yang tetap mengabarkan Injil pada orang yang belum kenal Yesus Kristus dengan tujuan formal yakni menambah jumlah orang Kristen sekalipun tidak terlalu memaksa, biasa disebut kelompok inklusif-eksklusif. Dan satunya adalah kelompok yang tetap mengajarkan Injil tanpa memedulikan apakah orang itu menjadi Kristen atau tidak, yang penting ikut bersama-sama menghadirkan damai sejahtera di bumi ini, kelompok ini biasa disebut inklusif-pluralis.

Kelompok yang terakhir adalah kelompok pluralis. Kelompok orang Kristen ini menganggap di dalam agama-agama selain Kristen sebenarnya sudah ada ajaran Yesus Kristus, sehingga tidak perlu lagi mengabarkan injil. Bahkan identitas sebagai pemeluk agama Kristen dianggap tidak penting lagi, karena yang penting adalah tetap menghargai kemajemukan dan tetap bekerjasama melakukan kebaikan di dunia ini.

Secara jumlah pengikut dari masing-masing kelompok ini belum ada data yang membuktikan lebih besar yang mana jumlah pengikutnya. Namun dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dari buah atau hasil cara hidup mereka sehari-hari. Sejauh ini kelompok inklusif masih menjadi pilihan yang lebih bisa diterima hidup di tengah-tengah dunia ini. Namun kelompok inklusif ini masih perlu melengkapi diri dengan pemahaman pluralisme yang baik. Karena seringkali kelompok kristen pluralis disamakan dengan pluralisme, maka perlu dijelaskan perbedaanya. Pluralisme tidak hanya ada dan dimiliki oleh kelompok Kristen pluralis tadi. Pluralisme adalah paham atau ajaran yang menghargai kemajemukan agama dan lainnya, karena mempunyai dasar pemahaman yang sama bahwa Tuhan yang menciptakan dunia ini adalah Tuhan yang mempunyai kasih untuk seluruh ciptaannya tanpa membedakan apapun.

Dengan paham ini, tentu kita koreksi dan hilangkan kejelekannya, artinya dengan pluralisme yang baik, kita dapat membangun kerukunan antar umat beragama di dunia ini. Karena pada hakekatnya perbedaan itu tidak dapat dihilangkan.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image