About the Author

author photo

Ambonese!

See All Posts by This Author

SIWA LIMA, filosofi kehidupan masyarakat MALUKU

Sebagai orang asli Maluku (anak Maluku yang merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan di universitas Gunadarma), saya akan menjelaskan tentang akar budaya daerah asal saya ini. Daerah yang dikenal dengan sebutan Negeri Seribu Pulau ini, memang menyimpan banyak pesona bukan hanya dari keindahan alamnya, namun juga menghadirkan pesona dari aneka adat dan istiadat yang terbingkai dari filosofi SIWA LIMA.
Siwa Lima adalah “jati diri” dalam budaya Maluku. Jika dilihat dari makna bahasa, siwa berarti sembilan dan lima/rima artinya lima. Makna filosofis kata ini dikenal di seluruh Maluku, walaupun dengan sebutan yang berbeda. Di Maluku Utara dikenal Ulisiwa dan Uli Lima. Maluku Tengah menyebutnya Pata Siwa dan Pata Lima. Maluku Tenggara menggunakan kata Ur Siwa (Ursiw) dan Ur Lima (Urlim). Semuanya itu memiliki satu makna yang sama.
Tari Gaba-Gaba adalah salah satu tarian yang mengesankan unsur Siwa Lima. Tari ini dibawakan oleh satu penari dan empat pemegang galah suta dan sembilan penari Cakalele. Iringannya adalah Tifa (Instrumental Etnik Maluku). Tari ini menggambarkan sikap pertahanan dari serangan musuh.
Rasa persatuan dan kesatuan yang terjalin erat dalam kehidupan masyarakat Maluku menjadi pondasi yang kuat dalam membanguna daerah ini. Rasa kegotong-royongan menjadi prioritas utama antar masyarakat dan penghormatan tinggi akan adat-istiadat menjadi harga mahal bagi masyarakat Maluku. Hubungan-hubungan kekerabatan adat dan budaya terus didorong sehingga dapat menciptakan sinergitas yang andal bagi upaya bersama membangun Maluku. Dalam hal ini, Siwa Lima adalah salah satu filosofi yang selama ini telah melembaga dan mengakar sebagai cara pandang masyarakat tentang kehidupan bersama. Siwa Lima ini menyatukan berbagai perbedaan sub suku dalam Maluku dengan cara bergotong royong atau Masohi (bahasa lokal). Adapun filosofi siwalima dimaksud telah menjadi simbol identitas daerah, karena selama ini sudah menjadi logo dari Pemerintah Daerah Maluku. Siwalima adalah fisafat yang senantiasa hidup dalam peradaban masyarakat Maluku.
Selain filosofi Siwa Lima, terdapat pula filosofi-filosofi lainnya yang memiliki makna yang sama. Filosofi-filosofi ini adalah pendekatan-pendekatan lainnya yang berproses untuk merencanakan kehidupan rakyat di daerah Maluku kemarin, hari ini, dan yang akan datang. Filosofi-filosofi ini dianggap sebagai dasar atau pondasi atau akar bagi kehidupan kalangan masyarakat Maluku dan dapat dipandang sebagai modal budaya lokal yang masih ada dan hidup dalam kalangan masyarakat yang dimanfaatkan sebagai kepengentingan pembangunan daerah provinsi Maluku. Filsafat-filsafat lainnya itu antara lain “Manggurebe Maju” artinya bersama-sama maju untuk membangun daerah, “Lawamena Hau Lala” artinya bersatu membangun Maluku maju terus pantang mundur, dan “Katong samua satu gandong satu jantung dan satu hati” artinya kita semua sekeluarga/saudara.

(Sumber:http://www.depdagri.go.id)
(http://dolfis.wordpress.com/budaya-maluku/)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +2 (from 2 votes)
SIWA LIMA, filosofi kehidupan masyarakat MALUKU, 10.0 out of 10 based on 1 rating
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image