Keadaan Ekonomi Indonesia Selama 2008

Perkembangan kondisi perekonomian dunia pada 2008 ini dikhawatirkan akan menuju resesi tingkat akut. Indeks yang mengukur tingkat kepercayaan di enam benua The Bloomberg Professional Global Confidence Index menunjukkan penurunan drastis menjadi 10,3 poin dari 21 poin pada bulan juni 2008 sebagai respon dari melemahnya ekonomi di US, Jerman, Jepang, Prancis, dan UK. Indeks tersebut juga menunjukkan bahwa Asia mengalami penurunan dari 19,4 poin menjadi 7 poin.

Indonesia pun terkena dampak akibat melonjaknya harga minyak dunia. Selama kuartal pertama 2008 inflasi tercatat sebesar 11,03%, BI Rate 8,75%, dan kurs Rp 9.155/US$. Pasar modal pun diwarnai oleh rekor-rekor baru IHSG (indeks harga saham gabungan), SUN (Surat Utang Negara), yang terus diminati oleh investor domestik maupun asing. ORI (Obligasi Republik Indonesia) selalu terserap oleh investor perseorangan dengan nilai yang melebihi target. Cadangan devisa melonjak secara signifikan, dari posisi akhir tahun 2006 sebesar US$34,7 milyar, naik menjadi US$59,5 milyar pada 30 Juni 2008. Kondisi APBN pun belum bisa dikatakan aman, karena selain masih mengandung beban defisit sebesar Rp 82,3 triliun untuk tahun 2008, juga tetap dibayang-bayangi oleh kenaikan harga minyak dunia yang masih terus bergejolak hingga saat ini. Adanya kekhawatirkan bahwa harga minyak mentah dunia bisa menembus angka US$ 200 per barrel di akhir tahun 2008 bukanlah suatu hal yang berlebihan, melihat kondisi kondisi pasar uang dan pasar komoditi dunia yang semakin tidak terkendali akhir-akhir ini.

Kenaikan BBM di perekonomian nasional yang kedua kalinya pada bulan Mei 2008 lalu, menyebabkan ancaman stagflasi akan terjadi dimana pertumbuhan ekonomi sangat lamban, tetapi diikuti oleh tingkat inflasi yang sangat tinggi. Berdasarkan hasil pemantauan BPS, tekanan eksternal dari kenaikan harga BBM dan gangguan pasokan barang-barang kebutuhan pokok menyebabkan pada bulan Juni 2008 terjadi inflasi 2,46 persen dan laju inflasi “year on year” (Juni 2008 terhadap Juni 2007) 11,03 persen. Tingginya angka inflasi ini terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada semua kelompok barang dan jasa. Sektor tansportasi merupakan faktor penyumbang inflasi yang tertinggi pada Juni 2008. Kenaikan indeks barang dan jasa transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan pada bulan lalu tercatat sebesar 8,72 persen. Sementara itu, tingkat sensitivitas inflasi dari sektor makanan mengalami penurunan. Tingginya nilai inflasi ini mengharuskan Bank Indonesia (BI) harus menaikkan BI rate minimal 25 bps menjadi 8,75 persen agar selisih suku bunga rupiah dengan inflasi year on year tidak terlalu jauh negatif. Walaupun kenaikan BI Rate akan memberatkan sektor perbankan. Namun hal ini adalah untuk menjaga supaya rupiah tetap diminati, kenaikan ini juga diharapkan mampu menahan pemilik dana yang ingin berspekulasi di pasar modal.

Meskipun pada triwulan I 2008 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 6,3% secara year on year, namun secara triwulanan hanya tumbuh sekitar 2,1 persen terhadap triwulan IV 2007.Pertumbuhan ekonomi tersebut hanya bertumpu pada kegiatan ekspor, karena dari empat komponen pengguna Produk Domestik Bruto (PDB) hanya ekspor yang tercatat positif, yaitu sekitar 5,7 persen. Sedangkan investasi fisik (Pembentukan Modal Tetap Bruto) mengalami kontraksi sekitar 0,6 persen, dan pengeluaran konsumsi masyarakat turun sekitar 0,4 persen akibat turunnya daya beli di awal tahun 2008 ini.

Ketidakstabilan perekonomian juga ditunjukkan oleh turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencapai titik terendah sejak Oktober 2005. Pascakenaikan harga BBM bulan Mei 2008, IKK menunjukkan angka sebesar 79,1 atau lebih rendah 3,3 poin bila dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi yang semakin pesimis ini didorong oleh semakin menurunnya keyakinan konsumen terhadap indeks kondisi ekonomi saat ini (IKE) sebesar 5,9 poin dan menurunnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 0,8 poin.

Apabila dihitung secara tahunan, IKK mengalami penurunan sebesar 16,7 poin dibandingkan tahun 2007, hal ini menunjukkan konsumen yang makin pesimis terhadap kondisi ekonomi saat ini dengan penurunan indeks sebesar 12,0 poin. Hal tersebut diikuti pula oleh optimisme yang menurun terhadap ekspektasi konsumen sebesar 21,4 poin.

Berdasarkan survei yang dilakukan Bank Indonesia penurunan IKK terjadi pada hampir seluruh komponen pembentuk IKK antara lain: ketepatan waktu pembelian barang tahan lama sebesar 8,0 poin, ketersediaan lapangan kerja sebesar 5,9 poin, dan ekspektasi ketersediaan lapangan kerja sebesar 1,8 poin. Kondisi tersebut diikuti oleh optimisme yang semakin menurun terhadap penghasilan saat ini sebesar 3,9 poin dan ekspektasi penghasilan sebesar 2,9 poin.

Sektor Industri 2008

Keadaan makroekonomi yang kurang stabil ini, menimbulkan dampak besar bagi kelangsungan hidup sektor-sektor di Indonesia, khususnya sektor industri? Antara tahun 1970an hingga sekarang, peranan sektor industri meningkat pesat meninggalkan sektor pertanian yang kontribusinya semakin menurun. Hingga awal kuartal pertama 2008, peranan sektor industri manufaktur telah mencapai sekitar 27 persen dari PDB. Sejak krisis ekonomi Asia sampai 2007, pertumbuhan sektor industri manufaktur hanya meningkat dengan laju satu digit, di bawah 10%, padahal sebelum krisis pada saat sektor industri manufaktur dapat tumbuh dengan dua digit. Sampai dengan awal 2008 industri hanya tumbuh sekitar 5,69% atau menurun hampir 2% sejak tahun 2004.

Patut dicatat, ada dua industri yang mengalami masa bonanza selama pemerintahan SBY-JK. Semenjak tahun 2004 sampai awal 2008 ini Industri alat angkut-mesin-peralatan menjadi cabang industri dengan laju pertumbuhan tertinggi sebesar 12,9%. Industri pupuk-kimia-barang dari karet menjadi cabang industri dengan laju pertumbuhan tertinggi kedua, sebesar 6,23%. Selama tiga tahun terakhir, ternyata kedua industri ini boleh dikata merupakan sunrise industry.Indikatornya sederhana, yaitu pangsanya melebihi rata-rata per subsektor industri dan memiliki pertumbuhan di atas rata-rata industri. Industri pupuk banyak diuntungkan dengan naiknya harga minyak global, terutama dari produk amoniak. Industri kimia menimbulkan dampak multiplier bagi sektor hilirnya, setidaknya terlihat dari menjamurnya jumlah apotik di Indonesia. Industri barang dari karet merupakan industri hulu untuk industri mobil dan sepeda motor, yang mengalami lonjakan pertumbuhan pada tahun 2007. Industri alat angkut terkait dengan maraknya industri penerbangan dan otomotif, yang terkerek dengan mulai pulihnya daya beli konsumen. Subsektor komunikasi dan transportasi udara memang menjadi primadona karena selama lima tahun terakhir masing-masing selalu tumbuh di atas 20 persen dan 10 persen.

Di sisi lain, ada beberapa cabang industri yang malah tergolong sunset industry. Artinya, industri ini perannya kecil dalam industri manufaktur dan memiliki pertumbuhan di bawah rata-rata industri selama tiga tahun terakhir. Industri yang termasuk sunset industry adalah industri semen & barang galian non-logam, industri barang lainnya, industri kertas & barang cetakan, industri barang kayu & hasil hutan. Sebelum pengumuman kenaikan BBM pada Mei 2008, hampir semua industri non migas yang tergolong sunset industry lebih memprihatinkan dibandingkan pada akhir 2007. Pertumbuhan industri terendah tahun ini terjadi pada industri tekstil, barang kulit dan alas kaki yang pertumbuhannya minus 7,10% lebih buruk dari tahun 2007 yaitu minus 3,68 persen, Industri barang lainnya dari minus 2,82 persen menjadi minus 6,88 persen, industri barang kayu dan hasil hutan yakni minus 0,06 persen, lebih baik daripada tahun lalu yang minus 1,74 persen.

Industri manufaktur Indonesia memainkan peranan penting sejak kita menyadari tidak bisa mengandalkan ekspor sektor migas. Ekspor industri manufaktur menyumbang sekitar 85% ekspor nonmigas dan sekitar 67% total ekspor Indonesia selama ini. Bahkan kontribusi ekspor industri ini telah melampaui ekspor sektor pertanian dan migas sejak awal dasawarsa 1990-an.

Buruknya Sektor Industri

Namun bagaimana dengan produktivitas yang terdapat dalam sektor ini? Bank Indonesia dalam surveinya mengatakan bahwa sektor perindustrian di Indonesia rata-rata baru menggunakan sekitar 70% dari kapasitas produksinya. Artinya, masih banyak pabrik dan mesin-mesin industri yang belum beroperasi pada kapasitas penuh. Pada awal tahun ini terlihat bahwa ketidakefisienan dalam pemakaian kapasitas produksi lebih buruk dibandingkan pada akhir 2007.

Begitu juga dengan penggunaan tenaga kerjanya. Penurunan yang terjadi pada rata-rata kapasitas produksi diikuti dengan penurunan penggunaan tenaga kerja. Dibandingkan dengan 8 sektor yang lainnya, penurunan penggunaan tenaga kerja pada sektor industri pada awal tahun ini paling mengalami keterpurukan menjadi minus SBT 2,76 persen dari sebelumnya SBT 0,38 persen.

Banyak faktor yang menghambat perkembangan sektor ini antara lain tingginya harga BBM yang membuat naik biaya produksi sampai 65 persen, pengalihan jam kerja industri akibat keterbatasan pasokan listrik pun membuat sektor ini harus merenstrukturisasi sistem kerja mereka apalagi untuk industri TPT yang kegiatan produksinya satu minggu penuh. Terlebih lagi, isu kebijakan pemerintah yang akan membatasi penjualan daya listrik 5,5% mulai tahun depan dapat menyebabkan sektor industri kolaps. Roadmap, kebijakan dan strategi yang terarah, serta koordinasi yang just in time adalah solusi yang bisa menjawab perbaikan kondisi ekonomi.

Reformasi Kebijakan

Beberapa persoalan ke depan yang perlu mendapat perhatian serius terkait dengan kinerja pertumbuhan ekonomi nasional adalah kerawanan pangan yang berpotensi terjadi, ketersediaan energi yang tidak mencukupi dan kondisi infrastruktur yang makin tidak memadai, dan banyak persoalan mendasar lainnya yang perlu dibenahi. Kondisi ini pun makin terbebani karena kini Indonesia sedang menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum tahun 2009, yang persiapannya akan mulai marak pada tahun 2008.

Tiga arah kebijakan pembangunan 2009 yaitu: peningkatan daya saing industri, peningkatan kapasitas industri, dan peningkatan peran dan faktor pendukung pengembangan industri harus ditopang sumber daya yang berkualitas, infrastruktur yang memadai, reformasi kelembagaan yang jelas, koordinasi antara pusat dengan daerah, dan konsistensi dan koherensi antarkebijakan makro dan sektoral.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Keadaan Ekonomi Indonesia Selama 2008, 8.0 out of 10 based on 1 rating
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image