Kenapa semua serba terlambat?

Terkadang kita tak pernah menyadari apa yang kita perbuat. Sebagai contoh saja, terkadang kita lupa apa yang menyebabkan tanah longsor yang bisa memakan korban jiwa. Selain itu terkadang kita juga lupa apa yang menyebabkan banjir bandang. Yang lebih sederhana lagi yang selalu kita lihat, yaitu kenapa kita tidak menyadari bahwa apa penyebab bajir musiman yang selalu terjadi di tempat tinggal kita atau orang lain.

Itu sebabnya kita selalu terlambat menyadari apa yang menyebabkan musibah besar terjadi. Terkadang kita melakukan dulu baru berfikir setelah terjadi musibah. Kenapa sih harus seperti itu? Apa ia harus seperti itu terus?

Jelas tidak jawabannya. Kenapa? Karena kita itu sebenarnya telah tau apa akibatnya, tapi kita tidak pernah mengambil pusing tentang itu. “Yang pentingkan saya dapat untung” atau “yang pentingkan praktis”. Itu sebabnya kita tidak bijaksana dalam menjaga lingkungan kita. Dan lebih parahnya, seorang ibu-ibu yang di wawancarai oleh seorang reporter suatu media televisi bertanya kepadanya “kenapa ibu buang sampah disungai?” dan jawab ibu itu dengan tenang, “kan bukan rumah saya yang banjir.” Sungguh tragiskan?

Kita tak bisa seperti itu terus. Membiarkan itu semua terjadi di depan mata kita. Apakah harus menunggu alam “mengamuk” dulu baru kita memperbaiki kesalahan kita? itu semua percuma jadinya. Kenapa? Karena tidak akan ada lagi yang harus kita perbuat. Sebab ada tertulis di dalam pepatah yaitu “nasi telah menjadi bubur.” Justru itu kita harus turut serta menjaga alam kita ini. Dari yang paling gampang, cobalah buang sampah pada tempatnya, atau buanglah puntung rokok pada tempatnya. Setelah itu terbiasa baru kita ke masyarakat.

Sebagai mahasiswa, kita harus tegas dan real pada kehidupan yang akan datang. Jangan hanya demo tentang politik, upah, kelayakan kuliah saja. Coba kita satukan tekat untuk mewujudkan indonesia bersih yang diterapkan oleh pemerintah. Selain itu, demolah para pengusaha-pengusaha yang ingin membangun tempat investasi mereka di daerah resapan air. Atau, hukum orang atau perusahaan yang merusak lingkungan. Dan marahilah pemerintah jika mereka tidak menyediakan lahan hijau untuk tempat bersantai sekalian sebagai paru-paru kota. Sebab cuaca akan terus berubah, bukan semakin membaik, tapi semakin memburuk. Akankah kita harus merasakan penderitaan yang alam berikan kepada kita baru kita berubah? itu semua terlambat!!

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: +1 (from 1 vote)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image