KERJA DAN KELETIHAN

Keberhasilan kerja manusia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor individual dan faktor situasional. Sesuai dengan namanya, faktor pertama terdiri dari faktor-faktor yang datang dari diri si pekerja itu sendiri dan sering kali sudah ada sebelum si pekerja yang bersangkutan datang di pekerjaannya. Kecuali hal-hal seperti pendidikan dan semuanya adalah faktor-faktor yang tidak mudah bahkan tidak dapat dirubah. Artinya, faktor – faktor yang sudah tetap ini adalah hal-hal yang sudah ada dan harus dapat diterima seadanya.

Berbeda dengan yang pertama, faktor kedua terdiri dari faktor – faktor yang hampir sepenuhnya dapat diatur dan dapat dirubah, dan faktor-faktor ini berada diluar diri pekerja. Pemimpin perusahaanlah yang berhak merubahnya, karenanya faktor-faktor ini disebut juga faktor-faktor management. Kelompok-kelompok faktor situasional terbagi kedalam dua sub kelompok yaitu yang terdiri dari faktor-faktor sosial dan keorganisasiannya, dan yang terdiri dari faktor-faktor fisik pekerjaan yang bersangkutan.

Kerja yang terus-menerus dengan mengambil waktu istirahat di akhir merupakan sesuatu yang dinamakan keterlambatan yang disengaja. Apa maksudnya? Terlambat dalam hal apa? Ya terlambat menetralisir keletihan tubuh kita. Ketika kita asyik bekerja, kita lupa tubuh sudah letih, dan ketika kita istirahat di akhir pekerjaan, tubuh sudah terlalu letih. Ibarat menyuntik tinta printer (hal yg biasa di Indonesia), istirahat di akhir pekerjaan sama seperti menyuntik tinta ketika tangki tinta sudah kering.

Keletihan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Pada susunan saraf pusat terdapat sistem aktivasi (bersifat simpatis) dan inhibisi (bersifat parasimpatis). Istilah kelelahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individi, tetpai semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh.

PENYEBAB KELELAHAN ATAU KELETIHAN
1. Aktivitas kerja fisik : pekerja merasakan berat di kepala dan lelah di seluruh badan
2. Aktivitas kerja mental : pikiran pekerja kacau dan mengantuk
3. Stasiun kerja tidak ergonomis : pekerja mengeluh pegal-pegal di punggungnya karena sering membungkuk dalam waktu yang lama
4. Sikap paksa
5. Kerja statis : pekerja mengeluh pada bagian tangannya merasa sakit karena kerjanya terus-menerus dan tidak disela dengan istirahat dalam waktu yang lama
6. Kerja bersifat monotomi
7. Lingkungan kerja ekstrim
8. Psikologis
9. Kebutuhan kalori kurang : pekerja merasa cepat capek dan usaha yang dilakukan tidak maksimal
10. Waktu kerja-istirahat tidak tepat

Di samping kelelahan otot dan kelelahan umum, Grandjean (1988) juga mengklasifikasikan kelelahan ke dalam 7 bagian yaitu:

  1. Kelelahan visual, yaitu meningkatnya kelelahan mata
  2. Kelelahan tubuh secara umum, yaitu kelelahan akibat beban fisik yang berlebihan
  3. Kelelahan mental, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh pekerjaan mental atau intelektual
  4. Kelelahan syaraf, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh tekanan berlebihan pada salah satu bagian sistem psikomotor, seperti pada pekerjaan yang membutuhkan keterampilan
  5. Pekerjaan yang bersifat monoton
  6. Kelelahan kronis, yaitu kelelahan akibat akumulasi efek jangka panjang
  7. Kelelahan sirkadian, yaitu bagian dari ritme siang-malam, dan memulai periode tidur yang baru

Sampai saat ini masih berlaku dua teroi tentang kelelahan otot, yaitu teori kimia dan teori syaraf pusat. Teori kimia menjelaskan bahwa terjadinya kelelahan adalah akibat berkurangnya cadangan energy dan meningkatnya sisa metabolism sebagai penyebab hilangnya efisiensi otot. Suma’mur menyatakan bahwa produktivitas mulai menurun setelah empat jam bekerja terus menerus (apapun jenis pekerjaannya) yang disebabkan oleh menurunnya kadar gula di dalam darah. Itulah sebabnya istirahat sangat diperlukan minimal setengah jam setelah empat jam bekerja terus menerus agar pekerja memperoleh kesempatan untuk makan dan menambah energy yang diperlukan tubuh untuk bekerja.

Teori syaraf pusat menjelaskan bahwa bahwa perubahan kimia hanya merupakan penunjang proses. Perubahan kimia yang terjadi menyebabkan dihantarkannya rangsangan syaraf melalui syaraf sensoris ke otak yang disadari sebagai kelelahan otot. Rangsangan aferen ini menghambat pusat-pusat otak dalam mengendalikan gerakan sehingga frekuensi potensial kegiatan pada sel syaraf menjadi berkurang dan menyebabkan menurunnya kekuatan dan kecepatan kontraksi otot serta gerakan atas perintah menjadi lambat. Sehingga semakin lambat gerakan seseorang menunjukkan semakin lelah kondisi seseorang.

Pengukuran Kelelahan

Sampai saat ini belum ada cara untuk mengukur tingkat kelelahan secara langsung. Pengukuran-pengukuran yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya hanya berupa indikator yang menunjukkan terjadinya kelelahan akibat kerja. Grandjean (1993) dalam Tarwaka et al (2004) mengelompokkan metode pengukuran kelelahan dalam beberapa kelompok, yaitu:

  1. Kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan
  2. Uji psikomotor
  3. Uji hilangnya kelipan (flicker-fusion test)
  4. Perasaan kelelahan secara subjektif
  5. Uji mental
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image