About the Author

author photo

male, 25 In relationship love to get along with another person love the friendship humble

See All Posts by This Author

My Novel

“”Semua Tak Sama”"

Oleh: Gunawan Tambunsaribu

“ Kamu gimana sich Rin!, masa kamu nongolnya lama banget?”, kata Rosy yang sudah terlalu lama menunggu di halaman kampus yang luas itu. “ maaf deh!, lu kan tahu kalo gue itu orangnya sering telat”, jawab Rina seadanya sambil menggandeng tangan Rosy menuju kantin. “Mbak, pesanan biasa nih!, Rina mengangkat jari tangannya dua yang artinya dua pesanan. Sebentar pembicaraan terdiam dan suasana menjadi sunyi senyap. “kletonng..kletang..dum.!”, si mbok memukul piring dengan sendok keras-keras hingga Rina terjatuh dan meringis kesakitan. Si Mbok dan Rosy terkekeh dengan kejadian yang sedikit lucu itu. “ gimana sich mbok, kok malah tertawa cengengesan gitu. Udah tahu orang lagi sakit”, kata Rina yang dengan nada sewot. “ habisss.., kamunya diem terus sih! Sepi….!. “Lho!, aku kan bukan pelawak, lagian apa hubungannya dengan ember, kata Rina dengan muka merah padam. “ aduh sorry deh non, nggak nyangka kejadiannya kayak gitu”, jawab Mbak Noni dengan nada menyesal. “ Udah! cepetan deh pesenannya, laper nih!“. Rosy akhirnya buka suara setelah semua reda. “eh Ros, Mamaku pesan dari kampung, aku harus pulang minggu depan, kata Rina memberi tahu Rosy sobat setianya itu. “Alasannya?”, tanya Rosy. “aku kagak tahu deh, soalnya aku tahu dari temen satu kampung. Katanya nggak tahu juga alasannya. Mungkin urusan keluarga kali…”, kata Rosy. “ Aku belom punya suami, tahu!”, timpal Rina. Atau mungkin kamu itu mo dikawinin”. Kampret lu Ros. Udah ah! jangan becanda terus”, kata Rina akhirnya.
Ruangan itu penuh dengan coretan. Ntah sudah berapa puluh tahun kamar itu di huni oleh para anak kost. Rina pun nggak tahu lagi. Ada poster artis telanjang, aktor dan aktris terkenal jaman dulu dan sekarang dan ada stiker-stiker anak kuliahan. Semuanya komplit deh buat kamu yang muda-muda. Tapi Rina suka dengan suasana yang seperti itu. Sampai hari ini pun nggak ada niatnya untuk memoles atau mengganti cat kamarnya itu. 2 bulan yang lalu Rosy udah pindah kost. Dulunya mereka satu kamar di sini. Sekarang tinggallah Rina dengan beberapa anak kost lagi di sini. Dalam 2 bulan itu pula Rosy nggak jarang ke kampus. Cumannya kalo ke kampus yang pertama dia cari adalah Rina. “ Kamu kok jarang masuk kuliah sih Ros. Dan belakangan ini muka kamu sering murung. Boleh aku tahu kenapa?”, tanya Rina dengan muka serius. “ Nggak ada apa-apa ko Rin, aku cuman males aja”, jawab Rosy seadanya. “oke! Kalo mulai sekarang kamu nggak anggap aku sobatmu lagi akupun nggak bisa berbuat apa-apa. Itu terserah kamu saja Ros”, kata Rina yang nggak puas dengan jawaban Rosy. “bukan gitu Rin, aku suer nih!, nggak bo’ong sama kamu”, mm……”, udah ah!. Nanti kamu juga tahu kenapa?. Pulang yuk!, udah kesorean nih!”, ajak Rosy sama Rina. Rina cuman ngikuti langkah Rosy yang seakan-akan berpura-pura menunjukkan senyumannya buat Rina. 4 tahun sudah mereka hidup satu penderitaan satu kebahagiaan dalam canda tawa anak kost. Tapi Rosy pindah tanpa alasan yang pasti. Malah hal itu yang membuat Rina jadi sering melamun di kamar itu sambil memandangi foto Rosy . Berat nian hati Rina saat tahu rencana Rosy. Namun apa boleh buat Rosy bersikeras pindah ntah kemana. Rosy sebenarnya tinggal di Medan. Namun kampusnya terlalu jauh dari rumahnya. Jadi dia ngambil inisiatif untuk ikutan kost sama Rina yang telah dikenalnya dengan baik saat semester pertama. Rina tidak sabaran melihat wajah Rosy muncul di kampus. Satu bulan berlalu dan batang hidung yang sedikit mancung itu tidak muncul-muncul. Rina Bergegas menuju sebuah ruangan di kampusnya. “ Ibu tahu Rosy kemana?, atau ada informasi tentang dia gitu?”, tanya Rina sama bu Risma dosen Etika di Fa. Sastra itu. “ kamu kok nggak tahu?, malah nanya sama ibu. Kamu itu kan sahabat dekatnya dari dulu”, jawab bu Risma sedikit heran. “Makanya itu bu!, aku ingin tahu, soalnya Rosy pergi tiba-tiba dan nggak pamitan”, kata Rina. “kalo sepengetahuan ibu.., Rosy berencana kuliah di Los Angeles ngambil jurusan Ekonomi juga”, kata bu Risma dengan memandang raut wajah Rina. Rina terkesiap dan seakan tak percaya dia terus memandang serius wajah bu Risma. “Eh! Kok malah ngelamun sih”, cubit bu Risma lembut di lengan Rina. “Aa.. Anu bu, cuman heran aja!”. “ Ya sudah!, kamu ada kuliah ini hari?, tanya bu Risma. “nggak ada tuh bu!, jawab Rina. “kalo ada waktu, ya coba aja cari di tempat kost barunya atau telpon ke rumahnya di Binjai!”, sebutan desa kecil yang masih berbau sawah dan pegunungan. “Makasih ya bu!”. Aku akan langsung ke sana, siapa tahu Rosy belum berangkat”, jawab Rina sambil pamit dan berlalu pergi.
Teringat akan memory dulu yang pernah ada diantara mereka, memang sepantasnya Rina menjadi sangat sedih dan merasa ada yang hilang dalam hidupnya. Tak ada lagi suara cekikikan dan suara centil yang menyiraminya saat bangun telat dan yang memukul jidatnya kalo datang telat. Janji untuk hidup serumah selama masa perkuliahan memang tidak ada lagi. Rosy yang berlalu seperti angin, menyirnakan janji itu.
Sementara dalam pertengkaran malam itu,….“Pa! Rosy nggak mo kuliah jauh ke luar sana. Papa aja deh yang berangkat. Lagian kan papa yang punya hubungan kerja di sana!, Mama kan di sini!. Ada Ari kok yang ngejaga aku kalo bapak takut aku berbuat yang nggak-nggak selama kuliah. “plakk!”, sebuah tamparan keras mengagetkan Rosy dan ibunya. Rosy serta merta menangis sambil meringis kesakitan akibat tamparan papanya di pipinya. “ Bapak nggak mau lagi ambil pusing. Bapak nggak mau kamu hidup bebas di Medan ini. Mama kamu tidak bisa setiap hari datang ke kampus lihatin kamu. Pake kost-kostan segala lagi. Bapak nggak mau kamu hamil di luar nikah seperti teman-teman kuliah kamu itu. Papa nggak bisa ngontrol kalian tiap hari. Jadi lebih baik kamu sekolah di sana. Bibi kamu sudah bersedia ngurusin kamu selama di sana!, bukannya ngucapin terimakasih. Itu demi masa depanmu. Kamu tahu itu?. Mama kamu jauh di rumah ini dan Ari masih sekolah di daerah sini”. “kata ayahnya menambahkan. “Pa! Aku ini udah gede, tahu mana yang baik dan mana yang buruk”, sambil menangis terisak Rosy ngejelasin sama orangtuanya yang juga berperangai keras seperti orang tua jaman Siti Nurbaya. “Ah! Alasan kamu itu-itu saja”. Bapak nggak percaya sama anak sekarang ini, termasuk kamu”. Pak Ruslan masih berkacak pinggang sambil menatap tajam anak gadisnya itu. “ Ya udah Pa ! Rosy udah ngenal dan gabung sama teman-teman kuliahnya di sana dan ngenal suasana kota Medan. Mungkin dia kerasan tinggal dan kuliah di sana!”, Mama mencoba meluluhkan hati suaminya yang otoriter itu. “pokoknya minggu depan kamu ikut ayah keluar negeri. Titik!” Ayahnya pergi ke kantor dengan wajah berang. “uhkkh…uhkh..maa..”, Rosy memeluk Mamanya yang tak bisa berbuat apa-apa. “Mbak Ros! Ari nggak tahu apa-apa. Sory ya Mbak!” Adek bungsunya itu dipeluknya erat-erat seperti semasih bayi dulu. Keduanya jarang berantem dan akur-akur aja. orang lain yang baru lihat mereka sering salah sangka bilang Ari pacarnya Rosy. “nggak mirip sich!”, kata orang kalo sudah tahu mereka itu saudara. Nggak salah memang, Ari yang udah kelas III SMU itu sudah kelihatan dewasa. Lagian postur tubuhnya yang tinggi melebihi tinggi Perkampungan itu membuat Rosy. Betah tinggal di sana. Segerombolan kawannya itu melambaikan tangannya buat Rosy. “Ros! Jangan ngelamun aja lo. Pokoknya sehabis turun gunung semuanya udah beres”, Gandhi sang ketua musim ini memilih Rosy sebagai penjaga tenda dan mempersiapkan makan siang para pemanjat baru itu. Itu karena permintaan Rosy sendiri karena badannya sedikit lemes dan nggak sreg naik puncak Sinabung yang terlalu tinggi. Jam menunjukkan pukul 06.30 wib. Suasana di bawah gunung sangat dingin dan apalagi puncak gunung yang terselimuti kabut tebal. Rosy udah sendirian dan sambil melamun dia tertidur lagi. “Rin, kamu kok sinis banget dan nggak ngomongin aku sih?”, tanya Rosy akhirnya. “lho kamu kan yang mulai. Kamu katanya mau pergi ke Los Angeles dan menjauh dari aku. Hah! Kamu tahu dari mana?, tanya Rosy sedikit kaget. Pokoknya mulai sekarang aku nggak mau kamu nongol lagi di depanku. Kamu terlalu sombong dan egoisss!, Ri….!”, Rosy mencoba menghalau namun Rina sudah pergi ntah kemana. “sshhh..shhh crash..tak! Rosy terbangun dan memperhatikan sekelilingnya. Dia baru saja mimpi dan angin semakin kencang tapi matahari mulai menampakkan sinarnya. Sudah jam 07.45 akhirnya Rosy mencoba membuang rasa malasnya dan mempersiapkan nasi toh untuk teman-temannya yang sebentar lagi sampai dari pendakiannya. Sesudah itu ditinggalkannya tenda dan semua isinya. Dekat sebuah warung bocah berlarian bermain dan saling mencari. sebuah permainan anak-anak yang lucu. Disamping warung itu seorang bocah kecil merenung dan memandangi anak-anak sebayanya yang bermain ceria dan tiba tiba memandangi wajah Rosy yang baru muncul. Beberapa menit kemudian Rosy bersitatap dengan bocah tadi dan Rosy merasa kangen samam Arinya yang kecil imut dulu. Sini! Rosy memanggil anak itu, namun dia sedikit ragu dan mencoba mengitAri halaman luas itu. Berlari kecil dia lewat belakang rumah menuju Rosy duduk di samping warung itu. Sudah dekat anak itu dengan wajah sedikit bebinar tapi dengan malu-malu memandangi Rosy. Rosy pun mencoba meraih tangan bocah cilik itu. “ duduk di samping kakak ya sayang”, Rosy menjabat anak kecil itu. Panggil ka’ Rosy aja. Adek namanya siapa?. “Rico !.”. “Rico kok nggak maen sama temennya?”, Rosy bertanya pada Rico yang berumur kira-kira 6 tahun itu. “nggak dibolehin. Katanya iko elek dan miskin, jawab Rico dengan manja seakan-akan ingin mencurahkan kesedihannya buat Rosy seorang. “Bapak Iko mana?. “Iko nggak punya ayah, Mama pergi jauh waktu Iko di kota Medan. “disini tinggal sama siapa”, tanya Rosy mengelus wajah si bocah. “sama paman di sina!”, Iko menunjuk warung tepat disamping mereka. Sambil menitikkan air mata Rosy memperhatikan raut wajah anak itu yang penuh dengan bekas pukulan dan cubitan. Tubuhnya kurus dan putih kotor kulitnya bercampur debu. Pantas saja Iko lewat belakang rumah kosong itu. Mungkin takut kalau-kalau kelihatan bibi dan pamannya. Koko mau kakak ajak ke sana”, Rosy menunjuk ke arah kemahnya. Rico mengangguk perlahan. Tapi masih dengan rasa takut. “sebentar ya sayang, Rosy pergi membeli sesuatu, ternyata roti dan dan kerupuk. Sambil berjalan menjauhi perkampungan yang sunyi itu mereka melewati jalan setapak menuju puluhan kemah dibawah bukit itu. Orang-orang sedikit heran melihat Rosy membawa anak gembel tapi yang lainnya malah menggoda Rosy terutama cowok-cowok nakal disitu. Rico yang manis merasa sedikit bebas dan merasa aman dipelukan Rosy. Rosy mandiin Rico dan makan bersama di tenda itu. Sambil cerita mereka masak bersama-sama. Rico tertawa berlari dikejar Rosy, setelah itu mereka berdua mencuci piring kotor di tepi pantai Lau-Kawar itu. Rico si anak kecil imut itu sesekali tertawa cekikikan, membuat semua orang yang melihat Rosy menjadi iri sekaligus heran dengan kedatangan Rosy membawa anak kecil dari perkampungan seberang gunung. Sehabis mandi tadi Rico nampak lebih sehat, senyuman manisnya menbuat Rosy jadi gemes. Pipinya yang montok dan dagunya yang mungil membuat Rosy ingin terus mencubitinya dan menciumnya. Rosy mengusap dahi dan rambut anak itu. Rico menatap sayu pada Rosy dan serta merta memeluk Rosy dengan isak tangis yang lembut membuat hati Rosy menjadi sedih dan makin erat memeluk Rico. Akhirnya seorang bapak-bapak datang dan tiba-tiba menghardik Rico, “ hey ngapain ke sini. Siapa pula kamu!”, tanya bapak itu membuat Rosy jadi kaget dengan datangnya bapak itu. “Rico! Ayo Cepat pulang”, dijewernya kuping anak malang itu. “pak!, jangan kasar gitu dong, dia itu masih kecil dan nggak tahu apa-apa. Saya yang salah pak! Rico jangan diapa-apain, Rosy mencoba menarik tangan Rico dan…”Heh!, anak kota. Kamu nggak ada urusan ya!”, Ditepiskannya tangan Rosy dengan kasar hingga Rosy hampir terjatuh. “Duh! Dasar orang tua yang tak punya belas kasihan”, gerutu Rosy dalam hati. “Ric! Jangan nangis sayang”, Rosy melambaikan tangannya pada Rico yang mencoba menoleh ke belakang dan hal itu membuat si bapak yang berkumis tipis dan berkulit hitam tak terawatt itu semakin menjewer telinga Rico itu dengan keras. Sejenak Rosy hanyut akan bayangan Rico dan terlintas di benaknya Gun Ari adiknya semasih kecil. Wajah Rico yang teduh membuat Rosy jadi kangen sama Gun Ari. Nggak jauh mirip dengan Gun Ari sewaktu kecil. Sayangnya Rico hidup di bawah kekangan pamannya sendiri. Hah! Udah jam satu”, Rosy bergumam. Serta merta di lihatnya puncak gunung itu dengan tegar dan menghirup nafas dalam-dalam. Di kaki gunung itu terlihat beberapa orang pemanjat gunung dan di lihatnya sebagian melambaikan tangan padanya. Disambutnya dengan senyuman walaupun dia tahu teman yang masih jauh di sana tidak melihat senyuman manisnya. Jam dua siang kemah sudah ramai. Kumpulan orang sedang ngumpul di depan kemah dan kemah lainnya ramai dengan suara tawa dan bunyi gitar. Sampai malam Rosy banyak diamnya sehingga kawan-kawannya asyik membicarakan dia. Katanya Rosy kesurupan waktu ditinggal atau Rosy mau coba bunuh diri. “Ah! Namanya juga orang kan suka gosip dari pada nggak ada yang mau dibicarakan lebih baik bicarain orang lain, itu prinsipnya”, kata hati Rosy dengan hati yang sunyi. Tidak biasanya memang Rosy terdiam begitu. `
“Priit..!, kumpul semua di depan tenda”, suara peluit berbunyi di bawa angin malam sambil menusuk tulang rusuk semua penghuni lembah gunung yang berdiri angkuh itu. Budi Assisten pelawak sedang menyalakan api unggun dan sambil membuat cerita lucu anginpun semakin kenceng, tapi semua malah makin seneng dan suara gitar mengalunkan nada-nada mengiringi suasana hati masing-masing malam ini. Acara ini sekaligus acara penutupan malam atau perpisahan dengan hawa gunung Sinabung dan semua orang yang masih ingin mendaki gunung. Gabung dengan temen lain. Acara kemah memang sangat mengasyikkan tuk berbagi cerita dan ceria.
Hamparan langit biru di angkasa membuat hari begitu cerah dan indah. Sementara burungpun beterbangan mengepakkan sayapnya yang juga menari. Para muda-mudi itu sedang berjalan dengan riangnya, kadang tertawa dan terkadang diam membisu dengan pikiran masing-masing. Tapi sepasang mata itu terus menerawang kosong. Ntah apa yang terjadi dengan gadis itu. Rambut lurusnya tertiup angin membias pipimya yang ranum. Ntah sudah berapa lama gadis itu duduk menopang dagu di sudut halaman kampus yang luas itu. Tentu ada hal yang selalu terpikir oleh gadis itu. Rina.. Rina!, sampai kapankah engkau terpaku dalam angan-anganmu yang kosong. Semua temanmu kau acuhkan dan ceriamu sudah lama berlalu”, angin seakan menyesali perbuatan Rina. Dua hari lagi Rosy akan sekolah ke luar negeri melanjutkan studynya . Kadang air mata tak bisa ditahannya mengingat akan kepergian Rosy. Rina terlelap dalam biliknya yang kecil itu, adiknya masuk dan membangunkannya. “ Mbak, ada surat nih untuk Mbak!, kata adiknya mengagetkan Rina. “ coba baca dari siapa!, suruh Rina yang sedikit malas untuk bergerak. “uuhhh…, baca aja sendiri, males ah!”, kata adiknya Uly yang paling bontot. “Srek..sreak!” Surat terbuka dan Rina mulai membacanya.

Sobat!
Engkau seperti gula di cangkir putihku
Engkau seperti mutiara menghiasi mahkotaku
Apakah secepat itu kau menghilang

Seluas pulau orang sebrangi
Tuk dapatkan apa yang dia cari
Begitulah layaknya aku berdiri
Tuk dapatkan sahabat sejati

Namun di sana ada sebuah jala
Yang menyeret ikan-ikan yyang sedang menari
Akupun jua tidak berdaya
Kau telah berlari , tinggalkan aku sendiri

Dari sobatmu, Rosy

Nb: Rina sobatku. Lusa aku akan berangkat. Tgl 5 April 2002. Jika kamu masih menganggap aku sebagai sahabatmu, Aku tunggu kau di bandara Polonia jam 08.00, karena jam 10 Wib pesawat akan berangkat. Kutunggu sobat akan kehadiranmu. Jangan kecewakan aku.
Dilipatnya surat itu dengan rapi, disisipkannya di kotak kecil di bawah meja reyot itu. Resah nian Rina memikirkan hal itu. Teringat janjinya untuk tidak melihat kepergian Rosy ke LA tempat kuliah baru pilihan ayah Rosy sendiri. “Ah, begitu egoisnya dirimu Rin!,” seakan ada sebuah suara mengagetkan lamunan Rina. “lain di bibir lain pula di hati”, hati Rina bicara. Surat terakhir Rosy selalu berdengung di kupingnya,” jangan kecewakan aku sobat”.
Sudah jam satu malam, namun Rosy tetap tidak bisa tidur. Dengan jendela yang terbuka Rosy menghirup udara malam ynag begitu dingin. Tapi dengan suasana seperti ini Rosy ingin dekat dengan semua temen-temennya yang sedang merindukannya. Apalagi harus menjauh dari Rina yang sudah seperti saudara sedarah dagingnya. Akhirnya Rosy bisa tertidur di daun jendela kamarnya jam 02.00. Rosy pagi ini malas untuk bangun dari tempat tidurnya. Sedangkan ayah Mamanya sudah dari tadi ngemasin barang-barang bawaan Rosy dan ayahnya ke Los Angeles. Rosy akhirnya bangun setelahnya ayahnya ngomel-ngomel dengan kelakuan Rosy. Usai cuci muka Rosy memperhatikan adiknya yang nggak sekolah hari ini gara-gara keberangkatannya. Diperhatikannya Ari yang sedang menyusun baju Rosy ke koper dengan sedikit kucuran keringat di dahinya. Sesaat tatapan mereka beradu dan..” Lho Mbak udah bangun toh?. Sini dong bantuin Ari”, Rosy datang ke dekatnya dan mengusap keringat adiknya yang tampan itu. Ari malah tambah seneng kalo Rosy merasa senang seperti itu. Mbak Rosy mandi dulu ya sayang”, Rosy beranjak dan Ari hanya menatap langkah kaki Rosy, kakaknya yang sebentar lagi meniggalkannya untuk waktu yang lama. “Mmm…”, Ari ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya seakan tersekat di rongga mulutnya. Tapi Rosy mendengar hal itu juga .” ada apa Dek? “, Rosy menoleh ke arah Ari, tapi adik lakinya itu seakan tak dengar suara Rosy dan serasa memalingkan mukanya dan jarinya seakan berpura-pura mengusap keringat di dahinya. Tapi Rosy segera mendekat dan menghadapkan mukanya menatap adiknya. “ lho! Ari kok nangis”. “Nggak kok Mbak. Ari mencoba menutupi rasa sedihnya. Rosy jadi memeluk adiknya dan “ Mbak juga sedih kok ninggalin kamu. Tapi ayah nggak bisa ditentan” Rosy menepuk pundak adiknya yang sudah mempunyai kumis tipis hitam itu. “Ya udah!. Mbak nanti akan sering-sering nelpon kamu sayang. Udah..udah! Jangan nangis gitu ah!. Aku jadi pengen nangis nih!”. “Iy..iya Mbak”, sesaat mereka saling berpandangan dan Rosy bergegas ke kamar mandi. Disitulah ditumpahkannya tangis yang tadi ditahannya. Ari yang manja, mandiri, pintar lucu. Semua akan menjadi kenangan manis dan akan membuat aku kangen nantinya”, kata hati Rosy.
Suara bunyi peluit dan deru mobil yang lalu lalang membuata Rosy semakin suntuk dan resah. Adiknya Ari acapkali menatap wajahnya yang sedikit sayu dan sedih. Sesampai di bandara. Mereka duduk di lobby. Sesaat sesudah mereka melepas lelah, Rosy menggandeng tangan Ari yang duduk di sampingnya. Dari jarak 500 meter dari ayah Mama mereka Rosy terlihat terisak sambil memeluk adiknya. Ari akhirnya tak bisa menahan tangisnya juga. Sementara itu tangan Rosy mengeluarkan sebuah kado kecil dan diberikannya ke tangan Ari. “Dik! Aku ingin kamu kasih ini sama kawan kakak satu kuliah dulu. Ini alamat kostnya. Dan ini alamat kampungnya. Kamu bisa cari dia di kampus. Jurusan Ekonomi, semester VI. Namanya Rina”. Diperhatikannya ke sudut sana. Rina tidak muncul-muncul. Dan teng..teng..” Perhatian…perhatian…!”, suara pemberitahuan bahwasanya penumpang pesawat Garuda G-50 bersiap-siap memasuki pesawat yang segera berangkat. Ditengah keramaian itu Rosy menangis dengan sedihnya. Mamanya dipeluknya. Ari dengan erat memeluk Rosy kakaknya. “Mbak jangan lupa nelpon aku ya?”, kata Ari dengan matanya yang sedikit menunjukkan ketenangan. Dengan tidak datangnya Rina melepas kepergiannya menambah luka dan duka di hati Rosy. Sebelum memasuki pesawat Rosy tetap menoleh menunggu kedatang Rina. Pesawat berangkat sudah meninggalkan kenangan bagi orang yang ditinggalkan oleh yang pergi.
“Tak ….tuk ..ktakk..ktakk…….. “ Rina berlari dan terus berlari menghampiri para tamu-tamu yang baru saja ditinggalkan para keluarganya dan masih duduk termenung di tempat itu. “ Pak ! Pesawatnya udah berangkat?”. “Aduh non! Baru aja berangkat. 5 menit tadi!”, jawab seorang bapak yang terkejut dengan kedatangan seorang gadis yang berada di sampingnya. Terpaku dan ternga-nga mulut Rina mendengar hal itu. Aduh! Bukh!”. Tiba-tiba Rina terjatuh pingsan. orang banyak berkerumun dan mencoba menyadarkan Rina dari pingsannya. Pegawai bandara membawa Rina ke ruangan yang agak terbuka dan berhawa segar. “ gimana ceritanya neng ini bisa pingsan“, tanya seorang pemuda yang nolongin Rina. “gini nih! Non ini tadi nanya apakah pesawat yang tadi barusan udah berangkat apa belum. Bapak jawab iya. Mungkin saja ada keluarga atau pacarnya yang berangkat, jawab bapak yang tadi ada ditempat kejadian”. “ooo… gitu ceritanya”, ya udah pak ! biar saja kakak itu yang merawat dia”. Kak!. Tolongin rawat sebentar ya”, kata pemuda pegawai bandara itu. Sang penjaga kantin mengiyakan dengan pandangan tulus. Jam 5.30 sore hari. Sudah lebih 7 jam Rina jatuh pingsan. Seorang Pramugari sedang mencoba mengurut dahi Rina , Rina sudah sadar dan membuka matanya. Sang Pramugari yang sedang istirahat di kantin itu tadi melihat Rina terkapar. “ adik udah baikan?, tanya nya pada Rina. Rina kembali menangis dan terisak dan dengan sayu matanya menerawang ke balik kaca yang putih bersih hingga menembus pemandangan sore yang indah. Rina bercerita kepada Mbak Vina tentang semua yang terjadi sampai saat dia jatuh. Ditatapnya senyuman Vina yang tenang sayu dan penuh kedamaian. Akhirnya Rina pamit dan Pramugari tadi turut melepas kepergian Rina dengan melambaikan tangannya. Dengan perasaan sedih Rina meninggalkan bandara sampai pada tempat pemondokannya. Di tempat tidur kostnya yang mungil tertumpah semua tangis dan semua kenangan bersama Rosy. Teringat kembali semua kenangan-kenangan bersama Rosy yang dulu setiap saat menemani tidurnya. Rina tidak ingin mengubah semua yang ada di kamarnya. Biar suasananya tetap seperti dulu. Sayangnya Rosy tidak lagi dalam bentuk nyata. Tetapi hanya bayangan yang selalu hadir di sisi Rina.
“ Hey! Ri, lo kok nggak nongol-nongol sih 2 hari ini!”, tanya Andon teman satu kelas Ari itu. “Tau nggak, Novi nguber-nguber aku dengan pertanyaan-pertanyaannya. Ya aku jawab nggak tau dong!”, cerita Andon temen akrab Ari di sekolah. “Emang lo nggak gue kasih tahu Don kalo gue itu kemana?”, Ari berpura-pura serius menanggapi Andon yang serius banget bercerita. “ Kampret lo Ri. Jadi kawan itu ngomong dong.., mo kemana ke! Ini nggak. Kita semua pasti tanda tanya do..ong”. “Udah ah! jangan marah gitu, emang aku yang salah sih!”, Ari akhirnya menceritakan semuanya pada Andon yang lagi sewot. “ Ayo ke kantin. Udah lama nggak ketemu temen-temen ”, ajak Ari. Kalo udah begini, Andon nomor satunya. Kantin emang tak lepas dari uang. Tapi kalau namanya di traktir, siapa yang nggak mau!.
Novi rasanya kangen banget akan kehadiran Ari. Novi jadi ingat saat pacaran sama Andon sahabat akrab Ari. Kenapa tiba-tiba dia jadi naksir pada Ari saat dikenalkan Andon, Ari pada Novi 4 bulan yang lalu. Tiba-tiba Novi minta diputusin oleh Andon. Alhasil Andon heran dengan permintaan Novi. Andon tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sadar Novi itu orangnya suka gonta-ganti pacar. Semenjak itu Novi sering kali menggoda Ari dan mengirimkan SMS pada Ari bahwa Novi cinta sama Ari. Ari memang suka sama Novi, tapi lebih dulu Ari nanya pada Andon apa betul dia udah putus dengan Novi. Dengan persetujuan Andon, Ari mau pacaran sama Novi yang memang cantik seperti model itu. Semenjak itulah Novi jalan sama Ari. Tapi persahabatan Ari dan Andon bukannya renggang, tapi semakin akrab saja. Jadi tidak ada yang sakit hati-gara-gara hal itu. Semuanya sudah sama-sama kosong. “Ah! Novi bingung. Sudah 2 hari ini batang hidung Ari yang mancung itu tidak nongol. Makanya Novi males sekolah. Sudah beberapa kali dia nelpon ke handphonenya Ari, tapi tidak aktif. Cemburu selalu menghantui pikiran Novi. “Tok..tok. Non ada tamu Non!”, pembantunya berdiri di pintu kamarnya. “Siapa bi?”, tanya Novi. “katanya namanya Ari Non”. “Hah! Ari? Arii…”, Novi berlari dari atas hingga nafasnya ngongosan sampai di muka pintu di depan Ari. “ Aaaa…”, Novi langsung memeluk Ari dan Ari menyambutnya dengan perasaan kangen juga. “Ari disuruh duduk dan Novi nyeduh teh manis dingin buat Ari. “ Kamu kemana aja sih Ri.. “ aku di suruh bokap ke Pekan Baru. Di sana nggak ada telpon. Pedalaman sih!. Jadinya aku nggak bisa nelpon kamu sayanng”, kata Ari lembut dan mengelus rambut Novi. Wajah Novi masih sewot. Tapi lama kelamaan Novi akhirnya ngerti juga. “ Kamu nggak marah lagi kan?”. “Kalo marah kenapa?, tanya Novi berpura-pura marah. “ kalo kamu marah, aku mau cium kamu”. “Hah!. Coba kalo berani”, ancam Novi. “Cup!. Bibir Ari mendarat di kening Novi dan hal itu membuat pipi Novi jadi merah. “ gantian dong!”, pinta Ari sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Novi dan menutup matanya sebelah. “Nggak mau ah! Porno!”, jawab Novi. “Aku pulang aja dah!”, ancam Ari dan segera berdiri. “ Aduhh!. Nih!, cup cup “, tiba-tiba dengan eratnya pipi Ari kena kecupan bibir mungilnya Novi. “gitu dong baru enak”, kata Ari sambil memeluk pinggang Novi.
Rosy dan ayahnya telah mendarat 1 jam yang lalu dan langsung di sambut oleh keluarga bibinya di bandara LA. Setelah semua saling melepas kangen, Mereka berangkat ke rumah bibinya itu. Rosy sedikit tenang dengan hawa LA yang sejuk. Namun pikirannya masih menerawang jauh ke kota kelahirannya. Sesampai di rumah Rosy memperkenalkan dirinya pada semua sepupunya. Semuanya seneng dengan kehadiran Rosy dan ayahnya. Tapi ayahnya besok sudah berangkat lagi ke Indonesia. Sedangkan semua urusan kuliahnya sudah diserahkan pada paman dan bibinya. Dianya cuman mengantar putrinya ke LA. Cepat sudah malam berlalu hingga Rosy tertidur di kamarnya dengan barang-barang yang masih terbungkus rapi. Paginya Rosy mengatar ayahnya ke Bandara ditemani Tino dan Andre sepupunya yang 2 tahun lebih tua darinya. Pesawat yang dinaiki ayahnya sudah berangkat dan kini tinggallah Rosy di rumah bibi dan ditemani oleh saudara-saudara sepupunya.
Hangatnya semarak sinar bulan membuat suasana kota Medan jadi tambah indah ditambah lampu-lampu lampion di jalan raya menambah keasyikan kota itu. Plaza-plaza dipenuhi orang-orang dari segala umur. Tapi lain halnya di sebuah Restoran di tengah kota di Restoran yang bernama “Kenanga”. Kedua insan sedang merangkul dan melepaskan rindu. Tidak salah lagi kalo itu adalah Ari dan Novi yang sedang menikmati makan malam berdua. Keduanya masih berstatus siswa SMI N 1 Medan. Namun malam ini mereka tidak mengenakan seragamnya seperti hari-hari biasa. lima jam sudah Ari menceritakan semua masalahnya. Dia sedang bingung mencari sebuah alamat kampung, yakni alamat seorang gadis manis bernama Rina. Ntah kenapa Ari ingin sekali bertemu dengan gadis itu. Bukan hanya karena ada titipan kakaknya, tapi serasa ada suatu suara yang mengatakan bahwa dia harue secepatnya bertemu dengan gadis yang bernama Rina yang membuat kakaknya Rosy berat melepaskan orang tersebut. Terbayang lagi di di mata Ari saat-saat kepergian kakaknya itu. Tiba-tiba “Ah. Plokk!”, Novi menampar pipi Ari lembut. Ari kaget dan berhenti melamun. “ Ide apaan sih?. Main pukul aja”, tatap Ari pada Novi yang memakai gaun lembut tanpa lengan malam itu. “Gini aja!. Kak Rosy kan satu kampus ama dia. Kok nggak kamu tanyain aja sama temen temennya yang satu fakultas. Atau sama Dosennya!”. “aku udah ke kampusnya, tapi belum ada kabar”, kata Ari sambil menoleh keluar sana. “ coba lagi kan nggak apa-apa”, kata Novi sambil mengelus punggung Ari. “ ya udah saya akan coba besok”, kata Ari sambil menggenggam tangan kekasihnya itu mesra. Malam semakin larut, diiringi bunyi deru mobil yang sedang lalu lalang. Ari akhirnya memanggil pelayan dan membayar billnya di kasir. Setelah Novi diantarnya, dia masih terus mengelilingi kota ntah apa yang membuat dia gelisah saat ini.
Matahari agak panas sore itu, tapi Ari tidak mau lelah dalam pencariannya. Dicobanya terus mencari ruangan para Dosen untuk mencari informasi tentang yang namanya Rina. “oh Rina!. Dia ngambil cuti kuliah selama satu bulan. Mungkin bulan depan dia sudah mulai kuliah lagi”, seorang dosen yang mungkin dosen Rosy dulu memberi tahu kabarnya Rina. “Makasih ya Pak atas informasinya”. “ya!, sama-sama nak!”. “Permisi pak!. Terimakasih Tuhan atas waktu hari ini yang kau berikan untukku”, doa Ari dalam hati.
April 25, 2001.
Angin berhembus malam ini. Setelah menyentuh tubuh, aku tak tahu kemana dia pergi” . Demikianlah sebuah tangan menuliskannya di sebuah Diary, yakni Seorang Pemuda dengan model rambut cepak ala Ricky Martin artis Pop Perancis itu. Tubuhnya tinggi dengan alis yang sedikit terangkat membuat dagunya seperti meruncing. Ada sebuah nama dengan huruf miring tercetak di akhir kalimat puitis itu. “ Rosy”!. Tentulah gadis itu telah pergi ntah kemana tanpa pesan. Ternyata dari isi diary ini, banyak kisah yang ada hubungan erat antara Rosy dengan pria ini. Dua bulan sudah mereka saling mengenal. Itupun terjadi pada saat-saat yang tidak diduga. Saat itu Rosy bertemu dengan Iwan di sebuah toko buku. Eh! Tahu-tahu mereka saling beradu pandang dan entah karena apa mereka saling mengenalkan diri masing-masing. Dalam pertemuan selanjutnya mereka sudah seperti sepasang kekasih. Tiada kata terucap ataupun sebuah coretan kecil yang menjadi pertanda bahwa Rosy telah meninggalkannya ntah untuk waktu berapa lama. Dan herannya, sampai saat ini Iwan belum tahu persis dimana alamat Rosy yang sebenarnya. Ntah kenapa Iwan percaya saja akan Rosy dan karena masih baru kenal, jadi Iwan belum sempat menanyakan alamat Rosy. Lagian Rosy masih tertutup akan masalah keluarganya kalau Iwan tanya. Jadi Iwan masih sabar menunggu. Soalnya Rosy sudah cerita bahwasanya dia sangat sayang sama Iwan. Dalam 2 bulan ini juga Rosy tidak menelepon dirinya dan disinilah timbul rindu yang suci. Kini apa yang tidak pernah disangka oleh Iwan terjadi dengan tiba-tiba. 2 bulan ini dia sudah coba mencari informasi tentang Rosy dan alamatnya. Namun tiada hasil yang memuaskan Iwan. Tinggallah bayangan Rosy bergelayut dalam hayal Iwan yang makin resah karena rindu. Iwan seringkali pergi sendiri ke sebuah taman tempat mereka dulu sering menghabiskan sore dan bercerita panjang lebar. Di bawah sebuah pohon Mahoni, Iwan duduk dan menatap batang pohon itu dengan seksama. Dulu dia dan Rosy sering bersandar di batang pohon itu. Ada dua buah nama terukir indah di kulit kayu itu. Masih terlihat jelas sekali. Jemari Iwan bergerak pula membelai kursi disampingnya, seakan Rosy yang sedang duduk di sampingnya dengan rambut wangi terurai yang sering di belainya. Iwan bukanlah lelaki cengeng. Tapi ntah kenapa dia seakan tak bisa menerima kepergian Rosy yang tiba-tiba. Kesederhanaan Rosy yang selalu ingin dinikmatinya dalam hari-harinya. Walaupun Iwan adalah anak yang kurang perhatian dari orangtuanya. Dia punya saudara perempuan dua orang dan satu kakak laki-lakinya yang sudah menikah. Iwan Sering ditinggal ayah dan mamanya yang sering pergi keluar kota. Tinggallah ia dan saudaranya di rumah. Tapi hubungan mereka berempat terbilang akrab satu sama lain. Adiknya sangat dimanjakannya. Hanya saja kakak laki-lakinya yang kuliah di Fakultas kedokteran USU itu sedikit pendiam. Tapi dia juga sangat perhatian dengan sikap kakaknya yang berwibawa. Dua orang pembantu di rumahnya juga betah tinggal di rumahnya yang lumayan besar itu, dikarenakan sikap Iwan dan saudara-saudaranya sangat perhatian. Tapi dulu, sewaktu Iwan berusia belasan tahun, Iwan sering pergi ke Bar atau kumpul dengan teman-temannya dan tinggal berhari-hari di rumah temannya juga, dikarenakan Iwan kurang mendapat perhatian dari kedua orangtuanya. Namun semenjak kenal dengan Rosy dia berusaha mengubah sikapnya karena Rosy bisa memberikan dan menerapkan sesuatu yang berharga dalam jiwanya yakni kasih sayang. Iwan termasuk mahasiswa yang sering jadi incaran cewek-cewek cantik di kampusnya. Iwan masih mengingat kata-kata Rosy. “ kecantikan tubuh bukanlah membuat seseorang menjadi menawan, tapi hati yang tulus dengan kebaikan menjadi dambaan setiap orang”. Semenjak duduk di bangku SMA 4 tahun yang lalu, Iwan baru merasakan indahnya kasih yang diberikan orang yang dicintainya yakni Rosy. “Oh! Rosy. Beritahu aku dimana kau berada saat ini!”, Bisik hati Iwan.
Kerlap-kerlip lampu menerangi apartemen Rosy. “ Tuhan! Apakah aku mampu meniti hidupku di kota yang besar ini?. Mampukah aku menjalani hidup dengan kesedirian ini?, Rosy berbisik dalam hati. Malam yang terasa dingin itu membuat pikiran para gadis kota itu melalang buana seiring dengan ramainya orang berjalan. Itulah gambaran kesunyian malam itu. Paling tidak suasana saat itu nampak jelas dari lantai ( sepuluh ) 10 apartemen itu. Di lantai itu juga Rosy kini tinggal dengan menyewa tempat tinggal setelah dia berkeinginan untuk tinggal sendiri agar tidak merepotkan keluarga bibinya. Keluarganya memang baik, namun hatinya tidak tenang dan merasa terlalu diperhatian oleh keluarga bibinya. Untuk itulah dia menyewa sebuah kamar di apartemen di pusat kota besar itu. Kalau sudah sendirian di malam hari begini, Rosy tak bisa menghilangkan bayang-bayang orang yang kini ditinggalkannya di kota kelahirannya. “How is life?”, seorang pemuda berperawakan sopan menyapanya dengan ramah. “so – so!”, jawab Rosy sekedarnya. “ What will you do tomorrow?”, Tanya pria setengah bule itu pada Rosy yang seakan tidak terlalu berhasrat untuk ngobrol saat ini. “Just stay at home!”. “I’ve a party tomorrow. I do hope your coming!”, kata cowok berkulit putih itu. Masih dengan muka dingin Rosy menjawab, “how could it be?, tanya Rosy. “Please. Please Rosy!”, cowok itu memelas pada Rosy, hal itu terlihat dari alisnya yang bergerak membentuk lekukan. “Alright! I’ll try for coming”, jawab Rosy. “ Mau saya antar?”, tanya pria bule yang ternyata bernama Wright Simon itu dengan logat Indonesianya yang kaku. “Tidak usah!, terima kasih Wrightt!” Jawab Rosy. “Promise me that you will come to my party, Ok?”, Tanya sekali lagi memastikan janji Rosy akhir jumpa kuliah sore tadi. Rosy mengangguk. “I’ve to go. Bye!. “Bye!, jawab Rosy balik. Demikianlah Wrightt seorang pria bule kelahiran asli kota Los Angeles yang telah jatuh hati pada Rosy keturunan Indo itu. Perilaku Wrightt terlihat jelas bahwasanya dia sedang menaruh hati pada gadis Indonesia yang anggun itu. Dikarenakan Rosy seorang gadis yang ramah dengan senyuman manis selalu menghiasi bibirnya tak kala menyapa orang-orang di sekitarnya. Hal itu membuat Rosy selalu menjadi incaran cowok-cowok bule di kampusnya. Rosy sebenarnya percaya bahwasanya Wrightt tulus menyukainya. Tapi sikapnya terhadap wright biasa-biasa saja. Terlanjur sayangkah dia pada pemuda yang bernama Iwan yang telah ditinggalkannya di Medan kota kelahirannya itu?.
Hari itu telah tiba. Tanggal satu Juni ditandai dengan tinta merah di kalender yang tergantung di atas meja belajar Ari yang sedikit sembrawut itu. Tas ranselnya yang berisi suatu bungkusan ditaruhnya di atas pundaknya. “Ma! Pa!, Ari pamit ya!. Cup!” Ari masih sempatnya mencium pipi Mamanya yang sedang duduk dengan ayahnya di ruang tengah dan “ee…..!. Cium Papa dulu dong!. Kok cuman Mamanya yang dicium?”. “Nggak mau ah!. Makanya… Dulu kan Ari udah minta adik buat ngejagain papa mama ntar kalo Ari udah sekolah. Tapi mama papa tidak ngasih!. Lagian papa belon mandi tuh!. Bau ah!. Okey mam!, Pap!. Ari berangkat!”. “Hati-hati ya nak, jangan ngebut”, Papanya Ari senyam-senyum saja melihat Ari anak laki-lakinya yang kini sudah tumbuh dewasa dengan tingkahnya yang masih lucu. “Ma! Kira-kira pernah nggak Ari cerita tentang pacarnya gitu?”, tanya lelaki setengah tua itu pada istrinya yang masih terlihat muda itu. “Hush!. Papa kayak Teen-ager aja. Istrinya sedikit risih dengan pertanyaan suaminya itu apalagi suaminya mencoba mencubit lembut pinggulnya. “cemburu amat sih mama kalo Ari direbut ntar ama ceweknya”, goda papa Ari. “iiihh.!” Dicubitnya perut suaminya dengan lembut. Mama pagi-pagi kok main cubit. Peluk sekali-kali kenapa sih?”, goda suaminya sedikit serius. “Kalo nggak, ntar papa ngakk berangkat kerja nih, biar hari ini papa nemenin mama aja di rumah”, Dipeluknya dari belakang pinggang istrinya dengan mesra. “ papa ngegodain mama terus nih… Udah, sana mandi. Nanti telat kerjanya lho!”. “Okey dah mam!”, suaminya masuk ke dalam kamar sambil mencubit lagi pinggang istrinya yang masih cantik itu.
Meskipun hari begitu terik, Ari dan Novi berusaha menembus kemacetan lalu lintas menuju sebuah kampus yang terkenal itu. Kampus USU yang terletak strastegis dengan 4 pintu masuk utama dekat dengan perempatan jalan raya, membuat wilayah sekitarnya terlihat sangat ramai dan penuh kerumunan orang-orang dan mobil yang sedang menaikkan dan menurunkan penumpangnya. Tadinya Novi tidak di-izinin Ari ikutan mencari gadis yang bernama Rosy itu. Tapi karena Novi ngotot, jadi Ari tak bisa berbuat apa-apa karena ceweknya yang satu ini sedikit over Protec . “ biar kamu nggak jajan cewek lain di jalan”, kata Novi tadi pagi waktu Ari menyakan alas an kenapa dia harus ikut. Suara bising mesin dan langkah kaki orang yang lalu lalang bercampur aduk saat ini. Ada rasa aneh bergetar selalu dalam aliran darah Ari bila membayangkan dan mendengar yang namanya Rina itu. “Tok..! Tok!”. “ Silahkan masuk”, ada suara sapaan dari dalam ruangan itu. Ari dan novi membuka engsel pintu rumah dan..” Selamat sore!”, sapa mereka berdua hampir bersamaan kepada seorang laki-laki separuh baya yang membukakan pintu buat mereka. “selamat sore! “ silahkan duduk”, sambut sang bapak yang berada di kantor itu. “ apa yang bisa bapa Bantu?”, Tanya sang bapak tadi setelah mempersilahkan Ari dan Novi duduk. Lalu Ari mengutarakan niatnya untuk bertemu dengan seorang mahasiswa jurusan Ekonomi semeter V yang bernama Rina.“Oo.. Nak Rina!. Sebentar ya saya panggil dulu”. Bapak itu segera menekan tombol telepon kantornya dan berbicara dengan seseorang.. “Tolong mahasiswi yang bernama Rina Claudia mahasiswa jurusan Ekonomi dipanggil keruangan saya dan bilang ada tamu yang sedang menunggu. Terimakasih”, dan akhirnya bapak yang berumur kira-kira lima puluh tahun itu menutup teleponnya. “Tunggu sebentar ya nak!”, kata bapak yang berpostur tinggi kurus itu sambil menatap wajah Ari dan Novi sekilas. “Kalau saya bisa tahu, Mbak Rinanya sejak kapan masuk kuliah lagi setelah cutinya kemarin pak!?, tanya Ari. “eng.., sebentar bapak lihat data dulu..mmm Kira-kira 2 hari kemarin. Memangnya saudara ini ada uurusan penting dengan Rina?”, tanya bapak itu dan memperhatikan reaksi pemuda yang berada di depannya. “ mmm.. Iya pak. Tapi nggak penting-penting banget gitu”!. “ oooooo..!” bapak itu mengangguk tanda mengerti. “Maaf mengganggu bapak!, bisa kami tunggu di luar saja Pak?”. “ O..oo silahkan. Maaf!. Bapak juga lagi banyak kerjaan, tapi kehadiran adik-adik tidak menggangu bapak sama sekali. Tapi kalau adik-adik mau tunggu di luar juga nggak apa-apa. Dengan senyuman berwibawa dan ikhlas, bapak itu mempersilahkan kedua pemuda-pemudi itu menunggu tamunya di luar. Belum beberapa menit menunggu, dari lorong jalan panjang sebrang sana terlihat seorang gadis berjalan ke arah mereka sambil mempermainkan ujung rambutnya yang diterpa angin sore itu. Tatapannya sesekali beradu dengan pandangan Ari dan Novi yang mungkin sedikit bertanya-tanya apakah kedua orang yang dari kejauhan dilihatnya ialah tamunya. Namun karena jarak yang masih agak jauh tidak jelas kemana arah pandang gadis yang berambut panjang itu. Sekarang Terlihat jelaslah gadis tadi yang mengenakan kemeja hijau muda dengan bawahan jeans hitam. Ari sesaat memandangi gadis berkulit putih bersih yang sedang melangkah menuju ke arahnya. Gadis yang mempunyai hidung kecil sedikit bangir dgn rambut hitam panjang terurai yang sedang menjinjing tas kecilnya beserta buku di tangan kanannya. Ntah kenapa jantung Ari serasa mau mengeluarkan lahar panas dengan hentakannya yang tidak teratur. Sesaat pendangan mereka beradu. “Deg!” Muka merah Ari tidak bisa disembunyikannya lagi. Melihat Ari bertingkah aneh seperti itu, Novi jadi cemburu dan “Ri! Ini Mbak Rina?”. “Mungkin!”, jawab Ari setengah berbisik dan sambil berusaha menenangkan diri. Dari jarak satu meter Ari berdiri dan “Mmm.. Mbak Rina ya!”, tanya Ari. “Iya!, saudara yang sedang menunggu saya?”, tanya Rina menatap sedikit teliti pas ke bola mata Ari. “ iya Mbak!. Oh! Kenalkan dulu Mbak. Saya Ari dan ini Novi”, mereka saling berjabat tangan. “ ngomong-ngomong saudara Ari ini ada perlu apa mencari saya ya?”, tanya Rina dengan lembut setelah mereka bertiga duduk di balai-balai kampus. “Mbak Rina lagi sibuk?”. “Nggak ! Kuliahnya baru aja selesai. Untung saya belum pulang tadi. Jadi bisa ke sini”. “Syukurlah!”, Batin Ari bersorak girang. Dari raut wajah Rina, gadis ini ingin menanyakan segala sesuatu tentang kedatangan dua orang yang baru saja di kenalnya ini. Tapi…………” Sebenarnya mbak kenal nggak sih yang namanya Rosy?”, tanya Ari tiba-tiba. “Rosy?!”, ja..jadi Ari ini adeknya Rosy?”, tanya Rina tersentak kaget mendengar nama yang takkan pernah ia lupa selama hidupnya. “Iya Mbak Rin!. Saya disuruh menyerahkan ini kepada Mbak!”, seraya Ari memberikan kotak kecil yang masih terbungkus rapi itu ke tangan Rina. Tangan Rina sedikit gemetar menerima bungkusan itu dan karena masih dalam perasaan tak percaya bungkusan itu terjatuh ke lantai, namun cepat-cepat diambilnya kembali. Ari tersenyum saja seakan menikmati seraut wajah manis dengan wajah Rina yang masih merah merona. “Terimakasih banyak ya Ar!. Saya nggak tahu harus bilang apa lagi sama kalian berdua”. “Ah! Nggak apa-apa kok Mbak!. Malahan saya sudah merasa lega sudah ketemu dengan Mbak Rina dan menyerahkan barang itu. Sampai sekarang saya juga belum tahu apa isinya. Kalo nggak salah waktu itu Mbak Rosy lama nungguin kedatangan Mbak Rina di Bandara”, Ari sedikit mengulang cerita saat-saat keberangkatan kakak perempuan satu-satunya itu ke Los Angeles. “Ah! Iya saya memang sangat menyesal sekali. Waktu itu saya juga datang. Tapi di jalanan Angkot yang saya tumpangi ban kemps dan sesampai di bandara pesawatnya sudah berangkat, padahal saya udah bela-belain datang dari pagi-pagi buta. Ternyata saya datangnya masih telat lima menit. Saya sedih banget. Mmhh.. dan sampai saat ini juga aku sepertinya nggak bisa memaafkan diriku sendiri”, dengan wajah yang sedih Rina ngejelasin pada Ari dan Novi perjalannya saat itu. Sesaat mereka hanya terbawa kenangan satu tahun silam. “Mbak Rina nggak mau nanya apa-apa lagi?”, tanya Ari mencoba membuka pembicaraan lagi setelah beberapa menit mereka terdiam membisu ditemani angin sejuk senja itu di taman kampus tempat Rosy dan Rina dulu kuliah. “ mmmh…”, sepertinya Ari juga bisa merasakan apa yang Rina rasakan saat ini, yang merasa canggung ngobrol banyak lagi karena diantara mereka ada Novi mengapit keduanya dan hanya terdiam karena tidak tahu harus berkata apa dan dikarenakan dari tadi Novi kelihatan cemberut dan tak mau bicara. Pandangannya agak sinis dan angkuh. “ kalo nggak gini aja Mbak Rin!. Kalau nggak keberatan, datang aja kerumah. Ada Mama dan si mbok yang bisa mbak Rina ajak ngobrol banyak tentang Mbak Rosy. Ini kartu nama saya Mbak. Kalo mau datang ke rumah, telpon Ari aja dulu, biar ntar Ari yang ngejemput ”, sambil dicatatnya nomor hand phonenya. “Aduh Ari !, makasih banget ya!”, Rina menerima kertas yang baru saja diberikan Ari kepadanya. Ya Udah deh mbak. Ari sama Novi pulang dulu. Terimakasih banyak atas waktunya sore ini. Kalo nggak ketemu sekarang, mungkin sampai tua aku akan tetap cari Mbak Rosy”. “ha.ha..Ari ada-ada aja”, kata Rina di sela-sela senyumannya yang manis di kedua sudut bibirnya. Hal itulah yang tidak akan bisa Ari lupakan selamanya. “ sekali lagi terimakasih ya Ri, Novi. “sama-sama Mbak. Sambil menuju sepeda motornya, Ari dan novi bergandengan tangan diikuti Rina. “Mbak Rina harus datang lho. Janji ya!”. “ iya saya janji deh!”, jawa Rina. “Eh! Saya boleh main nggak ke rumah kostnya Mbak Rina?”, Tanya Ari sambil sedikit melirik ke arah Novi yang berada di sampingnya.. “Bisa!. Kenapa nggak. Tapi kalo siang hari saya kebanyakan waktu di kampus. Tapi baiknya sore-sore aja mampir sama Novi”, jawab Rina mengiyakan. Ari dan Novi lalu berpamitan dan meninggalkan tubuh Rina yang masih memperhatikan laju kendaraan Ari sampai sudut jalan raya yang samar-samar menghilangkan bayangan Novi dan Ari dari pandangan matanya.
Di sebuah rumah gedung berwarna putih bersih, segerombolan wanita muda terlihat duduk-duduk di teras rumah sore itu. “ tiitt..tit! Sopir membunyikan klakson mobilnya menghententikan goyangan pinggul seorang gadis Muda bernama Tini. “ hey gembrot, selamat siang!. “ huuuu..” Seru gadis-gadis lainnya mengelu-elukan Tini. Ternyata Rina yang turun dari mobil angkot itu. “ siang Dona….”, sambut kawan-kawannya serentak. “ siang juga donat.!”, Rina menjawab dan menggodai Tini yang badannya seperti kue donat. “ huuu…h!, semua mengelu-elukan Tini yang disapa Rina. Rina masuk ke dalam kamar kostnya setelah sebentar berbasa-basi dengan temen-temennya itu. Dilemparkannya tas kuliahnya ke atas meja belajarnya yang berada di sudut ruangan berukuran 3 X 4 itu. Matanya terbelabak dan sangat terkejut mendapatkan isi bungkusan itu. “Aduh Rina! Aku suka banget deh boneka itu”, sambil menunjuk ke kaca toko penjual berbagai macam boneka setelah mereka pulang sekolah. “ iya!. Cantik ya. Benerran!. Seperti bidadari ya!”, ujarku lagi. Dua boneka dalam satu tatakan dihiasi lampu berwarna-warni dan ke dua boneka itu sedang menari-nari di peraduannya dan saling berputar berputar-putar”, pemandangan indah itulah yang terlihat dari luar toko. “ yuk main ke dalam dulu sambil nanya harganya”, ajak Rosy setengah berlari menarik pergelangan tangan Rina. Boneka itu harganya berapa ya Mbak?”, tanya Rosy pada penjaga toko sambil menunjuk boneka yang sedari tadi dipandanginya. “ yang itu 5( lima) juta mbak”, jawab si penjaga dengan ramah setelah melihat banderol yang ada di kemasan Boneka itu. “ Aduh! mahal banget sih Mbak?”, Kata Rosy tapi pandangannya tak lepas dari tarian dua boneka itu. Gadis penjaga toko terliha senyam senyum melihat tingkah dua gadis remaja yang seakan terpukau oleh boneka itu.. “ hmm… Rosy hampir lupa kalau di atas kemasan Boneka itu sudah jelas-jekas tercantum harga dengan angka yang lumayan besar. Akhirnya Rosy mengajak Rina pulang dengan langkah lunglai. dua hari setelah itu Rosy nggak kelihatan di kampus.” Kemungkinan Rosy ngambek karena tidak dikasih uang oleh orangtuanya untuk beli boneka semalam yang lumayan mahal itu”, hati Rina menyimpulkan demikian. Hari ketiga setelah kejadian itu, Rosy masuk kuliah dengan wajah yang berseri-seri dan ternyata sepulang kuliah Rosy mengajak Rina membeli boneka yang mereka lihat kemarin. Sejak itu Rosy jadi sangat senang berada di rumah. Rina menggenggam boneka yang baru saja di bukanya dari bungkusan yang diberikan oleh Ari tadi sore. “Rin…!, ngapain aja di kamar”, tanya Isa dari depan pintu kamar Rina yang sedikit terbuka. Rina kaget dan segera tersadar dari semua yang baru saja di kenangnya. “Ah!. Nggak ngapa-ngapain ko Sah!. Yuk Masuk aja!”, Rina mengajak masuk teman satu kostnya itu. “nggak usah. Aku kirain kamu sakit, makanya aku ke sini. Tapi.., kamu nggak kenapa-kenapa kan”, Tanya cewek berbody mungil itu sambil memperhatikan raut wajah Rina. “Nggak apa-apa. Cuman aku ingat ama Rosy aja”, kata Rina. “ya udah!, aku ke depan lagi ya”. Rina mengangguk sambil melihat langkah kaki Isah sekilas. Setelah cewek berambut ikal yang di potong pendek itu pergi, Rina menutup pintu kamarnya. Di pajangnya boneka yang penuh memori itu di atas meja belajarnya. Di pasangnya kabel ke stop kontak dan “kliri…ng…kliriii..ng “, dua boneka itu menari-nari di tengah kotak kaca itu. Di depan Rina ke dua boneka yang berhiaskan kemilau lampu-lampu itu saling beradu tarian membuat Rina tersenyum dan membayangkan seandainya dirinya dan Rosy yang sedang menari-nari itu. Sesekali Rina menatap ke binkai foto yang di pajangnya di dinding kamarnya. Wajahnya dan Rosy yang sedang tersenyum sumringah seakan ikut menyaksikan boneka yang lucu itu. Setelah boneka itu berada di atas meja belajarnya, Rina merasakan kesedihan dan juga kesenangan tersendiri. Semua teman-temannya jadi suka ngumpul di kamarnya dan yang paling lucunya, mereka menari-nari mengikuti gaya boneka yang sedang menari-nari di dalam kotak kaca yang bening itu sambil tertawa melihat gaya teman-teman satu sama lain.
Gemerlap lampu yang berputar-putar cepat dengan hentakan musik yang keras, Rosy seakan-akan ikut berputar-putar dalam rangkulan Wrightt. Sudah satu jam mereka berdansa. Rosy seakan sadar dan tidak dalam alunan dansanya. Tariannya Vulgar atau sopan?, dia tidak tahu. “Ataukah ini perbuatan Wrightt”, pikir Rosy tiba-tiba dalam menit sadarnya. Namun menit berikutnya Rosy nggak tahu apa-apa lagi. Saat acara melantai tiba, tangan Wrightt mencoba menjamah kulit punggungnya yang sedikit terbuka karena medel gaun yang dia pakai. Lama kelamaan Wright sudah berani menciumi bibir Rosy yang ranum yang tadinya masih suci itu. Laki-laki tinggi yang bersama Rosy menambahkan lagi obat perangsang dalam minuman yang segera ditenggak oleh Rosy. Akhirnya Wrightt dengan buasnya bebas menjamahi tubuh sensitif Rosy, namun Rosy semakin vulgar dalam goyangan dansanya dan seakan membiarkan tubuhnya lengket di pelican Wright yang. “Yes!”, hati wright berteriak gembira. Dua jam sudah berlalu dan acara ulang tahun yang terbilang sangat mewah itupun usai. Namun tamu-tamu masih ada yang melanjutkan acara mereka masing-masing di tengah alunan musik dini hari itu. Wrightt membawa Rosy ke kamar yang sudah di pesan bagi tamu-tamu di ulang tahun wright di Hotel yang sangat besar itu. Sebagian tamu sudah pulang dan sebagian masih ingin bersenang-senang dengan pasangan masing-masing. Ntah apa lagi yang terjadi pada malam itu. Jam lima pagi Rosy terbangun dan melihat Wrightt sedang tidur memeluk dirinya. “Tidaaakkkkk…!”, Rosy berteriak saat didapatinya Wright dengan telanjang tidur di sampingnya. Dan terkejutnya lagi saat dapatinya tubuhnya juga telanjang bulat seperti dua orang bayi kembar berada dalam satu bed. Rosy merasakan ada yang perih dan sakit di belahan pahanya. Rosy menangis sekencang-kencangnya dan mengenakan kembali pakaiannya, dan berlari dan berlari tak tahu arah tujuan kakinya malangkah. Namun sayangnya dia segera dihentikan oleh tangan kekar Wrightt dan mencoba menenangkan dan meminta maaf pada rosy yang mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari pegangan Wright. Wright berjanji akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya tadi malam terhadap dirinya. “ I swear, I’ll marry you as soon as you will”, kata Wrightt. It’s caused I do love you Rosy. So much from my deep heart!”, kata Wright memelas dan tertubduk di hadapan Rosy. Rosy terus menerus menangis di taman Hotel itu dan tak mau bicara sepatah katapun. Wright masih terus menenangkan Rosy dan terus menerus minta maaf dan berjanji akan segera menikahi gadis yang tadi malam ditidurinya itu. Akhirnya setelah tiga jam berlalu, Wright membawa pulang Rosy ke apartemen gadis itu setelah rosy tidak menangis lagi walaupun gadis indo yang sangat dicintainya itu tidak bisa memaafkan dirinya atas perbuatannya yang laknat itu. Malam itu telah membuat gadis berambut panjang itu trauma dan tidak mau lagi ikut berkumpul dengan orang-orang di sekitarnya termasuk pada saat jam kuliah di kampusnya. Kebanyakan waktunya menyendiri setelah jam kuliah usai. begitu cepatkah kemurnian keperawananya hilang begitu saja hanay karena kelalaiannya?”, apa yang telah terjadi malam itu seakan-akan telah memusnahkan semua cinta dan cita-cita Rosy. Cintanya yang suci kepada pemuda bernama Iwan hilang sudah seirinng didapatinya tubuhnya sudah kehilangan Mahkota. Semua yang diinginkan manusia di dunia, terkadang jauh dari apa yang diharapkannya. Demikianlah Rosy yang ingin membawakan kemurnian cintanya pada Iwan atau siapapun yang akan menikahi dirinya nanti, kini hanyut dan hilang dalam waktu sekejab saja, seperti angin yang berhembus hilang pergi begitu saja. Hal yang dialaminya membuat Rosy tidak ingin berlama-lama hidup jika hanya menanggung beban hidup dan dosa yang begitu parah buat seorang perempuan. Dengan pikiran kosong Rosy terus berlarut-larut dalam hayal dan bayangan yang hitam.
Cerah, penat kering dan haus telah berbaur menjadi satu rasa siang itu. Sekeliling penuh dengan asap dan debu. Udara dan suasana tidak begitu memberikan suasana bersahabat. Bagi kaum hawa dan adam, tua dan muda, telihat merasakan alam yang bersuasana tidak nyaman untuk di tempati di pinggir jalan itu. Seorang Pria berambut coklat, cepak, berdiri seperti menunggu seseorang di perempatan jalan itu. Orang tidak tahu bahwa dia sedang dalam intaian maut yang sedang mengincar nyawanya dan “Braakk….! cittt..crrrt..Brkk..sss”, terdengar suara tabrakan yang beruntun. Berapa menit kemudian suara sirene dan keramaian terdengar membuat suasana lebih hingar bingar lagi dan kemacetan pun tidak terrelakkan lagi. Dan semua orang tidak pernah dapat mengira bahwa hal itu begitu cepat terjadi. Tangisan dan ratapan menyertai beberapa tubuh yang hancur itu dibawa oelh mobil jenazah menuju sebuah pemakaman denagn beribu gundukan tanah tempat orang-orang yang tidak bernyawa beristirahat untuk selama-lamanya. “Esok belum tentu ada. Itulah motto hidup yang harus kita camkan. Siapa percaya bahwa hidup ini untuk sementara, tentulah dia kan berusaha menanamkan kebaikan di taman hatinya. Kita tak dapat mengira suatu saat nanti, esok lusa, kita kan pergi jauh ke tempat yang belum pernah kita jalani sebelumnya”, seakan-akan itulah ringkasan khotbah para pemuka agama saat acara pemakaman di tempat yang sunyi itu.
Sore ini di sebuah pemondokan berarsitektur Perancis, seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba matanya menangkap suatu cahaya kilat masuk ke dalam kamarnya. Dan setelah itu gadis yang masih memakai baju tidur itu terlihat gelisah dan wajahnya murung, tapi dia seakan-akan mengenal suatu bayangan orang jelmaan dari sinar kilat tadi, karena dia mengikuti langkah orang itu. Tiba tiba dia menangis karena rasa sedih yang tak tahu apa sebabnya. Seakan-akan pikirannya teringat sesuatu. Gadis itu kemudian berlari menuju teras atas di lantai sepuluh itu dan dia ingin meloncatkan kakinya terjun dari tingkat atas. Kaki yang tanpa alas itu telah menaiki daun jendela tapi…..suara sepatu yang seakan menuju lorong pintunya mampu mengalihkan pikiran setannya dan “Tok..tokk.! Ros. Rosy!, halo!”, suara serak laki-laki di luar sana membuat Rina tersadar dan bertanya kenapa dia ada di daun jendela itu. Seketika dilihatnya pemandangan dari lantai itu ke lantai bawah sana.. “Hah!”, Segera dia berlari membuka pintu kamarnya. Untunglah Andre yag datang yang tadi mengetuk pintu apartemennya. Pria yang sepupunya Rosy sangat heran pagi-pagi begini tangan gadis yang di depannya gemetaran dan rambutnya acak-acakan. Andre merasakan kepanikan dan ketakutan di wajah Rosy adik sepupunya dan tiba-tiba memeluk Rosy yang tiba-tiba menangis. Ternyata pelukan pemuda yang dua tahun di atas umur Rosy itu mampu meredakan hati gadis itu. Setelah itu pemuda berkulit putih itu menanyakan apa yang terjadi pada sepupunya itu. Tapi Rosy pun tak bisa bercerita banyak karena dia sendiri pun tak tahu kenapa dia berbuat nekad demikian setelah dia melihat sebuah sinar kilat yang memasuki kamarnya tadi pagi.
Iwan mengelilingi halaman rumahnya ditemani seorang gadis cantik gemulai melangkah di sampingnya. “Ka Iwan pasti lagi mikirin seseorang nih. Dari tadi diam aja. Apa sih yang kaka pikirin?”. Iwan menghela nafas panjang. Aroma bunga melati di sebuah taman berkabut malam itu membuat dia merasa lebih nyaman apalagi ditemani oleh seorang perempuan berparas manis malam itu. Sudah keempat kali ini gadis itu selalu datang menemuinya pas matahari sudah terbenam di ufuku barat sana. Pertama kali kenal dia sudah merasa dekat dan nyaman di ajak jalan-jalan oleh gadis itu di alam bebas. Dia juga heran kenapa perempuan yang kini berada di sampingnya saat ini bisa membawanya terbang dan mengajaknya melihat-lihat pemandangan dari angkasa. “Ntahlah, kemungkinan gadis ini mempunyai ilmu magic”, Iwan bergumam dalam hati. Iwan pun akhirnya bercerita panjang lebar tentang seorang gadis cantik yang cintai telah meninggalkannya dan sampai sekarang pun dia tidak tahu kemana perginya si gadis itu. Barulah si gadis berambut tebal pendek itu bisa mengerti kenapa Iwan selalu murung dan sering menyendiri di malam yang gelap dan sunyi. “Jarang sekali saya menjumpai pasien seperti Ka Iwan”,. Saya bisa mengambil kesimpulan kalau kaka ini seorang pria yang sangat setia. “hmm…hhh!..”, begitulah Iwan mendesah mendengar temannya itu memuji dirinya. Pada Jam dua belas malam, berpisahlah dua insan yang berlainan jenis itu ke tempat peraduannya masing-masing. Dia tidak heran lagi melihat gadis itu bisa terbang dengan meninggalkan kabut tipis. Sedangkan dia hanya bisa berlari agar bisa cepat samapi ke rumahnya. Iwan heran melihat ayah dan Mamanya selalu berada di rumah tidak bekerja empat hari ini. Sedangkan kakak laki-lakinya yang sedang kuliah di USU jurusan kedokteran itu beserta dua adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMA itu sudah empat kali ini dipergokinya menangis dan tidak menggubris kehadiraannya. Iwan mencoba menyapa adik-adiknya dan merangkul mereka. “kenapa aku nggak bisa memeluk dan mencium pipi adikku” Iwan berkata dalam hati. Sesaat dicobanya lagi menyapa kakaknya setelah dirasakannya ada sesuatu yang aneh dengan kehadirannya di rumah yang selama ini dia berteduh dan bertumbuh menjadi dewasa. Namun seperti malam-malam kemarin kakaknya tidak menggubris kehadirannya dan herannya laki-laki yang 3 tahun di atas umurnya itu menangis sendu. “nggak salah ka Beny menangis!”, Iwan berbisik di dalam hati dan sekejab dia berlalu dari hadapan pemuda yang masih mencoba menahan tangisnya itu dengan menutup mulutnya yang mengeluarkan suara isak.
Di sebuah pesta malam itu, Rosy tersentak kaget mendapati sebuah surat yang sudah kumal terselip di kantong jas birunya. “Hahhhh!?, surat ini kok masih di sini?,”, tanya Rosy dalam hatinya. Aduh!, Iwan,. Maafin aku sayang. Surat ini…! Uhhkk…hu..uuu”, Rosy jadi terisak sedih membayangkan Iwan selama dua tahun ini yang sedang bingung dan bertanya-tanya dimana dirinya. Suasana meriahnya pesta yang baru saja dirasakannya berubah menjadi suasana yang menyedihkan, perubahan itu terlihat jelas dari wajah Rosy yang begitu kaget bercampur sedih setelah menemukan kertas di kantong jaketnya malam itu.. Seingat Rosy surat itu sudah dititipkannya pada adiknya Ari agar diberikan pada seorang pemuda yang bernama Iwan. Surat ini seharusnya sudah berada di tangan pemuda yang dicintainya itu dua tahun yang lalu. Rosy tidak tahu harus berbuat apalagi selain terus membayangkan apa yang terjadi selama ini pada kekasih dan keluarganya jauh di Negaranya.
Sore itu di sebuah kontrakan yang berlokasi di samping jalan raya itu singgah seorang pria muda dengan mengendarai sepeda motor RX-King nya. Cewek – cewek yang tinggal di sana berbisik-bisik setelah pria itu menyapa Rina yang juga ada di depan rumah yang ngumpul bareng dengan temen-temen satu kontrakannya. “ada gebetan baru ya Rin?!”. “Hush! Adik saya nih!” jawab Rina. “Hah!”, semua gadis itu terkejut seakan tidak yakin dengan apa yang baru saja Rina katakana. “Ah!. Bohong kamu Rin. Sejak kapan kamu punya adik laki-laki, seganteng itu lagi”, Gadis bernama Dini bertubuh seksi dan berambut pirang itu memperhatikan Ari dan Rina yang sedang berada di depan mata mereka. Pemuda yang bernama Ari itu hanya tersenyum sambil turun dari atas motornya. “ Silahkan gabung dulu sama teman-teman saya. Tapi hati-hati ya, ntar kamu diculik lagi ke kamar mereka”. “Ah!. Bisa aja mbak”, Kata Ari dan mengenalkan dirinya kepada teman-teman Rina yang sedari tadi memperhatikan dirinya. Rina mempersilahkan Ari duduk di samping balai-balai dan pamit sebentar membuatkan minuman dan sambil beranjak ke dapur. Sesudah pertemuan pertama kalinya di kampus Rina saat itu, Ari jadi sering membayangkan Rina menjadi pengganti kakaknya rosy. Tapi perasaan Ari kali ini beda untuk Rina. Ari jadi sering ngejemput Rina dari kampusnya, dan membawa Rina jalan-jalan sore hari ke tempat-tempat hiburan atau taman. Untuk pertama kali Rina merasakan betapa perhatian Ari adik teman akrabnya ini sangat berlebihan. Terkadang dirinya juga merasa segan menolak bila Ari memintanya jalan bareng, karena di mata Rina pemuda yang sudah berumur dua puluh tahun ini tulus dan ikhlas dan kalau mengajaknya pasti dengan sopan dan tidak memaksa. Lama kelamaan Rina menyadari bahwasanya kedekatannya dengan pria tampan yang berusis (empat) 4 tahun di bawahnya itu membuat banyak orang-orang disekitarnya menjadi iri dan ada juga yang sampai membencinya. Termasuk pemuda yang bernama Anton yang sampai sekarang masih mencoba mendekati Rosy karena sampai sekarang Rosy belum mau menerima cintanya, apalagi diajak pulang bareng dari perkuliahan. Anton cemburu berat dan merasa disepelekan cintanya yang selama ini sudah diutarakannya kepada Rina setahun yang lalu. Tapi Rina tidak begitu saja menerima kata-kata cinta pemuda yang juga bertampang lumayan itu, dengan alasan dia tidak mau kuliahnya jadi terbebani karena waktu untuk berpacaran. Orang kedua yang sangat membenci Rina ialah gadis satu SMA Ari yang bernama Novi yang sangat menyayangi Ari. Novi merasa Rina merebut Ari darinya. Hal itulah yang selalu membuat Rina terkadang menolak ajakan Ari dan memberikan alasan yang tepat agar Ari tidak sakit hati. Tapi Ari tidak mau peduli dengan cemohan orang-orang yang mengatakannya cowok perebut pacar oranglah, yang inilah dan yang itulah, malahan Ari makin semangat dan lebih sering lagi menjenguk atau mengantar jemput Rina dari dan ke tempat kostnya. Rina jadi salah tingkah juga diperlakukan begitu oleh Ari. “Ari sudah aku anggap adik sendiri atau ada perasaan lain nantinya?”, Rina juga tak henti-henti bertanya pada dirinya sendiri atas apa yang telah di rasakan setelah tiga bulan belakangan ini dia dekat benget dengan Ari laki-laki muda yang dikenalnya sebagai adik dari sahabat akrabnya dulu. Setelah beberapa hari nggak ketemu, di pertemuan Sore itu Rina membawakan kopi hangat dan meletakannya di atas meja tamu tepat di depan Ari. “ Ayo diminum Ri!”, Ari dipersilahkan minum oleh Rina. “Aduh Mbak!, aku ngerepotin aja!”, Ari berbasa-basi sambil meminum kopi hangat yang dibawakan Rina. Mereka duduk di ruang tengah berduaan. Ari dan Rina asyik berbincang-bincang tentang semuanya di mulai dari kabar Rosy yang sudah tak pernah memberi kabar sampai tentang masalah yang mereka alami setiap harinya. Aroma wangi rambut Rina yang lembut membuat Ari ingin membelai rambut gadis yang sepantasnya jadi kakaknya itu. Ntah kenapa tiba-tiba muncul kembali perasaan aneh bergejolak dalam hati Ari, membuat anak muda ini sedikit grogi apalagi waktu matanya bersitatap dengan bola mata Rina. Ari terdiam dan begitu juga dengan Rina. Setelah sekian detik mereka terdiam, tangan kanan Ari menyentuh kantong jaketnya. “ Mbak Rin!, ada surat nih. Tapi janji dulu mbak nggak boleh buka disini’ kata Ari. “ kok pakai rahasia segala!, memangnya surat dari siapa sih?”, tanya Rina sambil menerima amplop surat dari tangan Ari sambil tersenyum menghiasi bibirnya.”pokoknya janji dulu. Ntar kalo Ari udah pulang, mbak boleh baca sepuasnya. Karena itu rahasia mbak. “ iya! Iya deh. saya janji!” jawab Rina akhirnya yang merasa aneh melihat wajah Ari merah merona. Rina menatap alis Ari yang tebal seakan tersusun rapi melengkung dan bola matanya yang hitam, seperti mata baja hitam yang berkilau. Di mata rosy, Ari mampu membuat hatinya damai dan sekaligus heran kenapa laki-laki yang kini sedang duduk di sampingnya itu membuat getaran hatinya terkadang berdegup kencang. Seperti saat dia memandang alis tebal itu, dia tak mampu berlama-lama melihat mata itu. Selang berapa menit kemudia Ari pamitan dan segera pulang dengan mengendarai sepeda motornya yang tadi terparkir di depan kontrakan. Sebelum Ari pergi, ana-anak gadis di depan rumah masih sempat menggodai mereka berdua. Rina masih melihat bayangan pemuda itu menghilang di kejauhan.
Iwan serasa berada di sebuah pemandangan yang indah, namun tiba-tiba muncul sesosok gadis yg selalu datang menemaninya enam malam belakangan ini. Malam ini adalah malam begitu aneh baginya. “ Ayo masuk kerumahmu. Kenapa harus ragu-ragu”, ajak gadis sambil menggandeng tangan Iwan memasuki pekarangan rumah berwarna kuning muda itu. Iwan Mama dan ayahnya duduk terdiam di ruang tengah yang biasa mereka pakai untuk bercanda dan menonton TV bareng. Tapi kali ini mamanya sedang menangis di pangkuan pria setengah baya. Iwan duduk di samping Mamanya dan menyapanya. Namun tidak dijawab oleh wanita yang sudah berumur itu. Mamanya terasa berbeda malam ini dan juga ayahnya begitu acuh dengan kedatangannya. Iwan teringat masa kecilnya yang selalu di minta digendong dan dimanja oleh kedua orangtuanya. Betapa heran Iwan mendengar Mamanya menangis semakin kencang. Perempuan yang dipanggil mama oleh Iwan itu setengah berbisik seperti orang berdoa. Tapi terdengar oleh Iwan dalam doa mamanya menyebutkan kata-kata yang membuatnya tak habis pikir bahwasanya perempuan tua yang telah beruban itu kehilangan dirinya. “Ma!. Pa!. Masa Mama tidak lihat aku di sini sih?. Ini ma!. Aku, Iwan. Pa?!”, Iwan mencoba menyadarkan ke dua orang tuanya itu. “ Iwan!, kamu sudah berada di lain dunia saat ini. Mana bisa mereka melihat apalagi menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu itu”, gadis yang berada di sampingnya itu ngejelasin kepada Iwan yang membuat Iwan kaget. “apa kamu bilang?. Nggak mungkinlah. Aku masih di sini kok. aku masih hidup. Jangan ngaco ah!”, Iwan mencubit lengannya dan masih merasakan sakit. Dia mencoba menggoyang tubuh Mamanya dengan ke dua tangannya. Namun Mamanya tetap tidak bergeming sedikitpun. “uhk …huukk”,”ma!..”Pa”!. Aku ada di sini ma, pa!. Aku masih hidup ma!”, Iwan sedih merasa tidak dipedulikan orangtuanya. “ sudahlah Iwan, sadarlah. Kamu sudah berbeda dengan mereka”, ujar gadis itu lagi dan menatap Iwan yang mencoba memperlihatkan wajahnya di hadapan ayah Mamanya malam itu. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja gadis itu katakana, Iwan berlari menuju ruangan kakak laki-lakinya yang berasa tepat di samping kamarnya. Kakaknya pun tidak menoleh dan tidak menggubris kehadiran Iwan. Kakaknya yang terkenal sabar dan tegar itu didapatinya sedang menitikkan airmatanya sambil memandangi fotonya. Iwan menatap wajah kakaknya itu dan mencoba menyapa dan bebicara dengannya. tapi tidask ada sahutan. Diperiksanya buku yang terbuka dihadapan laki-laki yang berkumis tipis itu. Iwan menemukan sebaris kata puitis dengan tinta merah yang mungkin baru saja di tulis oleh kakaknya yang berpostur tubuh sama dengannya itu.
Dinda Iwan
Kau telah pergi mencari “sesuatu”
Tanpa kata kau buat aku menangis

Adikku tersayang
Aku tersadar kau telah tiada
Kau bawa semua canda dan tawamu
Dan itu yang kan slalu mengingatkanku padamu

Pergilah dinda dalam pelukanNya
Sayang!, dunia kita telah berbeda

Iwan menangis sambil memeluk kakaknya tercinta yang dulu selalu memeluknya, memberinya dorongan, temannya bercanda dan yang mau menampung semua tawa sedihnya. Tangisnya kini semakin kencang hingga si gadis yang sedang menemaninya mencoba menyadarkan kembali ingatan Iwan. Matanya menerawang kosong ke langit-langit. Didapatinya kedua adiknya masih belum tidur. Namun diam tergolek di tempat tidur. “Ka Vena masih ingat lagu kesukaan mas Iwan kan?, tanya Vina. “ Semua tak sama?”, jawab Vena sambil memandangi foto Iwan. Kedua gadis kembar itu bangkit dan menyalakan tape-recorder mereka. Alunan lagu sebuah Band yang bernama ”Padi” itu seakan membawa kenangan tersendiri buat kedua anak gadis kembar yang mempunyai tahi lalat di bawah dagu itu. Iwan semakin sadar bahwa tubuhnya tidak lagi seperti tubuh adiknya yang sedang berada tepat di hadapannya. Saat bibirnya ingin mengikuti syair-syair dalam lagu kesukaannya itu, yang dirasakannya ialah hampa, bibirnya kelu. Untuk terakhir kalinya dia memeluk adiknya itu mencium lembut pipi keduanya walau ia tahu adik-adiknya tak pernah lagi merasakan belaian lembut tangannya dan ciuman lembut dari kakaknya ini. Mereka terdiam dan seakan mengerti akan kehadiran arwah Iwan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama saat Iwan tak ingin lagi kembali ke rumah itu agar tidak menambah kesedihan dalam hatinya dan segera dia pergi dengan gadis yang selalu setia menemaninya itu dengan berurai air mata. Waktu menjelang jam dua belas malam, barulah dia teringat akan tempat terakhirnya yakni di perempatan jalan kampus sebuah Universitas negeri yang berlokasi di daerah kota. Masih terlihat jelas kembali bayangan dirinya sedang bersandar di dinding sebuah tembok di pinggir jalan raya itu. Namun waktu tubuh itu mencoba melangkahkan kakinya , tiba-tiba “ ukh!, brakkk!”, disitulah Iwan tahu bahwa itulah terakhir kalinya dia menanyakan kabar perempuan yang selama ini dia cari. Bayangan iwan terdiam, Iwan merenungi semua kesalahan selama hidupnya. Dia menangis tersedu-sedu dan seraya berdoa “biarlah aku damai di sisimu Tuhan!. Jangan biarkan arwahku berada selamanya di sini. Engkaulah yang empunya aku ya Tuhan!. Maka berkatilah arwahku agar aku bisa diam dan sujud di sampingMu Tuhan. Permohonanku yang terakhir kali di dunia ini, semoga Tuhan bisa sampaikan cintaku yang selalu abadi buat gadis yang selama ini kucari bernama “ Rosy ”. Tiba-tiba gadis yang tadi ada disampingnya kini berubah jadi asap dan berubah menyerupai malaikat Gabrielle dan Iwan kaget. Tiba-tiba saja tubuhnya sudah diselimuti kabut tipis dan membangkitkannya dari tanah tempat dia berpijak untuk terakhir kalinya. “ssssppp!..”, Kabut itu bergemuruh dan lama kelamaan kabut itu hilang lenyap disertai hembusan angin malam yang terasa dingin dan menusuk persendian tulang-tulang.
Rosy terhenyak dan terbangun. Apa yang terjadi dalam mimpinya persis seperti apa yang terucap dalam doa seseorang yang tadi malam dimimpikannya. Sampai saat ini Rosy seperti mengenal sosok laki-laki yang sering datang dalam mimpinya itu namun semakin dia mencoba mengingat bayangan itu, semakin dia kalut dalam pikirannya sendiri.
Ari masih terus mencoba untuk tidur. Namun bayangan gadis manis yang bernama Rina itu terus saja menggoda angannya. Sampai ayam berkokok, pikiran Ari masih mencoba menikmati senyuman gadis desa itu. Tidak terasa jam berdentang menunjukkan pukul lima pagi. Jauh di sudut kota Helvetia Medan, seorang gadis yang baru saja terbangun dari tidurnya kini terlihat sedang mengisi lembaran kertas berhiaskan bunga hijau itu tersenyum-senyum. Setelah sekian lama bola matanya memandangi kata-kata yang baru saja dia tuliskan, Dia akhirnya melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop dan selanjutnya diselipkannya di tengah buku kuliahnya dan menyimpannya ke dalam tas kuliahnya. “kriiinnng..! Bunyi telpon itu membangunkan Ari dari tidurnya yang hanya sebentar saja. Ari berlari menuju kamar mandi dengan cepat sambil menyambar handuk hijau dari catolan di dinding kamar mandi itu. Mamanya yang sedang menanak nasi di dapur tersenyum melihat tingkah aneh anak laki-lakinya itu belakangan ini.
Rina melangkahkan kakinya yang terbungkus sepatu skets berwarna putih dan menyusuri halaman kampus dengan teman-temannya. Sesekali bibirnya melengkung tersenyum saat Bayangan Ari yang masih lucu baginya itu terbayang. Disadarinya rasa suka terhadap pemuda ganteng yang sepantasnya menjadi adiknya itu. “tapi bukan berarti itu cinta!”, hatinya mencoba menyadarkan Rina. “ mengapa juga aku tak bisa melupakan wajah anak itu!”, Rina mencoba menghalau bayangan Ari karena tak ingin hal itu diketahui oelh teman-temannya. Rina tidak bisa berbuat banyak saat dia mencoba menghalau bayangan laki-laki beralis tebal itu, semakin senyuman itu hadir dan menggoda angannya. “ mengapa anak itu yang harus disukai hati ini?”, Rina bertanya dalam hatinya dan seakan-akan menyalahkan perasaan yang kini menghantuinya. “ anak itu membuat aku tak berdaya dan aku pun tidak bisa menolak keinginannya untuk menjadi pacarnya. Apa aku sudah gila?”, tanya hati Rina. Siang itu telah berlalu dan hari baru saja berubah warna menjadi senja.
Surat yang yang sudah kumal itu berisikan kata-kata tentang permintaan maaf kepada seseorang yang dicintai. Dalam surat itu tertera ungkapan rasa sayangnya yang paling dalam buat pemuda yang bernama Iwan. “ Iwan!, masihkah kau tetap menunggu kabar tentang aku yang sudah hina ini?. Aku terlalu sayang kamu”, di satu bangku di taman apartemennya , Saat ini Rosy tidak lagi berharap banyak untuk mendapatkan Iwan yang dulu sangat dia sayangi, karena dia sadar akan adanya batas kesabaran manusia apalagi tiada satu patah katapun yang biisa Iwan dapatkan tentang dirinya selama ini. Tapi di lubuk hati gadis yang sudah tidak perawan ini tulus untuk menemukan kembali seseorang yang pernah mencintainya dan yang pernah dia cintai dan mungkin sampai sekarangpun perempuan yang sudah berumur 27 tahun itu masih menyimpan hasrat cintanya. Dia sadar akan hidupnya yang sudah tidak suci lagi setelah Wrightt menghancurkan masa depannya, hingga dia tidak begitu berharap untuk kembali ke pangkuan pemuda yang begitu ia cintai dulu kira-kira tujuh tahun silam.
“Novi!, kita nggak bisa ketemu malam minggu nanti. Sorry banget yah!. Aku mau berangkat keluar kota. Salam sayang dari aku. Ari. Da.. !“. itulah isi ringkas surat Ari buat Novi pacarnya. Ari bisa mengerti perasaan Novi saat membaca surat itu. “ nggak nerima deh aku”. Namun apa boleh buat ada bunga mekar dan selalu berkembang dan bersemi di hati Ari saat ini. “ Rina”, itu saja yang selalu menggenangi otaknya. Ari pergi bukannya untuk keluar kota, tapi jelasnya ingin menjumpai Rina. “tok..tok!. Nyiit..”, dari balik pintu yang baru saja terbuka muncul seorang gadis manis berpenampilan seksi yang mungkin baru saja mau berangkat kuliah. ”ada Mbak Rina”, tanya Ari langsung membuat gadis tadi tidak sempat bertanya. “Oh ini Ari kan?”, tebak gadis berlesung pipit itu seraya memperhatikan Ari dengan teliti. “Rinanya pergi keluar. Tapi katanya sebentar kok!. Tunggu aja disini”, gadis yang ramah itu mempersilahkan Ari duduk dan segera memperbaiki lagi dandanannya di depan cermin umum di samping kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Rina. “ mmm.., dia perginya sama siapa ya Mbak?”, Ari tanya lagi setelah sekian lama terdiam dengan khayalnya. “ sama pacarnya!”, jawab gadis itu dengan singkat. “ aa..!. oh iya!”, Ari mencoba menutup kekagetannya sambil bergumam dan menganggukkan kepalanya perlahan . Tidak begitu dengan hatinya saat itu, Dia begitu cemburu dan ingin meninggalkan saja tempat itu dan berlari sekuat tenaga dan berteriak agar seluruh isi dunia tahu bahwa selama ini dia begitu mencintai perempuan yang sepantasnya jadi kakaknya itu. Tapi Ari juga tak ingin menyerah begitu saja. Kalau bisa sampai dunia kiamat dia tetap menunggu Rina mengatakan ya pada Cintanya. Perasaan itu terus menghantui Ari. Ari yang masih kelas III SMU itu memang sudah kelihatan dewasa dengan tubuhnya yang tinggi, berperawakan sedang dan tidak cengeng seperti kebanyakan teman-teman seusianya. Pandangannya matanya yang tajam dan otot-ototnya yang sedikit kekar, membuat dia sedikit tampil beda dari kebanyakan laki-laki seusianya. “Sebenarnya kalo boleh saya tahu, Ari ini adeknya Rina kandung gitu!. Soalnya mukanya nggak mirip sih!”, kata gadis itu mencoba mengorek keterangan dari Ari. “ mmm.. Gimana ngejawabnya ya mbak!”, Ari berfikir sejenak bagaimana cara menjelaskan pertanyaan itu. Karena yang pertama kali menyebutkan dia adiknya Rina ialah Rinanya sendiri. Tapi Ari juga tidak ingin kedoknya diketahui teman-teman satu kontrakan rina. “lho, ditanya kok diam sih”, selidik gadis yang masih belum berangkat itu. “mau dibilang adik kandung bisa iya bisa nggak”, jawab Ari sedikit berseloroh. “lho!, kok bisa gitu”, tanya gadis itu semakin tidak mengerti penjelasan Ari. “Tit..tiitt..ti”, Rina datang dibonceng seorang pria dengan sepeda motor Yamaha Criptonnya tepat di depan Ari dan Gadis itu. “Ah! Masa aku harus bersikap kekanak-kanakan sih”, Hati ari berbisik setelah sejak melihat Rina diantar sama cowok itu dia ingin pulang saja agar Rina tahu bahwasanya dia sakit hati. Tidak biasanya Ari secemburu ini sampai-sampai membandingkan dirinya dengan cowok yang saat bersama Rina. Ari hanya bisa melihat pemandangan di depan matanya Rina asyik ngobrol sebentar dengan pria yang berpenampilan sedang itu kurang lebih 3 menit. Tapi hal itu malah membuat Ari jadi tidak karuan, salah tingkah dan cemburu apalagi jantungnya yang semakin berdegup kencang saat pria itu memeluk pinggang Rina dengan mesra sebelum cowok bertampang kumis tipis itu hilang dari pandangan Ari. Rina masih belum tahu kalo yang duduk di depan kontrakan bersama Putri temennya itu adalah Ari. “Ah!. Ari ke sini?. Udah lama Ri”, Tanya rina yang melepas ikat rambut hitamnya dan duduk berdenpetan dengan Ari. Ari sadar bahwasanya untuk saat ini dia tidak bisa semaunya ngatur-ngatur Rina. Tadinya dia mau bilang kalau dia itu marah dan cemburu. “Oh!. Belum lama. Mumpung ada waktu luang, saya mampir ke sini”, Ari membohongi Rina dan juga hatinya. Setelah di tatapnya wajah Ayu dan manis itu, Ari akhirnya bisa meluluhkan perasaan kesalnya. Setelah setengah jam ngobrol, Ari pamit dengan tetap berharap akan jawaban Rina mengatakan iya pada cintanya. Malam ini Ari tidak bisa memejamkan kelopak mata. Terbayang selalu wajah ayu Rina. Ari masih teringat pertemuan pertamanya dengan Rina. Itu dikarenakan kakaknya Rosy yang kini tidak tahu kabarnya dimana. Satu hal yang membuat Ari semakin menyukai Rina ialah Karena dimatanya Rina ialah seorang gadis yang anggun dan mempunyai karakter yang ia sukai. Rina yang ramah, tidak pemarah, suka menggodanya dan semua hal yang rina lakuin bisa mengingatkan Ari pada kakaknya rosy. Ari semakin tidak sadar bahwasanya dia butuh kasih sayang dari seorang kakak perempuan seperti yang dulu rosy bisa berikan, dan hal itu bisa ia dapatkan dari diri rina.
Seminggu adalah waktu yang begitu lama buat Ari dan juga Rina. Ari dengan sepeda motor suzuki kesayangannya melaju menuju rumah kost Rina. Dengan aroma minyak wangi maskulin dari tubuhnya, menambah daya tarik tersendiri. Sebuah harapan bercokol di pikirannya saat ini. Rina yang sedang menunggu di teras rumah kostnya gelisah dalam rasa yang susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. “ Ari!. Ari!. Kau sepantasnya jadi adikku. Apa yang harus kukatakan padamu. Ya! atau tidak?”, Dicobanya dengan menghitung jari-jari tangan kirinya dan selanjutnya jari tangan kanan. “ Ya, tidak. Ya….tidak. Iiiy…!”, Rina berhenti dan saat hitun gan terakhir mengatakan ya. Sepertinya saat ini dia bimbang, serasa otaknya berputar-putar hanya untuk mencari jawaban atas semua gelisah saat itu. Tidak berapa lama dia mendengar suara sepeda motor berhenti tepat di depan rumah kostnya dan teman-temannya yang ada di depan saat itu ada yang bersuit-suit dan bersorak riuh. Rina bingung antara keluar kamar atau tidak karena dia tahu pasti suara raungan motor itu ialah motor Ari. Ari Memakirkan motornya di depan rumah yang putih bersih itu. “ halo Mbak semuanya!. Selamat sore!”, Ari menyapa gadis-gadis itu dengan senyuman machonya. “halo..Ari!. ganteng banget sore ini. Godain kita-kita dong”, kata gadis yang bernama Ami yang disambut riuh dan sorakan yang ramai dari temen-temennya. “Ada Mbak Rinanya?”. “ Sebentar saya panggilin!”, Ami berlalu dan sambil tersenyum mempermainkan bola matanya ke bola mata Ari yang sedang menatap langkahnya. “ selamat sore Mbak Rin!”, sapa Ari dengan pandangan mata yang tajam di sertai senyumannya yang khas itu. “ sore juga. Duduk dulu ya!. Saya mo buatin teh dulu!”, Rina mencoba tegar di hadapan Ari seraya melangkah ke arah kamarnya. Setelah mengantar minuman itu ke hadapan Ari, Rina merasakan jantungnya berdegup kencang dan semakin kencang, apalagi dia tahu Ari sedang dikerubutin oleh teman-temannya. Gadis itu merasa cemburu. Tapi apa mau dikata, dia yang memperkenalkan Ari sebagai adiknya kepada teman-temannya dulu sejak pertama kali Ari main ke rumah Kost-an nya. “Mbak!. Kita jadi pergi kan?”, Tanya Ari pada Rina yang hanya duduk bengong di samping teman-temannya. “i…iya. Iya Ri!. Sebentar gua ganti baju dulu ya”, seraya beranjak ke belakang menuju kamarnya.
Sebelum sempat Rina masuk ke kamarnya, Rina digodai oleh temen-temennya. “Sebenarnya ini adek dari kecil apa adek ketemu Ge-De sih Rin?”. Pertanyaan itu membuat jantung Rina serasa Copot setelah ketahuan hubungannya dengan Ari belakangan ini tidak seperti kakak adik kandung, tapi lebih dari itu. Hal itu sudah dari dulu diketahui temen-temennya. Tapi terus saja Rina masuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya, karena ia memang sudah janji dengan Ari sore ini pergi ke luar rumah. Setelah beberapa menit, Rina keluar dengan memakai Kemeja Hijau tua dipadu dengan Rok hitam selutut. Sedangkan Ari terlihat lebih dewasa dengan kemejanya yang biru dongker kotak-kotak dipadu celana jeans biru yang membuat pasangan itu menjadi bahan perhatian temen-temen Rina sore itu. Padahal hal itu tidak disengaja oleh keduanya. “ permisi dulu ya Mbak semuanya”, Ari dan Rina pamit pada teman-teman Rina yang lain. “ Duuh!. Aku bilang juga apa. Ari sama Rina itu kakak beradik, tapi ketemu Ge-De. “aku mau jadi adek Ari mau nggak ya”, Erni dan temen-temen Rina yang lain terus menggoda dua kakak-beradik yang ketemu Ge-De itu. Ari dan Rina cuman tersenyum dan Rina nggak bisa berkata apa-apa lagi selain menjawab seadanya, ” kita-kita mau ke rumah bibi Ari aja. Aku kebetulan diundang Ari. Nggak enak kan kalo nggak datang”, disertai juga dengan anggukan Ari membuat Rina merasa tertolong banget pada suasana sore itu. Mereka tersenyum saja sambil sepeda motor Ari melaju dengan kecepatan tinggi. Berada diboncengan Ari, Rina merasa aneh sekali. Lain banget kalau dia dibonceng oleh Anton pacarnya dulu yang kini masih sering main kerumah kostnya, dia merasa biasa-biasa saja. Tapi dengan laki-laki yang satu ini, aduh!. Kenapa aku gugup banget ya” bisik hati Rina tak karuan. Untung saat itu dia berada di belakang Ari, jadi Ari tidak melihat persis perubahan warna di pipi Rina. Di depan sebuah restoran yg terkenal di tengah kota Medan yakni restoran “Kenanga”, Ari menghentikan sepeda motornya dan setelah itu memarkirkan motornya. Ari menggandeng tangan Rina dengan lembut tanpa memperhatikan wajah Rina saat yang merah merona itu. Perasaan Rina jadi kalang kabut dan menuruti apa saja yang diperlakukan Ari terhadapnya. Setelah itu Mereka duduk di sebuah meja kosong paling sudut taman restoran itu. Ari memesan makanan dan terlebih dahulu membaca menu yang ada di atas meja mereka. “Mbak Rina pesan apa?”, tanya Ari kali ini sambil menatap wajah ayu Rina. Rina seakan tidak terjadi dengan apa yang di hatinya memandang ke mata Ari sehingga mereka berpandangan lama, dan pelayan yang berada di samping meja itu menjadi malu juga. “Mmmm! Sama aja deh sama menu ARi!”, jawab Rina tak mampu menatap ke mata Ari. “Ko Begitu. Jadi istilahnya satu rasa gitu?”, tanya Ari lagi sambil menikmati rona merah di pipi gadis yang berada tepat di depan kursinya itu. “Terserah Ari aja deh!. aku nggak punya pantangan makanan”, Rina masih tertunduk berpura-pura membaca daftar Menu yang ada di tangannya. “ya sudah”, Ari memesan dua paket menu yang sama. Sambil menunggu pesanan datang, Ari mencoba membuka percakapan. “Mm…, gimana kuliahnya Mbak Rin!. Lancar nggak?”. “ Lumayan”, jawab Rina singkat. “Mbak Rina nggak marah kan aku ajak jalan keluar hari ini”. “Ngapain marah. Lagian aku seneng banget bisa keluar rumah sesekali”, Jawab Rina tersenyum masih tak sanggup melawan tatapan Ari saat ini. Tiba-tiba pelayan datang membawa dua nampan berisi pesanan yang mereka minta tadi. “ silahkan diminum Mbak Rin!”, Ari menyodorkan gelas berisi minuman ringan itu tepat di hadapan Rina. Setelah Pelayan pergi Rina baru angkat bicara. “sebenarnya aku mau bilang kalau kamu bebas mau manggil aku itu apa, selain kata Mbak. Aku canggung aja dipanggil mbak selama ini. “Saya mo nanya sama Ari. Misalkan Ari baru kenal Aku barusan yang timbul di benak Ari mau nyapa aku itu dengan sebutan apa?”, Rina mencoba mencairkan kekakuan dan mengurangi getaran aneh dalam dirinya. “Sayang!”, Kata Ari dengan mimik serius. Dan…Rina hanya bisa tertawa renyah dengan rona merah di wajahnya saat itu. Setelah itu dia tertunduk malu dipandangi begitu oleh Ari. Tawa itu mampu membuat Ari terasa bertambah semangat dan ingin mengeluarkan semua gejolak hatinya saat itu juga. “ terserah kamu sajalah Ri, mo dipanggil Rina!, Sayang!, itu terserah kamu. Aku nggak marah kok”, kata Rina akhirnya. Asal janji jangan pake kata Mbak atau kakak”. “serius nih!”, tantang Ari dan Rina mengangguk perlahan. Hal itu semakin membuka peluang bagi Ari untuk mengeluarkan isi hatinya yang penuh dengan hangatnya perasaan itu. “Rin!. Eh..Mbak ri..”. “Sssst.!”, Rina menempelkan jarinya di bibir Ari. Janji nggak ada kata Mbak!”, kata Rina lagi. “Rin! Aku sebenarnya mau nagih utangmu sore ini”. “Lho aku nggak merasa punya utang kok!” jawab Rina. “Nah..! kan! Kemarin bilangnya janji sekarang keputusannya”, Kata Ari mulai bermanja di hadapan Rina. “Aku nggak bilang iya!. cumannya nggukan aja”, jawab Rina mencoba mencari sesuatu di mata pria yang persis ada di depan matanya itu. “Lha!. Ngangguk itu tandanya apa coba?”, tanya Ari sambil terus bermanja dengan nada bicaranya yang kekanak-kanakan. “ Jawab sendiri aja”, jawab Rina berseloroh. “Duh! Cewek nih bikin kesengsem aja”, bisik hati Ari. “jawabannya ya IYA”, kata Ari sambil terus memandangi rambut Rina yang dipermainkan angin sore itu. Rina terdiam dan setelah itu dengan wajah serius dia mencoba menatap mata Ari. sejenak dia terpana dengan bola mata yang berbinar itu. “Tapi….!, Jangan marah atau benci dengan keputusanku”, sambil Diraihnya tasnya dan ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Tap!” Ari dengan cekatan tapi lembut menahan tangan agar tidak mengeluarkan benda yang akan Rina ambil dari dalam Tasnya. Untung saja minuman yang ada di meja itu tidak tumpah hanya sedikit oleng karena gerakan Ari, karena posisi mereka duduk berhadapan. Semua orang yang menikmati sore di taman itu mengira mereka sedang berantem dan mereka membiarkan saja Rina dan Ari saling berpandangan sesaat. Namun Ari tidak memperdulikan hal itu. “Aku tidak butuh rangkaian kata di surat itu Rin. Kalau masih ada hati yang bisa mengungkapkannya langsung, untuk apa ada rangkaian kata puitis di kertas itu. Kalaupun buatku itu pahit atau apapun yang nanti aku rasakan setelah mendengar kepurtusanmu, aku mau tahu isi hatimu yang kau ucapkan langsung dari bibirmu itu”, kata Ari dengan sedikit tegas sambil terus memperhatikan sudut bibir Rina yang masih terkatup rapat. “Kalaupun ya atau tidak!, yang penting itu dari tulus kata hatimu yang terdalam”, Ari melepaskan pegangannya dan “maaf” jika menyakitimu tadi”, katanya lagi dan duduk kembali di hadapan Rina. Dari tatapan dan kalimat Ari tadi, Ari bukanlah seperti anak SMU lagi di hadapan rina. Tapi lebih dari seorang mahasiswa yang inteligent dan penuh berwibawa yang seakan saat itu mampu menghardik gelombang lautan menjadi air yang tenang. Rina baru mengerti betapa cinta Ari bukanlah didasari cinta monyet atau cinta kebanyakan anak ABG. Dia telah memiliki rasa cinta sejati, dan hal itu tergambar jelas dari sinar matanya dan cahaya yang tercipta kukuh dan tegar di kerut keningnya saat mengucapkan kata-kata yang baru saja Rina dengar dari bibir itu. Dua menit mereka saling diam dan terbawa perasaan masing-masing. Ari semakin tidak sabar menunggu sebuah jawaban yang sekaligus sebuah keputusan yang harus diterimanya sore yang telah berubah menjadi malam itu. “ Ari! Aku sepantasnya jadi kakakmu!”, Rina mencoba bersikeras dan menahan dulu jawaban yang sudah dari tadi ia ingin katakan. “Rin!, apakah aku tak bisa mencintai orang yang di atas umurku seperti yang sekarang aku rasakan. Apakah aku terlalu kana-kanak untuk mengungkapkan rasa cinta atau aku…”, Ari memotong bicaranya dan terdiam sambil memandangi wajah Rina. “Kalaupun aku masih punya sifat kanak-kanak, kan masih ada waktu untukku merubah semuanya asalkan kau sudah menerima cintaku!”. “maksudku bukan begitu Ari!. Apakah kau tidak merasa malu atau canggung jika papa dan Mamamu nanti tahu kalau kamu pacaran dengan orang yang jauh di atas umurmu?. Atau kamu masih terlalu muda untuk merasakan hal yang seperti ini?”, Rina mencoba lagi memutar balikkan apa yang sekarang dirasakannya. “Rin!. Aku tidak bisa membohongi tentang rasa ini dan menahannya. Aku mau bertanya pada kamu. Apa yang kamu perbuat jika kamu juga mengalami hal seperti yang aku alami sekarang. Aku yang selalu ingat kamu. Aku yang tidak bisa tidur jika ingat wajahmu. Aku yang tidak bisa konsen belajar!. Itu karena… Ka..mu Rin!”, Ari berbisik dan sedikit gemetar mengungkapkan semua itu dan membuat Rina semakin terenyuh dalam perasaannya. “Apakah aku tidak bisa dekat dan memberikan rasa itu untukmu?”. Rina jadi terkesiap dan tertunduk mungkin kata-kata Ari menyentuh perasaanya yang paling dalam. “Ari!, Sudah dua jam ini aku duduk di sini bersamamu. Namun aku sulit mengungkapkan perasaanku ini”, jawab Rina. “Karena apa?. Aku tidak menarik hatimu atau aku terlalu…….” . “ Bukan! ”, Kata Rina memotong bicara Ari. “Mungkin Kau sudah tau jawabanku dari tatapanku!”, Rina mengadu pandangan matanya mencoba menelusuri hati Ari saat itu tapi Rina tertunduk dan mungkin tak pernah bisa menaklukkan mata pria yang satu ini. Dari tatapan itu, Ari menngerti bahwa sanya Rina juga sangat mencintainya, saat Rina merobek-robek kertas itu. Ari tahu akan hal itu dan secepat kilat di putarnya kursi yang didudukinya dan memeluk Rina dengan mesra saat itu juga. Rina menangis ntah karena bahagia atau terlalu sedih dengan pernyataan cinta Ari tadi. Rina malahan tidak sanggup memenuhi janjinya dan prinsip hatinya yang dahulu dipegangnya sebagai pedoman hidupnya “ Sebelum aku tamat kuliah, aku tidak mau berpacaran lagi setelah putus dari Anton pacar lamanya”. Kalimat itulah yang tidak bisa Rina tepati disaat pria yang lebih muda darinya sanggup meluluh lantahkan prinsipnya. Namun malam ini dia begitu bahagia bisa mendapatkan cinta dari seorang pria yang mampu membuat hatinya tentram.
“Novi sayang!. Aku bukannya sengaja menyakiti hatimu. Aku sudah terus terang kemarin padamu, bahwasanya hubungan pacaran kita cukup kita sudahi sampai hari ini. Karena belakangan ini kita tidak bisa lagi menahan ego kita masing-masing. Sepertinya kita tak di beri waktu lama untuk saling mengenal dari hati ke hati, karena begitu banyak perbedaan pendapat diantara kita berdua. Kamu dulu pernah berkata “cinta itu tidak harus saling memiliki”. Belajar dari perkataanmu itulah juga aku harus bisa menyatakan hal ini. Nov!, aku tak mau gara-gara hal sepele ini kau membenci dan menjauhi aku. Tapi jadikanlah kebersamaan kita yang dulu menjadi hubungan persaudaraan diantara kita. Dik novi!, aku mohon dengan sangat, janganlah juga membenci Rina. Karena dia tidak pernah berniat merebut aku darimu. Akulah yang pertama mengutarakan cinta padanya. Aku harap kamu juga cepat dapat melupakan aku sebagai pacarmu, tapi bisa menanggap aku sebagai kakakmu. Dek Novi!, sesampainya surat ini di tanganmu, aku berharap kita masih bisa melanjutkan hubungan persahabatan kita. Dan jika kamu masih membenci aku dan Rina hari ini, aku masih tetap menunggumu untuk hari yang akan datang. Kalau kamu masih berat hati untuk bertemu muka dengan aku, kuharap tuangkanlah semua isi hatimu tentang aku dalam selembar kertasmu dan titipkan padaku. Please!, aku sangat mengharapkan balasan surat ini. Sekian dulu Novi sayang. Semoga tidurmu sangat indah malam ini.
Sahabatmu, Ari Reza.
Diperapian sampah yang merah menyala itu, kalimat demi kalimat hangus termakan api dan tidak bisa terbaca lagi seiring kertas putih itu menghitam dan menjadi abu. Seiring habisnya kertas dilalap api, berhenti juga tangis gadis manja setelah membaca isi surat dari mantan kekasihnya yang masih sangat dicintainya itu. Kertas berisikan kata-kata yang membakar hati Noviitu telah berubah warna menjadi abu. Demikian juga cinta Novi pada Ari yang masih tersisa, mengubah cerianya dulu menjadi kesedihan. Di taman belakang itulah Novi sesering mungkin menumpahkan kekesalannya dan juga mencoba menenangkan hatinya dari keputusan laki-laki yang dulu menjadi kekasihnya itu. “ Ri, begitu teganya kau mengatakan putus pada hubungan kita. Aku tahu!, Aku terlalu egois untuk kau pahami selama ini. Aku yang begitu terlalu mengekangmu. Ari!, Hkk..Hkkk”, begitulah tangisan di hati Novi seandainya hati itu bisa bicara dan bercerita, penyair cinta pasti ikut menangis mendengarkan tangisan Novi malam ini.
Pemuda yang sudah jelas menajdi pacar Rina itu selalu menunggu kedatangan Novi di taman sekolah mereka setiap harinya. Ari dengan setianya menunggu Novi di bawah koridor kelas III IPA 2 setiap jam istirahat ataupun sebelum masuk kelas pada pagi hari. Tapi wajah gadis mungil yang bernama Novi itu tidak kunjung datang juga setelah seminggu ini dia tidak melihat hidung mancung gadis mantan kekasihnya itu. . “Hh.., Novi! Novi!. Segitu beratkah buatmu keputusanku?. Bukankah aku bisa bisa layaknya jadi seorang teman buatmu dan kita masih bisa bercerita seperti dulu. Tapi bukan untuk berpacaran. Aku sudah menganggapmu sebagai adikku. “ Novi..Novi”, Ari bergumam dalam hati sambil mengawasi setiap kaum hawa yang melintas di hadapannya.
Bangunan itu berdiri megah dengan mercu suarnya yang menjulang tinggi seakan ingin bercengkrama dengan bintang-bintang di angkasa. Begitu juga dengan langkah-langlah beribu kaki Mahasiswa itu terlihat lalu lalang dengan mimik yang berbeda-beda. Terkesan sangat ramai hari itu. Suara sol sepatu terkadang kedengarannya seperti suara mesin yang terus menerus berputar. Udara dingin seakan mampu menusuk jas Rosy yang tebal itu. Dirapatkannya kancing dan topi bajunya ke badannya yang sedikit menggigil. Wrightt duduk juga di taman yang luas itu berdekatan dengan Rosy. Beberapa temen satu kampus mereka terlihat tertawa renyah dan sebagian lagi sibuk membaca buku-buku ilmiahnya. Rosy dan Wrightt hanya diam dan terus memandang jauh ke depan sana dengan pandangan kosong. Sudah lama nian Wrightt mengutarakan niat untuk menikahi Rosy, karena pria bule yang masih berumur 24 tahun itu begitu sayang terhadap Gadis Indo bernama Rosy. Dan saat ini juga, gadis yang tidak perawan lagi gara-gara perbuatannya di malam pesta itu tidak pernah menerima dirinya menjadi kekasihnya apalagi mengiyakan untuk dinikahi. Malah pria berambut pirang yang tertata rapi itu berusaha menyadarkan Rosy agar tidak menggugurkan apa yang tanam di rahim gadis yang begitu dia cintai itu. “ I’ve to go”, kata Rosy akhirnya sambil beranjak lemah seakan ingin ditopang. “please wait for me!”, Wrightt menahan langkah Rosy dan tetap memandang mata Rosy yang sayu. “ anything else will you say, Wrightt?, tanya Rosy. “Sedikit lagi”, kata Wright dengan logat Britishnya. “Just waiting for your answer Rosy!. Saya selalu menunggumu. But you used to go alone with angger. Aku yakin bisa mencintaimu setulus hatiku Ros!, Percayalah. Cobalah untuk memberiku waktu membuktikan cintaku ini”, kata Wrightt memelas sambil tetap mengikuti langkah Rosy yang lamban dan mengeraskan sedikit volume suaranya. Rosy dan Wrightt sering kali bersitegang dalam suasana seperti ini. “ Beri saja aku waktu”, kata Rosy lagi. “ sampai kapan Ros! Sampai kapan?. Sampai kutahu apa sebenarnya yang ada di otakmu malam itu”, kata Rosy ketus dan berlalu dan mencoba sedikit tegar dengan tas bulu dombanya melekat di bahunya. “okey Ros!, I always wait for you. I swear!”, bisik Wrightt pada angin yang begitu membuat bulu kuduk berdiri sore itu.
Sesekali jangkrik mengkritik malam yang hening itu. Bulan menyampaikan sebuah salam pertemuan dengan menjatuhkan sinarnya dengan lembut ke permukaan bumi. Saat-saat seperti ini begitu membuat hati Novi terharu. Lain di sini lain juga di sana. Ari dan Rina malah dengan Asyiknya bercanda dan bercengkrama di tengah taman itu. Sinar lampu-lampu taman yang redup membuat keduanya lebih asyik lagi ngobrol di sudut restoran taman itu. Rina terdiam sesaat, dan tangan Ari berhasil meraih jemari gadis berwajah anggun itu. Ari yang dulu pemalu dan sedikit tertutup terhadap cewek. Lain dengan Ari yang saat ini yang begitu menikmati rona merah pipi kekasihnya Rina. Ari bebisik lembut seakan tak ingin angin mengetahuinya. Gadis lembut itu serta merta tiba-tiba bangkit, dia melepaskan tangan Ari yang saat itu berusaha untuk memberikan sebuah ciuman lembut di bibir merah Rina. Rina sadar akan hal itu dan hanya berkata dengan lembut, “ Ari! Belum saatnya kita melakukannya. Ari seakan telah mengerti perasaan Rina saat ini dan membiarkan Rina duduk sedikit jauh dari pelukan tangannya. Lima menit mereka terdiam dan hanya bermain dengan perasaan masing-masing. Ari tak tahan melihat Rina membisu seperti itu. Dicobanya untuk mendekati Rina dan menyapanya. “ kamu marah ya?”, Tanya Ari. Namun Rina tetap diam. “Aku janji nggak melakukan hal-hal yang masih kamu anggap tidak sopan Rin. Janji!, aku ingin kau tetap bersamaku. aku takkan ingin mengulanginya lagi. “ janji deh!”, Kata Ari dengan mendekatkan wajahnya kewajah Rina, dan saat itulah Rina memeluk Ari dengan mesra dan menciumnya dengan hangat. Malam itu diajaknya Rina mengelilingi taman itu dengan tangan tetap bergandengan. Di pinggir kolam itu mereka duduk saling bersandar di punggung dan sesekali tertawa dan sesekali membicarakan teman-teman dan akhirnya membicarakan hubungan mereka yang telah lima bulan berjalan.
Kelas sore yang menjadi pilihan Rosy teras lengang tanpa kehadiran Rosy. Mr. Noxi sedang membawakan bukuk-buku tebal berisikan ilmu sejarah Belanda dengan gambar seorang kakek botak, persis kayak botak Mr. Noxi. Saat absensi berjalan, kolom dengan nama Rosy kosong tanpa sign. Mr. Noxi menaikkan kaca mata tebalnya. Any body knows where Rosy is?”, Tanya Mr. Noxi kepada mahasiswa yang hadir. Semuanya diam dan saling menatap satu sama lain. Cuman Wrightt yang asyik dengan gambar-gambar bayangan Rosy. Tersadar Wrightt bahwa dia sendirian di ruangan itu. 39 kursi berderet kosong , tinggal dia sendiri duduk di kelas itu. Berlari dia ke tempat parkir, dinaikinya motornya dan langsung berangkat ntah menuju kemana.
Ayah dan Mama serta Ari telah lama gelisah dalam 7 bulan ini dengan tidak adanya kabar dari Rosy dan juga Bibinya tidak tahu dimana kini Rosy berada. Andre pun tidak membongkar rahasia dimana Rosy tinggal saat ini. Andre juga cinta pada Rosy, namun dia tidak mau memaksa gadis itu menerima cintanya. Karena Andre juga orang Indonesia yang masih punya adat Timur. Apalagi mereka masih saudara dekat. Ayah dan Mama Ari sering berantem. Ayah yang selalu menjadi alasannya. Hal itu terjadi setiap malam, hingga Ari jadi semakin resah dan rindu akan kakaknya. Mama Rosy sudah tahu dahulu akan sifat khasRosy yang kemauannya tidak dapat ditolak. Mungkin Rosy stress atau benci atau semualah. “pa! Apa papa nggak khawatir akan Rosy, kok nggak ada kabarnya dari dulu. Itulah bapak yang nggak ngerti perasaan anaknya. Dari dulu sudah Mama bilang sama papa. Bukannya Rosy nggak pintar, tapi papa terlalu khawatir akan dia”, Mama Rosy selalu menyalahkan suaminya. “ah! Mama bawel banget sih!, Dia itu aman ma!, Mama aja yang terlalu mikirin yang nggak-nggak. Hasilnya ya gini, nyalahin papa terus”,jawab suaminya setengah sabar. Ari sebenarnya ingin melerai pertengkaran itu. Namun kelu lidahnya untuk ikut dalam urusan orangtuanya itu.” Pa !, Aku yakin dia tak aman di sana. Pikirannya pasti ke sini terus. Sambil menangis Mamanya terus mengomeli papa Ari dan “plak! Tanpa sadar suaminya menampar mukanya dengan keras. “ papa!”, Ari tersadar akan hal itu dan menendang papanyadan menampar mukanya.”papa ini orang apa Anjing? Hah!”, Ari kali ini memuncak amarahnya melihat Mamanya tersungkur dan menangis di lantai. “ukgh…hu..’ sudahlah Nak, jangan berantem. Papanya mencoba melawan dan ingin menumbuk Ari. “kamu sudah melawan ya sama papa”,Ari mengelak dan “sudah! Sudah!, Aku akan bunuh diri seru Mamanya melindungi Ari dari Terjangan suaminya. Tapi suaminya tetap mengejar Ari dan terjadilah pergulatan yang sengit antara ayah dan anaknya sore yang kelam itu. Melihat kejadian itu Mama pingsan dan jatuh di lantai dan ”bukh!”. Ntah apa yang terjadi lagi, Mama tidak tahu lagi.
Malamnya, dia terbangun dan dilihatnya dia terkapar lemas dan terawat baik di kamar anaknya Ari. Diperhatikannya ke sekeliling kamar kosong, dan perlahan-perlahan dia mencoba bangkit dan digerakkannya kakinya untuk bangkit. Tapi ….hah Ari?”. Sadarlah Mamanya bahwa Ari tertidur lelap dengan kepala Ari tepat di bawah kakinya. Ditelitinya muka anaknya. Merah lembam dan bibirnya tersisa gumpalan darah pas di sudut bibirnya. “ ma?”, Ari terbangun dan memperhatikan muka Mamanya yang sedih itu. “Ma, Bapak di rumah sakit. Penyakitnya kambuh lagi. Ma! Maafkan aku ma. Akulah penyebabnya”, sambil terisak Ari dipeluk Mamanya dan Mamanyapun menangis keras. Setelah 15 menit mereka menangis dan saling menumpahkan rasa sedih mereka masing-masing. Setelah itu Ari dan Mamanya bersiap-siap menjenguk ayahnya di rumah sakit. Sampai malam mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Semua keluarga datang dan teman-teman ayahnya banyak yang datang dan memberi. Mereka semua belum tahu pasti keadaan sebenarnya dari dokter atas perkembangan medis selanjutnya.
Manusia tidak sadar akan umurnya yang semakin bertambah terbawa hari yang berganti dengan bulan hingga tahun. 2 tahun sudah kehidupan di sisi dunia berlalu. Kini Ari sudah berumur 22 tahun. Di sebuah Kampus swasta yang terkenal itu, Ari mengambil kuliah dan sekarang sudah menginjak semester IV. Karena dia tidak lulus UMPTN tahun lalu, dia kuliah di NOMENSEN jurusan sastra Perancis. Hubungan yang lalu terus berlanjut besama Rina yang kini bekerja di sebuah perusahaan swasta di Medan itu juga. Tapi hubungan itu tidak terlepas dari keretakan dan pertengkaran. Penyebabnya tentunya karena kecantikan Rina. Banyak pria lain yang sering ngapel ke rumah kost gadis itu. Karena hal itu, Ari sering terlalu perhatian dan terlalu cemburu. Namun dengan kelembutan itulah Rina dapat mengerti akan apa yang dirasakan Ari saat itu. Ari juga seringkali di tegur oleh Rina bila Ari seringkali ke bar atau ke tempat hiburan. “ jangan keseringan dong!. Nggak enak juga ditengok temen. Aku nggak mau kamu itu jadi pemabuk karena masalah Ri!. Kamu kan bisa cerita dan kita pecahkan bersama”, Rina sedikit protes dengan sikap Ari belakangan ini. “Rin, kamu kok terlalu banyak permintaan sich!. Nggak boleh inilah. Nggak boleh itulah”, aku harus gimana dong !”, Kata Ari seketika. Kalo sudah begini Rina akan diam dan terus mendengar coletoh Ari. Akhirnya Ari sadar dan minta maaf. Ari selalu mencoba menjelaskan kepada Rina agar Rina juga sadar akan sifat keras Ari keturunan ayahnya dan apabila tidak pada batasnya lagi, Rina protes dan complain. Hal itulah yang membuat mereka terlihat akur dalam hubungan mereka.
Rosy bergerak lincah di bawah lampu disko itu diiringi heavy music. Rosy bukanlah Rosy yang dulu lembut dan anti akan dunia glamour. Setiap malam dia ditemani banyak pria dan cewek-cewek yang terlalu glamour. Andre kadang sesekali mengantar Rosy ke tempat yang disukai Rosy. Gadis ini sudah lupa akan semua keluarganya. Malam ini, Andre dan Rosy dalam sebuah tempat hMamaran yang terkenal di kota itu. Dengan musik hard nya, semua pasangan melantai dengan gaya masing-masing. Rosy antara sadar dan tidak sadar sudah terbawa arus. Andre sesekali melilitkan tangannya di pinggang gadis itu. Andre semakin asyik dengan rangkulannya. Ntah hawa panas apa yang membawa Rosy sampai mabuk begituan. Andre memapah Rosy ke tempat duduk. Sebegitu beratnya cinta Andre terhadap Rosy, sebab itulah dia mengikuti semua kemauan Rosy. Gadis yang telah ternoda itu stress setelah dinodai oleh Wrightt. Namun dia tak mau dinikahi oleh pria bule itu. Ntah apa penyebabnya. Kini Rosy telam menjadi seorang wanita malam kelas tinggi di negEri orang. Wrightt kini hancur dengan penolakan Rosy. Dulunya Wrihgt berpikir apabila nantinya Rosy tidak perawan lagi, pasti Rosy mau tidak mau menerima tawaran Wrightt untuk menikah. Namun harapan itu pula yang membuat Wrightt kecewa dan putus asa. Kabar yang di decngar Rosy, Wrightt kini tinggal di sebuah rumah pemondokan di tempat yang sunyi untuk menjernihkan pikirannya yang setengah hilang harapan dan mulai tidak menghiraukan hidupnya. Orangtua Wrightt telah mengetahui sebabnya dan telah beberapa kali minta tolong untuk Rosy agar mau menerima cinta anaknya. “ jarang sekali orang seperti Wrightt di Eropa sana yang gila gara-gara cinta. “ Ah! Namanya hidup hanyalah Tuhan lah yang tahu”, angin mulai berbisik pada Rosy di alam sadarnya.
4 tahun pertengkaran itu telah usai. “ma! Maafkan Ari ma!”. Ayah telah pergi gara-gara Ari”, Ari bersimpuh di depan Mamanya yang sudah tua itu. “ nggak nak!, Nggak ada yang dapat kita salahkan. Semua itu anugrah dan bencana datang dari Tuhan”. Mama menangis dan terisak. “ tinggallah nak bersama Mama di sini. Biarlah menantu Mama juga selalu di sampingku untuk menggantikan kakakmu Rosy merawat aku, dan semoga kehadiran nak Ari dan menantu Mama di sini, bisa membahagiakan Mama selalu agar ibi tidak merasa kehilangan semuanya, termasuk kakakmu yang tak tahu dimana”. Ari menoleh ke depan. Dilihatnya istrinya Rosy dan anaknya Fredy yang sudah berumur 2 tahun itu, lalu Ari yang mendengar percakapan itu serasa sudah tahu maksud tatapan Ari suaminya untuk minta persetujuan istrinya dengan permintaan Mamanya. Rosy lalu mengangguk dan sambil memperhatikan anak-Mama yang sedang berbicara itu. Kini Ari dan Rina sudah sah menjadi suami istri setelah Rina sudah meminta dahulu persetujuan orang tuanya dan lebih dahulu memperkenalkan Ari pada kedua orang tuanya di kampung. Lebih sepuluh kali, Rina dan Ari berkunjung ke rumah Rina di P. Siantar tak jauh dari Medan. Setelah 4 tahun berhubungan, mereka sepakat untuk menikah dan untung saja orang tua kedua belah pihak setuju. Akad pernikahan dilaksanakan di sebuah gereja kecil di Medan. Masih ingat Rina di hari pernikahannya yang teras aneh. Saat pesta berlangsung, berdiri bayangan Rosy di sampingnya dan menjabat tangannya dan mencium pipinya. Saat itu Rina hanya dapat terpaku dan seakan-akan tersekat lidahnya untuk berbicara. Hal itu yang selalu terbayang dalam ingatannya. “ apa mungkin jaman sekarang ini, manusia biasa bisa jadi seperti malaikat yang datang dan pergi begitu cepatnya?”, Rina seringkali berpikir semacam itu dan bertanya-tanya. “ atau mungkinkah Rosy itu sudah…….!, Ah aku tak bisa berprasangka buruk”, Rina mencoba lagi berpikir sehat. Boneka yang dulu diberikan Rosy kepadanya melalui Ari yang kini menjadi suaminya, masih tersimpan rapi di kamarnya dan suaminya. Fredy anaknya yang lucu, seringkali terpaku dan menangis bila tidak melihat boneka itu menAri. Mungkin Fredy seneng melihat kerlip-kerlip lampu yang ikut menAri pada baju kedua dara manis boneka itu. Ari kini menjadi kepala rumah tangga yang mempunyai wibawa. Rapi dalam penampilan, lembut dan tegas dalam tutur, hal itulah yang selalu dikagumi oleh Rina, hingga Rina bisa terpaut dalam cinta Ari yang masih 2 tahun di bawah umurnya itu. Namun umur bukanlah hal yanag menjadi tolak ukur untuk berumah tangga. Kesetiaan dan pengertian itulah yang utama. “ rapi nggak ma!, Rayu Ari pada istrinya. “ ya iya dong!. “siapa dulu istrinya”, sahut istrinya manja. Fredy!, Jangan pandangi papa gitu dong!. Jangan cemburu gitu. Nanti papa cAri gadis secantik Mama untuk kamu”, cubit Ari di pipi anaknya yang nggak tahu apa-apa itu. “ tapi janji dulu, minta minum dulu sama Mama biar cepet besar”, goda Ari lagi sambil melirik istrinya yang memperhatikan Ari dan anaknya itu. “ papa!, Malu sikit dong!. Fredy itu masih kecil pa!”, Kata istrinya manja sambil mencubit paha suaminya. “hmm. Jangan marah gitu dong sayang!, Fredy itu masih kecil. Nggak tahu apa-apa”. Ari lalu mencium anaknya dan Rina. “ papa pergi yak ma!. Jaga Mama ya Fredy. Biar jangan keluyuran”, goda Ari lagi. “ da ‘..da! Ari pergi dengan sepeda motornya. “ ayo kasih salam sama papa” kata Rina pada anaknya. Ari ini bekerja pada perusahaan swasta, tempat ayahnya dulu bekerja. Bukan karena Nepotisme atau yang lainnya, tapi karena Ari memang pantas menduduki jabatan pada perusahaan itu. Dia menjabat sebagai staff public relation di perusahaan itu. Rina sebenarnya telah bekerja juga, namun dalam 2 bulan ini dia lagi cuti. Karena dia lagi hamil tua dan baru saja tinggal bersama mertuanya di rumah itu. Mertuanya laki telah meninggal 4 tahun silam. 1 tahun sebelum dia wisuda dan menikah dengan Ari. Hal itu terjadi setelah pertengkaran terjadi di rumah itu dimana terjadi adu tenaga dengan Ari suaminya. Karena itu dia shok dan penyakit ginjal dan pernafasannya kambuh. Setelah 2 bulan diopname dan dirawat di rumah sakit, dia meninggal dan pergi ke rahmatullah menghadap yang kuasa. Semua telah merelakan kepergiannya. Namun kesedihan itu lama berlangsung. Apalagi Ari yang merasa bersalah berat pada saat itu. Cuman Rosy yang tidak tahu akan hal itu. 6 tahun sudah Rosy tidak mengasih kabar ke pada orangtuanya. “ Mama selalu teringat akan Rosy dan merasa sangat bersalah pada Rosy. Ntah kenapa kalau ada mantu di sini, terasa aku dekat dengan Rosy”. “Ah! Mama bisa saja. Itu bisa saja bu!, Karena dulu kami selalu dekat. Dan sekarangpun aku merasa kehilangan sekali bila tidak ada kabar dari dia. Tapi…! Ah ! Tidak usah kita menceritakan ,masa lalu tentang kepergian Rosy, meskipun mantu telah mendengar semua cerita itu dari suamimu. Kita hanya bisa berdoa dan berharap agar Rosy selalu ingat akan kita yang ditinggalkannya di sini.
Ari dan Rina kini hidup dengan damai Fredy anaknya kini telah punya adik perempuan Intan. “Ma, aku bingung mencari Mbak Rosy dimana. KemArin saya telepon bibi, katanya sudah 6 tahun Rina pindah ke sebuah apartemen”. “Abang udah nanya alamat apertemen nya ?, Tanya Rina. Bibi nggak tahu. Andre anaknya bibi katanya tahu , tetapi Andrenya sudah berangkat ke Prancis. “Ma , udah sore nih ! Mandi dulu ntar Mama sakit lagi!, Kata Ari mengingatkan Mamanya. Biar Rina sama Fredy dan Intan. “Fredy! Sini”. ” Apa pa”, jawab Fredy sambil menghampiri Ayahnya.” Ayo papa temanin main bola”. “Oke deh, kata Fredy yang sudah berumur 4 tahun itu. “cerdik nian anak ini”, kata orang dalam hati bila memperhatikan Fredy yang lincah itu. Mama Rosy terlalu menyalahkan dirinya sendiri dengan tiada kabar dari putrinya yang sangat disayanginya itu. Untunglah Rina dan Ari selalu sabar memberi penghMamaran akan hal itu. “ Bu! Mbak Rosy itu udah gede dan dewasa. Mungkin saja dia tak ingin diganggu sekarang atau lagi sMamak dalam pekerjaan. Semoga saja Mbak Rosy sadar kalau hal itu membuat kita resah”. Ari menghMamar Mamanya dengan berbagai macam cara dan tak ingin Mamanya cepat meninggalkannya dan istrinya. Karena dia tahu Mamanya terlalu banyak mengalami derita dengan kehilangan suaminya dan juga kehilangan kabar dari putrinya Rosy.
Hilangnya kegadisan Rosy adalah awal kesedihan yang berkepanjangan. “ Tuhan, mohon ampun atas segala dosaku ini!. Terlalu berat untuk kupikul beban di punggung ini hingga membuat aku jatuh dan tak bangkit lagi. Kemarin aku melupakanmu. Dan sekarang….hh..! Andai saja engkau dapat berbicara dan menghMamar hatiku, mungkin aku mampu tuk bangkit, walaupun aku terbungkus noda. Tuhan! Maafkanlah aku”. Saat menyendiri seperti ini kadang kala tanpa sadar Rosy teringat akan Tuhannya dan sejenak bibirnya berbisik dengan doa terucap. Tapi hari-hari berikutnya seakan dia lupa segala doanya dan mamulai hidupnya di jalanan. Tapi Rosy merasa rindu akan Andre sepupunya yang dulu selalu menemaninya kemana dia pergi. Namun dia tidak mau bergantung akan bantuan Andre walaupun dia tahu Andre bisa menjaga rahasianya dimana dia berada dan apa pekerjaanya. Lain dengan sekarang, sudah 1 tahun dia tidak bertemu dengan Andre, dan dia seakan ingin melihat wajah pemuda itu. Perasaan lain kadang muncul di hatinya. Ada sesuatu yang ingin diucapkannya kepada Andre, ntah itu perasaan apa, Rosy juga belum mengerti apa itu sebenarnya. Rindu saja atau yang lainnya. Los Angeles memang telah mengubah hidup Rosy batin dan fisik. Seringkali di perempatan jalan itu, dia menjajakn mahkotanya yang telah ternoda. “ Rosy! Are you ready for going on?, Tanya om-om itu. Rosy mengangguk. Setelah sampai pada hotel yang telah di tuju, terkadilah sebuah pergumulan yang tak asing lagi bagi Rosy saat ini. Rosy yang manis memang jadi incaran para hidung belang setiap malamnya. Dengan wajah turunan Indo asli menjadi kesukaan para hidung belang bagi dunia Eropa. Bookingan untuk Rosy sudah go Internasional. Kesempatan Rosy untuk mengeruk uang banyak memang sudah di tangannya saat ini. Hingga suatu hari di perempatan jalan itu dia kaget. “ berapa duit?! Tanya seseorang dari dalam mobil. Dengan seksama Rosy seakan tersadar dengan suara itu. Pria yang mengajak kencan malam ini terasa aneh bagi Rosy. Tidak begitu jelas Rosy melihatnya hingga dia mendekati pintu mobil itu dan memperhatikan Pria yang memakai kaos ketat itu dengan kaca mata Ray Bannya yang kuning pria ini terlihat seperti bule yang lain. “Tetapi mengapa Pria ini tahu berbahasa Indonesia dan..… Rosy memperhatikan pria itu lagi dan kka.kam..kamu dan serta merta Rosy berlari dan terus berlari hingga “Braaa..k!”. Jalanan ramai denagn suara sirene mobil dan terlihat seorang gadis terbAring dengan bersimbah darah. Lelaki tadi menyesali perbuatannya dan melArikan Rosy kesebuah rumah sakit terdekat. Ternyata pria itu adalah Andre sepupunya yang telah lama tidak saling bertemu. Untunglah Rosy tidak sampai terkena lumpuh oleh karena kejadian yang tragis itu. Tadinya Andre berharap Rosy akan cuek saja dan mengikuti ajakannya. Andre sudah lama mencari-cAri Rosy. Itu disebabkan karena cintanya yang tulus dan murni, walaupun dai tahu Rosy tidak perawan lagi. Dengan memberitahu ciri-ciri Rosy pada setiap Bar yang ada di tengah kota itu, Andre menerima telpon dari temannya bahwasanya gadis dengan ciri-ciri yang diberikan ada di perrempatan jalan Commondore di depan sebuah Bar yang sangat terkenal. Dengan cepat-cepat Andre datang dengan mengendarai mobilnya dan untunglah Rosy belum sempat pergi dengan kekasih gelapnya malam itu. Selama 2 minggu Rosy harus diopname di tempat itu. Sore ini Rosy tersadar dan didapatinya kaki dan kepalanya terbalut dengan rasa perih di semua otot-ototnya. Dilihatnya ada dokter di sampingnya. “ docter! May I know something?”, Tanya Rosy pada Dokter itu. “sure, please!”, Kata dokter itu dengan senyumnya yang ramah. “ who pays these all?’ tanyanya lagi dengan bahasa Inggrisnya yang kental. “somebody!”, Jawab dokter itu sambil memperhatikan seluruh balutan di tubuh Rosy. “I’d like to know it. Guy or Lady?, Tanya Rosy. “guy”, jawab dokter dengan tenang sambil memperbaiki letak tubuh Rosy. “Andre?”, Tebak Rosy. “No, He is Ari from Indonesia”, jawab dokter bule itu. “Ari! Is it right Sir!, Tanya Rosy sambil jantungnya seakan berhenti berdetak. “ Rosy ingin segera berlari dan ingin melompat dari pintu jendela Rumah sakit itu. Namun…”tok..tok !. “ come in, please” kata dokter itu. Dengan masuknya pria itu ke dalam, Rosy terbelabak dan segera menutupi wajahnya dengan kain putih itu. “ Nooo…!, Rosy menjerit dan akhirnya menangis. 5 menit dia tak ingin melihat wajah Ari yang sudah begitu asing baginya. Ari yang dulu polos, kini dengan kumis tipisnya dan dengan gaya pakaiannya yang terlihat Rapi seakan Rosy sedang melihat Ayahnya yang ingin membunuhnya. Namun setelah dia sadar dia membuka kain penutup wajahnya setelah di dekatnya ada bayangan yang tadi masuk. Ari dengan sabarnya duduk di samping kakaknya dan karena rindunya dia serta merta memeluk kakaknya itu dan menangis. “ Ari…iii..Ar…”. Tangis itu lama baru reda. Lama mereka saling berpelukan dan Ari melepaskan pelukannya dan menatap wajah Rosy dengan lembut. Rosy tertunduk dan Ari..adikku”, aku sudah sepantasnya mati dan jauh dari kehidupan kalian. Aku terlalu berdosa jika bertemu kalian lagi. Aku..ak…hu..ukh. Rosy menangis lagi dan tidak melanjutkan kata-katanya. Ari mendekap kepala kakaknya itu serasa tidak ingin gadis itu menangisi yang sudah berlalu. “Aku tak percaya kau ada disini dik”, Ari menghapus air mata kakaknya dengan sapu tangannya. “kami kangen sekali Mbak!”, Kata Ari dengan wajah sedikit sedih melihat kakaknya yang kurus itu. “sebenarnya kakak juga kangen sekali sama ayah, Mama, kamu dan semuanya”. “ tapi aku terlalu egois dan tidak mengasih kabar sama kalian semu”, Rosy seakan ingat masa lalunya dalam keluarga. Saat ini dia mencoba meraih pipi Ari dan mengelusnya dan serta merta dia menangis lagi dan menyandarkan kepalanya ke dada Ari. “ Mama kangen sekali sama Mbak!”, Kata Ari. “ Ayah?”, Tanya Rosy sambil menatap Ari dan ingin mengetahui kabar Ayahnya. Ayah!..Ayah.. Ari bingung harus bicara apa tentang semua itu. Dalam keadaan seperti ini tidak mungkin dia memberitahukan kabar itu. “ ayah kenapa Ari, tanya Rosy setengah mendesak jawaban Adiknya itu. Karena terus didesak Rosy. “ Mbak!, Ayah sudah me..men..meninggal”. “Apa?. Apa katamu Ri!. Ayah meninggal?”, Tanya Rosy seakan tak sadar apa yang baru saja adiknya katakan padanya. “Iya Mbak. Ayah sudah meninggal”. “Tidaaakkkkk!”, Rosy jatuh pingsan lagi. Lima belas menit sesudah itu dia sadar lagi. Raut mukanya terus menampakkan kesedihan yang mendalam dan bibir gadis itu terus diam tapi tidak lagi dengan isak tangisnya. ” Tok..tok..!”, Ari mempersilahkan orang yang mengetok pintu dari luar untuk masuk. “ Oh brother Andre!. Silahkan masuk”. Rosy diam tanpa reaksi melihat kehadiran Andre. Andre mencium dahi Rosy seakan tidak canggung lagi walaupun Ari berada di situ. Ari membiarkan hal itu, karena dia sadar ini adalah L.A, negara yang mempunyai adat tersendiri untuk menyatakan salam. Rosy memejamkan matanya dan dari mimik wajahnya dia tak ingin diganggu dalam kesedihannya. Dia baru sadaar kalau semua perilakunya di sini, sangat jauh dari apa yang diharapkan oleh kedua orangtuanya. Mereka terdiam dan saling larut dalam perasaan masing-masing. Sebentar Andre bercerita pada Rosy bahwa dialah yang membawa dia kemari dan menelepon Ari adik laki-lakinya itu. Dia minta maaf atas semuanya itu. Ari sudah tahu akan hubungan Rosy kakaknya dengan Andre. Dan Andre sudah menceritakan akan perasaanya terhadap Rosy pada Ari. Ari hanya bisa menyerahkan semua itu pada kakaknya. Untuk saat ini Ari belum menyampaikan hal ini kepada kakaknya. Namun Ari menyatakan sebuah permintaan kepada Andre , kakak sepupunya itu. Apabila Rosy setuju, ada baiknya hal itu disetujui juga oleh kedua belah pihak. Karena masih ada hubungan saudara diantara mereka dan apabila bibinya dan pamannya setuju hal itu, akad nikah ditentukan oleh Rosy. Setelah lama mereka berbincang-bincang sampai malam. Di luar jam tunggu, Andre dan Ari masih bercerita panjang lebar tentang Rosy dan semuanya. Setelah itu Andre pamit untuk pulang dan berjanji akan datang besok. Setelah malam berlalu, Ari masuk ke ruang pasien, dimaan Rosy dirawat. Setelah mereka berdua berbincang-bincang sejenak, Ari bertanya. “ kakak nggak marah kalau saya mengutarakan sesuatu?. “apa itu”, tanya Rosy dengan bahasa Indonesianya yang masih lumayan lancar. “ janji dulu lah!, kata Ari lagi, “ iya deh, kakak janji nggak akan marah”. “Mbak! Andre sudah mengutarakan sesuatu pada saya dan mungkin Mbak Rosy sudah tahu akan perasaan Andre pada kakak. Andre ingin melamar kakak setelah pulih kembali”, kata Ari terus terang. “Rosy sejenak terdiam dan sesaat terbayang akan semua kehidupannya yang terlalu hitan buat Andre yang baik dan pengertian. “ Ah!, Andre yang begitu setia, mengapa aku harus menyia-nyiakan cintanya yang tulus”, bisik hati Rosy pada dirinya sendiri. “ tapi…, apa dia bercerita tentang kehidupan kakak yang dulu kepada Ari”, Rosy terisak menanyakan hal itu, karena langsung ada perasaan malu terhadap adiknya saat ini. “ Mbak Ros jangan terlalu terpaku akan masa lalu kakak. Saya mengerti perasaan Mbak Rosy saat ini. Malu dan semuanyalah!. Tapi aku tak mau kakak terus-terusan seperti ini dan juga kami mau Mbak kembali ke jalan yang benar”, kata Ari seakan menasihati Adeknya sendiri. “ bila Ari sudah mengetahui semuanya, berjanjilah pada Mbak agar tidak menceritakan semua itu pada Mama. “ iya , Ari janji Mbak. Aku tidak mau Mbak kembali ke dunia seperti itu”. Ari tidak mau menceritakan sekarang tentang tentang pernikahannya dengan Rina. Biarlah lambat laun Mbak Rosy akan mengerti semua itu. “Eh! Kamu udah jumpa teman Mbak yang namanya Rina itu?”, tanya Rosy akhirnya. “ E..e udah Mbak.”. “ dimana dia sekarang?”, kamu tahu?”, tanya Rosy lagi. “ nanti sajalh Mbak. Besok masi ada waktu bercerita. Mbak istirahat dulu dan besok sudah bisa ke rumah bibi. Bibi dan paman sudah beberapa kali ke sini jenguk Mbak, kata mereka. Namun waktu itu Mbak masih pingsan. Mereka tidak mau Mbak kaget dengan kedatangan mereka. Tapi mereka tadi menelepon kalo besok Mbak harus ke sana sebelum kakak sudah sehat betul untuk berangkat ke Medan”, Ari menyampaikan pesan pamannya. Rosy hanya terdiam dan menunduk malu. “ sudah Mbak! Jangan terlalu sedih lagi, aku jaga di luar. Mbak istirahtat dulu”, Ari menyelimuti tubuh kakaknya itu dengan perasaan kasih sayang. Rosypun merasakan hal itu dan Rosy ingin memeluk adiknya seperti saat-saat dulu. “ Selamat tidur Mbak! Semoga mimpi Indah, Ari memeluk dan mencium Rosy dengan lembut dan berlalu pergi ke luar ruangan. Sepeninggal Ari, Rosy tidak bisa tidur dan bayangan-bayangan yang dulu pernah dilaluinya kini hadir dihadapannya. Hal itu membuat dia sadar dan ingin cepat sembuh. Esok harinya semua berlalu dan berlalu membawakan banyak cerita tentang hidup dengan berjuta masalah di dalamnya. Kini Rosy dan Andre sudah sepakat untuk menjadi suami istri nantinya setelah paman dan bibinya sudah memaafkan kesalahan Rosy atas tidak adanya kabarnya selama ini yang membuat paman dan bibinya merasa bersalah pada Almahrumah ayahnya.
Penerbangan jurusan Los Angeles – Medan membawakan orang-orang yang mempunyai satu keinginan yaitu secepatnya hadir di tengah-tengah keluarga mereka. Begitu juga dengan Andre, Ari dan Rosy yang kini sudah mendarat dengan pesawat GA-250 di bandara Polonia Medan. Tak seorangpun kerabat mereka di Medan yang tahu akan kedatangan merekadi kota yang sudah Tujuh tahun tak diinjak oleh Rosy. Rosy menyadari akan semua kesalahannya yang dulu dan ingin kembali seperti Rosy yang dulu periang dan mampu membahagiakan orang-orang di sekelilingnya, walau ia tahu itu bukanlah hal yang mudah dilakukan setelah sekian lama ia secara tidak sengaja menyakiti orang-orang yang mencintainya. Biarlah kenangan itu berlalu seperti berlalunya kota Los Angeles dari hadapannya. Dan kini dia berusaha tetap tegar untuk menerima apa yang akan terjadi selanjutnya, dan dia masih percaya dia bisa bertahan hidup atas dasar kasih Tuhan. Sesaat Rosy terpana akan suasana kota Medan dan juga Andre yang baru dua kali ini melihat keindahan Kota Medan, setelah dua puluh tahun silam di masa kecilnya menngunjungi sanak famili ayah ibunya di kota Asri yang sekarang di injaknya itu. Rosy menghirup udara kota itu dan seakan mengganti hawa yang jauh dari Eropa sana denagn udara-udara yang dulu ada pada masa kecilnya. Dan “Tap! Pandangan Rosy tertuju ke lobby bandara dan terpaku sesaat. Seakan baru saja dia mengalami kejadian yang sudah 7 ( Tujuh ) tahun berlalu. Perpisahan yang ada saat dia dan ayahnya berangkat ke Luar Negeri sana. Setelah tersadar dia dari lamunannya, dia masuk kembali ke dalam taksi yang telah disewa oleh Ari menuju Rumah Kecilnya. Setengah jam dalam perjalanan membuat Rosy terasa berada dalam penjara dan tak sabar ingin melepaskan rindu pada sang Ibu yang melahirkannya. Dia begitu rindu akan Mamanya, rumahnya, temannya dan semuanya. “Tit…tiii…’ jantung Rosy berdegup kencang setelah di depan sana seorang perempuan tua setengah berlari membuka gerbang dan terlihat jelas dipipi wanita itu beratnya penderitaan yang harus dialaminya di dunia ini. Dan serta merta Rosy menbuka Pintu mobil dan “Mama………….”, Rosy berlari memeluk perempuan yang sudah beruban itu. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, terjatuhlah perempuan tua itu setelah tangan kanannya mencoba memeluk Rosy dari kejauhan. Ari dan Andre mengangkat tubuh Mamanya ke rumah. Tangis itu memilukan sekali bagi yang menyaksikan pertemuan ibu dan anak itu. Tangis itulah yang menyadarkan kembali Mama Rosy dari pingsannya. Seakan sudah melihat putrinya yang telah mati hidup kembali, begitulah tangan tua renta itu memeluk Rosy dengan erat dan disertai tangisan yang mendayu-dayu. Andre dan Ari tetap diam dan memperhatikan keduanya melepas rindu. “ Rosy, putriku. Mama kangen.., Mama kangen…, jangan pergi lagi nak”, kata Mamanya di tengah tangisannya. “Rosy janji tak akan meninggalkan Mama lagi”. Setelah keduanya puas melepas rindu, Andre memberi salam pada Bibinya yang adalah Mamanya Rosy yang sangat bahagia sekali dengan kedatangan anak dan anak iparnya yang juga calon menantunya itu. Karena sudah lama mereka tidak saling mengunjungi satu sama lain seperti dulu. Mereka bercerita dan Mama Rosy yang sudah tua itu tetap memandangi wajah putrinya yang sudah berubah. Kini Rosy kurus dan berambut ikal dengan pandangan mata yang sayu. Rosy tidak tahu akan adanya 2 anak kecil yang menangis di kamar sebelah. Andre sedang mandi saat sebuah angkot berhenti tepat di depan rumahnya. Ari berlari dan mencium pipi istrinya setelah satu bulan tidak pulang ke Medan. Di halaman yang sedikit luas itu, Ari terdiam sebentar dengan istrinya dan hal itu diperhatikan Rosy dari kaca nako, tapi tidak begitu jelas. “Tapi…”, itu siapa bu!?”, tanya Rosy pada Mamanya yang kini sudah sedikit reda dari isak tangisnya. “Ari belum cerita?”, tanya Mamanya sedikit heran. “ cerita apaan sih bu?”, Rosy balik tanya. “Rina temen kuliahmu itu kan sudah menjadi istri Ari empat tahun yang lalu. “apa! Rina ?. Jadi i.i.itu Rina ma?, teman Rosy yang dulu ma?”, Rosy memperjelas pandangannya pada sosok gadis yang di halaman itu dan serta merta Rosy berlari dan..”Ri..Rina….”. Di dapatinya Rina yang saat ini juga berlari menuju pintu mereka saling berpelukan dan kedua Gadis ini belum bisa menyurutkan tangisannya. Mereka masih berpelukan erat seakan tak mau lagi kehilangan kenangan indah dulu. Ari memperhatikannya dan Andre begitu heran setelah mengetahui anak yang tadi di dalam kamar itu adalah anak Ari. Ari minta maaf atas tidak diceritakannya semua itu. Ari memapah Fredy dan Intan ke ruang tengah dan sore itu Rina mengenalkan kedua anaknya pada tamu yang selama ini dirindukannya. Rosy seakan-akan baru saja bermimpi, dan begitu surpraisnya dia mendapati dua keponakan dari adiknya dan temannya yang dulu sudah dianggapnya saudara itu. Rosy memeluk Fredy dan Intan bergantian. Fredy yang biasanya bercoletoh lincah itu terdiam dan memperhatikan tamu yang masih asing baginya dengan tingkahnya yang menggemaskan Rosy. “Fredy kok heran!, itu tante Rosy sayang. Ini kakak papamu”, kata Rina menjelaskan pada anaknya yang masih bengong itu. Rosy jadi mau ketawa sendiri akan dirinya sendiri dan ditatapnya serta diciumnya berulang-ulang keponakannya dan Andre yang melihat itu tersenyum bahagia.
Senja telah berlalu dengan sejuta makna tersurat dan tersirat. Malam ini, di sebuah rumah yang dulu penuh duka dan derita, kini menjadi saksi kembalinya seorang anak gadis yang sudah lama hilang, kini kembali kehadapan orang-orang yang selama ini merindukannya. Malam ini, Andre resmi meminang Rosy disaksikan Mamanya Rosy dan adik laki satu-satunya, Ari dan istrinya. Keluarga Rosy Langsung menghubungi rumah bibinya agar segera ditentukan hari pernikahannya dengan anaknya, dengan satu permintaan dari pihak keluarga Rosy yakni Untuk mengingat kembali kenangan bersama papanya Rosy, ada baiknya akad nikah dilaksanakan di kota kelahiran Rosy yakni kota Medan dan kedua belah pihak saling setuju. Bangkit kembali kebahagiaan dalam keluarga yang dulu terpuruk dalam kesedihan itu. Malam itupun menjadi saksi. Apa yang terjadi pada hari berikutnya adalah berdirinya sebuah keluarga yang damai sejahtera, damai dalam lindungan yang kuasa. Kembalinya anak yang dulu hilang seperti mendapatkan mahkota kehidupan dalam sebuah keluarga. Orang yang begitu sadar akan kejahatan yang pernah dilakukannya ialah orang yang kembali menerima kasih dan dorongan dari orang-orang yang dicintainya untuk kembali ke jalan yang benar.

******* Goenawan Reza tambunsaribu ********

“”ENd”

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: +1 (from 1 vote)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image