Pengajuan Cerai Capai 1.575 Kasus

GRESIK(SI) – Angka pengajuan perceraian di Kabupaten Gresik ternyata cukup tinggi.Selama 2009 lalu,kasus pengajuan cerai yang masuk ke Pengadilan Agama setempat mencapai 1.575 kasus.

Dari jumlah itu, sebanyak 590 kasus di antaranya diajukan oleh suami berupa gugat talak.Sedangkan istri yang mengajukan gugatan cerai mencapai 985 perkara. ”Dari 1.575 perkara yang masuk selama 2009, kami sudah mengabulkan 1.372 permohonan gugatan,” terang Humas Pengadilan Agama Gresik Miftahul Huda kemarin. Sedangkan tahun ini, kasus yang terjadi sampai Februari saja, Pengadilan Agama Gresik mencatat ada 288 perkara yang sudah didaftarkan. Rinciannya, cerai talak oleh suami sebanyak 103 perkara, sedangkan gugat cerai oleh pihak istri ada 185 perkara.

Penyebab terbesar perceraian adalah faktor ekonomi yang tercatat ada 511 perkara pada tahun 2009,disusul alasan ketidakharmonisan keluarga ada 217 perkara, pihak tergugat tidak bertanggungjawab ada 123 perkara, hadirnya pihak ketiga mencapai 175 perkara, krisis akhlaq seperti,judi,miras, tercatat 96 perkara.”Mereka yang mengajukan perceraian sebagian besar didominasi keluarga dengan usia perkawinan di bawah 10 tahun,”imbuhnya. Menariknya, ada gejala atau tren tingginya keinginan perceraian dari pihak perempuan.Alasan yang kerap dipakai untuk menggugat suaminya adalah faktor ekonomi dan hadirnya pihak ketiga atau wanita idaman lain (WIL).

Huda mengungkapkan,tren itu terjadi karena saat ini banyak wanita yang mulai menyadari hak-haknya selaku istri.Mereka lebih ekspresif menyampaikan keinginannya bila merasa tidak sesuai dalam berumah tangga. Dikatakan, hakim pengadilan agama dalam menyidangkan gugatan cerai tetap berusaha untuk merujukkan kedua belah pihak. Bila masing-masing tetap kukuh pada pendirian untuk bercerai, barulah diputuskan hak dari perempuan ketika sudah cerai, baik selama masa idah maupun hak asuh dan biaya merawat anak.”Faktanya setelah perceraian terkadang pihak laki-laki tidak memenuhi kewajibannya, seperti memberi biaya bagi perempuan dan anak-anaknya,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Pusat Pelayan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Gresik Nur Khosiah mengatakan, tingginya angka perceraian juga disumbang dari pasangan suami istri (pasutri) yang menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. ”Lingkungan sosial yang lebih terbuka mendorong para istri mengajukan gugatan cerai pada suami yang menelantarkannya,” kata dia. Agar kasus perceraian bisa diminimalkan, dia mengingatkan kepada masing-masing pasangan berkeluarga untuk menyadari hakekat perkawinan dalam menyatukan dua hati dan keinginan yang berbeda. Selain itu, pasutri juga diminta untuk membuat keputusan saat hati tenang dengan melibatkan kedua keluarga.

”Jangan dilihat kekurangan suami atau istri, tapi lihatlah kelebihannya. Jangan banyak menuntut tapi lebih banyak memberi. Sebab, ada kecenderungan pasangan menikah bila memiliki masalah dalam berumah tangga, kurang mampu menyelesaikan dengan baik dan kurang melibatkan keluarga dalam mencari penyelesaian terbaik,”ujarnya.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image