Pengamen di Bawah Umur

Berbagai macam tuntutan kebutuhan untuk hidup dapat menjadi faktor utama banyaknya pengemis di Indonesia. Karena tidak punya pekerjaan maka apa saja dilakukan demi memperoleh sesuap nasi, hingga anak-anak dibawah umur pun harus ikut menanggung beban itu. Orangtua mereka tidak peduli kalaupun mereka tidak sekolah, sebagian orangtua mereka justru memaksa anak-anak ini untuk bekerja, padahal anak-anak pengamen jalanan ini ingin sekali sekolah. Kita dapat melihat bocah-bocah pengamen di berbagai tempat, seperti yang sering saya jumpai di stasiun ataupun di kereta. Saya pernah menjumpai seorang pengamen cilik yang sedang bersama orangtuanya di dalam kereta dan di paksa untuk bekerja mengemis.

Sepulang dari kuliah, saya bertemu dengan seorang pengamen cilik di sebuah stasiun. Sebut saja namanya Acil. Anak ini menghampiri saya ketika saya sedang menunggu kereta di stasiun, ia meminta uang untuk beli minum. Setelah saya memberinya uang dan setelah acil membeli minum, maka saya pun mengajaknya berbincang-bincang. Hal ini saya lakukan juga untuk menyelesaikan karya tulisan saya yang saya beri judul “Pengamen di Bawah Umur”. Saya sangat senang sekali ketika anak ini mau saya wawancarai, dengan sesekali saya ajak dia bernyanyi dan bercanda tawa. Maka hasil wawancara saya adalah sebagai berikut:

Saya : Nama kamu siapa ?
Pengamen : Boleh panggil saya siapa aja kak..
Saya : Ya udah.. saya panggil kamu Acil, karna kamu anak kecil (bocah pengamen ini pun tertawa). Kamu tinggal dimana ?
Pengamen : Di Depok..
Saya : Orangtua kamu dimana ?
Pengamen : Ada, lagi kerja juga.
Saya : Kerja dimana ?
Pengamen : Di Depok, orangtua saya pengemis.
Saya : Kamu ga sekolah ?
Pengamen : Hahaha.. Untuk makan aja susah, apalagi untuk sekolah.
Saya : Tapi kan kamu harus sekolah kalau kamu mau kehidupan kamu lebih baik nantinya! Memangnya orangtua kamu tidak menyuruh kamu untuk sekolah?
Pengamen : Bapak saya nyuruh saya kerja kalau mau makan.
Saya : Jadi kamu di paksa kerja sama orangtua kamu?
Pengamen : Ya mau gimana lagi.. Susah nyari uang. Kata Bapak saya, sekolah itu cuma buang-buang uang, lebih baik kerja. Ya kerjanya juga saya cuma bisa ngamen. Lumayan kak, dari pada nahan lapar.
Saya : Tapi kamu ada keinginan untuk sekolah ngga ?
Pengamen : Pengen, tapi buat makan aja susah kak.. Makanan bekas orang aja saya makan kalau saya sudah kelaparan.
Saya : Kamu kalau ngamen kemana aja ?
Pengamen : Saya sih ke Depok sampe ke Bogor. Ya bolak-balik aja gitu kak..
Saya : Kamu ga capek ?
Pengamen : Udah biasa, sekalian jalan-jalan aja sama teman-teman yang lain.
Saya : Ooh…

Tiba-tiba kereta datang, dan bocah pengamen yang saya sebut Acil ini pun segera bergegas ke peron kereta arah Bogor.

Pengamen : Keretanya udah dateng tuh kak, saya mau ke Bogor dulu ya kak..
Saya : Oh.. ya udah hati-hati ya.. lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi di sini.
Pengamen : Iya, terima kasih ya kak..
Saya : Sama-sama.

Begitulah hasil wawancara saya kepada seorang pengamen di bawah umur, dan juga dengan penelitian lapangan saya dapat melihat banyak sekali anak-anak yang putus sekolah dan menjadi pengemis hanya untuk mendapat sesuap nasi. Kita sebagai orang-orang yang masih mampu dan walaupun hanya sekedar cukup, patut bersyukur atas kehidupan kita. masih banyak orang-orang yang kekurangan, yang kesusahan hanya untuk makan. Apalagi bocah-bocah yang harusnya sekolah, tapi malah harus bekerja untuk melanjutkan hidup. Kita juga harus membantu sesama kita yang kekurangan.

Demikianlah hasil penelitian lapangan dan wawancara saya untuk sebuah tulisan saya yang berjudul “Pengamen di Bawah Umur”. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image