satelit saturnus

SATELIT SATURNUS

Saperti Yupiter yang memeiliki beberapa satelit, Saturnus juga memiliki satelit cukup banyak. Penerbangan pesawat – pesawat angkasa yang melewati Saturnus menunjukan bahwa planet ini memiliki 17 satelit. Satelit pertama yang ditemukan dinamakan Titan. Kemudian secara berturut – turut ditemukan Rhea (1672), Lapetus (1672), Dione (1684), Thetys (1684), Mimas (1789), Enceladus (1789), Hyperion (1848), Phoebe (1898). Kemudian beberapa satelit lagi ditemukan oleh Pioneer 11 pada tahun 1980. Nama – nama satelit Saturnus diambil dari anak dan cucu Gaia, yang dibuahi oleh Saturnus dari tetesan darahnya.

Tidak semua satelit – satelit diatas merupakan benda yang tersusun dari batuan seperti yang ditemukan di Yupiter. Dari seluruh satelit Saturnus hanya satelit Titan, Mimas, Enceladus, Tethys, Dione, Rhea, dan Lapetus yang merupakan satelit yang merupakan satelit yang berbentuk batuan. Satelit – satelit lain yang wujudnya hanya bongkahan es besar. Oleh karena itu kita hanya mninjau satelit – satelit diatas saja.

MIMAS

Satelit ini ditemukan William Herschel pada tahun 1789. Mimas diameternya berukuran kira – kira 390 km, dan terdapat banyak kawah dipermukaannya. Kawah – kawah ini adalah kawah yang dalam  berbentuk mangkuk, dan pada kawah yang diameternya lebih besar dari 20 km tersapat tonjolan dipusatnya.

Mimas diberi nama menurut salah satu Titan dalam mitologi Yunani (Titan adalah 12 anak uranus (langit) dan Gaea (bumi)). Nama tujuh satelit Saturnus yang pertama kali diusulkan oleh John Herschel dalam makalah berjudul Result of Astonomical Obsevations Made at the Cape of Good Hope. Saturnus adalah pemimpin para Titan.

Kerapatan Mimas yang rendah (1,17 gr/cm³) menunjukan bahwa penyusunannya sebagian besar adalah es ditambahi sejumlah kecil batuan. Karena mengalami gaya pasang surut , Mimas ini tidak berbentuk bulat sempuna tapi agak lonjong, sumbu panjangnya 10% lebih panjang dari sumbu pendeknya.

Di Mimas, terdapat sebuah kawah yang sangat lebar dan dalam. Kawah ini dinamakan Herschel, berdiameter 130 km (sepertiga diameter Mimas) dan dalamnya 10 km. selain itu ditengah kawah terdapat tonjolan yang tingginya 6 km. tampaknya benturan ang membentuk kawah ini hampir menghancukan Mimas. Pada bagian berlawanan dari kawah ini terdapat patahan – patahan yang terbentuk akibat adanya gelombang kejut yang datang setelah Mimas mengalami benturan meteorit.

Mimas memiliki banyak kawah yang lebih kecil meskipun tidak ada yang sebesar Herschel. Proses pembentukan kawah di Mimas berlangsung tidak merata, sebagian besar kawah berdiameter lebih dari 40 km, tetapi didaerah kutub selatannya jarang terdapat kawah yang berukuran lebih dari 20 km. Mimasa tidak terlalu banyak mengalami kegiatan tektonik.  Pola geologis yang dimiliki Mimas hanyalah kawah dan chasmata.

ENCELADUS

Satelit yang berdiameter 510 km ini juga ditemukan oleh Herschel pada tahun 1789. Enceladus memiliki kawah – kawah seperti pada Mimas, tetapi menunjukan proses pembentukan permukaan yang berbeda dengan yang terjadi pada Mimas . Enceladus memilikikegiatan tektonik dan proses pelepasan air dan es dari dalam. Ada yang berspekulasi proses ini berasal dari pemanasan akibat gaya pasang surut yang ditimbulkan Dione

Seperti pada Mimas nama Enceladus juga diambil dari nama salah seorang Titan. Berbagai formasi yang terdapat di Enceladus in diambil dari kisah seribu satu malam. Enceladus mengorbit Saturnus pada jarak 238.000 km dari pusat planet, dan 180.000 km dari puncak – puncak awannya, diantara orbit Mimas dan Tethyis. Satelit ini memerlukan waktu 32,9 jam untuk satu kali rotasi. Seperti pada satelit saturnus lainnya, Enceladus memiliki rotasi yang sinkron dengan revolusinya, danselalu menghadapkan satu muka kepada planet induknya.

Pada bulan agustus 1981, Voyager 2 mengamati permukaan Enceladus secara detail. Ditemukan lima jenis bentuk permukaan, yaitu daerah berkawah, daerah mulus, daerah muda, jalur – jalur yang berbatasan dengan daerah mulus, dan rekahan – rekahan. Berdasar sedikitnya kawah didaerah mulus, disimpulkan bahwa umur daerah ini kurang dari beberapa ratus tahun. Diduga proses vulkanisme air mempengaruhi proses pembaruan daerah mulus. Enceladus terkait dengan cincin E, dan tampaknya menjadi sumber partikel – partikel melalui letusan yang mirip dengan proses pancaran geyser yang berlangsung dibumi.

THETYS

Tethys berdiameter 2 kali diameter Enceladus (1.050 km). dari pengamatan pada permukaannya, terdapat kegiatan – kegiatan yang mirip dengan di Enceladus meskipun tidak terlalu aktif. Yang paling menonjol dari pada Tethys adalah kawah Odysseus yang berdiameter 400km.selain itu terdapat ngarai raksasa yang melingkar sejauh ¾  keliling Tethys yang dinamai Itacha Chasma. Ngarai ini memiliki panjang lebih dari 100 km dan dalamnya lebih dari 4 km, ngarai ini mungkin terbentuk akibat proses deformasi kerak Tethys saat Odyssseus terbentuk akibat jatuhnya meteor.

DIONE

Dione berukuran kira – kira sama dengan Thetys, dan cukup mampat. Satelit dengan rapat massa 1, 43 gr/cm³ kerapatannya hanya dungguli oleh Titan. Rapat massa yang besar ini menyiratkan adanya materi batuan yang banyak disamping es. Dione yang dtemukan oleh Cassini pada tahun 1684, banyak didominasi kawah yang diameternya bisa mencapai 200 km.

RHEA

Rhea berukuran cukup besar, diameternya 3.060 km dan hanya dikalahkan oleh Titan. Rhea penuh dengan kawah – kawah seperti juga satelit lain.

TITAN

Satelit yang berdiameter 5.120 km ini merupakan satelit terbesar di Saturnus, besarnya ditata surya hanya dikalahkan oleh Ganymede. Satelit ini memiliki rapat massa 1,9 gr/cm³. didalamnya terdapat komposisi yang sama.

Tampaknya, Titan mengalami diferensiasi dan menjadi berlapis – lapis. Bagian intinya memiliki diameter 3.440 km diselubungi lapisan – lapisan kristal es. Mungkin bagian dalamnya masih panas dan diantara kerak es dan inti batuan terdapat lapisan cair yang terdiri dari air dan amonia.

Titan merupakan satu – satunya satelit saturnus yang memiliki atmosfer. Awan coklat kekuningan yang menyelubungi Titan cukup tebal sehingga permukaannya tidak bisa diamati. Diperkirakan atmosfer Titan lebih tebal dari atmosfer bumi. Menurut Gerard P. kuiper, seorang astronom Belanda, jika dibumi tekanan 1 atmosfer pada suhu 0®C ditimbulkan oleh kolom udara setingggi 8 km, naka di Titan kolom ini hanya setinggi 200 meter saja. Atmosfer Titan ini ditemukan oleh Jose Comas Sola, seorang astronom Catalonia, pada tahun 1908. Kemudian pada tahun 1944 dengan menggunakan spektroskopi infra merah, Kuiper menemukan adanya metana diangkasa Titan.

Dari spektroskopi infra merah didapat bahwa atmosfer Titan mengandung molekul – molekul lain, seperti etena, CH₃D (dengan satu atom H diganti deuterium, salah satu isotop hidrogen), dan asetilena (C₂H₂). Setelah penerbagan voyager, didaat molekl – molekul lain, yaitu N₂ (yang merupakan komponen terbanyak dan diamati dalam daereah ultra violet), H₂ , HCN , C₃H₈ , C₃H₄ , HC₃N , C₂N₂ , DAN CO₂.

Para ahli berpendapat bahwa atmosfer Titan mirip dengan atmosfer bumi purba. Jika ada air dipermukaan Titan, radiasi ultraviolet dari matahari bisa melepaskan atom – atom. Atom – atom ini bisa bereaksi dengan metana untuk menghasilkan karbondioksida dan air, dan bereaksi dengan nitrogen untuk menghasilkan nitrat dan nitrit. Jika ini terjadi atmosfer Titan akan didominasi oleh air dan karbondioksida. Jika demikian, di Titan akan muncul senyawa – senyawa organik yang bisa mendukung adanya kehidupan. Tetapi kenyataannya tidak suhu di Titan sangat dingin yaitu – 183®C sehingga air yang ada dipermukaan Titan akan membeku. Akibatnya proses pelepasan oksigen akibat radiasi ultraviolet dari matahari tidak akan terjadi. Apabila Titan terletak lebih dekat dengan matahari katakanlah pada jarak Mars, panas matahari akan menguapkan air sehinggga oksigen akan banyak terdapat diatmosfer Titan. Oksigen ini bisa bereaksi dengan metana dan senyawa – senyawa lain membentuk karbondioksida. Dengan berjalannya waktu, matahari akan berevolusi dan ukurannya membesar sehingga panas matahari bisa menjangkau tempat yang lebih jauh dari yang sekarang. Hal ini bisa menghangatkan Titan dan air yang ada dipermukaannya akan mencair sehingga kemungkinan terjadi proses fotodisosiasi oksigen oleh sinar UV matahari. Kemudian oksigen ini bisa bereaksi dengan metana membentuk air dan karbondioksida. Yang artinya semakin besar kemungkinan terbentuknya molekul – molekul pendukung kehidupan seperti di Bumi.

Permukaan Titan memiliki temperatur – 179 ®C. Pada temperatur ini es tidak mengalami sublimisasi sehingga atmosfer Titan tidak meiliki uap air. Atmosfer dipenuhi senyawa – senyawa metana, etana, dan senyawa organik lainnya. Hal ini mengakibatkan warna jingga pada atmosfer Titan. Temuan wahana Huygens menunjukan bahwa secara berkala turun hujan metana dan senyawa organik lainnya kepermukaan Titan. Tampaknya metana ini berasal dari proses vulkanisme dipermukaaan Titan yang melemparkan metana ke Atmosfernya. Akan tetapi, ketika pada oktober 2004, Cassini melintas dekat Titan. Wahana ini mengamati adanya awan terang yang terdapat didekat kutub selatan Titan ternyata ini bukan metana. Ini membingungkan para peneliti, dan sampai sekarang masih berupaya untuk memecahkannya.

Permukaan Titan relatif mulus, variasi ketinggian yang ada tidak melebihi 50 m meskipun yang disurvey baru bagian kutub utaranya saja. Permukaan Titan dipenuhi oleh daerah – daerah yang gelap dan terang, salah satu yang paling menonjo adalah daerah seukuran Australia yang kemudian dinamai Xanadu. Tampaknya ini merupakan dataran tinggi . selain itu juga tampak pola – pola yang membentuk garis lurus, dan diduga ini merupakan gejala tektonik yang terjadi di Titan.

Awalnya Titan memiliki semacam lautan pada permukaannya, tetap ketika wahana Huygens yang dibawa Cassini melakukan pendaratan pada tanggal 14 januari 2005 disimpulkan bahwa Titan adalah bulan yang kering.

Apabila kita naik wahana Huygens dan ikut mendarat dipermukaan Titan, kita akan melihat bahwa langit berwarna jingga dan  matahari akan bersinar sangat lemah karena berjarak sangat jauh. Cahaya matahari menembus atmosfer Titan yang sangat tebal. Disana pakaian yang sangat canggih yang pernah dibuat manusia harus dkenakan untuk menahan tekanan atmosfer yang sangat kuat dan suhu yang sangat dingin. Akan tetapi segala upaya yang dilakukan ini terbayar tuntas setelah melihat pemandangan yang spektakuler yang ada di Titan. Pemandangan yang dimaksud disini adalah adanya danau – danau etana dan metana dipermukaan Titan.

Karena atmosfer dan permukaan Titan sangat dingin, metana dan etana yang ada dipermukaan Titan berada dalam bentuk cair.danau – danau ini ada yang hanya berlebar beberapa kilometer saja tapi ada juga yang panjangnya hampir mencapai 100 km. Selain itu, setelah melakukan penelitian terhadap permukaan Titan tempat pendaratan Huygens, didapat tempat itu penuh dengan debu, kerikil dan bahan yang mirip tanah liat. Kerikil tersebut ( yang ternyata adalah es ) tampak berbentuk bulat dan ini menjadi bukti bahwa Titan pernah mengalami masa yang penuh dengan bahan cair. Ada yang memberikan hipotesis bahwa air yang ada di Titan itu bukan berasal dari aliran za cair seperti yang ada di Mars, tetapi berasl dari proses kriovulkanisme, yaitu vulkanirme yang memancarkan bahan – bahan beku yang datan dari dalam Titan itu sendiri. Permukaan Titan ini juga sedikit sekali memiliki kawah yang mengiformasikan bahwa Titan ini memiliki permukaan yang masih muda. Sampai sekarang ini, hanya ditemui tiga kawah di Titan. Yang pertama adalah sebuah kawah yang berdiameter 440 km dan diberi nama Mnarva, kemudian kawah berdiameter 80 km dan diberi nama Sinlap, kemudian kawah berdiameter 30 km yang kemudian diberi nama Ksa.

Pengamatan radar pada permukaan Titan oleh Cassini menunjukan bahwa Titan dipenuhi dengan daerah – daerah yang mirip dengan bukit – bukit pasir seperti gurun yang ada di bumi. Bukit pasir ini dibentuk oleh angin karena adanya gaya pasang surut oleh Saturnus pada atmosfer Titan. Gaya pasang surut ini 400 kali lebih kuat dari pada gaya pasang surut bulan terhadap bumi.  Adanya pasir di Titan mungkindisebabkan oleh terjadinya hujan metana yang kemudian mengerosi es ketika terjadi semacam banjir bandang, tetapi bisa juga terjadi akibat bekuan akibat proses reaksi kimia yang berlangsung diatmosfer Titan. Masih banyak pertanyaan tentang Titan yang belum terjawab. Komposisi atmosfer Titan secara tepat masih belum jelas. Selain itu, yang masih jadi bahan pertanyaan adalah dari sekian banyak satellit yang ada mengapa hanya Titan yang memiliki atmosfer dengan kandungan bahan – bahan organik yang cukup banyak ?

HYPERION

Bentuk satelit in berbeda dengan satelit yang lain. Hyperion tidak bulat, yaitu berbentuk tidak beraturan. Ukurannya  350 x 235 x 200 km. kawah – kawah juga banyak menghiasi permukaannya. Bentuknya yang tidak beraturan mungkin muncul akibat tumbukan meteor yang telah menghancurkan sebagianya.

LAPETUS

Diameternya hampir sama dengan diameter Rhea, tetapi rapat masanya jauh lebih kecil, yaitu 1,1 gr/cm³. ini menyiratkan bahwa adanya sedikit batuan pada Lapetus, tetapi ada banyak es pada satelit ini.

Selain kawah – kawah seperti yang terdapat pada satelit lain, Lapetus juga memiliki materi –materi gelap yang terdapat pada kawah tersebut. Materi gelap ini bisa sehitam aspal, dan diperkirakan sebagai bahan karbon yang keluar dari Laputus akibat kegiatan tektonik.

Bentuk Lapetus agak aneh, tidak bulat atau lonjong, tetapi ada bagian pipih seperti dipukul godam raksasa. Selain itu, Lapetus terbagi menjadi dua bagian yang sangat berbeda albedonya. Yang satu memiliki albedo 0, 03 – 0,05 dengan warna coklat kemerahan dan diberi nama Cassini Regio, sedangkan bagian lainnya memiliki albedo 0,05 – 0,06 (hampir seterang Eropa) dan diberi nama Ronceveaux Terra. Keanehan lain pada Lapetus adalah pada orbitnya. Walaupun bulan ini adalah satelit saturnus ketiga terbesar, jarak orbitnya jauh lebih besar dibandingkan dengan orbit Titan. Selain itu, kemiringannya juga cukup besar sehingga cincin Saturnus akan kelihatan dari permukaannya.

PHOEBE

Phoebe berukuran sekitar 220 km dan terletak 13 juta km dari saturnus. Satelit ini merupakan satelit yang sampai sekarang diketahui letaknya paling jauh dari saturnus. Phoebe memiliki orbit yang sangat aneh (orbit retrograd) yang lain dari saelit Saturnus lainnya. Orbitnya yang aneh ini menyiratkan bahwa phoebe adalah benda langit ( planet kesil atau inti komet) yang tertangkap medan gravitasi Saturnus dan menjadi satelitnya.

Voyager yang lewat didekat Saturnus tidak berhasil memperoleh gambar Phoebe dengan jelas selain menunjukan bentuknya yang tidak bulat. Voyager juga menunjukan kalau Phoebe adalah benda tergelap yang ada ditata surya kita. Selain itu analisis gambar – gambar yang dikirimkan Voyager menunjukan kalau Phoebe mirip dengan asteroid – asteroid yang ada diantara Mars dan Yupiter.

*diambil dari buku yang saya tak lupa judulnya

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:D [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 4 votes)
satelit saturnus, 10.0 out of 10 based on 2 ratings
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image