STRATIFIKASI SOSIAL

STRATIFIKASI SOSIAL

1.         STRATIFIKASI SOSIAL

a)        Pengertian Stratifikasi Sosial

Dalam ilmu sosiologi pelapisan social dalam masyarakat lebih dikenal dengan istilah stratifikasi sosial. Kata stratifikasi sosial berasal dari bahasa latin, yakni stratum yang berarti tingkatan dan socius yang berarti teman atau masyarakat. Secara harfiah stratifikasi berarti tingkatan yang ada dalam masyarakat. Berikut ini pendapat para ahli mengenai pengertian pelapisan sosial.

  • Pitirim A. Sorokin (1959), Bahwa social stratification is permanent characteristic of any organized social group, yang artinya stratifikasi sosial merupakan ciri yang tetap pada setiap kelompok sosial yang teratur. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa stratifikasi sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat.

  • Paul B. Horton dan Chester L. hunt, stratifikasi sosial berarti sistem perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyarakat.
  • Robert M.Z. Lawang, stratifikasi  sosial adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.

  • Bruce J. Cohen, stratifikasi sosial adalah sistem yang menempatkan seseorang sesuai dengan kualitas yang dimiliki dan menempatkan mereka pada kelas sosial yang sesuai.

  • Astried S. Susanto, stratifikasi sosial adalah hasil kebiasaan hubungan antar manusia secara teratur dan tersusun sehingga setiap orang, setiap saat mempunyai situasi yang menentukan hubungannya dengan orang secara vertikal maupun horizontal dalam masyarakat.

Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bawha sertifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang paling tinggi ke paling rendah.

Stratifikasi sosial (pelapisan sosial) sudah mulai dikenal sejak manusia menjalin kehidupan bersama. Terbentuknya pelapisan sosial merupakan hasil dari kebiasaan manusia berhubungan antara satu dengan yang lain secara teratur dan tersusun, baik secara perorangan maupun kelompok. Akan tetapi, apapun dan bagaimanapun wujudnya kehidupan bersama membutuhkan penataan atau organisasi. Dalam rangka penataan kehidupan inilah akhirnya terbetuk masih sedikit dan terbatas, sedangkan masyarakat modern memiliki pelapisan sosial yang kompleks dan tajam perbedaannya.

b.        Dasar Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial akan selalu ditemukan dalam masyarakat selama di dalam tersebut terdapat sesuai yang dihargai.

Seseorang yang banyak memiliki sesuatu yang dihargai akan dianggap sebagai orang yang menduduki pelapisan atas. Sebaliknya mereka yang hanya sedikit memiliki atau bahkan sama sekali tidak memiliki sesuatu yang dapat dihargai tersebut, mereka akan dianggap oleh masyarakat sebagai orang-orang yang menempati pelapisan bawah atau kedudukan rendah.

Adapun dasar atau ukuran yang bisa dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat ke dalam suatu pelapisan sosial adalah sebagai berikut.

v     Ukuran kekayaan, seseorang yang memiliki kekayaan peling banyak akan menempati pelapisan paling atas. Kekayaan tersebut misalnya dapat dilihat dari bentuk rumah, mobil pribadinya, cara berpakaian serta jenis bahan yang dipakai, dan kebiasaan atau cara berbelanja.

v     Ukuran kekuasaan, seseorang yang memiliki kekuasaan atau mempunyai wewenang terbesar akan menempati pelapisan yang tertinggi dalam pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan.

v     Ukuran kehormatan, orang yang dihormati dan disegani akan mendapatkan tempat pelapisan yang tinggi dan ini biasanya terdapat pada masyarakat yang masih tradisional. Misalnya, orang tua yang dianggap berjasa dalam masyarakat atau kelompoknya. Ukuran kehormatan biasanya lepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan.

v     Ukuran ilmu pengetahuan, digunakan sebagai salah satu faktor atau dasar pembentukan pelapisan sosial didalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

Keempat ukuran diatas bukanlah bersifat limitif, artinya ada ukuran lain yang dapat dipergunakan dalam kriteria penggolongan pelapisan sosial dalam masyarakat, namun ukuran di ataslah yang paling banyak digunakan sebagai dasar pembentuk pelapis sosial.

c.         Unsur-Unsur Stratifikasi Sosial

Berbicara mengenai stratifikasi sosial tidak akan lepas dari unsur-unsur yang terdapat didalamnya. Adapun unsur-unsur stratifikasi sosial adalah sebagai berikut.

1)                 Status atau Kedudukan

Paul B. Horton mendefinisikan status atau kedudukan sebagai suatu posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Umunya terdapat tiga macam cara memperoleh status/kedudukan dalam masyarakat, yaitu sebagai berikut.

a)     Ascribed status, merupakan kedudukan yang diperoleh sesorang melalui kelahiran. Misalnya, kedudukan anak bangsawan diperoleh karena ia dilahirkan dari orang tua yang yang berdarah bangsawan.

b)     Achieved status, merupakan status atau kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja. Misalnya, setiap orang bisa menjadi dokter, asal dia memenuhi persyaratan untuk menjadi dokter.

c)      Assigned status, merupakan status atau kedudukan yang diberikan. Misalnya, gelar kehormatan yang diberikan kepada seseorang karena dianggap berjasa.

2)                 Peranan

Dalam setiap peranan akan terdapat suatu perangkat peran (role set) yang menunjukkan bahwa dalam suatu status tidak hanya mempunyai satu peran tunggal, tetapi hanya sejumlah peran yang saling berhubungan. Misalnya, seorang anak juga seorang mahasiswa dan dia seorang teman, seorang seorang ketua MAPA, dan masih banyak perangkat peran lainnya yang ia sandang.

Selai terdapat perangkat peran terdapat pula perilaku peran, yaitu perilaku yang sesungguhnya dari orang yang melalukan suatu peranan. Perilaku peran terkadang berbeda dari perilaku yang diharapka. Misalnya, masyarakat mengarapkan seorang dokter bersikap baik dan ramah saat memeriksa pasien, namun adapula dokter bersikap tidak demikian. Menurut Soerjono Soekanto dalam peranan setidaknya mencakup tiga hal, yaitu sebagai berikut.

a)           Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.

b)           Peran sebagai konsep mengenai apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.

c)            Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.

d) Sifat Stratifikasi Sosial

Dilihat dari sifatnya, stratifikasi sosial dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu bersifat tertutup dan bersifat terbuka.

v                 Stratifikasi Sosial Tertutup

Stratifikasi sosial tertutup (closed social stratification), membatasi kemungkinan seseorang untuk pindah dari satu lapisanyang lain, baik lapisan atas maupun lapisan bawah. Dalam sistem pelapisan yang demikian satu-satunya jalan untuk masuk menjadi anggota atau warga suatu pelapisan tertentu hanyalah melalui kelahiran. Sebagai contoh pelapisan masyarakat berkasta, pada masyarakat dengan sistem feodal atau pada masyarakat yang masih menggunakan kriteria ras (penggolongan manusia atas dasar ciri-ciri tubuh yang yang nampak dari luar) sebagai dasar pelapis sosialnya.

Agar memperoleh pengertian yang jelas mengenai sistem stratifikasi sosial yang bersifat tertutup, berikut ini dikemukakan ciri-ciri masyarakat India.

  • Keanggotaannya diperoleh melalui warisan dan kelahiran sehingga seseorang secara otomatis dan dengan sendirinya memiliki kedudukan seperti yang dimiliki oleh orang tuanya.
  • Keanggotaannya berlaku seumur hidup. Oleh karena itu, seseorang tidak mungkin mengubah kedudukannya, kecuali apabila ia dikeluarkan atau dikucilkan dari kastanya.
  • Perkawinannya bersifat endogami, artinya seseorang hanya hanya dapat mengambil suami atau istri dari orang sekasta.
  • Hubungan dengan kelompok-kelompok sosial (kasta) lain sangat terbatas.
  • Kesadaran dan kesatuan suatu kasta, indetifikasi anggota kepada kastanya, penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kasta, dan sebagainya.
  • Kasta terikat oleh kedudukan yang secara tradisional telah ditentukan.
  • Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan.

Agar lebih jelas perhatikan bagan di bawah ini.

Stratifikasi Sosial Tertutup

Pada pelapisan sosial tertutup tampak jelas mobilitas social sangat terbatas atau bahkan tidak ada.

v                 Stratifikasi Sosial Terbuka

Pada sistem stratifikasi sosial terbuka (open social stratification), setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk naik ke pelapisan yang lebih tinggi kerena kemampuan dan kecakapannya sendiri atau turun ke pelapisan yang lebih rendah bagi mereka yang tidak cakap dan tidak beruntung. Pada umumnya jenis pelapisan sosial yang terbuka lebih banyak memberikan rangsangan untuk maju dan berkembang kepada setiap anggota masyarakat. Contoh pelapisan yang telah mengalami gelombang modernisasi.

Berikut ini bagan yang dapat menggambarkan sifat stratifikasi sosial terbuka.

Stratifikasi Sosial Terbuka

Pada stratifikasi sosial terbuka terdapat kemungkinan yang lebih besar untuk mengadakan mobilitas (vertical dan horizontal).

v                 Stratifikasi Sosial Campuran

Dalam kenyataan sehari-hari pelapis sosial dalam masyarakat tidak selalu bersifat tertutup dan terbuka. Melainkan juga bersifat campuran antara keduanya, artinya ada kemungkinan di dalam suatu masyarakat terdapat unsur-unsur dari gabungan kedua sifat pelapis sosial. Misalnya, dalam bidang ekonomi menggunakan pelapis sosial yang bersifat terbuka, sedangkan pada bidang lain seperti penggunaan kasta bersifat tertutup. Sebagai contoh pada sistem kehidupan masyarakat Bali, walaupun secara budaya masyarakatnya terbagi dalam empat kasta yakni Brahmana, Satria, Waisya dan Sudra (Koentjaraningrat 1992 : 1996), tetapi secara ekonomi sistem pelapisan sosial lebih bersifat terbuka karena setiap orang tanpa memandang kelas atau kastanya dapat mencapai kedudukan yang lebih tinggi berdasarkan kemampuan dan kecakapannya masing-masing. Pengusaha sukses dan terpandang dalam masyarakat bila ia memiliki kemampuan berdagang yang baik.

Pelapisan Sosial Campuran

(sumber gambar : Soejono, Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Baru Ketiga, Rajawali Pers, Jakarta, 1990 hlm. 259)

Pada pelapisan campuran terlihat bahwa mobilitas vertikal hanya terjadi pada golongan yang sama.

e.         Kelas dan Golongan dalam Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial erat kaitannya dengan pembagian kelas dan golongan. Paul B. Horton dan Chaster L. Hunt mendefinisikan kelas sosial sebagai suatu lapisan orang-orang yang berkedudukan sama dalam suatu status sosial.

Pembagian kelas dan golongan umumnya berdasarkan kriteria ekonomi, sosial ataupun politik.

  1. 1. Kriteria Ekonomi

Stratifikasi ekonomi akan membedakan warga masyarakat menurut penguasaan dan pemilikan materi. Kriteria ekonomi selalu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan, kepemilikan atau kedua-duanya. Dengan kata lain, pendapatan, kekayaan, dan pekerjaan akan membagi anggota masyarakat ke dalam beberapa stratifikasi sosial atau kelas ekonomi.

Setiap stratifikasi dalam stratifikasi ekonomi disebut kelas ekonomi atau sering disebut kelas saja, sehingga para warga masyarakat atau penduduk dapat digolongkan ke dalam beberapa kelas ekonomi. Istilah kelas ekonomi mempunyai arti relatif sama dengan istilah kelas sosial, hanya saja istilah kelas sosial lebih banyak dipakai untuk menujuk stratifikasi sosial yang didasarkan atas kriteria sosial, seperti pendidikan atau pekerjaan. Tetapi kadang-kadang kelas sosial diartikan sebagai semua orang yang sadar akan kedudukannya di dalam suatu pelapisan tanpa membedakan apakah dasar pelapisan itu uang, kepemilikan, pekerjaan, kekuasaan atau yang lain.

Dilihat dari kriteria ekonomi secara garis besar terdapat tiga kelas sosial, yaitu :

a) Kelas atas (upper class)

b) Kelas menengah (middle class)

c) Kelas bawah (lower class)

Adanya kelas atas, menengah, dan bawah itu dikarenakan dalam masyarakat terdapat ketidakseimbangan atau ketimpangan (inequality) dalam pembagian sesuatu yang dihargai yang kemudian menjadi hak dan kewajiban yang dipikul oleh warga masyarakat. Golongan yang mendapatkan pembagian lebih besar kemudian akan mendapatkan kedudukan pada pelapisan yang lebih tinggi dan golongan yang mendapatkan pembagian kecil kan mendapatkan kedudukan yang lebih rendah.

Tiga kelas sosial masing-masing masih dapat dibagi menjadi subkelas sehingga kalau digambarkan akan menjadi sebagai berikut :

Keterangan:

a) Kelas atas (upper class)

1)     Kelas atas atas (Aa)

2)     Kelas atas menengah (Am)

3)     Kelas atas bawah (Ab)

b) Kelas menengah (middle class)

1)     Kelas menengah atas (Ma)

2)     Kelas menengah (Mn)

3)     Kelas menengah bawah (Mb)

C) Kelas bawah (lower class)

1)     Kelas bawah atas (Ba)

2)     Kelas bawah menengah (Bm)

3)     Kelas bawah bawah (Bb)

Stratifikasi diatas digambarkan berbentuk kerucut, hal ini berkaitan dengan jumlah warga masyarakat yang dapat digolongkan ke dalam kelas tersebut. Semakin tinggi kelas, semakin sedikit warga masyarakat yang termasuk didalamnya. Sebaliknya, semakin rendah kelas semakin banyak warga masyarakat yang dapat digolongkan di dalamnya. Hal itu tidak hanya berlaku pada stratifikasi atas dasar kriteria ekonomi saja, melainkan juga pada bentuk-bentuk stratifikasi yang lain, seperti kriteria sosial dan politik.

2.        Kriteria Sosial

Dengan memahami stratifikasi masyarakat berdasarkan kriteria sosial, orang akan mudah memahami peristiwa atau gejala-gejala yang terjadi di dalam masyarakat seperti :

a)                 Mengapa dikalangan generasi muda terjadi banjir ke perguruan tinggi?

b)                 Mengapa pada umumnya orang akan lebih suka pekerjaan dengan tangan bersih atau menjadi pegawai pemerintah walaupun mempunyai kedudukan atau jabatan yang rendah dan gaji kecil?

c)                  Mengapa rumah yang dahulu cukup berdinding bilik atau papan lamabt laun mengalami perubahan kemudian mendapatkan dinding batu bata?

Ternyata semua itu berhubungan dengan apa yang disebut prestise atau gengsi. Suatu pekerjaan bagi seseorang tidak sekedar berhubungan dengan berapa jumlah uang yang diterimanya sebagai gaji.

Menurut pelapisan yang berdasarkan kriteria sosial, masyarakat akan terdiri atas beberapa pelapisan atau strata yang disebut dengan kelas sosial, kasta atau stand. Istilah kelas sosial antara lain digunakan oleh Max Weber, ia menggunakan istilah yang sama untuk pelapisan atas dasar kriteria ekonomi maupun sosial. Adapun istilah kasta dipakai untuk menyebut setiap pelapisan dalam masyarakat berkasta, misalnya pada pelapisan masyarakat Hindu Bali. Masyarakat Hindu Bali terbagi menjadi empat kasta yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Kasta Brahmana, Ksatria dan Waisya disebut triwangsa, sedangkan kasta Sudra disebut jaba. Seseorang termasuk dalam kasta yang mana biasanya dapat dilihat dari gelar yang digunakan di awal namanya, antara lain Ida Bagus dan Ida Ayu untuk gelar Brahmana : Cokorda, Anak Agung, Dewa, Ngakan, untuk gelar Ksatria : bagus, I Gusti, dan Gusti untuk Waisya : Pande, Kbon, Pasek untuk kasta Sudra. Gelar-gelar  tersebut diwariskan secara patrilinial (menurut garis keturunan ayah).

3.        Kriteria Politik

Pelapisan dalam masyarakat berdasarkan kriteria politik berarti pembedaan penduduk atau warga masyarakat menurut pembagian kekuasaan. Sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial, kekuasaan berbeda dari kriteria lain, yaitu ekonomi dan kedudukan sosial.

Apa yang dimaksud dengan kekuasaan? Kekuasaan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak atau kemauan pemegang kekuasaa. Apa perbedaan antara kekuasaan dan wewenang? Setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain dinamakan kekuasaan (power), sedangkan wewenang adalah kekuasaan yang ada pada diri seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai dukungan atau mendapatkan pengakuan dari masyarakat sehingga wewenang merupakan otoritas atau legalized power. Dengan kata lain, wewenang atau otoritas adalah hak untuk memengaruhi karena didukung oleh adanya norma atau peraturan yang menentukan keteraturan dalam masyarakat. Berdasarkan pengertian tersebut, wewenang harus didukung oleh kekuasaan, sebab jika tidak wewenang tidak dapat berjalan.

Menurut Mac Iver, ada tiga pola umum sistem stratifikasi kekuasaan atau piramida kekuasaan, yaitu tipe kasta, olegarkhi, dan demokratis.

a)                 Tipe Kasta

Tipe kasta memiliki system stratifikasi kekuasaan dengan garis pemisahan yang tegas dan kekku. Tipe semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat berkasta yang hampir tidak dijumpai dalam garis vertikal. Garis pemisah antara masing-masing pelapisan hampir tidak mungkin ditembus. Pada puncak piramida kakuasaan duduk penguasa tertinggi, misalnya raja atau maharaja, dengan lingkungannya yang didukung oleh kaum bangsawan, tentara, dan para pendeta. Pelapisan kedua huni oleh para petani dan buruh tani, dan pelapisan terendah terdiri atas para budak.

b)                 Tipe Oligarkhi

Tipe oligarkhi memiliki tipe stratifikasi kekuasaan yang menggambarkan garis pemisah yang sangat tegas diantara strata. Akan tetapt, perbedaan antara strata satu dengan strata lain tidak begitu mencolok. Walaupun kedudukan para warga masyarakat masih banyak didasarkan kepada aspek kelahiran (ascribed starus), akan tetapi individu masih diberikan kesempatan untuk naik ke strata yang lebih atas. Gambaran tipe tersebut adalah sebagai berikut, Kelas menengah mempunyai warga paling banyak , seperti industri, perdagangan dan keuangan yang memegang peranan lebih penting. Ada bermacam-macam cara warga dari strata bawah naik ke strata yang lebih atas dan juga ada kesempatan bagi warga kelas menengah  untuk menjadi penguasa. Tipe piramida ini dijumpai pada masyarakat feudal yang telah berkembang. Suatu variasi dari tipe in adalah stratifikasi yang terdapat pada negara yang berdasarkan pada fasisme atau juga totaliter. Hanya bedanya untuk yang disebut terakhir, kekuasaan berada ditangan partai politik.

c)                  Tipe Demokratis

Tipe demokratis adalah tipe ketiga yang tampak adanya garis pemisah antarlapisan yang sifatnya mobil (bergerak). Faktor kelahiran tidak menentukan kedudukan seseorang, yang terpenting adalah kemampuannya dan kadang-kadang faktor keberuntungan. Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria kekuasaan sebenarnya tidak selalu digambarkan dengan hierarki atas-bawah, tetapi dapat pula digambarkan sebagai gejala melingkar menyerupai lingkaran kambium yang terdiri atas lingkaran dalam, lingkaran tengah dan lingkaran luar.

Lingkaran dalam ditempati oleh mereka yang mempunyai kekuasaan yang lebih besar daripada mereka yang menempati lingkaran tengah atau lingkaran luar. Perbedaan lingkaran dalam dan lingkaran di luarnya bukan berarti saling terpisah satu sama lainnya, tetapi terdapat saling hubungan yang dinyatakan dengan adanya garis yang tidak terputuskan.

Stratifikasi kekuasaan di lingkungan keraton semua tata nilai yang berlaku didalamnya dapat digambarkan dengan lingkaran kambium ini. Raja merupakan tokoh sentral yang penuh dengan kekuasaan dan privilese (hak-hak istimewa). Kekuasaan dan privilese yang lebih rendah dari yang ada pada raja adalah yang dimiliki oleh para anggota keluarga raja. Semakin jauh dari lingkaran keluarga raja, maka semakin berkurang kekuasaan, privilese, maupun prestise (kehormatan) yang dimiliki oleh seseorang.

Daftar Pustaka

Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L. 1999. Sosiologi Jilid I. edisi keenam. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L. 1999. Sosiologi Jilid II. edisi keenam. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Keesing, Roger M. 1999. Antropologi Budaya – Suatu Perspektif Kontemporer, Edisi kedua. Jakarta : Penerbit Erlangga.

BY : MERLI ASTARINA

22209082

1EB01

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +3 (from 3 votes)
STRATIFIKASI SOSIAL, 8.0 out of 10 based on 1 rating
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image