Tugas Ergonomi periode kedua (Satrio W.,3 PA 04)

Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, Ergon yang berarti kerja dan Nomos yang berarti aturan/hukum. Jadi ergonomi secara singkat juga dapat diartikan aturan/hukum dalam bekerja. Ergonomi dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya mengarah kepada tujuan yang sama yakni peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life). Aspek kualitas kehidupan kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi rasa kepercayaan dan rasa kepemilikan pekerja kepada perusahaan, yang berujung kepada produktivitas dan kualitas kerja. Pencapaian kinerja manajemen K3 sangat tergantung kepada sejauh mana faktor ergonomi telah diperhatikan di perusahaan tersebut.

Tanda-tanda suatu sistem kerja yang tidak ergonomik adalah munculnya masalah-masalah  ergonomi. Berbicara masalah ergonomi sangat erat kaitannya dengan alat, aktivitas, serta produk-produk yang dihasilkan oleh manusia. Karena disini ergonomi merupakan suatu keilmuan yang multidisiplin, mempelajari pengetahuan-pengetahuan dari ilmu kedokteran, biologi, ilmu psikologi dan sosiolog. Secara umum, permasalahan ergonomi adalah sebagai berikut :

  1. Hasil kerja (kualitas dan kuantitas) pekerja yang tidak memuaskan
  2. Sering terjadi kecelakaan kerja atau kejadian yang hampir berupa kecelakaan
  3. Pekerja sering melakukan kesalahan (human error)
  4. Pekerja mengeluhkan adanya nyeri atau sakit pada leher, bahu, punggung, atau pinggang
  5. Alat kerja atau mesin yang tidak sesuai dengan karakteristik fisik pekerja
  6. Pekerja terlalu cepat lelah dan butuh istirahat yang panjang
  7. Postur kerja yang buruk, misalnya sering membungkuk, menjangkau, atau jongkok
  8. Lingkungan kerja yang tidak teratur, bising, pengap, atau redup
  9. Pekerja mengeluhkan beban kerja (fisik dan mental) yang berlebihan
  10. Komitmen kerja yang rendah
  11. Rendahnya partisipasi pekerja dalam sistem sumbang saran atau hilangnya sikap kepedulian terhadap pekerjaan bahkan keapatisan

Berbagai permasalahan ergonomi di atas, pada umumnya disebabkan oleh adanya ketidak sesuaian antara pekerja dan lingkungan kerja secara menyeluruh termasuk peralatan kerja. Penerapan ergonomi dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu :

1. Pendekatan kuratif

Pendekatan ini dilakukan pada suatu proses yang sudah atau sedang berlangsung. Kegiatannya berupa intervensi/perbaikan/modifikasi dari proses yang sedang/sudah berjalan. Sasaran kegiatan ini adalah kondisi kerja dan lingkungan kerja dan dalam pelaksanaannya harus melibatkan pekerja yang terkait dengan proses kerja yang sedang berlangsung.

2. Pendekatan konseptual

Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan sistem dan hal ini akan sangat efektif dan efisien bila dilakukan pada saat perencanaan. Bila berkaitan dengan teknologi, maka sejak proses pemilihan dan alih teknologi, prinsip-prinsip ergonomi sudah seyogyanya dimanfaatkan bersama-sama dengan kajian lain yang juga diperlukan, seperti kajian teknis, ekonomi, sosial budaya, hemat akan energi dan melestarikan lingkungan. Pen-dekatan holistik ini dikenal dengan pendekatan Teknologi Tepat Guna (Manuaba, 1997). Jika dikaitkan dengan penyediaan lapangan kerja, pendekatan ergonomi secara konseptual dilakukan sejak awal perencanaan dengan mengetahui kemampuan adaptasi pekerja sehingga dalam proses kerja selanjutnya, pekerja berada dalam batas kemampuan yang dimiliki.

Adanya berbagai permasalahan ergonomi tersebut menimbulkan upaya penanggulangan terhadap permasalahan ergonomi. Hal ini dapat dilaksanakan dengan prinsip pemecahan masalah, dimana tahap awal adalah identifikasi masalah yang sedang dihadapi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas masalah; masalah yang paling mencolok yang harus ditangani lebih dahulu. Setelah analisis dikerjakan, maka satu atau dua alternatif intervensi harus diusulkan. Pada pengenalan/rekognisi telah dinyatakan adanya 3 hal yang harus diperhatikan, ketiganya berinteraksi dalam penerapan ergonomi dan fokus utama adalah pada sumber daya manusia (human centered design) :

1.  Kesehatan mental dan fisik harus diperhatikan untuk diperbaiki  sehinggga didapatkan tenaga kerja yang sehat fisik, rohani dan sosial yang memungkinkan mereka hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomi.

2.  Kemampuan jasmani dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan antropometri, lingkup gerak sendi dan kekuatan otot.

3.  Lingkungan tempat kerja

-    Harus memberikan ruang gerak secukupnya bagi tubuh dan anggota    badan sehingga dapat bergerak secara leluasa dan efisien.

-    Dapat menimbulkan rasa aman dan tidak menimbulkan stres lingkungan.

4.  Pembebanan kerja fisik

Selama bekerja, kebutuhan akan peredaran darah dapat meningkat sepuluh sampai dua puluh kali. Meningkatnya peredaran darah pada otot-otot yang bekerja, memaksa jantung untuk memompa darah lebih banyak. Kerja otot dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu kerja otot dinamik (ritmik) dan kerja otot statik (sikap). Kedua bentuk kerja otot tersebut dapat diuraikan sebagai berkut:

-    Kerja otot dinamik, ditandai dengan kontraksi bergantian yang berirama dan ekstensi, ketegangan dan istirahat.

-    Kerja otot statik, ditandai oleh kontraksi otot yang lama yang biasanya sesuai dengan sikap tubuh. Tidak dianjurkan untuk meneruskan kerja otot statik dalam jangka lama karena akan timbul rasa nyeri dan memaksa tenaga kerja untuk berhenti.

5.  Sikap tubuh dalam bekerja

Sikap tubuh dalam bekerja berhubungan dengan tempat duduk, meja kerja dan luas pandangan. Untuk merencanakan tempat kerja dan perlengkapannya diperlukan ukuran-ukuran tubuh yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan memungkinkan dilakukannya gerakan-gerakan yang dibutuhkan. Pada posisi berdiri dengan pekerjaan ringan, tinggi optimum area kerja adalah 5-10 cm dibawah siku. Agar tinggi optimum ini dapat diterapkan, maka perlu diukur tinggi siku yaitu jarak vertikal dari lantai ke siku dengan keadaan lengan bawah mendatar dan lengan atas vertikal. Tinggi siku pada laki-laki misalnya 100 cm dan pada wanita misalnya 95 cm, maka tinggi meja kerja bagi laki-laki adalah antara 90-95 cm dan bagi wanita adalah antara 85-90 cm.

Dari berbagai masalah ergonomi di atas, menimbulkan efek psikologis tersendiri sesuai dengan kondisi yang dialami oleh tiap-tiap pekerja tersebut. Pada umumnya, Efek psikologis negatif yang dirasakan manusia apabila pekerjaan yang dilaksanakan, tidak sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya akan menimbulkan stres psikologis dan problema kesehatan. Masalah tersebut akan mengganggu kesejahteraan secara emosional pekerja tersebut. Mereka yang bekerja dalam lingkungan yang tidak ergonomis dapat menjadi lebih stress yang berhubungan dengan cedera dan penyakit (musculoskeletal), lebih agresif, lebih mudah marah, gelisah, penuh curiga, cepat jengkel atau mungkin sampai tidak bisa tidur. Hal ini disebabkan karena pekerja tersebut tidak merasa nyaman dengan pekerjaannya, apalagi ia dapat pula mengalami sakit yang serius jika kondisi dalam bekerja tidak baik. Pada akhirnya, akan terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan seseorang dalam memberi asupan yang baik untuk emosinya dan untuk pekerjaanya. Efek psikologis negatif yang ditimbulkan oleh kondisi kerja yang tidak ergonomis  memang tidak dapat dielakkan. Tetapi, dengan adanya upaya pencegahan, penanggulangan serta pelayanan kesehatan kerja yang diberikan melalui penerapan ergonomi, diharapkan dapat meminimalisir atau menurunkan angka sakit akibat kerja, menurunnya kecelakaan kerja, biaya pengobatan dan kompensasi berkurang, stress akibat kerja berkurang, produktivitas membaik, alur kerja bertambah baik, rasa aman karena bebas dari gangguan cedera dan kepuasan kerjapun meningkat.

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image