ANALISIS PENILAIAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG DAN Rata PenuhPENGARUHNYA TERHADAP LABA KOTOR

Persediaan barang dagang adalah barang yang siap untuk dijual atau dipasarkan untuk kemudian di konsumsi oleh konsumen. Klasifikasi barang dagang berbeda antara perusahaan dagang dengan perusahaan manufaktur. Hal ini disebabkan karena perbedaan fungsi perusahaan dagang dengan perusahaan manufaktur. Barang dagang untuk perusahaan dagang adalah membeli barang dan memasarkanya ke konsumen tanpa ada perlakuan lagi kepada barang dagang. Perusahaan dagang hanya mempunyai satu jenis persediaan barang, yaitu persediaan barang dagang. Sedangkan, barang dagang untuk perusahaan manufaktur diperoleh dengan mengolah bahan baku (bahan mentah) menjadi barang dalam proses dan barang selesai produksi (barang jadi). Perusahaan manufaktur mempunyai tiga jenis persediaan, yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang dagang. Tetapi pada perlakuan barang dagang, prinsip dan konsep yang diterapkan umumnya hampir sama.

Pengertian menurut PSAK 14, persediaan adalah asset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, baik barang dagang dalam usaha dagang maupun barang jadi untuk manufaktur, barang dalam proses produksi (barang dalam proses manufaktur dan pekerjaan dalam proses untuk kontraktor) dan dalam bentuk bahan baku atau perlengkapan (bahan pembantu) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberiaan jasa.

Sifat barang yang diklasifikasikan sebagai persediaan sangat bervariasi menurut sifat aktivitas perusahaan dan dalam beberapa hal meliputi aktiva yang biasanya tidak dianggap sebagai persediaan. Sebagai contoh, tanah dan bangunan untuk dijual kembali oleh suatu perusahaan real estate, bangunan yang sedang dikerjakan untuk dijual dimasa mendatang oleh perusahaan kontruksi dan saham yang dibeli untuk dijual kembali oleh para pialang sebaiknya diklasifikasikan sebagai persediaan oleh perusahaan yang bersangkutan.
Ada dua sistem pengendaliaan persediaaan, yaitu sistem fisik ( sistem periodik ) dan sistem perpetual ( sistem permanen atau sistem buku ). Pada sistem fisik, harga pokok (kos) sediaan akhir dan harga pokok penjualan ( cost of god sold ) dihitung dan dicatat pada akhir periode akuntansi. Sedangkan pada sistem perpetual, harga pokok (kos) sediaan dan harga pokok penjualan dihitung setiap saat terjadi transaksi.

Pada sistem fisik pergerakan persediaan tidak selalu atau bahkan tidak pernah dicatat secara khusus, oleh untuk itu sistem ini cocok digunakan untuk perusahaan dengan mobilitas yang tinggi tetapi nilai jualnya masih rendah. Sedangkan pada sistem perpetual mengasumsikan bahwa setiap pergerakan persediaan barang dagang haruslah tercatat, sehingga membutuhkan kartu pencatatan persediaan sebagai buku besar pembantu. Sistem ini juga selalu mengasumsikan bahwa nilai jual persediaan selalu tinggi.

Aliran kos merupakan urut-urutan pembebanan kos pada persediaan dan penjualan. Masalah aliran kos disebabkan akibat perusahaan membeli barang dagang yang sama, dengan harga pembeliaan per unit yang berbeda-beda. Perbedaan metode aliran kos mengakibatkan perusahaan sulit dalam menentukan harga pokok penjualan dan harga pokok barang yang masih ada pada akhir periode.
Metode aliran kos dibedakan menjadi dua, yaitu : Metode aliran kos sesuai aliran fisik dan Metode aliran kos yang berdasarkan tanggapan. Metode aliran kos sesuai aliran fisik barang yang juga sering disebut metode identifikasi khusus karena mengidentisifikasi secara spesifik aliran barang yang keluar. Metode aliran kos berdasarkan anggapan, menurut beberapa akuntan metode ini lebih mudah diterapkan. Metode aliran kos berdasarkan tanggapan terdiri dari metode rerata(average), masuk pertama keluar pertama (FIFO), masuk pertama keluar terakhir (LIFO).

Karena begitu banyaknya alternatif yang dapat digunakan dalam sistem pengendaliaan persediaan dan metode aliran kos, membuat manajemen perusahaan harus teliti dalam memilih kebijakan perusahaan yang berkenaan dengan persediaan barang dagang. Karena penerapan kebijakan yang tepat terhadap pengendalian barang dagang dapat menciptakan profit yang besar dengan siklus persediaan barang yang stabil. Sebaliknya apabila pihak manajemen perusahaan salah dalam menerapkan kebijakan persediaan barang dagang dapat mengakibatkan kerugian dengan siklus persediaan yang tidak terkontrol. Persediaan barang dagang terlalu banyak dapat merugikan perusahaan karena membutuhkan biaya-biaya lebih untuk biaya seperti biaya penyimpanan. Begitu pula dengan penilaian persediaan barang dagang yang terlalu sedikit juga akan menyebabkan kerugian pada perusahaan. Untuk menanggulangi masalah kapasitas persediaan barang dagang, perusahaan dapat mengukurnya dengan mengkalkulasi jumlah stock aman (safety stock) ataupun pemesanan barang dagang kembali (reorder point).

Selain itu, seiring semakin berkembangnya teknologi informasi dan juga praktik bisnis-bisnis baru dan inovatif tidak bisa sepenuhnya mengandalkan metode dan sistem penilaian yang selama ini kita gunakan. Bandingkan saja antara toko berskala kecil yang biasanya dilakukan di rumah dengan toko berskala besar seperti super market atau departement store. Tentu kepentingan penggunaan penilaian persediaan barang dagangnya berbeda.
Kebutuhan akan barang dagang juga menjadi tolok ukur dalam penilaian persediaan barang dagang, contohnya saja kita akan membandingkan penilaian persediaan barang dagang untuk barang konsumsi atau kebutuhan primer dengan kebutuhan sekunder. Tentu perusahaan akan melakukan perhitungan khusus pada barang-barang yang bersifat likuid dalam gudang.

Didasari pembahasan yang telah penulis paparkan di atas, maka penulis ingin membahas lebih lanjut mengenai persediaan barang dagang. Sebab penulis ingin mempelajari lebih jauh dan berbagi ilmu kepada pembaca sekaligus menjadi salah satu alternatif bagi manajemen perusahaan. Maka dengan ini, penulis mengmbil judul penulisan ilmiah ini ‘ANALISIS PENILAIAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG PADA PT.XXX DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA KOTOR UNTUK PERIODE XXX’

Rumusan dan Batasan Masalah

Masalah dalam persediaan barang dagang yang akan dibahas pada penulisan ini ,

Bagaimana penilaian persediaan barang dagang Merk YYY yang dilakukan PT.XXX selama periode Tahun 20xx dengan menggunakan metode :

* rerata (average)-sistem fisik

* masuk pertama keluar pertama (FIFO)-sistem fisik

* masuk pertama keluar terakhir (LIFO)-sistem fisik

Dalam penulisan ini, penulis hanya ingin mengetahui persediaan akhir barang dagang Merk YYY dan pengaruhnya terhadap laba kotor perusahaan untuk periode 1 januari 2009 samapai 31 desember 2009.

Sasaran yang menjadi tujuan penulisan ilmiah ini adalah, Mengetahui dan Menganalisa apakah pengendaliaan persediaan barang dagang yang diterapkan PT.XXX sudah tepat atau ada alternatif lain yang lebih menguntungkan
Manfaat Penelitian

1.

Memberikan analisa berupa penjelasan dan saran yang dapat digunakan untuk bahan pertimbangan perusahaan guna perusahaan terkait serta menjadi bahan percontohan untuk menyusun kebijakan penerapan pengendalian persediaan barang dagang untuk perusahaan sejenis.
2. Penulisan ilmiah ini dapat digunakan sebagai tinjauan mengenai pengendaliaan persediaan barang dagang, perhitungan serta cara menganalisa persediaan barang dagang.

Dalam penulisan ilmiah ini, penulis mengambil data dari PT.XXX yang berupadata pembelian produk merk YYY, data penjualan produk merk YYY dan kartu persediaan produk merk YYY untuk periode 01 Januari 2009 sampai 31 desember 2009.

Dalam penyusunan penulisan ilmiah ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data Deskriptif Analisis, yaitu metode yang menguraikan masalah berdasarkan fakta yang ada, berupa :

1. Studi Kepustakaan (Library Research)

Penulis datang dan mencari informasi-informasi yang terkait mengenai persediaan barang dagang. Khususnya pada informasi perhitunganya dengan menggunakan beberapa buku referensi yang ada. Hasil yang diperoleh dari melakukan Studi Kepustakaan berupa :

a) Buku-buku teks dan referensi, yang berisikan pengetahuan tentang berbagai bidang penilaian persediaan barang dagang.

b) Tesis, skripsi dan disertasi, yang merupakan karya tulis mahasiswa Universitas Gunadarma.

2. Studi Lapangan (Field Research)

Penulis datang langsung ke PT.XXX untuk meminta data yang dibutuhkan untuk dihitung dan dianalisa persediaan barang dagangnya.

Sebagai alat dasar penelitian dibutuhkan model analisa data dan didalam mengalanisa Persediaan Barang Dagang PT.X digunakan alat analisa dalam bentuk data 1 (satu) pembelian barang dagang, penjualan barang dagang dan kartu persediaan barang dagang selama satu tahun dan perhitungan dengan menggunakan rumusan Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO), Masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO) dan metode rerata (Average) sistem fisik.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 4.8/10 (5 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)
ANALISIS PENILAIAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG DAN Rata PenuhPENGARUHNYA TERHADAP LABA KOTOR , 4.8 out of 10 based on 5 ratings
Share

There Is 1 Response So Far. »

  1. huy aq jurusan akuntansi. menurut kmu kalo aq nganalisis persediaan brg dagang untu perusahaan dagang tepat gak? lebih enaknya untuk perusahaan dagang atau manufaktur say yang bnyk permasalahannya? thx y

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image