JURNAL AKUNTANSI (tugas Riset Akuntansi)

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN YANG TERMASUK KELOMPOK SEPULUH BESAR MENURUT CORPORATE GOVERNANCE PERCEPTION INDEX (CGPI)

DITA PARADITA
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

NURZAIMAH
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara
Abstract
The main objective of this research was to analyze the corelation between good corporate governance (GCG) application and financial performance of the company. GCG application score was the variable that used as the indicator of GCG. Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE) dan Net Profit Margin (NPM) were the variables that used as the indicator of financial performance of the company.
This research was an associative explanation research where the variables had causality characteristic. The CGPI’s top ten companies were the sample of this research. They were chosen by purposive sampling method. Pooling (time series and cross sectional) data were used in this research, it was obtained from CGPI reports and financial statement at year 2004–2007. Statistic method through simple regression analysis was used in hypothesis testing.
The result of this research showed that GCG didn’t influence financial performance partially. ROI, ROE and NPM can’t be explained by GCG application.

Keywords : Good Corporate Governance (GCG), Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM).

1. Pendahuluan
Salah satu tujuan penting pendirian suatu perusahaan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan pemiliknya atau pemegang saham, atau memaksimalkan kekayaan pemegang saham melalui peningkatan nilai perusahaan (Brigham dan Houston, 2001). Peningkatan nilai perusahaan tersebut dapat dicapai jika perusahaan mampu beroperasi dengan mencapai laba yang ditargetkan. Melalui laba yang diperoleh tersebut perusahaan akan mampu memberikan dividen kepada pemegang saham, meningkatkan pertumbuhan perusahaan dan mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Hambatan-hambatan yang dihadapi perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan tersebut pada umumnya yaitu: (1) Perlunya kemampuan perusahaan untuk mengelola sumber daya yang dimilikinya secara efektif dan efisien, (2) Konsistensi terhadap sistem pemisahan antara manajemen dan pemegang saham, sehingga secara praktis perusahaan mampu meminimalkan konflik kepentingan yang mungkin terjadi dan (3) Perlunya kemampuan perusahaan untuk menciptakan kepercayaan pada penyandang dana ekstern, bahwa dana ekstern tersebut digunakan secara tepat dan seefisien mungkin serta memastikan bahwa manajemen bertindak yang terbaik untuk kepentingan perusahaan. Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut maka para pelaku bisnis di Indonesia menyepakati penerapan good corporate governance (GCG).
Melalui penerapan GCG diharapkan: (1) perusahaan mampu meningkatkan kinerjanya melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan, serta mampu meningkatkan pelayanannya kepada stakeholders, (2) perusahaan lebih mudah memperoleh dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapat meningkatkan corporate value, (3) mampu meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia dan (4) pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan dividen. Manfaat perusahaan menerapkan praktek GCG adalah resources yang dimiliki pemegang saham perusahaan dapat dikelola dengan baik, efisien dan digunakan semata-mata untuk kepentingan peningkatan nilai perusahaan. Semua itu dilakukan perusahaan untuk dapat maju dan bersaing secara sehat.
Winda Putri (2006) menunjukkan bahwa penerapan GCG dan jumlah komisaris dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Yudha Pranata (2007) juga menunjukkan bahwa penerapan GCG secara signifikan dapat meningkatkan return on equity, net profit margin dan Tobin’s Q sebagai indikator dari kinerja perusahaan. Ridwan Frediawan (2008) menunjukkan bahwa penerapan GCG yang dilakukan perusahaan tersebut mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan yang dapat dilihat dari meningkatnya rasio return on asset. Namun Irene Dumasi Siahaan (2008) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara penerapan GCG terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan economic value added.

2. Tinjauan Pustaka
2.1 Good Corporate Governance
GCG pertama kali diperkenalkan oleh Cadbury Committee pada tahun 1992 yang menggunakan istilah tersebut pada laporan mereka (Cadbury Report). Menurut Cadbury Committee pengertian GCG adalah seperangkat aturan yang merumuskan hubungan antara para pemegang saham, manajer, kreditor, pemerintah, karyawan, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya baik internal maupun eksternal sehubungan dengan hak-hak dan tanggung jawab mereka. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) atau disebut juga kelompok negara maju mendefinisikan GCG sebagai cara-cara manajemen perusahaan bertanggung jawab pada shareholders-nya.
Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) pengertian GCG adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan sehingga menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders). Tujuan dari GCG adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders). Secara teoritis, pelaksanaan GCG dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan meningkatkan kinerja keuangan mereka, mengurangi risiko yang mungkin dilakukan oleh dewan komisaris dengan keputusan-keputusan yang menguntungkan diri sendiri dan umumnya GCG dapat meningkatkan kepercayaan investor (Tjager, et al., 2003).
Konsep GCG yang komprehensif mulai berkembang sejak setelah kejadian The New York Stock Exchange Crash pada tanggal 19 Oktober 1987 di mana cukup banyak perusahaan multinasional yang tercatat di Bursa Efek New York mengalami kerugian finansial yang cukup besar. Di kala itu, untuk mengantisipasi permasalahan internal perusahaan, banyak para eksekutif perusahaan melakukan rekayasa keuangan yang intinya adalah bagaimana “menyembunyikan” kerugian perusahaan atau memperindah penampilan kinerja manajemen dan laporan keuangan. Dengan kesadaran tinggi untuk meningkatkan daya saing bangsa oleh segenap negarawan, cendikiawan dan usahawan, maka dimulailah gerakan untuk meningkatkan praktek-praktek yang baik dalam perusahaan. Gerakan ini dimulai dari tokoh-tokoh di Inggris yang dipimpin oleh Sir Adrian Cadbury, yang pada saat itu menjabat sebagai Direktur Bank of England dan mantan CEO Group Cadbury. Sejak terbitnya Cadbury Code on Corporate Governance pada tahun 1992, semakin banyak institusi yang terus melakukan penyempurnaan dalam prinsip-prinsip dan petunjuk teknis praktek corporate governance.
Prinsip-prinsip dasar GCG menurut OECD mencakup lima bidang utama yaitu:
a. perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham (the rights of shareholders).
b. persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham (the equitable treatment of shareholders).
c. peranan stakeholders yang terkait dengan perusahaan (the role of shareholders).
d. keterbukaan dan transparansi (disclosure and transparency).
e. akuntabilitas dewan komisaris (the responsibilities of the board).
Pelaksanaan GCG diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat berikut ini (FCGI, 2001:4):
a. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.
b. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapat lebih meningkatkan corporate value.
c. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
d. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan dividen.
The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) yang didirikan pada tanggal 2 Juni 2000 adalah sebuah lembaga independen yang melakukan kegiatan diseminasi dan pengembangan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance – GCG) di Indonesia. Kegiatan utama yang dilakukan adalah melaksanakan riset penerapan GCG, yang hasilnya berupa Corporate Governance Perception Index (CGPI). CGPI adalah riset dan pemeringkatan penerapan GCG di perusahaan publik yang tercatat di BEI.

2.2 Kinerja Keuangan
Kinerja suatu perusahaan dapat dilihat melalui laporan keuangan perusahaan tersebut. Dari laporan keuangan tersebut, dapat diketahui keadaan finansial dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan selama periode tertentu. Pengukuran kinerja merupakan analisis data serta pengendalian bagi perusahaan. Pengukuran kinerja didefinisikan sebagai “performing measurement“ yaitu kualifikasi dan efisiensi perusahaan atau segmen atau keefektifan dalam pengoperasian bisnis selama periode akuntansi. Dengan demikian pengertian kinerja adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Secara formal, produk akhir dari hasil pengukuran kinerja diwujudkan dalam suatu laporan yang disebut laporan kinerja. Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan di atas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain. Pengukuran kinerja dilakukan untuk menekan perilaku yang tidak semestinya, untuk merangsang dan menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya, serta penghargaan.

2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Variabel Dependen (Y)
KINERJA KEUANGAN

ROI (Y1)
Variabel Independen (X)
GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)
(+)

H1

(+)
ROE (Y2)
Variabel Independen (X)
GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

H2

NPM (Y3)
Variabel Independen (X)
GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)
(+)

H3

Corporate governance merupakan proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan urusan-urusan perusahaan dalam rangka meningkatkan kemakmuran bisnis dan akuntabilitas perusahaan. Dengan adanya prinsip-prinsip GCG maka laporan keuangan yang dihasilkan dapat diungkapkan secara transparan dan akurat sehingga dapat membantu investor dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam suatu perusahaan untuk mengambil keputusan sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Dapat disimpulkan bahwa dengan diterapkannya prinsip-prinsip GCG dalam perusahaan maka pihak-pihak yang terkait di perusahaan memiliki tanggung jawab yang jelas sesuai dengan peraturan yang berlaku sehingga dapat mendorong pengelolaan organisasi yang lebih demokratis, lebih accountable, lebih transparan, serta akan meningkatkan keyakinan bahwa perusahaan dan organisasi lainnya dapat menyumbangkan manfaat tersebut dalam jangka panjang. Dalam hal ini, tentu saja kinerja keuangan perusahaan akan meningkat karena seiring dengan berjalan baiknya kegiatan perusahaan.
Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara GCG dengan kinerja keuangan bersifat kausal. Penerapan GCG akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Dalam konteks tersebut, penerapan GCG dikatakan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan yaitu berpengaruh positif terhadap ROI, ROE dan NPM artinya dengan penerapan GCG yang baik maka kinerja keuangan yaitu ROI, ROE dan NPM juga akan baik. Adapun manfaat dari penerapan GCG salah satunya yaitu meningkatkan produktivitas dan efisiensi perusahaan yang tentu saja berimbas besar terhadap hasil penjualan. Dengan adanya penjualan atau laba bersih yang baik akan berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan dilihat dari meningkatnya rasio return on investment (ROI), return on asset (ROA), return on equity (ROE) dan net profit margin (NPM).

2.4 Hipotesis
Hipotesis yang diperoleh dari kerangka konseptual adalah sebagai berikut:
H1 : GCG berpengaruh terhadap ROI.
H2 : GCG berpengaruh terhadap ROE.
H3 : GCG berpengaruh terhadap NPM.

3. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksplanatif asosiatif, di mana hubungan antar variabel tersebut dirumuskan dalam hipotesis penelitian yang akan diuji kebenarannya. Hubungan antarvariabelnya bersifat kausalitas. Penelitian ini akan menggunakan metode observasi (pengamatan) terhadap data yang akan digunakan. Dimensi waktu yang dipakai adalah cross sectional, yang mencerminkan keadaan pada suatu saat tertentu, yaitu dari tahun 2004–2007.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007:72). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang ikut serta dan memenuhi syarat dalam ajang Corporate Governance Perception Index (CGPI) Award pada periode tahun 2004-2007. Jumlah populasi penelitian ini yaitu sebanyak 93 perusahaan. Teknik penarikan sampel dilakukan secara purposive sampling, artinya bahwa populasi yang memenuhi kriteria tertentu sesuai yang dikehendaki oleh peneliti. Adapun pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah: perusahaan yang termasuk ke dalam kelompok sepuluh besar perusahaan terbaik dalam penerapan GCG pada tahun 2004, 2005, 2006 dan 2007, di mana perusahaan-perusahaan yang muncul lebih dari satu kali dalam kelompok sepuluh besar tersebut hanya diambil satu data. Berdasarkan tahapan tersebut, penulis menetapkan sebanyak 20 sampel perusahaan.
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah penerapan GCG. Pengukuran penerapan GCG dilakukan dengan menggunakan skor penerapan GCG (CGPI) yang dipublikasikan oleh IICG sedangkan yang menjadi variabel dependen adalah kinerja keuangan. Variabel kinerja keuangan ini diproksi dengan nilai Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE), dan Net Profit Margin (NPM).
a. Return on Investment (ROI)
Return on investment adalah kemampuan modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor (Brigham and Gapenski, 1996:41).
ROI = Laba bersih setelah pajak × 100%
Rata-rata total aktiva

b. Return on Equity (ROE)
Return on equity sering disebut juga dengan rate of return on net worth yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri (Brigham and Gapenski, 1996:41).
ROE = Laba bersih setelah pajak × 100%
Rata-rata total ekuitas

c. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin adalah kemampuan sales/penjualan perusahaan untuk memperoleh laba (Brigham and Gapenski, 1996:42).

NPM = Laba bersih setelah pajak × 100%
Penjualan bersih

4. Metode Analisis Data
4.1 Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2007:142). Deskripsi suatu data dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, maksimum, dan minimum.

4.2 Pengujian Asumsi Klasik
4.2.1. Uji Normalitas Data
Uji normalitas data dilakukan dengan analisis grafik dengan melihat grafik histogram dan normal probability. Selain itu uji normalitas data menggunakan alat uji statistik yaitu alat uji statistik Kolmogorov–Smirnov (Uji K–S) agar lebih meyakinkan dengan melihat data residualnya apakah berdistribusi normal atau tidak. Hasil uji kolmogorov smirnov adalah sebagai berikut.
1) Variabel ROI
Hasil uji kolmogorov smirnov pada penelitian ini menunjukkan probabilitas = 0,616 dan di atas nilai signifikansi 0,05 dengan kata lain variabel residual berdistribusi normal dan dapat digunakan untuk uji–t karena 0,616 > 0,05 (Ho diterima).
2) Variabel ROE
Hasil uji kolmogorov smirnov pada penelitian ini menunjukkan probabilitas = 0,935 dan di atas nilai signifikansi 0,05 dengan kata lain variabel residual berdistribusi normal dan dapat digunakan untuk uji–t karena 0,935 > 0,05 (Ho diterima).
3) Variabel NPM
Hasil uji kolmogorov smirnov pada penelitian ini menunjukkan probabilitas = 0,371 dan di atas nilai signifikansi 0,05 dengan kata lain variabel residual berdistribusi normal dan dapat digunakan untuk uji–t karena 0,371 > 0,05 (Ho diterima).

4.2.2. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu t−1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Hasil dari pengujian autokorelasi dapat dilihat di bawah ini.
1) Variabel ROI
Hasil uji autokorelasi menunjukkan nilai DW sebesar 2,054. Nilai ini dibandingkan dengan nilai tabel statistik Durbin-Watson; nilai batas bawah (DL) sebesar 1,20 dan nilai batas atas (DU) sebesar 1,41. Nilai DW berada di antara DU dan 4−DU (1,41 < 2,054 < 2,59), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi.
2) Variabel ROE
Hasil uji autokorelasi menunjukkan nilai DW sebesar 1,907. Nilai ini dibandingkan dengan nilai tabel statistik Durbin-Watson; nilai batas bawah (DL) sebesar 1,20 dan nilai batas atas (DU) sebesar 1,41. Nilai DW berada di antara DU dan 4−DU (1,41 < 1,907 < 2,59), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi.
3) Variabel NPM
Hasil uji autokorelasi menunjukkan nilai DW sebesar 1,551. Nilai ini dibandingkan dengan nilai tabel statistik Durbin-Watson; nilai batas bawah (DL) sebesar 1,20 dan nilai batas atas (DU) sebesar 1,41. Nilai DW berada di antara DU dan 4−DU (1,41 < 1,551 0,05), 0,77 (>0,05), dan 0,85 (>0,05). Hal ini berarti secara parsial, semakin tinggi skor penerapan GCG (X) maka kinerja keuangan – ROI (Y1), ROE (Y2) dan NPM (Y3) semakin rendah. Hasil penelitian ini secara parsial menemukan bahwa penerapan GCG tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan tiga peneliti terdahulu yaitu Winda Putri, Yudha Pranata, dan Ridwan Frediawan yang menunjukkan bahwa penerapan GCG mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Namun, hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Irene Dumasi Siahaan yang menyatakan bahwa terdapat hubungan berlawanan arah yang tidak signifikan antara penerapan GCG terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hubungan negatif yang terjadi antara penerapan GCG dan kinerja keuangan pada penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang ada.
Secara teoritis, pelaksanaan GCG dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan meningkatkan kinerja keuangannya. Kemungkinan terbesar keadaan ini terjadi karena terbatasnya informasi. Padahal untuk mengukur GCG harus mengetahui berbagai informasi tentang karakteristik, budaya dan hubungan antar organ perusahaan dan semua informasi tersebut termasuk kriteria rahasia perusahaan yang tidak dipublikasikan. Selain itu jika dilihat dari jangka waktunya, GCG lebih bersifat jangka panjang sehingga tidak dapat diukur kesuksesannya jika hanya mengandalkan satu periode akuntansi saja sedangkan perhitungan profitabilitas lebih bersifat jangka pendek, di mana hasil yang dicapai dari periode tersebut merupakan hasil tambah perusahaan yang dapat berdiri sendiri.
Dengan kata lain, bila menggunakan pendekatan GCG hasil yang didapat akan bersifat positif tanpa melihat akan keadaan perusahaan pada tahun tersebut apakah dapat menciptakan nilai bagi perusahaan atau tidak, sedangkan dengan perhitungan profitabilitas, meskipun return dan laba bersih perusahaan tampak bagus belum tentu memiliki nilai tambah bagi kegiatan operasionalnya karena bisa saja sebagian besar modal kerjanya bersumber dari pemegang saham yang dalam perhitungan kinerja keuangan konvensional dianggap sebagai modal gratis. Sehingga dengan pendekatan profitabilitas, secara rinci menjelaskan nilai ekonomis dari perusahaan.

5. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan berbagai pengujian dan analisis data dari penelitian ini dapat diperoleh beberapa kesimpulan mengenai pengaruh GCG terhadap kinerja keuangan adalah variabel GCG (X) tidak berpengaruh secara parsial terhadap variabel ROI (Y1), ROE (Y2) dan NPM (Y3) karena penerapan GCG berpengaruh negatif terhadap ROI (Y1), ROE (Y2) dan NPM (Y3) dengan tingkat signifikansi variabel independen 0,61 (>0,05), 0,77 (>0,05), dan 0,85 (>0,05). Artinya adalah penerapan GCG yang baik tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan yaitu kinerja keuangan tidak menjadi lebih baik baik dengan adanya penerapan GCG.

5.2 Saran
Beberapa saran dan rekomendasi dari peneliti antara lain:
1. bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas variabel yang digunakan dalam mengukur pengaruhnya terhadap kinerja keuangan misalnya kualitas laporan keuangan,
2. menambah jumlah sampel yang ada, sehingga tidak hanya perusahaan yang termasuk kelompok sepuluh besar menurut CGPI saja, tapi juga seluruh peserta CGPI yang ikut serta,
3. menggunakan indikator lain selain ROI, ROE dan NPM untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan.

REFERENCES

Aczel, C., 2002. Complete Statistics Business. McGraw-Hill Book Company, New York.
Ashbough, H., Collins, D., and Laford, R., 2004. “Corporate Governance the Cost of Equity Capital”, Working Paper University of Iowa.
Brigham and Gapenski, 1996. Intermediate Financial Management, Fifth Edition, Dryden.
Brigham, E. F., dan Houston, J. F., 2001. Manajemen Keuangan. Edisi Kedelapan (Terjemahan), Salemba Empat, Jakarta.
Bursa Efek Indonesia, 2008. Indonesian Capital Market Directory, INDEF, Jakarta.
Drobetz, Wolfgang, Andreas, and Heinz, 2003. “Corporate Governance and Expected Stock Returns: Evidence From Germany”, ECGI Finance Working Paper.
Erlina dan Sri Mulyani, 2007. Metodologi Penelitian Bisnis, USU Press, Medan.
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, Departemen Akuntansi, 2004. Buku Petunjuk Teknis Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi, Medan.
FCGI, 2001. Corporate Governance: Tata Kelola Perusahaan. Edisi Ketiga, Jakarta.
Firth, M., and Rui, O., 2002. “Simultaneous Relationship Among Ownerships, Corporate Governance and Financial Performa”, Working Paper The Hongkong Polytechnic University.
Frediawan, Ridwan, 2008. “Pengaruh Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Kasus pada PT Jamsostek Kantor Cabang II Bandung)”, Skripsi Akuntansi Universitas Widyatama Bandung.
Ghozali, Imam, 2002. Aplikasi Bisnis Multivariat dengan Program SPSS, Edisi Ketiga, Cetakan Kelima, BP Undip, Semarang.
Jandik, Thomas and Craig R., 2005. “The Evolution of Corporate Governance and Firm Performance in Emerging Market: The Case of Sellier and Bellot”, ECGI Working Paper Series in Finance.
Jogiyanto, 2004. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-Pengalaman, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
Pranata, Yudha, 2007. “Pengaruh Penerapan Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan”, Skripsi Akuntansi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
Putri, Winda, 2006. “Analisis Pengaruh Corporate Governance dan Jumlah Komisaris Terhadap Kinerja Perusahaan”, Skripsi Akuntansi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
Siahaan, Irene Dumasi, 2008. “Analisis Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Yang Diukur Dengan Economic Value Added”, Skripsi Akuntansi Universitas Widyatama Bandung.
Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Bisnis, Edisi Pertama, Cetakan Kesepuluh, CV. Alfabeta, Bandung.
Sulistyanto, Sri, 2003. “Good Corporate Governance: Berhasilkah diterapkan di Indonesia?”, Jurnal Widya Warta No.2 Tahun XXVI/Juli 2003.
SWA No. 04/XX/19 Februari – 3 Maret 2004.
SWA No. 09/XXI/28 April – 11 Mei 2005.
Tjager, I.N., Alijoyo, F. A., Djemat, H.R., dan Soembodo, B., 2003. Corporate Governance. Prenhallindo, Jakarta.
Tunggal, Imam Sjahputra dan Amin Widjaja Tunggal, 2002. Membangun Good Corporate Governance. Harvarindo, Jakarta.
Umar, Husein, 2001. Riset Akuntansi: Metode Riset sebagai Cara Penelitian Ilmiah, Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Umar, Husein, 2008. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Zhuang, 2000. “Corporate Governance and Finance in East Asia: A Study of Indonesian, Republic of Korea and Thailand”, Asia Development Bank.

http://www.iicg.org

Jurnal 40

PERANAN LINGKUNGAN PENGENDALIAN TERHADAP PEMBERIAN KREDIT PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) Tbk. CABANG PUTRI HIJAU MEDAN
Jurnal 28
MARLIANA PRATIWI
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara
SYAHELMI
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

Abstract
The supply of credit by bank to its customer is conducted to realize a mutual cooperation between bank and customer in economic sector in addition to achieve the goal of credit determined by bank previously. But in fact, the objective of credit supply is not achieved because there are any obstacles such as the bad credit. Therefore, the credit for the customer is a process that required consideration and seriously analysis by bank to avoid any losses. The role of controlling is one of efforts to know the feasibility of customer to get credit in order to minimize the credit bad risk. In decision making for supply credit, the bank applies the controlling efforts to analyze whether the credit feasible for the customer or not. This condition encourage the writer to do a research at PT. Bank Rakyat Indonesia branch of Putri Hijau Medan and take a title “ A Role of Control to the Credit Supply at PT. Bank Rakyat Indonesia branch of Putri Hijau Medan.
In this writing of Thesis, the writer applies a descriptive study. The data are primary and secondary data. The data collecting method is interview and library researchy to any people related to the required data in this writing. The data analysis method is a descriptive method where the data is collected, arranged and analyzed to provide information for the problem solving.
The writer do the analysis and evaluation about the role of control in credit supply and its procedure. Based on the analysis and evaluation, the writer draw a condlucsion that the role of control to the credit supply had applied effectively and efficiently either in the administration or juridical aspect. The bank applies a procesure of credit supply effectively and efficiently that minimize the bad credit. In analysis process, the bank must apply the principles of credit supply that consist of available fact to make an accurate and professional decision.

Keyword: Role, control, customer, credit , bank.

1. Pendahuluan

Pemberian kredit bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah dan kesalahan dalam pemberian kredit akan memperbesar resiko akibat kegagalan atau ketidakmampuan nasabah dalam mengembalikan jumlah pinjaman yang diterima dari bank beserta bunganya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan atau dijadwalkan. Berbagai cara dilakukan oleh nasabah untuk bisa melakukan kredit kebank. Seperti yang kita ketahui dalam melakukan pinjaman kredit kebank, perlu diperhatikan beberapa hal yaitu dilihat dari pekerjaannya, penghasilan perbulan, usaha yang dimiliki, serta jaminan yang diberikan. Dengan banyaknya syarat yang diajukan oleh pihak bank kepada calon nasabah yang ingin melakukan kredit, dibutuhkan suatu bentuk usaha dari pihak bank agar pemberian kredit dapat berjalan dengan baik. Untuk itu diperlukan suatu pengendalian internal yang baik. Khususnya dalam lingkungan pengendalian. Seperti yang kita ketahui didalam lingkungan pengendalian ada terdapat 7 faktor utama yaitu : Integritas dan nilai etika, Komitmen terhadap kompetensi, Dewan direksi dan komite audit, Filosofi dan gaya opersai manajemen, Struktur organisasi, Penetapan wewenang dan tanggung jawab dan yang terakhir adalah Kebijakan dan praktek sumber daya manusia. Hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain sangat berhubungan satu sama lainnya.
Sebagai contoh yang terjadi sekarang ini berhubungan dengan lingkungan pengendalian adalah Auditor harus menilai integritas pihak manajemen perusahaan. Reputasi dan integritas manajemen adalah faktor yang sangat penting dalam menentukan majunya suatu perusahaan. Dengan adanya reputasi dan integritas serta etika yang baik, sangat menentukan kegiatan operasi suatu perusahaan. Karena bisa saja berbagai peluang memberikan kesempatan kepada pihak intern seperti manajemen untuk melakukan kecurangan ataupun penipuan yang dapat merugikan perusahaan. Adapun berbagai kondisi memungkinkan pihak manajemen suatu perusahaan melakukan penipuan adalah seperti kurangnya modal kerja yang memadai, peringkat kredit buruk dan syarat ekstrim dari bank atau perjanjian yang mengikat. Dalam penulisan skripsi ini saya mengambil PT. Bank Rakyat Indonesia untuk dijadikan sebagai contoh kasus. PT. Bank Rakyat Indonesia merupakan salah satu bank terbesar milik negara. Banyaknya aktivitas yang dilakukan setiap harinya meliputi simpan, tarik, pinjam, deposito, giro, penyimpanan surat-surat berharga dan lain-lain. Tapi pada penulisan karya ilmiah ini, saya hanya menitikberatkan pada masalah pemberian kredit. PT Bank Rakyat Indonesia merupakan salah satu bank yang low profile, yang memberikan kesempatan yang luas bagi setiap nasabah yang ingin mengajukan kredit. BRI tidak memandang status, pekerjaan, golongan dan lain-lain. Asalkan syarat dan ketentuan yang diberikan pihak bank dapat dipenuhi oleh calon nasabah. Dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan setiap harinya khususnya dalam pemberian kredit, memungkinkan terdapat banyak terjadi kecurangan, kekeliruan atau penyelewengan pada PT. BRI yang dilakukan oleh pihak intern maupun pihak ekstern.
Sebagai contoh bisa saja dalam penyaluran kreditnya, nasabah melakukan penipuan seperti memalsukan syarat-syarat yang terdapat pada saat prosedur pemberian kredit, bentuk jaminan yang diberikan, dan masih banyak kecurangan lainnya yang terjadi. Karena itu pihak bank perlu memperhatikan beberapa hal untuk mencapai lingkungan pengendalian yang baik seperti pihak manajemen harus mempertimbangkan personel ataupun karyawan pada setiap bagian. Setiap karyawan harus memiliki pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan mereka secara efektif. Sehingga dibutuhkan adanya pelatihan dan juga adanya pengalaman sesuai dengan bidangnya masing-masing khususnya pada bagian yang menangani masalah kredit. Selain itu pihak bank khususnya BRI dalam hal ini harus memiliki struktur organisasi yang baik dan menyediakan kerangka kerja menyeluruh atas perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pemantauan aktivitas berhubungan dengan masalah pemberian kredit yang didalamnya terdapat wewenang dan tanggung jawab serta mencakup penjelasan mengenai bagaimana dan kepada siapa wewenang dan tanggung jawab semua aktivitas entitas dibebankan.
PT. BRI sebagai salah satu lembaga keuangan perbankan yang dijadikan sebagai kasus dalam penulisan skripsi ini masih sangat fokus dalam melakukan pemberian kredit dan juga melakukan pengawasan kredit sebagai upaya untuk mewujudkan suatu perkreditan yang sehat pada umumnya dan memperkecil masalah yang timbul pada khususnya, serta mencegah terjadinya kredit macet.

2. Tinjauan Pustaka

2.1. Pengertian dan Jenis-jenis Kredit
Pemberian kredit merupakan salah satu bentuk usaha yang dapat dilakukan oleh suatu bank. Menurut asal mulanya kata kredit berasal dari kata credere, yang artinya adalah kepercayaan. Maksudnya adalah apabila seseorang memperoleh kredit maka berarti mereka memperoleh kepercayaan. Sedangkan bagi sipemberi kredit artinya memberikan kepercayaan kepada seseorang bahwa uang yang dipinjamkan pasti kembali.
Menurut UU Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 adalah :“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.
Sedangkan menurut Boymont P. Kent, dikutip oleh Thomas Suyatno dkk (1990:15): “Kredit adalah hak untuk menerima pembayaran atau kewajiban untuk melakukan pembayaran pada waktu diminta atau pada waktu yang akan datang karena penyerahan barang-barang sekarang”.
Secara umum jenis-jenis kredit yang disalurkan oleh bank dan dilihat dari berbagai segi adalah dilihat dari segi kegunaan terdiri dari kredit investasi dan kredit modal kerja, dilihat dari segi tujuan kredit terdiri dari kredit produktif, kredit konsumtif dan kredit perdagangan, dilihat dari segi jangka waktu terdiri dari jangka pendek dan jangka menengah, dilihat dari segi jaminan terdiri dari kredit dengan jaminan dan kredit tanpa jaminan dan yang terakhir adalah dilihat dari segi sektor usaha yang terdiri dari kredit pertanian, perternakan, industri, pertambangan, pendidikan, profesi, perumahan, dll.

2.2. Prosedur Pemberian Kredit
Sebelum debitur memperoleh kredit terlebih dahulu harus melalui tahap demi tahap penilaian mulai dari pengajuan proposal kredit dan dokumen-dokumen yang diperlukan, pemeriksaan keaslian dokumen, analisis kredit sampai dengan kredit dikucurkan. Beberapa tahapan dalam memberikan kredit ini kita kenal dengan nama Prosedur Pemberian Kredit. Tujuan prosedur pemberian kredit ini adalah untuk memastikan kelayakan suatu kredit, diterima atau ditolak. Secara umum akan dijelaskan prosedur pemberian kredit oleh badan hukum yaitu pengajuan proposal, penyelidikan berkas pinjaman, penilaian kelayakan kredit, wawancara pertama, peninjauan ke lokasi (On the Spot), wawancara kedua, keputusan kredit, penandatanganan akad kredit/ perjanjian lainnya, realisasi kredit.

2.3. Bentuk Jmainan Yang Diterima
Dalam prakteknya yang dapat dijadikan jaminan kredit oleh calon debitur adalah jaminan dengan barang-barang, jaminan surat berharga, jaminan orang atau perusahaan, jaminan asuransi. Selain itu barang yang dapat dijadikan jaminan memiliki syarat-syarat seperti memiliki harga pasar, tidak dalam keadaan sedang dijaminkan, memiliki bukti-bukti kepemilikan, memiliki nilai yang cukup untuk menjamin kredit. Adapun harga dari suatu barang jaminan ditentukan oleh sifat barang, jenis barang, stabilitas harga barang, luasnya pasar.

2.4. Upaya Penanggulangan Kredit Bermasalah
Jika bank terjerat dengan kredit bermasalah atau kredit macet, maka bank pun akan mengalami kerugian. Untuk mengatasi kredit macet pihak bank perlu melakukan penyelamatan, sehingga tidak akan menimbulkan kerugian. Penyelamatan dapat dilakukan dengan memberikan keringanan berupa jangka waktu pembayaran atau jumlah angsuran terutama bagi kredit terkena musibah atau dengan melakukan penyitaan bagi kredit yang sengaja lalai untuk membayar. Penyelamatan terhadap kredit macet atau kredit bermasalah dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu rescheduling, reconditioning, restructuring, kombinasi dan penyitaan jaminan.

2.5. Peranan Lingkungan Pengendalian Terhadap Pemberian Kredit
Menurut laporan COSO (Modern Auditing 2003) mengidentifikasikan lima komponen pengendalian intern (components of internal control) yang saling berhubungan yaitu lingkungan pengendalian (control environment), penilaian resiko (risk assessment), aktivitas pengendalian (control activities), informasi dan komunikasi (information and communication), pemantauan (monitoring).
Salah satu komponen dari pengendalian intern yang dibahas dalam peneltian ini adalah Lingkungan Pengendalian (control environment). Lingkungan pengendalian (control environment) menetapkan suasana dari suatu organisasi yang mempengaruhi kesadaran akan pengendalian dari orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan fondasi dari semua komponen pengendalian intern lainnya yang menyediakan disiplin dan stuktur. Menurut AU 319.25 (Boynton, dkk) Lingkungan pengendalian memiliki 7 elemen penting yaitu integritas dan nilai kerja, komitmen terhadap kompetensi, dewan direksi dan komite audit, filosofi dan gaya operasi manajemen, struktur organisasi, penetapan wewenang dan tanggung jawab dan kebijakan dan praktek sumber daya manusia.
Dengan melihat definisi diatas dan juga komponen-komponen yang terdapat pada lingkungan pengendalian, sangatlah jelas, bahwa lingkungan pengendalian sangat penting bagi perusahaan. Karena lingkungan pengendalian menetapkan arah perusahaan dan mempengaruhi kesadaran pihak manajemen dan karyawannya akan pengendalian. Adanya peran lingkungan pengendalian terhadap pemberian kredit sangatlah dibutuhkan, karena dapat digunakan sebagai alat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti adanya kasus penipuan khususnya pada kasus kredit yang dapat dilakukan pihak intern seperti pihak manajemen. Didalam kegiatan kredit bisa saja banyak terjadi kasus penipuan ataupun kecurangan yang dilakukan baik oleh calon nasabah, maupun yang dilakukan oleh pihak manajemen yang tugasnya berkaitan dengan pemberian kredit. Selain itu dapat menilai integritas pihak manajemen apakah memiliki etika yang baik atau tidak. Apabila manajemen memiliki integritas dan etika yang baik, maka akan membawa perusahaan kearah yang baik pula khususnya pada kegiatan kredit. Itulah beberapa peran dari lingkungan pengendalian yang berkaitan dengan pemberian kredit.

2.6. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang penting yang telah diketahui pada masalah tertenttu. Kerangka konseptual akan menghubungkan secara teoritis antar variabel-variabel penelitian (Erlina dan Sri Mulyani, 2007:28)

PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) Tbk

PEMBERIAN KREDIT
INTERNAL CONTROL
(LINGKUNGAN PENGENDALIAN)

Kegiatan kredit bukanlah kegiatan yang mudah untuk dilakukan. Karena banyak sekali hal-hal yang harus dipikirkan agar kredit tersebut berjalan dengan lancar. Banyaknya prosedur yang harus dilakukan mulai dari pengajuan permohonan sampai dengan kredit tersebut diberikan. Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kecurangan ataupun kesalahan dalam pemberian kredit perlu adanya internal kontrol yang baik. Khususnya pada lingkungan pengendalian. Dengan adanya lingkungan pengendalian yang baik, maka akan mengurangi atau menghambat terjadinya kecurangan ataupun kesalahan yang dapat terjadi pada saat dilakukannya proses pemberian kredit baik secara disengaja maupun tidak disengaja oleh pihak-pihak yang terkait baik pihak intern maupun ekstern.

3. Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian secara langsung dengan mendatangi objek penelitian yaitu PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Putri Hijau Medan guna memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan melalui bagian-bagian yang terkait dalam penyaluran kredit, khususnya mengenai sistem pengendalian internal terhadap penyaluran kredit. Jenis data yang dikumpulkan adalah berupa data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif yang terdiri dari data primer dan data sukunder. Data primer yaitu data yang belum diolah yang diperoleh langsung dari PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Putri Hijau Medan, seperti hasil wawancara dengan cara tanya jawab kepada bagian-bagian yang berhubungan dengan pemberian kredit dan pengendalian internal dalam sistem pengawasan perusahaan. Data sekunder adalah data yang diperoleh sehubungan dengan perusahaan yang telah terdokumentasi.
Teknik yang digunakan penulis dalam pengumpulan data adalah wawancara dan studi pustaka. Metode Analisis data yang digunakan adalah dengan metode deskriptif. Metode deskriptif yaitu metode yang ditujukan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul untuk memperoleh gambaran yang sebenarnya bagaimana sistem pengendalian internal terhadap pemberian kredit pada perusahaan serta mengambil kesimpulan dan saran. Penelitian dimulai oleh penulis pada bulan Agustus 2009 sampai dengan selesai, yag dilakukan pada PT. Bank Rakyat Indonesia (PERSERO) Tbk, jalan Putri Hijau No. 2 Medan.

4 Hasil Penelitian

4.1. Pengertian dan Jenis-Jenis Kredit
Adapun jenis-jenis kredit yang diberikan oleh Bank Rakyat Indonesia Cabang Putri Hijau Medan dibedakan berdasarkan klasifikasi kreditnya. Berdasarkan sumber dana dibedakan menjadi dua jenis yaitu one step loan dan two step loan. Berdasarkan jenis kredit tunai dibedakan menjadi dua jenis yaitu kredit tunai dan kredit non tunai. Berdasarkan sifat penggunaan dana dibedakan menjadi dua jenis yaitu revolving dan non revolving. Berdasarkan cara penarikan atau pembayaran dan yang terakhir adalah berdasarkan tujuan penggunaan dana yang etrdiri dari kredit komersial dan kredit konsumtif.

4.2. Prosedur Pemberian Kredit
Adapun pengambilan keputusan pemberian kredit yang dilakukan oleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Putri Hijau Medan yang dimulai dari Tahap Pengajuan Permohonan Kredit, Tahap Analisa Kredit yang terdiri dari proses pre- screening dan proses colouring, Tahap Keputusan Kredit, Tahap Pengikatan Jaminan, dan yang terakhir adalah Tahap Penyelesaian Administrasi Kredit.

4.3. Bentuk Jaminan Yang Diterima
Dalam menerima jaminan kredit PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Putri Hijau Medan menetapkan syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh calon nasabah diantaranya jaminan kredit harus memiliki nilai ekonomis yang memadai, yaitu dapat diperjual belikan secara bebas, memiliki nilai bebas dari limit kredit, mudah dipasarkan tanpa mengeluarkan biaya pemasaran yang berarti memiliki nilai stabil atau memiliki prospek yang baik, mempunyai manfaat ekonomis dalam jangka waktu yang lebih lama dari jangka waktu kredit. jaminan kredit harus memiliki syarat atau nilai yuridis, yaitu milik Perusahaan calon debitur, ada dalam kekuasaan calon debitur, tidak berada dalam persengketaan dengan pihak lain, dan memiliki bukti-bukti kepemilikan yang sah.

4.4. Upaya Penanggulangan Kredit Bermasalah
Adapun berbagai cara dalam penyelamatan kredit macet yang dilakukan oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Putri Hijau Medan dalam menanggulangi masalah kredit macet tersebut yang pertama adalah Rescheduling (Penjadwalan Kembali) yaitu suatu tindakan yang diambil dengan cara memperpanjang jangka waktu kredit atau jangka waktu angsuran. Dalam hal ini pihak bank memberikan keringanan kepada si debitur dalam masalah jangka waktu pembayaran kredit. Kedua, Recondicioning (Persyaratan kembali) adalah kebijaksanaan yang diberikan kepada debitur berupa perubahan sebagian / syarat-syarat kredit yang mencakup penghitungan ulang bunga. Ketiga, Restructuring merupakan cara yang dilakukan oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Putri Hijau Medan dalam mengatasi kredit macet. Hal ini dilakukan pihak bank kepada nasabah dengan cara menambah modal nasabah dengan pertimbangan nasabah memang membutuhkan tambahan dana untuk membiayai usahanya. Dan pihak bank juga harus memantau dan memeriksa apakah usaha tersebut. Keempat, Penyitaan Jaminan merupakan jalan terakhir apabila nasabah sudah benar-benar tidak punya itikad baik ataupun sudah tidak mampu lagi untuk membayar semua utang-utangnya, tindakan bank adalah menyita jaminan yang telah diberikan oleh nasabah.

4.5. Peranan Lingkungan Pengendalian Terhadap pemberian Kredit
. Adapun peran-peran dari elemen lingkungan pengendalian terhadap pemberian kredit pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Putri Hijau Medan adalah: Pertama, Integritas dan Nilai Kerja. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Putri Hijau Medan mempunyai kode etik perusahaan yaitu: Integritas, Profesionalisme, Kepuasan Nasabah, Keteladanan dan Penghargaan Kepada Sumber Daya Manusia. Segala kegiatan yang dilakukan oleh karyawan yang ada di dalam bank tersebut harus berlandas pada lima kode etik diatas. Seluruh karyawan telah mengetahui jelas maksud dan tujuan serta memperhatikan kode etik tersebut khususnya pada hal pemberian kredit.
Kedua, Komitmen Terhadap Kompetensi mencakup pertimbangan manajemen mengenai pengetahuan dan keahlian yang diperlukan dan bauran dari intelegensi, pelatihan dan pengalaman yang diperlukan untuk mengembangkan kompetensi tersebut. Hal itulah yang dilakukan oleh manajemen dalam memilih karyawannya untuk ditempatkan pada suatu bidang sesuai dengan keahliannya. Ketiga, Dewan Direksi dan Komite Audit Fungsi dari Dewan Direksi dan Komite Audit dalam hal pemberian kredit adalah sebagai evaluator dari segala transaksi yang berhubungan dengan kredit. Keempat, Filosofi dan Gaya Operasi Manajemen. Manajemen mempunyai hak untuk ikut campur, khususnya dalam hal menyetujui atau tidaknya kredit tersebut diberikan, serta dapat membantu dalam memonitor resiko kredit yang mungkin akan terjadi pada beberapa waktu kedepan. Kelima, Struktur Organisasi yang ada pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Putri Hijau Medan berkontribusi terhadap kemampuan sutau entitas untuk memenuhi tujuan dengan menyediakan kerangka kerja menyeluruh. Keenam, Penetapan wewenang dan tanggung jawab merupakan perpanjangan dari pengembangan suatu struktur organisasi. Wewenang dan tanggung jawab mencakup penjelasan mengenai bagaimana dan kepada siapa wewenang dan tanggung jawab semua aktivitas entitas dibebankan. Khususnya dalam pemberian kredit, bagaimana tugasnya, bagian-bagian apa saja yang terlibat di dalamnya dan bertanggung jawab kepada siapa semua itu sudah ditetapkan dan dijelaskan didalam Job Description. Dengan melihat Job Desription kita bisa mengetahui dengan jelas bagian-bagian apa saja yang terlibat dalam masalah kredit.. Ketujuh, Kebijakan dan Praktek Sumber Daya Manusia. Pada Bank Rakyat Indonesia peningkatan jenjang karir karyawan dilakukan dengan mengadakan Test Job Opening yang dilakukan dengan syarat melihat jenjang waktu sudah berapa tahun pegawai terebut bekerja pada Bank Rakyat Indonesia. Lamanya masa kerja pegawai jika telah memenuhi syarat yang ditetapkan, maka pegawai tersebut berhak mengikuti tes tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan jenjang kariernya.
Menurut laporan COSO (Modern Auditing 2003) mengidentifikasikan lima komponen pengendalian intren (components of internal control) yang saling berhubungan yaitu:lingkungan pengendalian (control environment), penilaian resiko (risk assessment), aktivitas pengendalian (control activities,), informasi dan Komunikasi (information and communication), pemantauan (monitoring).
Kelima komponen diatas mempunyai hubungan yang saling berkaitan satu sama lain. Di dalam masalah kredit khususnya dalam hal pemberian kredit kepada calon nasabah banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh pihak bank. Penaksiran atau penilaian resiko dilakukan secara periodik yaitu satu kali setahun atau dua kali setahun yang dilakukan oleh Audit Internal dan juga Audit Eksternal. Audit Eksternal dalam hal ini adalah Bank Indonesia (BI) dan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Komite Audit juga selalu melakukan pemantauan atau mengidentifikasi adanya resiko kredit setelah kredit tersebut diberikan kepada nasabah.
Bank Rakyat Indonesia mengklasifikasikan resiko ada dua yaitu resiko bisnis dan resiko intern. Apabila kecurangan yang terjadi karena kelalaian atau disengaja oleh pihak intern bank teridentifikasi dan terbukti kebenarannya, maka tindakan yang dilakukan pihak Bank Rakyat Indonesia adalah memecat pegawai yang terlibat dalam kecurangan tersebut. Penyimpangan dalam kinerja yang dilakukan oleh pegawai ataupun karyawan khususnya pada PT. Bank Rakyat Indonesia yang ada di seluruh kota Medan dilaporkan kepada Koordinator Pimpinan Wilayah yang membawahi 19 Cabang. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan ataupun kecurangan yang terjadi, perusahaan harus membuat dan menyiapkan laporan keuangan yang berkaitan dengan pemberian kredit. Adapun fungsi dari laporan keuangan tersebut adalah untuk mengetahui seluruh transaksi yang terjadi pada kurun waktu tertentu. Komponen faktor pengendalian intern yang terakhir adalah pemantauan atau monitoring. Internal Auditor dan Eksternal Auditor mempunyai wewenang dan juga ikut andil dalam memantau segala sesuatu yang berkaitan dengan operasi perusahaan khususnya dalam hal pemberian kredit. Eksternal Auditor berfungsi sebagai pemantau tingkat kesehatan Perbankan Nasional dan juga mengawasi Perbankan Nasional.

5. Kesimpulan Dan Saran

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan mengenai “Peranan Lingkungan Pengendalian Terhadap Pemberian Kredit ”, maka penulis mencoba untuk mengambil kesimpulan.
1) PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Putri hijau Medan di jalankan dengan prinsip integritas, profesionalisme, kepuasan nasabah, keteladanan dan penghargaan kepada sumber daya manusia.
2) Adapun jenis-jenis kredit yang disalurkan oleh perusahaan adalah diklasifikasikan menjadi lima bagian yaitu: berdasarkan sumber dana, kredit tunai / non tunai, sifat penggunaan dana, cara penarikan / pembayaran dan tujuan penggunaan dana.
3) Prosedur pemberian kredit oleh perusahaan sudah sangat baik, dimana prosedur pemberian kredit sangat sederhana, tidak berbeli-belit dan relatif singkat.
4) Dalam menghadapi kredit bermasalah / kredit macet perusahaan sudah berupaya untuk menyelesaikan / menyelamatkan kredit tersebut dengan berbagai cara tergantung dari kondisi nasabah atau penyebab kredit tersebut macet.
5) Peranan lingkungan pengendalian terhadap pemberian kredit sangat berguna keberadaannya karena dapat meminimalisasikan tingkat penyelewengan dan penipuan yang akan dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab.
6) Peranan lingkungan pengendalian terhadap pemberian kredit sudah berjalan cukup efektif. Dimana dalam prosesnya, lingkungan pengendalian sangat berperan serta dalam pemberian kredit mulai pada saat nasabah mengajukan kredit sampai dengan kredit tersebut diberikan.

5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mencoba memberikan saran.
1) Dalam menganalisa, pihak Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Putri Hijau Medan sebaiknya tetap memegang teguh prinsip-prinsip pemberian kredit yang meliputi pencarian fakta yang lengkap sehingga keputusan yang diambil akan lengkap, dan pihak bank bersifat profesional dalam menilai jaminan.
2) Selain dari pentingnya peranan lingkungan pengendalian, yang tidak kalah pentingnya yang harus diperhatikan oleh pihak bank dalam melakukan pemberian kredit adalah pihak bank harus memperhatikan karakter nasabah, kapasitas dan kemampuan modal jaminan yang diberikan oleh nasabah dan juga keadaan perkembangan usaha ataupun perusahaan nasabah. Semua hal di atas tersebut berguna untuk mencegah terjadinya kredit macet yang mungkin saja terjadi di kemudian hari.
3) Pihak bank hendaknya melakukan penilaian yang lebih ketat lagi terhadap jaminan yang diterima agar tingkat pengembalian lebih terjamin dan lancar. Disamping itu hendaknya dilakukan pengecekan terhadap barang jaminan yang diberikan calon nasabah guna memperkecil kemungkinan terjadinya kerugian.
4) Sistem pengendalian intern terhadap pemberian kredit pada perusahaan harus terus di tingkatkan mengingat teknologi terus meningkat begitu juga dengan perkembangan ekonomi, sehingga segala bentuk penyelewengan yang baru dapat dihindari.
5) Masalah perkreditan selalu berorientasi untuk masa yang akan datang. Oleh sebab itu, aparat perbankan dituntut untuk memiliki kemampuan dalam penyusunan perencanaan yang baik bagi usahanya agar dapat terus bersaing dengan bank-bank lain. Serta harus mampu menciptakan, mengembangkan dan memperkenalkan produk/jasa yang baru yang dibutuhkan masyarakat.
6) Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kolusi antar nasabah dengan pihak intern yang terkait dalam pemberian kredit, perusahaan perlu untuk melibatkan fungsi lain dalam hal pemeriksaan atas saldo nasabah sebelum jaminan dikeluarkan.

Daftar Pustaka

Boynton, Johnson, Kell, 2003. Modern Auditing, Edisi Ketujuh. Jilid 1, alih bahasa, Paul A. Rajoe, Gina Gania, Ichsan Setiyo Budi; editor Yati Sumiharti Penerbit Erlangga, Jakarta.

Bastian, Indra, 2006. Akuntansi Perbankan, Salemba Empat, Jakarta.

Djohan, Warman, 2000. Kredit Bank, Cetakan Pertama, PT Mutiara Sumber Widya, Jakarta.

Kasmir. Manajemen Perbankan. Edisi Revisi 2008, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta.

Simorangkir, O.P, 2004. Pengantar Lembaga Keuangan Bank & Non Bank, Ghalia Indonesia, Bogor.

Susilo, Y. SRI, 2000. Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Suyatno, Thomas DKK, 2003. Dasar-dasar Perkreditan. Edisi Keempat, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Yusnidawati, Ranti. 2006. Pengendalian Internal Terhadap Pemberian Kredit pada PT. BPR Bumiasih NBP 17.

Yatmira. 2006. Sistem Pengawasan Intern Terhadap Pemberian Kredit pada PT.
Bank Muamalat Medan.

Ikatan Akuntan Indonesia, 2002. Standar Akuntansi Keuangan, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Sumatera Utara , 2004. Buku Petunjuk Teknis Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi, Medan.

Undang-undang Republik Indonesia No.14 Tahun 1967. Perbankan. Cetakan Keenam. Jakarta. 2003.

Undang-undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 1998. Perbankan. Cetakan
Keenam. Jakarta. 2003
ANALISIS KINERJA KEUANGAN SEBELUM DAN SESUDAH MERGER DAN AKUISISI PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

SARAH INDRIYANI SIJABAT
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara
AZHAR MAKSUM
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
This study was aimed to give an empirical evidences about there is or not difference of company’s performance, bidding firms and target firms, before and after the event of merger and acquisitions which showed by financial ratios consist of ratio of liquidities, activities, leverage and profitabilities. The population in this study was all the go public companies except kind of banking and other financing doing merger activities and acquisition of 2001 – 2005. Using the technique of purposive sampling, finally, it was gained 30 companies as the sample of the study which is consist of 16 as bidding firms and 14 as target firms.
In this study, test of data using stastical analyze consist of analyze of Kolmogorov-Smirnov, Wilcoxon Signed Ranks Test and Paired Sample T-Test. The result of the analysis showed that there was no significant difference in financial ratios before and after merger and acquisitions. However several financial ratios in target firms like CR, QR and TAT indicate that there were different significant but temporary and not consistent. From the result of the analysis, it could be concluded that the merger and acquisition had not affect performance for bidding firms and target firms. Concluded that economic aim of merger an acquisition could not be achieved until the end of the second year. This was probably because of some economical reason dominantly during decision making to merge and acquire, so the synergism as a main motivation in a merger and acquisition could not be achieved.

Key words: Merger and acquisition, company’s performance, financial ratios.

1. Pendahuluan

Adanya globalisasi dan persaingan bebas menuntut setiap perusahaan untuk selalu mengembangkan strateginya agar dapat bertahan hidup, berkembang dan berdaya saing. Untuk itu perusahaan perlu mengembangkan suatu strategi yang tepat agar perusahaan bisa mempertahankan eksistensinya dan memperbaiki kinerjanya. Strategi bersaing yang berusaha mengembangkan (membesarkan) perusahaan sesuai dengan ukuran besaran yang disepakati untuk mencapai tujuan jangka panjang perusahaan disebut strategi pertumbuhan. Strategi ini dapat dilaksanakan melalui pertumbuhan dari dalam perusahaan (internal growth) atau pertumbuhan dari luar perusahaan (external growth) melalui merger dan akuisisi. Pertumbuhan internal dilakukan dengan cara memperluas kegiatan perusahaan yang sudah ada, misalnya dengan cara menambah kapasitas pabrik, menambah produk atau mencari pasar baru. Sebaliknya, pertumbuhan eksternal dilakukan dengan membeli perusahaan yang sudah ada. Merger dan akuisisi adalah strategi pertumbuhan eksternal dan merupakan jalur cepat untuk mengakses pasar baru untuk produk baru tanpa harus membangun dari awal. Terdapat penghematan waktu yang sangat signifikan antara pertumbuhan internal dan eksternal melalui merger dan akuisisi. Merger dilakukan dengan menggabungkan dua atau lebih perusahaan di mana salah satu nama perusahaan yang bergabung tetap digunakan sedangkan yang lain dihilangkan dan akuisisi dilakukan dengan pembelian seluruh atau sebagian kepemilikan suatu perusahaan. Dari waktu ke waktu perusahaan lebih menyukai pertumbuhan eksternal melalui merger dan akuisisi dibanding pertumbuhan internal (Hitt, 2002).
Aktivitas merger dan akuisisi semakin meningkat seiring dengan intensitas perkembangan ekonomi yang makin mengglobal. Di Amerika Serikat, aktivitas merger dan akuisisi merupakan hal yang biasa terjadi. Bahkan di era 1980an telah terjadi kira-kira 55.000 aktivitas sehingga tahun 1980an sering disebut sebagai dekade merger mania (Hitt, 2002). Sementara di Indonesia aktivitas merger dan akuisisi mulai marak dilakukan seiring dengan majunya pasar modal di Indonesia. Beberapa contoh perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang melakukan merger dan akuisisi adalah PT Semen Gresik yang mengakuisisi PT Semen Padang, PT Gudang Garam merger dengan PT Surya Pamenang dan PT Nutricia yang mengakuisisi PT Sari Husada. Alasan perusahaan lebih tertarik memilih merger dan akuisisi sebagai strateginya daripada pertumbuhan internal adalah karena merger dan akuisisi dianggap jalan cepat untuk mewujudkan tujuan perusahaan di mana perusahaan tidak perlu memulai dari awal suatu bisnis baru. Merger dan akuisisi juga dianggap dapat menciptakan sinergi, yaitu nilai keseluruhan perusahaaan setelah merger dan akuisisi yang lebih besar daripada penjumlahan nilai masing-masing perusahaan sebelum merger dan akuisisi. Selain itu merger dan akuisisi dapat memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan antara lain peningkatan kemampuan dalam pemasaran, riset, skill manajerial, transfer teknologi, dan efisiensi berupa penurunan biaya produksi (Hitt, 2002).
Perubahan-perubahan yang terjadi setelah perusahan melakukan merger dan akuisisi biasanya akan tampak pada kinerja perusahaan dan penampilan finansialnya. Pasca merger dan akuisisi kondisi dan posisi keuangan perusahaan mengalami perubahan dan hal ini tercermin dalam laporan keuangan perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi. Untuk menilai bagaimana keberhasilan merger dan akuisisi yang dilakukan, dapat dilihat dari kinerja perusahaan setelah melakukan merger dan akuisisi terutama kinerja keuangan baik bagi perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan diakuisisi. Dasar logika dari pengukuran berdasar akuntansi adalah bahwa jika skala bertambah besar ditambah dengan sinergi yang dihasilkan dari gabungan aktivitas-aktivitas yang simultan, maka laba perusahaan juga semakin meningkat sehingga kinerja perusahaan pasca merger dan akuisisi seharusnya semakin baik dibandingkan dengan sebelum merger dan akuisisi.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah sebelumnya, maka peneliti merumuskan masalah yaitu apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi pada perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan diakuisisi? Berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kinerja keuangan antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi pada perusahaan pengakuisisi dan perusahaan yang diakuisisi.

2. Tinjauan Pustaka

2.1 Merger dan Akuisisi

Dalam bahasa akuntansi, peristiwa merger dan akuisisi disebut sebagai kombinasi bisnis (business combination) yang didefinisikan sebagai penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi. Penekanannya adalah dalam penggabungan bisnis ini akuntansi tidak memandang apakah penggabungan tersebut merupakan merger dan akuisisi, kecuali dalam definisi. Menurut Baker (2005), merger statutori (statutory merger-atau cukup disebut merger) adalah “jenis penggabungan usaha di mana hanya satu dari perusahaan yang bergabung yang bertahan dan perusahaan lainnya dibubarkan”. Aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang diakuisisi dipindahkan ke perusahaan pengakuisisi, dan perusahaan yang diakuisisi dibubarkan atau dilikuidasi. Setelah merger, operasi dari perusahaan yang dulunya terpisah sekarang berada di bawah satu entitas. Akuisisi dalam teminologi bisnis menurut Moin (2003) diartikan sebagai “pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas saham atau aset suatu perusahaan oleh perusahaan lain, dan dalam peristiwa ini, baik perusahaan pengambilalih atau yang diambil alih tetap eksis sebagai badan hukum yang terpisah”.

2.2 Motif Merger dan Akuisisi

Pada prinsipnya terdapat dua motif yang mendorong sebuah perusahaan melakukan merger dan akuisisi yaitu motif ekonomi dan motif non-ekonomi. Motif ekonomi berkaitan dengan esensi tujuan perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan atau memaksimumkan kemakmuran pemegang saham. Di sisi lain, motif non ekonomi adalah motif yang bukan didasarkan pada esensi tujuan perusahaan tersebut, tetapi didasarkan pada keinginan subyektif atau ambisi pribadi pemilik atau manajemen perusahaan (Moin, 2003).

2.3 Keunggulan dan Kelemahan Aktivitas Merger dan Akuisisi

Alasan mengapa perusahaan melakukan merger adalah ada “manfaat lebih” yang diperoleh darinya, meskipun asumsi ini tidak semuanya terbukti. Secara spesifik menurut Moin (2003), keunggulan dan manfaat merger dan akuisisi adalah mendapatkan cashflow dengan cepat karena produk dan pasar sudah jelas serta pelanggan yang telah mapan sehingga dapat mengurangi resiko kegagalan bisnis. Selain itu, aktivitas merger dan akuisisi menghemat waktu bagi perusahaan untuk memasuki bisnis baru tanpa harus merintis dari awal dan memperoleh kemudahan dana karena kreditor lebih percaya pada perusahaan yang telah berdiri dan mapan
Disamping memiliki keunggulan, Moin (2003) juga mengemukakan kelemahan merger dan akuisisi diantaranya adalah proses integrasi yang tidak mudah karena sulit untuk menentukan nilai perusahaan target secara akurat, biaya konsultan dan koordinasi untuk melakukan merger dan akuisisi yang mahal serta merger dan akuisisi tidak dapat menjamin peningkatan nilai perusahaan dan kemakmuran pemegang saham.

2.4 Tipe-Tipe Merger dan Akuisisi

Menurut Moin (2003), merger dan akuisisi berdasarkan aktivitas ekonomi dapat diklasifikasikan dalam lima tipe yaitu merger horisontal, vertikal, konglomerat, ekstensi pasar dan ekstensi produk.
1. Merger horizontal adalah merger antara dua atau lebih perusahaan yang bergerak dalam industri yang sama. Sebelum terjadi merger perusahaan-perusahaan ini bersaing satu sama lain dalam pasar/industri yang sama.
2. Merger vertikal adalah integrasi yang melibatkan perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam tahapan-tahapan proses produksi atau operasi.
3. Merger konglomerat adalah merger dua atau lebih perusahaan yang masing-masing bergerak dalam industri yang tidak terkait.
4. Merger ekstensi pasar adalah merger yang dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan untuk secara bersama-bersama memperluas area pasar.
5. Merger ekstensi produk adalah merger yang dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan untuk memperluas lini produk masing-masing perusahaan.

2.5 Faktor-faktor Keberhasilan dan Kegagalan Merger dan Akuisisi
Keberhasilan atau kegagalan suatu merger dan akuisisi sangat bergantung pada ketepatan analisis dan penelitian yang menyeluruh terhadap faktor-faktor penyelaras atau kompatibilitas antara organisasi yang akan bergabung. Hitt (2002) mengemukakan beberapa konsep penting yang mengarah pada keberhasilan atau kegagalan dalam merger dan akuisisi diantaranya uji tuntas (due diligance), pembiayaan, sumber-sumber daya komplementer, akuisisi bersahabat/tidak bersahabat, penciptan sinergi pembelajaran organisasional dan fokus pada bisnis inti.

2.6 Kinerja Keuangan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), kinerja diartikan sebagai “sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, kemampuan kerja (tentang peralatan)”. Berdasarkan pengertian tersebut kinerja keuangan didefinisikan sebagai prestasi manajemen, dalam hal ini manajemen keuangan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu menghasilkan keuntungan dan meningkatkan nilai perusahaan. Analisis kinerja keuangan dalam penelitian ini bertujuan untuk menilai implementasi strategi perusahaan dalam hal merger dan akuisisi.

2.7 Metode Analisis Kinerja Keuangan dengan Rasio Keuangan

Analisis rasio keuangan merupakan metode umum yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan di bidang keuangan. Rasio merupakan alat yang memperbandingkan suatu hal dengan hal lainnya sehingga dapat menunjukkan hubungan atau korelasi dari suatu laporan finansial berupa neraca dan laporan laba rugi. Jenis rasio yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari rasio likuiditas, aktivitas, leverage dan profitabilitas.
1. Rasio Likuiditas. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial yang jatuh tempo dalam jangka pendek. Ukuran likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah current ratio dan quick ratio.
2. Rasio Aktivitas. Rasio aktivitas dihitung dari perbandingan antara tingkat penjualan dengan berbagai elemen aktiva. Rasio ini mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola aktivanya. Rasio aktivitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah fixed asset ratio dan total asset ratio.
3. Rasio Leverage. Rasio leverage dihitung dari perbandingan hutang dengan total aktiva dan modal sendiri perusahaan. Rasio ini menyangkut jaminan, yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar hutang bila pada suatu saat perusahaan dilikuidasi atau dibubarkan. Dengan kata lain rasio ini mengukur seberapa besar perusahaan menggunakan dana dari pihak luar atau kreditor. Rasio leverage yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari debt to total asset ratio dan debt to total equity ratio.
4. Rasio Profitabilitas. Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Rasio ini membantu perusahaan dalam mengontrol penerimaannya. Rasio-rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari operating profit margin, net profit margin, return on investment dan return on equity.

2.8 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan sintesis dari landasan teori dan tinjauan penelitian terdahulu. Perusahaan di BEI yang melakukan merger dan akuisisi dibedakan menjadi perusahaan pengakuisisi dan perusahaan diakuisi. Keberhasilan perusahaan dalam melakukan merger dan akuisisi dapat dilihat dari kinerja perusahaan tersebut, terutama kinerja keuangan baik bagi perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan diakuisisi. Perubahan-perubahan yang terjadi setelah perusahan melakukan merger dan akuisisi biasanya akan tampak pada kinerja perusahaan dan penampilan finansialnya. Pasca merger dan akuisisi kondisi dan posisi keuangan perusahaan mengalami perubahan dan hal ini tercermin dalam laporan keuangan perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi. Seperti telah diuraikan sebelumnya perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi didasari pada motivasi mencapai sinergi yaitu nilai keseluruhan perusahaaan setelah merger dan akuisisi yang lebih besar daripada penjumlahan nilai masing-masing perusahaan sebelum merger dan akuisisi di mana manfaat ekstra atas sinergi ini tidak bisa diperoleh seandainya perusahaan-perusahaan tersebut bekerja secara terpisah. Dasar logika dari pengukuran berdasar akuntansi adalah bahwa jika skala bertambah besar ditambah dengan sinergi yang dihasilkan dari gabungan aktivitas-aktivitas yang simultan, maka laba perusahaan juga semakin meningkat sehingga kinerja perusahaan pasca merger dan akuisisi seharusnya semakin baik dibandingkan dengan sebelum merger dan akuisisi. Hal ini dapat dilihat dari kinerja keuangan perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi baik perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan diakuisisi dengan membandingkan kinerja keuangan perusahaan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi. Kerangka konseptual yang dibuat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Emiten di
BEI
Merger dan Akuisisi
Perusahaan Pengakuisisi
Perusahaan Diakuisisi

Sebelum
M&A
Sesudah
M&A
Sebelum
M&A

Sesudah
M&A

Kinerja Keuangan
Kinerja Keuangan

dibandingkan dibandingkan

2.9 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka koseptual yang dibuat, maka hipotesisnya adalah terdapat perbedaan kinerja keuangan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi pada perusahaan pengakuisisi dan perusahaan yang diakuisisi.

3. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian komparatif. Menurut Sugiyono (2006), ”penelitian komparatif adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan”. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) kecuali jenis perusahaan perbankan dan keuangan lainnya dengan rentang waktu antara tahun 1999-2008 yang melakukan merger dan akuisisi pada periode 2001-2005. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono,2006). Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan judgement sampling di mana penarikan sampel dengan pertimbangan tertentu yang didasarkan pada tujuan penelitian. Sampel dibedakan menjadi dua yaitu perusahaan pengakuisisi dan perusahaan diakuisisi. Sampel perusahaan dipilih berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut :
a. emiten yang melakukan merger dan akuisisi selama periode tahun 2001-2005 yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan memiliki keterangan perusahaan target dan waktu yang jelas kapan merger dan akuisisi tersebut dilakukan. Untuk perusahaan yang mengakuisisi harus terdapat kepemilikan saham mayoritas (lebih dari 50%) begitu juga bagi perusahaan diakuisisi harus mengalami peralihan kepemilikan berupa perpindahan kepemilikan saham lebih dari 50 persen saham (diakuisisi) oleh perusahaan lain.
b. emiten memiliki data laporan keuangan secara lengkap untuk masa dua tahun sebelum hingga dua tahun sesudah merger dan akuisisi yaitu dari tahun 1999 sampai 2007.
c. emiten tidak pernah mengalami delisting selama periode tersebut.
Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut di atas, akhirnya diperoleh 30 perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi selama periode 2001-2005 yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini, di mana sebanyak 16 perusahaan merupakan perusahaan pengakuisisi dan 14 perusahaan merupakan perusahaan diakuisisi.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian (Hadi, 2006). Sumber data adalah Laporan Keuangan perusahaan sampel berasal dari buku Indonesian Capital Market Directory dan dari www.idx.co.id.
Rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi rasio likuiditas (current ratio dan quick ratio), rasio aktivitas (fixed asset turnover dan total asset turnover), rasio leverage (debt to total asset dan debt to equity ratio) dan rasio profitabilitas (operating profit, net profit margin, return on investment dan return on equity).

4. Metode Analisis Data

4.1 Uji Normalitas Data

Metode analisis data yang digunakan pengujian hipotesis adalah metode uji t- test sampel berpasangan (paired sample t-test) dengan menggunakan bantuan Software SPSS for Windows. Sebelum dilakukan pengujian terhadap hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data Kolmogorov-Smirnov untuk melihat apakah data terdistribusi secara normal atau tidak. Apabila nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 maka data dinyatakan normal, sedangkan jika nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05 maka data terdistribusi tidak normal. Jika data tidak terdistribusi secara normal, maka pengujian hipotesisnya menggunakan uji data berperingkat Wilcoxon. Berdasarkan hasil uji statistik ditemukan bahwa pada perusahaan pengakuisisi terdapat dua rasio yang terdistribusi secara tidak normal yaitu DER dan ROE karena nilai signifikansinya lebih kecil dari 0.05 sedangkan rasio lainnya terdistribusi normal. Sementara pada perusahaan diakuisisi empat rasio yang terdistribusi tidak normal yaitu FAT, NPM, ROI dan ROE karena tingkat signifikansi lebih kecil dari 0.05, sedangkan rasio lainnya terdistribusi normal karena tingkat signifikansinya lebih besar dari 0.05.

4.2 Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis yang digunakan adalah uji t-test sampel berpasangan jika data terdistribusi secara normal dan menggunakan uji data berperingkat Wilcoxon jika data tidak terdistribusi secara normal. Kriteria pengambilan keputusan untuk pengujian hipotesis adalah jika probabilitas atau Sig. > 0.05, maka hipotesis ditolak dan jika probabilitas atau Sig.0.05 yang berarti tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan perusahaan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi. Sementara pada perusahaan diakuisisi terdapat tiga rasio yang memiliki nilai Sig.0.05.

4.3 Pembahasan Hasil Analisis

Berdasarkan hasil uji signifikansi pada perusahaan pengakuisisi ditemukan bahwa rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio leverage dan rasio profitabilitas tidak menunjukkan adanya perbedaan sebelum dengan sesudah merger dan akuisisi. Sementara pada perusahaan diakuisisi terdapat tiga rasio yang menunjukkan adanya perbedaan kinerja keuangan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi yaitu rasio likuiditas (current ratio dan quick ratio) serta rasio aktivitas yaitu total asset turnover sementara rasio lainnya tidak menunjukkan adanya perbedaan kinerja keuangan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi karena memiliki nilai Sig.>0.05.
5. Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan

Dari hasil pengujian terhadap hipotesis diketahui bahwa seluruh rasio yang diteliti menunjukkan tidak adanya perbedaan kinerja keuangan sebelum dengan sesudah merger dan akuisisi pada perusahaan pengakuisisi dan walaupun terdapat beberapa rasio yang menunjukkan perbedaan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi pada perusahaan diakuisisi namun belum dapat mewakili rasio secara keseluruhan untuk menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kinerja keuangan sebelum dengan sesudah merger dan akuisisi pada perusahaan perusahaan diakuisisi. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan antara kinerja keuangan sebelum dengan sesudah merger dan akuisisi baik pada perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan diakuisisi dan menolak hipotesis yang diajukan sebelumnya. Hal ini diduga karena merger dan akuisisi tidak menimbulkan sinergi bagi perusahaan baik perusahaan pengakusisi maupun perusahaan diakuisisi yang kemungkinan disebabkan lemahnya strategi yang dilakukan, pemilihan perusahaan target yang kurang tepat, perusahaan pengakuisisi kurang pengalaman dalam melakukan merger dan akuisisi dan adanya faktor non ekonomis yaitu untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.

5.2 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan-keterbatasan tersebut antara lain:
1. penelitian ini hanya menggunakan rasio-rasio keuangan sebagai alat untuk menilai kinerja perusahaan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi.
2. periode pengamatan dalam penelitian ini terbatas karena hanya mencakup perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi pada tahun 2001-2005 dengan data keuangan perusahaan tahun 1999-2007.

5.3 Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mencoba memberikan saran baik bagi peneliti selanjutnya, manajemen perusahaan dan investor.
1. penelitian kedepan dapat melakukan penelitian yang sama dengan menambah alat ukur dalam menilai kinerja perusahaan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi serta memperluas jumlah observasi dengan periode waktu yang lebih lama.
2. bagi manajemen perusahaan lebih mempertimbangkan secara matang dalam mengambil keputusan merger dan akuisisi dengan memilih secara tepat perusahaan yang akan dijadikan target merger dan akuisisi.
3. bagi investor lebih berhati-hati dalam menyikapi merger dan akuisisi yang dilakukan perusahaan.

REFERENCES

Adiguna, Taufan, 2000. “Perbedaan Profitabilitas Sebelum dan Sesudah Akuisisi Untuk Badan Usaha Go-Public di Bursa Efek Surabaya yang Melakukan Akuisisi tahun 1997”. Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra, Surabaya.
Admin, 2008. “Analisis Efisiensi Kinerja Keuangan Perusahaan Sebelum dan Sesudah Merger dan Akuisisi”, Artikel Akuntansi, hal 1-4.
Baker, E. Richard, 2005. Advanced Financial Accounting, Alih Bahasa Sylvia Veronica N.P. Siregar, Akuntansi Keuangan Lanjutan, Edisi Enam, Buku I, Salemba Empat, Jakarta.
Brigham, Eugene F., Joel F. Houston, 2001. Fundamentals Of Financial Management, Eight Edition, Alih Bahasa Herman Wibowo, Manajemen Keuangan, Edisi Kedelapan, Jilid II, Erlangga, Jakarta.
David, Fred R, 2006. Concepts of Strategic Management, Alih Bahasa Paulyn Sulistio dan Harryadin Mahardika, Manajemen Strategis Konsep Edisi Sepuluh, Buku I, PT Salemba Empat, Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi 2, Cetakan I, Balai Pustaka, Jakarta.
Ghozali, Imam, 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Edisi 3, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Hadi, Syamsull, 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Akuntansi & Keuangan, Edisi Kedua, Ekonisia, Jakarta.
Hadiningsih, Murni 2007. “Analisis Dampak Jangka Panjang Merger dan Akuisisi Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Pengakuisisi dan Perusahaan Diakuisisi di BEJ”. Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Islam Yogyakarta.
Hitt, A. Michael, 2002. Merger dan Akuisisi: Panduan Meraih Laba Bagi Para Pemegang Saham, Edisi 1, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Institute for Economic and Financial Research, 2002-2007. Indonesian Capital Market Directory, Jakarta.
Jogiyanto, 1998. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi 1, Jilid 1, BPFE, Yogyakarta.
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, 2004. Buku Petunjuk Teknis Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi USU, Medan.
Koesmianto, 2007. “Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Go-Public Yang Melakukan Akuisisi Pada Tahun 2000-2004”, Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra, Surabaya.
Moin, Abdul, 2003. Merger, Akuisisi dan Divestasi, Jilid 1, Ekonisia, Yogyakarta.
Morris, Joseph M., 2000. Mergers and Acquisitions, Business Strategies for Accountants, JohnWiley & Sons, Inc., New York
Payamta, dan Setiawan, 2004. “Analisis Pengaruh Merger dan Akuisisi Terhadap Kinerja Perusahaan Publik di Indonesia”, Riset Akuntansi Indonesia, Volume 7 Nomor 3 (September), 265-282.

Samosir, P. Agunan, 2003. “Analisis Kinerja Bank Mandiri Setelah Merger Dan Sebagai Bank Rekapitalisasi”, Kajian Ekonomi dan Keuangan, Volume 7 Nomor 1 (Maret).
Setianingrum (1997). Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Go-Public Sebelum dan Sesudah Merger dan Akuisisi pada 1997 di Bursa Efek Jakarta. Artikel Akuntansi, hal ii.
Sugiyono, 2005. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan kedelapan, CV. Alfabeta, Bandung.
Widjanarko, 2006. “Merger, Akuisisi Dan Kinerja Perusahaan Studi Atas Perusahaan Manufaktur Tahun 1998-2002”, Utilitas, Volume 14 Nomor 1 (Januari), hal 39-49.
Wild, John, K.R. Subramanyan, and Robert F. Hall, Daksey, 2005. Financial Statement Analysis, Alih Bahasa Yanivi Bachtiar, Analisis Laporan Keuangan, Edisi Delapan, Buku I, PT Salemba Empat, Jakarta.
Jurnal 16

dari :

http://akuntansi.usu.ac.id/

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image