Kesulitan Belajar Pada Anak – Dyslexia

Kesulitan Belajar Pada Anak – Dyslexia

Saat anak memasuki jenjang sekolah dasar merupakan salah satu momen istimewa bagi anak itu sendiri dan juga bagi orang tuanya. Sistem belajar yang sudah mulai “serius” membawa kita pada nuansa berbeda saat anak lepas dari Taman Kanak Kanak dan memasuki dunia barunya di Sekolah Dasar.

Saat anak memasuki jenjang sekolah dasar merupakan salah satu momen istimewa bagi anak itu sendiri dan juga bagi orang tuanya. Sistem belajar yang sudah mulai “serius” membawa kita pada nuansa berbeda saat anak lepas dari Taman Kanak Kanak dan memasuki dunia barunya di Sekolah Dasar. Seiring dengan itu, sebagian orang tua dan guru mendapatkan beberapa masalah terjadi pada anak muridnya, baik itu masalah interaksi sosial dan kemandirian dimana anak masih mengalami periode transisi dari keadaan di TK yang banyak didampingi, ke SD yang lebih mandiri; ataupun masalah kesulitan belajar yang dialami anak-anak. Sejauh mana kesulitan belajar pada anak-anak harus kita cermati dan bagaimana intervensinya agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar kelak? Apakah ini yang disebut sebagai “dyslexia”atau kesulitan belajar spesifik? Mari kita simak penjabaran di bawah ini.
Istilah “kesulitan belajar” secara umum diterapkan pada keadaan dimana kesulitan belajar yang ditemui disandang oleh individu yang memang mengalami gangguan neurologis / gangguan perkembangan seperti Autis, tuna grahita, Down Syndrome, gangguan dengar berat, gangguan penglihatan berat, cerebral palsy, dan sindrom-sindrom lainnya. Kesulitan belajar terjadi pada individu dengan tingkat intelegensi yang memang di bawah rata-rata, sehingga sesungguhnya kesulitan tersebut merupakan hal yang”wajar” dan sudah dapat diprediksikan sebelumnya. Anak anak yang tergolong mengalami kesulitan belajar sebaiknya dicermati dengan seksama dan dicari gangguan perkembangan yang mendasarinya, serta perlu dipastikan tingkat kognisinya agar kita dapat menentukan kurikulum pendidikan yang pas untuknya.
Terminologi lain yang sering tertukar pengertiannya dengan “kesulitan belajar” adalah “kesulitan belajar spesifik” atau dikenal sebagai “dyslexia”. Dyslexia berasal dari bahasa Greek yaitu “dys” berarti kesulitan, dan “lexis” yang berarti bahasa, sehingga dyslexia bermakna sebagai kesulitan belajar spesifik berupa kesulitan membaca, mengeja, dan menulis, yang tidak sebanding dengan tingkat intelegensinya karena dyslexia justru terjadi pada anak yang mempunyai riwayat perkembangan normal dan tingkat kecerdasan yang normal, bahkan di atas rata-rata. Dyslexia terjadi karena adanya perbedaan cara pengolahan input bahasa/symbol pada otak penyandang dyslexia dibandingkan dengan otak anak yang bukan penyandang dyslexia. Hal ini berakibat individu penyandang dyslexia melakukan proses pembelajaran yang berbeda dari individu lainnya yang tidak dyslexia. Penelitian terkini membuktikan bahwa dyslexia merupakan suatu keadaan yang diturunkan (bersifat herediter) dan terdapat faktor gen tertentu yang bertanggung jawab atas terjadinya keadaan ini. Dyslexia biasanya ditunjukkan dengan kesulitan seorang anak terutama di area mengenal huruf, mengenal angka, membaca, menulis, mengeja, dan disertai dengan keluhan gangguan konsentrasi, serta mudah lupa.

Anak juga kerap menunjukkan sikap yang tidak bisa duduk tenang saat mengikuti pelajaran, duduk selonjoran atau bertumpu pada tangan, grasa-grusu sehingga menjatuhkan pensil atau buku yang ada di mejanya. Dyslexia tidak diakibatkan karena suatu kebodohan dan tidak disebabkan oleh latar belakang sosial ekonomi keluarga yang buruk, atau oleh paparan membaca yang kurang ataupun karena anak kurang motivasi belajar. Penyandang dyslexia juga biasanya mempunyai talenta khusus yang istimewa di bidang-bidang tertentu. Individu dewasa penyandang dyslexia yang dikenal luas berprestasi gemilang diantaranya adalah Leonardo da Vinci, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison dan mantan PM Singapur, Mr. Lee Kwan Yu.
Apa yang dapat kita lakukan bagi penyandang dyslexia?
Penyandang dyslexia membutuhkan remediasi yang intensif pada aspek baca tulis hitung yang menjadi area “kelemahannya” dengan teknik multi sensoris, artinya dalam proses belajar dibantu dengan dukungan visual (gambar), auditori (suara, lagu) dan kinestetik (gerakan, tekstur). Selain itu sekolah dapat melakukan berbagai akomodasi semisal memberikan kertas kerja yang ukuran hurufnya lebih besar dan jarak antar barisnya lebih jarang. Anak anak ini juga mungkin perlu didampingi saat menerima instruksi verbal karena sering salah menyimak sehingga salah mengerjakan instruksi. Pada beberapa keadaan, guru dapat merubah tes tulis menjadi tes lisan, atau menambah waktu yang dibutuhkan pada ujian tulis yang diberikan.
Penelitian terkini membuktikan bahwa penyandang dyslexia dapat “mengatasi” kesulitan belajarnya dengan lebih baik jika kesulitan belajar ini dikenali dan diintervensi lebih dini. Artinya, para guru dan orang tua serta professional terkait (dokter anak, psikolog, orthopedagog, dll) membutuhkan ketrampilan tambahan untuk dapat mengenali disleksia secara dini dan melakukan intervensi yang komprehensif bagi mereka, bahkan di usia sebelum memasuki sekolah dasar.

http://www.jendelaanakku.com/index.php?option=com_content&view=article&id=59:kesulitan-belajar-pada-anak-dyslexia-bukan&catid=1:perkembangan-anak-a-perilaku-anak&Itemid=50

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image