About the Author

author photo

Nama : Bemby Agustian , NPM : 10208241 , Kelas : 3EA10 ( superior class ) , email : bembyagus@gmail.com Contact : +62 856 9755 2992.. I really believe with my ability.. I love my friends & family.. competence, skill, idea, initiative, logical, optimist, spirit.. http://10208241.student.gunadarma.ac.id/kursus.html http://bembyagus.blogspot.com/ http://wartawarga.gunadarma.ac.id/author/bembyagustian/ http://twitter.com/bembyagus http://www.facebook.com/bemby.agustian.bemby

See All Posts by This Author

KETAHANAN NASIONAL

KETAHANAN NASIONAL

A. Latar Belakang

Setiap bangsa sudah pasti mempunyai cita-cita yang

ingin diwujudkan dalam hidup dan kehidupan nyata. Cita-cita itu

merupakan arahan dan atau tujuan yang sebenar-benarnya

dan mempunyai fungsi sebagai penentu arah dari tujuan

nasionalnya. Namun demikian, pencapaian cita-cita dan tujuan

nasional itu bukan sesuatu yang mudah diwujudkan karena

dalam perjalanannya kearah itu akan muncul energi baik yang

positif maupun negatif yang memaksa suatu bangsa untuk

mencari solusi terbaik, terarah, konsisten, efektif, dan efisien.

Energi positif bisa muncul dari dua situasi kondisi yaitu

dalam negeri dan luar negeri. Kedua situasi kondisi itu akan

menjadi motor dan stimulan untuk membangkitkan kesadaran

pada bangsa untuk membangun ketahanan nasional yang

holistik dan komprehensif. Di sisi lain, energi negatif juga akan

muncul dari dua situasi kondisi tadi, yang biasanya menjadi

penghambat dan rintangan untuk membangun ketahanan

nasional. Energi negatif biasanya muncul secara parsial tetapi

tidak bisa dipungkiri dalam banyak hal merupakan suatu produk

yang tersistem dan terstruktur dengan rapi dalam sistem

operasional yang memakan waktu lama.

Energi positif tersebut diatas dalam banyak wacana

biasanya disebut dengan daya dan upaya penguatan

pembangunan suatu bangsa dalam rangka mencapai cita-cita

dan tujuan nasionalnya. Sementara itu, energi negatif

cenderung untuk menghambat dengan tujuan akhir

melemahkan bahkan menghancurkan suatu bangsa.

Kemampuan, kekuatan, ketangguhan dan keuletan

sebuah bangsa melemahkan dan atau menghancurkan setiap

tantangan, ancaman, rintangan dan gangguan itulah yang yang

disebut dengan Ketahanan Nasional. Oleh karena itu,

ketahanan nasional mutlak senantiasa untuk dibina dan

dibangun serta ditumbuhkembangkan secara terus-menerus

dengan simultan dalam upaya mempertahankan hidup dan

kehidupan bangsa. Lebih jauh dari itu adalah makin tinggi

tingkat ketahanan nasional suatu bangsa maka makin kuat pula

posisi bangsa itu dalam pergaulan dunia.

Bangsa dan negara Indonesia sejak proklamasi pada

tanggal 17 Agustus 1945 pun tidak lepas dan luput dari

persoalan yang berkaitan dengan ketahanan nasional karena

dalam perjalanan sejarahnya, Negara Kesatuan Republik

Indonesia mengalami pasang surut dalam menjaga eksistensi

dan kelangsungan hidup sebagai sebuah bangsa dan negara

yang merdeka dan berdaulat. Apabila dilihat dari geopolitik dan

geostrategi yang kemudian dikaitkan dengan potensi-potensi

yang dimilikinya maka bangsa Indonesia berada pada posisi

yang rawan dengan instabilitas nasional yang diakibatkan dari

berbagai kepentingan seperti persaingan dan atau perebutan

pengaruh baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Hal itu

sudah dipastikan akan memberikan dampak bagi hidup dan

kehidupan bangsa dan negara Indonesia dalam jangka pendek

maupun jangka panjang.

Indonesia adalah negara yang bersandar pada kekuatan

hukum sehingga kekuasaan dan penyelenggaraan hidup dan

kehidupan kenegaraan diatur oleh hukum yang berlaku. Dengan

kata lain, hukum sebagai pranata sosial disusun untuk

kepentingan seluruh rakyat dan bangsa yaitu menjaga

ketertiban bagi seluruh rakyatnya. Kondisi kehidupan nasional

itu menjadi salah satu kekuatan ketahanan nasional karena

adanya jaminan kekuasaan hukum bagi semua pihak yang ada

di Indonesia dan lebih jauh daripada itu adalah menjadi cermin

bagaimana rakyat Indonesia mampu untuk tumbuh dan

berkembang dalam suatu wilayah yang menempatkan hukum

sebagai asas berbangsa dan bernegara dengan menyandarkan

pada kepentingan dan aspirasi rakyat.

B. Pokok-Pokok Pikiran

Upaya pencapaian ketahanan nasional sebagai pijakan

tujuan nasional yang disepakati bersama didasarkan pada

pokok-pokok pikiran berikut :

1. Manusia Berbudaya

Manusia adalah mahluk Tuhan yang pertama-tama

berusaha menjaga, mempertahankan eksistensi dan

kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, manusia berusaha

memenuhi kebutuhan hidupnya dari yang paling pokok sampai

yang paling mutakhir baik yang bersifat materi maupun

kejiwaan.

Manusia dikatakan mahluk Tuhan yang sempurna karena

memiliki naluri, kemampuan berpikir, akal dan berbagai

ketrampilan, senantiasa berjuang. Untuk keperluan itu maka

manusia hidup berkelompok (homo socius) dan menghuni suatu

wilayah tertentu yang dibinanya dengan kemampuan dan

kekuasaannya (zoon politicon). Oleh karena itu, manusia

berbudaya senantiasa selalu mengadakan hubungan-hubungan

sebagai berikut :

a. Manusia dengan Tuhan dinamakan

Agama/Kepercayaan

b. Manusia dengan cita-cita dinamakan Ideologi

c. Manusia dengan kekuatan/kekuasaan dinamakan

Politik

d. Manusia dengan pemenuhan kebutuhan dinamakan

Ekonomi

e. Manusia dengan penguasaan/pemanfaatan alam

dinamakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

f. Manusia dengan manusia dinamakan Sosial

g. Manusia dengan rasa Keindahan dinamakan

Seni/Budaya

h. Manusia dengan rasa aman dinamakan Pertahanan

dan Keamanan

Dari uraian tersebut di atas diperoleh suatu kesimpulan

bahwa manusia bermasyarakat untuk mendapatkan kebutuhan

hidupnya yaitu kesejahteraan, keselamatan dan keamanan.

Ketiga hal itu adalah hakekat dari ketahanan nasional yang

mencakup dan meliputi kehidupan nasional yaitu aspek alamiah

dan aspek sosial/kemasyarakatan sebagai berikut :

Aspek alamiah adalah :

a. Posisi dan lokasi geografi negara

b. Keadaan dan kekayaan alam

c. Keadaan dan kemampuan penduduk

Aspek sosial/kemasyarakatan adalah :

a. Ideologi

b. Politik

c. Sosial

d. Budaya

e. Pertahanan dan Keamanan

Aspek alamiah bersifat statis dan sering disebut dengan

istilah Trigatra, sedangkan aspek sosial/kemasyarakatan

bersifat dinamis disebut juga dengan istilah Pancagatra. Kedua

aspek itu biasanya disebut dengan Astagatra. Aspek-aspek di

atas mempunyai hubungan timbal balik antargatra yang sangat

erat yang disebut dengan istilah keterhubungan (korelasi) dan

ketergantungan (interdependensi).

2. Tujuan Nasional, Falsafah Bangsa dan Ideologi

Negara

Tujuan nasional menjadi pokok pikiran dalam ketahanan

nasional karena suatu organisasi apapun bentuknya dalam

proses kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah

ditetapkannya akan selalu berhadapan dengan masalahmasalah

yang internal dan ekternal, demikian pula dengan

negara dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu, dibutuhkan

suatu situasi dan kondisi yang siap untuk menghadapinya.

Untuk Indonesia, falsafah dan ideologi menjadi pokok

pikiran ketahanan nasional diperoleh dari Pembukaan UUD

1945 yang berbunyi sebagai berikut :

a. Alinea Pertama, menyebutkan bahwa ”sesungguhnya

kemerdekaan itu hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka

penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak

sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”

mempunyai makna : ”merdeka adalah hak semua bangsa”,

”penjajahan bertentangan dengan hak asasi manusia”.

b. Alinea Kedua, menyebutkan ”dan perjuangan kemerdekaan

Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia

dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke

depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang

merdeka, berdaulat adil dan makmur” mempunyai makna :

”adanya masa depan yang harus diraih (cita-cita).

c. Alinea Ketiga, menyebutkan ”atas berkat rahmat Tuhan Yang

Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur

supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat

Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”

mempunyai makna :”bila negara ingin mencapai cita-cita

maka kehidupan berbangsa dan bernegara harus mendapat

ridho Allah yang merupakan dorongan spiritual”

d. Alinea Keempat, menyebutkan ”kemerdekaan dari pada itu

untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia

yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh

tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan

kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa dan

ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan

kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka

disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam

susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan

rakyat dan berdasarkan kepada : Ketuhanan Yang Maha

Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan

Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat

kebijaksanaan dalam permusyawatan/perwakilan, serta

dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat

Indonesia”. Alinea itu mempunyai makna yaitu mempertegas

cita-cita yang harus dicapai oleh bangsa Indonesia melalui

wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

C. Pengertian Ketahanan Nasional Indonesia

Ketahanan Nasional pastinya mempunyai rumusan

dengan pengertian yang baku dalam upayanya menghadapi

dinamika perkembangan dunia dari masa ke masa. Kepastian

itu menjadi keharusan karena dipakai sebagai titik dasar atau

titik tolak untuk gerak implemetasi/penerapan di dalam hidup

dan kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.

Pengertian baku Ketahanan Nasional bangsa Indonesia

adalah kondisi dinamik bangsa Indonesia yang meliputi segenap

aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan

ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan

kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala

tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan baik yang

datang dari luar maupun dari dalam untuk menjamin identitas ,

integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta

perjuangan mencapai tujuan nasionalnya.

Oleh karena itu, Ketahanan Nasional adalah kondisi

hidup dan kehidupan nasional yang harus senantiasa

diwujudkan dan dibina secara terus-menerus serta sinergik. Hal

demikian itu, dimulai dari lingkungan terkecil yaitu diri pribadi,

keluarga, masyarakat, bangsa dan negara dengan modal dasar

keuletan dan ketangguhan yang mampu mengembangkan

kekuatan nasional. Proses berkelanjutan itu harus selalu

didasari oleh pemikiran geopolitik dan geostrategi sebagai

sebuah konsepsi yang dirancang dan dirumuskan dengan

memperhatikan konstelasi yang ada disekitar Indonesia.

Konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia adalah konsepsi

pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan

penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang,

serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh,

menyeluruh dan terpadu berlandaskan Pancasila, UUD 1945

dan Wawasan Nusantara. Dengan kata lain, konsepsi

Ketahanan Nasional Indonesia merupakan pedoman (sarana)

untuk meningkatkan (metode) keuletan dan ketangguhan

bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan

kekuatan nasional, dengan pendekatan kesejahteraan dan

keamanan.

Kesejahteraan dapat digambarkan sebagai kemampuan

bangsa dalam menumbuhkembangkan nilai-nilai nasionalnya,

demi sebesar-besar kemakmuran yang adil dan merata,

rohaniah dan jasmaniah. Sementara itu, keamanan adalah

kemampuan bangsa dan negara untuk melindungi nilai-nilai

nasionalnya terhadap ancaman dari luar maupun dari dalam.

Hakikat Ketahanan Nasional Indonesia adalah keuletan

dan ketangguhan bangsa yang mengandung kemampuan

mengambangkan kekuatan nasional untuk dapat menjamin

kelangsungan hidup bangsa dan negara dalam mencapai tujuan

nasional.

Hakikat konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia adalah

pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan

secara seimbang , serasi dan selaras dalam aspek hidup dan

kehidupan nasional.

D. Asas-Asas Ketahanan Nasional Indonesia

Asas Ketahanan Nasional Indonesia adalah tata laku

yang didasari nilai-nilai yang tersusun berlandaskan Pancasila,

UUD 1945 dan Wawasan Nasional yang terdiri dari :

1. Asas Kesejahteraan dan Keamanan

Kesejahteraan dan keamanan dapat dibedakan tetapi

tidak dapat dipisahkan dan merupakan kebutuhan manusia

yang mendasar dan esensial, baik sebagai perorangan maupun

kelompok dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan

bernegara. Dengan demikian kesejahteraan dan keamanan

merupakan asas dalam sistem kehidupan nasional dan

merupakan nilai intrinsik yang ada padanya. Dalam realisasinya

kondisi kesejahteraan dan keamanan dapat dicapai dengan

menitikberatkan pada kesejahteraan tetapi tidak mengabaikan

keamanan. Sebaliknya memberikan prioritas pada keamanan

tidak boleh mengabaikan kesejahteraan. Oleh karena itu,

keduanya harus selalu ada, berdampingan pada kondisi apapun

sebab keduanya merupakan salah satu parameter tingkat

ketahanan nasional sebuah bangsa dan negara.

2. Asas komprehensif intergral atau menyeluruh terpadu

Sistem kehidupan nasional mencakup segenap aspek

kehidupan bangsa secara utuh menyeluruh dan terpadu dalam

bentuk perwujudan persatuan dan perpaduan yang seimbang,

serasi dan selaras dari seluruh aspek kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian,

ketahanan nasional mencakup ketahanan segenap aspek

kehidupan bangsa secara utuh, menyeluruh dan terpadu

(komprehensif integral)

3. Asas mawas ke dalam dan mawas ke luar

Sistem kehidupan nasional merupakan perpaduan

segenap aspek kehidupan bangsa yang saling berinteraksi.

Disamping itu, sistem kehidupan nasional juga berinteraksi

dengan lingkungan sekelilingnya. Dalam prosesnya dapat timbul

berbagai dampak baik yang bersifat positif maupun negatif.

Untuk itu diperlukan sikap mawas ke dalam dan ke luar.

a. Mawas ke dalam

Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat

dan kondisi kehidupan nasional itu sendiri berdasarkan nilainilai

kemandirian yang proporsional untuk meningkatkan

kualitas derajat kemandirian bangsa yang ulet dan tangguh.

Hal itu tidak berarti bahwa ketahanan nasional mengandung

sikap isolasi dan atau nasionalisme sempit (chauvinisme).

b. Mawas ke luar

Mawas ke luar bertujuan untuk dapat mengantisipasi dan

ikut berperan serta menghadapi dan mengatasi dampak

lingkungan strategis luar negeri, serta menerima kenyataan

adanya saling interaksi dan ketergantungan dengan dunia

internasional. Untuk menjamin kepentingan nasional,

kehidupan nasional harus mampu mengembangkan

kekuatan nasional, agar memberikan dampak keluar dalam

bentuk daya tangkal dan daya tawar. Namun demikian,

interaksi dengan pihak lain diutamakan dalam bentuk

kerjasama yang saling menguntungkan.

4. Asas kekeluargaan

Asas kekeluargaan mengandung keadilan, kearifan,

kebersamaan, kesamaan, gotong-royong, tenggang rasa dan

tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa

dan bernegara. Dalam asas ini diakui adanya perbedaan yang

harus dikembangkan secara serasi dalam hubungan kemitraan

serta dijaga agar tidak berkembang menjadi konflik yang bersifat

antagonistik yang saling menghancurkan.

E. Sifat Ketahanan Nasional Indonesia

Ketahanan nasional memiliki sifat yang terbentuk dari

nilai-nilai yang terkandung dalam landasan dan asas-asasnya,

yaitu :

1. Mandiri

Ketahanan nasional bersifat percaya pada

kemampuan dan kekuatan sendiri dengan keuletan dan

ketangguhan yang mengandung prinsip tidak mudah

menyerah serta bertumpu pada identitas , integritas dan

kepribadian bangsa. Kemandirian (independent) ini

merupakan prasyarat untuk menjalin kerjasama yang

saling menguntungkan dalam perkembangan global

(interdependent).

2. Dinamis

Ketahanan nasional tidaklah tetap melainkan

dapat meningkat dan atau menurun tergantung pada

situasi dan kondisi bangsa dan negara serta kondisi

lingkungan strategisnya. Hal ini sesuai dengan hakikat

dan pengertian bahwa segala sesuatu di dunia ini

senantiasa berubah dan perubahan itu senantiasa

berubah pula. Oleh karena itu, upaya peningkatan

ketahanan nasional harus selalu diorientasikan ke masa

depan dan dinamikanya diarahkan untuk pencapaian

kondisi kehidupan nasional yang lebih baik

3. Wibawa

Keberhasilan pembinaan ketahanan nasional

Indonesia secara berlanjut dan berkesinambungan akan

meningkatkan kemampuan dan kekuatan bangsa yang

dapat menjadi faktor yang diperhatikan pihak lain. Makin

tinggi tingkat ketahanan nasional Indonesia makin tinggi

pula nilai kewibawaan nasonal yang berarti makin tinggi

tingkat daya tangkal yang dimiliki bangsa dan negara

Indoesia.

4. Konsultasi dan kerjasama

Konsepsi ketahanan nasional Indonesia tidak

mengutamakan sikap konfrontatif dan antagonistis, tidak

mengandalkan kekuasaan dan kekuatan fisik semata

tetapi lebih pada sikap konsultatif dan kerjasama serta

saling menghargai dengan mengandalkan pada kekuatan

moral dan kepribadian bangsa.

F. Pengaruh Aspek Ketahanan Nasional Pada Kehidupan

Berbangsa dan Bernegara

Berdasarkan rumusan pengertian ketahanan nasional

dan kondisi kehidupan nasional Indonesia sesungguhnya

ketahanan nasional merupakan gambaran dari kondisi sistem

(tata) kehidupan nasional dalam berbagai aspek pada saat

tertentu. Tiap aspek didalam tata kehidupan nasional relatif

berubah menurut waktu, ruang dan lingkungan terutama pada

aspek-aspek dinamis sehingga interaksinya menciptakan

kondisi umum yang amat sulit dipantau, karena sangat

kompleks. Dalam rangka pemahaman dan pembinaan tata

kehidupan nasional itu diperlukan penyederhanaan tertentu dari

berbagai aspek kehidupan nasional dalam bentuk model yang

merupakan hasil pemetaan dari keadaan nyata, melalui suatu

kesepakatan dari hasil analisa mendalam yang dilandasi teori

hubungan antara manusia dengan Tuhan, dengan

manusia/masyarakat dan dengan lingkungan.

Berdasarkan pemahaman tentang hubungan tersebut

diperoleh gambaran bahwa konsepsi ketahanan nasional akan

menyangkut hubungan antar aspek yang mendukung

kehidupan yaitu :

1. aspek yang berkaitan dengan alamiah bersifat statis meliputi

aspek geografi, kependudukan, dan sumber daya alam

2. aspek yang berkaitan dengan sosial bersifat dinamis meliputi

aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam.

1. Pengaruh Aspek Ideologi

Ideologi adalah suatu sistem nilai yang merupakan

kebulatan ajaran yang memberikan motivasi. Dalam ideologi

juga terkandung konsep dasar tentang kehidupan yang dicitacitakan

oleh suatu bangsa. Keampuhan suatu ideologi

tergantung kepada rangkaian nilai yang dikandungnya yang

dapat memenuhi serta menjamin segala aspirasi hidup dan

kehidupan manusia baik sebagai perseorangan maupun

sebagai anggota masyarakat. Secara teori suatu ideologi

bersumber dari suatu aliran pikiran/falsafah dan merupakan

pelaksanaan dari sistem falsafah itu sendiri.

Ideologi besar yang ada di dunia adalah :

a. Liberalisme

Aliran pikiran perseorangan atau individualistik. Aliran

pikiran ini mengajarkan bahwa negara adalah

masyarakat hukum (legal society) yang disusun atas

kontrak semua orang (individu) dalam masyarakat itu

(kontrak sosial). Menurut aliran ini, kepentingan harkat

dan martabat manusia (individu) dijunjung tinggi sehingga

masyarakat tiada lebih dari jumlah para anggotanya saja

tanpa ikatan nilai tersendiri. Hak dan kebebasan orang

seorang dibatasi hanya oleh hak yang sama yang dimiliki

orang lain bukan oleh kepentingan mastarakat

seluruhnya.

Liberalisme bertitik tolak dari hak asasi yang melekat

pada manusia sejak lahir dan tdak dapat diganggu gugat

oleh siapapun termasuk penguasa, terkecuali atas

persetujuan yang bersangkutan. Faham ini mempunyai

nilai-nilai dasar (intrinsik) yaitu kebebasan dan

kepentingan pribadi yang menuntut kebebasan individu

secara mutlak yaitu kebebasan mengejar kebahagiaan

hidup ditengah-tangah kekayaan materiil yang melimpah

dan dicapai dengan bebas. Faham ini juga selalu

mengaitkan aliran pikirannya dengan hak asasi manusia

yang menarik minat/daya tarik yang kuat untuk kalangan

masyarakat tertentu. Aliran ini diajarkan oleh Thomas

Hobbes, John Locke, Jean Jaques Rousseau, Herbert

Spencer dan Harold J.Laski.

b. Komunisme

Aliran pikiran teori golongan (class theory) yang diajarkan

oleh Karl Marx, Engels, Lenin. Bermula merupakan

kritikan Marx terhadap kehidupan sosial ekonomi

masyarakat pada awal revolusi industri. Aliran ini

beranggapan bahwa negara adalah susunan golongan

(kelas) untuk menindas kelas lain. Kelas atau golongan

ekonomi kuat menidas ekonomi lemah. Golongan borjuis

menindas golongan proletar (kaum buruh). Oleh karena

itu, Marx menganjurkan agar kaum buruh mengadakan

revolusi politik untuk merebut kekuasaan negara dari

kaum golongan kaya kapitalis dan borjuis agar kaum

buruh dapat ganti berkuasa dan mengatur negara. Aliran

ini erat hubungannya dengan aliran material dialiktis atau

materialistik. Aliran ini juga menonjolkan adanya

kelas/penggolongan, pertentangan amtar golongan,

konflik dan jalan kekerasan/revolusi dan perebutan

kekuasaan negara.

Pikiran-pikiran Karl Marx tentang sosial, ekonomi,

politik yang kemudian disistematisasikan oleh Frederick

Engels ditambah dengan pikiran Lenin terutama dalam

pengorganisasian, dan operasionalisasinya menjadi

landasan dari paham komunisme. Sesuai dengan aliran

pikiran yang melandasi komunisme maka dalam upaya

merebut kekuasaan ataupun mempertahankan

kekuasaannya maka komunisme akan :

1. menciptakan situasi konflik untuk mengadu

golongan-golongan tertentu serta menghalalkan

segala cara untuk mencapai tujuan

2. ajaran komunisme adalah atheis dan didasarkan

pada kebendaan (materialistis) dan tidak percaya

akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, bahkan

agama dinyatakan sebagai racun bagi kehidupan

masyarakat.

3. Masyarakat komunis bercorak internasional.

Masyarakat yang dicita-citakan komunis adalah

masyarakat komunis dunia yang tidak dibatasi

oleh kesadaran nasional. Hal ini tercermin dalam

seruan Marx yang terkenal “kaum buruh di

seluruh dunia bersatulah !”. Komunisme

menghendaki masyarakat tanpa nasionalisme.

4. Masyarakat komunis yang dicita-citakan adalah

masyarakat tanpa kelas. Masyarakat tanpa kelas

dianggap masyarakat yang dapat memberikan

suasana hidup yang aman dan tenteram, tidak ada

pertentangan, tidak adanya hak milik pribadi atas

alat produksi dan hapusnya pembagian kerja.

Perombakan masyarakat hanya dapat

dilaksanakan melalui jalan revolusi. Setelah

revolusi berhasil maka kaum proletar akan

memegang tampuk pimpinan kekuasaan negara

dan menjalankan pemerintahan secara ditaktur

mutlak (diktator proletariat).

c. Faham Agama

Ideologi bersumber pada falsafah agama yang

termuat dalam kitab suci agama. Negara membina

kehidupan keagamaan umat dengan sifat spiritual

religius. Dalam bentuk lain negara melaksanakan

hukum/ketentuan agama dalam kehidupan dunia, negara

berdasarkan agama.

Ideologi Pancasila

Pancasila merupakan tatanan nilai yang

digali/dikristalisasikan dari nilai-nilai dasar budaya bangsa

Indonesia yang sudah sejak ratusan tahun lalu tumbuh

berkembang dalam masyarakat di Indonesia. Kelima sila

Pancasila merupakan kesatuan yang bulat dan utuh sehingga

pemahaman dan pengamalannya harus mencakup semua nilai

yang terkandung didalamnya.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung arti

spiritual, memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada

semua pemeluk agama dan penganut kepercayaan terhadap

Tuhan Yang Maha Esa untuk berkembang di Indonesia. Nilai

ini berfungsi sebagai kekuatan mental spiritual dan landasan

etik dalam ketahanan nasional, dengan demikian atheisme tidak

berhak hidup di bumi Indonesia dalam kerukunan dan

kedamaian hidup beragama.

Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, mengandung

nilai sama derajat, sama kewajiban dan hak, cinta-mencintai,

hormat-menghormati, keberanian membela kebenaran dan

keadilan, toleransi dan nilai gotong royong.

Sila Persatuan Indonesia, mengandung arti bahwa

pluralisme masyarakat Indonesia memiliki nilai persatuan

bangsa dan kesatuan wilayah yang merupakan faktor pengikat,

dan menjamin keutuhan nasional atas dasar Bhineka Tunggal

Ika. Nilai ini menempatkan kepentingan dan keselamatan

bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi atau golongan,

sebaliknya kepentingan pribadi dan golongan diserasikan dalam

rangka kepentingan bangsa dan negara.

Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat

Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan,

mengandung nilai kedaulatan berada di tangan rakyat

(demokrasi) yang dijelmakan oleh persatuan nasional yang riil

dan wajar. Nilai ini mengutamakan kepentingan negara dan

bangsa dengan tetap menghargai kepentingan pribadi dan

golongan, musyawarah untuk mufakat dan menjunjung tunggi

harkat dan martabat serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,

mengandung nilai sikap adil, menjaga keseimbangan antara hak

dan kewajiban, menghormati hak orang dan sikap gotong

royong,dalam suasana kekeluargaan, suka memberi

pertolongan kepada orang, suka bekerja keras dan bersamasama

mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan

sosial.

Ketahanan Pada Aspek Ideologi

Ketahanan ideologi diartikan sebagai kondisi dinamik

kehidupan ideologi bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan

ketangguhan yang mengandung kemampuan kekuatan nasional

dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman,

hambatan dan gangguan dari luar negeri maupun dari dalam

negeri, yang langsung maupun tidak langsung dalam rangka

menjamin kelangsungan kehidupan ideologi bangsa dan

negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan kondisi

mental bangsa yang berlandaskan pada keyakinan akan

kebenaran ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa dan

negara serta pengamalannya yang konsisten dan berlanjut.

Pancasila merupakan ideologi nasional, dasar negara,

sumber hukum dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Oleh

karena itu, untuk mencapai ketahanan ideologi maka diperlukan

aplikasi nyata Pancasila secara murni dan konsekuen baik

objektif maupun subjektif. Pelaksanaan objektif adalah

bagaimana pelaksanaan nilai-nilai yang terkandung dalam

ideologi tersurat atau paling tidak tersirat dalam UUD 1945 dan

segala peraturan perundang-undangan dubawahnya, serta

segala kegiatan penyelenggaraan negara. Pelaksanaan

subjektif adalah bagaimana nilai-nilai tersebut dilaksanakan oleh

pribadi masing-masing dalam kehidupan sehari-hari secara

pribadi, anggota masyarakat dan negara. Pancasila

mengandung sifat idealistik, realistik dan fleksibilitas sehingga

terbuka terhadap perkembangan yang terjadi sesuai realitas

perkembangan kehidupan tetapi sesuai dengan idealisme yang

terkandung didalamnya.

Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia

terdapat dalam Alinea IV Pembukaan UUD 1945, Pancasila

sebagai ideologi nasional diatur dalam Ketetapan MPR RI

No.:XVIII/MPR/1998. Pancasila sebagai pandangan hidup dan

sumber hukum diatur dalam Tap. MPRS RI No.: XX/MPRS1966

jo. Tap. MPR RI No.:IX/MPR/1976.

Pembinaan Ketahanan Ideologi

Untuk memperkuat ketahanan ideologi diperlukan

langkah pembinaan sebagai berikut :

a. Pengamalan Pancasila secara objektif dan subjektif

ditumbuhkembangkan secara konsisten

b. Pancasila sebagai ideologi terbuka perlu teru

direlevansikan dan diaktualisasikan nilai

instrumentalnya agar tetap mampu membimbing dan

mengarahkan kehidupan dalam bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara, selaras dengan peradaban

dunia yang berubah dengan cepat tanpa kehilangan jati

diri sebagai bangsa Indonesia.

c. Sesanti Bhineka Tunggal Ika dan konsep Wawasan

Nusantara bersumber dari Pancasila harus terus

dikembangkan dan ditanamkan di masyarakat yang

majemuk sebagai upaya untuk selalu menjaga

persatuan bangsa dan kesatuan wilayah serta moralitas

yang loyal utuh dan bangga terhadap bangsa dan

negara. Di samping itu perlu dituntut sikap yang wajar

dari anggota masyarakat dan pemerintah terhadap

adanya keanekaragaman. Untuk itu setiap anggota

masyarakat dan pemerintah memberikan

penghormatan dan penghargaan yang wajar terhadap

kebhinekaan.

d. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan dasar

negara Republik Indonesia harus dihayati dan

diamalkan secara nyata untuk menjaga kelestarian dan

keampuhannya demi terwujudnya tujuan nasional serta

cita-cita bangsa Indonesia, khususnya oleh setiap

penyelenggara negara serta setiap lembaga

kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan serta setiap

warga negara Indonesia. Dalam hal ini teladan para

pemimpin penyelenggara negara dan tokoh-tokoh

masyarakat merupakan hal yang sangat mendasar.

e. Pembangunan sebagai pengamalan Pancasila harus

menunjukkan keseimbangan fisik material dengan

pembangunan mental spiritual untuk menghindari

tumbuhnya materialisme dan sekulerisme. Dengan

memperhatikan kondisi geografi Indonesia, maka

strategi pembangunan harus adil dan merata di seluruh

wilayah untuk memupuk rasa persatuan bangsa dan

kesatuan wilayah.

f. Pendidikan Moral Pancasila ditanamkan pada diri anak

didik dengan cara mengintegrasikannya dalam mata

pelajaran lain, juga diberikan kepada masyarakat.

2. Pengaruh Aspek Politik

Politik berasal dari kata politics dan atau policy artinya

berbicara politik akan mengandung makna kekuasaan

(pemerintahan) atau juga kebijaksanaan. Pemahaman itu

berlaku di Indonesia dengan tidak memisahkan antara politics

dan policy sehingga kita menganut satu paham yaitu politik.

Hubungan tersebut tercermin dalam fungsi pemerintahan

negara sebagai penentu kebijaksanaan serta aspirasi dan

tuntutan masyarakat sebagai tujuan yang ingin diwujudkan

sehingga kebijaksanaan pemerintahan negara itu haruslah

serasi dan selaras dengan keinginan dan aspirasi masyarakat.

Politics di Indonesia harus dapat dilihat dalam konteks

Ketahanan Nasional ini yang meliputi dua bagian utama yaitu

politik dalam negeri dan politik luar negeri.

1. Politik Dalam Negeri

Politik dalam negeri adalah kehidupan politik dan

kenegaraan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang

mampu menyerap aspirasi dan dapat mendorong partisipasi

masyarakat dalam satu sistem, yang unsur-unsurnya terdiri dari

:

a. Struktur Politik. Merupakan wadah penyaluran

pengambilan berupa kepentingan masyarakat dan

sekaligus wadah dalam menjaring/pengkaderan

pimpinan nasional.

b. Proses Politik. Merupakan suatu rangkaian

pengambilan keputusan tentang berbagai

kepentingan politik maupun kepentingan umum yang

bersifat nasional dan penentuan dalam pemilihan

kepemimpinan, yang puncaknya terselenggara dalam

pemilu.

c. Budaya Politik. Merupakan pencerminan dari

aktualisasi hak dan kewajiban rakyat dalam

kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

yang dilaksanakan secara sadar dan rasional baik

melalui pendidikan politik maupun kegiatan-kegiatan

politik yang sesuai dengan disiplin nasional.

d. Komunikasi Politik. Merupakan suatu hubungan timbal

balik antar berbagai kehidupan bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara baik rakyat sebagai sumber

aspirasi maupun sumber pimpinan-pimpinan nasional.

2. Politik Luar Negeri

Politik luar negeri adalah salah satu sarana pencapaian

kepentingan nasional dalam pergaulan antar bangsa. Politik luar

negeri Indonesia berlandaskan pada Pembukaan UUD 1945

yakni melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan

kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial serta anti

penjajahan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan

perikeadilan.

Politik luar negari merupakan proyeksi kepentingan

nasional kedalam kehidupan antar bangsa. Dijiwai oleh falsafah

negara Pancasila sebagai tuntutan moral dan etika, politik luar

negeri Indonesia diabadikan kepada kepentingan nasional

terutama untuk pembangunan nasional. Dengan demikian politik

luar negeri merupakan bagian intergral dari strategi nasional

dan secara keseluruhan merupakan salah satu sarana

pencapaian tujuan nasional.

Politik luar negeri Indonesia adalah bebas dan aktif.

Bebas dalam pengertian bahwa Indonesia tidak memihak

kepada kekuatan-kekuatan yang pada dasarnya tidak sesuai

dengan kepribadian bangsa. Aktif dalam pengertian tidak

bersifat reaktif dan tidak menjadi objek percaturan internasional,

tetapi berperan serta atas dasar cita-cita bangsa yang tercermin

dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. heterogenitas

kepentingan bangsa-bangsa di dunia maka politik luar negeri

harus bersifat kenyal dalam arti bersikap moderat dalam hal

yang kurang prinsipil maupun tetap berpegang pada prinsipprinsip

dasar seperti yang ditentukan dalam Pembukaan UUD

1945. Dinamika perubahan-perubahan hubungan antar bangsa

yang cepat dan tidak menentu di dunia maka dibutuhkan

kelincahan dalam arti kemampuan penyesuaian yang tinggi dan

cepat untuk menanggapi dan menghadapinya demi kepentingan

nasional.

Ketahanan Pada Aspek Politik

Ketahanan pada aspek politik diartikan sebagai kondisi

dinamik kehidupan politik bangsa yang berisi keuletan dan

ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan

kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi

tantangan, gangguan, ancaman dan hambatan yang datang dari

luar maupun dari dalam negeri yang langsung maupun tidak

langsung untuk menjamin kelangsungan hidup politik bangsa

dan negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan

Pembukaan UUD 1945.

a. Ketahanan Pada Aspek Politik Dalam Negeri

1) Sistem pemerintahan yang berdasarkan hukum, tidak

berdasarkan kekuasaan yang bersifat absolut,

kedaulatan ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya

oleh MPR sebagai penjelmaan seluruh rakyat

2) Mekanisme politik yang memungkinkan adanya

perbedaan pendapat, namun perbedaaan itu tidak

menyangkut nilai dasar sehingga tidak antagonistis yang

dapat menjurus pada konflik fisik. Disamping itu harus

dicegah timbulnya diktator mayoritas dan tirani minoritas.

3) Kepemimpinan nasional mampu mengakomodasikan

aspirasi yang hidup dalam masyarakat, dengan tetap

dalam lingkup Pancasila, UUD 1945 dan Wawasan

Nusantara.

4) Terjalin komunikasi dua arah antara pemerintah dengan

masyarakat dan antar kelompok/golongan dalam

masyarakat dalam rangka mencapai tujuan nasional dan

kepentingan nasional.

b. Ketahanan Pada Aspek Politik Luar Negeri

1) Hubungan luar negeri ditujukan untuk lebih

meningkatkan kerjasama internasional di berbagai bidang

atas dasar saling menguntungkan, meningkatkan citra

positif Indonesia di luar negeri, memantapkan persatuan

bangsa dan keutuhan NKRI.

2) Politik luar negeri terus dikembangkan menurut prioritas

dalam rangka meningkatkan persahabatan dan

kerjasama antar negara berkembang dan atau dengan

negara maju sesuai dengan kemampuan dan demi

kepentingan nasional. Peranan Indonesia dalam

membina dan mempererat persahabatan dan kerjasama

antar bangsa yang saling menguntungkan perlu terus

diperluas dan ditingkatkan.

3) Citra positif Indonesia terus ditingkatkan dan diperluas

antara lain melalui promosi, peningkatan diplomasi dan

lobi internasional, pertukaran pemuda, pelajar dan

mahasiswa serta kegiatan olah raga.

4) Perkembangan, perubahan dan gejolak dunia terus

diikuti dan dikaji denga seksama agar secara dini dapat

diperkirakan terjadinya dampak negatif yang dapat

mempengaruhi stabitlitas nasional serta menghambat

kelancaran pembangunan dan pencapaian tujuan

nasional

5) Langkah bersama negara berkembang untuk

memperkecil ketimpangan dan ketidakadilan dengan

negara industri maju perlu ditingkatkan dengan

melaksanakan perjanjian perdagangan internasioal serta

kerjasama dengan lembaga-lembaga keuangan

internasional.

6) Perjuangan mewujudkan tatanan dunia baru dan

ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,

perdamaian abadi dan keadilan sosial melalui

penggalangan dan pemupukan solidaritas dan kesamaan

sikap serta kerjasama internasional dengan

memanfaatkan berbagai forum regional dan global.

7) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia perlu

dilaksanakan dengan pembenahan secara menyeluruh

terhadap sistem pendidikan, pelatihan dan penyuluhan

calon diplomat agar dapat menjawab tantangan tugas

yang dihadapinya. Disamping itu, perlu ditingkatkan

aspek-aspek kelembagaan dan sarana penunjang

lainnya

8) Perjuangan bangsa Indoesia di dunia yang menyangkut

kepentingan nasional seperti melindungi kepentingan

Indonesia dari kegiatan diplomasi negatif negara lain dan

hak-hak warga negara Indonesia di luar negeri perlu

ditingkatkan.

3. Pengaruh Pada Aspek Ekonomi

Perekonomian adalah salah satu aspek kehidupan

nasional yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan bagi

masyarakat , meliputi produksi, distribusi serta konsumsi barang

dan jasa. Usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup

masyarakat secara individu maupun kelompok serta cara-cara

yang dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat untuk

memenuhi kebutuhan.

Sistem perekonomian yang dianut oleh suatu negara

akan memberi corak dan warna terhadap kehidupan

perekonomian dari negara itu. Sistem perekonomian liberal

dengan orientasi pasar secara murni akan sangat peka

terhadap pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Di sisi lain,

sistem perekonomian sosialis dengan sifat perencanaan dan

pengendalian penuh oleh pemerintah, kurang peka terhadap

pengaruh dari luar. Kini tidak ada lagi sistem perekonomian

liberal murni dan atau sistem perekonomian sosialis murni

karena keduanya sudah saling melengkapi dengan beberapa

modifikasi didalamnya.

Sistem perekonomian yang dianut oleh bangsa Indonesia

mengacu kepada pasal 33 UUD 1945. Didalamnya menjelaskan

bahwa sistem perekonomian adalah usaha bersama berarti

setiap warga negara mempunyai hak dan kesempatan yang

sama dalam menjalankan roda perekonomian dengan tujuan

untuk mensejahterakan bangsa. Dengan demikian,

perekonomian tidak hanya dijalankan oleh pemerintah yang

diwujudkan dalam bentuk kegiatan badan-badan usaha negara,

namun masyarakat dapat turut serta dalam kegiatan

perekonomian dalam bentuk usaha-usaha swasta yang sangat

luas bidang usahanya. Koperasi adalah salah satu bentuk

usaha yang mungkin untuk dikembangkan yaitu suatu bentuk

usaha yang dilaksanakan atas dasar kekeluargaan. Di dalam

perekonomian Indonesia tidak dikenal adanya usaha monopoli

dan monopsoni baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun

swasta.

Secara makro sistem perkonomian Indonesia dengan

menggunakan terminologi nasional dapat disebut sebagai

sistem perekonian kerakyatan. Merujuk pasal 33 UUD 1945

maka kemakmuran yang dituju adalah kemakmuran rakyat

Indonesia seluruhnya, termasuk mereka yang ada di pulaupulau

terpencil dan puncak-puncak gunung melalu pemanfaatan

sumber-sumber kekayaan alam yang ada.

Era globalisasi menuntut negara untuk senantiasa

mewaspadai dan tidak mungkin menutup diri dari

perkembangan dan perubahan sistem ekonomi yang

mengglobal pula. Oleh karena itu, negara harus mampu

mengintegrasi ekonomi nasional dengan ekonomi global secara

adaptif dan dinamis sehingga diperoleh hasil optimal bagi

kepentingan nasional dan tujuan nasional.

Ketahanan Pada Aspek Ekonomi

Ketahanan ekonomi diartikan sebagai kondisi dinamik

kehidupan perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan

ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk

mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi serta

mengatasi segala ancaman, gangguan, hambatan dan

tantangan yang datang dari luar maupun dari dalam negeri baik

yang langsung maupun tidak langsung untuk menjamin

kelangsungan hidup pereokonomian bangsa dan negara

Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Wujud ketahanan ekonomi tercermin dalam kondisi

kehidupan perekonomian bangsa, yang mengandung

kemampuan memelihara stabilitas ekonomi yang sehat dan

dinamis serta kemampuan menciptakan kemandirian ekonomi

nasional dengan daya saing tinggi dan mewujudkan

kemakmuran rakyat yang adil dan merata. Dengan demikian,

pembangunan ekonomi diarahkan kepada mantapnya

ketahanan ekonomi melalui terciptanya iklim usaha yang sehat

serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, tersedianya

barang dan jasa, terpeliharanya fungsi lingkungan hidup serta

meningkatkan daya saing dalam lingkup persaingan global.

Usaha untuk mencapai ketahanan ekonomi yang

diinginkan perlu upaya pembinaan terhadap berbagai hal yang

dapat menunjangnya antara lain yaitu :

a. Sistem ekonomi Indonesia diarahkan untuk dapat

mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan yang adil dan

merata di seluruh wilayah nusantara melalui ekonomi

kerakyatan untuk menjamin kesinambungan pembangunan

nasional kelangsungan hidup bangsa dan negara

berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

b. Ekonomi kerakyatan harus menghindarkan :

1) Sistem free fight liberalism yang hanya menguntungkan

pelaku ekonomi kuat dan tidak memungkinkan ekonomi

kerakyatan berkembang.

2) Sistem etatisme dalam arti bahwa negara beserta

aparatur ekonomi negara bersifat dominan serta

mendesak dan mematikan potensi dan daya kreasi unitunit

ekonomi diluar sektor negara.

3) Pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok

dalam bentuk monopoli yang merugikan masuarakat dan

bertentangan dengan cita-cita keadilan sosial.

c. Strukttur ekonomi dimantapkan secara seimbang dan saling

menguntungkan dalam keselarasan dan keterpaduan antar

sektor pertanian dengan perindustrian dan jasa.

d. Pembangunan ekonomi dilaksanakan sebagai usaha

bersama atas dasar asas kekeluargaan dibawah

pengawasan anggota masyarakat, serta memotivasi dan

mendorong peran serta masyarakat secara aktif. Harus

diusahakan keterkaitan dan kemitraan antara para pelaku

dalam wadah kegiatan ekonomi yaitu Pemerintah, BUMN,

Koperasi, Badan Usaha Swasta, dan sektor informal untuk

mewujudkan pertumbuhan, pemerataan, dan stabilitas

ekonomi.

e. Pemerataan pembangunan dan pemfaatan hasil-hasilnya

senantiasa dilaksanakan melalui keseimbangan dan

keserasian pembangunan antar wilayah dan antar sektor.

f. Kemampuan bersaing harus ditumbuhkan secara sehat dan

dinamis dalam mempertahankan serta meningkatkan

eksistensi kemandirian perekonomian nasional, dengam

memanfaatkan sumber daya nasional secara optimal dengan

sarana iptek tepat guna dalam menghadapi setiap

permasalahan serta dengan tetap memperhatikan

kesempatan kerja.

4. Pengaruh Pada aspek Sosial Budaya

Istilah sosial budaya mencakup dua segi utama

kehidupan bersama manusia yaitu segi sosial dimana manusia

demi kelangsungan hidupnya harus mengadakan kerjasama

dengan manusia lainnya. Sementara itu, segi budaya

merupakan keseluruhan tata nilai dan cara hidup yang

manifestasinya tampak dalam tingkah laku dan hasil tingkah

laku yang terlembagakan.

Pengertian sosial pada hakekatnya adalah pergaulan

hidup manusia dalam bermasyarakat yang mengandung nilainilai

kebersamaan, senasib, sepenanggungan dan solidaritas

yang merupakan unsur pemersatu. Adapun hakekat budaya

adalah sistem nilai yang merupakan hasil hubungan manusia

dengan cipta, rasa dan karsa yang menumbuhkan gagasangagasan

utama serta merupakan kekuatan pendukung

penggerak kehidupan. Dengan demikian, kebudayaan

merupakan seluruh cara hidup suatu masyarakat yang

manifestasinya dalam tingkah laku dan hasil dari tingkah laku

yang dipelajari dari berbagai sumber. Kebudayaan diciptakan

oleh faktor organobiologis manusia, lingkungan alam,

lingkungan psikologis dan lingkungan sejarah.

Masyarakat budaya membentuk pola budaya sekitar satu

atau beberapa fokus budaya. Fokus budaya dapat berupa nilai

dan norma religius, ekonomis atau nilai sosial kultural lain,

seperti misalnya ideologi modern, ilmu pengetahuan dan

teknologi.

a.Struktur Sosial di Indonesia

Dalam masyarakat, manusia hidup secara berkelompok

sesuai dengan fungsi, peran dan profesinya dengan maksud

untuk memudahkan kegiatan menjalankan tugas dalam

keterkaitan, dengan kata lain, kehidupan masyarakat terstruktur

berdasarkan peran dan fungsi masing-masing anggota

masyarakat. Pembangunan nasional di Indonesia selama ini

menghasilkan struktur sosial masyarakat yang cukup beragam.

Sejalan dengan modernisasi dan perkembangan iptek maka

fragmentasi kelompok dalam masyarakat semakin berkembang

baik secara horisontal sesuai bidang pekerjaan dan keahlian

maupun vertikal sesuai dengan tingkat pekerjaan dan keahlian.

Kehidupan masyarakat berdasarkan struktur peran dan

profesi melahirkan bentuk hubungan dan ikatan antar manusia

yang dapat mengagantikan hubungan keluarga. Hubungan

antar teman satu profesi terkadang lebih erat dibanding

hubungan antar saudara sekandung. Di sisi lain, melebarnya

struktur sosial secara horisontal menimbulkan keanekaragaman

aspirasi yang tidak mudah untuk diakomodasikan bersama.

b.Kondisi Sosial di Indonesia

– Kebudayaan Daerah

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dan

sub-etnis, yang masing-masing memiliki kebudayaannya

sendiri karena mereka biasanya hidup di daerah/wilayah

tertentu sehingga disebut kebudayaan daerah. Dalam

kehidupan sehari-hari, kebudayaan daerah sebagai suatu

sistem nilai yang menuntun sikap, perilaku dan gaya hidup,

merupakan identitas dan menjadi kebanggan dari suku bangsa

yang bersangkutan. Local genius adalah nilai-nilai budaya

yang tidak dapat dipengaruhi oleh budaya asing. Oleh karena

itu, local genius biasanya menjadi titik pangkal kemampuan

budaya daerah untuk menangkal dan atau menetralisir

pengaruh negatif budaya asing.

Kebudayaan yang ada di nusantara telah lama saling

berkomunikasi dan berintegrasi dalam kesetaraan. Dalam

kehidupan bernegara saat ini, dapat dikatakan bahwa

kebudayaan daerah merupakan kerangka dari kehidupan

sosial budaya bangsa Indonesia. Dengan demikian,

perkembangan kehidupan sosial budaya bangsa tidak akan

terlepas dari perkembangan sosial budaya daerah.

– Kebudayaan Nasional

Kebudayaan bangsa Indonesia (kebudayaan nasional)

merupakan hasil (resultante) interaksi dari budaya daerah

yang kemudian diterima sebagai nilai bersama seluruh

bangsa. Kebudyaan nasional juga bisa merupakan interaksi

antara budaya yang ada dengan budaya asing yang diterima

bersama seluruh bangsa. Hal yang penting dari interaksi itu

adalah inetraksi budaya harus berjalan wajar dan alamiah

tanpa paksaan dan dominasi budaya satu daerah terhadap

budaya lainnya.

Kebudayaan nasional merupakan identitas dan menjadi

kebanggaan Indonesia. Pancasila adalah falsafah bangsa

Indonesia maka nilai-nilai yang terkandung didalamnya

menjadi tuntunan dasar dari segenap sikap, perilaku dan gaya

hidup bangsa Indonesia. Secara umum, gambaran

masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut :

1. bersifat religius

2. bersifat kekeluargaan

3. bersifat hidup serba selaras

4. bersifat kerakyatan

– Integrasi Nasional

Komunikasi dan interaksi yang dilakukan oleh suku-suku

bangsa yang mendiami bumi nusantara ini, pada tahun 1928

menghasilkan aspirasi bersama untuk hidup bersama sebagai

satu bangsa satu tanah air yang menjunjung bahasa

persatuan. Secara yuridis, aspirasi itu terwujud pada 17

Agustus 1945 yaitu dengan proklamasi kemerdekaan

Indonesia.

Kenyataan tersebut diatas menjadi faktor-faktor perekat

persatuan dan integrasi suku-suku bangsa yang ada di

nusantara menjadi satu bangsa Indonesia. Di masa depan,

upaya melestarikan sebagai satu bangsa harus dijadikan

semangat untuk keinginan hidup bersama guna meraih citacita

nasional.

– Kebudayaan dan Alam Lingkungan

Bangsa Indonesia sebagian besar sebenarnya terbiasa

hidup dekat dan dengan alam, yaitu sebagai petani, pelaut dan

pedagang antar pulau. Namun demikian, kedekatan itu baru

sebatas pemanfaatan sumber daya alam yang tidak dibarengi

dengan budaya untuk melestarikan alam demi kepentingan

masa depan. Oleh karena itu, sudah seharusnya diwajibkan

dengan sejumlah sangsi hukum kepada para pengusaha

eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam untuk senantiasa

menjaga kelestarian dan keseimbangan ekosistem yang ada.

Ketahanan Pada Aspek Sosial Budaya

Ketahanan di bidang sosial budaya diartikan sebagai

kondisi dinamik yang berisi keuletan dan ketangguhan yang

mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional

didalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman,

gangguan, hambatan dan tantangan baik yang datang dari

dalam maupun dari luar yang langsung maupun tidak langsung

membahayakan kelangsungan kehidupan sosial budaya bangsa

dan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila

dan UUD 1945.

Wujud ketahanan sosial budaya nasional tercermin

dalam kehidupan sosial budaya bangsa yang dijiwai

kepribadian nasional berdasarkan Pancasila, yang

mengandung kemampuan membentuk dan mengembangkan

kehidupan sosial budaya manusia dan masyarakat Indonesia.

Esensi pengaturan dan penyelenggaran kehidupan sosial

budaya bangsa Indonesia adalah pengembangan kondisi sosial

budaya dimana setiap warga masyarakat dapat merealisasikan

pribadi dan segenap potensi manusiawinya yang dilandasi nilainilai

Pancasila

5. Pengaruh Pada Aspek Pertahanan dan Keamanan

Pertahanan dan keamanan Indonesia adalah

kesemestaan daya upaya seluruh rakyat Indonesia sebagai

satu sistem pertahanan dan keamanan dalam mempertahankan

dan mengamankan negara demi kelangsungan hidup dan

kehidupan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pertahanan dan keamanan dilaksanakan dengan

menyusun, mengerahkan dan mengerakkan seluruh potensi

nasional termasuk kekuatan masyarakat di seluruh bidang

kehidupan nasional secara terintegasi dan terkoordinasi, yang

diadakan oleh pemerintah dan negara Indonesia dengan TNI

dan Polri sebagai inti pelaksana.

Ketahanan pertahanan dan keamanan diartikan sebagai

kondisi dinamik kehidupan pertahanan dan keamanan bangsa

Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan yang

mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional

didalam menghadapi ancaman, gangguan, hambatan dan

tantangan yang datang dari luar maupun dari dalam baik

langsung maupun tidak langsung yang membahayakan

identitas, integritas dan kelangsungan hidup bangsa dan

Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila

dan UUD 1945.

Wujud ketahanan pertahanan dan keamanan tercermin

dalam kondisi daya tangkal bangsa yang dilandasi kesadaran

bela negara seluruh rakyat yang mengandung kemampuan

memelihara stabilitas pertahanan dan keamanan yang dinamis,

mengamankan pembangunan dan hasil-hasilnya, serta

kemampuan mempertahankan kedaulatan negara. Dengan kata

lain, adalah keuletan dan ketangguhan bangsa dalam

mewujudkan kesiapsiagaan serta upaya bela negara, suatu

perjuangan rakyat semesta, dalam mana seluruh potensi dan

kekuatan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, militer dan

kepolisian disusun dan dikerahkan secara terpimpin ,

terintegrasi dan terkoordinasi, untuk menjamin kelangsungan

sistem keamanan nasional (dulu dikenal dengan sishankamrata)

yang ditandai dengan :

a. Pandangan Bangsa Indonesia Tentang Perang dan

Damai. Bangsa Indonesia cinta damai dan ingin

bersahabat dengan semua bangsa di dunia serta

tidak menghendaki terjadinya sengketa bersenjata

ataupun perang. Oleh karena itu, bangsa Indonesia

berhasrat dalam setiap penyelesaian pertikaian baik

nasional mauoun internasional selalu mengutamakan

cara-cara damai. Walaupun cinta damai, namun lebih

cinta kemerdekaan dan kedaulatannya. Bagi bangsa

Indonesia, perang adalah jalan terakhir yang terpaksa

harus ditempuh untuk mempertahankan ideologi dan

dasar negara Pancasila, kemerdekaan dan

kedaulatan negara Republik Indonesia serta keutuhan

bangsa.

b. Penyelenggaraan Pertahanan dan Keamanan Negara

Kesatuan Republik Indonesia.

Landasan idiilnya adalah Pancasila, landasan

konstitusionalnya adalah UUD 1945, dan landasan

visionalnya adalah wawasan nusantara. Pertahanan

dan keamanan adalah hak dan kewajiban bangsa

untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan

negara, keutuhan bangsa dan wilayah, terpeliharanya

keamanan nasional dan tercapainya tujuan nasional.

c. Petahanan dan Keamanan Negara Merupakan Upaya

Nasional Terpadu.

Hal itu berarti melibatkan seluruh potensi dan

kekuatan nasional. Setiap warga negara berhak dan

wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara yang

dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan

tanggung jawab, kerelaan berjuang dan berkorban

dalam pengabdian kepada bangsa dan negara tanpa

mengenal menyerah. Upaya itu dirumuskan dalam

doktrin yang disebut Doktrin Pertahanan dan

Kemanan Negara Republik Indonesia.

d. Pertahanan dan Keamanan Negara Republik

Indonesia Diselenggarakan dengan Sistem

Keamanan Nasional (sishankamrata).

Hal itu berarti bersifat total, kerakyatan dan

kewilayahan. Pendayagunaan potensi nasional dalam

pengelolaan pertahanan dan keamanan nagara

dilakukan secara optimal dan terkoordinasi untuk

mewujudkan kekuatan dan kemampuan pertahanan

dan keamanan negara dalam keseimbangan dan

keserasian antara kepentingan kesejahteraan dan

keamanan.

e. Segenap Kekuatan dan Kemampuan Pertahanan dan

Keamanan Rakyat Semesta. Diorganisasikan

kedalam satu wadah tunggal yang dinamakan TNI

dan Polri.

Postur kekuatan hankam mencakup struktur kekuatan,

tingkat kemampuan dan gelar kekuatan. Untuk membangun

postur kekuatan terdapat empat pendekatan yang digunakan

yaitu ancaman, misi, kewilayahan, dan politik. Dalam konteks

itu perlu ada pembagian tugas dan fungsi yang jelas antara

masalah pertahanan dan masalah keamanan.

Pertahanan diarahkan untuk menghadapi ancaman dari

luarnegeri dan menjadi tanggung jawab TNI.

Keamanan diarahkan untuk menghadapi ancaman dari

dalam negeri dan menjadi tanggung jawab Polri dengan

kemungkinan TNI dilibatkan apabila eskalasi ancaman

meningkat ke keadaan darurat.

Konsepsi pembangunan kekuatan hankam perlu

mengacu kepada konsep wawasan nusantara, dimana hankam

diarahkan kepada upaya pertahanan seluruh wilayah

kedaulatan NKRI. Di samping itu, kekuatan hankam perlu

antisipasif terhadap prediksi ancaman dari luar sejalan dengan

pesatnya perkembangan iptek militer yang telah menghasilkan

daya gempur yang tinggi dan jarak jangkau yang jauh.

Hakekat ancaman akan mempengaruhi kebijaksanaan

dan strategi pembangunan kekuatan hankam. Kekeliruan dalam

merumuskan hakekat ancaman akan mengakibatkan postur

kekuatan hankam yang kurang efektif dalam menghadapi

berbagai gejolak dalam negeri, bahkan tidak akan mampu untuk

melakukan perang konvensional. Untuk itu perlu

dipertimbangkan pula konstelasi geografi Indonesia dan

kemajuan iptek. Kedaulatan NKRI yang dua pertiga wilayahnya

terdiri dari laut, menempatkan laut dan udara diatasnya sebagai

mandala perang yang pertama kali akan terancam karena

digunakan sebagai ”initial point” untuk memasuki kedaulatan

Indonesia di darat. Ancaman dari luar senantiasa akan

menggunakan media laut dan udara diatasnya karena kondisi

geografi Indonesia sebagai negara kepulauan. Dengan

demikian, pembangunan postur kekuatan hankam secara

proporsional dan seimbang antar unsur utama kekuatan

pertahanan yaitu, TNI AD, TNI AL dan TNI AU serta unsur

utama keamanan yaitu POLRI. Pesatnya kemajuan iptek

membawa implikasi meningkatnya kemampuan tempur

termasuk daya hancur dan jarak jangkau. Oleh karena itu,

ancaman masa depan yang perlu diwaspadai adalah serangan

langsung lewat udara dan laut oleh kekuatan asing yang

memiliki kepentingan terhadap Indonesia.

Di era globalisasi saat ini dan di masa mendatang tidak

menutup kemungkinan akan mengundang campur tangan asing,

dengan alasan menegakkan nilai-nilai HAM, demokrasi,

penegakan hukum dan lingkungan hidup, di balik kepentingan

nasional. Situasi seperti ini kemungkinan besar dapat terjadi

apabila unsur-unsur utama kekuatan hankam dan komponen

bangsa yang lain tidak mampu mengatasi permasalahan dalam

negeri. Untuk itu ancaman yang paling realistik adalah adanya

“link-up” antara kekuatan dalam negeri dengan luar negeri.

Geopolitik yang berubah kearah geoekonomi

mengandung implikasi semakin canggihnya upaya diplomasi

guna mencapai tujuan politik dan ekonomi. Pergeseran ini

seolah-olah tidak akan menimbulkan ancaman dari luar negeri

yang serius. Namun bila dikaji secara mendalam, justru

ancaman yang dihasilkan dari aktivitasnya sangat

membahayakan integritas bangsa dan NKRI. Para pihak yang

berkepentingan dengan Indonesia akan menggunakan wahana

diplomasi dan membangun opini untuk mencari dukungan

internasional agar membenarkan tindakannya. Kemajuan iptek

informasi sangat memungkinkan untuk melakukan itu, terlebih

saat dunia internasional sedang dalam situasi “unbalance of

power”

Perkembangan lingkungan strategis.mengisyaratkan

bahwa pergeseran geopolitik kearah geoekonomi membawa

perubahan besar dalam penerapan kebijaksanaan dan strategi

negara di dunia didalam mewujudkan kepentingan nasional

masing-masing. Penerapan cara-cara baru telah meningkatkan

eskalasi konflik regional dan konflik dalam negeri yang

mendorong keterlibatan kekuatan super power didalamnya.

Menyikapi dinamika perkembangan seperti itu, kita perlu

membangun postur kekuatan hankam yang memiliki

profesionalisme yang tinggi untuk melaksanakan : pertama,

kegiatan intel strategi dalam semua aspek kehidupan nasional.

Kedua, melaksanakan upaya pertahanan darat, laut dan udara.

Ketiga : memelihara dan menegakkan keamanan dalam negeri

dan secara berlanjut dalam semua aspek kehidupan nasional

untuk. Keempat, membina potensi dan kekuatan wilayah dalam

semua aspek kehidupan nasional untuk meningkatkan

ketahanan nasional. Serta kelima, memelihara stabilitas

nasional dan ketahanan nasional secara menyeluruh dan

berlanjut.

Dalam rangka mewujudkan postur kekuatan hankam

yang memiliki kemampuan daya bendung dan daya tangkal

yang tinggi terhadap kemungkinan ancaman dari luar

dibutuhkan anggaran yang sangat besar, di sisi lain kita

dihadapkan kepada berbagai keterbatasan. Dengan mengacu

kepada negara-negara lain yang membangun kekuatan hankam

melalui pendekatan misi yaitu hanya untuk melindungi diri

sendiri dan tidak untuk kepentingan invasi, barangkali konsep

”standing armed forces” secara proporsional dan seimbang

perlu dikembangkan dengan susunan kekuatan pertahanan

keamanan negara (hankamneg) yang meliputi :

a. Perlawanan bersenjata yang terdiri atas bala nyata

yang merupakan kekuatan TNI yang selalu siap dan

yang dibina sebagai kekuatan cadangan serta bala

potensial yang terdiri atas Polri dan rakyat terlatih

(Ratih) sebagai fungsi perlawanan rakyat (Wanra).

b. Perlawanan tidak bersenjata yang terdiri atas rakyat

terlatih (Ratih) dengan fungsi ketertiban umum

(Tibum), perlindungan rakyat (Linra) keamanan rakyat

(Kamra) dan perlindungan masyarakat (Linmas).

c. Komponen pendukung perlawanan bersenjata dan

tidak bersenjata sesuai dengan bidang profesinya

dengan pemanfaatan semua sumber daya nasional,

sarana dan prasarana serta perlindungan masyarakat

terhadap bencana perang dan bencana lainnya.

Ketahanan Pada Aspek Pertahanan dan Keamanan

a. Pertahanan dan Keamanan harus dapat mewujudkan

kesiapsiagaan serta upaya bela negara , yang berisi

ketangguhan, kemampuan dan kekuatan melalui

penyelenggaraan Siskamnas (Sishankarata) untuk menjamin

kesinambungan Pembangunan Nasional dan kelangsungan

hidup bangsa dan negara berdasarkan Pancasila dan UUD

1945.

b. Bangsa Indonesia cinta damai, akan tetapi lebih cinta

kemerdekaan dan kedaulatannya. Mempertahankan

kemerdekaan bangsa dan mengamankan kedaulatan negara

yang mencakup wilayah tanah air beserta segenap isinya

merupakan suatu kehormatan demi martabat bangsa dan

negara. Oleh karena itu, haruslah diselenggarakan dengan

mengandalkan pada kekuatan dan kemampuan sendiri.

c. Pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan dan

keamanan dimanfaatkan untuk menjamin perdamaian dan

stabilitas keamanan yang diabdikan untuk kesinambungan

Pembangunan Nasional dan kelangsungan hidup bangsa

dan negara.

d. Potensi nasional dan hasil-hasil pembangunan yang telah

dicapai harus dilindungi dari segala ancaman dan gangguan,

agar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan

lahir dan bathin segenap lapisan masyarakat bangsa

Indonesia.

e. Perlengkapan dan peralatan untuk mendukung pembangunan

kekuatan dan kemampuan pertahanan dan keamanan

sedapat mungkin harus dihasilkan oleh industri dalam

negeri, pengadaan dari luar negeri dilakukan karena

terpaksa dimana indutri dalam negeri masih terbatas

kemampuannya. Oleh karena itu, iptek militer dalam negeri

senantiasa harus ditingkatkan kemampuannya.

f. Pembangunan dan penggunaan kekuatan dan kemampuan

pertahanan dan keamanan haruslah diselenggarakan oleh

manusia-manusia yang berbudi luhur, arif bijaksana,

menghormati Hak Asasi Manusia (HAM) dan menghayati

makna nilai dan hakikat perang dan damai. Kelangsungan

hidup dan perkembangan hidup bangsa, memerlukan

dukungan manusia-manusia yang bermutu tinggi, tanggap

dan tangguh serta bertanggung jawab, kerelaan berjuang

dan berkorban demi kepentingan bangsa dan negara di atas

kepentingan golongan dan pribadi.

g. Sebagai tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara

nasional, TNI berpedoman pada Sapta Marga yang

merupakan penjabaran Pancasila. Sebagai kekuatan

pertahanan, dalam keadaan damai TNI dikembangkan

dengan kekuatan kecil, profesional, efektif, efisien dan

modern bersama segenap kekuatan perlawanan bersenjata

dalam wadah tunggal TNI disusun dalam Siskamnas

(Sishankamrata) dengan strategi penangkalan.

h. Sebagai kekuatan inti Kamtibnas, Polri berpedoman kepada

Tri Brata dan Catur Prasetya dan dikembangkan sebagai

kekuatan yang mampu melaksanakan penegakkan hukum,

memelihara dan mewujudkan keamanan dan ketertiban

masyarakat.

i. Masyarakat secara terus menerus perlu ditingkatkan

kesadaran dan ketaatanya kapada hukum.

Dengan demikian ketahanan pertahanan dan keamanan

yang diinginkan adalah kondisi daya tangkal bangsa dilandasi

kesadaran bela negara seluruh rakyat yang mengandung

kemampuan memelihara stabilitas pertahanan dan keamanan

negara yang dinamis, mengamankan pembangunan dan hasilhasilnya

serta kemampuan mempertahankan kedaulatan negara

dan menangkal segala bentuk ancaman.

G. Keberhasilan Ketahanan Nasional Indonesia

Kondisi kehidupan nasional merupakan pencerminan

ketahanan nasional yang mencakup aspek ideologi, politik,

ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan, sehingga

ketahanan nasional adalah kondisi yang harus dimiliki dalam

semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan

bernegara dalam wadah NKRI yang dilandasi oleh landasan

idiil Pancasila, landasan konstitusional UUD 1945, dan landasan

visional Wawasan Nasional. Utnuk mewujudkan keberhasilan

ketahanan nasional diperlukan kesadaran setiap warga negara

Indonesia, yaitu :

1. Memiliki semangat perjuangan bangsa dalam bentuk

perjuangan non fisik yang berupa keuletan dan ketangguhan

yang tidak mengenal menyerah yang mengandung

kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam

rangka menghadapi segala ancaman, gangguan, tantangan

dan hambatan baik yang datang dari luar maupun dari

dalam, untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan

hidup bangsa dan negara serta perjuangan mencapai tujuan

nasional.

2. Sadar dan peduli terhadap pengaruh-pengaruh yang timbul

pada aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan

pertahanan keamanan, sehingga setiap warga negara

Indonesia baik secara individu maupun kelompok dapat

mengeliminir pengaruh tersebut, karena bangsa Indonesia

cinta damai akan tetapi lebih cinta kemerdekaan. Hal itu

tercermin akan adanya kesadaran bela negara dan cinta

tanah air.

Apabila setiap warga negara Indonesia memiliki

semangat perjuangan bangsa dan sadar serta peduli terhadap

pengaruh yang timbul dalam bermasyarakat, berbangsa dan

bernegara serta dapat mengeliminir pengaruh-pengaruh

tersebut, maka akan tercermin keberhasilan ketahanan nasional

Indonesia. Untuk mewujudkan ketahanan nasional diperlukan

suatu kebijakan umum dari pengambil kebijakan yang disebut

Politik dan Strategi Nasional (Polstranas).

Mata Kuliah Softskill : Pendidikan Kewarganegaraan.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)
KETAHANAN NASIONAL, 9.0 out of 10 based on 1 rating
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image