masalah sosial sebagai efek perubahan (kasus lingkungan hidup) dan upaya pemecahan nya

Mata kuliah : sosiologi dan politik
Dosen : Muhammad Burhan Amin
Topik Tugas : Masalah Sosial Sebagai Inspirasi Perubahan
(kasus penyalahgunaan obat) dan upaya pemecahannya
Kelas : 1 EB 19
Dateline tugas : 03 April 2010
Tanggal penyerahan Tugas : 03 April 2010

P E R N Y A T A A N
Dengan ini kami menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam tugas ini kami buat sendiri tanpa meniru atau mengutip dari tim / pihak lain.
Apabila terbukti tidak benar, kami siap menerima konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini.

P e n y u s u n
NPM Nama Lengkap Tanda Tangan

22209833
Diah Anggraeni

Program Sarjana Ekonomi
UNIVERSITA GUNADARMA
Tahun 2010

Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Allah SWT mungkin penulis tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui beberapa kasus masalah dalam masyarakat. Seperti contoh nya masalah Sosial Sebagai Efek Perubahan (Kasus Lingkungan Hidup) didalam nya terdapat pembahasan mengenai perubahan ekosistem lingkungan yang paling utama disebabkan oleh perilaku masyarakat yang kurang baik dalam pemanfaatan sumber-sumber daya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal inilah yang menyebabkan adanya perubahan ekosistem. Dengan upaya mengatasi masalah tersebut dilakukan untuk pelestarian lingkungan hidup antara lain yaitu sebagai berikut, kasus didalam Bidang Kehutanan seperti Penebangan pohon dan penanaman kembali agar dilakukan dengan seimbang sehingga hutan tetap lestari,
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman.

Bekasi, 03 April 2010
Penulis

(Diah Anggraeni)

I
Daftar Isi

Kata Pengantar I
Daftar isi II
A. Intensitas dan Komplekitas Masalah 1
B. Latar Belakang Masalah 3
C. Penanganan Masalah Berbasis Masyarakat 6
1. Mengembangkan Sistem Sosial Yang Responsif 6
2. Pemanfaatan Modal Sosial 7
3. Pemanfaatan Institusi Sosial 7
a. Organisasi Masyarakat 8
b. Organisasi Swasta 9
c. Optimalisasi konstribusi Dalam Pelayanan Sosial 9
d. Kerjasama dan Jaringan 10
D. Upaya penanganan Masalah 11
Penutup 13
Daftar pustaka 14

II
A. Intensitas dan Kompleksitas Masalah

Pada umumnya manusia bergantung pada keadaan lingkungan disekitarnya yaitu berupa sumber daya alam yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari. Sumber daya alam yang utama bagi manusia adalah tanah, air, dan udara. Tanah merupakan tempat manusia untuk melakukan berbagai kegiatan. Air sangat diperlukan oleh manusia sebagai komponen terbesar dari tubuh manusia. Untuk menjaga keseimbangan, air sangat dibutuhkan dengan jumlah yang cukup banyak dan memiliki kualitas yang baik. Lingkungan hidup dapat di identifikasi koalitasnya seperti lingkungan biotik yang memiliki arti segala makhluk hidup mulai dari organisme yang tidak kasat mata sampai pada hewan dan vegetasi raksasa yang terdapat dipermukaan bumi. Sedangkan lingkungan abiotik hádala segala sesuatu yang ada disekitar makhluk hidup yang bukan berupa organisme. Diharuskan dengan adanya Pembangunan berwawasan Lingkungan: pengelolaan sumber daya sebaik mungkin dengan pembangunan yang berkesinambungan serta peningkatan terhadap mutu hidup masyarakat. Sasaran pembangunan yaitu untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat. Kegiatan pembangunan dapat menimbulkan pengaruh yang cukup besar terhadap lingkungan. Kegiatan tersebut dapat bersifat alamiah , kimia, maupun secara fisik. Kualitas lingkungan hidup: dengan memperhatikan lingkungan hidup sekitar yang berhubungan dengan mutu hidup. Kualitas lingkungan hidup dapat ditentukan oleh tiga komponen utama yaitu terpenuhnya kebutuhan hidup untuk kelangsungan hidup hayati, terpenuhnya kebutuhan hidup untuk kelangsungan hidup manusiawi, dan terpenuhinya kebebasan untuk memilih. Lingkungan harus dapat di jaga agar mendukung terhadap kualitas berupa tingkat hidup masyarakat yang lebih tinggi. Lingkungan mempunyai kemampuan untuk menghasilkan sumber daya serta mengurangi zar pencemaran dan ketegangan sosial terbatas. Batas kemampuan itu disebut daya dukung. Dalam undang-undang lingkungan hidup, daya dukung lingkungan ialah kemampuan suatu lingkungan untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Di alam terdapat berbagai sumber daya alam. yang merupakan komponen lingkungan yang sifatnya berbeda-beda, dimana dapat digolongkan atas :
• Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable natural resources)
• Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable natural resources)
sifat lingkungan hidup dikategorikan atas dasar :
1. Jenis dan jumlah masing-masing jenis unsur lingkungan hidup tersebut,
2. hubungan atau interaksi antara unsur dalam lingkungan hidup tersebut,
3. kelakuan atau kondisi unsur lingkungan hidup, dan
4. faktor-faktor non-materil, seperti cahaya dan kebisingan.

Berbagai sumber daya alam yang mempunyai sifat dan perilaku yang beragam tersebut saling berinteraksi dalam bentuk yang berbeda-beda pula. Sesuai dengan kepentingannya maka sumber daya alam dapat dibagi atas;
a) fisiokimia seperti udara, tanah, air
b) biologi, seperti fauna, flora, habitat
c) sosial ekonomi seperti pendapatan, kesehatan, agama, adat-istiadat
pada dasarnya masalah pencemaran ini dapat memberikan dampak pada spectrum yang luas karena dapat terjadi pada berbagai lingkungan fisik kehidupan manusia. Ehubungan dengan hal ini, Eitzen membedakan berbagai bentuk pencemaran antara lain:
1. pencemaran udara yang dapat berasal dari asap mobil, asap pabrik, asap pembakaran minyak, asap pembakaran sampah.
2. Pencemaran yang berasal dari pembuangan limpah industry ke sungai, danau, laut atau limbah berbagai jenis pestisida dan pupuk yang digunakan petani.
3. Pencemaran kimiawi berupa produksi bahan-bahan sintesis yang digunakan sebagai bahan detergen, pupuk, pestisida, plastic, pakaian.
4. Limbah padat berupa sampah buangan kegiatan individu atau bisnis tertentu.

Pada intensitas dan kompleksitas lingkungan hidup dapat berkaitan dengan keterbatasan ekologi dengan lingkungan maksudnya adalah biolog yang biasa disebut dengan ekologi adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang berhubungan erat dengan lingkungan. Ekologi berasal dari kata oikos yang berarti rumah tangga dan logos yang mempunyai arti ilmu pengetahuan. Jadi, ekologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya yang bersifat dinamis. Hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya sangat terbatas terhadap lingkungan yang bersangkutan, hubungan inilah yang disebut dengan keterbatasan ekologi. Dalam keterbatasan ekologi terjadi degradasi ekosistem yang disebabkan oleh dua hal yaitu peristiwa alami dan kegiatan manusia. Secara alami merupakan peristiwa yang terjadi disebabkan bukan karena oleh perilaku manusia. Tetapi yang disebabkan oleh kegiatan manusia degradasi ekosistem yang dapat terjadi di berbagai bidang meliputi bidang pertanian, pertambangan, kehutanan, konstruksi jalan raya, pengembangan sumber daya air dan adanya urbanisasi

B. Latar Belakang Masalah
Perubahan ekosistem lingkungan yang paling utama disebabkan oleh perilaku masyarakat yang kurang baik dalam pemanfaatan sumber-sumber daya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal inilah yang menyebabkan adanya perubahan ekosistem. Perubahan ekosistem suatu lingkungan terjadi dengan adanya kegiatan masyarakat seperti pemanfaatan lahan yang dijadikan sebagai daerah pertanian sehingga dapat mengurangi luas lahan lainnya. Adanya pertambahan jumlah penduduk dalam memanfaatkan lingkungan akan membawa dampak bagi mata rantai yang ada dalam suatu ekosistem. Selain itu kerusakan hutan yang terjadi karena adanya penebangan dan kebakaran hutan dapat mengakibatkan banyak hewan dan tumbuhan yang punah. Padahal hutan merupakan sumber kehidupan bagi sebagian masyarakat yang berfungsi sebagai penghasil oksigen, tempat penyedia makanan dan obat-obatan.
Jumlah kerusakan flora dan fauna akan terus bertambah dan berlangsung lama jika dalam penggunaannya masyarakat tidak memperhatikan keseimbangan terhadap ekosistem lingkungan. Dampak dari perubahan ekosistem akan berkurang jika masyarakat mengetahui dan memahami fungsi dari suatu ekosistem tersebut. Kerusakan ekosistem membawa dampak bukan hanya pada keanekaragaman terhadap flora dan fauna juga dapat mmbawa pengaruh lain terhadap masyarakat itu sendiri seperti longsor, banjir dan erosi. Selain itu kerusakan lingkungan bisa di sebabkan oleh sampah. Sampah yang semakin banyak dapat menimbulkan penguapan sungai dan kehabisan zat asam yang sangat dibutuhkan bagi mikroorganisme yang hidup di sungai. Serta dapat pula disebabkan dari pembuangan limbah cair dari kapal dan pemanfaatan terhadap penggunaan air panas yang dapat menimbulkan laut menjadi tercemar.
Berdasarkan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dapat dikatakan bahwa lingkungan merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan organisme dalam melangsungkan kehidupan. Dengan kata lain, lingkungan hidup merupakan keseluruhan unsur atau komponen yang berada di sekitar individu yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan individu yang bersangkutan. Dalam beberapa puluh tahun terakhir ini ada tiga istilah yang masih saling berkaitan, yaitu “Lingkungan, Ekosistem, dan Kualitas Hidup”, banyak digunakan untuk melukiskan isu-isu patriotisme yang dapat menggu¬gah emosi. Istilah-istilah ini jarang didefinisikan, barangkali karena makna-makna “kamusial” seperti itu tidak cukup mencerminkan gema simbo¬liknya secara memadai.
Dalam kondisi tidak ada manusia sekalipun, lingkungan alami pasti mengal¬ami perubahan-perubahan secara kontinyu. Hal ini mungkin saja berlang¬sung dalam jangka waktu ratusan juta tahun, seperti misalnya terangkat¬nya kontinental dan pembentukan gunung api atau dalam jangka waktu puluhan ribu tahun seperti Zaman Es dan perubahan permukaan air laut yang menyertainya; atau dalam jangka waktu ratusan tahun seperti halnya eutrofikasi alami dan siltasi danau-danau dangkal; atau bahkan dalam jangka waktu beberapa tahun, seperti kalau koloni binatang “beaver” mengubah lahan kering menjadi rawa-rawa. Sebagian dari perubahan-peruba¬han alami tersebut bersifat tidak dapat balik (irreversible) seperti eutrofikasi danau, sedangkan lainnya bersifat siklis seperti siklus klimatik tahunan, atau transien seperti kekeringan.
Unsur-unsur yang ada dilingkungan hidup Masalah Lingkungan Hidup yaitu:
1. Unsur Hayati (Biotik), Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah manuia.

2. Unsur Sosial Budaya, Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.

3. Unsur Fisik (Abiotik), Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara,iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.
Sehubungan dengan sumber masalah pencemaran Dan kelestarian lingkungan,Eitzen mengemukakan adanya dua hal pokok yaitu faktor kultural meliputi pandangan manusia tentang alam, sikap terhadap teknologi,perkembangan peradaban manusia,paham materialisme Dan paham individualisme.Sedangkan faktor struktural meliputi sistem ekonomi, sistem politik, pola kedudukan Dan stratifikasi sosial.Untuk indonesia Salim mengemukakan empat faktor yang mempengaruhi yaitu jumlah, kualitas Dan lokasi penduduk, teknologi yang di pakai, sifat sumber alam(dapat diperbarui atau tidak)Dan pola hidup yang mengonsumsi sumber alam.
Demikian pula halnya dengan dorongan untuk pengendalian bagi usaha eksploitasi Dan pemanfaatan alam secara semena-mena.
Sikap manusia terhadap teknologi memengaruhi intensitas serta keluasan masalah pencemaran Dan kelestarian lingkungan melalui cara bagaimana mausia berhubungan dengan alam.Paling ada 3 bentuk hubungan tersebut yaitu:
1. manusia melihat alam sebagai kekuatan besar yang dapat mengendaliakan kehidupan manusia,oleh karenanya manusia tunduk kepadanya.
2. melihat hubungan dalam keseimbangan,manusia membutuhkan alam Dan alam membutuhkan manusia.
3. manusia dengan segala kemampunnya berusaha mengusai alam.
Melihat ketiga bentuk hubungan tadi,maka faktor teknologi akan sangat berpengaruh dalam pola hubungan yang ketiga.Dalam pola ini teknologi merupakan sarana yang dapat digunakan manusia untuk mengusai alam.bahkan dalam kondisi yang lebih ekstrim,teknologi bukan lagi dianggap sebagai alat atau sarana melainkan tujuan.Dalam keadaan ini dapat terjadi manusia mendewakan teknologi.Teknologi merupakan kekuatan sangat besar Dan perkasa yang membuat manusia memperlakukan alam sesuai kehendaknya dalam rangka memenuhi tujuan Dan kepentingannya.
Paham materialisme berkaitan dengan masalah pencemaran Dan kelestarian lingkungan oleh karena paham ini menempatkan aspek materi sebagai simbol sukses seseorang.barangkali tidak akan terlalu besar apabila kecenderungan tersebut diikuti dengan tanggung jawab baik konsumen maupun produsen terhadap kelestarian lingkungan.

C. Penanganan Masalah Berbasis Masyarakat
1. Mengembangkan Sistem Sosial yang Responsif
Secara umum, faktor penyebab bencana dapat dikategorikan dalam tiga kelompok. Pertama, bencana akibat faktor alam, seperti gempa bumi, gunung berapi, badai/topan, dan kekeringan. Kedua, bencana akibat ulah manusia, seperti pencemaran lingkungan, kebakaran, konflik horizontal, dan teror bom. Ketiga, bencana yang disebabkan gabungan faktor alam dan manusia, seperti banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan. Mengantisipasi kemungkinan itu, diperlukan pemahaman, kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab semua pihak akan pentingnya pencegahan dan penanggulangan bencana. Salah satu upaya untuk mengurangi dampak bencana yang lebih besar adalah manajemen pengelolaan lingkungan hidup dan keseimbangan kesatuan ekosistem dengan kehidupan manusia. Melalui pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lain, lingkungan hidup sebaiknya dikelola dengan memperhatikan asas keadilan, keselarasan, dan keseimbangan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia dan alam. bencana akan berakibat pada pemanfaatan yang tidak terkendali dan tidak memperhitungkan risiko-risiko bencana di kemudian hari. Investasi dan pembangunan selama ini dilakukan nyaris tanpa perhitungan atas risiko-risiko tersebut. Karena itu, kita perlu terus-menerus mendesak agar penyusunan konsep penataan ruang memiliki aspek perhitungan terhadap risiko bencana. Dengan kata lain, penataan ruang wilayah satu daerah harus memuat semangat responsif bencana. Sebab, hal itu sudah menjadi kebutuhan mendesak di tengah kepungan kerentanan alam dan potensi bencana yang besar di seluruh wilayah Indonesia.
Setiap individu, komunitas maupun unit sosial yang lebih besar mengembangkan kapasitas sistem penyesuaian dalam merespon ancaman. Renspon itu bersifat jangka pendek yang disebut mekanisme penyesuaian (coping mechanism) atau yang lebih jangka panjang yang dikenal sebagai mekanisme adaptasi (adaptatif mechanism). Mekanisme dalam menghadapi perubahan dalam jangka pendek terutama bertujuan untuk mengakses kebutuhan hidup dasar: keamanam, sandang, pangan, sedangkan jangka panjang bertujuan untuk memperkuat sumber-sumber kehidupannya. Permasalahan lingkungan hidup diselesaikan dengan meninggalkan permasalahan. Belum lagi bahwa kecenderungan adanya fenomena dialektika dalam penyelesaian masalah, yaitu munculnya masalah baru dalam penyelesaian masalah. Oleh karenanya penyelesaian lingkungan cenderung akan memunculkan akumulasi masalah: sisa masalah dan masalah baru. Pada kasus pencemaran solar PT KAI di Jl. agran dan sekitarnya misalnya, “penyelesaian” dengan memasang instalasi air bagi masyarakat yang tercemar akan menyisakan dan memunculkan masalah baru

2. Pemanfaatan Modal Sosial
Terdapat berbgai lembaga atau kantor yang memiliki definisi dalam masalah lingkungan hidup. Dan salah satunya adalah Kantor Lingkungan Hidup (KLH) dan Badan Pengendali Lingkungan Daerah (Bapedalda) yang mendefinisikan semakin giatnya pembangunan dan pengembangan industri-industri di Indonesia, maka KLH dan Bapedalda harus diisi oleh tenaga-tenaga ahli kesehatan lingkungan yang kritis, tangguh, dan independen untuk mengendalikan dampak negatif pembangunan, serta mengarahkan kepada pembangunan yang berwawasan lingkungan. tercapainya kesejahteraan umum dan kehidupan bangsa yang cerdas dan dapat berperannya bangsa Indonesia dalam melaksankan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dengan demikian, visi pembangunan yang kita anut adalah pembangunan yang dapat memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat generasi saat ini tanpa mengurangi potensi pemenuhan aspirasi dan kebutuhan generasi mendatang. Oleh karena itu fungsi lingkungan hidup perlu terlestarikan. Manusia sebagai individu maupun anggota kelompok suatu masyarakat membutuhkan berbagai hal dalam kehidupannya. Untuk menjalani hidup tidak akan ada yang sanggup untuk hidup sendiri. Pastilah kita membutuhkan orang lain untuk membantu dalam menjalani hidup ini. Dengan terpenuhinya kebutuhan hidup, dapat menyebabkan timbulnya rasa aman, nyaman, tentram, dan percaya diri. Dengan bekerja sama, tidak hanya rasa aman dan percaya diri saja yang ada, tetapi juga harga diri yang tak ternilai harganya dengan apapun jua. Tetapi kemampuan seseorang atau kelompok masyarakat untuk berkembang tidak selalu sama, sehingga produktivitasnya juga berbeda.
3. Pemanfaatan Institusi Sosial
kebijakan nasional dalam bidang lingkungan hidup secara eksplisit PROPENAS merumuskan program yang disebut sebagai pembangunan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Program itu mencakup :
1) Program Pengembangaan dan Peningkatan Akses Informasi Sumber Daya Alam,
Program ini bertujuan untuk memperoleh dan menyebarluaskan informasi yang lengkap mengenai potensi dan produktivitas sumberdaya alam dan lingkungan hidup melalui inventarisasi dan evaluasi, serta penguatan sistem informasi.
2) Program Peningkatan Efektifitas Pengelolaan, Konservasi dan Rehabilitasi Sumber daya alam, Tujuan dari program ini adalah menjaga keseimbangan pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup hutan, laut, air udara dan mineral. Sasaran yang akan dicapai dalam program ini adalah termanfaatkannya sumber daya alam untuk mendukung kebutuhan bahan baku industri secara efisien dan berkelanjutan.
3) Program Pencegahan dan Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan Hidup, Tujuan program ini adalah meningkatkan kualitas lingkungan hidup dalam upaya mencegah kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan dan pemulihan kualitas lingkungan yang rusak akibat pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan, serta kegiatan industri dan transportasi.
4) Program Penataan Kelembagaan dan Penegakan Hukum, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan Hidup. Program ini bertujuan untuk mengembangkan kelembagaan, menata sistem hukum, perangkat hukum dan kebijakan, serta menegakkan hukum untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan hidup yang efektif dan berkeadilan.
5) Progam Peningkatan Peranan Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya alam dan Pelestarian fungsi Lingkungan Hidup. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan peranan dan kepedulian pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup.

a) Organisasi Masyarakat
Kalangan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) selama ini, lebih menekankan pada seruan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik atau melarang untuk melakukan sesuatu yang dianggap merugikan lingkungan hidup. Seruan demi seruan telah dilantangkan dan diulang setiap tahunnya oleh MAPALA dan pihak lainnya. Namun perlu diakui masih banyak kekurangan yang mengakibatkan tidak terwujudnya tujuan yang hendak dicapai, yaitu bentuk upaya pelestarian yang dilakukan masih bersifat sporadis dan tidak terintegrasi dengan bagian-bagian lainnya. WALHI dibentuk oleh sekelompok tokoh nasional yang peduli lingkungan sehingga WALHI merupakan organisasi swadaya. Tokoh-tokoh pendirinya antara lain Emil Salim, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Tjokropanolo, dan Erna Witoelar. Mereka menginginkan agar tanggung jawab menjaga lingkungan hidup menjadi gerakan dalam masyarakat. Diharapkan dengan wadah ini masyarakat serius mengenali persoalan lisngkungan hidup serta menemukan solusi memecahkan permasalahanya. Dengan tujuan tersebut, pada tanggal 15 Oktober 1980 terbentuklah WALHI (Wahana Lingkungan Hidup).
Berbagai kegiatan dilaksanakan oleh WALHI, antara lain agenda rutin yaitu kampanye di berbagai lingkungan.
1. Kampanye tentang Air
2. Kampanye Hutan
3. Kampanye Energi
4. Kampanye Pencemaran
5. Kampanye Pengelolaan Bencana
6. Kampanye Pesisir dan Laut

Organisasi Masyarakat yang bergerak aktif dan terlibat dalam hal ini yaitu :
• Lab. Kesehatan dan Lingkungan, seperti Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Dep Kes dan laboratorium-laboratorium swasta.
• Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), mengawasi dan mengendalikan masuknya penyakit-penyakit yang terbawa dari luar wilayah Indonesia melalui transportasi laut, darat maupun udara.
• HSE (Health, Safety, and Environment), berada pada bidang industri dan pertambangan.
b) Organisasi Swasta
pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam dengan pendekatan yang lebih komprehensif dengan mendasarkan pada penerapan asas-asas umum kebijaksanaan lingkungan yakni :
1) Asas penanggulangan pada sumbernya antara lain dengan mengembangkan kebijakan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan tingkat sumber sampah lainnya, kebijakan sistem pengawasan industri,
2) Asas penerapan sarana praktis yang terbaik, atau sarana teknis yang terbaik, antara lain melalui pengembangan kebijaksanaan industri bersih,
3) Prinsip pencemar membayar melalui pengembangan kebijaksanaan pemberian insentif pajak pemasukan alat pengelolah limbah bagi industri yang taat lingkungan, insentif lain bagi pengembangan industri yang melakukan daur ulang,
4) Prinsip cegat tangkal dengan melakukan pengembangan sistem pengawasan import, kebijaksanaan pengelolaan hutan dan DAS berbasis masyarakat,
5) Prinsip perbedaan regional dengan mengembangkan kebijaksanaan insentif berupa subsidi dari wilayah pemanfaat (hilir) kepada wilayah pengelolah (hulu), secara konsisten, partisipatif dan berbasis pada keadilan lingkungan.
c) Optimalisasi Kontribusi Dalam Pelayanan Sosial
Melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung jawab setiap insan di bumi, dari balita sampai manula. Setiap orang harus melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. embangunan berwawasan lingkungan adalah usaha meningkatkan kualitas manusia secara bertahap dengan memperhatikan faktor lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan dikenal dengan nama Pembangunan Berkelanjutan.

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mempunyai tujuan di antaranya:
a. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
b. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat.
c. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan.
Konsep pembangunan berkelanjutan merupakan kesepakatan hasil KTT Bumi di Rio de Jeniro tahun 1992. Didalamnya terkandung 2 gagasan penting, yaitu:
I. Gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan pokok manusia untuk menopang hidup.
II. Gagasan keterbatasan, yaitu keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan baik masa

d) Kerjasama dan Jaringan
Upaya yang Dilakukan Pemerintah Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah antara lain, Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang Tata Guna Tanah. Menerbitkan UU No. 4 Tahun 1982, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan). Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian Lingkungan, dengan tujuan pokoknya, Menanggulangi kasus pencemaran. Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3). Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon. Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup oleh Masyarakat Bersama Pemerintah
Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Beberapa upaya yang dapat dilakukan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup antara lain, Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan) Pelestarian udara, Pelestarian hutan, Pelestarian laut dan pantai, Pelestarian flora dan fauna.

D. Upaya Penanganan Masalah
Beberapa usaha yang dilakukan untuk pelestarian lingkungan hidup antara lain yaitu sebagai berikut, kasus didalam Bidang Kehutanan seperti Penebangan pohon dan penanaman kembali agar dilakukan dengan seimbang sehingga hutan tetap lestari, Memperketat pengawasan terhadap penebangan-penebangan liar dan memberikan hukuman yang berat kepada mereka yang terlibat dalam kegiatan tersebut, Melakukan reboisasi (penanaman hutan kembali) pada kawasan-kawasan yang hutannya telah gundul, dan merehabilitasi kembali hutan-hutan yang telah rusak, Memperluas hutan lindung, taman nasional, dan sejenisnya sehingga fungsi hutan sebagai pengatur air, pencegah erosi, pengawetan tanah, tempat perlindungan flora dan fauna dapat tetap terpelihara dan lestari. Dalam Bidang Pertanian meliputi, Mengubah sistem pertanian berladang (berpindah-pindah) menjadi pertanian menetap seperti sawah, perkebunan, tegalan, dan sebagainya, Pertanian yang dilakukan pada lahan tidak rata (curam), supaya dibuat teras-teras (sengkedan) sehingga bahaya erosi dapat diperkecil, Mengurangi penggunaan pestisida yang banyak digunakan untuk pemberantasan hama tanaman dengan cara memperbanyak predator (binatang pemakan) hama tanaman karena pemakaian pestisida dapat mencemarkan air dan tanah, Menemukan jenis-jenis tanaman yang tahan hama sehingga dengan demikian penggunaan pestisida dapat dihindarkan. Dalam Bidang Industri seperti, Penetralan limbah-limbah industri yang akan dibuang ke dalam tanah maupun perairan, Mengurangi pemakaian bahan bakar minyak bumi dengan sumber energi yang lebih ramah lingkungan seperti energi listrik yang dihasilkan PLTA, energi panas bumi, sinar matahari, dan sebagainya, Melakukan daur ulang (recycling) terhadap barang-barang bekas yang tidak terpakai seperti kertas, plastik, aluminium, best, dan sebagainya, Menciptakan teknologi yang hemat bahan bakar, dan ramah lingkungan, Menetapkan kawasan-kawasan industri yang jauh dari permukiman penduduk. Dalam Bidang perairan meliputi, Melarang pembuangan limbah rumah tangga, sampah-sampah, dan benda-benda lainnya ke sungai maupun laut karena sungai dan laut bukan tempat pembuangan sampah, Perlu dibuat aturan-aturan yang ketat untuk penggalian pasir di laut sehingga tidak merusak lingkungan perairan laut sekitarnya, Pengambilan karang di laut yang menjadi tempat berkembang biak ikan-ikan harus dilarang, Perlu dibuat aturan-aturan penangkapan ikan di sungai/laut seperti larangan penggunaan bom ikan, pemakaian pukat harimau di laut yang dapat menjaring ikan sampai sekecil-kecilnya, dan sebagainya. Dalam Flora dan Fauna juga bisa meliputi Menghukum yang seberat-beratnya sesuai dengan undang-undang bagi mereka yang mengambil flora dan memburu fauna yang dilindungi.
asumsi pemikiran masyarakat bahwa salah satu penyebab kerusakan lingkungan hidup adalah kemiskinan yang akut di negara-negara berkembang. Tanpa penanganan yang komprehensif terhadap isu kemiskinan, maka upaya masyarakat internasional melaksanakan agenda pembangunan berkelanjutan akan sia-sia. Dalam kaitan ini, negara-negara berkembang prinsipnya sepakat bahwa kemiskinan adalah salah satu penyebab dari berbagai penyebab penting lainnya seperti pola konsumsi dan produksi yang tidak sustainable serta tidak tersedianya sumber keuangan dan teknologi yang memadai.Pola pembangunan sebagai visi utama Gubernur Riau dengan formulasi K2i (Pembangunan pada sektor pemberantasan kebodohan, kemiskinan dan pembangunan infrastruktur) patut untuk diapresiasi. Namun konsep K2i itu perlu diterjemahkan dengan strategi pembangunan yang applicable. Sikap tegas dari Gubernur untuk melawan kebodohan dan kemiskinan jangan sampai hanya tinggal dipodium dan lembar pidato. Yang dibutuhkan saat ini adalah aksi rill dari pemerintah dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem bumi, dimana lingkungan hidup adalah mitra dari pembangunan daerah. Kebijakan pemerintah untuk melakukan pembangunan daerah tidak hanya memperhatikan unsur ekonomi dan politik saja dengan mengesampingkan kepentingan lingkungan. Kita memang tidak bisa melakukan pemisahan antara elemen ? elemen tersebut. Gagasan Emil Salim (2002) dengan paradigma ekonomi dalam lingkungan cukup menarik untuk kita diskusikan. Menurutnya Pembangunan dengan orientasi ekonomi nasional tetap perlu digalakkan namun pemberdayaan lingkungan menjadi include didalamnya sebagai partner utama pembangunan berkelanjutan. masyarakat luas perlu melakukan kontrol terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Pada sektor korporasi yang mengelola langsung sumber daya alam lokal, seperti CALTEX, RAPP, serta perusahaan ? perusahaan besar lainnya harus memperhatikan kesepakatan ISO-14000 yang mengamanahkan untuk meningkatkan pola produksi berwawasan lingkungan, membangun pabrik atau perusahaan hijau (green company) dengan sasaran keselamatan kerja, kesehatan dan lingkungan yang maksimal dan pola produksi dengan limbah nol (zero waste).Meminjam AA? Gym, bahwa untuk melakukan apa yang dicita ? citakan tidak akan berhasil tanpa didukung oleh kesadaran manusianya. Maka dari itu – dalam kerangka memelihara lingkungan-mulailah dari yang kecil, seperti membuang puntung rokok pada tempatnya, Mulailah dari diri sendiri dan mulailah dari sekarang. Mari kita cintai diri kita dan makhluk lain dibumi dengan senantiasa menjaga dan memelihara lingkungan hidup.

Penutup

Perubahan ekosistem lingkungan yang paling utama disebabkan oleh perilaku masyarakat yang kurang baik dalam pemanfaatan sumber-sumber daya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal inilah yang menyebabkan adanya perubahan ekosistem. Perubahan ekosistem suatu lingkungan terjadi dengan adanya kegiatan masyarakat seperti pemanfaatan lahan yang dijadikan sebagai daerah pertanian sehingga dapat mengurangi luas lahan lainn Berdasarkan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dapat dikatakan bahwa lingkungan merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan organisme dalam melangsungkan kehidupan. Ada pun Beberapa usaha yang dilakukan untuk pelestarian lingkungan hidup antara lain yaitu sebagai berikut, kasus didalam Bidang Kehutanan seperti Penebangan pohon dan penanaman kembali agar dilakukan dengan seimbang sehingga hutan tetap lestari, Memperketat pengawasan terhadap penebangan-penebangan liar dan memberikan hukuman yang berat kepada mereka yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Dengan ada nya asumsi pemikiran dari masyarakat bahwa salah satu penyebab kerusakan lingkungan hidup adalah kemiskinan yang akut di negara-negara berkembang. Tanpa penanganan yang komprehensif terhadap isu kemiskinan, maka upaya masyarakat internasional melaksanakan agenda pembangunan berkelanjutan akan sia-sia.

Daftar pustaka

Soetomo. 2008. masalah sosial dan upaya pemecahanya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
masalah sosial sebagai efek perubahan (kasus lingkungan hidup) dan upaya pemecahan nya, 1.0 out of 10 based on 1 rating
Share

There Is 1 Response So Far. »

  1. assalamuallaikum wr wb
    saya menyukai dan mengagumi tentang ilmu geografi….
    maka oleh sebab itu saya mencari,melihat dan membaca makalah ini ”
    yang saya dapat ambil dari makalah ini berupa pengetahuan yang sangat luar biasa karna ini sebuah penyembuhan terhadap bumi kita tempat kita berpijak dan melangsungkan kehidupan .
    sekian terimakasih
    wassalamuallaikum wr wb .

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image