TUGAS MAKALAH SOSIOLOGI dan POLITIK Masalah Sosial Sebagai Efek Perubahan (Kasus Lingkungan Hidup) dan Upaya Pemecahannya

TUGAS MAKALAH

SOSIOLOGI dan POLITIK

Masalah Sosial Sebagai Efek Perubahan (Kasus Lingkungan Hidup) dan Upaya Pemecahannya

ADITYO HENDRADI (22209125)

1EB19

Program Sarjana Ekonomi Akuntansi

UNIVERSITAS GUNADARMA

Tahun 2010


Mata Kuliah                           : Sosiologi dan Politik

Dosen                                      : Muhammad Burhan Amin

Topik Tugas                          : Masalah Sosial sebagai efek Perubahan (Kasus Lingkungan Hidup) dan Upaya Pemecahannya

Kelas                                       : 1EB19

Dateline Tugas                       : 3 April 2010

Tanggal Penyerahan Tugas : 3 April 2010

P E R N Y A T A A N

Dengan ini kami menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam tugas ini kami buat sendiri tanpa meniru atau mengutip dari tim / pihak lain.

Apabila terbukti tidak benar, kami siap menerima konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini.

P e n y u s u n

N P M

Nama Lengkap

Tanda Tangan

22209125

Adityo Hendradi

Program Sarjana Ekonomi Akuntansi

UNIVERSITAS GUNADARMA

Tahun 2010

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah swt. Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini berisi tentang Masalah Sosial Sebagai Efek Perubahan (Kasus Lingkungan Hidup) dan Upaya Pemecahannya. Makalah ini disusun untuk membantu pembaca agar pembaca dapat mengerti Masalah Sosial terutama Kasus Lingkungan Hidup dan juga membantu pembaca agar mengerti apa penyebab timbulnya masalah lingkungan Hidup dan bagaimana cara menangani masalah lingkungan hidup  dengan memanfaatkan modal sosial dan institusi sosial yang meliputi organisasi masyarakat, organisasi swasta, optimalsasi kontribusi pelayanan sosial, dan kerja sama dan jaringan.

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi tercapainya kesempurnaan dalam penyusunan makalah ini, dan saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bekasi, 3 April 2010

Penulis


DAFTAR ISI

Cover……………………………………………………………………………..              i

Pernyataan……………………………………………………………………..               ii

Kata Pengantar……………………………………………………………….                iii

Daftar Isi………………………………………………………………………..               iv

BAB I             PENDAHULUAN……………………………………………….             1

  1. Intensitas  dan Kompleksitas Masalah………………..                            2
  2. Latar Belakang Masalah…………………………………..                             3

BAB II                        PEMBAHASAN…………………………………………………                                       5

  1. Penaganan Masalah Berbasis Masyarakat…………                                 5
    1. Mengembangkan Sistem Sosial Yang Responsif                        5
    2. Pemanfaatan Modal Sosial………………………….                        6
    3. Pemanfaatan Institusi Sosial……………………….                       7
      1. Organisasi Masyarakat………………………….                            8
      2. Organisasi Swasta………………………………                              8
      3. Optimalisasi Kontribusi dalam pelayanan sosial                    9
      4. Kerja Sama dan Jaringan……………………….                          10
  2. Upaya Penanganan Masalah……………………………..                            11

BAB III          PENUTUP…………………………………………………………..                                  16

  1. Kesimpulan…………………………………………………….                          16
  2. Saran……………………………………………………………..                          16

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….                        17

BAB I

PENDAHULUAN

Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan. Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar. Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang.

Secara khusus, kita sering menggunakan istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi.

Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Unsur Hayati (Biotik)

Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.

2. Unsur Sosial Budaya

Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.

3. Unsur Fisik (Abiotik)

Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.

A.        Intensitas dan Kompleksitas Masalah

Suatu ekosistem pada dasarnya adalah komunitas biota yang saling berinteraksi dengan lingkungan fisiknya seperti matahari, air, tanah, dan batuan. Kelangsungan hidup spesies dalam ekosistem dipengaruhi oleh daya dukung system tadi dalam penyediaan keperluan bagi kehidupan. Dengan demikian pertambahan populasi manusia termasuk perubahan begi berbagai jenis perilakunya akan dapat mempengaruhi keseimbangan yang ada. Dari kenyataan tersebut tampak bahwa proses modernisasi dan pembangunan yang mempunyai tujuan utama mengusahakan perbaikan kondisi kehidupan, namun di sisi lain akan mendatangkan kerawanan bagi kelestarian lingkungan.

Suatu ekosistem pada dasarnya adalah komunitas biota yang saling berinteraksi dengan lingkungan fisiknya seperti matahari, air, tanah, dan batuan. Kelangsungan hidup spesies dalam ekosistem dipengaruhi oleh daya dukung system tadi dalam penyediaan keperluan bagi kehidupan. Dengan demikian pertambahan populasi manusia termasuk perubahan begi berbagai jenis perilakunya akan dapat mempengaruhi keseimbangan yang ada. Dari kenyataan tersebut tampak bahwa proses modernisasi dan pembangunan yang mempunyai tujuan utama mengusahakan perbaikan kondisi kehidupan, namun di sisi lain akan mendatangkan kerawanan bagi kelestarian lingkungan. Potensi kerawanan tersebut akan semakin dipahami karena dalam rangka peningkatan taraf hidup masyarakat, melalui pembangunan telah dilakukan usaha yang semakin insentif dalam rangka memobilisasi sumber daya.

Masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan juga merupakan persoalan dalam ruang lingkup nasional, karena menyangkut kebehasilan pembangunan nasional, khususnya keberhasilan dalam jangka panjang, agar kesejahteraan yang lebih baik dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya.

Berbicara masalah kelestarian lingkungan, ada beberapa orang yang tergabung dalam kelompok Roma yang memerhatikan kondisi lingkungan. Hasil penelitian para ahli dari MIT yang dilaporkan kepada kelompok dimaksudkan untuk membuka mata dunia yan berkaitan dengan masalah keletarian lingkungan. Kesimpulan pokok laporan tersebut adalah, jika kecendrungan pada masa lampau diteruskan, dunia akan melamapaui batas kemampuannya untuk berkembang dalam beberapa generasi lagi dan akan mengalami bencana. Laporan itu melahirkan berbagai pendapat pro kontra. Terlepas dari masalah pro kontra terhadap laporan tersebut paling tidak telah berhasil membuka mata dunia tentang masalah yang akan dihadapi di masa yang akan datang.

B.        Latar Belakang

Seperti pembahasan masalah sosial sebelumnya, pemahaman latar belakang dan sumber masalah ini akan banyak membantu dalam upaya penanganan masalah.

Manusia selalu menganggap bahwa alam merupakan gudang yang sangat luas yang berisi aneka ragam bahan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan alam juga dianggap sebagai persediaan cadangan yang bersifat murah hati serta menyediakan diri untuk melayani kebutuhan hidup manusia. Pandangan seperti itu adalah salah besar karena dapat mendorong orang untuk memanfaatkan alam bagi tujuan apa saja tanpa berpikir panjang lagi. Sikap manusia terhadap teknologi memengaruhi serta keluasan masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan melalui cara bagaimana manusia berhubungan dengan alam.

Perkembangan peradaban manusia memengaruhi hadirnya masalah lingkungan hidup berkaitan dengan tertentu juga dapat meninmbulkan masalah. Dengan adanya permukiman penduduk perkotaan berarti pula adanya konsentrasi limbah di kawasan itu. Indonesia juga mempunyai masalah konsentrasi penduduk di pulau Jawa, Bali, dan Madura. Kepadatan di daerah tersebut memberi tekanan besar pada sumber alam tanah, sehungga tanah dikuras habis-habisan.


BAB II

PEMBAHASAN

C.        Penanganan Masalah Berbasis Masyarakat

Manusia sering kali menghadapi masalah besar bahkan krisis global yang mengancam kelangsungan hidupnya. Apabila masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan dianggap sebagai masalah krisis makaharus dicari solusinya agar ancaman tersbut tidak menjadi kenyataan. Ada beberapa alternatif yang ditawarkan oleh Eitzen untuk mengatasi masalah tersebut, diantaranya:

  1. Reduksi secara sukarela melalui mekanisme pasar.
  2. Sistem hukum yang berfungsi sebagai pengendalian.
  3. Memerangi langsung terhadap pencemaran.

Jika dilihat dari pendekatan pembangunan, penanganan masalah terhadap pencemaran da kelestarian lingkungan dapat diatasi dengan mengintegrasikan upaya yang ada ke dalam aktifitas pembangunan yang sedang berjalan. Melalui pendekatan tersebut penggunaan sumber daya alam dapat dilakukan dengan bijaksana untuk mencapau kualitas tertinggi bagi umat manusia. Dengan pertimbangan seperti itu, maka usaha masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan sudah diintegrasikan ke dalam mekanisme pembangunan sejak dalam proses pembangunan.

Setelah pendekatan pembangunan, kemudian dikenal konsep pembangunan berkelanjutan. Definisi dari konsep tersebut adalah suatu cara atau strategi pembangunan yang memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang dan menghindari eksploitasi sumber daya alam secara maksimal yang hanya menguntungkan dalam jangka pendek saja. Dengan menggunakan pendekatan pembangunan berkelanjutan tidak berarti proses produksi harus berhenti pada suatu titik quo tertentu, sementara kebutuhan manusia terus bertambah. Konsep ini mengandung unsur mengembangkan sistem produksi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi penduduk yang bertambah, tanpa merusak sumber daya lingkungan.

  1. 1. Mengembangkan Sistem Sosial Yang Responsif

Masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan akan lebih efektif dipecahkan melalui bekerjanya sistem sosial yang mampu mengolah dan memanfaatkannya untuk melakukan pemecahan masalah secara keseluruhan. Menurut pemikiran tersebut, masyarakat dapat melakukan upaya perbaikan, penyembuhan, dan penanganan masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan hidup secara mandiri melalui bekerjanya mekanisme dalam sistem sosialnya. Kondisi pencemaran dan kelestarian lingkungan yang terjadi di masyarakat dapat menjadi referensi untuk menentukan dimensi dan komponen apa yang harus diperbaiki. Dalam masyarakat yang kondisi pencemaran dan kelestarian lingkungan sudah kompleks, identifikasi masalahnya sangat sulit dan sering kali menyangkut struktur dan institusi sosialnya. Walaupun demikian, terlepas dari kompleksitas masalahnya, sebenarnya masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan ini dapat dipecahkan, bukan hanya mengobati gejalanya saja tetapi bisa juga mengobati sumber masalahnya dengan melakukan langkah-langkah sistemik melalui pengolahan umpan balik.

Untuk mengatasi masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan ini, ada beberapa strategi untuk menanganinya. Strategi tersebut adalah sebagai berikut Community Development, dan Strategi pembangunan yang berbasis masyarakat dan berorientasi pemberdayaan yang digunakan. Strategi Community Development merupakan strategi untuk mendorong ke arah perubahan kehidupan yang lebih baik, yang bersandar pada prakarsa dan partisipasi masyarakat.

2.         Pemanfaatan Modal Sosial

Untuk mengatasi masalah sosial seperti masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan hidup diperlukan modal sosial, baik modal fisik dan sosial yang dapat digunakan sebagai energi penggerak untuk menangani masalah tersebut. Pada setiap masyarakat memiliki modal sosial tersebut, namun perbedaanya adalah besar kecilnya, variasi kandungannya, dan identifikasinya.

Dalam realitas kehidupan, pemanfaatan modal sosial guna penanganan masalah lingkungan hidup oleh masyarakat dapat dilihat dari beberapa bentuk. Diantaranya yang paling banyak dijumpai adalah dalam bentuk tindakan bersama untuk melakukan tindakan penanaman pohon agar kualitas udara yang sudah tercemar dapat kembali sejuk.

Keberadaan modal sosial dapat menjadi energi bagi tindakan bersama untuk pengadaan berbagai fasilitas untuk mengatasi masalah pencemaran dan kelestarian hidup. Dalam bentuk lain, terutama dilihat dari upaya untuk mengantisipasi masalah sosial yang berupa solidaritas sosial, rasa saling percaya dan asas tibal balik dapat mendorong berbagai bentuk tindakan yang mencerminkan kepedulian sosial. Dalam bentuknya yang lain , keberadaan modal sosial terutama apabila dikelola dengan baik dapat digunakan untuk memelihara integrasi sosial dalam masyarakat,  termasuk yang kondisinya sudah semakin kompleks dengan varisasi kepentingan yang kompleks pula.

Walupun masyarakat mempunyai kemampuan untuk melakukan usaha penanganan masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan hidup dan untuk itu perlu selalu ditingkatkan kapasitasnya melalui upaya pemberdayaan. Bukan hanya masyarakat saja yang melakukan upaya penanganan masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan hidup, negara juga harus membantu melakukan upaya penanganan masalah pencemaran lingkungan dengan memberikan prioritas perhatian terhadap penanganan masalah pencemaran lingkungan dan upaya perwujudan peningkatan kesejahteraan.

3.         Pemanfaatan Institusi Sosial

Dalam realitas kehidupan, sudah banyak dijumpai berbagai usaha pelestarian lingkungan yang melibatkan negara, masyarakat, dan sektor swasta. Dalam aktualisasinya usaha pelestarian lingkungan hidup tersebut diwadahi dalam berbagai bentuk organisasi sosial. Berdasarkan realita yang ada dibutuhkan suatu upaya serta tindakan kolektif yang dapat memberikan kontribusi yang besar bagi pemecahan-pemecahan masalah sosial. Melalui berbagai upaya tersebut maka kontribusi masyarakat dalam penanganan masalah pencemaran dan kelestarian lingkungan hidup dapat lebih dioptimalkan.

Dalam kenyataannya, pemerintah telah menjalankan fungsi pelestarian lingkungan yang berasal dari berbagai departemen bahkan non-departemental. Kelebihan dari organisasi pemerintah ini adalah adanya aparat, petugas pelaksana, penyediaan sarana dan prasarana pendukung yang semuanya disediakan oleh pemerintah. Kelebihan lain adalah dalam hal anggaran untuk membiayai operasionalisasi organisasi secara rutin telah tersedia, karena telah dianggarkan dalm APBN atau APBD. Namun, dibalik kelebihan itu masih tetap ada kekurangannya. Dalam praktik di lapangan masih banyak dijumpai adanya duplikasi yang mengakibatkan pelayanan sosial menjadi tidak efisien. Lebih dari itu, organisasi pelayanan sosial juga sangat tergantung oleh anggaran, dengan demikian aktivitas pelayanan dapat berjalan apabila ada anggaran.


a.         Organisasi Masyarakat

Organisasi masyarakat yang melakukan usaha pelestarian lingkungan hidup sebenarnya sudah cukup banyak, namun pada umumnya pengelolaannya tidak cukup efisien karena sifatnya yang informal dan belum menggunakan prinsip pengelolaan yang rasional.

Ada juga organisasi sosial yang berasal dari masyarakat yang berbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Namun, LSM tidak dapat bekerja sendiri, tetapi perlu didukung oleh kerja sama antara pihak Kawasan Konservasi dan Perguruan Tinggi. Diharapkan dari upaya ini masyarakat berperan aktif dalam mengatasi masalah lingkungan hidup yang dewasa ini sudah semakin kompleks, sehingga pada akhirnya kesejahteraan masyarakat dapat meningkat.

b.         Organisasi Swasta

Sesuai sifatnya sektor swasta adalah bidang usaha yang sangat memperhtiungkan profit. Dengan demikian apabila dikaitkan dengan usaha pelestarian lingkungan hidup, maka juga ditemukan organisasi swasta yang melakukan kegiatan tersebut dengan memperhitungkan profit. Contohnya adalah panti rehabilitasi bagi mereka yang telah terkena pengaruh dari obat-obatan terlarang atau narkoba. Dalam bentuk lain, perusahaan swasta yang berorientasi profit dan memiliki usaha diluar bidang meningkatkan kesejahteraan dan pemberantasan penyalahgunaan obat, sebetulnya juga dapat melakukan usaha dalam bentuk pelayanan sosial dan bantuan sosial.

Untuk mendorong semakin banyaknya organisasi swasta yang melakukan usaha pelestarian lingkungan hiduo, dibutuhkan berbagai bentuk rangsangan. Dalam hal ini pemerintah dapat melakukan beberapa alternatif, mulai dari kebijakan yang sifatnya persuasif sampai kebijakan yang sifatnya memaksa. Kebijakan persuasif dapat dilakukan dengan mendorong gerakan filantropi untuk memberikan iklim yang kondusif dalam masyarakat agar memiliki saling kepedulian terhadap sesama dan dengan pemberian penghargaan bagi organisasi swasta yang telah melakukan usaha di bidang pelestarian lingkungan hidup. Kebijakan yang sifatnya memaksa berupa dibuatnya regulasi sesuai dengan kewenangan negara agar organisasi swasta yang bergerak di bidang pelayanan sosial khususnya dalam bidang pelestarian lingkungan hidup melakukan sistem subsidi bagi lapisan bawah. Berdasarkan identifikasi keberadaan organisasi sosial yang mempunyai fungsi pelestarian lingkungan hidup dengan berbagai potensi dan permasalahannya, serta harapan bahwa lembaga nonpemerintah juga mempunyai tanggungjawab bagi perwujudan pelestarian lingkungan hidup, maka tidak berlebihan apabila optimalisasi kontribusi berbagai organisasi sosial bagi usaha pelestarian lingkungan hidup tersebut ditempatkan sebagai salah satu tema yang perlu diperhatikan dalam perumusan kebijakan sosial.

c.         Optimalisasi Kontribusi dalam Pelayanan Sosial

Untuk mengatasi masalah lingkungan hidup dan demi terciptanya lingkungan hidup yang baik dibutuhkan adanya iklim yang kondusif. Iklim yang kondusif itu dapat terbangun melalui semakin besarnya orientasi masyarakat pada nilai kemanusiaan yang dapat diturunkan pada nilai filantropi, solidaritas sosial, dan empati.Untuk mengarah ke kondisi tersebut pemerintah dengan otoritas dan sumber daya yang dimiliki dapat memfasilitasi gerakan dalam masyarakat yang mengarah kepada orientasi nilai tesebut.

Walaupun iklim dalam masyarakat telah kondusif, semangat filantropi telah semakin tumbuh, tetapi agar semangat dan sikap teraktualisasi dalam bentuk tindakan, dibutuhkan stimulus. Bencana alam merupakan stimulus yang mudah mengundang simpati dan tindakan filantropi. Dengan demikian dibutuhkan suatu tindakan dari pemerintah, jaringan organisasi sosial, dan pihak lain seperti media massa dengan memanfaatkan sumber daya dan jaringan informasi yang dimiliki yang dapat berperan dalam hal mensosialisasikan berbagai bentuk masalah sosial.

Sektor nonnegara juga memiliki potensi dan kontribusi melalui dukungan finansial kepada institusi yang berbasis masyarakat lokal maupun LSM untuk menangani masalah sosial khususnya masalah lingkungan hidup

Untuk organisasi sosial pemerintah, pelayanan sosial yang diberikan harus lebih mengutamakan pengembangan kapasitas penyandang masalah, sehingga dapat diaktualisasikan prinsip help the people to help themselves.. Disamping itu, untuk berbagai organisasi pemerintah yang menjalankan fungsi pelayanan sosial juga perlu dilakukan upaya koordinasi, bila perlu mengkaji kemungkinan kebijakan satu pintu dalam inventarisasi dan identifikasi kepada masalah lingkungan hidup.

Bagi organisasi masyarakat lokal diperlukan dorongan dari organisasi terkait demi eksistensi institusi ini sambil memfasilitasi pengelolaannya agar lebih efisien. Disisi lain juga dapat diupayakan untuk mendorong dan memfasilitasi agar semakin bervariasi jenis pelayanan sosial yang dapat dilakukan.

Organisasi swasta yang telah melakukan usaha pelestarian lingkungan maupun yang menjadi donatur perlu terus diberikan rangsangan dengan cara memberikan penghargaan. Penghargaan lain juga dapat dalam bentuk sertifikasi bagi prestasi dan kontribusinya di bidang pelayanan sosial.

d.         Kerjasama dan Jaringan

Melalui pengembangan jaringan, kerja sama yang sinergis akan memberikan hasil yang optimal. Agar kerja sama dapat terjalin diperlukan beberapa syarat yaitu kesetaraan dan saling percaya. Semua itu dapat dibangun melalui intensitas komunikasi dan pengalaman bekerja sama.

Masalah lingkungan hidup fenomena yang sering dijumpai di mayarakat zaman sekarang. Oleh sebab itu apabila sejumlah masalah sudah ditangani bukan berarti masalah lingkungan hidup menjadi hilang, bahkan masalah yang sudah ditangani, apabila tidak diikuti dengan pendampingan lebih lanjut masih dapat menjadi masalah. Oleh sebab itu, idealnya upaya penanganan masalah pelestarian lingkungan hidup dilakukan secara berkelanjutan. Keberlanjutan program mengandung pengertian bahwa program-program yang sudah dilaksanakan akan tetap berlanjut walaupun sumber dananya sudah dihentikan. Masalah yang telah berhasil dientaskan, pendampingan dari suatu program pelayanan sosial tetap dapat mempertahankan kondisinya bahkan mengembangkannya walaupun program pendampingan telah dihentikan.

Untuk dapat mewujudkan keberlanjutan program tersebut, diharapkan peran dari berbagai stakeholder yang berasal dari unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat. Dari pihak pemerintah dapat dimanifestasikan dari berbagai instansi yang bidang tugasnya sesuai dengan progam yang bersangkutan. Dari pihak swasta diharapkan peran dari mereka yang mempunyai kepedulian terhadap masalah lingkungan hidup. Peran yang diharapkan dapat berupa dukungan dana dan fasilitas. Dalam rangka mengaktualisasikan peran berbagai stakeholder tersebut, optimalisasi dan peningkatan efektivitas stakeholder merupakan alternatif yang dapat ditempuh. Pemantapan dan optimalisasi peran stakeholder terutama dalam mendukung program yang sudah berjalan maupun dalam mengembangkan program baru perlu menempatkan beberapa agenda untuk memberikan isi bagi forum tersebut.

Pada dasarnya komitmen bersama yang bersumber dari kepedulian terhadap masalah lingkungan hidup dapat menjadi energi sekaligus perekat dalam mengembangkan forum komunikasi antar stakeholder. Di samping itu, form stakeholder juga dapat mengambil peran sebagai media bagi terjalinnya komunikasi antarpihak. Dari komunikasi yang terjalin dapat lebih dikembangkan saling pengertian tentang apa yang dapat dilakukan dan diberikan oleh masing-masing pihak. Dari proses ini dapat diciptakan saling memberi masukan antarpihak serta kejelasan posisi masing-masing. Melalui forum antarstakeholder perlu selalu dipupuk sehingga dapat meninglkatkan kerja sama.

Dari apa yang sudah diuraikan tersebut maka modal dasar yang perlu selalu dipelihara dan dikembangkan dalam forum antarstakeholder adalah komitmen bersama, resiprositas, jaringan, dan mutual trust. Forum antarstakeholder tidak harus dalam bentuk organisasi formal. Sesuai sifatnya sebagai media komunikasi, lebih menguntungkan apabila pengelolaan dan jalinan interaksi dibuat cair, sehingga memudahkan stakeholder untuk bergabung dalam forum atau jaringan lain. Sebaiknya forum tersebut lebih menitikberatkan pada proses institusional yang mengarah terlembagakannya aktivitas bersama penanganan masalah sosial sebagai hasil kerja sama dan sinergi antar pihak yang bergabung.

  1. D. Upaya Penanganan Masalah

Melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung jawab setiap insan di bumi, dari balita sampai manula. Setiap orang harus melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sekecil apa pun usaha yang kita lakukan sangat besar manfaatnya bagi terwujudnya bumi yang layak huni bagi generasi anak cucu kita kelak.

Upaya pemerintah untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyatnya tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan ditindaklanjuti dengan menyusun program pembangunan berkelanjutan yang sering disebut sebagai pembangunan berwawasan lingkungan.

Pembangunan berwawasan lingkungan adalah usaha meningkatkan kualitas manusia secara bertahap dengan memerhatikan faktor lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan dikenal dengan nama Pembangunan Berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan merupakan kesepakatan hasil KTT Bumi di Rio de Jeniro tahun 1992. Di dalamnya terkandung 2 gagasan penting, yaitu:

  1. Gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan pokok manusia untuk menopang hidup.
  2. Gagasan keterbatasan, yaitu keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan baik masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Adapun ciri-ciri Pembangunan Berwawasan Lingkungan adalah sebagai berikut:

  1. Menjamin pemerataan dan keadilan.
  2. Menghargai keanekaragaman hayati.
  3. Menggunakan pendekatan integratif.
  4. Menggunakan pandangan jangka panjang.

Pada masa reformasi sekarang ini, pembangunan nasional dilaksanakan tidak lagi berdasarkan GBHN dan Propenas, tetapi berdasarkan UU No. 25 Tahun 2000, tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN).

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mempunyai tujuan di antaranya:

  1. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
  2. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat.
  3. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan.

1. Upaya yang Dilakukan Pemerintah

Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah antara lain:

  1. Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang Tata Guna Tanah.
  2. Menerbitkan UU No. 4 Tahun 1982, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.
  3. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan).
  4. Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian Lingkungan, dengan tujuan pokoknya:


1)      Menanggulangi kasus pencemaran.

2)      Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3).

3)      Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

  1. Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon.

2. Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup oleh Masyarakat Bersama Pemerintah.

Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Beberapa upaya yang dapat dilakuklan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup antara lain:

a. Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan)

Terjadinya bencana tanah longsor dan banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan masalah tanah. Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Jika hal tersebut dibiarkan terus berlangsung, maka bukan mustahil jika lingkungan berubah menjadi padang tandus. Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan dengan cara menggalakkan kegiatan menanam pohon atau penghijauan kembali (reboisasi) terhadap tanah yang semula gundul. Untuk daerah perbukitan atau pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering atau sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan.

  1. c. Pelestarian udara.

Udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. Kalian mengetahui bahwa dalam udara terkandung beranekaragam gas, salah satunya oksigen. Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme. Maka perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih dan sehat antara lain:

1)                        Menggalakkan penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita. Tanaman dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu memproduksi oksigen melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan tanaman lenyap sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu tumbuhan juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga.

2)         Mengupayakan pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran, baik pembakaran hutan maupun pembakaran mesin Asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan cerobong asap merupakan penyumbang terbesar kotornya udara di perkotaan dan kawasan industri. Salah satu upaya pengurangan emisi gas berbahaya ke udara adalah dengan menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasangan filter pada cerobong asap pabrik.

3)         Mengurangi atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfer Gas freon yang digunakan untuk pendingin pada AC maupun kulkas serta dipergunakan di berbagai produk kosmetika, adalah gas yang dapat bersenyawa dengan gas ozon, sehingga mengakibatkan lapisan ozon menyusut. Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer yang berperan sebagai filter bagi bumi, karena mampu memantulkan kembali sinar ultraviolet ke luar angkasa yang dipancarkan oleh matahari. Sinar ultraviolet yang berlebihan akan merusakkan jaringan kulit dan menyebabkan meningkatnya suhu udara. Pemanasan global terjadi di antaranya karena makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer.

c. Pelestarian hutan

Eksploitasi hutan yang terus menerus berlangsung sejak dahulu hingga kini tanpa diimbangi dengan penanaman kembali, menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak. Pembalakan liar yang dilakukan manusia merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan. Padahal hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air.

Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan:

1)      Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul.

2)      Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.

3)      Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon.

4)      Menerapkan sistem tebang–tanam dalam kegiatan penebangan hutan.

5)      Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan.

  1. d. Pelestarian flora dan fauna

Kehidupan di bumi merupakan sistem ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan. Oleh karena itu, kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna di antaranya adalah:

1)      Mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa.

2)      Melarang kegiatan perburuan liar.

3)      Menggalakkan kegiatan penghijauan.

BAB III

PENUTUP

A.        Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masalah lingkungan hidup dewasa ini sudah sangat kompleks. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan adanya kerjasama antara masyarakat, LSM, pihak konservasi, dan pemerintah yang khusus menangani masalah lingkungan hidup. Diharapkan dari upaya ini masyarakat dapat berperan aktif dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, sehingga pada akhirnya kesejahteraan masyarakat dapat meningkat pula.

Kegiatan penyelamatan lingkungan harus membawa kesejahteraan bagi masyarakat yang ada di sekitar kawasan konservasi. Konservasi lingkungan yang meninggalkan masyarakat lokal hanya akan menimbulkan konflik dan berujung pada kegagalan program konservasi. Karena itu, kepentingan masyarakat harus diakomodasi dengan menjadikan mereka mitra konservasi.

  1. B. Saran

Untuk mewujudkan generasi makmur dan sentosa, bijaksana rasanya jika arah gerak pembangunan yang dikembangkan berpijak pada paradigma agama, budaya lokal, dan berwawasan lingkungan. Dalam bahasa lain, mencetuskan pembangunan berkelanjutan (sustainable development), berwawasan lingkungan (eco-development) dan bisa juga kita sebut dengan konsep eco-religious, sebab memelihara lingkungan adalah perintah suci dari sang pencipta alam raya ini, Allah SWT. Karena itu, mari kita gulirkan program pembangunan berkelanjutan yang berwawasan agama, budaya lokal, dan berparadigma ekologis mulai detik ini.

DAFTAR PUSTAKA

Soetomo. 2008. Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannyai. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

http://afand.cybermq.com/post/detail/2405/linkungan-hidup-kerusakan-lingkungan-pengertian-kerusakan-lingkungan-dan-pelestarian-v

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image