KREDIT BERMASALAH

PENGERTIAN KREDIT BERMASALAH

As. Mahmoeddin (2004 : 2), dalam bukunya Melacak Kredit Bermasalah, mengatakan :“Kredit bermasalah ialah kredit yang tidak lancar atau kredit dimana debiturnya tidak &nbs p; memenuhi persyaratan yang diperjanjikan, misalnya persyaratan pembayaran bunga, pengambilan pokok pinjaman, peningkatan margin deposit, pengikatan dan peningkatan agunan, dan sebagainya.”

Kategori kolektibilitas kredit berdasarkan ketentuan yang dibuat Bank Indonesia di dalam Lukman Dendawijaya (2003 : 85), sebagai berikut :

1. Kredit lancar, adalah kredit yang tidak mengalami penundaan pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunga.

2. Kredit kurang lancar, adalah kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya telah mengalami penundaan selama tiga bulan dari waktu yang diperjanjikan.

3. Kredit diragukan, adalah kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya telah mengalami penundaan selama 6 bulan atau dua kali dari jadwal yang telah diperjanjikan.

4. Kredit macet, adalah kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya telah mengalami penundaan lebih dari satu tahun sejak jatuh tempo menurut jadwal yang telah diperjanjikan.

PENYEBAB DAN GEJALA KREDIT BERMASALAH

Berikut ini akan dijelaskan mengenai faktor-faktor yang memiliki kontribusi terhadap munculnya kredit bermasalah menurut Siswanto Sutojo (1997 : 216), yaitu :

(1) Keteledoran bank mematuhi peraturan pemberian kredit yang telah digariskan.

(2) Terlalu mudah memberikan kredit, yang disebabkan karena tidak ada patokan yang

(4) Kurangnya jumlah eksekutif dan staf bagian kredit yang berpengalaman.

(5) Lemahnya bimbingan dan pengawasan pimpinan kepada para eksekutif dan staf bagian kredit.

(6) Jumlah pemberian kredit yang melampaui batas kemampuan bank.

(7) Lemahnya kemampuan bank mendeteksi kemungkinan kredit bermasalah, termasuk mendeteksi arah perkembangan arus kas (cash flow) debitur lama.

(8) Tidak mampu bersaing, sehingga menerima debitur yang kurang bermutu.

Menurut Siswanto Sutojo (1997 : 333-334) di samping sebab-sebab di pihak kreditur, sebagian besar kredit bermasalah timbul karena hal-hal yang terjadi pada pihak debitur, antara lain :

(1) Menurunnya kondisi usaha bisnis perusahaan yang disebabkan merosotnya kondisi ekonomi umum dan/atau bidang usaha dimana mereka beroperasi.

(2) Adanya salah urus dalam pengelolaan usaha bisnis perusahaan, atau karena kurang berpengalaman dalam bidang usaha yang mereka tangani.

(3) Problem keluarga, misalnya perceraian, kematian, sakit yang berkepanjangan, atau pemborosan dana oleh satu atau beberapa orang anggota keluarga debitur.

(4) Kegagalan debitur pada bidang usaha atau perusahaan mereka yang lain.

(5) Kesulitan likuiditas keuangan yang serius.

(6) Munculnya kejadian di luar kekuasaan debitur, seperti perang dan bencana alam.

(7) Watak buruk debitur (yang telah merencanakan tidak mengembalikan kredit).

Menurut Siswanto Sutojo (1997 : 335) gejala umum yang muncul sebagai tanda akan terjadinya kredit bermasalah antara lain penyimpangan dari berbagai ketentuan dalam perjanjian kredit, penurunan kondisi keuangan perusahaan, tingginya frekuensi pergantian pimpinan dan tenaga inti, penyajian bahan masukan secara tidak benar, menurunnya sikap kooperatif debitur, penurunan nilai jaminan yang disediakan, problem keluarga atau pribadi.

DAMPAK KREDIT BERMASALAH

Kredit bermasalah akan berdampak negatif baik bagi kelangsungan hidup bank itu sendiri maupun bagi perekonomian negara. Berikut ini diuraikan dampak kredit bermasalah terhadap bank menurut As. Mahmoeddin (2004 : 111-114), yaitu :

1. Likuiditas

Jika kredit yang jatuh tempo atau mulai diwajibkan membayar angsuran namun tidak mampu mengangsur karena kredit tidak lancar atau bermasalah, maka bank terancam menjadi tidak likuid.

2. Solvabilitas

Adanya kredit bermasalah dapat menimbulkan kerugian bagi bank sehingga bank menjadi tidak likuid dan kemudian mencairkan aktiva tetapnya guna memenuhi segala kewajibannya kepada pihak ketiga. Jika bank tidak mampu memenuhi kewajibannya, maka berarti solvabilitas bank tersebut juga menjadi berkurang.

3. Rentabilitas

Rentabilitas adalah kemampuan bank untuk memperoleh penghasilan dari bunga kredit. Jika kredit bermasalah atau tidak lancar maka penghasilan bank dari bunga kredit akan berkurang.

4. Biaya-biaya tambahan

Biaya tambahan adalah adanya biaya tertentu karena adanya kredit bermasalah, antara lain :

* Legal cost, yaitu biaya yang timbul karena penanganan kredit bermasalah dari aspek-aspek hukumnya.
* Administrative cost, yaitu biaya penanganan kredit bermasalah dalam hal pemeliharaan administrasi agar dapat dikerjakan secara rapi, teliti, dan sistematis guna memperlancar setiap usaha penyelamatan kredit.
* Opportunity cost, ialah biaya yang diperhitungkan karena aktiva yang seharusnya produktif menjadi tidak produktif karena tertanam dalam kredit macet.
* Carrying cost, ialah biaya yang timbul karena adanya kredit yang dihapuskan.
* Management cost, ialah biaya untuk penanganan kredit bermasalah karena memerlukan manajemen yang efektif dengan cara kerja yang terpadu dan terarah pada sasaran utama demi penyelamatan asset bank.
* Intangible cost, ialah biaya yang perlu diperhitungkan karena rusaknya citra bank, dan ini tidak terukur.

5. Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan bank untuk memperoleh keuntungan. Jika kredit tidak lancar maka profitabilitas bank menjadi kecil.

6. Bonafiditas

Bonafiditas adalah kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada bank.

7. Tingkat kesehatan bank

Bank yang dilanda kredit bermasalah bisa menurunkan tingkat kesehatannya, dan pada gilirannya bank dapat dikenakan sanksi, bahkan bisa menghadapi likuidasi.

8. Modal bank

Besar kecilnya ekspansi usaha sangat ditentukan dengan perkembangan kredit. Jika kredit tidak tumbuh dengan baik, maka modal bank juga tidak dapat berkembang dengan baik.

PENYELAMATAN KREDIT BERMASALAH

Hal yang paling tidak menggembirakan bagi pihak bank adalah apabila kredit yang diberikannya ternyata menjadi kredit yang bermasalah. Menurut Lukman Dendawijaya (2003 : 86-89) dalam usaha mengatasi timbulnya kredit bermasalah pihak bank dapat melakukan beberapa tindakan penyelamatan sebagai berikut.

1. Rescheduling

Rescheduling merupakan upaya pertama dari pihak bank untuk menyelamatkan kredit yang diberikannya kepada debitur berupa penjadwalan kembali sebagiaatau seluruh kewajiban debitur.

2. Reconditioning

Reconditioning merupakan usaha pihak bank untuk menyelamatkan kredit yang diberikannya dengan cara mengubah sebagian atau seluruh kondisi (persyaratan) yang semula disepakati bersama pihak debitur dalam perjanjian kredit.

3. Restructuring

Restructuring atau restrukturisasi adalah usaha penyelamatan kredit yang terpaksa harus dilakukan bank dengan cara mengubah komposisi pembiayaan yang mendasari pemberian kredit.

4. Kombinasi 3-R

Dalam rangka penyelamatan kredit bermasalah, bila dianggap perlu bank dapat melakukan berbagai kombinasi dari tindakan rescheduling, reconditioning, dan restructuring tersebut di atas, yakni :

a. rescheduling dan reconditioning.

b. rescheduling dan restructuring.

c. restructuring dan reconditioning.

d. rescheduling, reconditioning, dan restructuring.

5. Eksekusi

Jika semua usaha penyelamatan di atas sudah dicoba namun nasabah masih juga tidak mampu memenuhi kewajibannya terhadap bank, maka jalan terakhir adalah melakukan eksekusi dengan berbagai cara, antara lain:

a. Menyerahkan kewajiban kepada BUPN (Badan Urusan Piutang Negara).

b. Menyerahkan perkara ke pengadilan negeri (perkara perdata.)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
KREDIT BERMASALAH, 5.5 out of 10 based on 4 ratings
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image