Tsunami & Badai Matahari

Adakah Tsunami Matahari……??

Para ilmuwan NASA mengeluarkan peringatan tsunami. Ini adalah tsunami Matahari yang akan menghantam Bumi dan dikhawatirkan mengganggu sistem komunikasi. Para ahli astronomi di seluruh dunia yang memantau Matahari, memberitahukan telah terjadi sebuah ledakan cukup besar pada akhir pekan lalu. Termasuk dari para pemantau ini adalah stasiun pemantau Solar Dynamics Observatory milik NASA.
Luapan energi Matahari yang luar biasa besar ini muncul seperti kembang api di permukaan Matahari. Gelombang energi itu terpancarkan menuju Planet Bumi bagaikan sebuah tsunami yang melintasi jarak 93 juta mil melintasi angkasa.
Seperti dilansir Telegraph.co.uk, para ilmuwan memperkirakan tsunami matahari ini akan mencapai Planet Bumi pada hari ini, Selasa (3/8/2010). Pada wilayah Bumi di dekat Kutub Utara dan Selatan, diperkirakan tsunami ini akan menghasilkan fenomena Aurora di langit dan kemungkinan kita bisa melihat Aurora di langit utara dengan lebih lama.
Namun, para ilmuwan juga memperingatkan tsunami Matahari ini bisa merusak satelit komunikasi yang berseliweran di sekitar Planet Bumi. Namun tidak jelas tingkat kerusakan yang mungkin ditimbulkan.

Tsunami Matahari hanya kejadian di permukaan Matahari di sekitar titik ledakan Matahari. ”Ibarat gelombang tinggi yang timbul di sekitar episentrum gempa yang terjadi di laut, di Matahari ternyata gelombang seperti itu terjadi juga di sekitar titik ledakan Matahari. Gelombang pertama terjadi di Wisconsin dan Michigan membuat aurora menakjubkan di selatan.

Ledakan ini sangat besar sehingga tidak bisa ditahan oleh gravitasi matahari. Energi dari ledakan pun meluncur bebas ke Planet Bumi. Ledakan itu berpengaruh pada satelit dan pembangkit tenaga listrik tidak terjadi.

Dampak tsunami matahari yang luar biasa ditakutkanadalah terhadap Indonesia. Dampak yang paling nyata adalah kemarau panjang karena Indonesia memiliki lapisan ozon yang paling tipis.

Selain itu tsunami matahari juga bisa mempengaruhi alat bor minyak yang mengandalkan GPS untuk keakuratannya, komunikasi militer selama pertempuran, serta padamnya pembangkit listrik.

Berdasarkan dari prediksi tersebut, sejumlah badan antariksa telah berupaya menyiapkan sejumlah strategi menghadapi tsunami matahari. Strategi untuk mengantisipasi hilangnya daya listrik, satelit, dan frekuensi radio yang menopang kehidupan masyarakat modern masa kini.

Referensi:

http://mediatangsel.com/tsunami-matahari-2013-berdampak-kemarau-panjang.html

http://rizkythea.blogspot.com/2010/08/tsunami-matahari.html

http://www.detiknews.com/read/2010/08/03/111707/1412426/10/awas-tsunami-matahari-menuju-bumi

http://www.inilah.com/news/read/teknologi/2010/08/05/716101/tsunami-matahari-akan-hantam-bumi-lagi/

Badai Matahari . . .

Menurut laporan website Inggris “New Scientist”, maksud dari badai matahari atau solar storm adalah siklus kegiatan peledakan dahsyat dari masa puncak kegiatan bintik matahari (sunspot), biasanya setiap 11 tahun akan memasuki periode aktivitas badai matahari.

Ilmuwan Amerika memperingatkan bahwa pada tahun 2012 bumi akan mengalami badai matahari dahsyat (Solar Blast), daya rusakanya akan jauh lebih besar dari badai angin “Katrina”, dan hampir semua manusia di bumi tidak akan dapat melepaskan diri dari dampak bencananya.

Berdasakan laporan khusus yang dikeluarkan oleh National Academy of Sciences, Amerika Serikat pada bulan Januari 2009 menyatakan bahwa bencana seperti ini sangat mungkin bisa terjadi. Studi tersebut disponsori oleh NASA. Dalam beberapa dekade, dalam perkembangan masyarakat manusia, peradaban Barat telah menanamkan bibit-bibit untuk kehancuran mereka sendiri.

Cara hidup modern secara berlebihan yang sangat tergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi, secara tidak sengaja membuat kita lebih banyak terperangkap dalam suatu kondisi yang super berbahaya. Plasma balls yang dipancarkan dalam letusan permukaan matahari mungkin bisa menghancurkan jaringan listrik kita, sehingga mengakibatkan bencana dahsyat. Badai matahari ini mungkin akan memutuskan pasokan listrik umat manusia, sinyal ponsel, bahkan termasuk sistem pasokan air.

Namun beberapa ahli yang menyatakan pandangan yang berbeda, mereka mempertimbangkan dampak badai matahari terutama terkonsentrasi di luar ruang angkasa, dan karena efek rintangan medan magnetik bumi dan atmosfir, pengaruh gangguannya tidak akan terlalu nyata terhadap kehidupan di bumi. Para ahli mengatakan, ketika aktivitas badai matahari aktif, akan terus menerus terjadi pembakaran dan peledakan pada sunspot, pada saat sejumlah besar sinar ultraviolet dilepaskan akan menyebabkan densitas lapisan ionosfir di atas angkasa bumi meningkat mendadak, menyerap habis energi gelombang pendek, sehingga gelombang pendek sinyal radio terganggu. Tetapi ponsel yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk transmisi sinyal radio tidak melalui lapisan ionosfir, sehingga pada umumnya dampak badai matahari terhadap komunikasi di permukaan bumi tidak akan signifikan.

Secara teori, pada umumnya intensitas badai matahari tidak akan bisa menerobos perlindungan atmosfer dan medan magnetik bumi, hingga secara fatal mengancam spesies yang berada di bumi.

Untuk memantau intensitas badai matahari serta dampaknya pada bumi digunanakanlah prediksi dari siklus sunspot. Yang dimaksud dengan sunspot adalah proses peningkatan dan pengurangan yang berarti dalam jumlah sunspot setiap 11 tahun. Siklus dihitung mulai dari aktivitas terendah sunspot pada matahari. Dalam masa aktif sunspot akan meningkat, badai matahari yang terjadi akan lebih banyak. Ketika badai matahari terjadi, partikel kecepatan tinggi serta aliran ion yang terbentuk oleh partikel bermuatan listrik yang dipancarkan secara besar-besaran oleh matahari akan berpengaruh terhadap lapisan medan magnit bumi, ionosfir serta kondisi atmosfir netral. Dalam masalah dampak bahaya badai matahari, lebih dari satu abad, orang-orang terus memantau kegiatan sunspot.

Tsunami Matahari dan badai Matahari merupakan dua fenomena alam yang mungkin terjadi di Matahari. Kedua peristiwa alam itu memiliki beberapa perbedaan, salah satunya dilihat dari dampaknya.

Ledakan yang ditimbulkan tsunami Matahari berdampak jauh lebih kecil dibandingkan dengan ledakan dari badai Matahari. Apabila diamati dari kejadiannya, tsunami Matahari merupakan ledakan yang mengeluarkan lontaran massa Matahari atau coronal mass ejection (CME).

Fenomena alam itu kali pertama terdeteksi melalui Solar and Heliospheric Observatory (Soho) milik NASA pada 1997. Selanjutnya, masih pada tahun yang sama, lontaran massa Matahari itu terjadi di area yang aktif pada permukaan Matahari.

Menurut Joe Gurman, ilmuwan dari Laboratorium Fisika di Pusat Antariksa dan Penerbangan Goddard, para ahli sempat meragukan apakah lontaran massa itu merupakan gelombang atau sekadar bayangan dari ujung ledakan semburan korona.
Setelah melakukan studi yang lebih intensif, akhirnya diketahui bahwa lontaran itu berupa gelombang plasma tinggi dan panas. Dari hasil pendeteksian satelit, diketahui pula bahwa gelombang tersebut berkembang semakin tinggi dan menghasilkan riak-riak yang mencapai jarak hingga jutaan kilometer.

Dari hasil pengamatan, diketahui pula adanya badai Matahari yang memiliki pengaruh lebih dahsyat. Badai Matahari diperkirakan bisa mengakibatkan kerusakan pada jaringan teknologi listrik dan telekomunikasi di Bumi.

Hal itu dikarenakan badai Matahari dapat menghasilkan daya secara berlebihan yang bisa mengakibatkan ledakan trafo dan putusnya jaringan. Ketika badai Matahari yang cukup dahsyat terjadi pada 1 September 1859, dampaknya belum begitu terasa.

Setelah kejadian tahun 1859, badai Matahari terjadi lagi pada 1989. Di Quebec, Kanada, peristiwa itu menyebabkan banyak trafo listrik bertegangan tinggi meledak. Hal itu ditengarai karena jaringan listrik mendapatkan arus tambahan dari lontaran massa Matahari setelah menempuh perjalanan selama tiga hari.

Pada 2009, terjadi pula peristiwa badai Matahari. Ketika itu, sang surya bersinar sangat terik. Bahkan malam hari pun terlihat seperti siang hari. Di California, AS, sekelompok penambang mengira hari sudah siang, padahal ketika itu waktu baru menunjukkan pukul 2 dini hari.

Berdasarkan hasil analisis para ilmuwan di National Academy of Science, diperkirakan fenomena alam itu akan terjadi lagi pada 2012.

Referensi:

http://erabaru.net/iptek/81-antariksa-astronomi/1721-serangan-badai-matahari-2012-mungkin-menyebabkan-bencana-besar

http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=59241

…. Tsunami Matahari dan Badai Matahari ….

Sebenarnya tsunami Matahari berbeda dengan badai Matahari. Tsunami Matahari hanya kejadian di permukaan Matahari di sekitar titik ledakan Matahari. ”Ibarat gelombang tinggi yang timbul di sekitar episentrum gempa yang terjadi di laut, di Matahari ternyata gelombang seperti itu terjadi juga di sekitar titik ledakan Matahari. Ilmuwan menyebutnya tsunami Matahari.

Gelombang tsunami terjadi pada plasma atau gas panas di permukaan Matahari. Jadi, tsunami Matahari sebenarnya sama sekali tidak berdampak terhadap Bumi. Ledakan Matahari (flare atau lontaran massa matahari, coronal mass ejection/CME) yang dikenal sebagai badai Matahari apabila badainya berskala besar dan mengarah ke Bumi.

Berdasarkan pengamatan Matahari yang dilakukan Lapan selama ini, aktivitas Matahari mencapai titik terendah pada 2000. Hingga kini sesekali muncul flare Matahari, di antaranya pada 2003 dan 2005.

Pada 2003, semburan gelombang radio Matahari sampai ke Bumi dalam waktu 19 jam dengan kecepatan pergerakan partikelnya mencapai 2000 kilometer per detik. Kecepatan ini tergolong yang tercepat. Sedangkan penjalaran yang terlama adalah lima hari untuk sampai ke Bumi.

Menurut  pakar astronomi dan astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Jamaluddin, kejadian pada Minggu (1/8/10) sebenarnya adalah ledakan (flare) kecil di Matahari, bukan tsunami atau pun badai Matahari pada 1 Agustus lalu sekitar pukul 16.00 WIB. Apabila itu mengarah ke Bumi tidak signifikan.

Penjelasan Thomas juga dikuatkan oleh Clara Yono Yatini, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lapan. Ledakan partikel Matahari (radio burst) itu tidak akan memberikan dampak berarti terhadap Bumi. Loncatan partikel Matahari ini kecepatannya relatif rendah, yaitu sekitar 400 kilometer per detik. Dengan kecepatan itu, partikel akan sampai ke Bumi pada Kamis (5/8) atau Jumat (6/8). Namun, partikel sinar ini tidak akan menimbulkan gangguan bagi satelit dan kehidupan di Bumi.

Penegasan itu disampaikan Clara berdasarkan pantauan teropong Matahari milik Lapan di Tanjung Sari yang datanya dikirim secara telemetri ke Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan di Bandung.

Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Bachtiar Anwar membantah ada ledakan besar di matahari pada 1 Agustus lalu. Dia pun menyangkal peristiwa tersebut sebagai tsunami matahari yang mengancam kehidupan di bumi.

Menurut Bachtiar, ledakan di matahari baru-baru ini hanyalah letupan (flare) di bagian terluar sang Surya. Letupan itu tergolong kecil dengan skala C. Tsunami matahari terjadi bila ada gempa kuat di matahari (sun quake) hingga menimbulkan gelombang atau materi besar di luar angkasa.

Bachtiar pun menjelaskan bahwa letupan yang kecil tidak mengancam kehidupan di bumi atau satelit ruang angkasa serta listrik. Negara yang berada di sekitar garis ekuator seperti Indonesia relatif aman. Adapun gangguan dikhawatirkan terjadi di belahan kutub utara dan selatan. Partikel letupannya bisa mengganggu penerbangan pesawat. Oleh karena itu maskapai perlu mendapat peringatan.

Dibanding ledakan pada 29 Oktober 2003 silam yang berskala X, letupan matahari kali ini 100 kali jauh lebih kecil. Saat itu, ledakan sampai mengganggu satelit dan memadamkan listrik di sejumah negara.

Saat ini dari pantauan para peneliti matahari di Lapan, aktivitas matahari memang sedang menuju puncak. Namun titik hitam (sun spot) matahari masih kecil-kecil. Dari hasil pengamatan, membesarnya bintik hitam yang kemungkinan menimbulkan badai matahari, diperkirakan baru akan terjadi pada 2014 mendatang.

Referensi:

http://magazindo.com/benarkah-telah-terjadi-tsunami-matahari/

http://teknologitinggi.wordpress.com/2010/08/05/tsunami-matahari-berbeda-dengan-badai-matahari/

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image