Siyamto 4 PA 04

NAMA : SIYAMTO
KELAS : 4 PA 04
NPM : 10507230
PSIKOLOGI

B.1 Pengertian Konsumsi
Konsumsi adalah suatu aktifitas memakai atau menggunakan suatu prosuk barang atau jasa yang dihasilkan oleh para produsen. Perusahaan atau perseorangan yang melakukan kegiatan konsumsi disebut konsumen. Contoh konsumsi dalam kehidupan kita sehari-hari seperti membeli jamu tolak angin di toko jamu, pergi ke dokter hewan ketika iguana kita sakit keras, makan di mc d, main dingdong, dan sebagainya.
Jenis kebutuhan manusia:
• Kebutuhan biologis untuk hidup
• Kebutuhan yang timbul dari budaya peradaban dan kebudayaan manusia itu sendiri
• Kebutuhan lain yang khas menurut masing-masing perorangan
B.2 Perilaku Konsumen
Dugaan-dugaan ilmu ekonomi yang dijadikan dasar pembahasan perilaku konsumen:
• Pendapatan konsumen tetap
• Barang-barang pemuas kebutuhan adanya terbatas
• Konsumen dengan pendapatan terbatas menghadapi suatu kenyataan bahwa harga barang-barang tidak pada titik nol
• Setiap orang mengetahui preferensi kebutuhannya dengan baik
• Konsumen dapat berperilaku rasional dalam melakukan konsumsinya
• Selera konsumen tetap
Perilaku konsumen sejalan dengan hukum permintaan yang berbunyi: Bila harga suatu barang naik maka jumlah barang yang diminta konsumen terhadap barang tersebut akan turun, sebaliknya bila harga barang tersebut turun maka jumlah barang yang diminta akan naik.
Hukum tersebut berlaku bila syarat-syarat terpenuhi (cateris paribus). Dalam mempelajari perilaku konsumen dapat dilakukan melalui:
a. Pendekatan marginal utility (pendekatan cardinal)
Kepuasan bisa dinyatakan dengan angka-angka dan satuan ukuran kepuasannya adalah utility (nilai guna). Ada dua konsep nilai guna, yakni:
• Nilai guna total, merupakan jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu.
• Nilai guna marginal, merupakan pertambahan (atau pengurangan) kepuasan sebagai akibat dari pertambahan konsumsi satu unit barang tertentu.
Setiap orang akan berupaya memaksimumkan nilai guna dari barang dan jasa yang dikonsumsinya. Syarat yang harus dipenuhi adalah setiap rupiah yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan memberi nilai marginal yang sama besar. Hukum ini disebut hukum memeratakan guna marginal setiap rupiah.

Arti konsumtif adalah perilaku yang boros yang mengkonsumsi barang atau jasa secara berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan. Lalu apakah Anda seseorang yang hidup dengan berpenghasilan lumayan besar? Mungkin bagi Anda untuk ber-gaya hidup konsumtif tidak menjadi masalah berarti. Personally, saya sendiri menganggap hal tersebut sah-sah saja. Just enjoy this life, rite…!? Namun pada hakekatnya, hal tersebut adalah kurang baik, bukan? Sulit memang untuk merubah semua itu.
Contoh ini relatif mudah untuk menentukan apakah seseorang telah berperilaku konsumtif atau tidak. Tapi coba bayangkan seseorang yang memiliki penghasilan 1 juta, untuk memenuhi kebutuhan pokoknya 400 ribu, dan 300 ribu digunakan untuk membeli barang yang tidak dia butuhkan, sedang sisanya digunakan untk menambah modalnya dalam usaha. Apakah ia dapat digolongkan berperilaku konsumtif?
Perilaku Konsumtif Remaja
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.
Di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.
Dari sejumlah hasil penelitian, ada perbedaan dalam pola konsumsi antara pria dan wanita. Juga terdapat sifat yang berbeda antara pria dan wanita dalam perilaku membeli. Perbedaan tersebut adalah:
Pria:
mudah terpengaruh bujukan penjual
sering tertipu karena tidak sabaran dalam memilih barang
mempunyai perasaan kurang enak bila tidak membeli sesuatu setelah memasuki toko
kurang menikmati kegiatran berbelanja sehingga sering terburu-buru mengambil keputusan membeli.
Wanita:
lebih tertarik pada warna dan bentuk, bukan pada hal teknis dan kegunaannya
tidak mudah terbawa arus bujukan penjual
menyenangi hal-hal yang romantis daripada obyektif
cepat merasakan suasana toko
senang melakukan kegiatan berbelanja walau hanya window shopping (melihat-lihat saja tapi tidak membeli).
komsumenisme

arti konsumerisme (consumerism) adalah cara melindungi publik dengan memberitahukan kepada mereka tentang barang-barang yang berkualitas buruk, tidak aman dipakai dan sebagainya. Selain itu, arti kata ini adalah pemakaian barang dan jasa. Bila kita telesuri makna kata konsumtivisme maupun konsumerisme bukan sesuatu hal yang baru. Sebab pada dasarnya -isme yang satu ini ternyata sudah lama ada dan sejak awal telah mengakar kuat di dalam kemanusiaan kita (our humanity). Hal ini bisa kita lihat dari ekspresinya yang paling primitif hingga yang paling mutakhir di jaman modern ini.
Tendensi yang ada dalam diri manusia untuk selalu tak pernah puas (never-ending-discontentment) ”mau ini-mau itu” dengan hal-hal yang telah mereka miliki, ditambah dengan dorongan kuat ambisi pribadi dan semangat kompetisi untuk mencapai sesuatu yang lebih daripada tetangga sebelah membuat pola hidup konsumerisme (dibaca : konsumtivisme) semakin subur dan berkembang amat cepat saja.
Contoh konsumerisme
Mereka yang menjadikan ke-konsumtif-annya sebagai gaya hidup adalah mereka yang secara tidak langsung menganut paham konsumerisme. Bagi banyak orang, konsumerisme seperti pemburuan prestasi. Konsumerisme bukan soal ada-tidaknya uang untuk shopping. Pun bukan soal laba besar yang dikeruk melalui permainan insting konsumen. Berapa dan apapun harganya, mereka yg menganut ideologi ini pasti akan membayarnya.Lalu, mengapa di tengah lautan kemiskinan yang luas, orang menumpuk barang-jasa bermerek yang berharga absurd? Kunci untuk memahami konsumerisme adalah psikologi, bagaimana “konsumsi yang mengada-ada” dilembagakan sebagai nirvana.
Contoh lain yang bisa digunakan adalah tren situs jejaring sosial yang banyak digemari saat ini, banyak sekali handphone terbaru yang dibuat khusus menggunakan salah satu situs jejaringnn terkenal didunia saat ini dengan embelodal 600 ribuan rupiah, sudah cukup untuk membeli ponsel dengan jaringan GPRS untuk menginstal applikasi situs jejaring tersebut. Tapi karena alasan gaya, dan faktor kemalasan jadinya gak masalah. Tidak heran, semua jenis dan merek handphone berani dimasukkan ke Indonesia.
Contoh yang paling sederhana adalah makanan fastfood atau yang dinegeri asalnya disebut sebagai junkfood atau makanan sampah, mengapa disebut demikian, karena kandungan gizinya jauh dibawah standar sehat, ditambah lagi dengan pengawet yang digunakan yang meningkatkan resiko terjadinya kanker. Tapi apa yang terjadi di Indonesia justru makanan seperti ini lah yang paling digandrungi untuk mengisi waktu-waktu makan siang, bahkan untuk acara makan yang spesial. Ini bisa diketahui, karena hampir disetiap kota yang ada di Indonesia pasti ada restoran seperti ini. Padahal masakan di Indonesia banyak sekali macamnya dan jauh lebih sehat.
Contoh yang paling sederhana adalah makanan fastfood atau yang dinegeri asalnya disebut sebagai junkfood atau makanan sampah, mengapa disebut demikian, karena kandungan gizinya jauh dibawah standar sehat, ditambah lagi dengan pengawet yang digunakan yang meningkatkan resiko terjadinya kanker. Tapi apa yang terjadi di Indonesia justru makanan seperti ini lah yang paling digandrungi untuk mengisi waktu-waktu makan siang, bahkan untuk acara makan yang spesial. Ini bisa diketahui, karena hampir disetiap kota yang ada di Indonesia pasti ada restoran seperti ini. Padahal masakan di Indonesia banyak sekali macamnya dan jauh lebih sehat.

Contoh yang paling sederhana adalah makanan fastfood atau yang dinegeri asalnya disebut sebagai junkfood atau makanan sampah, mengapa disebut demikian, karena kandungan gizinya jauh dibawah standar sehat, ditambah lagi dengan pengawet yang digunakan yang meningkatkan resiko terjadinya kanker. Tapi apa yang terjadi di Indonesia justru makanan seperti ini lah yang paling digandrungi untuk mengisi waktu-waktu makan siang, bahkan untuk acara makan yang spesial. Ini bisa diketahui, karena hampir disetiap kota yang ada di Indonesia pasti ada restoran seperti ini. Padahal masakan di Indonesia banyak sekali macamnya dan jauh lebih sehat.

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image