Konsep Konsumsi, Konsumen, Konsumtif, dan Konsumerisme

Apa itu konsumsi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI (1991), kata konsumsi memiliki dua arti, yaitu arti pertama adalah pemakaian barang-barang hasil produksi, dan arti kedua adalah barang-barang yang langsung memenuhi keperluan hidup manusia. Mengkonsumsi suatu barang berarti bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna barang tersebut, baik berupa benda maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung. Misalnya, Lisa adalah seorang wanita yang bekerja sebagai seorang reporter sebuah surat kabar. Karena tuntutan pekerjaan, Lisa hampir selalu menghabiskan waktu kerjanya di luar ruangan. Akibatnya, kulit Lisa yang awalnya putih bersih kini menjadi gelap dan timbul bintik-bintik hitam dikarenakan efek dari sinar matahari dan polusi. Lisa kemudian menjadi tidak percaya diri dengan warna kulitnya. Untuk mengembalikan kepercayaan dirinya itu, Lisa kemudian rajin menkonsumsi Vitamin E merek “E-vit”, dan sunscreen merek “kinclong” agar kulitnya kembali menjadi yang ia inginkan.

Contoh tersebut menggambarkan bahwa Lisa mengkonsumsi produk-produk tersebut dikarenakan alasan kebutuhan, dan bilamana Lisa telah mendapatkan warna kulitnya seperti sediakala, maka akan timbul kepuasan dalam diri Lisa karena mengkonsumsi produk-produk tersebut.

Lalu bagaimana dengan konsumen? Apa arti dari kata konsumen? Konsumen berarti pemakai barang-barang hasil produksi (Reksoprajitno, 1993). Pengertian tersebut mengandung makna bahwa konsumen adalah orang yang melakukan kegiatan konsumsi. Bila dikaitkan dengan contoh diatas, maka jelaslah bahwa Lisa adalah salah satu konsumen Vitamin E merek “E-vit”, dan sunscreen merek “kinclong”.

Teori konsumen atau bisa juga disebut teori perilaku konsumen mencoba menerangkan perilaku konsumen dalam membelanjakan pendapatannya untuk memperoleh alat-alat pemuas kebutuhan, yang dapat berupa barang-barang konsumsi atau jasa-jasa konsumsi (Reksoprajitno, 1993). Lebih lanjut Reksoprajitno (1993) mengatakan bahwa kesimpulan-kesimpulan yang dapat dihasilkan oleh teori konsumen antara lain ialah bagaimana reaksi konsumen dalam kesediaanya membeli sesuatu barang terhadap berubahnya jumlah pendapatan yang ia peroleh, terhadap berubahnya harga barang yang bersangkutan, terhadap berubahnya harga barang-barang yang berhubungan dengan barang yang bersangkutan, dan terhadap berubahnya cita rasa yang dimilikinya. Dengan demikian maka jelaslah bahwa teori konsumen merupakan dasar teoritik kurva permintaan akan barang-barang dan jasa-jasa konsumsi. Menurut Essael (dalam Muryani, Hartini, & Tedjakusuma, 2001) ada tiga faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen yaitu: faktor individual konsumen yang meliputi pendidikan dan penghasilan konsumen, pengaruh lingkungan, dan strategi pemasaran. Strategi pemasaran merupakan variabel yang dapat dikontrol oleh pemasar dalam usaha memberi informasi dan mempengaruhi konsumen. Variabel ini adalah produk, harga, distribusi dan promosi.

Bila konsumsi menjelaskan pemakaian barang-barang hasil produksi, maka konsumtif adalah bersifat konsumsi (hanya memakai, tidak menghasilkan sendiri) (KBBI, 1991). Konsumtif mengacu pada keinginan untuk mengkonsumsi secara maksimal. Oleh karena itu, arti kata konsumtif adalah boros atau perilaku yang boros, yang mengkonsumsi barang atau jasa secara berlebihan. Dalam artian luas konsumtif adalah perilaku berkonsumsi yang boros dan berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan, serta tidak ada skala prioritas atau juga dapat diartikan sebagai gaya hidup yang bermewah-mewah (Sembiring, 2009). Sedangkan perilaku konsumtif merupakan kecenderungan terhadap barang atau benda tertentu yang diartikan sebagai perilaku yang ingin memiliki dan membeli benda-benda yang sebenarnya tidak perlu (Hadis dalam Jeehan, 2005). Misalnya, Ina sangat menyukai kegiatan berbelanja. Setiap bulan Ina selalu membelanjakan uangnya untuk baju-baju yang sedang trend meskipun baju-baju lamanya masih bagus.

Sedangkan konsumerisme merupakan gerakan atau kebijaksanaan untuk melindungi konsumen dengan menata metode dan standar kerja produsen, penjual, dan pengiklan (KBBI, 1991). Konsumerisme adalah cara melindungi publik dengan memberitahukan kepada mereka tentang barang-barang yang berkualitas buruk, tidak aman dipakai dan sebagainya (Sembiring, 2009).

Sumber:

  • (1991). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka.
  • (2010). Konsumsi. http://id.wikipedia.org/wiki/Konsumsi. Diakses tanggal 28 September 2010.
  • Reksoprajitno, S. (1993). Pengantar ekonomi mikro: Perilaku harga pasar dan konsumen. Jakarta: Gunadarma.
  • Muryani., Hartini, S., & Tedjakusuma, R. (2001). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian air minum mineral di kotamadya Surabaya. Jurnal Penelitian Dinamika Sosial, 2, 48-58.
  • Jeehan. (2005). Hubungan antara pola asuh permissive dengan perilaku konsumtif terhadap mode pakaian pada remaja. Skripsi. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma.
  • Sembiring, A. J. J. (2009). Budaya konsumerisme. http://www.indowarta.com/index.php?view=article&catid=102%3Aopini&id=310%3Abudaya-konsumerisme&option=com_content&Itemid=333. Diakses tanggal 28 September 2010.
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image