Resensi   Anak Semua Bangsa – Kisah perjuangan seorang pria mengenal bangsanya sendiri

Judul                                       : Anak Semua Bangsa

Pengarang                            : Pramoedya Ananta Toer

Editor                                      : Joesoef Isak

Penerbit                                 :Hasta Mitra

Tanggal – tahun terbit         : 2001

Seorang penulis, Minke, yang merupakan seorang anak Pribumi yang semula “buta” terhadap bangsanya sendiri. Menulis banyak karya-karyanya dengan bahasa asing, bukan bahasa Melayu yaitu bahasa nasional pada jaman itu. Namun, dengan bantuan sahabat-sahabatnya yaitu Kommer ( seorang yang tegas dan tahu banyak mengenai bangsanya sendiri) dan Jean Marais (seorang pelukis yang selalu mendukung karya-karya Minke), Minke dapat mengubah sedikit demi sedikit karya-karyanya dengan bahasa Melayu, bahasa yang dimengerti oleh orang-orang Pribumi. Namun, tidak semudah membalikkan telapak tangan, Minke dan orang-orang disekitarnya mengalami keadaan yang buruk dan mengancam jiwanya. Berbagai masalah timbul dan menghilang tiada henti, namun semua itu dapat terselesaikan.

Bermula dari kisah pernikahannya dengan seorang gadis peranakan Eropa bernama Annelis, yang akhirnya berujung kematian. Annelis meninggal di tanah kelahirannya, sementara Minke tinggal dengan Nyai Ontosoroh, yang merupakan ibunda dari Annelis. Kesedihan, kemurungan, keputusasaan bercampur menjadi satu dalam benak Minke. Namun, Minke bangkit dan mulai menulis kembali.

Tulisan-tulisannya selalu dia serahkan pada kantor redaksi bernama S.Nv/d D milik seorang Bangsa Eropa. Suatu hari, Minke dipertemukan oleh redaktur, Nijman, dengan seorang Cina yang bernama Khouw Ah Soe, yang merupakan pembela negerinya yang berkunjung ke Hindia. Mencoba menelaah dan memperjuangkan hak-hak manusia yang telah di rampas oleh kaum Eropa,namun sayang, Khouw Ah Soe meninggal karena diburu oleh polisi Surabaya karena dia adalah seorang pemberontak dan imigran gelap. Jelas, itu bukan keterangan yang benar, melainkan permainan dari redaksi S.Nv/d D.

Jean Marais meminta Minke untuk menulis dengan bahasa Melayu agar mudah dipahami oleh orang-orang Pribumi,namun pendapat Jean sia-sia saja, Minke tidak tertarik dengan tulisan Melayu. Namun, kegigihan Jean untuk mempertemukan Minke dengan Kommer salah satu juruwarta Koran Melayu mengubah pendirian Minke mengenai bahasa Melayu. Mengenai bangsanya sendiri. Kommer menyatakan bahwa Minke belum mengenal bangsanya sendiri. Penderitaan,kesengsaraan yang dirasakan pada jaman itu sedikit terlupakan oleh Minke. Berpikir, Minke mulai mencari dan mengenal bangsanya sendiri dengan bepergian ke Sidoarjo, tempat kelahiran mertuanya, Nyai Ontosoroh.

Dari sanalah Minke mulai mengenal bangsanya sendiri, mulai dari, Surati, yang diserahkan oleh ayahnya sendiri kepada seorang administrator pabrik gula, perjuangannya melawan apa yang bukan kehendaknya. Kemudian, perjuangan seorang petani, Trunodongso, yang memperjuangkan tanahnya dari pemerintah Eropa. Semua kisah-kisah itu ditulis oleh Minke.

Judul yang diangkat oleh penulis sangat menarik. Membuat para pembaca merasa penasaran dengan isi dari novel tersebut. Pertama kali melihat novel ini, pembaca merasa segan dengan ketebalan novel itu. Namun, bila pembaca mengikuti  alur ceritanya, keinginan untuk terus membaca akan semakin besar karena dalam novel ini, penulis membangkitkan rasa penasaran dan rasa ingin tahu kepada para pembaca. Penulis menyajikan suasana pada abad 19 yang menceritakan perjalanan seorang Pribumi mengenal bangsanya sendiri. Watak tokoh yang beraneka ragam mewarnai indahnya tulisan ini. Alur tempat, waktu dan suasana yang berbeda di setiap babnya, membuat novel ini tidak monoton. Penulis mampu membuat pembaca menjadi berimajinasi, merasakan apa yang dirasakan setiap tokoh yang ada, dan menjadi tahu mengenai apa yang terjadi pada saat masa penjajahan dulu.

Namun, sangat disayangkan, novel ini terkadang menggunakan bahasa campuran,tidak sepenuhnya bahasa Indonesia, seperti misalnya dalam bahasa Belanda, bahasa Jawa atau bahasa Eropa lainnya yang belum tentu dimengerti oleh kebanyakan orang awam. Agak sulit mengerti jalan ceritanya bila tidak betul-betul mengikuti dan memahami dari awal cerita.

Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran. Menceritakan keadaan yang sekarang dan menceritakan keadaan yang telah lalu.

Kisah yang paling menarik dalam novel ini adalah konflik yang ada pada masing-masing tokoh. Merangsang rasa jengkel, kesal dan marah pada pemerintah kolonial. Dan merasa iba, kasihan dan terharu dengan perjuangan orang-orang Pribumi.

Di akhir cerita, Minke, Nyai Ontosoroh dan beberapa orang Pribumi lainnya mengetahui pembunuh istri Minke yang tidak lain adalah saudara tiri dari istri Minke. Akhir yang cukup tragis. Menyampaikan pada para pembaca bahwa keserakahan itu dapat membuat orang melakukan apapun agar tercapai keinginannya.

Terlepas dari itu semua, Pramoedya Ananta Toer adalah salah seorang penulis yang cerdas dan mampu membuka mata para pembaca untuk mengenal lebih dalam bangsa sendiri. Bahkan gaya dan cara pengungkapannya memberikan sentuhan sastra yang dapat dinikmati oleh para pembaca. Semoga pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer selanjutnya akan lebih menarik dan memberikan inspirasi bagi para pembaca.

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image