bab 5 pengaruh lingkungan terhadap perilaku konsumen

TUGAS
PSIKOLOGI KONSUMEN

Lilis Aisyah Pratiwi
10507143
4pa02

UNIVERSITAS GUNADARMA
2010

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERILAKU KONSUMEN

Proses yang digunakan orang untuk mengembangkan nilai motivasi, dan kegiatan kebiasaan mereka disebut sosialisasi, proses penyerapan budaya. Belum lama ini perhatian besar difokuskan pada sosialisasi konsumen, pemerolehan kognisi, sikap dan perilaku yang berhubungan dengan konsumsi. Studi-studi yang lebih dini dalam sosialisasi konsumen berfokus pada proses ini dikalangan orang muda, tetapi penekanan semakin diberikan pada pengembangan ketrampilan seperti ini seumur hidup.

A. Pengertian Nilai, Budaya, dan Etnis

1. Nilai adalah kepercayaan bersama atau norma kelompok yang telah dicerap (internalized) oleh individu, barangkali dengan semacam modifikasi. Norma adalah kepercayaan yang dianut dengan consensus dari suatu kelompok sehubungan dengan kaidah perilaku untuk anggota individual.

2. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani.Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat.
Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan olehkebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Pengertian
Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama :
a. Kebudayaan material : Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
b. Kebudayaan nonmaterial : Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

3. etnik berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Anggota-anggota suatu kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa (baik yang digunakan ataupun tidak), sistem nilai, serta adat-istiadat dan tradisi.
Menurut Frederich Barth (1988) istilah etnik menunjuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa, ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budayanya. Kelompok etnik adalah kelompok orang-orang sebagai suatu populasi yang : Dalam populasi kelompok mereka mampu melestarikan kelangsungan kelompok dengan berkembang biak. Mempunyai nila-nilai budaya yang sama, dan sadar akan rasa kebersamaannya dalam suatu bentuk budaya. Membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri. Menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain. Definisi etnik diatas menjelaskan pembatasan-pembatasan kelompok etnik yang didasarkan pada populasi tersendiri, terpisah dari kelompok lain, dan menempati lingkungan geografis tersendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Seperti misalnya, etnik Minang menempati wilayah geografis pulau Sumatera bagian barat yang menjadi wilayah provinsi Sumatera Barat saat ini dan beberapa daerah pengaruh di provinsi sekitar. Lalu etnik Sunda menempati wilayah pulau jawa bagian barat. Dan etnik Madura menempati pulau madura sebagai wilayah geografis asal. Sebuah kelompok etnik pertama kali diidentifikasi melalui hubungan darah. Apakah seseorang tergabung dalam suatu kelompok etnik tertentu ataukah tidak tergantung apakah orang itu memiliki hubungan darah dengan kelompok etnik itu atau tidak. Meskipun seseorang mengadopsi semua nilai-nilai dan tradisi suatu etnik tertentu tetapi jika ia tidak memiliki hubungan darah dengan anggota kelompok etnik itu, maka ia tidak bisa digolongkan anggota kelompok etnik tersebut. Seorang batak akan tetap menjadi anggota etnik batak meskipun dalam kesehariannya sangat ‘jawa’. Orang Jawa memiliki perbendaharaan kata untuk hal ini, yakni ‘durung jawa’ (belum menjadi orang jawa yang semestinya) untuk orang-orang yang tidak menerapkan nilai-nilai jawa dalam keseharian mereka. Dan menganggap orang dari etnik lain yang menerapkan nilai-nilai jawa sebagai ‘njawani’ (berlaku seperti orang jawa) (Suseno, 2001).

B. Budaya dan Konsumsi
Dinamika budaya konsumtif ialah Menurut Swasta dan Handoko (2000), perilaku membeli seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor kebudayaan yang berkaitan dengan nilai budaya kolektif (kolektivitas) dan faktor kelompok sosial yang berkaitan dengan sikap konformis. Nilai merupakan disposisi yang lebih luas dan sifatnya mendasar sebagai bagian dari ciri kepribadian. Nilai berakar lebih dalam dan karenanya lebih stabil dibandingkan sikap individu karena sikap bersifat evaluatif, (Azwar, 1988).
Hofstede (Riyono,1996) mengungkapkan bahwa dalam budaya kolektif terdapat nilai-nilai hemat, harmoni, pemerataan dan rendah hati. Ini berarti masyarakat kolektif tidak suka boros atau berperilaku konsumtif. Hal ini juga sesuai dengan nilai harmoni yang dijunjung tinggi sehingga segala sesuatu yang mengancam keharmonisan tersebut cenderung dihindari. Keharmonisan ditunjukkan dengan kesederhanaan, pemerataan dan sikap rendah hati pada masyarakat kolektif. Sebagai masyarakat kolektif semestinya remaja menjaga keharmonisan tersebut dengan tidak melakukan perilaku yang menyimpang dari kelompok seperti berlebihan dalam mengkonsumsi barang atau jasa karena kesenjangan akan menimbulkan ketidakharmonisan dalam kelompok mereka. Kelompok memiliki pengaruh yang langsung atau tidak langsung terhadap sikap seseorang termasuk perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif dipengaruhi oleh tuntutan kelompoknya, sehingga apapun yang dituntut oleh norma kelompoknya akan sedapat mungkin dituruti walaupun bertentangan dengan keinginan individu.
C. Dinamika nilai – nilai yang berubah

Tidak ada manusia yang ada tanpa nilai, namun bayi tidak dilahirkan dengan nilai tersebut. Pemeriksaan mengenai bagaimana orang bersosialisasi mengungkapkan beberapa elemen dasar dari konsep budaya. Budaya dipelajari berbeda dengan binatang, yang perilakunya lebih bersifat naluriah, manusia tidak dilahirkan dengan norma perilaku. Manusia belajar norma mereka melalui peniruan ( imitation ) atau dengan mengamati proses ganjaran dan hukuman didalam masyarakat dari anggota-anggota yang mematuhi atau menyimpang dari norma kelompok. Norma yang dipelajari pada awal kehidupan mungkin sangat resistan dengan perilaku yang didefinidikan secra budaya dan berakar dalam ( mengenai makanan, seks, bentuk dasar busana, dsb ), hamper tidak mungkin untuk mengubah bauran pemasaran agar sesuai dengan nilai-nilai budaya dibandingkan dengan usaha untuk mengubah nilai-nilai melalui iklan. Sebagai contoh memakan anjing, kuda, mata domba, atau bahkan ikan yang disajikan dengan kepalanya adalah normal dan merupakan perilaku yang sehat dibeberapa budaya. Namun, adalah meragukan bahwa iklan akan berhasil dalam meyakinkan sebagian besar orang di Amerika Serikat untuk membeli salah satu dari bentuk produk ini.
Pengecer yang berhasil mengetahui bahwa kelompok dasar dari produk adalah esensial untuk lalu lintas took, loyalitas pelanggan, dan laba. Produk ini dikenal sebagai dagangan inti ( core merchandise ). Sekelompok nilai juga ada berdasarkan pada pengertian akan perilaku manusia. Nilai-nilai inti ( core value ). Nilai-nilai inti membantu menjelaskan perilaku konsumen dalam beberapa cara. Nilai-nilai inti mendefinisikan bagaimana produk digunakan didalam masyarakat. Nilai-nilai inti tidak hanya menetapkan makanan apa yang harus dimakan, tetapi juga menetapkan dengan makanan lain apa makanan tersebut cocok, bagaimana makanan tersebut disiapkan, dan pukul berapa memakannya.
Contoh : Budaya individualis terdapat pada budaya Amerika, Australia, Inggris, Kanada, New Zealand, dan Swedia. Sedangkan Taiwan, Korea, Hongkong, Meksiko, Jepang, India, dan Rusia lebih kolektifis dalam orientasi mereka. Nilai ini adalah faktor kunci yang membedakan budaya, dan konsep diri yang berpengaruh besar pada individu. Tidak mengherankan, konsumen dari budaya yang memiliki perbedaan nilai, berbeda pula reaksi mereka pada produk asing, iklan, dan sumber yang lebih disukai dari suatu informasi. Seperti contoh, konsumen dari Negara yang lebih kolektifis cenderung untuk menjadi lebih suka meniru dan kurang inovatif dalam pembelian mereka dibandingkan dengan budaya individualistik. Dalam tema yang diangkat seperti ” be your self” dan “stand out”, mungkin lebih efektif dinegara amerika tapi secara umum tidak di negara Jepang, Korea, atau Cina

D. Pengaruh etnis pada perilaku konsumen
Pada Definisi etnik diatas menjelaskan pembatasan-pembatasan kelompok etnik yang didasarkan pada populasi tersendiri, terpisah dari kelompok lain, dan menempati lingkungan geografis tersendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Seperti misalnya, etnik Minang menempati wilayah geografis pulau Sumatera bagian barat yang menjadi wilayah provinsi Sumatera Barat saat ini dan beberapa daerah pengaruh di provinsi sekitar. Lalu etnik Sunda menempati wilayah pulau jawa bagian barat. Dan etnik Madura menempati pulau madura sebagai wilayah geografis asal. Manusia hidup sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang lahir dari suatu perkembangan budaya. Manusia sebagai konsumen dipengaruhi oleh pola kebudayaan, subbudaya, budaya mikro, etnik, ras dan agama. Hal itu menjadi identitas diri manusia di dalam kelompoknya. Keseluruhan itu mempengaruhi konsumen sebagai pengambil keputusan dalam pembelian barang dan jasa.
Subkultur adalah suatu kelompok besar yang berada di tengah masyarakat yang didalamnya terjadi pertukaran informasi, berbagi kepercayaan dan pengalaman yang menyatukan mereka. Di dalam suatu sub kultur terdapat kultur yang lebih kecil, biasanya disebut mikro kultur, seseorang yang menjadi bagian dari kelompok mikro kultur lebih bebas memilih identitas mereka, sesuai dengan gaya hidup dan hobbi yang disukainya. Pada saat sekarang ini, perbedaan subkultur, mikrokultur, etnis, ras dan agama menjadikan celah baru para pemasar untuk memasarkan barang dagangannya. Seorang pemasar yang baik harus menentukan target sasaran mana yang mempengaruhi budaya konsumen tertentu.

Dapus :
– Prasetijo,ristianti dan john j,o,I ihalauw.2004.
– perilaku konsumen. yogyakarta: penerbit andi.
– Engel.F.James. ( 1994 ). Perilaku Konsumen. Jakarta : Binarupa Aksara.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image