RONGGENG DUKUH PARUK

Judul           : Ronggeng Dukuh Paruk
Pengarang : Ahmad Tohari
Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun          : 2003

Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah novel yang menceritakan kehidupan seorang ronggeng yang bernama Srintil. Novel ini berlatar tempat di Dukuh Paruk sedangkan latar waktunya adalah sekitar tahun 1965-an. Dukuh Paruk merupakan sebuah kampung terpencil yang merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Dawuhan.

Novel ini menampilkan beberapa tokoh antara lain: Rasus, Srintil, Warta, Darsun, Kartareja, Sakarya, dan tokoh-tokoh pendukung lainnya.

Rasus adalah seorang pemuda yang berusaha mencari sosok seorang ibu yang tidak pernah dikenalnya sejak kecil kepada setiap wanita yang dikenalnya dan memilih hidup menjadi tentara. Srintil, gadis cantik si ronggeng muda, terkurung sebuah dilema, yaitu antara keakuannya sebagai seorang wanita dan pekerjaannya sebagai seorang ronggeng di Dukuh Paruk.

Alkisah, Dukuh Paruk yang terkenal dengan dunia ronggeng sempat menjadi sunyi senyap. Peristiwa keracunan tempe bongrek menyebabkan sejumlah ronggeng dan tokoh pendukung dunia peronggengan tewas kecuali beberapa orang yang selamat sehingga pertunjukan menjadi mandek.

Untunglah, mereka menemukan kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik bernama Srintil secara alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng ketika bermain-main di tegalan bersama kawan-kawan sebayanya antara lain Rasus, Warta, dan Darsun. Permainan menari itu terlihat oleh kakek Srintil, Sakarya. Dia sadar bahwa cucunya sungguh berbakat menjadi seorang ronggeng. Berbekal keyakinan itulah, Sakarya menyerahkan Srintil kepada seorang pelatih ronggeng bernama Kartareja. Dengan harapan, Srintil menjadi seorang ronggeng yang diakui oleh masyarakat.

Dalam waktu singkat, Srintil pun membuktikan kebolehannya menari yang disaksikan oleh orang-orang Dukuh Paruk sendiri dan selanjutnya dia pun berstatus gadis pilihan yang menjadi milik masyarakat. Sebagai seorang ronggeng, Srintil harus menjalani serangkaian upacara tradisional yang puncaknya adalah menjalani upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapa pun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal. Meskipun Srintil sendiri merasa takut, tak ada kekuatan dan keberanian untuk menolaknya. Srintil telah terlibat dalam kekuasaan sebuah tradisi. Pada sisi lain, Rasus merasa mencintai gadis itu tidak bisa berbuat banyak setelah Srintil resmi menjadi ronggeng. Oleh karena itu, Rasus memilih pergi meninggalkan Srintil sendirian di Dukuh Paruk.

Kepergian Rasus ternyata membekaskan luka yang mendalam di hati Srintil dan kelak besar sekali pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya yang berliku. Rasus yang terluka hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk menuju pasar Dawuhan, dan kelak dari tempat itulah Rasus mengalami perubahan garis perjalanan hidupnya dari seorang remaja dusun yang miskin dan buta huruf menjadi seorang prajurit yang gagah. Selama berpisah, mereka menjalani hidup masing-masing dan mendapatkan pengalaman yang membentuk pola pikir dan tindakan mereka. Hingga mereka berdua sadar tentang arti sebuah pilihan yang mereka ambil dan kosekuensi yang mereka terima. Mereka dipertemukan kembali dalam kesadaran yang sama yaitu tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dari dulu. Srintil sadar bahwa menjadi ronggeng justru menghalangi dirinya menjadi wanita yang sebenarnya, menikah dan mempunyai anak. Dan ketika ia mencoba untuk keluar, beban tanggung jawab sebagai ronggeng selalu membuat Srintil tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah sedangkan Rasus sadar bahwa dia hanya membenci ronggeng bukan Srintil. Kedua bentuk kesadaran tersebut akhirnya bersatu dan membentuk suatu penyesalan bagi Rasus dan Srintil.

Novel ini sebenarnya mengangkat tema sosial budaya, yaitu bagaimana berusaha menjawab tantangan zaman dengan tetap menjaga tradisi yang telah ada. Kebodohan yang lugu, komersialisasi erotisme, sosial-kultural yang sederhana, romantisme yang melankolis, dan paham dinamisme serta hal-hal mistis dibalut dengan latar selama peristiwa pergerakan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang meletus antara tahun 1964 – 1966. Namun, tema yang sangat terasa adalah tentang keindahan alam. Hal ini terwakili oleh narasi visualisasi tentang alam Dukuh Paruh. Hasilnya adalah imajinasi yang dituntun untuk membentuk suatu dunia maya dalam alam bawah sadar sehingga seolah-olah kehidupan bahkan perasaan para tokoh menjadi konkrit.

Kemampuan Ahmad Tohari, penulis novel ini yang menancapkan visual ke alam imajinasi dengan menggunakan kata-kata yang mengalir dan tepat selalu menjadi daya tarik. Namun, daya tarik itu bisa berubah menjadi paragraf yang hambar jika konteksnya tidak berhubungan dengan jalan cerita. Hal tersebut terbukti dari visualisasi alam yang selalu diselipkan pada setiap pembukaan cerita. Narasi visualisasi tersebut hanya menjadi sekedar penghias yang menambah jumlah kata dan tidak memberikan kontribusi untuk memperkuat cerita. Namun, lain halnya jika narasi visualisasi pada cerita ini digunakan untuk memberikan penekanan yang lebih dalam maknanya sehingga dapat dipastikan suasana cerita dan perasaan tiap-tiap tokoh akan lebih kuat dan mampu menggapai alam imajinasi dengan lebih baik.

Ibrahim Dapetenta Ginting/49210389/1DA01

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image