KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA

MAKALAH

KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA

Disusun Oleh :

Nama / NPM              :  1. ADAT SUPRATNO / 30409188

2. ARMADA / 36409196

Kelas                           : 2-ID05

Mata Kuliah                : Pendidikan Pancasila

Dosen                          : Susanto

PROGRAM SARJANA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS GUNADARMA

BEKASI

2010

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………..……3

DAFTAR ISI……………………………………………………………………2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang………………………………………………….…….5

1.2  Tujuan………………………………………………………………..5

1.3  Sasaran……………………………………………………………….6

BAB II

PERMASALAHAN

2.1. Persepsi Masyarakat Sekitar…………………………………………….7

2.2. Perbedaan Sejarah……………………………………………………….8

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Mengatasi Konflik……………………………………………………….9

3.2 Pemahaman Akan Pelayanan Sosial……………………………………..9

BAB IV

KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan……………………………………………….10

4.2. Saran …………………………………………………………..11

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan,berkat bimbingannya kami cukup mampu menyusun makalah ini.

Makalah yang saya susun ini merupakan kutipan dari beberapa sumber surat kabar di internet yang saya rangkum menjadi sebuah bentuk tulisan yang sistematis, semoga pembaca dapat memahami bahwa perlunya kita mengetahui permasalahan di masyarakat khususnya “konflik antar umat beragama”yang dari tahun ketahun menjadi sorotan di berbagai media massa menjelang hari besar keagamaan.

Akhir kata kami berharap makalah ini menjadi inspirasi yang baru untuk karya-karya selanjutnya dan dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkan informasi tentang masalah “konflik umat beragama”.Mohon maaf bila dalam makalah ini terdapat kekurangan,oleh sebab itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.

Jakarta Oktober 2010

Tim Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

Secara normatif-doktriner, setiap agama selalu mengajarkan kebaikan, cinta-kasih dan kerukunan. Akan tetapi, dalam kenyataan sosiologis, agama justru sering memperlihatkan wajah konflik yang tak kujung reda, ketegangan dan kerusuhan. Sebagai contoh adalah konflik yang terjadi baru-baru ini di beberapa daerah di Indonesia seperti di bekasi, Aceh, Kupang, Ambon dan beberapa daerah lainnya, yang mengakibatkan kerugian yang besar baik berupa material maupun nyawa, moral dan immaterial yang dipicu oleh komunitas antarumat beragama.

Realitas di atas memang tidak mencerminkan kehidupan keberagamaan secara keseluruhan. Kehidupan beragama di bekasi misalnya. Meskipun kondisi masyarakatnya tergolong masyarakat yang cukup berpendidikan,namun ada saja  sekelompok orang yang mengancam keselamatan sesama saudara-saudari Indonesia mereka sendiri. Kota bekasi adalah salah satu daerah yang terletak paling strategis di antara kota kota di jawa barat, yang berkembang  dan banyak di kunjungi oleh pendatang-pendatang dari luar pulau jawa. Kota bekasi secara administratif memiliki kehidupan seperti masyarakat modern yang beraneka ragam suku dan agama.

.

1.1. Latar Belakang

Pelayanan sosial yang paling baik dalam konteks yang plural seperti Indonesia sebaiknya berlangsung dalam bentuk yang saling berkoordinasi tidak hanya di kalangan Kristen itu sendiri tetapi bersama-sama dengan termasuk kalangan FPI. Bagi umat Kristen yang menjalani pelayanan sosial perlu cerdas dan bijaksana. Tujuan pelayanan sosial dalam Kekristenan bukanlah untuk kristenisasi, sama sekali bukan. Tujuannya adalah untuk menolong sesama mengatasi persoalan-persoalan yang sedang mereka hadapi. Semua agama mengajarkan bahwa menolong sesama itu baik, tak terkecuali agama Kristen.

Saudara-saudari yang Muslim khususnya dari FPI perlu lebih membuka diri untuk mengerti apa arti pelayanan sosial di kalangan umat Kristen. Pelayanan sosial tidak hanya tertuju bagi kaum Kristen saja tetapi bagi publik tanpa melihat apa agama yang dilayani. Pelayanan sosial tidak berarti Kristenisasi seperti mungkin ditangkap oleh sebagian yang non-Kristen.

1.2. Tujuan

pemerintah harus cepat tanggap dan bisa menjadi mediator yg cerdas untuk mengatasi hal-hal seperti ini.Selama ini pemerintah kurang sekali memfasilitasi dialog terbuka antar agama di Indonesia.Padahal dengan seringnya para pemimpin agama berdialog akan menghilangkan rasa saling curiga dan umat diakar rumput juga akan tenang.’’Tanpa menunggu pemerintah juga saya kira bisa, inisiatif dari komunitas-komunitas beragama yang ada pun bolehlah soalnya pemerintah mungkin selalu repot’’tanggapan seseorang wartawan kompas.

1.3. Sasaran

Karena, para penganut agama yang berbeda selalu mempersoalkan masalah perbedaan baik masalah sosial, ekonomi maupun agama. Oleh karena itu, fenomena suasana keindividualisme dalam umat beragama tersebut tampak dalam beberapa aktivitas, antara lain:

a)      Kurangnya Kerjasama sosial yang melibatkan antarumat beragama, seperti dalam upacara perkawinan, upacara kematian, pembukaan lahan/sawah, pembangunan sarana dan prasana umum.

b)       Jarang sekali bahkan tidak pernah Saling kunjung para tokoh agama baik ke gereja ataupun ke masjid, seperti dalam acara pertemuan antartokoh dan acara biasa.

Berdasarkan fenomena itu, sebenarnya timbullah konflik antarumat beragama tersebut didorong oleh beberapa faktor, yaitu:

1)      Faktor tradisi, yang ada sejak nenek moyang mereka dengan sifat.

2)      Faktor kekerabatan antarsuku bangsa, yang saling menonjolkan yang menimbulkan sengketa.

3)      Faktor misi dakwah, yang harusnya menekankan aspek kemanusiaan dan pemberdayaan umat,malah menyimpang ke hal-hal yang radikal.

4)      Faktor kerjasama antartokoh agama, pemimpin adat dan aparat pemerintah yang jarang sekali berdialog.

5)      Ada persepsi antarumat agama, bahwa perbedaan agama merupakan masalah yang tidak lazim dan harus diperdebatkan.

6)      Adanya provokasi yang menimbulkan perpecahan, baik oleh masyarakat, tokoh dan pemimpin maupun pihak ketiga.

BAB II

PERMASALAHAN

2.1. Persepsi Masyarakat Sekitar

Masing-masing pihak dalam kasus seperti di Bekasi itu mempunyai alasannya sendiri-sendiri yang benar menurut persepsi mereka. Hanya saja, apa yang benar bagi satu pihak belum tentu ditangkap secara benar apalagi diterima sebagai sebuah kebenaran oleh pihak lain. Belum lagi, Kristen-Islam mempunyai sejarahnya tersendiri berisi hal-hal yang menyenangkan dan menyedihkan. Kadang, hubungan kedua pengikut agama ini bisa menjadi sangat sensitif kalau kedua belah pihak tidak mengutamakan dialog dan sikap saling mengerti.

Pelayanan sosial di kalangan Kristen bertujuan untuk kebaikan bersama. Kalau yang muncul bukan kebaikan dan malah konflik seperti yang berlangsung di Bekasi, maka itu tidak lagi tepat.

2.2. Perbedaan Sejarah

Berbeda dengan agama Yahudi atau Parmalim di Tanah Batak misalnya, baik Kristen maupun Islam adalah agama-agama yang diperuntukkan bagi semua bangsa. Pengikut Yahudi atau Parmalim tak punya kepentingan untuk menyahudikan atau memarmalimkan yang bukan Yahudi atau yang bukan Batak. Kristen dan Islam sebaliknya, kedua agama ini boleh mengkristenkan dan mengislamkan yang bukan Kristen atau yang bukan Islam. Artinya: orang yang belum Kristen boleh masuk Kristen; yang belum Islam boleh masuk Islam. Maka wajar bisa muncul konflik apalagi kalau ada yang Muslim menjadi Kristen atau sebaliknya. Khususnya di Indonesia, dalam pengamatan saya, kita lebih mudah ribut kalau yang pindah agama itu yang Muslim ke Kristen, kalau sebaliknya, suara keributan jauh lebih kecil atau tak terdengar. Mungkin ini ada kaitannya dengan persentasi pemeluk kedua agama ini di Indonesia.

Mungkin karena keduanya saudara-saudari dekat, sama-sama agama-agama semitik, berasal dari region yang berdekatan; Abrahamic-religions kan ada tiga: Yahudi, Kristen dan Islam. Mungkin itu kecenderungan sesama saudara yang dekat. Mungkin kalau dilihat dari akar sejarah memang ketiga agama Semit dari awal saling tidak menerima. Benar mereka bersaudara, tetapi selalu terjadi pengulangan sejarah, di mana akan terjadi penolakan atas setiap kelahiran adiknya yang baru. Yahudi menolak Isa, Yahudi dan Kristen menolak Islam, dan situasi tersebut terbawa dalam ranah politik. Terjadinya perang Salib, pendirian bangsa Israel juga melukai sebagian umat beragama, dan lain-lain.

Perbedaan adalah keindahan dan tentu kita memerlukan komunikasi dan dialog dalam perbedaan kita khususnya di Indonesia ini. Perbedaan punya potensi baik dan tidak baik sekaligus, kita mau potensi baik itu yang bertumbuh untuk kebaikan semua pihak. Kalau soal kekerasan dan kejahatan, bukan monopoli umat beragama saja. banyak kekerasan terjadi sebab alasan lain, yang jauh dari agama dan macam-macam sebabnya. Konon, seperti beberapa kali dikatakan oleh Alm. Th.Sumarthana, jumlah manusia yang meninggal akibat konflik agama atau yang berkaitan dengan agama termasuk besar jika dibandingkan dengan konflik-konflik non agama. Kita tidak musti melanjutkan apa yang salah, kita bisa berubah kalau kita mau. Saya yakin, secara hukum pasti bisa diatasi andai aparat dan pemerintahan tetap netral dalam urusan beragama ini.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Mengatasi Konflik

Untuk konteks seperti Indonesia bahkan untuk konteks global, adalah baik dan paling baik bagi para pemeluk agama sedapat mungkin saling bersilaturahmi termasuk dalam menjalankan pelayanan sosial mereka sehingga hal-hal negatif dan saling curiga akibat tidak saling mengerti bisa kita hapuskan. Menghabiskan energi untuk saling berkonflik dan saling curiga itu untuk apa?, tak ada yang untung sama sekali. Malah menguras energi dan membuat citra kita di dalam maupun di luar negeri menjadi buruk. Kalau kita bisa saling bersilaturahmi di tingkat akar-rumput dengan baik, itu akan menjadi kekuatan besar; menjadi modal sosial bersama-sama termasuk untuk memperbaiki kualitas bangsa ini.

3.2 Pemahaman Akan Pelayanan Sosial

Pelayanan sosial bisa menjadi tugas bersama-sama, begitu lebih merekatkan tali silaturahmi. Jadi bisa menghindari konflik-konflik yang tidak perlu seperti terjadi di Bekasi. Umat Islam paling besar jumlahnya ada di Indonesia dan pastilah bukan pekerjaan mudah untuk melayani semuanya apalagi hanya oleh Muhammadiyah. Kalau semua warga negara saling bersinergi dalam bidang sosial ini, saya kira malah lebih mantap. Memang dilema, jika melayani agama tertentu saja bisa dianggap tidak ada kepedulian sosial. mestinya dicari akar masalah apakah kelakuan anarkis seperti yang telah berulang kali dilakukan oleh fpi di mana-mana, karena melulu hanya kuatir akan ‘kristenisasi’, permainan politik atau pemahaman agama yang keliru?. Sebabnya bisa saja bermacam-macam tetapi yang mereka sebutkan secara jelas adalah soal ‘kristenisasi’. Saya kira, masih banyak juga yang non-Kristen di negeri yang kurang atau bahkan belum mengerti apa itu Kekristenan, jangankan yang non-Kristen yang Kristen saja belum tentu semua mengerti. Sebaliknya juga dan bisa jadi apalagi, yang non-Muslim tidak mengerti dan tidak tahu apa itu Islam. Kondisi seperti ini sebenarnya merugikan kita semua. Jauh lebih beradab kalau seorang Kristen mengenal paling tidak garis-garis besar agama Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas anak negeri ini; dan tentu sebaliknya juga, jauh lebih manusiawi kalau yang non-Kristen mau mengetahui apa itu Kekristenan sebagai salah satu agama paling besar di planet ini.

BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Sebaiknya ada upaya-upaya silaturahmi antara komunitas-komunitas Kristen dengan komunitas-komunitas Muslim termasuk FPI dalam menjalankan pelayanan sosial. Tidak hanya di kalangan Islam ada yang kita sebut Islam garis keras, sebenarnya ini adalah istilah yang debateable, sebab setahu saya FPI pun tak mau disebut sebagai kelompok garis keras. Mereka mengatakan mereka pembela Islam dan silahkan kita hargai itu. Di kalangan Kristen ada juga yang bergaris-keras, walau tentu saja, mereka pun tak menyukai istilah ini. Mereka menyebut diri sebagai pihak yang menjalankan mandat agama.

Sebagai sesama manusia, saling tolong walau beda agama kan boleh. Kalau Muslim bantu Kristen yang miskin dan sebaliknya, boleh kan tanpa yang Kristen harus pindah ke Islam dan sebaliknya. Yang bikin gusar sebenarnya adalah kuatir yang Muslim akan pindah Kristen kalau terima bantuan-bantuan sosial itu.

Saat terjadi bencana di Asia, seluruh dunia tanpa pandang agama apa bahkan yang tak beragama juga bisa bersatu demi dan atas nama kemanusiaan. Kalau menolong atas nama kemanusiaan, semua pihak baik yang beragama dan yang tidak toh bisa terima. Jadi ternyata, kemanusiaan itu melampaui sekat-sekat agama yang ada.

Saya juga melihat negara lemah dalam melindungi hak-hak semua warga negara baik yang Muslim maupun yang Kristen dan umat beragama lainnya. Jadi sebenarnya kita sama-sama mengalami hal yang mirip. Pemerintah kadang tidak tegas dalam menyelesaikan setiap kasus yang menyangkut kepentingan orang banyak; suanasa ketidak jelasan ini bisa dan potensial menimbulkan konflik horizontal di antara sesama penduduk negeri.

4.2. Saran

Sebaiknya ada upaya-upaya silaturahmi antara komunitas-komunitas Kristen dengan komunitas-komunitas Muslim termasuk FPI dalam menjalankan pelayanan sosial. Untuk saat ini sebaiknya saling menahan diri, jangan sampai terjadi bentrokan fisik, masing-masing pemuka agama menjaga umatnya masing-masing dan yang melanggar diberi sanksi yang tegas. Kalau para pimpinan agama termasuk pimpinan FPI bersilaturahmi bersama-sama didukung oleh banyak unsur di negara ini, keadaan pasti akan lebih baik. Apa yang pernah terjadi musti bisa jadi pengalaman untuk memperbaiki keadaan bagi semua pihak.

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Dian Rakyat, Jakarta, 1980.

­­­­Moore, S.P., Law as Process: An Anthropology Approach, Routledge and Kegan Paul, London, 1983.

Rosyidi, H.M., Empat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi, Bulan Bintang, Jakarta, 1974.

Suparlan, Parsudi, Masyarakat Struktur Sosial dalam Manusia Indonesia Individu, Keluarga dan Masyarakat, A.W. Widjaya (peny.), Akademika Pressido, Jakarta, 1976.

_________, “Kebudayaan dan Pembangunan,” dalam Majalah Dialog, No. 21, Tahun XI.

Suprayogo, Imam, Merajut Benang Kusut Agama-agama dalam Islam dan Hegemoni Sosial, Khaeroni (ed.), Ditperta Depag RI, Jakarta, 2001.

http://www.kompasiana.com /humaniora/ Konflik Antar Umat Beragama Menjadikan Indonesia Menakutkan.htm.

.

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image