Perbedaan Karangan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non-Ilmiah

Tugas Softskill 2

Nama                  : Angga Kurniawantoro

NPM                    : 10208136

Kelas                   : 3EA10

Mata Kuliah   : B.Indonesia 2

Perbedaan Karangan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non-Ilmiah

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tradisi keilmuan menuntut para calon ilmuan (mahasiswa/i) bukan sekadar menjadi penerima ilmu. Akan tetapi, sekaligus sebagai pemberi (penyumbang) ilmu atau ide. Dengan demikian, tugas kaum intelektual dan cendikiawan tidak hanya dapat membaca, tetapi juga harus dapat menulis tentang tulisan-tulisan ilmiah. Apalagi bagi seorang mahasiswa sebagai calon ilmuan wajib menguasai tata cara menyusun karya ilmiah. Ini tidak terbatas pada teknik, tetapi juga praktik penulisannya. Karangan memiliki berbagai macam, diantaranya: karangan ilmiah, karangan semi ilmiah, dan karangan non-ilmiah. Setiap karangan memiliki cirri-cirinya sehingga memudahkan penulis untuk menentukan jenis karangan yang ingin dikerjakan. Karangan dapat bertujuan Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembacanya.

1.2 Masalah

  1. Apa pengertian karangan ilmiah, semi ilmiah, dan non-ilmiah?
  2. Apa ciri-ciri karangan ilmiah, semi ilmiah, dan non-ilmiah?
  3. Apa jenis-jenis karangan?

BAB II LANDASAN TEORI

2.1  Pengertian Karangan

Karangan merupakan suatu karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami dan dimengerti.

2.2  Jenis-Jenis Karangan

a.    Narasi

Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.

Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris, sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi sugestif adalah novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.

Pola narasi secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal – tengah – akhir.

  1. Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.
  2. Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.
  3. Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.

Ciri-ciri karangan narasi adalah :

  1. Menggunakan urutan waktu dan tempat yang berhubungan secara kausalitas.
  2. Terdapat unsur tokoh yang digambarkan mempunyai perwatakan yang jelas.
  3. Terdapat alur cerita, setting dan konflik.

Langkah menyusun narasi (terutama yang berbentuk fiksi) cenderung dilakukan melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan menggunakan “rumus” 5 W + 1 H, yang dapat disingkat menjadi adik simba.

  1. (What) Apa yang akan diceritakan,
  2. (Where) Di mana seting atau lokasi ceritanya,
  3. (When) Kapan peristiwa-peristiwa berlangsung,
  4. (Who) Siapa pelaku ceritanya,
  5. (Why) Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan
  6. (How) Bagaimana cerita itu dipaparkan.

Contoh narasi berisi fakta:

Ir. Soekarno

Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama adalah seorang nasionalis. Beliau memimpin PNI pada tahun 1928. Soekarno menghabiskan waktunya di penjara dan di tempat pengasingan karena keberaniannya menentang penjajah.

Soekarno mengucapkan pidato tentang dasar-dasar Indonesia merdeka yang dinamakan  Pancasila pada siding  BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949.

Jiwa kepemimpinan dan perjuangannya tidak pernah pupus. Soekarno bersama pemimpin-pemimpin negara lainnya menjadi juru bicara bagi negara-negara nonblok pada Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Hampir seluruh perjalanan hidupnya dihabiskan untuk berbakti dan berjuang.

Contoh narasi fiksi:

Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa.
Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga?

Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun kuusahakan untuk menepiskannya. Jangan, Bowo, sergah hati kecilku, jangan biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Ratri, dia tengah menunggu kepulanganmu dengan segenap cintanya.

b.  Deskripsi

Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.

Karangan deskripsi memiliki ciri-ciri seperti :

  1. Menggambarkan atau melukiskan sesuatu.
  2. Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera,
  3. Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri karena unsur perasaan lebih tajam daripada pikiran

Pola pengembangan paragraf deskripsi antara lain :

  1. Paragraf Deskripsi Spasial, paragraf ini menggambarkan objek kusus ruangan, benda atau tempat.
  2. Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis.
  3. Paragraf Deskripsi Objektif, paragraf ini menggambarkan objek dengan apa adanya atau sebenarnya.

Langkah menyusun deskripsi :

  1. Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan
  2. Tentukan tujuan.
  3. Mengumpulkan data dengan mengamati objek yang akan dideskripsikan.
  4. Menyusun data tersebut ke dalam urutan yang baik (menyusun kerangka karangan).
  5. Menguraikan kerangka karangan menjadi dekripsi yang sesuai dengan tema yang ditentukan

Contoh Narasi atau karangan deskripsi : Tepat pukul 06.00 aku terbangun, diiringi dengan suara-suara ayam yang berkokok seolah menyanyi sambil membangunkan orang-orang yang masih tidur. serta dapat ku lihat burung-burung yang berterbangan meninggalkan sarangnya untuk mencari makan.

c.  Eksposisi

Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah, cara, atau proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.

Ciri-ciri karangan eksposisi yaitu :

  1. Memberikan informasi kepada pembaca.
  2. Adanya fakta dan informasi.
  3. Berfungsi untuk memperjelas apa yang akan disampaikan.

Langkah menyusun eksposisi sebagai berikut :

  1. Menentukan topik atau tema.
  2. Menetapkan tujuan.
  3. Mengumpulkan data dari berbagai sumber.
  4. Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih.
  5. Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.

Contoh topik yang tepat untuk eksposisi :

  1. Manfaat kegiatan ekstrakurikuler.
  2. Peranan majalah dinding di sekolah.
  3. Sekolah kejuruan sebagai penghasil tenaga terampil.

Contoh karangan eksposisi pada umumnya :

Pada dasarnya pekerjaan akuntan mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi, pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan, juga perencanaan sistem informasi akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan informasi keuangan. Dalam bidang auditing pekerjaan akuntan berupa pemeriksaan laporan keuangan secara objektif untuk menilai kewajaran informasi yang tercantum dalam laporan tersebut.

d.    Argumentasi

Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat atau kesimpulan dengan data atau fakta sebagai alasan atau bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.

Ciri-ciri karangan argumentasi yaitu :

1. Terdapat pernyataan, idea tau gagasan yang dikemukakan.

2. Pembenaran berdasarkan fakta dan data yang disampaikan.

Langkah menyusun argumentasi :

1. Menentukan topik atau tema.

2. Menetapkan tujuan.

3. Mengumpulkan data dari berbagai sumber.

4. Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih.

5. Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi.

Contoh tema atau topik yang tepat untuk argumentasi :

  1. Disiplin kunci sukses berwirausaha.
  2. Teknologi komunikasi harus segera dikuasai.
  3. Sekolah Menengah Kejuruan sebagai aset bangsa yang potensial.

Contoh karangan argumentasi pada umumnya :

Jiwa kepahlawanan harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan karena dengan jiwa kepahlawanan, pembangunan di negara kita dapat berjalan dengan sukses. Jiwa kepahlawanan akan berkembang menjadi nilai-nilai dan sifat kepribadian yang luhur, berjiwa besar, bertanggung jawab, berdedikasi, loyal, tangguh, dan cinta terhadap sesama. Semua sifat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang.

e.    Persuasi

Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.

Karangan ini mempunyai ciri-ciri:

  1. Terdapat himbauan atau ajakan.
  2. Berusaha mempengaruhi pembaca

Langkah menyusun persuasi :

  1. Menentukan topik atau tema.
  2. Merumuskan tujuan.
  3. Mengumpulkan data dari berbagai sumber.
  4. Menyusun kerangka karangan.
  5. Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi.

Contoh tema atau topik yang tepat untuk persuasi :

  1. Katakan tidak pada NARKOBA.
  2. Hemat energi demi generasi mendatang.
  3. Hutan sahabat kita.
  4. Hidup sehat tanpa rokok.
  5. Membaca memperluas cakrawala.

Contoh karangan persuasi pada umumnya :

Salah satu penyakit yang perlu kita waspadai di musim hujan ini adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Untuk mencegah ISPA, kita perlu mengonsumsi makanan yang bergizi, minum vitamin dan antioksidan. Selain itu, kita perlu istirahat yang cukup, tidak merokok, dan rutin berolah raga.

2.3  Karangan Ilmiah

A.   Pengertian Karangan Ilmiah

Karangan ilmiah adalah salah satu jenis karangan yang berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya.

B. Tujuan Karangan Ilmiah

Tujuan karangan ilmiah, antara lain: memberi penjelasan, memberi komentar atau penilaian, memberi saran, menyampaikan sanggahan, serta membuktikan hipotesa.

Jenis karangan ilmiah, diantaranya makalah, skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian. Kalaupun jenisnya berbeda-beda, tetapi keempat-empatnya bertolak dari laporan, kemudian diberi komentar dan saran. Perbedaannya hanya terletak pada kekompleksannya.

C. Ciri-Ciri Karangan Ilmiah, antara lain:

Kejelasan adalah semua yang dikemukakan tidak samar-samar, pengungkapan maksudnya   tepat dan jernih.

1. Kelogisan adalah keterangan yang dikemukakan masuk akal.

2. Kelugasan adalah pembicaraan langsung pada hal yang pokok.

3. Keobjektifan adalah semua keterangan benar-benar aktual, apa adanya.

4. Keseksamaan adalah berusaha untuk menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan betapapun kecilnya.

5. Kesistematisan adalah semua yang dikemukakan disusun menurut urutan yang memperlihatkan kesinambungan.

6. Ketuntasan adalah segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.

D. Syarat Karangan Ilmiah

1. Penulisannya berdasarkan hasil penelitian.

2. Pembahasan masalahnya objektif sesuai dengan fakta.

3. Karangan mengandung masalah yang  sedang dicarikan pemecahannya.

4. Baik dalam penyajian maupun dalam  pemecahan masalah digunakan metode  tertentu.

5. Bahasanya harus lengkap, terperinci, teratur  dan cermat.

6. Bahasa yang digunakan hendaklah benar,  jelas, ringkas, dan tepat sehingga tidak  terbuka kemungkinan bagi pembaca untuk  salah tafsir.

2.4     Karangan Non-Ilmiah atau Fiksi

A. Pengertian Karangan Non-Ilmiah

Karangan non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.

Jenis karangan non-ilmiah, diantaranya anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, novel, puisi, naskah, drama, dan roman

B. Ciri-Ciri Karangan Non-Ilmiah :

a.  Ditulis berdasarkan fakta pribadi.

b.  Fakta yang disimpulkan subyektif.

c.  Gaya bahasa konotatif dan popular.

d. Tidak memuat hipotesis.

e.  Penyajian dibarengi dengan sejarah.

f.  Bersifat imajinatif.

g.  Situasi didramatisir.

h.  Bersifat persuasif.

2.5 Karangan Semi Ilmiah atau Populer

A.  Pengertian Karangan Ilmiah Populer

Karangan ilmiah popular adalah karangan yang berisi infomasi faktual yang diungkapkan dengan bahasa semiformal, tetapi sepenuhnya mengikuti metode ilmiah sintesis-analitis dan sering dibumbui dng opini penulis yang kadang-kadang subjektif. Jenis karangan semi ilmiah, diantaranya artikel, editorial, opini, fitur (feature),tips, reportase.

B. Ciri-Ciri Karangan Semi Ilmiah

a. Ditulis berdasarkan fakta pribadi.
b. Fakta yang disimpulkan subyektif.
c. Gaya bahasa formal dan popular.
d. Mementingkan diri penulis.
e.  Melebihkan-lebihkan sesuatu.
f.  Usulan-usulan bersifat argumentative.
g.  Bersifat persuasif.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari hasil penulisan diatas mengenai perbedaan karangan, dapat disimpulkan bahwa karangan adalah suatu karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Penulisan karangan ilmiah, semi ilmiah maupun non-ilmiah memiliki ciri-ciri yang berbeda. Hal tersebut, untuk mempermudah penulis menentukan jenis karangan yang dibuat dan mempermudah para pembacanya.

3.2 Daftar Pustaka

Brotowidjoyo, M. D. 1995. Penulisan Karangan Ilmiah. Edisi Kedua. Akademika Pressindo. Jakarta.

Halim, Amran. 1983. Pembinaan Bangsa Indonesia. Gramedia. Jakarta

http://id.wikipedia.org/wiki/Karangan

Rifai, M. A. 1995. Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. UGM Press, Yogyakarta.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Perbedaan Karangan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non-Ilmiah, 10.0 out of 10 based on 1 rating
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image