RESENSI NOVEL LASKAR PELANGI

Nama: Armada

NPM : 36409196

Kelas :1 ID 05

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia

Tugas: Membuat Resensi Buku

RESENSI NOVEL LASKAR PELANGI

Jenis:Motivasi

Judul:Laskar Pelangi

Pengarang:Andrea Hirata

Penerbit:Bentang Pustaka

Tahun Terbit:Th.2005

Tempat Terbit:Jakarta

Tebal:301 halaman

Pelaku:

  1. Ikal aka Andre Hirata
    1. Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara
    2. Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah
    3. Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam
    4. A Kiong (Chau Chin Kiong); Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman
    5. Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz
    6. Kucai; Mukharam Kucai Khairani
    7. Borek aka Samson
    8. Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari

10.  Harun; Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan

11.  Bu Muslimah

12.  Pak Harfan

13.  Flo

14.  A Ling

Naskah Laskar Pelangi diadaptasi menjadi sebuah film tahun 2008 yang berjudul sama.

Sinopsis:

Kisah nyata yang diangkat dalam sebuah novel dengan judul”Laskar Pelangi” oleh Andrea Hirata ini telah menggugah semangat belajar saya hingga saya memutuskan untuk kuliah,walaupun menurut sebagian orang usia saya saat ini  adalah usia pasca,namun tidak membuat semangat saya luluh,karena setiap saya mendengar kata-kata seperti itu,setiap itu pula saya mengingat isi cerita buku tersebut.Bahkan buku ini telah berulang-ulang saya baca,hingga bukunya sampai lusuh dan kisahnya seolah-olah saya alami secara langsung. Kisah ini telah menginspirasi saya.Benar-benar sebuah buku yang yang telah membangkitkan semangat edukasi saya yang sempat matisuri.

Buku ini bercerita tentang kisah sepuluh anak kampung di Pulau Belitong, Sumatera. Cerita terjadi di desa Gantung, Belitung Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu.

Dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah.

Mereka, Laskar Pelangi – nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka terhadap pelangi – pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya. Kisah indah ini diringkas dengan kocak dan mengharukan oleh Andrea Hirata, kita bahkan bisa merasakan semangat masa kecil anggota sepuluh Laskar Pelangi ini.

Kisah luar biasa tentang anak-anak Pulau Belitong itu yang diangkat dalam novel dengan judul ‘Laskar Pelangi’ oleh Andrea Hirata, salah satu dari sepuluh anak itu. Di buku tersebut Andrea mengangkat cerita bagaimana semangat anak-anak kampung miskin itu belajar dalam segala keterbatasan. Mereka bersekolah tanpa alas kaki, baju tanpa kancing, atap sekolah yang bocor jika hujan, dan papan tulis yang berlubang hingga terpaksa ditambal dengan poster Rhoma Irama.

Kisah yang tadinya bukan untuk diterbitkan itu ternyata mampu menginspirasi banyak orang. Seorang ibu di Bandung, misalnya, mengirim surat ke Kick Andy. Isinya minta agar kisah tersebut diangkat di Kick Andy karena anaknya yang membaca buku Laskar Pelangi kini bertobat dan keluar dari jerat narkoba. ‘’Setiap malam saya mendengar suara tangis dari kamar Niko anak saya. Setelah saya intip, dia sedang membaca sebuah novel. Setelah itu, Niko berubah. Dia jadi semangat untuk ikut rehabilitasi. Kini Niko berhasil berhenti sebagai pecandu narkoba setelah membaca buku Laskar Pelangi,’’ ungkap Windarti Kosasih, sang ibu.

Andrea sendiri mengaku novel itu awalnya hanya merupakan catatan kenangannya terhadap masa kecilnya di Belitong. Dia selalu teringat sahabat-sahabatnya di masa kecil, terutama Lintang. Sebab tokoh Lintang merupakan murid yang cerdas dan penuh semangat walau hidup dalam kemiskinan. Setiap hari Lintang harus mengayuh sepeda tua yang saering putus rantainya ke sekolah. Pulang pergi sejauh 80 km. Bahkan harus melewati sungai yang banyak buayanya.

Sayang, cita-cita Lintang untuk bisa sekolah ke luar negeri, seperti yang sering didorong oleh guru mereka, terpaksa kandas. Lintang bahkan tak tamat SMP karena orangtuanya yang nelayan tidak mampu membiayai. ‘’Lintang adalah sosok yang menginspirasi saya. Karena itu, saya bertekad meneruskan cita-cita Lintang,’’ ujar Andrea, yang sekian puluh tahun kemudian berhasil mendapat beasiswa sekolah ke Sorbonne, Prancis.

Tim Kick Andy yang mendatangi kampung tempat SD itu berdiri, di Belitong, berhasil ‘menemukan’ beberapa dari tokoh anak-anak di dalam novel tersebut. Mereka kini sudah dewasa. Namun kenangan tentang masa kecil itu sangat kuat membekas. Terutama pada ibu guru Muslimah yang sangat mereka cintai. ‘’Buku Laskar Pelangi memang saya persembahkan untuk Ibu Mus yang sangat tabah dan pantang menyerah dalam mendidik
kami,’’ ujar Andrea.

Maka sungguh menarik menyaksikan bagaimana Kick Andy mempertemukan Andrea dengan Ibu Guru Muslimah di studio Metro TV. Apalagi ketika Bu Mus membawa barang-barang yang mempunyai kenangan tersendiri bagi Andrea dan teman-teman kecilnya dulu di kampung.Kenangan yang
diceritakan kembali oleh Andrea dengan jenaka. Juga termasuk darimana Andrea mengambil nama yang dipakainya hingga sekarang ini.

Sungguh sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata yang sangat menggugah.Novel yang membuat siapa pun yang membaca akan merasa
bersalah dan berdosa jika tidak mensyukuri hidup.Itu pula sebabnya saya menawarkan keteman saya untuk membaca buku ini hingga buku tersebut berbulan-bulan lamanya berada ditangannya.Mungkin Itu pula sebabnya sutradara Riri Reza dan Produser Mira Lesmana tertarik untuk mengangkat kisah ini ke layar film. Buku ini membangkitkan kembali ruh pendidikan di Indonesia yang sempat mati suri.

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image