tugas makalah kenaikan harga kedelai mengancam k

Pembukaan

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa saya ucapkan kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
saya  menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis angat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga sengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin…

Pembahasan Latar Belakang

Bangsa Indonesia terancam krisis protein nabati dan hewani karena harga kedelai dan jagung yang terus melambung dan berdampak pada kenaikkan harga pakan ternak.

Ini kemudian berimbas pada kenaikan harga daging ayam yang ujungnya orang miskin semakin sulit mengonsumsinya. Staf Ahli Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia (DPP PPUI) Wario Sahru mengatakan hal itu di Bandung, Rabu (16/1).

Wario menjelaskan, sejak akhir tahun lalu harga jagung sudah tinggi, yakni 1.600 per kilogram (kg). Harga ini terus melonjak dan tembus angka 2.800 rupiah per kg pada awal 2008. Akibatnya, harga pakan ternak naik dari 3.000 rupiah per kg menjadi 4.300 rupiah per kg.

Dengan harga pakan ternak sebesar itu, lanjutnya, harga bibit ayam (day old chicken/DOC) mencapai 2.500 rupiah per ekor. “Ini mengakibatkan break even point (BEP) daging ayam naik menjadi 11.000 rupiah per kg. Berarti harga daging ayam di kandang sudah 12.000 rupiah per kg dan di pasar mencapai 20.000 rupiah per kg,” kata Wario.

Dengan harga setinggi itu, lanjut Wario, yang mampu membeli daging ayam hanya kalangan menengah ke atas. Adapun masyarakat menengah ke bawah yang jumlahnya mayoritas di negeri ini, semakin sulit membelinya. Yang terjadi kemudian adalah krisis protein hewani.
“Sekarang kedelai juga semakin sulit, sehingga krisis protein nabati juga mengancam,” ujarnya.

Mahalnya harga jagung, kata Sekretaris III DPP PPUI Ashwin Pulungan, karena pemerintah tidak membela petani dan peternak. Ketahanan pangan hanya diartikan pemerintah sebagai upaya pengadaan pangan dari manapun asalnya, meskipun harus impor.

Ashwin mengungkapkan, saat ini Indonesia mengimpor jagung sebanyak 1,7 juta ton per tahun dari seluruh kebutuhan 3,5 juta ton per tahun. Bea masuk hanya 5 persen, sementara para petani tidak diberdayakan menanam jagung. “Semestinya bea masuk dinaikkan hingga 10 persen dan petani diberdayakan. Dengan demikian, harga jagung bisa turun karena pasokan dari dalam negeri meningkat dan petani tetap sejahtera,” ujarnya.

Selain itu, Ashwin juga menyayangkan rencana pemerintah mengubah UU Nomor 6 Tahun 1967 tentang ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. Awalnya, UU ini mewajibkan pemerintah memberdayakan peternakan dengan melibatkan rakyat. “Dalam revisi UU itu, usaha peternakan dengan melibatkan rakyat dihilangkan dan diambil penanam modal asing (PMA),” kata Ashwin.

Menurut Ashwin, Rancangan UU baru itu desain PMA yang terus berupaya menonopoli peternakan sekaligus mematikan peternakan rakyat. Saat ini saja, sedikitnya 50 persen usaha peternakan dikuasai PMA.

Pada saat yang sama, banyak peternakan rakyat yang mati. Anggota PPUI yang semula 80.000 tinggal 10 persennya. Sisanya gulung tikar karena tak mampu bersaing dan kekurangan modal.

Lantas, kata Ashwin, PMA seolah melibatkan rakyat dalam pola peternakan unggas kemitraan. Caranya, warga pribumi diberi modal untuk beternak, namun harus menjual hasilnya ke PMA. “Ini merupakan perpanjangan tangan dari usaha integral monopoli yang dilakukan perusahaan besar PMA,” papar Ashwin.

Indikasinya, Berbagai rapat yang digelar PMA memutuskan harga DOC naik maupun turun secara bersamaan di semua industri pembibitan ayam. Ini dibarengi dengan pengendalian penjualan induk ayam (parent stock) oleh PMA.

Indikasi lainnya, PMA bebas berbudidaya komersial peternakan ayam atas nama kemitraan. Harga daging ayam di pasar hancur saat ayam PMA masuk ke pasar tradisonal. (MHF).

Dan diketahui Sejumlah pengusaha tempe di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mulai menggunakan singkong sebagai bahan campuran pasca melambungnya harga kedelai menjadi Rp 7.800 per kilogram. Dengan singkong, mereka bisa menghemat ongkos produksi hingga 40 persen.

Sujoyo (36), pengusaha tempe di Kelurahan Nagrikidul, Kecamatan Purwakarta, Senin (14/1) mengatakan, beberapa pengusaha yang tergabung dalam paguyuban pengusaha tempe Purwakarta telah menggunakan tempe sejak akhir Desember 2007 lalu. Mereka menilai harga kedelai sudah terlalu tinggi dan tidak terjangkau konsumen lagi.

”Untuk memproduksi 1,5 kuintal tempe dengan bahan baku 100 persen kedelai dibutuhkan ongkos produksi hingga Rp 1,2 juta. Padahal pendapatan kotor dari menjual 1,5 kuintal tempe hanya Rp 1,3 juta,” tambahnya.

Dengan menggunakan singkong, lanjutnya, pengusaha tempe bisa menghemat ongkos produksi hingga sebesar Rp 360.000 untuk produksi 1,5 kuintal tempe. ”Harga kedelai sudah mencapai Rp 7.800 per kilogram, sedangkan singkong masih Rp 800 per kg,” ujarnya.

Tujuan

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua.

Penutup

Demikianlah makalah tentang kenaikan harga kedelai yang mengancam ketahanan pangan indonesia yang saya buat semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.

Kesimpulan

Bahwa kenaikan harga kedelai dapat berimbas kepada masyarakat kecil,pengrajin tempe yang kelimpungan,pengusaha tempe pun mulai menggunakan  singkong ,dan berimbas pada kenaikan harga pakan ternak.

Daftar pustaka

http://nasional.kompas.com/read/2008/01/16/20153866/indonesia.terancam.krisis.protein

http://nasional.kompas.com/read/2008/01/13/15271537/Harga.Naik.Penanaman.Kedelai.Diperluas

http://nasional.kompas.com/read/2008/01/14/16003398/Pengusaha.Tempe.Mulai.Gunakan.Singkong

cindy amalia

2EA13

12209768

http://cindyamalia1.wordpress.com

universitas gunadarma kalimalang

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image